Showing posts sorted by relevance for query nyanyian-rakyat-folksongs-di-indonesia-pengertian-contoh-balada-epos. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query nyanyian-rakyat-folksongs-di-indonesia-pengertian-contoh-balada-epos. Sort by date Show all posts

Thursday, November 28, 2019

Pintar Pelajaran Nyanyian Rakyat (Folksongs) Di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos

Artikel dan Makalah perihal Nyanyian Rakyat (Folksongs) di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos - Nyanyian rakyat yakni salah satu bentuk folklor yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secara ekspresi di antara masyarakat tertentu dan berbentuk tradisional serta banyak mempunyai varian. Dalam nyanyian rakyat kata-kata dan lagu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Akan tetapi, teks yang sama tidakselalu dinyanyikan dengan lagu yang sama. Sebaliknya, lagu yang sama sering dipergunakan untuk menyanyikan beberapa teks nyanyian rakyat yang berbeda. Nyanyian rakyat mempunyai perbedaan dengan nyanyian lainnya, menyerupai lagu pop atau klasik. Hal ini alasannya yakni sifat dari nyanyian rakyat yang gampang sanggup berubah-ubah, baik bentuk maupun isinya. Sifat tidak kaku ini tidak dimiliki oleh bentuk nyanyian lainnya. (Baca juga : Jejak Sejarah di Berbagai Daerah Indonesia)
 Nyanyian rakyat yakni salah satu bentuk folklor yang terdiri dari kata Pintar Pelajaran Nyanyian Rakyat (Folksongs) di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos
Gambar 1. Permainan didong di Gayo, Aceh; tampak kedua kelompok bertanding dengan menyanyikan pantun.
Nyanyian rakyat lebih luas peredarannya pada suatu masyarakat dari pada lagu-lagu lainnya. Karena nyanyian rakyat beredar, baik di kalangan melek karakter maupun buta huruf, kalangan atas maupun kalangan bawah. Umur nyanyian rakyat pun lebih panjang daripada nyanyian pop. Bentuk nyanyian rakyat juga beraneka ragam, yakni dari yang paling sederhana hingga yang cukup rumit. Penyebarannya melahirkan tradisi ekspresi menjadikan nyanyian rakyat cenderung bertahan sangat usang dan mempunyai banyak varian-varian. Nyanyian rakyat mempunyai fungsi sebagai pelipur lara, nyanyian jenaka, nyanyian untuk mengiringi permainan anak-anak, dan nyanyian “Nina Bobo”. Fungsi yang kedua yakni sebagai pembangkit semangat, menyerupai nyanyian kerja ”Holopis Kuntul Baris”, nyanyian untuk baris-berbaris, usaha dan sebagainya. 

Fungsi ketiga yakni untuk memelihara sejarah setempat, dan klen. Di Nias ada nyanyian rakyat yang disebut Hoho, yang dipergunakan untuk memelihara silsilah klen besar orang Nias yang disebut Mado. Fungsi keempat yakni sebagai protes sosial, mengenai ketidakadilan dalam masyarakat, negara bahkan dunia.

Dari banyak sekali jenis nyanyian rakyat, yang sanggup dipertimbangkan sebagai salah satu sumber dari penulisan sejarah yakni nyanyian rakyat yang bersifat berkisah, nyanyian rakyat yang tergolong dalam kelompok ini yakni Balada dan Epos. Perbedaan antara balada dan epos terletak pada tema ceritanya. Tema kisah balada mengenai kisah sentimentil dan romantis, sedangkan epos atau wiracarita mengenai kisah kepahlawanan. Keduanya mempunyai bentuk bahasa yang bersajak. Nyanyian yang bersifat berkisah ini banyak terdapat di Indonesia. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali terdapat epos yang berasal dari epos besar Mahabarata dan Ramayana. Nyanyian rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga di sebut sebagai ”Gending”. Gending-gending tersebut masih dibagi ke dalam beberapa jenis menyerupai Sinom, Pucung dan Asmaradhana, Balada di Jawa Barat diwakili oleh Pantun Sunda.

Seorang sarjana Belanda berjulukan C.M. Pleyte telah mengumpulkan pantun Sunda mengenai Lutung Kesarung (1910) dan Nyai Sumur Bandung (1911). Penelitian pantun Sunda berikutnya dilakukan oleh Ajip Rosidi yang berhasil mengumpulkan 26 pantun Sunda dan 14 di antaranya sudah diterbitkan pada tahun 1973. Di antara Pantun Sunda yang berhasil direkam oleh Ajip Rosidi tersebut antara lain: ”Tjarita Mundinglaja di Kusuma”, ”Tjerita Nyi Sumur Bandung”, dan ”Tjarita Demung Kalagan”. Kebanyakan teks pantun-pantun itu panjang.

