Showing posts sorted by date for query pengertian-gaya-antar-molekul-struktur. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query pengertian-gaya-antar-molekul-struktur. Sort by relevance Show all posts

Saturday, November 16, 2019

Pintar Pelajaran Cara Kerja Dan Aplikasi Sel Materi Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh

Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh - Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup manusia. Saat ini kebutuhan energi sudah sangat besar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk terutama energi listrik. Jadi, dalam bidang energi sudah saatnya kita mengusahakan untuk memproduksi sumber energi alternatif untuk mengantisipasi ketersediaan energi di masa yang akan datang. Sumber energi tersebut harus memenuhi parameter keberhasilan suatu sumber energi alternatif yaitu: sanggup diperbarui (renewable energy), ramah lingkungan, dan biaya yang murah. Salah satunya dengan memanfaatkan sel materi bakar (Fuel cell). Fuel cell merupakan konverter dari energi kimia ke energi listrik yang ramah lingkungan. Fuel cell dirancang untuk sanggup diisi reaktannya yang terkonsumsi dimana fuel cell memproduksi listrik dan penyediaan materi bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel materi bakar yakni hidrogen di sisi anoda dan oksigen di sisi katoda. Reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan mengalir keluar. Sehingga operasi jangka panjang sanggup terus menerus dilakukan selama disuplai oleh materi bakar (hidrogen) dan oksigen.

Fuel cell ini di klasifikasikan sebagai pembangkit tenaga lantaran sel materi bakar ini sanggup beroperasi secara terus menerus atau selama ada persediaan materi bakar (fuel) dan oksidan. Fuel cell diklasifikasikan dalam beberapa jenis tergantung dari jenis materi bakar yang digunakan, yaitu Alkaline Fuel Cell (AFC), Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC), Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC), Proton Exchange Membrane (PEM), Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) (De Guire, 2003). Fuel cell mempunyai karakteristik umum yaitu sangat efisien (>85%), modular (dapat ditempatkan dimana diperlukan), ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah), panas yang terbuang sanggup di simpan (Handayani, 2008).

SOFC dianggap menarik lantaran mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan fuel cell jenis lain. SOFC merupakan fuel cell dengan temperatur tertinggi pada ketika ini yaitu sekitar 600 oC - 1000 oC dan juga mempunyai tingkat efesiensi yang paling tinggi yaitu sekitar 60%. SOFC berkembang semenjak tahun 1950 dan mempunyai dua bentuk yaitu planar dan tubular. Keuntungan dari fuel cell jenis ini yaitu sanggup memakai materi bakar lain selain hidrogen. Sama ibarat jenis fuel cell yang lain, SOFC juga mempunyai tiga penggalan penting yaitu elektrolit, katode, dan anode (De Guire, 2003).

1. Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)

Fuel cell (sel materi bakar) yakni suatu konverter dari energi kimia menjadi energi listrik dengan memanfaatkan kecendrungan hidrogen dan oksigen untuk bereaksi dimana operasi jangka panjangnya sanggup terus menerus terjadi selama materi bakarnya sanggup terus disuplai yaitu hidrogen dan oksigen. Gas hidrogen dan oksigen secara elektrokimia dikonvert menjadi air. Reaksi secara keseluruhannya yakni sebagai berikut (Cook, 2001):

Anoda : H2 → 2 H+ + 2 e-
Katoda : ½ O2 + 2 H+ + 2 e- → H2O

Reaksi total : H2 + ½ O2 → H2O + energi listrik + kalor


Prinsip kerja fuel cell yaitu hidrogen di dalam sel dialirkan menuju sisi anoda sedangkan oksigen di dalam udara dialirkan menuju sisi katoda. Pada anoda terjadi pemisahan hidrogen menjadi elektron dan proton (ion hidrogen). Ion hidrogen ini kemudian menyebrang dan bertemu dengan oksigen dan elektron di katoda dan menghasilkan air. Elektron-elektron yang mengandung muatan listrik ini akan menuju katoda melalui jaringan eksternal. Aliran elektron-elektron inilah yang akan menghasilkan arus listrik. Skema fuel cell diperlihatkan pada Gambar 1.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Skema sel materi bakar (fuel cell) (Anonim 2012)
Fuel cell mempunyai beberapa kelebihan yaitu (Anonim, 2008):
  1. Memiliki efiesiensi yang tinggi (60%-70%)
  2. Ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah)
  3. Secara teoritis, limbah atau emisi yang dihasilkan yakni air (H2O).
Berbeda dengan pada pembakaran biasa dengan memakai mesin, dimana limbah yang dihasilan yakni gas-gas yang berpotensi untuk mencemari lingkungan. Selain itu kalau memakai pembangkit daya yang konvensional, polusi kebisingan juga sanggup terjadi, sedangkan sel materi bakar ini tidak menghasilkan suara. Sel materi bakar tidak memerlukan penggantian elektrolit dan pengisian materi bakar, akan tetapi kalau materi bakarnya habis, maka sel ini juga tidak sanggup berfungsi.

3. Bahan bakarnya flexibel

Bahan bakar yang digunakan untuk sel materi bakar sanggup digunakan beberapa macam, kebanyakan memakai hidrogen dan oksigen sebagai materi bakar dan oksidannya. Selain memakai kedua materi tersebut, materi bakar lain yang dicoba digunakan antara lain ammonia, hidrazine, metanol dan batubara.

Fuel cell mempunyai beberapa macam tipe yaitu
  1. Alkaline Fuel Cell (AFC)
  2. Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC)
  3. Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC)
  4. Proton Exchange Membrane (PEM)
  5. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)
4. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)

SOFC yakni suatu jenis perangkat elektrokimia yang memakai materi bakar oksida padat yang sanggup mengkonversi secara eksklusif dari energi kimia menjadi energi listrik yang lebih efisien dan materi bakarnya bebas dari polusi. Skema sebuah SOFC diperlihatkan pada Gambar 2. (Wikipedia, 2012):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 2. Skema SOFC. (Anonim, 2012)
Pada suhu tinggi oksigen bermigrasi melalui lapisan elektrolit menuju anoda yang akan mengoksidasi materi bakar yang mengandung molekul hidrogen pada anoda yang akan menghasilkan ion hidrogen dan akan membebaskan elektron. Elektron yang dihasilkan pada anoda keluar dari sirkuit masuk ke sisi katoda yang akan dipergunakan sebagai tenaga listrik dengan efisiensi 60%. SOFC mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis fuel cell yang lain, yaitu (Anonim, 2012):
  1. Memiliki efisiensi yang tinggi 60%.
  2. Memiliki stabilitas jangka panjang.
  3. Ramah lingkungan.
  4. Dapat memakai beberapa jenis materi bakar.
  5. Emisinya rendah.
  6. Biaya yang relatif rendah.
  7. Dapat beroperasi pada suhu tinggi yaitu 600 oC - 1000 oC.
SOFC mempunyai dua desain yaitu desain planar dan tubular (tabung) ibarat yang terlihat pada Gambar 3. 

Desain planar mempunyai lapisan khusus dalam aneka macam ukuran yang banyak digunakan dalam aneka macam sel materi bakar dimana lapisan elektrolitnya terletak diantara elektroda. Sedangkan desain tubular, udara atau materi bakar melewati penggalan dalam tabung dan gas lainnya dilewatkan pada penggalan luar tabung. Desain tubular menguntungkan lantaran lebih gampang untuk membatasi dan memisahkan materi bakar dari udara dibandingkan dengan bentuk planar (De Guire 2003).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 3. (a) sistem tubular SOFC (b) Sistem planar SOFC (De Guire 2003).
Sama ibarat fuel cell pada umumnya, SOFC juga mempunyai penggalan penting, yaitu (De Guire, 2003):

a. Elektrolit

Elektrolit merupakan pemisah antara katoda dan anoda. Elektrolit berfungsi untuk memindahkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dalam sel materi bakar. Elektrolit sangat kuat pada kinerja fuel cell.

b. Katode

Katode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan udara yang berfungsi menjadi batas untuk oksigen dan elektrolit, mengkatalis reaksi reduksi oksigen dan menghubungkan elektron-elektron dari sirkuit luar ke daerah reaksi.

c. Anode

Anode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan materi bakar yang berfungsi menjadi batas untuk materi bakar dan elektrolit, mengkatalis reaksi oksidasi dan menghubungkan elektron-elektron dari daerah reaksi elektron dari daerah reaksi ke eksternal sirkuit. Anoda merupakan penggalan terpenting dalam SOFC. Anode dalam sebuah SOFC harus mempunyai beberapa kriteria yaitu
  1. Memiliki konduktivitas listrik yang tinggi (10-1- 103 (Ω.cm)-1)
  2. Stabil dalam lingkungan reduksi
  3. Mempunyai porositas yang Istimewa dan banyak (20%-40%)
  4. Memiliki acara katalik dan elektrokimia yang tinggi untuk mengoksidasi materi bakar
  5. Memiliki struktur kristal kubik.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Herliyani (2012) dilakukan pembuatan anode dengan materi dasar CSZ (calcia stabilized zirconia) dengan metode kompaksi serbuk. Dimana metode kompaksi serbuk merupakan proses pembuatan serbuk dan benda jadi dari serbuk logam atau paduan logam dengan ukuran serbuk tertentu dengan cara di kompaksi tanpa melalui proses peleburan (Rusianto, 2009). Energi yang digunakan dalam proses ini relative rendah sedangkan laba lainnya antara lain hasil kesudahannya sanggup eksklusif diadaptasi dengan dimensi yang diinginkan yang berarti akan mengurangi biaya permesinan dan materi baku yang terbuang.

Jenis dan macam produk yang dihasilkan oleh proses metalurgi serbuk sangat ditentukan proses kompaksi dalam membentuk serbuk dengan kekuatan yang baik. Pada proses kompaksi serbuk meliputi proses pengepresan suatu bentuk di dalam cetakan yang terbuat dari baja. Teknik metalurgi serbuk meliputi pencampuran serbuk (mixing), pembuatan pellet (kompaksi), perlakuan panas (sintering). Pengecoran yakni suatu proses manufaktur yang memakai logam cair dan cetakan untuk menghasilkan parts dengan bentuk yang mendekati bentuk geometri simpulan produk jadi. Logam cair akan dituangkan atau ditekan ke dalam cetakan yang mempunyai rongga sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Anonim, 2011). Namun teknik ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain butir-butir yang dihasilkan cukup besar sehingga menurunkan kekuatan tariknya. Selain itu teknik pengecoran mempunyai kesulitan dalam pemaduan unsur-unsur dengan perbedaan titik leleh yang besar. Sehingga metode metalurgi serbuk ini digunakan dalam penelitian ini walaupun metode ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu : bentuk yang rumit tidak sanggup dibuat, materi serbuk logam mahal dan kadang sulit penyimpanannya lantaran gampang terkontaminasi.

