Kesetimbangan Ion dalam Larutan Asam Basa, Hidrasi dan Hidrolisis Garam, Larutan Penyangga, Kelarutan, Rumus, Contoh Soal, Pembahasan, Praktikum Kimia - Air yang ada di alam, menyerupai air bahari merupakan adonan banyak sekali macam larutan garam yang sanggup memengaruhi pH. Campuran tersebut juga sanggup mempertahankan harga pH, walaupun air sungai yang mengalir ke bahari bersifat asam atau basa. Mengapa hal tersebut sanggup terjadi? Selain itu, ada juga garam-garam yang hampir tidak larut dalam air pada pH tertentu, tetapi sanggup larut dalam pH yang berbeda. Sifat-sifat garam menyerupai ini sanggup dimanfaatkan untuk memisahkan garam-garam yang terkandung dalam mineral untuk kepentingan pemisahan logam-logam. Contoh-contoh di atas terjadi lantaran adanya proses
kesetimbangan ion-ion dalam larutan. Apa saja yang sanggup mempengaruhi kesetimbangan larutan? Bagaimanakah pengaruhnya terhadap kelarutan senyawa? Anda akan menemukan jawabannya setelah mempelajari belahan ini. (Baca juga :
Kesetimbangan Kimia)
 |
| Peta konsep Kesetimbangan Ion. |
Pada materi
stoikiometri, Anda sudah mencar ilmu perihal titrasi asam berpengaruh dan basa berpengaruh menghasilkan garam yang bersifat netral (pH = 7). Apa yang terjadi jikalau zat yang dititrasi yakni asam lemah dan basa berpengaruh atau asam berpengaruh dan basa lemah atau asam lemah dan basa lemah? Untuk sanggup menjawab problem ini, Anda perlu memahami konsep hidrolisis dan prinsip larutan penyangga.
Anda sudah memahami bahwa reaksi asam berpengaruh dan basa berpengaruh akan menghasilkan garam yang bersifat netral. Contoh :
HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)
Di dalam air, garam NaCl bersifat netral lantaran tidak mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan air sebagai pelarutnya sehingga konsentrasi molar
H+ dan OH– dalam larutan tidak berubah, masing-masing sebesar 1,0 ×
10–7 M (hasil ionisasi air). Perhatikan kurva titrasi pada Gambar 1.
 |
| Gambar 1. Kurva titrasi HCl-NaOH. |
Dengan demikian, pada titrasi asam berpengaruh dan basa kuat, titik stoikiometri dicapai pada pH = 7 (netral). Setelah titik setara tercapai, penambahan sedikit basa akan mengubah pH larutan sangat drastis. Jika asam lemah dan basa berpengaruh atau asam berpengaruh dan basa lemah direaksikan, garam yang terbentuk mempunyai sifat berbeda dengan garamgaram netral menyerupai NaCl. Contoh :
HCl(aq) + NH3(aq) → NH4Cl(aq)
Garam amonium klorida yang terbentuk bersifat reaktif terhadap air sebagai pelarutnya, khususnya ion
NH4+ yang berasal dari basa lemah. Mengapa? Di dalam larutan,
NH4Cl berada dalam bentuk ion-ionnya. Jika Anda bandingkan kekuatan asam antara ion
NH4+ dan
H2O, mana yang lebih kuat? Lihat kekuatan asam basa konjugat pada materi
Asam dan Basa.
Ion
NH4+ merupakan asam konjugat yang lebih berpengaruh dari
H2O sehingga ion
NH4+ dapat melepaskan proton membentuk
NH3 dan ion
H3O+ (Gambar 2).
 |
| Gambar 2. Kurva titrasi HCl-NH4OH |
Persamaan reaksinya :
NH4+(aq) + H2O(l) ↔ NH3(aq) + H3O+(aq)
Pada materi
stoikiometri, Anda sudah mencar ilmu perihal titrasi asam berpengaruh dan basa berpengaruh yaitu reaksi yang menghasilkan air hingga air terurai menjadi ion-ionnya. Oleh lantaran dalam larutan tersebut kelebihan ion
H3O+ maka sanggup dipastikan larutan bersifat asam. Dengan demikian, jikalau Anda melaksanakan titrasi asam berpengaruh oleh basa lemah, titik stoikiometri tidak pada pH = 7, tetapi di bawah 7. Setelah titik stoikiometri tercapai, penambahan
NH3 tetes demi tetes tidak meningkatkan pH larutan secara drastis, sebagaimana pada titrasi HCl dan NaOH, tetapi naik secara perlahan. Mengapa?
Jika ke dalam larutan NH4Cl yang sudah terhidrolisis ditambah lagi NH3 , dalam larutan akan terjadi kesetimbangan antara ion NH4+ (dari NH4Cl) dan NH3 dari basa yang ditambahkan. Persamaannya sebagai berikut.
NH4+(aq) ↔ NH3(aq) + H+(aq)
Sistem reaksi tersebut merupakan kesetimbangan basa lemah dan asam konjugatnya (teori asam basa Bronsted-Lowry). Karena membentuk kesetimbangan maka semua Hukum-Hukum Kesetimbangan berlaku di sini. Akibatnya, penambahan NH3 akan bereaksi dengan proton (ion H+ dan sistem akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri. Dengan demikian, penambahan NH3 berlebih dianggap sebagai gangguan dan sistem berupaya meminimalkan gangguan dengan cara menggeser posisi kesetimbangan untuk memperkecil gangguan tersebut.
Dampak dari pergeseran posisi kesetimbangan asam basa konjugat yakni kenaikan pH larutan relatif kecil. Inilah alasan mengapa penambahan basa setelah titik stoikiometri tercapai, perubahan pH larutan relatif kecil. Sistem larutan yang membentuk kesetimbangan antara basa lemah dan asam konjugatnya disebut larutan penyangga. Salah satu sifat penting dari larutan penyangga yakni sanggup mempertahankan pH larutan dari gangguan penambahan asam atau basa.
Formula dari basa konjugat selalu mempunyai jumlah atom H lebih sedikit dan mempunyai muatan lebih negatif dibandingkan formula asam konjugatnya.
B. Hidrasi dan Hidrolisis Garam-Garam
Hidrolisis yakni reaksi dengan air menimbulkan air terionisasi. Suatu zat dikatakan terhidrolisis jikalau zat tersebut dalam larutannya sanggup bereaksi dengan air sehingga air menjadi terionisasi.
2.1. Pengertian Hidrasi dan Hidrolisis
Suatu garam dalam pelarut air terurai membentuk ion-ionnya. Hasil pelarutan garam ini sanggup bersifat netral, asam, atau basa. Sifat larutan garam ini bergantung pada sifat-sifat ionnya. Pelarutan garam sanggup memengaruhi keadaan kesetimbangan ionisasi air. Anda sudah mengetahui bahwa air membentuk kesetimbangan dengan ion-ionnya.
H2O(l) ↔ H+(aq) + OH–(aq)
atau
2H2O(l) ↔ H3O+(aq) + OH–(aq)
Garam-garam yang terlarut di dalam air mungkin terhidrasi atau terhidrolisis. Suatu garam dikatakan terhidrasi di dalam pelarut air jikalau ionionnya dikelilingi oleh molekul air akhir antaraksi dipol antara ion-ion garam dan molekul air. Antaraksi ion-ion garam dan molekul air membentuk kesetimbangan dan tidak mempengaruhi pH larutan. Suatu garam dikatakan terhidrolisis di dalam pelarut air jikalau ionionnya bereaksi dengan molekul air. Reaksi ion-ion garam dan air membentuk kesetimbangan dan mempengaruhi pH larutan.
Solvasi yakni proses ion atau molekul dikelilingi oleh pelarutnya. Jika pelarutnya air, dinamakan hidrasi.
2.1.1. Hidrasi Kation dan Anion
Hidrasi kation terjadi lantaran adanya antaraksi antara muatan positif kation dan pasangan elektron bebas dari atom oksigen dalam molekul air. Kation yang sanggup dihidrasi yakni kation-kation lemah, menyerupai ion kalium (K+), yaitu kation yang mempunyai ukuran besar dengan muatan listrik rendah. Kation-kation menyerupai ini berasal dari basa kuat, seperti Na+, K+, dan Ca2+. Contohnya :
K+(aq) + nH2O(l) ↔ [K(H2O)n]+
Anion-anion yang dihidrasi yakni anion dari asam berpengaruh atau anion yang bersifat basa konjugat sangat lemah. Anion-anion ini dihidrasi melalui antar agresi dengan atom hidrogen dari air. Misalnya :
NO3–(aq) + mH2O(l) ↔ [NO3(H2O)m]–
Kation dan anion dari garam-garam yang terhidrasi di dalam air tidak bereaksi dengan molekul air. Oleh lantaran itu, anion atau kation menyerupai ini merupakan ion-ion bebas di dalam air (Gambar 3).
 |
| Gambar 3. Model hidrasi dari garam NaCl dalam pelarut air. |
2.1.2. Hidrolisis Kation dan Anion
Kation-kation garam yang berasal dari basa lemah di dalam air sanggup mengubah larutan menjadi asam. Kation-kation ini merupakan asam konjugat dari basa lemah, seperti Al3+, NH4+, Li+, Be2+, dan Cu2+. Karena kation-kation tersebut merupakan asam konjugat dari basa lemah maka tingkat keasamannya lebih berpengaruh daripada air. Oleh karenanya, kation-kation ini sanggup menarik gugus OH– dari molekul air dan meninggalkan sisa proton (H+) sehingga larutan bersifat asam.
Reaksi antara H2O dan kation logam membentuk kesetimbangan. Dalam hal ini, molekul H2O berperan sebagai basa Lewis atau penerima proton berdasarkan Bronsted-Lowry. Contohnya :
NH4+(aq) + H2O(l) ↔ NH3(aq) + H3O+(aq)
Al3+(aq) + 3H2O(l) ↔ Al(OH)3(aq) + 3H+(aq)
Anion-anion hasil pelarutan garam yang berasal dari asam lemah sanggup mengubah pH larutan menjadi bersifat basa lantaran bereaksi dengan molekul air. Anion-anion menyerupai ini merupakan basa konjugat dari asam lemah, yaitu basa yang lebih berpengaruh dibandingkan molekul H2O. Karena itu, anion-anion tersebut sanggup menarik proton (H+) dari molekul air dan meninggalkan sisa ion OH– yang menimbulkan larutan garam bersifat basa. Contohnya:
F–(aq) + H2O(l) ↔ HF(aq) + OH–(aq)
CN–(aq) + H2O(l) ↔ HCN(aq) + OH–(aq)
Semua garam yang anionnya berasal dari asam lemah, seperti CH3COONa, KCN, NaF, dan Na2S akan terhidrolisis dikala dilarutkan di dalam air menghasilkan larutan garam yang bersifat basa. Reaksi kation atau anion dengan molekul air disebut hidrolisis. Dengan kata lain, hidrolisis yakni reaksi ion dengan air yang menghasilkan basa konjugat dan ion hidronium atau asam konjugat dan ion hidroksida.
Contoh Soal Garam yang Terhidrolisis (1) :
Manakah di antara NaCl, MgCl2, dan AlCl3 yang jikalau dilarutkan dalam air akan terhidrolisis?
Pembahasan :
Ion Cl– berasal dari asam berpengaruh atau basa konjugat yang lebih lemah dari air. Oleh lantaran itu, ion Cl– tidak bereaksi dengan air. Kation Na+ dan Mg2+ berasal dari basa berpengaruh dan merupakan kation berukuran relatif besar dengan muatan rendah sehingga tidak terhidrolisis. Ion Al3+ memiliki ukuran relatif sama dengan Mg2+, tetapi muatannya tinggi sehingga sanggup bereaksi dengan air. Oleh lantaran itu, ion Al3+ terhidrolisis membentuk Al(OH)3.
2.2. Derajat Keasaman Larutan Garam
Semua garam yang larut dalam air akan terurai membentuk ionionnya. Karena ion-ion garam dalam air ada yang terhidrolisis maka pelarutan garam-garam di dalam air sanggup mengubah pH larutan menjadi bersifat asam atau basa.
2.2.1. Larutan Garam Bersifat Netral
Basa konjugat dari asam berpengaruh tidak mempunyai kemampuan menarik proton dari molekul air. Basa konjugat menyerupai ini merupakan basa-basa yang lebih lemah dari molekul air. Jika anion seperti Cl– dan NO3– berada di dalam air, anion-anion tersebut tidak akan menarik H+ dari molekul air sehingga tidak mengubah pH larutan garam. Anion menyerupai itu hanya terhidrasi. Kation seperti K+ dan Na+ merupakan asam konjugat dari basa kuat. Kation menyerupai ini juga tidak mempunyai kemampuan menarik gugus OH– dari air sehingga tidak mengubah pH larutan. Ion-ion garam yang berasal dari basa berpengaruh dan asam berpengaruh tidak mengubah konsentrasi ion H+ dan OH– hasil ionisasi air. Jadi, garam tersebut bersifat netral di dalam larutan atau mempunyai pH = 7.
2.2.2. Larutan Garam Bersifat Basa
Dalam larutan CH3COONa, spesi utamanya yakni ion Na+, ion CH3COO– , dan molekul H2O. Ion Na+ adalah asam konjugat yang lebih lemah dari air sehingga tidak sanggup menarik gugus OH– dari air, tentunya tidak mengubah pH larutan. Ion CH3COO– merupakan basa konjugat dari asam lemah atau basa yang lebih berpengaruh dari air sehingga CH3COO– dapat menarik proton dari molekul air menghasilkan CH3COOH dan OH–. Akibatnya, larutan menjadi basa.
Reaksi ion asetat dan air membentuk kesetimbangan, persamaan reaksinya:
CH3COO–(aq) + H2O(l) ↔ CH3COOH(aq) + OH–(aq)
Tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini yakni :
Bagaimanakah memilih nilai Kb dari ion asetat (Kb CH3COO–)?
Hal ini sanggup ditentukan dari hubungan Ka, Kb, dan Kw. Jika persamaan Ka asam asetat dikalikan dengan persamaan Kb , ion asetat akan menghasilkan nilai Kw . Penentuan nilai Kb di atas sebagai berikut.
Jadi, untuk setiap pasangan asam lemah dan basa konjugatnya terdapat hubungan Ka, Kb, dan Kw. :
Kw = Ka(asam lemah) × Kb(basa konjugatnya)
Dengan kata lain, jika Ka atau Kw diketahui maka nilai tetapan Kb dapat ditentukan. Tetapan kesetimbangan untuk ion asetat yakni :
Kb (
CH3COO–) =

