Showing posts with label Enzim. Show all posts
Showing posts with label Enzim. Show all posts

Saturday, November 30, 2019

Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik

Artikel dan Makalah perihal Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik - Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda-beda. Masing-masing enzim merupakan katalis yang efektif bagi satu atau lebih reaksi biokimiawi. Sel tidak sanggup berfungsi apabila semua enzim berkerja secara maksimal dan bahu-membahu tanpa adanya prosedur pengaturan yang tepat. Mekanisme pengaturan memungkinkan semua enzim tersebut bekerja serentak dan terkoordinasi sehingga semua kegiatan kimiawi di dalam sel menjadi terpadu. Dengan demikian sel hidup bisa mensintesis dan menguraikan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi metabolisme dan pertumbuhan yang normal.

I. Pendahuluan

Salah satu ciri organisme hidup ialah mempunyai prosedur homeostasis, yaitu prosedur pemeliharaan lingkungan internal semoga relatif konstan meskipun terjadi fluktuasi lingkungan eksternal melalui perubahan reaksi biokimia sesuai kebutuhan fisiologis. Reaksi biokimia di dalam organisme dikatalis oleh enzim. Oleh alasannya itu, pengaturan metabolisme selular pada hasilnya menyangkut pengaturan kegiatan enzim. Enzim yang bekerja pada kecepatan maksimumnya tidak sanggup merespon peningkatan konsentrasi substrat, tetapi hanya sanggup merespon penurunan konsentrasi substrat. Oleh lantaran itu, konsentrasi substrat intraselular bagi sebagian besar enzim cenderung berada di sekitar nilai Konstanta Michaelis-Menten (Km), sehingga perubahan konsentrasi substrat sanggup direspon oleh enzim. Respon terhadap perubahan konsentrasi substrat merupakan prosedur penting dalam homeostasis sel. Pengaturan ini disebut pengaturan pasif. Pengaturan tersebut hanya bisa merespon perubahan variabel lingkungan yang terbatas.

Dalam metabolisme selular, sejumlah enzim bekerja sama dalam satu rangkaian reaksi metabolisme. Dalam sistem tersebut, produk reaksi enzim yang satu merupakan substrat bagi enzim berikutnya. Pengaturan aktif homeostasis dilakukan terhadap enzim pertama dalam rangkaian tersebut lantaran reaksi pertama merupakan tempat pengaturan yang sangat sensitif. Ketika kecepatan reaksi enzim pertama menurun, seluruh reaksi enzim berikutnya juga akan menurun lantaran konsentrasi substrat yang tersedia juga menurun. Pengaturan kegiatan enzim penting untuk efisiensi penggunaan energi dan metabolit sel.

Pengaturan kegiatan enzim secara aktif mencakup pengaturan konsentrasi dan atau kegiatan katalitik enzim. 

II. Pengaturan Konsentrasi Enzim

Konsentrasi sebagian besar enzim dipengaruhi oleh faktor fisiologis, hormonal atau diet. Konsentrasi enzim mencerminkan keseimbangan antara kecepatan sintesis dan degradasi enzim. Faktor yang menghipnotis kecepatan sintesis enzim ialah induksi dan represi gen yang mengkode enzim atau laju degradasi mRNA yang dihasilkan gen tersebut. Kebanyakan enzim kunci yang berperan dalam pengaturan suatu jalur metabolisme mempunyai umur mRNA yang pendek, sehingga laju sintesisnya gampang dikendalikan oleh faktor yang menghipnotis laju transkripsi gennya.

2.1. Pengaturan Sintesis Enzim

Komponen utama enzim ialah protein sehingga sintesis enzim sangat terkait dengan proses verbal genetik. Oleh alasannya itu, pengaturan sintesis enzim intinya ialah pengaturan verbal genetik. Terdapat dua macam pengaturan sintesis enzim, yaitu pengaturan faktual dan pengaturan negatif. Pengaturan faktual meningkatkan laju sintesis enzim, sedangkan pengaturan negatif menurunan laju sintesis enzim (Tabel 1). Pengaturan faktual terjadi ketika pengikatan protein regulator pada DNA meningkatkan laju transkripsi, sebaliknya pengaturan negatif terjadi ketika pengikatan protein regulator mencegah proses transkripsi. Protein regulator pada pengaturan faktual sintesis enzim disebut activator, sedangkan protein regulator pada pengaturan negatif disebut repressor. 