Keramik CSZ ini merupakan adonan dari ZrO2 dan CaO dengan perbandingan persentase mol sebesar 85% dan 15% lantaran jika ZrO2 lebih dari 85% maka dikhawatirkan keramik akan menjadi ringkih sedangkan kalau persentase mol kurang dari 85% maka tidak akan membentuk struktur kristal kubik ibarat yang diharapkan. Kemudian adonan CSZ yang terbentuk ditambahkan dengan NiO dan PVA yang bervariasi konsentrasi beratnya masing-masing sebesar 2%, 6%, dan 10% dimana variasi persentase konsentrasi berat PVA ibarat ini paling tepat untuk menghasilkan porositas keramik yang Istimewa tetapi konsentrasi berat PVA ini bisa diekstrapolarsi kalau ada penelitian lain yang mencoba dengan persentase konsentrasi berat PVA sebesar ≤ 2%, 6%, dan 10%. Berikut ini yakni tabel karakteristik dari PVA (polyvinyl alcohol).

Tabel 1. Karakteristik PVA (Wikipedia, 2012)

Rumus Molekul
(C2H4O)
Kerapatan
1,19 – 1,39 g/cm3
Titik didih
228 oC
Titik lebur
230 oC

Matula et al., (2008) menjelaskan bahwa untuk mendapat materi anode SOFC yang paling baik, maka adonan harus disintering dengan temperature sintering ≤ 1400 oC dan direduksi pada temperatur minimal 800 oC  Hal ini terlihat dari Gambar 4, dimana pada gambar ini terlihat bahwa densitas dari Ni-YSZ meningkat seiring dengan penambahan suhu sintering tetapi akan kembali menurun kalau suhu sinteringnya lebih dari 1500 oC. Sedangkan kalau temperatur reduksi kurang dari 800 oC maka reduksi akan berlangsung tidak tepat lantaran masih adanya fase NiO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 4. Kurva sintering Ni-YSZ 50:50 (Matula et al., 2008)
Selain suhu sintering dan reduksi, komposisi NiO pada Ni-YSZ juga mensugesti materi yang akan dijadikan anode. Seperti yang diharapkan porositas meningkat terhadap NiO sebagai konsekuensi dari reduksi Ni. Efek ini menguntungkan untuk transport materi bakar di anoda. Namun, ketika tingkat porositas terlalu tinggi maka sifat mekanik berkurang. Berdasarkan pengujian sifat listrik ditemukan bahwa meningkatnya NiO mengakibatkan peningkatan konduktivitas pada Ni-YSZ. NiO yang lebih rendah dari 40% menghasilkan konduktivitas yang relative rendah dan material ini tidak sesuai untuk diaplikasikan sebagai anode pada SOFC. Untuk mempertahankan sifat mekanik yang tinggi yang dibutuhkan untuk anoda SOFC, komposisi NiO di NiO-YSZ adonan dihentikan lebih tinggi dari 60% tetapi dihentikan lebih kurang dari 40% biar harga konduktivitas keramik tidak terlalu rendah (Matula et al., 2008). Oleh lantaran itu, pada penelitian ini dilakukan pembuatan keramik Ni-CSZ untuk diaplikasikan sebagai anode SOFC dengan komposisi NiO 50% dengan suhu sintering 1500 oC dan direduksi pada suhu 900 oC.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 5. Proses yang terjadi selama pembuatan keramik secara fisis
Proses fisis yang terjadi selama pembuatan pelet Ni-CSZ secara fisis dijelaskan pada Gambar 5. sebagai berikut:

2.1. Keramik

Keramik sanggup didefinisikan sebagai adonan anorganik yang meliputi materi logam dan nonlogam yang dibuat menurut perlakuan panas dan tekanan (Boursoum, 1997). Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia, dan mineral bawaannya. Keramik mempunyai jenis yang sangat banyak. Salah satunya adalah ZrO2, dimana keramik ZrO2 memiliki karakteristik sebagai berikut: diguanakan pada suhu hingga 2.400 oC, kepadatan tinggi, konduktifitas termalnya rendah, kimia inertness, perlawanan terhadap logam cair , ionic konduksi listrik, ketangguhan perpatahan tinggi, kekerasan tinggi, (dalam Wikipedia, 2010). Gambar berikut pertanda diagram fasa ZrO2-CaO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 6. Diagram fasa ZrO2-CaO. (Anonim, 2012)
Gambar 6. merupakan diagram fasa ZrO2 CaO. Dalam penelitian ini keramik CSZ diharapkan membentuk struktur kubik sehingga persentase mol CaO harus diantara 15% - 27% dan temperature sinteringnya ≤ 1500 oC.

2.3 Sintering

Proses sinter merupakan proses perlakuan panas pada serbuk ataupun padatan dari serbuk pada temperatur 2/3 dibawah titik leleh untuk meningkatkan kekuatan (Didiek et al., 2007). Proses sintering ini lebih efektif daripada proses kalsinasi. Dimana kalsinasi itu merupakan suatu metode pemisahan dengan memecah ikatan antar senyawa memakai pemanasan 800 oC karena pada suhu ini ikatan kompleks akan terpecah. Sedangkan pembakaran yakni suatu tahapan reaksi kimia antara suatu materi bakar dan suatu oksidan disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.

Proses sintering sangat efektif untuk mengurangi porositas, meningkatkan kekuatan, meningkatkan konduktivitas termal, dan meningkatkan kerapatan keramik sesuai dengan mikrostruktur dan komposisi fasa yang diinginkan. Selama proses sintering ukuran butir mengecil dan menjadi lebih bundar lantaran permukaan partikel masuk ke pori-pori di dalamnya sehingga porositas berkurang dan menciptakan sampel menjadi lebih padat. Gambar 7a. dan Gambar 7b. pertanda dua kemungkinan yang akan terjadi selama proses sintering.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 7. (a) Densifikasi diikuti dengan pertumbuhan butir (grain growth), (b) coarsening (Barsoum, 1997).
Kedua prosedur ini saling bersaing. Jika proses atomnya yang mendominasi yakni densifikasi, maka kerapatan dan porositasnya akan mengecil dan menghilang terhadap waktu. Tetapi, kalau proses coarsening lebih cepat, maka kekasaran dan porositasnya akan membesar terhadap waktu (Barsoum, 1997).

3. Polimeric Electrolyte Membrane Fuel Cells (PEMFC) (Mudzakir, 2010)

PEMFC merupakan sel materi bakar yang banyak dipilih dikarenakan sel materi bakar tersebut mempunyai sifat yang lebih menguntungkan, yakni bisa meminimalisir korosi yang sering terjadi dalam penggunaan sel materi bakar jenis laindengan materi elektrolit yang korosif, selain itu PEMFC sanggup beroperasi pada temperatur rendah (sekitar 80 oC). Pada PEMFC membran digunakan sebagai konduktor proton dan insulator elektronik sehingga mempermudah pengemasan dan meningkatkan efisiensi kerja transfer ion H+ hingga mencapai 40-50%. (Souza, 2003)

Membran yang ketika ini banyak digunakan untuk PEMFC yakni Nafion®. Politetrafluoroetilena dengan cabang gugus asam sulfonat (Nafion®) mempunyai konduktivitas proton, ketahanan mekanik, dan ketahanan termal yang baik. Namun membran Nafion® mempunyai kekurangan yaitu tidak ramah lingkungan, harga yang mahal serta mempunyai permeabilitas metanol yang tinggi sehingga tidak sanggup diaplikasikan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Oleh lantaran itu aneka macam penelitian dilakukan dengan tujuan mendapat membran gres yang lebih baik dari segi kualitas, harga dan ramah lingkungan dibandingkan dengan Nafion®.

Dalam PEMFC membran yang digunakan harus bermuatan negatif biar efisien dalam menarik dan melewatkan proton dari anoda ke katoda. Dan biar lebih ramah lingkungan membran harus sanggup terdegradasi secara alami, sehingga membran hasil pemakaian tidak menjadi limbah atau polutan.

Kitosan merupakan salah satu biopolimer yang memenuhi syarat untuk diaplikasikan sebagai membran dalam sel materi bakar. Karena kitosan bersifat hidrofilik, mempunyai kekuatan mekanik yang baik, gampang dimodifikasi secara kimia serta sanggup terdegradasi secara alami. Kitosan merupakan biopolimer yang berasal dari kulit udang yang telah dideasetilisasi. Sehingga pemanfaatan kitosan sebagai membran sanggup menjawab permasalahan limbah dan menaikkan nilai ekonomi kulit udang tersebut. Bila dibandingkan dengan Nafion® konduktivitas kitosan sangat rendah, sehingga untuk menaikkan konduktivitas ioniknya dilakukan sulfonasi pada kitosan.

Polymeric electrolyte membrane fuel cell (PEMFC) disebut juga proton exchange membrane fuel cell. Membran ini berupa lapisan tipis padat yang berfungsi sebagai elektrolit pemisah katoda dan anoda. Membran ini secara selektif mengontrol transport proton dari anoda ke katoda dalam sel materi bakar. PEMFC mengandung katalis platina. Selain itu, pada fuel cell ini tidak digunakan fluida yang bersifat korosif ibarat jenis sel materi bakar lainnya.

Membran polimer merupakan komponen yang sangat penting dalam PEM fuel cell. Membran polimer ini sanggup memisahkan reaktan dan menjadi sarana transportasi ion hidrogen yang dihasilkan di anoda menuju katoda sehingga menghasilkan energi listrik. Kemurnian gas hidrogen sangat mensugesti emisi buang sistem fuel cell berbasis polimer tersebut. Kemurnian hidrogen yang tinggi mengatakan tingkat emisi yang mendekati zero emission. Penggunaan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi juga sanggup memperpanjang waktu hidup membran fuel cell dan mencegah pembentukan karbonmonoksida (COx) yang beracun, pada permukaan katalis (Jamal, 2007).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Skema PEMFC
Skema citra pada prinsip sel materi bakar ditunjukkan pada Gambar 8. hidrogen sebagai materi bakar yang dikonsumsi pada anoda, menghasilkan elektron yang dialirkan ke katoda melalui rangkaian luar. Ion hidrogen masuk ke larutan elektrolit dan tersebar ke katoda oleh aliran elektroosmotik. Pada katoda, oksigen dikombinasikan dengan elektron dan proton dari aliran elektrolit untuk menghasilkan air dan panas. Ionic liquids fuel cell (ILFs) merupakan sel materi bakar berbasis hidrogen dengan cairan ionik sebagai elektrolitnya, yang berfungsi sebagai media untuk proton (H+) bermigrasi dari anoda menuju ke katoda. Pada penelitian sebelumnya (Souza, 2003) telah melaksanakan penelitian mengenai cairan ionik imidazolium sebagai media penghantar proton dalam sel materi bakar.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Diagram aplikasi sel materi bakar pada aneka macam bidang.
Dengan kemajuan yang signifikan, kini sel materi bakar telah diaplikasikan pada aneka macam bidang untuk memenuhi kebutuhan dan fasilitas bagi kehidupan manusia. Diantaranya untuk transportasi air, udara dan bahari serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan industri. Serta digunakan dalam aneka macam bidang ibarat industri, kedokteran, transportasi hingga militer.

3.1 Kitosan

Kitosan pertama kali ditemukan oleh ilmuan Perancis, Ojier, pada tahun 1823. Ojier meneliti kitosan hasil ekstrak kerak hewan berkulit keras, ibarat udang, kepiting, dan serangga.