=

= 5,6 ×
10–10
Jadi, nilai Kb untuk ion asetat sebesar 5,6 × 10–10.
Dengan demikian, untuk setiap garam yang mengandung kation dari basa berpengaruh (seperti, Na+ atau K+) dan anion dari asam lemah akan membentuk larutan bersifat basa. Nilai pH dari larutan garam yang anionnya terhidrolisis sanggup ditentukan berdasarkan nilai Kb basa konjugat dan konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan.
Contoh Soal Perhitungan pH Garam Berasal dari Asam Lemah (2) :
Hitunglah pH larutan NaF 0,3 M. Diketahui nilai Ka HF = 2 × 10–4.
Penyelesaian :
Spesi utama dalam larutan : Na+, F–, H2O.
Karena F– basa konjugat dari asam lemah HF maka F– merupakan basa yang lebih berpengaruh dari air sehingga sanggup bereaksi dengan air. Persamaannya sebagai berikut.
F–(aq) + H2O(l) ↔ HF(aq) + OH–(aq)
Tetapan kesetimbangan untuk reaksi tersebut:
Nilai Kb dapat dihitung dari Kw dan Ka (HF) :
Kb =

=

= 1,4 ×
10–11.
Konsentrasi pada kesetimbangan yakni :
Konsentrasi Awal (mol L–1) | | Konsentrasi Kesetimbangan (mol L–1) |
[F–]0 = 0,3 | xM | [F–] = 0,3 – x |
[HF]0 = 0 | → | [HF] = x |
[OH–]0 = 0 | | [OH–] = x |
Nilai x ≈ 2 × 10–6
Catatan:
Nilai x sangat kecil dibandingkan 0,3 maka x sanggup diabaikan dalam penyebut.
Dengan demikian,
[OH–] = x = 2 ×10–6 M atau pOH = 5,69
pH = 14 – pOH = 8,31
Jadi, larutan bersifat basa.
Contoh Soal SPMB 2002 :
Peristiwa hidrolisis terjadi dalam larutan ....
A. natrium asetat
B. amonium sulfat
C. kalium sianida
D. amonium asetat
E. semua balasan benar
Pembahasan :
Garam yang mengalami reaksi hidrolisis yakni jenis garam yang mengandung ion sisa asam lemah atau ion sisa basa lemah. Dalam hal ini, natrium asetat, amonium sulfat, kalium sianida, dan amonium asetat merupakan garam yang mengalami reaksi hidrolisis. Jadi, semua balasan benar.
Jawabannya (E).
2.2.3. Larutan Garam Bersifat Asam
Beberapa garam menghasilkan larutan asam dikala dilarutkan dalam air. Misalnya, jikalau garam LiCl dilarutkan dalam air, akan terbentuk ion Li+ dan Cl–. Ion Cl– tidak mempunyai afinitas terhadap proton, melainkan hanya terhidrasi sehingga tidak mengubah pH larutan. Ion Li+ adalah asam konjugat dari basa lemah sehingga tingkat keasamannya lebih berpengaruh daripada H2O. Oleh lantaran itu, asam tersebut sanggup bereaksi dengan air menghasilkan proton. Persamaannya:
Li+(aq) + H2O(l) ↔ LiOH(aq) + H+(aq)
Umumnya, garam-garam yang kationnya merupakan asam konjugat dari basa lemah akan membentuk larutan yang bersifat asam. Nilai pH dari larutan garam menyerupai ini sanggup dihitung berdasarkan tetapan kesetimbangan asam konjugatnya.
Contoh Soal Perhitungan pH Garam Berasal dari Basa Lemah (3) :
Berapakah pH larutan NH4Cl 0,1 M? Diketahui nilai Kb (NH3) = 1,8 × 10–5 .
Jawaban :
Spesi utama dalam larutan : NH4+ , Cl–, dan H2O.
Karena ion NH4+ merupakan asam konjugat dari basa lemah maka ion tersebut lebih asam dari air sehingga sanggup bereaksi dengan air dan melepaskan proton. Persamaannya :
NH4+(aq) + H2O(l) ↔ NH3(aq) + H3O+(aq)
Tetapan kesetimbangannya yakni :
Nilai
Ka (
NH4+) dihitung melalui kekerabatan :
Ka (
NH4+) =

=
Ka (NH4+) = 5,6 × 10–10
Konsentrasi masing-masing spesi yang terdapat dalam keadaan kesetimbangan :
Konsentrasi Awal (mol L–1) |
| Konsentrasi Kesetimbangan (mol L–1) |
[NH4+]0 = 0,1 |
| [NH4+] = 0,1 – x |
| xM |
|
[NH3]0 = 0 | → | [NH3] = x |
[H3O+]0 = 0 |
| [H3O+]0 = x |
Dengan demikian,
5,6 x
10–10 =

=
nilai x ≈ 7,5 ×
10–6 .
Konsentrasi ion H+ dalam larutan adalah
[
H+] = x = 7,5 ×
10–6 M
Oleh lantaran itu, nilai pH = 5,13. Dengan demikian, larutan bersifat asam.
2.2.4.
Larutan Garam Terhidrolisis Total Selain garam-garam yang telah disebutkan sebelumnya, masih terdapat garam yang kedua ionnya memengaruhi pH larutan, seperti
CH3COONH4 dan NH4CN. Garam-garam tersebut di dalam air akan terurai membentuk ion-ion yang keduanya terhidrolisis. Oleh lantaran perhitungan untuk problem ini sangat kompleks maka di sini hanya akan ditinjau secara kualitatif.
Anda sanggup memperkirakan apakah larutan akan bersifat asam, basa, atau netral dengan cara membandingkan nilai
Ka untuk ion asam konjugat terhadap nilai
Kb dari ion basa konjugat. Jika nilai
Ka lebih besar dari nilai
Kb , larutan akan bersifat asam. Sebaliknya, jikalau nilai
Kb lebih besar dari nilai
Ka , larutan akan bersifat basa. Jika nilai Ka dan nilai
Kb sama, larutan bersifat netral.
Tabel 1. Nilai pH Larutan Garam Terhidrolisis Total
Ka > Kb | pH < 7 (asam) |
Kb > Ka | pH > 7 ( basa) |
Ka = Kb | pH = 7 (netral) |
Contoh Soal Penentuan Sifat Larutan Garam dari Tetapan Asam Basa (4) :
Ramalkan apakah larutan garam berikut bersifat asam, basa, atau netral:
(a)
NH4COO
CH3 ;
(b)
NH4CN.
Pembahasan :
a. Spesi utama yakni :
NH4+, CH3COO–, H2O. Nilai
Ka(NH4+) = 5,6 × 10–10; Kb(CH3COO–) = 5,6 × 10–10 (lihat pola soal sebelumnya).
Oleh karena
Ka(NH4+) sama dengan
Kb(CH3COO–) maka larutan bersifat netral.
b. Larutan mengandung ion
NH4+ dan ion
CN–. Nilai
Ka(NH4+) = 5,6 ×
10–10 , dan nilai
Kb(
CN–) yakni :
Kb (
CN–) =

=

= 1,18 ×
10–5 .
Oleh karena
Kb (
CN–) lebih besar dari
Ka (NH4+) maka larutan bersifat basa.
C.
Larutan Penyangga Sebagaimana diuraikan sebelumnya, jikalau ke dalam larutan garam yang kation atau anionnya terhidrolisis, contohnya larutan
NH4Cl ditambahkan
NH3 maka akan terbentuk kesetimbangan antara ion
NH4+ dan
NH3 . Sistem larutan menyerupai ini dinamakan larutan penyangga. Salah satu sifat penting dari larutan penyangga yakni sanggup mempertahankan pH larutan.
3.1.
Prinsip Larutan Penyangga Berdasarkan Teori Asam-Basa Arrhenius, larutan yang mengandung adonan asam lemah dan garam yang anionnya senama dengan asam lemah tersebut akan membentuk larutan penyangga. Contohnya,
NH3COOH dan
CH3COONa. Demikian juga jikalau larutan mengandung adonan basa lemah dan garam yang kationnya senama dengan basa lemah akan membentuk larutan penyangga. Contohnya,
NH4OH dan
NH4Cl.
Berdasarkan Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry, larutan yang mengandung adonan dari pasangan asam lemah dan basa konjugat atau basa lemah dan asam konjugatnya akan membentuk larutan penyangga.
Contoh:
a. | NH3(aq) | + | H2O(l) | ↔ | NH4+(aq) | + | OH–(aq) |
| Basa lemah |
|
|
| Asam konjugat |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b. | H2PO4–(aq) | ↔ | HPO42–(aq) |
| H+(aq) |
| Asam lemah |
|
|
| Basa konjugat |
|
|
Prinsip larutan penyangga berdasarkan teori asam basa Arrhenius terbatas hanya untuk adonan asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya, sedangkan prinsip berdasarkan Bronsted-Lowry lebih umum, selain asam lemah dan garamnya (contoh a), juga meliputi adonan garam dan garam (contoh b).
Tinjau pola (b), sistem kesetimbangan asam lemah dan basa konjugatnya sanggup berasal dari garam
NaH2PO4 dan Na2HPO4. Jika kedua garam ini dicampurkan, akan terbentuk larutan penyangga.
Amonium hidroksida sanggup dipakai untuk menciptakan larutan penyangga dengan cara mencampurkannya dengan amonium fosfat sebagai garamnya.
Untuk menerangkan prinsip larutan penyangga, Anda sanggup melaksanakan kegiatan berikut.
Praktikum Kimia Larutan Penyangga (1) :
Tujuan :
Membuktikan prinsip larutan penyangga.
Alat :
- Gelas kimia
- Batang pengaduk
- pH meter atau indikator universal
- Gelas ukur
Bahan :
- Larutan CH3COOH 0,5 M
- Larutan CH3COONa 0,5
- Larutan NaH2PO4 0,5 M
- Larutan Na2HPO4 0,5 M
Langkah Kerja :
Ke dalam gelas kimia masukkan larutan berikut.
- 100 mL larutan CH3COOH 0,5 M, ukur pH-nya.
- 100 mL larutan CH3COONa 0,5 M, ukur pH-nya.
- Campuran 50 mL larutan CH3COOH 0,5 M dan 50 ml larutan CH3COONa 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.
- 100 mL larutan NaH2PO4 0,5 M, ukur pH-nya.
- 100 mL larutan Na2HPO4 0,5 M, ukur pH-nya.
- Campuran 50 mL NaH2PO4 0,5 M dan 50 mL Na2HPO4 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.
Pertanyaan :
- Berapakah pH masing-masing larutan penyangga?
- Bagaimanakah kestabilan larutan penyangga tersebut?
- Apakah yang sanggup Anda simpulkan dari percobaan ini. Diskusikan dengan teman sekelas Anda.
Pada langkah kerja (3), spesi utama yang terdapat dalam larutan penyangga adalah
CH3COOH, CH3COO–, Na+, H+, dan H2O. Asam asetat yakni asam lemah dan dalam larutan terionisasi sebagian membentuk kesetimbangan :
CH3COOH(aq) ↔ CH3COO–(aq) + H+(aq) Garam natrium asetat terionisasi tepat membentuk ion
Na+ dan ion
CH3COO–. Persamaan reaksinya sebagai berikut.
CH3COONa(aq) → Na+(aq) + CH3COO–(aq) Konsentrasi ion
CH3COO– dari garam lebih banyak dibandingkan dari hasil ionisasi asam asetat. Akibatnya, di dalam larutan, konsentrasi ion
CH3COO– ditentukan oleh konsentrasi garam. Dengan demikian, konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan ditentukan oleh konsentrasi asam asetat dan konsentrasi ion asetat yang berasal dari garam.
CH3COOH(aq) | ↔ | CH3COO–(aq) | + | H+(aq) |
Asam asetat |
| Ion asetat |
|
|
Pada langkah kerja (6), spesi utama yang terdapat dalam larutan penyangga yakni :
Na+, H2PO4–, HPO42–, H+, dan H2O. Dalam larutan, garam natrium dihidrogen fosfat dan natrium hidrogen fosfat terionisasi sempurna, persamaan reaksinya sebagai berikut.
NaH2PO4(aq) → Na+(aq) + H2PO4–(aq)
Na2HPO4(aq) → 2Na+(aq) + HPO42–(aq) Kedua anion tersebut membentuk asam basa konjugat dan berada dalam keadaan kesetimbangan. Oleh lantaran ion H
2PO
4– memiliki tingkat keasaman lebih berpengaruh dibandingkan ion
HPO42– maka H
2PO
4– berperan sebagai asam dan
HPO42– sebagai basa konjugatnya. Persamaan reaksinya sebagai berikut.
H2PO4–(aq) ↔ HPO42–(aq) + H+(aq) Oleh lantaran ion
H2PO4– berasal dari garam NaH
2PO
4 dan ion
HPO42– dari garam
Na2HPO4 maka konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan ditentukan oleh konsentrasi garam-garamnya.
Contoh Soal UNAS 2004 :
Larutan
Ca(CN)2 memiliki pH = 11 – log 2. Jika Ka(HCN) = 4 × 10–10 dan Mr
Ca(CN)2 = 92, jumlah
Ca(CN)2 yang terlarut dalam 500 mL larutan yakni ....
A. 3,68 g
B. 7,36 g
C. 8,45 g
D. 14,72 g
E. 15,25 g
Pembahasan :
Ca(CN)2 → Ca2+ + 2CN– CN– + H2O ↔ HCN + OH– pH = 11 + log 2
pOH = 3 – log 2
[OH-] = 2 ×
10–3 M
[OH–] =
2 ×
10–3 =
4 ×
10–6 =