Tabel 1. Pengaruh protein regulator terhadap kecepatan sintesis enzim

Protein Regulator
Kecepatan Sintesis Enzim
Pengaturan Positif
Pengaturan Negatif
Ada
Meningkat
Menurun
Tidak ada
Menurun
Meningkat

2.1.1. Enzyme Induction (Induksi Enzim)

Enzyme induction ialah sintesis enzim sebagai respon terhadap suatu sinyal (molekul inducer). Enzim yang disintesis dengan prosedur ini disebut inducible enzyme. Enzim yang bersifat inducible umumnya terlibat dalam jalur katabolisme dan hanya disintesis hanya ketika diharapkan (ketika substrat tersedia). Enzim tersebut merupakan produk produk gen yang bersifat inducible. Pada umumnya gen inducible mempunyai kecepatan basal transkripsi yang rendah, sehingga adanya inducer (substansi yang memacu transkripsi) akan meningkatkan laju sintesis enzim (Gambar 1). Molekul inducer ialah suatu substansi dengan berat molekul rendah dan sanggup berupa substrat atau senyawa yang sekerabat (analog) dengan substrat.
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 1. Perubahan konsentrasi enzim inducible pada dikala penambahan inducer (laktosa)
Mekanisme pengaturan sintesis enzim telah banyak dipelajari pada basil dengan memakai model operon (dikemukakan oleh Francois Jacob dan Jackues Monod, 1961). Operon terdiri atas serangkaian gen struktural yang mengkode protein yang terlibat dalam suatu proses metabolisme tertentu. Situs operator ialah sekuen DNA yang mengatur transkripsi gen struktural dan gen regulator yang mengkode protein yang mengenali kawasan operator. Pada banyak bakteri, gen-gen struktural yang memilih sintesis enzim dalam suatu lintasan metabolik tertentu ditempatkan berdasarkan urutan sesuai dengan rangkaian reaksi pada lintasan tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa urutan reaksi pada lintasan metabolik dikendalikan oleh kromosom.

a. lac operon

Agar laktosa sanggup dipakai oleh bakteri, laktosa harus dihidrolisis terlebih dulu menjadi galaktosa dan glukosa dengan enzim β-galaktosidase. Gen struktural untuk β-galaktosidase (lacZ) terletak bersebelahan dengan gen untuk permease yang bertanggung jawab terhadap pengambilan laktosa ke dalam sel (lacY) dan untuk thiogalaktosida transasetilase (enzim untuk detoksifikasi senyawa toksik yang juga sanggup masuk melalui permease) (lacA). Ketiga gen struktural tersebut besama dengan promoter lac (daerah tempat pelekatan RNA polimerase pada dikala inisiasi transkripsi) dan operator lac (daerah pengaturan) sangat berkaitan erat membentuk lac operon (Gambar 2).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 2. Struktur lac operon.
Rangkaian genetik tersebut memungkinkan koordinasi verbal ketiga enzim/protein terkait dengan metabolisme laktosa. Ketiga gen tersebut ditranskripsikan menjadi satu molekul mRNA besar yang mengandung kodon start (AUG) dan kodon stop (UAA) untuk setiap pecahan sistron (unit terkecil verbal genetik). Dengan demikian protein akan ditranslasikan secara terpisah.

b. Pengaturan Negatif lac operon

Ketika E. coli dikulturkan pada media yang mengandung laktosa (tanpa/sedikit glukosa) dengan kondisi yang sesuai, sintesis β-galaktosidase, galaktosida permease dan thiogalaktosida transasetilase meningkat 100-1000 kali. Namun, ketika laktosa (inducer) dihilangkan, sintesis ketiga enzim tersebut menurun seketika. Mekanisme peningkatan sintesis enzim yang ditingkatkan oleh adanya inducer disebut induksi, sedangkan enzim yang disintesis disebut inducible enzyme.

Fisiologi induksi lac operon telah dipelajari pada aras molekular. Ekspresi gen lacI bersifat konstitutif yang berarti diekspresikan pada kecepatan yang konstan. Gen tersebut menghasilkan LacI repressor yang terdiri dari 4 subunit identik dengan berat 38.000. Afinitas molekul lac repressor sangat tinggi (Kd sekitar 10–13 mol/l) terhadap lokus operator. Lokus operator terletak antara promoter dan situs inisiasi transkripsi gen lacZ. Pelekatan LacI repressor pada operator menyebabkan transkripsi ketiga gen struktural (lacZ, lacY, and lacA) terhambat. Oleh lantaran itu, molekul LacI repressor disebut regulator negatif. Molekul LacI repressor secara alami menjaga transkripsi gen lac operon gene tetap rendah tanpa adanya inducer.