Anda kini sudah mengetahui Nyanyian Rakyat (Folksongs) di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Hendrayana. 2009. Sejarah 1 : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Jilid 1 Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 202.

Pintar Pelajaran Jenis-Jenis Sejarah : Politik, Ekonomi, Kebudayaan, Teknologi, Sosial, Pendidikan, Dunia, Nasional Indonesia

Artikel dan Makalah perihal Macam-macam / Jenis-Jenis Sejarah : Politik, Ekonomi, Kebudayaan, Teknologi, Sosial, Pendidikan, Dunia, Nasional Indonesia - Majunya ilmu pengetahuan maka berimbas terhadap makin beraneka ragamnya kajian topik sejarah yang diteliti oleh para ahli. Tema sejarah menjadi terbagi menjadi beberapa jenis yang didasarkan pada objek yang dikaji, wilayah yang menjadi kajian, dan aspek-aspek lain. Jenis sejarah menurut tema misalnya, menyangkut sejarah politik, sejarah perekonomian, sejarah sosial dan sejarah pendidikan. Sementara jenis sejarah menurut wilayah kajian, contohnya sejarah Indonesia, Sejarah Asia Timur, Sejarah Eropa. Lalu jenis sejarah menurut cakupan wilayah pembahasan misalnya, Sejarah Dunia, Sejarah Nasional dan Sejarah Lokal.

Di bawah ini akan diberikan beberapa deskripsi yang berkaitan mdengan jenis sejarah menurut objek atau tema yang dikaji.

1. Sejarah Politik

Sejarah politik merupakan sejarah yang membicarakan soal keterkaitan insan dengan pemerintahan. Bentuk sejarah politik yang usang yaitu sejarah kerajaan. Datangnya bangsa Barat yang menjadikan sistem penjajahan di Indonesia juga memperkaya penulisan sejarah politik.

2. Sejarah Ekonomi

Sejarah ekonomi merupakan sejarah mengenai perekonomian. Pada awalnya masyarakat yang sederhana mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengambil dari apa yang ada di alam sekitarnya (food gathering). Berkat kecerdasan yang dimiliki dan alasannya kebutuhan yang terus meningkat maka insan mulai menghasilkan materi makanan yang dibutuhkan (food producing). Pada mulanya, sistem ladang yang dikerjakan lalu sistem sawah sehingga kebutuhannya makin gampang sanggup dipenuhi.

Setelah korelasi ekonomi dengan luar dilakukan, orang mulai mengusahakan perkebunan yang penghasilannya lebih tinggi. Sementara itu, insan mulai mengusahakan guna memenuhi kebutuhan yang bersifat sekunder. Makin luasnya korelasi dengan dunia luar maka acara ekonomi ditingkatkan menjadi industri. Hubungan antarbangsa memungkinkan dilakukan perdagangan yang lebih luas sehingga mencapai tingkat dunia.


Sejarah kebudayaan merupakan sejarah perihal kebudayaan. Dengan kebudayaan, kebutuhan fisik insan sanggup tercukupi. Hal itu sanggup diwujudkan alasannya insan mempunyai nalar dan budi sehingga berbeda dengan binatang yang hidupnya sekadar naluriah dan alamiah. Apabila kebutuhan pokok (basic needs) sudah terpenuhi, insan mulai ingin menikmati kebutuhan psikisnya dengan menikmati hasil budaya, di antaranya kesenian. Timbullah sejarah kesenian ibarat seni suara, seni tari, seni ukir.

4. Sejarah Teknologi

Sejarah teknologi menggambarkan bagaimana insan membuat cara atau alat-alat biar apa yang dikehendaki gampang diperoleh. Ditinjau dari cara membuat sesuatu, pada mulanya insan memakai tangan. Demi kebutuhan yang terus meningkat, dipergunakan mesin yang sanggup bekerja lebih cepat dan efektif. Teknologi yang dipergunakan terus meningkat secara cepat. Semula ditemukan sumber tenaga berupa uap lalu berkembang pada bentuk gas dan akibatnya atom. Industri pun berkembang cepat sehingga timbul revolusi industri. Kemajuan teknologi yang kini dinilai menakjubkan yaitu kemajuan dalam bidang biologi berupa kloning dan elektronik berupa mkomputer dan telekomunikasi.