[
CN–]
16 ×
10–16 =
10–14 [
CN–]
[
CN–] =

= 16 ×
10–2 M
Ca(CN)2 | → | Ca2+ + 2 CN– |
8 × 10–2 M |
| 16 × 10–2 M |
8 ×
10–2 =
x =

= 3,68 g
Jadi, jawabannya (A).
3.2.
Aplikasi Prinsip Larutan Penyangga Cairan darah dalam badan insan mempunyai sifat penyangga lantaran bisa mengendalikan pH dalam darah. Salah satu fungsi darah yakni membawa oksigen untuk disebarkan ke seluruh sel. Fungsi ini bergantung pada pH darah.
Sel darah merah, khususnya atau hemoglobin bekerja optimal sebagai pembawa oksigen pada pH sekitar 7,4. Jika pH cairan darah berubah maka kerja hemoglobin akan menurun, bahkan kemampuannya akan hilang jikalau pH cairan darah di atas 10 atau di bawah 5.
Cairan darah mengandung asam lemah
H2CO3 dan basa konjugatnya :
HCO3– (dari garam
NaHCO3 dan KHCO3). Kedua spesi ini bertanggung jawab dalam mempertahankan pH cairan darah biar sel darah merah bekerja secara optimal.
Jika seseorang meminum sedikit asam atau basa, menyerupai air jeruk atau minuman bersoda maka minuman tersebut akan terserap oleh darah. Kemudian, cairan darah akan mempertahankan pH-nya dari gangguan asam atau basa yang dimakan atau diminum seseorang.
Jika cairan darah tidak mempunyai sifat penyangga maka akan bersifat asam, yang tentunya mengganggu kinerja darah. Akan tetapi, lantaran cairan darah mempunyai sifat penyangga, penambahan sedikit asam atau basa tidak mengubah pH cairan darah sehingga kinerja darah tetap optimal.
Air bahari juga mempunyai sifat penyangga yang berasal dari garam-garam dan udara yang terlarut dalam air laut. Di dalam air bahari terkandung garam-garam natrium, kalium, magnesium, dan kalsium dengan anion-anion menyerupai klorida, sulfat, karbonat, dan fosfat.
Sifat penyangga air bahari sanggup berasal dari
NaHCO3 dan gas
CO2 dari udara yang terlarut. Di dalam air laut, gas
CO2 terlarut dan bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Persamaan reaksinya sebagai berikut.
H2O(l) + CO2(g) ↔ H2CO3(aq) Oleh lantaran asam karbonat yakni asam lemah dan dalam air bahari terkandung garam natrium hidrogen karbonat maka kedua senyawa itu akan membentuk larutan penyangga, melalui reaksi kesetimbangan:
H2CO3(aq) ↔ HCO3–(aq) + H+(aq) Konsentrasi
H2CO3 berasal dari gas
CO2 terlarut dan konsentrasi
HCO3– berasal dari garam yang terkandung dalam air laut. Jika air hujan yang umumnya besifat asam tercurah ke bahari atau air dari sungai-sungai mengalir ke bahari dengan banyak sekali sifat asam dan basa maka sifat asam dan basa itu tidak akan mengubah pH air laut. Dengan kata lain, pH air bahari relatif tetap.
Jika Anda ingin mempunyai larutan yang mempunyai nilai pH mulai dari 1 hingga 14 dan tahan usang di laboratorium, Anda sanggup menciptakan larutan-larutan tersebut dari larutan penyangga. Nilai pH larutan penyangga tidak berubah walaupun disimpan dalam kurun waktu yang lama.
Penggunaan Larutan Penyangga dalam Pengembangan Padi Hibrida Kebutuhan akan pangan terus bertambah seiring dengan peningkatan populasi penduduk. Sementara produksi pangan cenderung tetap. Hal ini terjadi disebabkan terbatasnya lahan produksi yang sesuai untuk pertumbuhan tumbuhan pangan. Oleh lantaran itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan kapasitas produksi padi nasional. Peningkatan itu dilakukan dengan cara penggunaan bibit unggul dan pemanfaatan lahan-lahan marginal di luar pulau Jawa. Salah satu lahan marginal yang kini sedang diusahakan yakni lahan pasang surut.
Kendala penggunaan lahan pasang surut salah satunya tingkat keasamannya yang tinggi. Beberapa teknik budidaya padi bibit unggul yang diterapkan di lahan pasang surut di antaranya dengan cara penanaman padi tidak terlalu dalam. Kemudian, menambahkan dolomit (basa) untuk menetralkan pH tanah dan larutan penyangga untuk mempertahankan pH sekitar 6–7. (Sumber: www.pu.go.id)
3.3.
Penentuan pH Larutan Penyangga Bagaimana menciptakan larutan penyangga yang mempunyai nilai pH tertentu? Anda sanggup membuatnya dari adonan asam lemah dan basa konjugat atau dari basa lemah dan asam konjugatnya, dengan tetapan ionisasi asam lemah atau basa lemah mendekati konsentrasi ion
H+ atau pH yang diharapkan.
Sebagai gambaran, contohnya larutan penyangga dibentuk dari asam lemah HA dan basa konjugatnya A
– . Persamaan kesetimbangan ionisasi asam yakni :
HA(aq) ↔ H
+(aq) + A
–(aq)
Tetapan ionisasi dari asam lemah HA yakni :
Ka =
Dengan menata ulang persamaan, diperoleh persamaan untuk konsentrasi ion H
+ , yaitu :
[H
+] = Ka x
Persamaan tersebut menyatakan konsentrasi ion H
+ dalam bentuk
Ka asam lemah dikalikan dengan perbandingan konsentrasi HA dan A
– pada keadaan kesetimbangan. Jika [HA] dan [A
–] sama maka konsentrasi ion H
+ dari larutan penyangga sama dengan nilai
Ka.
Anda sanggup memakai persamaan di atas untuk memilih nilai pH larutan penyangga, yaitu :
Ruas kiri persamaan menyatakan pH. Ruas kanan sanggup disederhanakan menjadi p
Ka , dimana p
Ka = –log
Ka . Jadi, persamaan di atas sanggup ditulis dalam bentuk sebagai berikut.
pH = p
Ka - log
Secara umum, persamaan tersebut sanggup dinyatakan sebagai berikut.
a.
Berdasarkan teori Bronsted-Lowry pH = p
Ka - log
b.
Berdasarkan teori Arrhenius pH = p
Ka - log
Untuk larutan penyangga yang dibentuk dari basa lemah dan asam konjugatnya, nilai pOH diperoleh dengan cara serupa.
a.
Berdasarkan teori Bronsted-Lowry pH = p
Ka - log
b.
Berdasarkan teori Arrhenius pH = p
Ka - log
Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Henderson-Hasselbalch.
Untuk menciptakan larutan penyangga dengan pH sesuai keinginan, contohnya pH ≈ 4,75, sanggup dilakukan dengan mencampurkan asam lemah yang mempunyai nilai pKa sekitar 4,74. Kemudian, dicampurkan dengan garam yang konsentrasi molarnya sama dengan asam lemah biar -log