Senyawa kitosan diperoleh dari proses deasetilisasi senyawa kitin. Kitin yakni poliamino sakarida yang cukup banyak terdapat di alam sesudah selulosa, susunan molekulnya ibarat dengan selulosa. Keterbatasan penggunaan kitin disebabkan kitin sukar larut dalam beberapa pereaksi. Oleh lantaran itu kitin banyak digunakan sesudah ditransformasikan dalam bentuk kitosan. Gambar 9. memperlihatkan reaksi transformasi kitin menjadi kitosan.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 9. Reaksi Transformasi Kitin Menjadi Kitosan. [1]
Kitosan yang sanggup diperoleh dari deasetilasi kitin merupakan biopolimer yang potensial untuk dijadikan materi dasar membran sel materi bakar (fuel cell membranes). Dikarenakan keunggulan material ini yang bersifat hidrofilik, mempunyai ketahanan mekanik yang tinggi, gampang dimodifikasi secara kimia, ramah lingkungan serta keberadaanya yang melimpah di alam.

3.2 Kitosan Sulfonat

Untuk meningkatkan konduktivitas membran kitosan dan menurunkan permeasi terhadap metanol dalam aplikasi sel materi bakar dilakukan proses sulfonasi terhadap kitosan. Reaksi sulfonasi sanggup diartikan sebagai suatu reaksi subtitusi untuk mengganti atom hidrogen dengan gugus –SO3H pada molekul organik melalui ikatan kimia pada atom karbon. Syarat untuk terjadinya sulfonasi yakni keasaman fasa yang harus dipenuhi, lantaran kalau terjadi perbedaan fasa antara gugus sulfonasi dengan polimer yang akan disulfonasi sanggup mengakibatkan reaksi sulfonasi mengalami kegagalan. Selain itu dalam reaksi ini dibutuhkan suatu pelarut yang mempunyai kelarutan yang baik.

Proses sulfonasi sanggup dilakukan dengan senyawa yang mempunyai gugus sulfonat diantaranya yaitu asam sulfat (H2SO4), oleum, asetil sulfat, dan asam klorosulfonat. Proses sulfonasi pun sanggup dilakukan dengan 2 metode, metode pertama yaitu metode konvensional dan metode yang kedua memakai dukungan gelombang mikro (microwave oven). Hasil karakterisasi penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfonat yang dihasilkan dengan metoda konvensional mempunyai sifat termal dan kapasitas penukar proton yang lebih tinggi dibandingkan membran yang diperoleh dengan dukungan gelombang mikro. 

Namun demikian, membran yang dihasilkan dari metoda pertama sangat rapuh. Sebaliknya, membran kitosan tersulfonasi yang diperoleh dari hasil reaksi dengan dukungan gelombang mikro mempunyai kekuatan mekanik yang baik untuk uji permeasi selanjutnya. Data penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfat yang disintesis dengan gelombang mikro mempunyai nilai permeasi terhadap metanol yang lebih rendah dibandingkan dengan membran kitosan tanpa sulfonasi (Velianti, 2008). Gambar 10. memperlihatkan reaksi transformasi kitosan menjadi kitosan sulfonat dengan asam klorosulfonat sebagai biro pensulfonasinya.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 10. Reaksi Transformasi Kitosan Menjadi Kitosan Sulfonat. [10]
Penelitian mengenai sintesis kitosan sulfat dengan dukungan gelombang mikro telah dilakukan sebelumnya (Mansyur, 2009). Gelombang mikro digunakan untuk membantu pemasukan gugus N-sulfo dan O-sulfo pada kitosan. Struktur kitosan sulfonat yang didapatkan dengan gelombang mikro tidak jauh berbeda dengan struktur kitosan. Karakterisasi penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan memakai gelombang infra merah menghasilkan spektrum khas yang sama dengan kitosan hanya berbeda serapan pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1 yang memperlihatkan vibrasi ulur ikatan –SO2O-O- dan pada serapan 1018,41 cm-1 yang memperlihatkan ikatan C-O-S. Selain itu, puncak gugus C=O yang terdapat pada bilangan gelombang 1658 cm-1 mempunyai kesamaan antara kitosan dan kitosan sulfonat memperlihatkan bahwa rantai polimer tidak mengalami pemutusan ikatan.

3.3 Modifikasi Membran dengan Cairan ionik

Pemodifikasian membran Nafion® dengan cairan ionik 1-etil-3-metilimidazolium (EMI) telah dilakukan oleh Bennett, et al. (2005). Pemodifikasian tersebut dilakukan untuk mengetahui efek cairan ionik pada membran Nafion® dengan cara identifikasi pada nilai konduktivitas membran dan morfologi membran. Pemodifikasian dilakukan dengan cara meredam membran dalam cairan ionik / metanol dengan perbandingan 1:1 (v/v) selama 3 jam pada suhu ruang dan pada suhu 70 oC. Metanol dipilih lantaran sanggup melarutkan cairan ionik dan sifatnya yang gampang menguap. Membran kemudian dikeringkan pada suhu 110 oC selama 3 jam untuk menghilangkan metanol. Dilaporkan pula bahwa proses pemodifikasian membran dengan cairan ionik akan lebih baik pada suhu tinggi, namun penguapan methanol sangat cepat pada suhu 90 oC, sehingga proses pemodifikasian tidak terkendali.

3.4. Cairan Ionik (Ionic Liquids)

Cairan ionik (ionic liquids) yakni suatu senyawa yang hanya mempunyai spesies ionik tanpa adanya molekul netral yaitu hanya terdiri atas kation-anion (Hermanutz, et al., 2006). Dalam arti luas, istilah ini meliputi semua garam cair, misalnya, lelehan natrium klorida pada suhu yang lebih tinggi dari 800 °C. Namun, pada ketika ini, istilah "cairan ionik" digunakan untuk garam dengan titik lebur yang relatif rendah (dibawah 100 °C). Berbeda dengan garam cair (molten salt) yang biasanya mempunyai titik leleh dan viskositas tinggi, juga sangat korosif, cairan ionik umumnya berwujud cair pada suhu kamar, mempunyai viskositas relatif lebih rendah dan relatif tidak mempunyai sifat korosif (Toma, et al., 2000). Dengan demikian, cairan ionik (ILs) hanya digunakan untuk garam dengan titik leleh yang relatif rendah, yaitu terletak pada suhu < 100 - 150 oC (Hagiwara dan Ito, 2000; Hermanutz, et al., 2006), terutama garam yang berbentuk cairan pada suhu kamar lebih dikenal dengan room-temperature ionic liquids (RTILs).

Keuntungan dari sifat yang dimiliki cairan ionik yakni mempunyai rentang cair besar, sekitar 300 °C (-96 hingga lebih dari 200 °C) ; mempunyai kestabilan termal dan elektrokimia yang tinggi; merupakan pelarut yang baik bagi material organik, anorganik maupun polimer; tidak gampang menguap; tidak gampang terbakar; tidak beraroma (bau yang ditimbulkan berasal dari pengotor); memperlihatkan keasaman Bronsted, Lewis, Franklin dan keasaman yang tinggi (Superacidity); sanggup menjadi katalis sekaligus sebagai pelarut; mempunyai sifat selektif yang tinggi terhadap suatu reaksi dan sebagainya (Fitzwater, et al., 2005; Lajunen, 2006; Pitner, 2004).

Sifat dari cairan ionik sanggup diadaptasi dengan mengubah struktur kation dan anionnya (Murugesan dan Linhardt, 2005). Sifat-sifat cairan ionik ibarat kepolaran atau hidrofilisitas/ lipofilisitas yang bisa diatur tergantung dari kation maupun anion yang menyusunnya mengakibatkan cairan ionik dikenal sebagai tailored-made solvents (Gordon, 2003).

Jenis-jenis kation yang sering digunakan sebagai kation cairan ionik diantaranya yakni sebagai berikut (Murugesan dan Linhardt, 2005):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 11. Beberapa Jenis Kation Cairan Ionik.
Sedangkan jenis anion yang sering digunakan diantaranya yakni tetraflouroborat [BF4]-, heksaflouroposfat ([PF6]-), heksafluoro antimonat ([SbF6]-), nitrat ([NO3]-), tosilat ([Ots]-), triflat ([Otf]-), bromida (Br-), klorida (Cl-), iodida (I-), triflouroasetat ([CF3CO2]-), perklorat ([ClO4]-), germanium klorida ([GeCl3]-), bis(trifluorometilsulfonil) imida ([NTf2]-), aluminium klorida ([Al2Cl7]-), aluminium tetraklorida ([AlCl4]-), asetat ([CH3CO2]-), dan benzoat ([C6H5CO2]-) (Murugesan dan Linhardt, 2005).

3.4.1 Sintesis Cairan Ionik

Tahapan sintesis dari cairan ionik sanggup dibagi menjadi dua tahap, yaitu: pembentukan kation yang diinginkan dan pergantian anion untuk membentuk produk yang diinginkan. Pada beberapa kasus, produk sanggup eksklusif dihasilkan tanpa melaksanakan tahap kedua ibarat pada pembentukan etilammonium nitrat. Kebanyakan masalah kation yang diinginkan secara komersil tersedia dalam harga yang masuk akal (seperti garam halida, garam tetraalkilammonium dan trialkilsulfonium iodida), yang hanya digunakan untuk reaksi pergantian anion. Reaksi yang digunakan untuk mensintesis cairan ionik meliputi reaksi kuartenerisasi dan reaksi pergantian anion (Gordon, 2003).

3.4.2 Reaksi Kuartenerisasi

Pembentukan kation sanggup dihasilkan melalui protonasi dengan adanya asam bebas atau kuartenerisasi dari amina atau fosfin, biasanya dengan haloalkana. Reaksi protonasi, yang biasa digunakan pada pembentukan garam ibarat etilammonium nitrat, melibatkan penambahan asam nitrat 3 M yang kemudian didinginkan ke dalam larutan etilamin. Kelemahan proses ini yaitu dihasilkannya residu amina yang tidak diharapkan (Gordon, 2003).

Pada prinsipnya, reaksi kuartenerisasi sangatlah sederhana, amin atau fosfin dicampurkan dengan haloalkana yang diinginkan kemudian diaduk dan dipanaskan. Garam halida yang dihasilkan pun sanggup dengan gampang dirubah menjadi garamgaram lain dengan anion yang berbeda (Gordon, 2003).

3.4.3 Reaksi Pergantian Anion

Reaksi pergantian anion sanggup dibagi dalam dua kategori yaitu perlakuan eksklusif dari garam halida dengan asam lewis dan pembentukan cairan ionik melalui reaksi metatesis anion (Gordon, 2003).