5. Sejarah Sosial

Sejarah sosial mempunyai materi garapan yang sangat luas dan beraneka ragam. Kebanyakan sejarah sosial juga mempunyai korelasi dengan sejarah ekonomi, sejarah politik, dan bidang-bidang lain. Contoh sejarah sosial-ekonomi, contohnya mengenai kemiskinan rakyat Indonesia pada masa penjajahan kolonial Belanda yang ternyata merupakan dampak dari kebijakan pemerintahan kolonial berupa tanam paksa. Ini berarti ”waktu” tetap memegang peranan dalam penulisan sejarah. Ketika suatu goresan pena tidak memuat unsur waktu maka goresan pena tersebut tidak sanggup disebut sebagai goresan pena sejarah. Sebagai pola dari sejarah sosial ini yaitu disertasi dari Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.
 Majunya ilmu pengetahuan maka berimbas terhadap makin beraneka ragamnya kajian topik seja Pintar Pelajaran Jenis-Jenis Sejarah : Politik, Ekonomi, Kebudayaan, Teknologi, Sosial, Pendidikan, Dunia, Nasional Indonesia
Gambar 1. Lukisan perihal “Pemberontakan etnis Cina” tahun 1740 terhadap VOC, merupakan insiden sosial yang menghebohkan.
6. Sejarah Pendidikan

Sejarah pendidikan merupakan uraian perihal proses perkembangan pendidikan di suatu daerah. Secara umum pendidikan dibedakan atas tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Dari suatu tingkat pendidikan setempat dapatlah diketahui sudah maju tidaknya masyarakat setempat. Proses perkembangan pendidikan di
Indonesia, salah satunya sanggup dilihat dari pendidikan pada masa kolonial Belanda hingga pada masa RI. Dari sejarah pendidikan sanggup diketahui bahwa pendidikan yang diberikan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia bertujuan untuk memperoleh tenaga kerja yang murah, sedangkan Republik Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, belum didirikan universitas, yang ada hanyalah sekolah tinggi. Setelah Indonesia merdeka, jumlah sekolah atau forum pendidikan tinggi di Indonesia terus meningkat

7. Sejarah Dunia

Sejarah Dunia telah kita ketahui bahwa perkembangan dunia sampaumur ini sangat pesat sehingga sukar bagi seseorang untuk mengikuti secara terus menerus. Di antara kejadian-kejadian itu terdapat peristiwa-peristiwa penting dan kurang penting. Peristiwa-peristiwa yang dianggap penting lalu dicatat sebagai insiden yang bersejarah dan secara cepat tersiar ke seluruh dunia. Di samping itu, seringkali peristiwa-peristiwa yang terjadi pada suatu negara akrab kaitannya dengan insiden yang terjadi pada potongan bumi yang lain. Untuk itulah mempelajari sejarah dunia, juga penting artinya untuk memahami sejarah nasional suatu bangsa. Sebagai pola kedatangan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tidak lepas dari pendudukan Perancis (Napoleon Bonaparte) terhadap negeri Belanda di Eropa.

8. Sejarah Nasional Indonesia

Sejarah Nasional Indonesia, pengertian perihal Sejarah Indonesia sebetulnya gres terdapat semenjak tahun 1942. Sebelum itu pengajaran sejarah di Indonesia masih memakai Sejarah Hindia Belanda. Materi Sejarah Hindia tentu saja lebih banyak berorientasi pada kepentingan politik penjajah yang banyak menceritakan sejarah bangsa Belanda di Indonesia semenjak tahun 1600. Tahun-tahun sebelumnya dianggap oleh Belanda sebagai suatu pendahuluan singkat dari dongeng Belanda di Indonesia.Dengan runtuhnya pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1942, pengajaran sejarah di Indonesia mengalami masa baru. Hampir semua buku atau diktat yang diterbitkan pada masa itu memakai istilah Sejarah Indonesia, Sejarah Tanah Air, Sejarah Kebangsaan, Sejarah Nasional, Sejarah Nusantara, dan lain sebagainya. Dalam perubahan ini yang terpenting yaitu perubahan pembabakan waktu atau periodisasi, misalnya, terdapat istilah Zaman Penjajahan VOC (1602-1799), Zaman Kemerdekaan, dan Iain-lain. Para penyusun sejarah Indonesia berlomba-lomba biar materi sejarah yang disajikannya akan sanggup menempa pembacanya menjadi warga negara yang mempunyai sifat kebangsaan. Itu semua dilukiskan dengan adanya penggambaran usaha yang patriotik dari bangsa Indonesia terhadap usaha-usaha bangsa lain untuk merongrong kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, pengajaran sejarah Indonesia oleh guru-guru sejarah menjadi sangat penting. 