= 0 sehingga pH = p
Ka.
Contoh Soal pH Larutan Penyangga dari Asam Lemah dan Garamnya (5) :
Berapa pH larutan yang dibentuk dari adonan 50 mL
CH3COOH 0,5 M dan 50 mL Na
CH3COO 0,5 M ? Diketahui
Ka (
CH3COOH) = 1,8 × 10–5.
Penyelesaian :
Dalam larutan terdapat:
CH3COOH,
CH3COO–, H+, dan Na+. Reaksi kesetimbangannya:
CH3COOH(aq) ↔ CH3COO–(aq) + H+(aq) Konsentrasi
CH3COO– lebih secara umum dikuasai dari garam dibandingkan hasil ionisasi asam asetat maka dalam perhitungan, konsentrasi
CH3COO– ditentukan dari garamnya.
Konsentrasi
CH3COOH dalam adonan (100 mL) :
[
CH3COOH] =

= 0,25 M
Konsentrasi
CH3COO– dalam adonan (100 mL):
[
CH3COO–] =

= 0,25 M
Nilai pH larutan dihitung dengan rumus:
pH = p
Ka – log
pH = p
Ka– log
= – log (1,8 × 10–5) – log

= 4,74
Jadi, pH larutan penyangga sebesar 4,74. Nilai ini berasal dari nilai p
Ka .
Contoh Soal pH Larutan Penyangga dari Campuran Garam (6) :
Berapa pH larutan penyangga yang dibentuk dari adonan 60 mL
NaH2PO4 0,5 M dan 40 mL
Na2HPO4 0,5 M. Diketahui
Ka (
H2PO4–) = 7,5 × 10–3.
Jawaban :
Dalam larutan terdapat:
Na+, H+, H2PO4–, dan HPO42–. Reaksi kesetimbangannya:
H2PO4–(aq) ↔ HPO
42–(aq) + H
+(aq)
Oleh lantaran kedua garam tersebut terionisasi tepat maka konsentrasi
H2PO4– dan HPO
42– sama dengan konsentrasi garam-garamnya.
Konsentrasi
H2PO4– dalam adonan (100 mL) :
[
H2PO4– ] =

x 0,5 M = 0,3 M
Konsentrasi HPO
42– dalam volume adonan :
[HPO
42– ] =

x 0,5 M = 0,2 M
Nilai pH larutan :
pH = p
Ka – log
= p
Ka – log
= –log (7,5 ×
10–3) – log