3.4.3.1 Reaksi Asam Basa Lewis

Pembentukan cairan ionik dengan proses ini dilakukan dengan perlakuan dari garam halida dengan asam Lewis (biasanya AlCl3). Proses yang umum dilakukan yaitu perlakuan dari kuartener garam halida Q+X- dengan asam Lewis MXn menghasilkan pembentukan lebih dari satu spesi anion yang bergantung dari perbandingan relatif dari Q+X- dan MXn. Pembentukan dari proses ini sanggup dicontohkan dengan etilmetilimdazolium (EMIM) klorida dan AlCl3 seperti reaksi dibawah ini:

[EMIM]+Cl- + AlCl3 → [EMIM]+ [AlCl4]-
[EMIM]+ [AlCl4]- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al2Cl7]-
[EMIM]+ [Al2Cl7] -- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al3Cl10]–

Metode yang sering digunakan untuk pembentukan cairan ionik dilakukan dengan pencampuran sederhana dari asam Lewis dengan garam halida. Reaksi umumnya eksoterm, ketika menambahkan satu zat ke dalam zat lain haruslah dengan sangat hati-hati. Walaupun garam relatif stabil akan suhu, panas yang terbentuk dari lingkungan sanggup mengakibatkan dekomposisi cairan ionik yang disintesis. Hal ini sanggup dicegah dengan pendinginan selama proses pencampuran, walaupun hal itu dirasakan sangat sulit, atau bisa juga dengan menambahkan suatu zat ke dalam zat lain dengan jumlah yang sedikit demi sedikit. Dekomposisi atau pengurangan jumlah terjadi akhir adanya hidrolisis yang terjadi dalam cairan. Tetapi, hal yang biasa kalau produk yang dihasilkan tidak murni 100% atau tercemar dengan pengotor. Hal itu pun niscaya terjadi pada sintesis cairan ionik, dan pengotor yang biasa mengkontaminasi produk yakni pelarut organik (Gordon, 2003).

3.4.3.2 Reaksi Metatesis Anion

Reaksi metatesis anion biasanya terjadi pada garam-garam yang ditambahkan dengan garam perak (AgNO3, AgNO2, AgBF4, Ag[CO2CH3] dan Ag2SO4) dalam metanol atau larutan metanol. Pada beberapa aplikasi, produk akan berupa cairan pada suhu ruangan. Kombinasi dari anion sanggup menghasilkan perbedaan sifat termal yang berbeda-beda (Gordon, 2003).

3.5. Fatty Imidazolinium sebagai Sistem Kation Baru pada Cairan Ionik

Kation fatty imidazolinium pada Gambar 12(b) mempunyai struktur dan fungsi yang sangat ibarat dengan kation imidazolium Gambar 12(a), berbeda hanya pada gugus substituen pada N3 [dengan adanya gugus amida, -[C(O)(NH)] pada Gambar 12(b) dan adanya ikatan rangkap pada sistem lingkar Gambar 12 (a). Garam fatty imidazolinium ini sanggup disintesis dari asam lemak (Bajpai, dan Tyagi, 2006; Tyagi, et al., 2007), sehingga dimungkinkan untuk mendapat garam ini dari minyak nabati terbarukan lokal.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 12. Struktur Kation Imidazolium (a) dan Fatty Imidazolinium (b)

 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 13. Struktur Molekul dari (i) Fatty Imidazoline dan (ii) Kation Fatty Imidazolinium
Penggunaan iradiasi gelombang mikro (microwave irradiation) dalam sintesis organik memperlihatkan beberapa laba yaitu umumnya reaksi sanggup berlangsung dalam waktu yang singkat, rendemen yang diperoleh tinggi, dan kemurnian hasil yang tinggi. Selain itu, reaksi kering (dry reaction) dalam microwave menarik perhatian para peneliti lantaran sanggup meminimalisir keracunan akhir penguapan dari pelarut organik yang berbahaya bagi badan (Bajpai et al., 2008).

3.6 Mekanisme Pemanasan dengan Gelombang Mikro

Gelombang mikro merupakan salah satu bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 0,01 hingga 1 meter. Gelombang mikro terletak di antara gelombang inframerah dan gelombang radio dan mempunyai frekuensi berkisar antara 0,3 samapai 30 GHz. Untuk penggunaan dalam laboratorium, frekuensi yang sering digunakan yakni 2,45 GHz. Proses pemanasan dalam sintesis organik dengan gelombang mikro melibatkan agitasi molekul polar atau ion yang bergetar dibawah efek medan magnet atau arus listrik yang bergetar. Dalam medan yang bergetar, partikel-pertikel berusaha untuk mengorientasi diri biar menjadi sefasa. Gerakan partikel-partikel dibatasi oleh gaya dalam partikel yang menghasilkan gerakan acak hingga kesudahannya menghasilkan panas.

Respon aneka macam material terhadap radiasi gelombang mikro bermacam-macam dan tidak semua material sanggup mengalami pemanasan oleh gelombang mikro, hanya material yang mengadsorpsi radiasi gelombang mikro saja yang sesuai dengan microwave chemistry.

Material ini dikelompokkan menurut prosedur pemanasannya:

3.6.1. Polarisasi dipolar

Polarisasi dipolar merupakan proses menghasilkan panas oleh molekul polar. Molekul polar yang berada dalam medan elektromagnetik yang berosilasi dengan frekuensi yang sesuai berusaha untuk mengikuti medan dan menjajarkan diri biar sefasa dengan medan. Adanya gaya dalam molekul mengakibatkan molekul polar tidak sanggup mengikuti orientasi medan. Peristiwa tersebut menghasilkan pergerakan partikel acak yang akan menghasilkan panas.

Polarisasi dipolar sanggup menghasilkan panas dengan salah satu atau dua prosedur ini :

a. Interaksi antara molekul pelarut polar, seperti: air, methanol dan etanol
b. Interaksi antara molekul terlarut polar, seperti: ammonia dan asam format

Radiasi gelombang mikro mempunyai frekuensi yang sesuai (0,3-30 GHz) untuk mengosilasi partikel polar dan bernilai cukup besar untuk interaksi intermolekul. Disamping itu, energi foton gelombang mikro sangat rendah (0,037 kkal/mol) relatif terhadap energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan molekul (80-120 kkal/mol). Oleh lantaran itu, eksitasi molekul dengan gelombang mikro tidak mensugesti struktur molekul. Interaksi yang terjadi murni kinetik.

3.6.2. Mekanisme konduksi

Panas dihasilkan lantaran adanya resistansi terhadap arus listrik. Medan elektromagnetik yang bergetar menghasilkan getaran electron atau ion dalam konduktor dan menghasilkan arus listrik. Arus yang masuk kedalam tahanan internal akan memanaskan konduktor.

3.6.3. Polarisasi antar muka (Interfacial polaritation)

Mekanisme pemanasan jenis ini merupakan gabungan dari prosedur polarisasi dipolar dan prosedur konduksi. Keuntungan sintesis dengan gelombang mikro ialah laju reaksi meningkat dengan adanya fenomena superboiling. randemen lebih tinggi, pemanasan lebih merata, lebih ramah lingkungan, pemanasan lebih selektif lantaran respon tiap molekul pada radiasi gelombang mikro berbeda-beda.

2.6 Konduktivitas Ionik

Konduktivitas listrik timbul lantaran adanya migrasi elektron atau migrasi ion. Konduktivitas elektronik yakni konduktivitas listrik yang disebabkan migrasi elektron-elektron. Sedangkan konduktivitas ionik yakni konduktifitas yang terjadi lantaran adanya migrasi ion-ion. Konduktivitas ionik bergantung pada jenis ion yang bermigrasi dalam material. Material disebut konduktor anionik kalau ion-ion pembawa muatan negatif yang bermigrasi sedangkan untuk ion-ion pembawa muatan aktual yang bergerak maka material tersebut dinamakan konduktor kationik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.(2012). Solid Oxide Fuel Cell. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/solid_oxide_fuel_cell. [22 Maret 2012].

Bajpai, Divya dan Tyagi, V. K. (2008). Microwave Synthesis of Cationic Fatty Imidazolines and their Characterization. AOCS.

Barsoum, Michel. (1997). Fundamental of Ceramics. Library of Congress in Publication Data: Singapore

Bennet, M. (2005). “Morphological and Electromechanical Characterization of Ionic Liquid / Nafion Polymer Composites”. Virginia Tech.

Cook, Brian. (2001). An Introduction to Fuel Cell and Hydrogen Technology. Canada.

De Guire, Eileen J. (2003). Solid Oxid Fuel Cell. Tersedia: http://www.csa.com/discoveryguides/fuelcell/overview.php. [17 Maret 2012].

Fitzwater, G., Geissler, W., Moulton, R., Plechkova, N.V., Robertson, A., Seddon, K.R., Swindall, J., dan Joo, K.W. (2005) “Ionic Liquids: Source of Innovation”. [Online]. Tersedia : http://quill.qub.ac.uk/source [8 Juli 2010]

Gordon, C. M., (2003)., Synthesis and Purification of Ionic Liquid, Ionic Liquid in Synthesis. P. Wasserscheid dan T. Welton (Eds.), Wiley Verlag, Frankfurt.

Handayani, Sri. (2008). Membran elektrolit berbasis polieter-eter keton tersulfonasi untuk direct methanol fuel cell suhu tinggi. Skripsi Universitas Indonesia (UI) Jakarta: tidak diterbitkan.

Herhady, R.Didiek, R.Sukarsono. (2007). Pengaruh suhu dan waktu sintering terhadap kualitas materi bakar kernel UO2 dalam Furnace jenis Fluidized Bed. ISSN: 0854-2910: Jakarta.

Herliyani, E. 2012. Pengaruh Penambahan Polyvinyl Alcohol (Pva) Terhadap Karakteristik Keramik Ni-Csz Untuk Diaplikasikan Sebagai Anode Pada Sofc. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Hermanutz, F., Meister, F., dan Uerdingen, E. (2006). “A new Developments in the Manufacture of Cellulose fibers with ionic liquids”. Chemical Fibers International. 342-344.

Jamal, E. (2007). “Pembuatan Membran Fuel Cell dari Limbah Plastik LDPE (Low Density Poly-Ethylene)”. Laporan Karya Ilmiah. Institut Teknologi Bandung.

Lajunen, M. (2006). “Green Chemistry for Sustainable Production”. Waste Minimization and Resources Optimization. Department of Chemistry University of Oulu.

Mansyur, Rosida., (2009). “Sintesis Kitosan Sulfonat Sebagai Surfaktan”. Tesis. Institut Teknologi Bandung.

Matula, G, T. Jardiel, R. Jimenez, B. Levenfeld, A.Varez. (2008). Microstructure, mechanical and electrical properties of Ni-YSZ anode supported solid oxide fuel cells. Volume 32. Pages 21-25. Archives of Materials Sciences and Engineering. Madrid, Spanyol.

Mudzakir, A.. 2010. Pengaruh Impregnasi Cairan Ionik Fatty Imidazolinium Terhadap Morfologi Dan Karakter Elektrokimia Membran Polielektrolit Kitosan Sulfonat. Skripsi. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Pitner, W. (2004). “Ionic Liquids : Properties and Applications”. Ionic Liquids Workshop. Royal Society of Chemistry. 1-53.

Rusianto, Toto. (2009). Hot Pressing Metalurgi Serbuk Aluminum dengan Variasi Suhu Pemanasan. Volume 2. Pages 89-95.

Souza, F.R., Padilha, J., Goncalves, R., Dupont, J. (2003). “Room Temperature dialkylimidazolium ionic liquids –based fuel cell” Laboratory of Molecular Catalysis and laboratory of Electrochemistry, Institute of Chemistry, Brazil.

Toma, G., Gotov, B., dan Solcaniova, E. (2000). “Enantioselective Allylic Substitution Catalyzed by Pd0–Ferrocenylphosphine Complexes in [Bmim][PF6] IonicLiquid”, Green Chem. 2, 149.

Velianti., (2008). “Sintesis dan Karakterisasi Membran Kitosan Sulfat untuk Aplikasi Fuel Cell”. Skripsi. Institut Teknologi Bandung.