Anda kini sudah mengetahui Nyanyian Rakyat (Folksongs) di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Hendrayana. 2009. Sejarah 1 : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Jilid 1 Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 202.

Pintar Pelajaran Sumber, Bukti, Dan Fakta Sejarah : Lisan, Tertulis (Dokumen), Benda (Artefak), Rekaman, Contoh

Artikel dan Makalah ihwal Sumber, Bukti, dan Fakta Sejarah : Lisan, Tertulis (Dokumen), Benda (Artefak), Rekaman, Contoh - Para pakar metodologi sejarah telah mencoba menciptakan pembagian terstruktur mengenai semacam itu, dari yang sangat sederhana hingga pada yang sangat bercabang-cabang. Klasifikasi yang sederhana contohnya saja membagi sumber sumber sejarah atas beberapa macam, yakni:
  1. Sumber Tertulis (sumber dokumen). Sumber tertulis contohnya prasasti, kronik, babad, hikayat, surat-surat, laporan, notulen rapat, piagam, naskah, arsip, dan surat kabar.
  2. Sumber Benda (Artefak). Sumber benda (artefak) berupa antara lain: fosil, senjata, peralatan hidup, perhiasan, prasasti, candi, stupa, foto, patung, nisan, dan bangunan.
  3. Sumber Lisan. Sumber verbal yaitu keterangan pribadi dari pelaku atau saksi sejarah. Banyak pelaku dan saksi sejarah yang masih hidup dari zaman pendudukan Jepang, awal kemerdekaan, masa demokrasi liberal, insiden G-30 S/1965 dan sebagainya. Mereka menjadi sumber sejarah yang penting sebagai suplemen dari kekosongan-kekosongan dokumen dari masa-masa tersebut. Kelemahan dari sumber verbal ini yaitu seringkali ada unsur-unsur subjektivitas di dalamnya. Pada umumnya tokoh-tokoh pelaku sejarah, cenderung membesar-besarkan peranannya pada suatu insiden yang pernah dialaminya.
  4. Sumber Rekaman. Sumber rekaman berupa baik rekaman kaset audio maupun rekaman kaset video. Misalnya rekaman insiden sekitar proklamasi, dan rekaman demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi.
Bukti yaitu sesuatu yang sanggup memperkuat kebenaran suatu pendapat maupun kesimpulan. Dalam ilmu sejarah, bukti merupakan jejak-jejak peninggalan perbuatan pada masa lampau. Bukti-bukti sejarah tersebut sanggup berupa keterangan-keterangan dari para saksi atau pelaku sejarah sanggup pula berupa benda-benda peninggalan, baik tertulis maupun tidak tertulis. Misalnya, pendapat ihwal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebagai usaha bangsa Indonesia sanggup dibuktikan kebenarannya dengan antara lain: konsep dan naskah teks proklamasi yang ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, gedung daerah teks itu disiapkan, keteranganketerangan dari para saksi dan para pelaku sejarahnya ibarat Moh.Hatta, Ahmad Soebardjo, B.M. Diah, dan Sidik Kertapati.

Peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau dalam kehidupan insan disebut dengan kenyataan sejarah, sedangkan fakta dalam ilmu sejarah merupakan pernyatan ihwal insiden yang merupakan proses mental dari sejarawan yang bersifat subjektif. Oleh alasannya itu, kenyataan sejarah merupakan insiden yang benar-benar terjadi pada masa lampau maka fakta sejarah yaitu pernyataan dari insiden tersebut. Dalam menciptakan pernyataan ihwal insiden sejarah itu sudah terdapat subjektivitas dari sejarawan. Subjektivitas itu terjadi baik dalam pemilihan kata dan kalimat maupun dalam pemilihan bukti-bukti yang hendak diutarakan. Demikian juga dalam pengungkapan kenyataan-kenyataan sejarah yang sudah terjadi proses mental dari para sejarawan. Misalnya, insiden sekitar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia merupakan kenyataan sejarah.

Sedangkan pernyataan Moh. Hatta yang menyatakan bahwa ”Soekarno sebagai orang yang mengusulkan biar teks proklamasi ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia” yaitu fakta sejarah.