= 1,95
Jadi, pH larutan = 1,95.
3.4.
Kinerja Larutan Penyangga Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa larutan penyangga mempunyai kemampuan untuk mempertahankan pH larutan jikalau ke dalam larutan itu ditambahkan sedikit asam atau basa; atau diencerkan. Bagaimanakah kinerja larutan penyangga bekerja dalam mempertahankan pH larutannya dari efek asam, basa, atau pengenceran?
Untuk mengetahui hal ini, Anda sanggup melaksanakan kegiatan berikut.
Praktikum Kimia Kinerja Larutan Penyangga (2) :
Tujuan :
Mengamati kinerja larutan penyangga.
Alat :
- gelas kimia 250 mL
- pH meter atau indikator universal
- gelas ukur
Bahan :
- 100 mL CH3COOH 0,1 M
- 100 mL CH3COONa 0,1 M
- 50 mL CH3COOH 0,2 M
- 50 mL CH3COONa 0,2 M
- HCl 0,5 M
- NaOH 0,5 M
Langkah Kerja :
1. Sediakan 3 buah gelas kimia 250 mL.
a. Gelas kimia 1: 50 mL
CH3COOH 0,1 M, ukur pH-nya.
b. Gelas kimia 2: 50 mL
CH3COONa 0,1 M, ukur pH-nya.
c. Gelas kimia 3: 25 ml larutan
CH3COOH 0,2 M dan 25 mL larutan
CH3COONa 0,2 M. Kocok adonan dan ukur pH-nya.
d. Ke dalam larutan tersebut masing-masing tambahkan 1 mL HCl 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.
2. Ulangi mekanisme yang sama hingga langkah (c), kemudian tambahkan 1 mL NaOH 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.
3. Encerkan larutan (gelas kimia 3) hingga volume 1 liter. Kocok dan ukur pH-nya.
Pertanyaan :
- Apakah terjadi perubahan pH pada masing-masing larutan?
- Bagaimanakah kestabilan pH pada larutan penyangga?
- Berapakah pH masing-masing larutan sebelum dan setelah ditambah asam, basa, dan netral?
- Diskusikan hasil pengamatan dari percobaan ini dengan teman sekelas Anda.
Mengapa larutan penyangga sanggup mempertahankan pH jikalau ditambah sedikit asam atau basa? Tinjau larutan penyangga pada Praktikum Kimia 2.
Larutan mengandung asam lemah
CH3COOH dan basa konjugatnya
CH3COO–. Jika asam berpengaruh ditambahkan ke dalam larutan penyangga, berarti memasukkan ion
H+ yang sanggup bereaksi dengan basa konjugatnya.
H+(aq) + CH3COO–(aq) → CH3COOH(aq) Jika basa berpengaruh ditambahkan ke dalam larutan penyangga, berarti memasukkan ion
OH– yang bereaksi dengan asam lemahnya.
OH–(aq) + CH3COOH(aq) → H2O(l) + CH3COO–(aq) Penambahan
H+ atau
OH– ke dalam larutan penyangga akan menggeser posisi kesetimbangan
CH3COOH ↔ CH3COO– ke arah pengurangan gangguan sekecil mungkin (prinsip Le Chatelier).
Pergeseran posisi kesetimbangan menimbulkan konsentrasi asam lemah dan basa konjugatnya berubah. Jika
H+ ditambahkan, konsentrasi asam bertambah, sedangkan konsentrasi basa konjugat berkurang. Pada penambahan
OH– terjadi sebaliknya.
Perubahan konsentrasi asam lemah dan basa konjugat akhir penambahan
H+ atau
OH– cukup berarti, tetapi pH larutan penyangga relatif tidak berubah lantaran pH larutan ditentukan oleh perbandingan [asam] :[basa konjugat], di samping
pKa atau pKb. Gambar 4. mengatakan perubahan pH larutan penyangga yang mengandung
CH3COOH dan
CH3COONa terhadap penambahan ion
H+ dan
OH– . pH berkurang sekitar 0,5 satuan jikalau ditambahkan ion
H+ atau ion
OH– tidak lebih dari 0,5 mol.
 |
| Gambar 4. Pengaruh penambahan asam atau basa ke dalam larutan penyangga (CH3COOH + CH3COONa). |
Larutan Penyangga dalam Darah Darah insan mempunyai pH normal sekitar 7,35 – 7,45. Jika pH dalam darah tidak berada dalam keadaan normal maka akan mengganggu kestabilan dari membran sel, struktur protein, dan kegiatan enzim. Kondisi pH darah < 7,35 disebut asidosis dan kondisi pH > 7,45 disebut alkalosis. Darah mempunyai sistem penyangga untuk mengontrol pH biar pH darah stabil. Larutan penyangga dalam darah mengandung asam karbonat (H
2CO
3) dan ion karbonat (
HCO3–). Dengan persamaan kesetimbangan sebagai berikut.
H+(aq) + HCO3– (aq) ↔ H
2CO
3(aq) ↔ H
2O(
l) + CO
2(g)
Sumber: Chemistry: The Central Science, 2000
a. Penambahan Asam atau Basa Secara Kuantitatif
 |
| Gambar 5. Dua prinsip utama dalam memilih pH larutan penyangga setelah asam atau basa ditambahkan. |
Ada dua prinsip utama dalam memilih pH larutan penyangga dikala sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan (Gambar 5), yaitu:
- Prinsip Stoikiometri : diasumsikan bahwa penambahan asam atau basa bereaksi tepat dengan ion-ion dalam larutan penyangga.
- Prinsip kesetimbangan : ion-ion dalam larutan penyangga membentuk kesetimbangan yang gres setelah ditambah sedikit asam atau basa.
Contoh kasus :
Berapakah pH larutan penyangga yang dibentuk dari
CH3COOH 0,5 M dan CH3COONa 0,5 M (lihat Contoh soal 6) jikalau ke dalam 100 mL larutan itu ditambahkan HCl 0,01 mol? Bagaimanakah perubahan pH yang terjadi?
Penyelesaian :
Spesi utama yang terdapat dalam larutan yakni : H
+ , CH
3COO
– , dan
CH3COOH , persamaan reaksi kesetimbangannya:
CH3COOH(aq) ↔ CH
3COO
–(aq) + H
+(aq)
Aspek Stoikiometri :
Jumlah mol
CH3COOH, CH3COO–, H+ sebelum penambahan HCl adalah
CH3COOH = 0,05 mol; CH3COO– = 0,05 mol; H+ = x mol. Setelah HCl ditambahkan, jumlah mol
H+ sama dengan jumlah mol HCl yang ditambahkan:
H+ = 0,01 mol (hasil ionisasi asam asetat diabaikan). Diasumsikan semua ion
H+ (HCl) yang ditambahkan bereaksi tepat dengan basa konjugatnya,
CH3COO– .
H+(aq) + CH3COO–(aq) → CH3COOH(aq) Berdasarkan reaksi ini akan dihasilkan komposisi mol yang baru:
CH3COOH = (0,05 + 0,01) mol = 0,06 mol = 60 mmol
CH3COO– = (0,05 – 0,01) mol = 0,04 mol = 40 mmol
H+ = 0 mol
Aspek Kesetimbangan :
Setelah terjadi reaksi antara
H+ (dari HCl) dengan basa konjugat dari larutan penyangga, sistem membentuk kesetimbangan yang baru.
 |
| Gambar 6. Prinsip kesetimbangan. |
Konsentrasi molar sebelum dan setelah tercapai kesetimbangan yang gres sanggup dihitung sebagai berikut.
[CH3COOH]0 =
= 0,6 M; [CH3COO–]0 =
= 0,4 M Setelah kesetimbangan yang gres tercapai, konsentrasi molar dalam keadaan setimbang yakni sebagai berikut.
Konsentrasi | [CH3COOH] (M) | [CH3COO–] (M) | [H+] (M) |
Awal | 0,6 | 0,4 | 0 |
Perubahan | – x | + x | + x |
Kesetimbangan | 0,6 – x | 0,4 + x | x |
Persamaan tetapan ionisasi kesetimbangannya yakni :
Catatan :