Referensi Lainnya :

[2] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S014181301100482X

Anda kini sudah mengetahui Sel Bahan Bakar. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Wednesday, September 18, 2019

Pintar Pelajaran Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Pengaruh Samping, Overdosis

Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Efek Samping, Overdosis - Vitamin yaitu senyawa organik yang dibutuhkan oleh suatu organisme sebagai nutrisi utama pada jumlah yang terbatas [1]. Suatu senyawa kimia organik (atau beberapa senyawa kimia terkait) disebut vitamin jikalau senyawa tersebut tidak sanggup disintesis dalam jumlah yang cukup oleh suatu organisme dan harus diperoleh dari asupan makanan. Dengan demikian istilah vitamin yaitu kondisional, tergantung pada kondisi dan suatu organisme tertentu. Misalnya saja, asam askorbat (vitamin C) yaitu vitamin untuk manusia, tetapi bukan merupakan vitamin bagi kebanyakan hewan; sedangkan biotin (vitamin H) dan vitamin D diharapkan oleh insan hanya pada kondisi tertentu.
 Vitamin yaitu senyawa organik yang dibutuhkan oleh suatu organisme sebagai nutrisi utama Pintar Pelajaran Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Efek Samping, Overdosis
Gambar 1. Pil suplemen vitamin B kompleks. [63]
Melalui sebuah konvensi, vitamin dideskripsikan sebagai nutrisi baik itu esensial ataupun non-esensial menyerupai mineral untuk diet, asam lemak esensial, atau asam amino esensial (dibuthkan pada jumlah yang lebih banyak dibandingkan vitamin) maupun sejumlah besar nutrisi lainnya yang mempunyai kegunaan bagi kesehatan tetapi tidak begitu sering dibutuhkan oleh suatu organisme [2]. Saat ini ada 13 jenis vitamin yang dikenal secara luas sampai dikala ini.

Vitamin diklasifikasikan menurut acara biologis dan kimianya, bukan menurut dari strukturnya. Dengan demikian, masing-masing "vitamin" mengacu pada sejumlah senyawa vitamer yang  menunjukkan acara biologis yang berafiliasi dengan vitamin tertentu. Suatu set materi kimia tersebut dikelompokkan dalam urutan huruf yang menjadi "deskripsi generik" nama sebuah vitamin, menyerupai "vitamin A", yang mencakup senyawa retina, retinol, dan empat jenis karotenoid yang telah diketahui. Menurut definisinya, vitamer sanggup dikonversi menjadi bentuk aktif dari vitamin di dalam tubuh, dan kadang kala terjadi konversi vitamer antara satu sama lain.

Vitamin mempunyai fungsi biologis yang bervariasi. Beberapa diantaranya, menyerupai vitamin D, mempunyai fungsi menyerupai hormon, sebagai regulator dari metabolisme mineral, atau regulator dari perkembangan dan diferensiasi sel dan jaringan (seperti pada beberapa bentuk dari vitamin A). Beberapa vitamin lainnya mempunyai fungsi sebagai antioksidan (contohnya vitamin E dan C) [3]. Vitamin dengan jumlah paling besar, menyerupai vitamin B kompleks, mempunyai fungsi sebagai prekursor untuk kofaktor enzim. Fungsi ini membantu kerja enzim sebagai katalis pada metabolisme. Pada fungsi ini, vitamin kemungkinan terikat dengan berpengaruh pada enzim sebagai pecahan dari grup prostetik suatu enzim. Misalnya, biotin yaitu pecahan dari enzim yang terlibat di dalam pembuatan asam lemak. Vitamin sanggup juga tidak begitu terikat pada suatu enzim (katalis) dan hanya bertindak sebagai koenzim. Koenzim yaitu molekul yang sanggup dilepaskan dan berfungsi untuk membawa kelompok/gugus kimia atau elektron antar molekul. Misalnya, asam folat, sanggup membawa gugus metil, formil dan metilen di dalam sel. Meskipun peranan dalam membantu reaksi enzim-substrat ini merupakan fungsi terbaik dari vitamin, namun demikian fungsi vitamin lainnya juga sama pentingnya.[4]

Pada pertengahan tahun 1930-an untuk pertama kalinya vitamin B kompleks dari ekstrak yeast dan suplemen vitamin C semi sintesis dijual secara komersial. Sebelum tahun tersebut, vitamin diperoleh hanya melalui asupan kuliner dan perubahan pola makan (misalnya pada dikala animo tumbuhan tertentu) yang biasanya sangat menghipnotis jenis dan jumlah vitamin yang dikonsumsi. Namun, vitamin telah diproduksi sebagai materi kimia komoditas dan tersedia secara luas berupa multivitamin, suplemen kuliner serta dalam bentuk lainnya, baik itu semisintesis maupun sintesis semenjak pertengahan era ke-20. 

1. Jenis-Jenis Vitamin

Tabel 1. Jenis-Jenis Vitamin

Nama Vitamin
Nama senyawa Vitamer
Larut di dalam
Aturan (pria, usia 19–70)[6]
Penyakit defisiensi
Level Konsumsi Maksimum
(UL/day)[6]
Penyakit Overdosis
Sumber Makanan
Vitamin A
Retinol, retinal, dan empat jenis karotenoid termasuk beta-karoten
lemak
900 µg
Rabun senja , Hyperkeratosis, dan Keratomalacia[7]
3,000 µg
Hypervitaminosis A
Jeruk, buah berwarna kuning yang masak, sayuran, wortel, labu, gambas, bayam, hati, susu kedelai, susu
Vitamin B1
Thiamine
Air
1.2 mg
Beri-beri, Wernicke-Korsakoff syndrome
N/D[8]
Membuat ngantuk, meyebabkan relaksasi otot berlebihan pada takaran yang tinggi.[9]
Daging, oatmeal, beras merah, sayuran, kentang, hati, telur
Vitamin B2
Riboflavin
Air
1.3 mg
Ariboflavinosis
N/D

Produk susu, pisang, popcorn, kacang hijau, asparagus
Vitamin B3
Niasin, niasinamide
Air
16.0 mg
Pellagra
35.0 mg
Kerusakan hati (dosis> 2g/day)[10] and penyakit lainnya
Daging, ikan, telur, sayuran, jamur,  kacang-kacangan
Vitamin B5
Asam pantotenat
Air
5.0 mg[11]
Paresthesia
N/D
Diare, kemungkinan mual dan panas dalam [12].
Daging, brokoli, alpukat
Vitamin B6
Pyridoxine, pyridoxamine, pyridoxal
Air
1.3–1.7 mg
Anemia[13] peripheral neuropathy.
100 mg
Penurunan ofproprioception, kerusakan saraf (dosis> 100 mg / hari)
Daging, sayur, kacang-kacanga, pisang
Vitamin B7
Biotin
Air
30.0 µg
Dermatitis, enteritis
N/D

kuning telur mentah, hati, kacang, sayuran tertentu
Vitamin B9
Asam folat, asam folinik
Air
400 µg
Megaloblastic anemia dan defisiensi selama kehamilan berafiliasi dengan cacat pada  bayi,seperti cacat pada pecahan neural tube
1,000 µg
Dapat menutupi tanda-tanda kekurangan vitamin B12, dan imbas lainnya.
Sayuran hijau, pasta, roti, sereal, hati
Vitamin B12
Cyanocobalamin, hydroxycobalamin, methylcobalamin
Air
2.4 µg
Megaloblastic anemia[14]
N/D
Jerawat menyerupai ruam
Daging dan produk hewani lainnya
Vitamin C
Asam askorbat
Air
90.0 mg
Kudis
2,000 mg
Vitamin C megadosage
Buah-buahan dan sayuran, hati
Vitamin D
Cholecalciferol
lemak
10 µg[15]
Rickets dan Osteomalacia
50 µg
Hypervitaminosis D
Ikan, telur, hati, jamur
Vitamin E
Tocopherols, tocotrienols
lemak
15.0 mg
Defisiensi sangat jarang terjadi; hemolytic anemia ringan pada bayi  yang gres lahir.[16]
1,000 mg
Peningkatan terjadinya gagal jantung, hal ini terlihat di dalam satu penelitian besar secara acak [17].
Buah-buahan dan sayuran dan kacang
Vitamin K
phylloquinone, menaquinones
lemak
120 µg
Bleeding diathesis
N/D
Meningkatkan koagulasi pada pasien yang menggunakan warfarin. [18]
Sayuran berdaun hijau menyerupai bayam, kuning telur, hati

2. Epitomologi Vitamin

Vitamin berasal dari kata “vitamine”, sebuah kata beragam yang diciptakan pada tahun 1912 oleh spesialis biokimia dari Polandia berjulukan Kazimierz Funk pada dikala bekerja si Lister Institute of Perventive Medicine. Nama tersebut terdiri dari kata vital dan amine, yang berarti amina kehidupan, lantaran pada tahun 1912 diduga bahwa faktor mikronutrisi organik pada kuliner yang mencegah penyakit beri-beri dan penyakit defisiensi serupa lainnya yaitu senyawa kimia amina. Saat ini telah diketahui bahwa hal tersebut salah, sehingga kata vitamine diubah dan diperpendek menjadi vitamin.

3. Sejarah Vitamin

Nilai dari mengkonsumsi jenis kuliner tertentu untuk menjaga kesehatan telah diketahui jauh sebelum vitamin diidentifikasi. Orang-orang Mesir kuno telah mengetahui bahwa bahwa memberi makan hati pada seseorang akan membantu menyembuhkan rabun senja (night blindness), dimana penyakit ini kini telah diketahui disebabkan oleh kekurangan vitamin A [20]. Kemajuan di bidang pelayaran bahari selama masa Renaissance menimbulkan periode waktu yang usang tanpa susukan ke buah-buahan dan sayuran segar, sehingga para awak kapal pada umumnya menderita penyakit defisiensi vitamin. [21]

Pada tahun 1747, spesialis bedah dari Skotlandia berjulukan James Lind menemukan bahwa jeruk sanggup membantu mencegah penyakit kudis, penyakit yang sangat mematikan di mana kolagen tidak terbentuk dengan benar, sehingga mengakibatkan terganggunya proses penyembuhan luka, pendarahan pada gusi, sakit parah, dan ajal [20]. Pada tahun 1753, Lind menerbitkan tulisan, yang merekomendasikan menggunakan lemon dan limau untuk menghindari penyakit kudis, goresan pena tersebut kemudian diadopsi dan dipakai terhadap para kru dari British Royal Navy Laut. Hal ini mengakibatkan para pelaut dari organisasi tersebut diberi julukan Limey. Penemuan Lind tersebut, bagaimanapun juga, tidak diterima secara luas oleh suatu kelompok pada ekspedisi Arctic Royal Navy di era ke-19, di mana diyakini secara luas bahwa penyakit kudis sanggup dicegah dengan mempraktikkan kebersihan yang baik, olahraga teratur, dan memelihara moral kru dikala berada di atas kapal, bukan oleh diet kuliner segar [20]. Akibatnya, ekspedisi Kutub Utara terus diganggu oleh penyakit kudis dan penyakit defisiensi lainnya. Pada awal era ke-20, dikala Robert Falcon Scott menciptakan dua ekspedisi ke Antartika, teori medis yang berlaku pada dikala itu yaitu penyakit kudis yang disebabkan oleh kuliner kaleng yang "tercemar" [20].