Agar mendapat bukti dan fakta sejarah yang benar maka sejarawan harus berhati-hati dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang peneliti sejarah sehubungan dengan sumber-sumber sejarah yaitu segi-terpercayanya sumber, kuatnya sumber dan sahihnya sumber.

Berdasarkan urutan penyampaiannya, sumber-sumber sejarah terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut.
  1. Sumber Primer (Sumber Pertama). Sumber Primer, yaitu peninggalan orisinil sejarah, ibarat prasasti, kronik, piagam, candi yang benar-benar berasal dari zamannya.
  2. Sumber Sekunder (Sumber Kedua). Sumber Sekunder, yaitu benda-benda tiruan dari benda aslinya atau sumber-sumber kepustakan sebagai hasil penelitian ahli-ahli sejarah, seperti: prasasti tinulad (tiruan), laporan penelitian, dan terjemahan kitab-kitab kuno.
  3. Sumber Tersier (Sumber Ketiga). Sumber Tersier, yaitu berupa buku-buku sejarah yang disusun menurut laporan penelitian andal sejarah tanpa melaksanakan penelitian langsung.
 Para pakar metodologi sejarah telah mencoba menciptakan pembagian terstruktur mengenai semacam itu Pintar Pelajaran Sumber, Bukti, dan Fakta Sejarah : Lisan, Tertulis (Dokumen), Benda (Artefak), Rekaman, Contoh
Gambar 1. Relief pada Candi Borobudur yang menggambarkan arsitektur dan bentuk rumah pada masa bersangkutan. (Wikimedia Commons)
Sumber primer merupakan sumber yang paling baik untuk dipakai dalam menyusun dongeng sejarah. Semakin jauh sumber sejarah dari benda aslinya maka semakin besar kemungkinan terjadi pembiasan makna. Demikian halnya, semakin banyak sumber sejarah yang ditemukan, semakin cermat para andal sejarah melaksanakan penyusunan sejarah. Dengan terbukanya penemuan-penemuan gres bagi peninggalan-peninggalan sejarah maka selalu terbuka kemungkinan untuk melaksanakan revisi terhadap goresan pena atau karya sejarah yang ada. Dan memang karya sejarah yang banyak menggunakan sumber-sumber primer lebih tinggi nilainya daripada karya sejarah yang bardasarkan sumber-sumber sekunder.

Lebih lanjut kita sanggup membagi-bagi sumber-sumber tertulis yang kita bedakan bedakan antara sumber resmi serta sumber formal dan informal. Ada dokumen resmi formal dan dokumen resmi informal. Adapula dokumen tak resmi formal dan dokumen tak resmi informal, Keputusan-Presiden RI mengenai pengangkatan Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan- Keamanan Nasional, yaitu dokumen resmi formal. Surat dari Kepala Staf Umum HAN KAM, kepada Panglima K0STRANAS yang berupa ’’’kattebelletje’ mengenai palaksanaan fiald test yaitu suatu dokumen resmi informal, alasannya ditulis oleh seseorang sebagai pejabat kepada pejabat yang lain tetapi cara menulisnya ’’biasa”. Surat Jenderal Tri Sutrisno sebagai pribadi kepada Kepala sekolah mengenai hal ihwal putra dia yaitu dokumen tak resmi formal alasannya ditulis sebagai bukan pejabat akan tetapi ditulis dengan surat yang memenuhi syarat-syarat surat menyurat formal. Dan kesannya surat (dari perjalanan) dari Jenderal Try Sutrisno kepada ibu Try Sutrisno mengenai urusan rumah tangga yang ditinggalkan dia merupakan dokumen tak resmi informal.

Setelah mengenali pelbagai macam sumber, kita harus mengetahui pula kita sanggup menemukan pelbagai sumber itu. Sumber-sumber benda pada umumnya disimpan di dalam museum-museum atau koleksi-koleksi pribadi. Kecuali museum-museum umum ibarat museum Gedung Gajah di Jakarta, kita memiliki beberapa museum militer ibarat Museum Angkatan Darat di Yogyakarta, Museum Polisi Militer di Jakarta serta museum Kodam Siliwangi dan Brawijaya masing-masing di Bandung dan Malang.

1. Fakta Mental dalam Sejarah

2. Fakta Sosial dalam Sejarah

Anda kini sudah mengetahui Nyanyian Rakyat (Folksongs) di Indonesia: Pengertian, Contoh, Balada, Epos. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Hendrayana. 2009. Sejarah 1 : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Jilid 1 Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 202.