Nilai x pada pembilang (0,6 – x) relatif kecil sehingga sanggup diabaikan. Penyelesaian terhadap persamaan tersebut, diperoleh nilai x = 2,7 ×
10–5 . Jadi, konsentrasi
H+ setelah penambahan HCl sebesar 2,7 ×
10–5 M.
Nilai pH larutan penyangga setelah penambahan HCl 0,01 mol:
pH = – log [
H+] = –log (2,7 ×
10–5) = 4,57.
Nilai pH sebelum penambahan HCl = 4,74 (lihat Contoh 5). Setelah HCl ditambahkan, pH larutan bermetamorfosis 4,57 (sekitar 0,17 satuan).
b. Pengenceran Larutan Penyangga
Mengapa pH larutan penyangga tidak berubah jikalau diencerkan?
Untuk memahami hal ini, sanggup ditinjau dari persamaan Henderson-Hasselbalch.
pH = p
Ka + log
Nilai pH larutan penyangga hanya ditentukan oleh p
Ka dan perbandingan konsentrasi molar pasangan asam basa konjugat. Nilai
Ka atau p
Ka dari asam lemah tidak bergantung pada konsentrasi asam, tetapi bergantung pada suhu. Oleh lantaran itu, pengenceran larutan penyangga tidak akan mengubah nilai p
Ka (lihat Gambar 9).
 |
| Gambar 7. Pengenceran larutan penyangga hanya mengubah konsentrasi molar spesi dalam kesetimbangan, tetapi tidak mengubah perbandingan spesi tersebut. |
Konsentrasi molar pasangan asam basa konjugat akan berubah jikalau volume larutan berubah lantaran konsentrasi bergantung pada volume total larutan. Pengenceran larutan akan mengubah semua konsentrasi spesi yang ada dalam larutan, tetapi lantaran perubahan konsentrasi dirasakan oleh semua spesi maka perbandingan konsentrasi molar pasangan konjugat asam basa tidak berubah. Akibatnya, pH larutan tidak berubah.
D.
Kesetimbangan Kelarutan Garam Sukar Larut Tidak semua garam sanggup larut dalam air. Banyak garam-garam yang kurang larut bahkan sanggup dikatakan tidak larut di dalam air. Walaupun sepertinya tidak larut, bersama-sama masih ada sebagian kecil dari garam-garam itu yang sanggup larut dalam air. Kelarutan garam-garam ini membentuk kesetimbangan dengan garam-garam yang tidak larut.
4.1.
Tetapan Hasil Kali Kelarutan Garam Banyak garam-garam yang larut dalam air terionisasi tepat membentuk ion-ionnya, tetapi banyak juga garam-garam yang kelarutannya sedikit, bahkan nyaris tidak larut. Garam-garam yang kurang larut, di dalam air membentuk keadaan setimbang antara garam yang tidak larut dengan yang terlarut dalam keadaan larutan jenuh. Contohnya, kalsium oksalat (
CaC2O4) membentuk kesetimbangan berikut.
| H2O |
|
CaC2O4(s) | ↔ | Ca2+(aq) + C2O42–(aq) |
Tetapan kesetimbangan untuk kelarutan garam ini yakni sebagai berikut.
K =
Oleh lantaran kelarutan garam relatif sangat kecil maka konsentrasi
CaC2O4 diasumsikan tetap sehingga sanggup dipersatukan dengan tetapan kesetimbangan, yaitu:
K [
CaC2O4] = [
Ca2+] [
C2O42–]
Persamaan ini sanggup ditulis:
Ksp = [
Ca2+] [
C2O42–]
Lambang
Ksp dinamakan tetapan hasil-kali kelarutan (solubility product constant) garam-garam sukar larut. Persamaan
Ksp menyatakan bahwa perkalian konsentrasi ion-ion garam dalam larutan jenuh sama dengan nilai
Ksp. Oleh lantaran nilai
Ksp merupakan suatu tetapan kesetimbangan maka
Ksp dipengaruhi oleh suhu larutan.
Pada persamaan Ksp, konsentrasi hasil kali kelarutan ion-ion garam dipangkatkan sesuai dengan nilai koefisien reaksinya. Hal ini sesuai dengan konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan pada umumnya.
Contoh Soal Penulisan Ungkapan Hasil Kali Kelarutan (7) :
Tuliskan persamaan hasil-kali kelarutan untuk garam-garam berikut.
(a) AgCl ;
(b) Hg2Cl2 ;
(c) Pb3(AsO4)2 Jawaban :
Persamaan kesetimbangan dan tetapan hasil kali kelarutannya adalah
a. AgCl(s) ↔ Ag+(aq) + Cl–(aq)
Ksp = [Ag+] [Cl–]
b. Hg2Cl2(s) ↔ Hg22+(aq) + 2Cl–(aq)
Ksp = [Hg22+] [Cl–]2
c. Pb3(AsO4)2(s) ↔ 3Pb2+(aq) + 2AsO43–(aq)
Ksp = [Pb2+]3 [AsO43–]2 Tetapan hasil kali kelarutan (
Ksp) ditentukan oleh konsentrasi molar ion-ion yang terlarut di dalam air pada keadaan jenuh. Bagaimanakah menghitung tetapan hasil-kali kelarutan dari garam yang sukar larut ini. Simak contoh-contoh berikut.
Contoh Soal Menentukan
Ksp dari
Kesetimbangan Ion-Ion Terlarut (8) :
Berdasarkan percobaan, ditemukan bahwa
PbI2 dapat larut sebanyak 1,2 ×
10–3 mol per liter larutan jenuh pada
25 oC. Berapakah
Ksp PbI2 ?
Pembahasan :
Nilai Ksp ditentukan dari hasil kali konsentrasi ion-ion dalam keadaan kesetimbangan
PbI2(aq) | ↔ | Pb2+(aq) | + | 2I–(aq) |
1,2 × 10–3 M |
| 1,2 × 10–3 M |
| 2(1,2 × 10–3) M |
Ksp = [Pb2+] [I–]2 = (1,2 × 10–3) (2,4 × 10–3)2 = 6,9 × 10–9 Contoh Soal Menentukan Kelarutan Garam dari
Ksp (9) :
Mineral fluorit mengandung
CaF2. . Hitung kelarutan
CaF2. dalam air. Diketahui
Ksp (CaF) =3,4 ×
10–11.
Jawaban :
Misalkan, x yakni kelarutan molar
CaF2. Jika padatan
CaF2, dilarutkan ke dalam 1 liter larutan, dari x mol CaF yang terlarut akan terbentuk x mol Ca
2+ dan 2x mol F
– .
Lihat diagram berikut.
Ksp = [Ca2+][F–]2
3,4 × 10–11 = (x) (2x)2 → x = 2 × 10–4 Jadi, kelarutan
CaF2 = 2 ×
10–4 M.
Beberapa tetapan hasil kali kelarutan garam-garam yang sukar larut ditunjukkan tabel berikut.
Tabel 2. Tetapan Hasil Kali Kelarutan (K
sp) Beberapa Garam Sukar Larut
Garam Sukar Larut | Rumus | K sp |
Aluminium hidroksida | Al(OH)3 | 4,6 × 10–33 |
Barium karbonat | BaCO3 | 1,2 × 10–10 |
Barium kromat | BaCrO4 | 1,0 ×10–6 |
Barium sulfat | BaSO4 | 1,1 ×10–10 |
Besi(II) hidroksida | Fe(OH)2 | 8,0 ×10–16 |
Besi(II) sulfida | FeS | 6,0 ×10–18 |
Besi(III) hidroksida | Fe(OH)3 | 2,5 ×10–39 |
Kadmium oksalat | CdC2O4 | 1,5 ×10–8 |
Kadmium sulfida | CdS | 8,0 ×10–27 |
Kalsium karbonat | CaCO3 | 3,8 ×10–9 |
Kalsium fluorida | CaF2 | 3,4 ×10–11 |
Kalsium oksalat | CaC2O4 | 2,3 ×10–9 |
Kalsium fosfat | Ca3(PO4)2 | 1,0 ×10–26 |
Kalsium sulfat | CaSO4 | 2,4 ×10–5 |
Contoh Soal UNAS 2004 :
Kelarutan
Ag2CrO4 dalam air adalah
10–4 M. Kelarutan
Ag2CrO4 dalam larutan K2CrO4 0,01 M yakni ....
A. 10–5 M
B. 2 × 10–5 M
C. 4 × 10–5 M
D. 4 × 10–10 M
E. 5 × 10–6 M
Pembahasan :
Ag2CrO4 | ↔ | 2 Ag+ | + | CrO42– |
10–4 M |
| 2 × 10–4 M |
| 10–4 M |
s |
| 2s |
| s |
Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42–] = (2 × 10–4)2 (10–4) = 4 × 10–12 K2CrO4 | → | 2K+ | + | CrO42– |
0,01 M |
| 0,01 M |
Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42–]
4 × 10–12 = [Ag+]2 [0,01] [Ag
+] =