Pada selesai era ke-18 dan awal era ke-19, penggunaan teknik deprivasi memungkinkan para ilmuwan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi sejumlah vitamin. Lemak dari minyak ikan dipakai untuk menyembuhkan rakhitis pada tikus dan nutrisi berupa lemak terlarut tersebut disebut “antirachitic A”. Oleh lantaran itu, bioaktivitas vitamin yang pertama kali diisolasi dan berhasil menyembuhkan rakhitis pada tikus pada awalnya disebut vitamin A; akan tetapi bioaktivitas dari senyawa ini kini disebut vitamin D [22] . Pada tahun 1881, spesialis bedah rusia berjulukan Nikolai Lunin mempelajari imbas dari kudis selama berada di University of Tartu (saat ini universitas ini berada di Estonia) [23]. Dia memberi makan anak tikus dengan adonan buatan terpisah dari semua unsur yang terkandung di dalam susu berupa; protein, lemak, karbohidrat dan garam. Anak tikus yang hanya diberi salah satu unsur individual tertentu dari susu meninggal, sementara anak tikus yang diberi susu dengan semua kandungan unsur berkembang secara normal. Lunin menciptakan kesimpulan bahwa kuliner alami menyerupai susu harus mengandung sejumlah substansi esensial kehidupan [23]. Namun, kesimpulan tersebut ditolak oleh peneliti lainnya ketika mereka tidak sanggup menghasilkan hasil yang sama. Salah satu perbedaan adalah, Lunin menggunakan gula susu berupa sukrosa, sedangkan peneliti lain menggunakan gula susu (laktosa) yang masih mengandung sejumlah kecil vitamin B. 

Di Asia timur, pada dikala nasi yang dipoles (buatan) menjadi kuliner pokok utama, muncul penyakit endemik berupa beri-beri akhir kekurangan vitamin B1. Pada tahun 1884, Takaki Kanehiro, seorang dokter medis yang terlatih di Inggris dan bekerja pada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, mengamati bahwa beri-beri menjadi endemik diantara para kru kapal yang berpangkat rendah, para kru tersebut kebanyakan hanya makan nasi. Sedangkan para kru berpangkat tinggi yang mempunyai pola makan Western tidak mengalami penyakit tersebut. Dengan dukungan dari angkatan bahari Jepang, ia bereksperimen menggunakan awak dari dua kapal perang, para kru dari salah satu kapal hanya diberi makan nasi putih, sementara yang lain diberi makan berupa  daging, ikan, gandum, beras, dan kacang-kacangan. Pada kelompok yang hanya memakan nasi putih dilaporkan bahwa, 161 awaknya menderita beri-beri dan 25 orang mengalami kematian, sedangkan pada kelompok kedua hanya terjadi 14 masalah beri-beri dan tidak ada kematian. Takaki dan Angkatan Laut Jepang meyakini bahwa, diet/pola makan yaitu penyebab beri-beri, namun ia salah meyakini bahwa jumlah protein yang cukup sanggup mencegah beri-beri [24]. Hal ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Christiaan Eijkman, yang pada tahun 1897 menemukan bahwa memberi makan ayam dengan beras alami dan bukan dengan beras yang sudah dipoles (buatan) sanggup membantu mencegah timbulnya penyakit beri-beri pada ayam. Pada tahun berikutnya, Frederick Hopkins mengumumkan bahwa, beberapa kuliner mengandung "faktor aksesori" (di samping protein, karbohidrat, lemak dan lain-lain) yang diharapkan untuk mendukung fungsi badan insan [20]. Hopkins dan Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Physiology or Medicine pada tahun 1929 untuk beberapa vitamin yang mereka temukan.[25] 

Pada tahun 1910, vitamin kompleks pertama berhasil diisolasi oleh ilmuwan Jepang berjulukan Umetaro Suzuki. Dia berhasil mengekstrak sebuah mikronutrien kompleks yang larut di air dari dedak padi dan menamakannya asam aberik (yang dikala ini diberi nama Orizanin). Dia menerbitkan penemuannya ini dalam jurnal ilmiah Jepang. [26] Ketika artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, terjemahan tersebut gagal untuk menyatakan bahwa itu yaitu nutrisi yang gres ditemukan, oleh lantaran itu penemuannya gagal untuk mendapatkan publisitas. Pada tahun 1912, spesialis biokimia dari Polandia berjulukan Casimir Funk berhasil mengisolasi biokimia mikronutrien kompleks yang sama dan mengusulkan senyawa kompleks tersebut diberi nama "vitamine" (kata ini berasal dari kata  "vital amine amina", nama ini disarankan oleh Max Nierenstein, teman dari Casimir Funk dan pembaca Biokimia di Universitas Bristol [27]) [28]. Nama “vitamine” tersebut segera menjadi identik dengan '"faktor aksesori" yang dicetuskan oleh Hopkins, yang pada dikala itu memperlihatkan bahwa tidak semua vitamin yaitu amina, akan tetapi kata vitamine sudah terlanjur tersebar luas. Pada tahun 1920, Jack Cecil Drummond mengusulkan bahwa akhiran "e" pada kata “vitamine” dihilangkan untuk menghilangkan artian "amina", penamaan ulang tersebut dilakukan sesudah para peneliti mulai curiga bahwa tidak semua "vitamines" (khususnya, vitamin A) mempunyai komponen amina [24].

Pada tahun 1930, Paul Karrer mengelusidasi struktur yang sempurna untuk beta-karoten, yang merupakan prekursor utama vitamin A dan berhasil mengidentifikasi beberapa jenis karotenoid lainnya. Karrer dan Norman Haworth mengkonfirmasi inovasi Albert Szent-Györgyi wacana asam askorbat dan menciptakan bantuan yang signifikan terhadap senyawa kimia flavin, hal ini mempelopori identifikasi laktoflavin. Penemuan mereka mengenai karotenoid, flavin, vitamin A dan B2, berhasil menciptakan mereka berdua mendapatkan Hadiah Nobel di bidang Kimia pada tahun 1937 [29].

Pada tahun 1931, Albert Szent-Györgyi dan sesama rekan penelitinya, Joseph Svirbely, menduga bahwa "asam heksuronik" gotong royong yaitu vitamin C, dan memperlihatkan sampel tersebut kepada Charles Glen King, yang kemudian menerangkan adanya acara anti-scorbutic pada kelinci percobaan. Pada tahun 1937, Szent-Györgyi dianugerahi Penghargaan Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran untuk penemuannya. Pada tahun 1943, Edward Adelbert Doisy dan Henrik Dam dianugerahi Penghargaan Nobel  di bidang Fisiologi atau Kedokteran untuk inovasi mereka berupa vitamin K dan struktur kimianya. Pada tahun 1967, George Wald dianugerahi Hadiah Nobel (bersama dengan Ragnar Granit dan Haldan Keffer Hartline) untuk inovasi bahwa vitamin A sanggup berpartisipasi secara pribadi dalam proses fisiologis. [25]

4. Vitamin Pada Manusia

Vitamin diklasifikasikan menjadi dua jenis; yaitu vitamin yang larut dalam air dan larut dalam lemak. Pada insan ada 13 jenis vitamin; vitamin A, D, E dan K (larut dalam lemak); 8 jenis vitamin B serta vitamin C (larut dalam air). Vitamin yang larut dalam air sanggup dengan gampang larut oleh air dan secara umum sanggup dikeluarkan dari badan dengan cepat, oleh lantaran itu urin merupakan salah satu faktor yang sanggup memprediksi jumlah konsumsi vitamin [31]. Sejumlah besar jenis vitamin yang larut dalam air merupakan hasil sintesis basil [32]. Vitamin yang larut dalam lemak diserap melalui saluran pencernaan dengan pinjaman lipid (lemak). Oleh lantaran vitamin jenis ini lebih sering terakumulasi di dalam tubuh, vitamin jenis ini cenderung menjadi penyebab hipervitaminosis, bila dibandingkan dengan vitamin yang larut dalam air. Regulasi vitamin yang larut dalam lemak sangatlah penting, khususnya terkait dengan cystic fibrosis.[33]

5. Vitamin sebagai Nutrisi

Vitamin sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang normal bagi organisme multiseluler. Dengan menggunakan kode genetik yang diwariskan dari orang tua, perkembangan janin mulai terjadi pada dikala pembuahan, melalui nutrisi yang diserapnya. Proses tersebut membutuhkan vitamin dan mineral tertentu yang harus tersedia pada waktu tertentu. Nutrisi ini memfasilitasi reaksi kimia yang menghasilkan; kulit, tulang, dan otot. Jika ada kekurangan serius pada satu nutrisi atau lebih, anak sanggup mengalami penyakit defisiensi. Bahkan defisiensi yang bersifat minor/kecil sanggup mengakibatkan kerusakan permanen [34].

Sebagian besar vitamin diperoleh melalui makanan, dan hanya sedikit yang diperoleh dengan cara lain. Sebagai contoh, mikroorganisme di dalam usus (umumnya dikenal sebagai "gut flora") sanggup memproduksi vitamin K dan biotin, sementara salah satu bentuk vitamin D disintesis di kulit dengan pinjaman dari panjang gelombang ultraviolet alami sinar matahari. Manusia sanggup menghasilkan beberapa vitamin dari prekursor yang mereka konsumsi. Misalnya, vitamin A yang dihasilkan dari beta karoten dan niasin yang berasal dari asam amino triptofan [6].

Setelah pertumbuhan dan perkembangan berakhir, vitamin tetap menjadi nutrisi yang penting untuk pemeliharaan kesehatan sel-sel, jaringan, dan organ yang membentuk sebuah organisme multiseluler. Vitamin juga sanggup memungkinkan suatu bentuk kehidupan multiseluler untuk lebih efisien dalam menggunakan energi kimia yang disediakan oleh kuliner yang dikonsumsi, dan untuk membantu memproses protein, karbohidrat, dan lemak yang diharapkan untuk respirasi [3].

6. Pengaruh Memasak Pada Kandungan Vitamin

Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase rata-rata kehilangan kandungan vitamin pada materi kuliner umum menyerupai sayur, daging atau ikan sesudah dimasak.

Tabel 2. Pengaruh Memasak Pada Kandungan Vitamin

Vitamin
C
B1
B2
B3
B5
B6
Folat
B12
A
E
Rata-rata % kehilangan
16
26
−3
18
17
3
20
 ?
11
11

Perlu dicatat bahwa beberapa jenis vitamin justru sanggup terbentuk dan sanggup dipakai oleh badan pada dikala dikukus atau dimasak.[35]

Tabel di bawah ini memperlihatkan imbas panas pada dikala merebus, mengkukus, memasak, dan faktor-faktor lainnya terhadap banyak sekali jenis vitamin. Pengaruh pemotongan sayuran sanggup dilihat dari paparan udara dan cahaya terhadap sayuran. Vitamin larut air menyerupai vitamin B dan C meresap ke dalam air ketika sayuran direbus.