= 2 ×
10–5 Jadi, kelarutan
Ag2CrO4 dalam
K2CrO4 :
s = 1/2 x 2 ×
10–5 =
10–5 Jadi, jawabannya (A).
4.2.
Pengaruh Ion Senama Bagaimanakah kelarutan
CaCO3 jika ke dalam larutan itu ditambahkan CaCl
2 ? Garam yang ditambahkan sama-sama mengandung kation
Ca2+ . Oleh lantaran kelarutan
CaCO3 membentuk kesetimbangan antara
CaCO3(aq) terlarut dan
CaCO3 s) yang tidak larut maka penambahan ion senama akan menggeser posisi kesetimbangan garam kalisum karbonat.
Ke arah manakah pergeseran kesetimbangan terjadi?
Oleh lantaran yang ditambahkan yakni ion
Ca2+ maka kesetimbangan akan bergeser ke arah garam yang tidak larut. Tinjaulah sistem kesetimbangan garam kalsium karbonat dalam pelarut air berikut.
CaCO3(s) ↔ Ca
2+(aq) + CO
32–(aq)
Penambahan ion Ca2+ ke dalam larutan
CaCO3 akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah pengendapan
CaCO3 .
CaCO3(s) ← Ca2+(aq) + CO32–(aq) Dengan demikian, efek ion senama akan menurunkan kelarutan garam-garam yang sukar larut di dalam air. Pengaruh ion senama akan mendesak ion-ion yang sejenis untuk meninggalkan larutan.
Contoh Soal Pengaruh Ion Senama (10) :
Berapakah kelarutan
CaC2O4 dalam satu liter larutan
CaCl2 0,15 M? Bandingkan kelarutan
CaC2O4 dalam air murni. Diketahui Ksp
CaC2O4 = 2,3 × 10–9.
Jawaban :
Dua macam garam mempunyai ion senama Ca
2+ . Salah satunya garam
CaCl2 yang larut, menyediakan ion Ca
2+ dan akan menekan kelarutan
CaC2O4 . Sebelum
CaC2O4 dilarutkan, terdapat 0,15 mol Ca
2+ dari
CaCl2 . Jika kelarutan
CaC2O4 x M maka akan terbentuk x mol Ca
2+ tambahan dan x mol C
2O
42– , menyerupai ditunjukkan pada tabel berikut.
Konsentrasi | CaC2O4(s) | ↔ | Ca2+ (aq) | + | C2O42– (aq) |
Awal |
|
| 0,15 |
| 0 |
Perubahan |
|
| + x |
| + x |
Kesetimbangan |
|
| 0,15 + x |
| x |
Dengan memasukkan konsentrasi ion-ion ke dalam persamaan
Ksp (CaC2O4), diperoleh:
Ksp = [Ca2+] [C2O42–]
2,3 × 10–9 = (0,15 + x) x Oleh karena
CaC2O4 kurang larut maka nilai x sanggup diabaikan terhadap nilai 0,15 sehingga :
x =