Tabel 3. Efek panas terhadap vitamin

Vitamin
Larut dalam air
Paparan terhadap Udara
Paparan terhadap Cahaya
Paparan terhadap Panas
Vitamin A
tidak
sebagian
sebagian
Relatif stabil
Vitamin C
Sangat tidak stabil
iya
iya
iya
Vitamin D
tidak
tidak
tidak
tidak
Vitamin E
tidak
iya
iya
iya
Vitamin K
tidak
tidak
iya
tidak
Thiamine (B1)
Sangat tinggi
tidak
 ?
> 100°C
Riboflavin (B2)
sedikit
tidak
Dalam bentuk larutan
tidak
Niacin (B3)
iya
tidak
tidak
tidak
Pantothenic Acid (B5)
Lumayan stabil
 ?
 ?
iya
Vitamin B6
iya
 ?
iya
 ?
Biotin (B7)
sedikit
 ?
 ?
tidak
Folic Acid (B9)
iya
 ?
Pada dikala kering
Pada suhu tinggi
Vitamin B12
iya
 ?
iya
tidak


7. Defisiensi / Kekurangan Vitamin

Manusia harus mengkonsumsi vitamin secara terpola tetapi dengan waktu yang berbeda, untuk menghindari defisiensi / kekurangan vitamin. Tubuh insan menyimpan banyak sekali jenis vitamin yang sangat bervariasi, yaitu; vitamin A, D, dan B12, yang disimpan dalam jumlah banyak di dalam badan manusia, terutama pada hati, [16] sedangkan pola makan insan pintar balig cukup akal sanggup mengakibatkan mereka mengalami kekurangan vitamin A dan D selama berbulan-bulan dan dalam beberapa masalah vitamin B12 selama bertahun-tahun, sebelum terjadinya kondisi defisiensi. Namun, vitamin B3 (niasin dan niasinamid) tidak disimpan di dalam badan insan pada jumlah yang banyak, sehingga penyimpanan vitamin di dalam badan hanya berlangsung selama beberapa ahad [7] [16]. Sedangkan untuk vitamin C, tanda-tanda pertama berupa penyakit kudis pada suatu studi percobaan mengenai kurangnya vitamin C pada insan sangat bervariasi, sanggup terjadi selama sebulan sampai lebih dari enam bulan, tergantung pada sejarah pola makan sebelumnya yang memilih cadangan kandungan vitamin C di dalam badan [37].

Kekurangan/defisiensi vitamin sanggup diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu; primer dan  sekunder. Kekurangan utama/ primer terjadi ketika organisme tidak mendapatkan cukup vitamin di dalam kuliner yang dikonsumsi. Sedangkan kekurangan sekunder terjadi lantaran gangguan fundamental yang mencegah dan membatasi absorpsi atau penggunaan vitamin lantaran "faktor gaya hidup", menyerupai merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, atau penggunaan obat-obatan yang mengganggu absorpsi atau penggunaan vitamin [16]. Orang yang sering mengkonsumsi kuliner yang bervariasi mustahil menderita kekurangan/defisiensi primer vitamin yang parah. Sebaliknya, diet ketat mempunyai potensi untuk mengakibatkan defisit vitamin berkepanjangan, sehingga hal ini sanggup sering menimbulkan penyakit parah dan berpotensi mematikan.

Beberapa jenis penyakit yang sudah dikenal akhir dari defisiensi vitamin adalah; tiamin (beri-beri), niasin (pellagra), vitamin C (kudis), dan vitamin D (rakhitis). Pada banyak negara maju, masalah kekurangan vitamin menyerupai itu jarang terjadi, lantaran disebabkan oleh (1) pasokan yang cukup dari kuliner dan (2) penambahan vitamin dan mineral pada kuliner yang dikonsumsi secara umum, sering disebut fortifikasi [6] [16]. Beberapa bukti juga menyimpulkan kekerabatan antara kekurangan vitamin dengan sejumlah gangguan yang berbeda [38] [39].

8. Efek Samping dan Overdosis Vitamin

Pada takaran yang besar, beberapa jenis vitamin telah diketahui mempunyai imbas samping yang cenderung lebih parah seiring dengan takaran yang lebih besar. Kemungkinan mengkonsumsi terlalu banyak vitamin dari kuliner yang dikonsumsi tidak pernah terjadi, tapi overdosis (keracunan vitamin) dari suplemen vitamin sering terjadi. Pada takaran cukup tinggi, beberapa vitamin mengakibatkan imbas samping menyerupai mual, diare dan muntah [7] [40]. Pada dikala muncul imbas samping, pemulihan sering dilakukan dengan mengurangi takaran vitamin. Dosis vitamin berbeda-beda pada tiap individu lantaran bervariasinya toleransi tiap individu, toleransi tersebut sepertinya terkait dengan usia dan keadaan kesehatan [41].

Pada tahun 2008, paparan overdosis dari semua jenis formulasi vitamin dan multivitamin-mineral telah dilaporkan oleh 68.911 individu kepada American Association of Poison Control Center (hampir 80% dari paparan tersebut terjadi pada anak di bawah usia 6 tahun), hal ini mengarah ke 8 penyakit utama yang mengancam jiwa, tetapi tidak ada ajal [42].

Dibandingkan dengan vitamin, mineral esensial jauh lebih gampang dan lebih berbahaya untuk terjadi overdosis (dalam jumlah proporsional, dan terutama melalui suplemen). 

9. Suplemen

Suplemen diet, sering mengandung vitamin, yang dipakai untuk memastikan bahwa cukup nutrisi yang diperoleh badan setiap harinya, jikalau jumlah yang optimal dari nutrisi tidak sanggup diperoleh melalui kuliner yang bervariasi. Beberapa penelitian ilmiah telah terbukti mendukung manfaat dari beberapa suplemen vitamin untuk kondisi kesehatan tertentu, tetapi masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kesehatan lainnya [43]. Pada beberapa kasus, suplemen vitamin mungkin mempunyai imbas yang tidak diinginkan contohnya seperti; dikonsumsi sebelum operasi, dikonsumsi dengan suplemen diet atau obat-obatan lainnya, atau jikalau orang yang mengkonsumsinya mempunyai kondisi kesehatan tertentu [43]. Suplemen diet juga mengandung kadar/dosis vitamin yang berkali lipat lebih tinggi, dan dalam bentuk yang berbeda bila dibandingkan  dengan yang diperoleh melalui kuliner [44].

Sudah ada beberapa penelitian yang mempelajari pentingnya suplemen diet. Sebuah meta-analisis yang dipubilkasikan pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa, suplemen vitamin A dan E tidak memperlihatkan manfaat kesehatan yang kasatmata bagi individu yang sehat, tetapi justru meningkatkan mortalitas, meskipun dua penelitian besar yang tercakup dalam analisis ini melibatkan perokok. Selain itu diketahui bahwa, suplemen beta-karoten juga sanggup mempunyai imbas yang berbahaya bagi kesehatan [45][46][47]. Penelitian lainnya yang diterbitkan pada bulan Mei 2009 menemukan bahwa, antioksidan seperti; vitamin C dan E mempunyai kemungkinan mengurangi manfaat dari berolahraga [48]. Beberapa penelitian lainnya memperlihatkan toksisitas vitamin E yang terbatas pada salah satu bentuk spesifiknya yang dikonsumsi secara berlebihan [49]. Sebuah percobaan double-blind yang diterbitkan pada tahun 2011 menemukan bahwa vitamin E meningkatkan risiko kanker prostat pada laki-laki sehat [50]. Konflik kepentingan pada penelitian ini mengungkapkan bahwa penelitian mempunyai kekerabatan dengan ambisi perusahaan farmasi menyerupai Merck, Pfizer, Sanofi-Aventis, AstraZeneca, Abbott, GlaxoSmithKline, Janssen, Amgen, Firmagon, dan Novartis [51]. Penelitian lain yang tidak terlibat dalam konflik kepentingan tersebut justru menemukan hal sebaliknya, dimana suplemen vitamin E justru mengurangi risiko kanker prostat [52] dan meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata para penderita kanker prostat [53].

10. Peraturan Pemerintah Mengenai Vitamin dan Suplemen

Sebagian besar negara menempatkan suplemen kuliner dalam kategori khusus di bawah pecahan pangan, bukan obat. Hal ini menuntut produsen bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produk-produk suplemen kuliner tersebut kondusif sebelum dipasarkan. Peraturan mengenai suplemen bervariasi pada tiap-tiap  negara. Di Amerika Serikat, suplemen kuliner diatur oleh Dietary Supplement Health and Education Act  tahun 1994 [54]. Selain itu, Food and Drug Administration menggunakan Adverse Event Reporting System untuk memantau imbas samping yang terjadi akhir konsumsi suplemen [55]. Di Uni Eropa, Food Supplements Directive mensyaratkan bahwa hanya suplemen-suplemen yang telah terbukti kondusif sanggup dijual tanpa resep dokter. [56]

11. Klasifikasi Ulang Nama-Nama Vitamin

Alasan kenapa tidak ada nama vitamin dari F-J yaitu lantaran nama vitamin tersebut selalu diklarifikasi ulang seiring waktu, dimana terjadi kesalahan identifikasi atau diberi penamaan kembali lantaran mempunyai kekerabatan dengan B sehingga dimasukkan di dalam vitamin B kompleks.

Daftar Nama Vitamin yang Dilasifikasi Ulang
Nama sebelumnya
Nama kimia
Alasan penggantian nama [57]
Vitamin B4
Adenin
DNA metabolit (produk hasil dari metabolisme DNA); disintesis di dalam tubuh
Vitamin B8
Asam adenilik
DNA metabolit; disintesis di dalam tubuh
Vitamin F
Asam lemak esensial
Dibutuhkan dalam jumlah yang besar (tidak sesuai definisinya sebagai sebuah vitamin).
Vitamin G
Riboflavin
Diklasifikasi kembali sebagai  Vitamin B2
Vitamin H
Biotin
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B7
Vitamin J
Catechol, Flavin
Catechol bersifat non-esensial; flavin Diklasifikasi kembali sebagai vitamin B2
Vitamin L1[58]
Asam antralinik
Non-esensial
Vitamin L2[58]
RNA metabolite (produk hasil dari metabolisme RNA); disintesis di dalam badan  
Vitamin M
Asam folat
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B9
Vitamin O
Karnitin
Disintesis di dalam tubuh
Vitamin P
Flavonoid
Tidak lagi diklasifikasikan sebagai vitamin
Vitamin PP
Niasin
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B3
Vitamin S
Asam Salisilat
Senyawa ini diusulkan dimasukkan ke dalam salicylate sebagai mikronutrisi esensial [59]
Vitamin U
S-Methylmethionine
Protein metabolit (produk hasil dari metabolisme protein); disintesis di dalam tubuh

Seorang ilmuwan German mengisolasi dan mendeskripsikan vitamin K, memberi nama vitamin K lantaran vitamin ini berafiliasi dengan proses koagulasi darah yang terjadi pada dikala insan mengalami luka. Pada masa itu huruf F-J sudah terpakai sehingga penamaan dengan menggunakan huruf K dinilai cukup beralasan.[57][60]. Tabel diatas memperlihatkan jenis-jenis senyawa kimia yang telah diklarifikasi sebagai vitamin, begitu juga dengan nama-nama vitamin yang kemudian diklasifikasikan ke dalam vitamin B-kompleks.

12. Anti Vitamin

Antivitamin yaitu senyawa kimia yang menghambat absorpsi atau kinerja suatu vitamin. Misalnya saja, avidin yaitu protein pada putih telur yang menghambat absorpsi biotin [61] Pyrithiamine hampir sama dengan thiamine dan vitamin B1, senyawa ini menghambat enzim-enzim yang menggunakan thiamine dalam proses kerjanya [62].

Referensi :
  1. Lieberman, S and Bruning, N (1990). The Real Vitamin & Mineral Book. NY: Avery Group, 3, ISBN 0-89529-769-8
  2. Maton, Anthea; Jean Hopkins, Charles William McLaughlin, Susan Johnson, Maryanna Quon Warner, David LaHart, Jill D. Wright (1993). Human Biology and Health. Englewood Cliffs, New Jersey, USA: Prentice Hall. ISBN 0-13-981176-1. OCLC 32308337.
  3. Bender, David A. (2003). Nutritional biochemistry of the vitamins. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-80388-5.
  4. Bolander FF (2006). "Vitamins: not just for enzymes". Curr Opin Investig Drugs 7 (10): 912–5. PMID 17086936.
  5. Kutsky, R.J. (1973). Handbook of Vitamins and Hormones. New York: Van Nostrand Reinhold, ISBN 0-442-24549-1
  6. Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001.
  7. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin A. Dietary-supplements.info.nih.gov (2013-06-05). Retrieved on 2013-08-03.
  8. N/D= "Amount not determinable due to lack of data of adverse effects. Source of intake should be from food only to prevent high levels of intake" (Lihat Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  9. "Thiamin, vitamin B1: MedlinePlus Supplements". U.S. Department of Health and Human Services, National Institutes of Health.
  10. Hardman, J.G. et al., ed. (2001). Goodman and Gilman's Pharmacological Basis of Therapeutics (10th ed.). p. 992. ISBN 0071354697.
  11. Plain type indicates Adequate Intakes (A/I). "The AI is believed to cover the needs of all individuals, but a lack of data prevent being able to specify with confidence the percentage of individuals covered by this intake" (see Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  12. "Pantothenic acid, dexpanthenol: MedlinePlus Supplements". MedlinePlus. Retrieved 5 October 2009.
  13. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin B6. Dietary-supplements.info.nih.gov (2011-09-15). Retrieved on 2013-08-03.
  14. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin B12. Dietary-supplements.info.nih.gov (2011-06-24). Retrieved on 2013-08-03.
  15. Value represents suggested intake without adequate sunlight exposure (Lihat Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  16. The Merck Manual: Nutritional Disorders: Vitamin Introduction. 
  17. Gaby, Alan R. (2005). "Does vitamin E cause congestive heart failure?". Townsend Letter for Doctors and Patients.
  18. Rohde LE, de Assis MC, Rabelo ER (2007). "Dietary vitamin K intake and anticoagulation in elderly patients". Curr Opin Clin Nutr Metab Care 10 (1): 1–5. doi: 10.1097/MCO.0b013e328011c46c. PMID 17143047.
  19. Iłowiecki, Maciej (1981). Dzieje nauki polskiej. Warszawa: Wydawnictwo Interpress. p. 177. ISBN 83-223-1876-6.
  20. Jack Challem (1997). "The Past, Present and Future of Vitamins"
  21. Jacob, RA. (1996). "Three eras of vitamin C discovery". Subcell Biochem. Subcellular Biochemistry 25: 1–16. doi:10.1007/978-1-4613-0325-1_1. ISBN 978-1-4613-7998-0. PMID 8821966.
  22. Bellis, Mary. Vitamins – Production Methods The History of the Vitamins. Retrieved 1 February 2005.
  23. 1929 Nobel lecture. Nobelprize.org. Retrieved on 2013-08-03.
  24. Rosenfeld, L. (1997). "Vitamine—vitamin. The early years of discovery". Clin Chem 43 (4): 680–5. PMID 9105273.
  25. Carpenter, Kenneth (22 June 2004). "The Nobel Prize and the Discovery of Vitamins". Nobelprize.org. Retrieved 5 October 2009.
  26. Suzuki, U., Shimamura, T. (1911). "Paul Karrer-Biographical. Retrieved 08-01-2013.
  27. Fukuwatari T, Shibata K (2008). "Urinary water-soluble vitamins and their metabolite contents as nutritional markers for evaluating vitamin intakes in young Japanese women". J. Nutr. Sci. Vitaminol. 54 (3): 223–9. doi: 10.3177/jnsv.54.223. PMID 18635909.
  28. Bellows, L. and Moore, R. "Water-Soluble Vitamins". Colorado State University. Retrieved 2008-12-07.
  29. Said HM, Mohammed ZM (2006). "Intestinal absorption of water-soluble vitamins: an update". Curr. Opin. Gastroenterol. 22 (2): 140–6. doi: 10.1097/01.mog.0000203870.22706.52. PMID 16462170.
  30. Maqbool A, Stallings VA (2008). "Update on fat-soluble vitamins in cystic fibrosis". Curr Opin Pulm Med 14 (6): 574–81. doi: 10.1097/MCP.0b013e3283136787. PMID 18812835.
  31. Gavrilov, Leonid A. (10 February 2003) Comparison of Vitamin Levels in Raw Foods vs. Cooked Foods. Beyondveg.com. Retrieved on 2013-08-03.
  32. Effects of Cooking on Vitamins (Table). Beyondveg.com. Retrieved on 2013-08-03.
  33. Pemberton, J. (2006). "Medical experiments carried out in Sheffield on conscientious objectors to military service during the 1939–45 war". International Journal of Epidemiology 35 (3): 556–8. doi: 10.1093/ije/dyl020. PMID 16510534.
  34. Lakhan, SE; Vieira, KF (2008). "Nutritional therapies for mental disorders". Nutrition journal 7: 2. doi: 10.1186/1475-2891-7-2. PMC 2248201. PMID 18208598.
  35. Boy, E.; Mannar, V.; Pandav, C.; de Benoist, B.; Viteri, F.; Fontaine, O.; Hotz, C. (2009). "Achievements, challenges, and promising new approaches in vitamin and mineral deficiency control". Nutr Rev 67 (Suppl 1): S24–30. doi: 10.1111/j.1753-4887.2009.00155.x. PMID 19453674.
  36. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board. Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Zinc. National Academy Press, Washington, DC, 2001.
  37. Healthier Kids. Section: What to take and how to take it.
  38. Bronstein, AC; et al. (2009). "2008 Annual Report of the American Association of Poison Control Centers' National Poison Data System (NPDS): 26th Annual Report" (PDF). Clinical Toxicology 47 (10): 911–1084. doi: 10.3109/15563650903438566. PMID 20028214.
  39. Use and Safety of Dietary Supplements. NIH office of Dietary Supplements.
  40. Higdon, Jane (2011). Vitamin E recommendations at Linus Pauling Institute's Micronutrient Information Center.
  41. Bjelakovic, Goran; Nikolova, D; Gluud, LL; Simonetti, RG; Gluud, C (2007). "Mortality in Randomized Trials of Antioxidant Supplements for Primary and Secondary Prevention: Systematic Review and Meta-analysis". JAMA 297 (8): 842–57. doi: 10.1001/jama.297.8.842. PMID 17327526.
  42. "Antioxidant Supplements and Mortality". JAMA 298 (4): 400. 2007. doi: 10.1001/jama.298.4.401-a.
  43. "Antioxidant Supplements and Mortality—Reply". JAMA 298 (4): 400. 2007. doi: 10.1001/jama.298.4.402.
  44. Wade, Nicholas (12 May 2009). "Vitamins Found to Curb Exercise Benefits". The New York Times. Retrieved 9 April 2010.
  45. Sen, Chandan K.; Khanna, Savita; Roy, Sashwati (2006). "Tocotrienols: Vitamin E beyond tocopherols". Life Sciences 78 (18): 2088–98. doi: 10.1016/j.lfs.2005.12.001. PMC 1790869. PMID 16458936.
  46. Klein, Eric A.; Thompson Jr, IM; Tangen, CM; Crowley, JJ; Lucia, MS; Goodman, PJ; Minasian, LM; Ford, LG et al. (2011). "Vitamin E and the Risk of Prostate Cancer: The Selenium and Vitamin E Cancer Prevention Trial (SELECT)". JAMA 306 (14): 1549–56. doi: 10.1001/jama.2011.1437. PMID 21990298. 
  47. Klein, E. A.; Thompson Jr, I. M.; Tangen, C. M.; Crowley, J. J.; Lucia, M. S.; Goodman, P. J.; Minasian, L. M.; Ford, L. G.; Parnes, H. L.; Gaziano, J. M.; Karp, D. D.; Lieber, M. M.; Walther, P. J.; Klotz, L.; Parsons, J. K.; Chin, J. L.; Darke, A. K.; Lippman, S. M.; Goodman, G. E.; Meyskens Jr, F. L.; Baker, L. H. (2011). "Vitamin E and the Risk of Prostate Cancer – the Selenium and Vitamin E Cancer Prevention Trial". JAMA: the Journal of the American Medical Association 306 (14): 1549–1556. doi: 10.1001/jama.2011.1437. PMID 21990298. edit Section "Conflict of Interest Disclosures".
  48. Heinonen, O. P.; Albanes, D.; Virtamo, J.; Taylor, P. R.; Huttunen, J. K.; Hartman, A. M.; Haapakoski, J.; Malila, N.; Rautalahti, M.; Ripatti, N.; Mäenpää, M.; Teerenhovi, S.; Koss, H.; Virolainen, L.; Edwards, M. (1998). "Prostate cancer and supplementation with alpha-tocopherol and beta-carotene: Incidence and mortality in a controlled trial". Journal of the National Cancer Institute 90 (6): 440–446. doi: 10.1093/jnci/90.6.440. PMID 9521168.
  49. Watters, J. L.; Gail, M. H.; Weinstein, S. J.; Virtamo, J.; Albanes, D. (2009). "Associations between  -Tocopherol,  -Carotene, and Retinol and Prostate Cancer Survival". Cancer Research 69 (9): 3833–3841. doi: 10.1158/0008-5472.CAN-08-4640. PMC 2787239. PMID 19383902.
  50. Legislation. Fda.gov (2009-09-15). Retrieved on 2010-11-12.
  51. Adverse Event Reporting System (AERS). Fda.gov (2009-08-20). Retrieved on 2010-11-12.
  52. not EUR-Lex – 32002L0046 – EN. Eur-lex.europa.eu. Retrieved on 2010-11-12.
  53. Bennett, David. Every Vitamin Page. All Vitamins and Pseudo-Vitamins.
  54. Davidson, Michael W. (2004). Anthranilic Acid (Vitamin L). Florida State University. Retrieved 20-02-07.
  55. Abbasi, Kamran (2003). "Rapid Responses to: Aspirin protects women at risk of pre-eclampsia without causing bleeding". British Medical Journal 327 (7424): 7424. doi: 10.1136/bmj.327.7424.0-h.
  56. Vitamins and minerals – names and facts. pubquizhelp.34sp.com
  57. Roth KS (1981). "Biotin in clinical medicine—a review". Am. J. Clin. Nutr. 34 (9): 1967–74. PMID 6116428.
  58. Rindi G, Perri V (1961). "Uptake of pyrithiamine by tissue of rats". Biochem. J. 80 (1): 214–6. PMC 1243973. PMID 13741739.
  59. http://en.wikipedia.org/wiki/File:B_vitamin_supplement_tablets.jpg
Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh wikipedia berjudul vitamin.

Anda kini sudah mengetahui vitamin. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.