= 1,5 x
10–8 Jadi, kelarutan
CaC2O4 dalam larutan
CaCl2 0,15 M yakni 1,5 ×
10–8 M.
Kelarutan
CaC2O4 dalam air murni: 4,8 ×
10–5 M, lebih besar 3.000 kali dibandingkan dalam
CaCl2 0,15 M.
4.3.
Pengaruh pH terhadap Kelarutan Pada pembahasan sebelumnya, dijelaskan bahwa garam-garam yang ionnya berasal dari asam atau basa lemah akan terhidrolisis dan mengubah pH larutan. Bagaimanakah kelarutan garam-garam yang berasal dari asam atau basa lemah jikalau dilarutkan dalam larutan asam atau basa?
Tinjaulah kesetimbangan
MgC2O4 dengan ion-ionnya yang terlarut berikut.
MgC2O4(s) ↔ Mg2+(aq) + C2O42–(aq) Oleh lantaran ion oksalat (
C2O42–) yakni basa konjugat dari asam lemah maka ion tersebut sanggup bereaksi dengan ion
H+ dari asam.
C2O42–(aq) + H+(aq) ↔ HC2O4–(aq) Menurut Le Chatelier, ion
C2O42– keluar dari kesetimbangan akhir bereaksi dengan ion
H+ . Hal ini berarti padatan
MgC2O4 akan bergeser ke arah pelarutan.
MgC2O4(s) → Mg2+(aq) + C2O42–(aq) Dengan demikian, magnesium oksalat menjadi lebih larut dalam larutan asam daripada dalam air murni.
Pengaruh asam terhadap kelarutan garam sanggup diamati pada peluruhan gigi. Bakteri gigi menghasilkan media yang bersifat asam akhir metabolisme gula. Secara normal, gigi tersusun dari mineral hidroksiapatit yang ditulis sebagai
Ca5(PO4)3OH atau 3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2. Garam mineral dengan anion dari asam lemah larut dengan adanya medium asam yang sanggup menimbulkan lubang pada gigi.
Pasta gigi yang mengandung ion
F– dapat menggantikan ion
OH– pada gigi membentuk fluorapatit,
Ca5(PO4)3F yang kelarutannya lebih rendah dibandingkan hidroksiapatit.
Penyakit gigi berlubang sanggup timbul lantaran sering mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan kurangnya menjaga kebersihan gigi.
Contoh Soal Pengaruh pH terhadap Kelarutan Garam (11) :
Di antara garam berikut :
CaCO3 dan
CaSO4 , manakah yang kelarutannya dipengaruhi oleh asam?
Pembahasan :
Kalsium karbonat membentuk kesetimbangan kelarutan sebagai berikut.
CaCO3(s) ↔ Ca2+(aq) + CO32–(aq) Jika asam berpengaruh ditambahkan, ion
H+ akan bereaksi dengan ion karbonat lantaran ion ini merupakan basa konjugat dari asam lemah (
HCO3–).
H+(aq) + CO32–(aq) ↔ HCO3–(aq) Oleh lantaran ion
CO32– keluar dari kesetimbangan maka kelarutan
CaCO3 menjadi tinggi. Ion
HCO3– dapat bereaksi lagi dengan ion
H+ menghasilkan gas
CO2 . Persamaan reaksinya sebagai berikut.
H+(aq) + HCO3–(aq) → H2O(l) + CO2(g) Gas
CO2 meninggalkan larutan sehingga kelarutan
CaSO4 semakin tinggi lagi.
Adapun pada garam
CaSO4 , reaksi kesetimbangannya yakni :
CaSO4(s) ↔ Ca2+(aq) + SO42–(aq) Oleh lantaran ion
SO42– adalah basa konjugat dari asam lemah maka
SO42– dapat bereaksi dengan ion
H+ :
H+(aq) + SO42–(aq) ↔ HSO4–(aq) Oleh lantaran ion
HSO4– memiliki tingkat keasaman lebih berpengaruh dari
HCO3– maka ion
HSO4– tidak bereaksi lagi dengan ion
H+ . Akibatnya, kelarutan
CaSO4 lebih rendah dibandingkan
CaCO3 di dalam larutan yang bersifat asam.
4.4.
Pemisahan Ion-Ion Logam Umumnya garam-garam sulfida kurang larut dalam air, tetapi kelarutannya tinggi dalam larutan yang bersifat asam. Sifat menyerupai ini dimanfaatkan untuk memisahkan adonan ion-ion logam. Andaikan suatu larutan mengandung adonan ion Zn
2+ 0,1 M dan ion
Pb2+ 0,1 M. Bagaimana memisahkan kedua logam tersebut?
Untuk memisahkannya sanggup dilakukan berdasarkan pembentukan logam sulfida dengan cara mengalirkan gas
H2S ke dalam larutan itu. Gas
H2S akan terurai membentuk ion H+ dan S
2– . Ion sulfida (S
2–) yang dihasilkan dengan cara ini sanggup bereaksi dengan ion logam membentuk logam sulfida.
Zn2+(aq) + S2–(aq) ↔ ZnS(s)
Pb2+(aq) + S2–(aq) ↔ PbS(s) Untuk mengetahui logam sulfida mana yang mengendap sanggup ditentukan berdasarkan nilai hasil kali kelarutan, kemudian dibandingkan dengan nilai K
sp-nya.
Konsentrasi ion S
2– dalam larutan setara dengan K
a (
H2S) = 1,2 × 10–13 sehingga hasil kali kelarutan ion-ion ZnS yakni sebagai berikut.
[Zn2+][S2–] = (0,1) (1,2 × 10–13) = 1,2 × 10–14. Hasil kali konsentrasi molar ion Zn
2+ dan S
2– lebih besar daripada K
sp (ZnS) yaitu 1,1 ×
10–21 maka seng (II) sulfida mengendap. Demikian juga hasil kali konsentrasi ion-ion [
Pb2+] [S
2–] =1,2 ×
10–14 lebih besar dari K
sp (PbS) = 2,5 ×
10–27 sehingga timbal (II) sulfida juga mengendap.
Oleh lantaran ZnS dan PbS keduanya mengendap maka kedua ion tersebut belum sanggup dipisahkan. Untuk memisahkan kedua logam tersebut sanggup dilakukan dengan cara mengasamkan larutan. Simak efek penambahan asam berpengaruh ke dalam larutan Zn
2+ dan
Pb2+ sebelum dijenuhkan dengan gas
H2S . Ion
H+ dari asam berpengaruh akan menekan ionisasi
H2S sehingga menurunkan konsentrasi ion S
2– .
H2S(g) ← H+(aq) + S2–(aq) Dengan mengatur konsentrasi ion
H+ (pH larutan) maka kelarutan ion S
2– dapat diatur, tentunya pengendapan ZnS dan PbS sanggup dikendalikan. Oleh karena K
sp PbS jauh lebih kecil dibandingkan ZnS maka PbS akan mengendap lebih dulu pada pH tertentu.
Rangkuman :
- Garam-garam yang berasal dari asam berpengaruh dan basa berpengaruh di dalam air akan terhidrasi. Garam-garam ini tidak mengubah pH larutan.
- Garam-garam yang berasal dari asam atau basa lemah di dalam air akan terhidrolisis. Garam-garam menyerupai ini sanggup mengubah pH larutan.
- Tetapan kesetimbangan untuk garam-garam yang terhidrolisis sanggup ditentukan melalui persamaan, Kw = Ka × Kb.
- Penambahan ion sejenis ke dalam larutan garam yang terhidrolisis akan membentuk larutan penyangga.
- Menurut Teori Asam Basa Arrhenius, larutan penyangga yakni adonan asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya
- Menurut Teori Asam Basa Bronsted-Lowry, larutan penyangga yakni adonan asam lemah dan basa konjugatnya atau basa lemah dan asam konjugatnya.
- Prinsip larutan penyangga yakni adanya kesetimbangan antara asam lemah atau basa lemah dengan basa atau asam konjugatnya. Sistem kesetimbang ini sanggup mempertahankan pH larutan penyangga.
- Persamaan untuk memilih pH dan pOH larutan penyangga dirumuskan pertama kali oleh Henderson- Hasselbalch.
- pH larutan penyangga dikendalikan oleh perbandingan konsentrasi pasangan asam lemah dan basa konjugatnya dan tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah.
- Penambahan sedikit asam atau basa berpengaruh terhadap larutan penyangga tidak mengubah pH larutan penyangga secara signifikan.
- Prinsip kesetimbangan juga terdapat pada garam-garam yang sukar larut dalam air. Garam-garam ini membentuk kesetimbangan di antara padatan dan ion-ion yang larut dengan konsentrasi sangat kecil.
- Hasil kali kelarutan garam-garam sukar larut bersifat tetap selama suhu tetap. Hasil kali ini dilambangkan dengan Ksp , yaitu tetapan hasil kali kelarutan dari garam-garam sukar larut.
- Penambahan ion senama ke dalam larutan garam yang sukar larut menimbulkan kelarutan garam akan berkurang.
- Penurunan pH larutan (larutan dibentuk asam) akan meningkatkan kelarutan garam-garam yang berasal dari asam lemah.
- Campuran ion-ion logam di dalam larutan sanggup dipisahkan satu dengan lainnya berdasarkan harga Ksp dan pengaturan pH larutan.
Anda kini sudah mengetahui
Kesetimbangan Ion. Terima kasih anda sudah berkunjung ke
Perpustakaan Cyber.
Referensi :
Sunarya, Y. dan A. Setiabudi. 2009. Praktis dan Aktif Belajar Kimia 2 : Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 250.