Sedikit molekul β-galaktosidase di dalam sel sebelum induksi akan mengubah laktosa menjadi allolaktosa yang kemudian memicu transkripsi gen lac operon, sehingga allolaktosa disebut inducer. Suatu analog laktosa (isopropylthiogalactoside/IPTG) yang bukan merupakan substrat β-galaktosidase dan bisa menginduksi lac operon disebut gratuitous inducer. Penambahan laktosa atau IPTG kedalam media basil yang mengandung sedikit sumber karbon menyebabkan induksi enzim lac operon. Sejumlah kecil laktosa atau IPTG sanggup masuk kedalam sel tanpa permease. Molekul LacI repressor baik yang menempel pada lokus operator maupun yang terdapat bebas dalam sitosol mempunyai afinitas tinggi terhadap inducer. Pengikatan inducer ke molekul repressor yang menempel pada operator menyebabkan perubahan konformasi molekul repressor sehingga molekul repressor terdisosiasi dari DNA lantaran afinitasnya terhadap operator menurun 103 kali  (Kd sekitar 10–9 mol/l). Apabila RNA polimerase telah menempel pada promoter, transkripsi segera dimulai (Gambar 3).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 3. Mekanisme induksi pada pengaturan negatif lac operon.
c. Pengaturan Positif lac operon

Ketika E. coli dikulturkan pada media yang mengandung laktosa dan glukosa sebagai sumber karbon, basil tersebut pertama akan memetabolisme glukosa kemudian berhenti tumbuh sebentar hingga lac operon terinduksi untuk menyediakan kemampuan memetabolisme laktosa. Meskipun laktosa tersedia semenjak awal pertumbuhan bakteri, sel tersebut tidak menginduksi enzim yang diharapkan untuk katabolisme laktosa hingga glukosa habis. Fenomena ini memperlihatkan bahwa terjadi represi lac operon oleh beberapa katabolit glukosa, sehingga prosedur ini disebut catabolite repression (Gambar 4).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 4. Mekanisme catabolite repression pada E. coli.
Saat ini telah diketahui bahwa catabolite repression diperantarai catabolite activator protein (CAP) yang berikatan dengan Cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP). Protein tersebut juga disebut cAMP receptor protein (CRP). Agar RNA polimerase sanggup menempel pada promoter secara efisien, diharapkan CAP dimana cAMP terikat. cAMP hanya terakumulasi ketika basil kekurangan sumber karbon. Glukosa dalam konsentrasi yang cukup untuk pertumbuhan menghambat adenilat siklase, yakni enzim yang mengkatalisis perubahan ATP menjadi cAMP. Dengan demikian, adanya glukosa menyebabkan jumlah kompleks CAP-cAMP rendah sehingga RNA polimerase tidak sanggup memulai transkripsi lac operon. Pelekatan kompleks CAP-cAMP pada kawasan upstream pomoter menyebabkan transkripsi berlangsung. Pada saat, tidak terdapat glukosa dan laktosa ada, kompleks CAP-cAMP menstimulasi transkripsi gen lac operon semoga sanggup memakai laktosa sebagai sumber karbon. Ketidaktersediaan laktosa menyebabkan lac operon tetap tidak aktif. Kombinasi tersebut menyebabkan gen lac operon hanya akan ditranskripsi kuat pada saat glukosa tidak ada dan laktosa ada. Regulator CAP-cAMP ialah regulator faktual lantaran keberadaannya diharapkan untuk verbal genetik (Gambar 5).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 5. Mekanisme represi dan induksi pada lac operon.
2.1.2. Enzyme Repression

Enzyme repression ialah penghentian sintesis enzim sebagai respon terhadap keberadaan suatu molekul (repressor). Enzim yang disintesis dengan prosedur ini disebut repressible enzyme. Enzim yang bersifat repressible umumnya terlibat dalam jalur biosintesis dan hanya disintesis ketika molekul hasil sintesis jalur tersebut tidak tersedia. Enzim yang bersifat repressible merupakan produk gen yang bersifat repressible. Gen tersebut mempunyai kecepatan basal transkripsi yang tinggi, sehingga akumulasi produk final (repressor) akan menghentikan sintesis enzim (Gambar 6).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 6. Perubahan konsentrasi enzim repressible pada dikala penambahan repressor (arginin)
a. trp operon

trp operon terdiri dari 5 gen struktural yang mengkode enzim untuk biosintesis triptofan. Bagian operator tumpang tindih dengan pecahan promoter. Gen dalam operon ditranskripsi ketika sel kekurangan triptofan. Gen trp repressor mengkode Trp repressor yang secara alami bersifat inaktif, sehingga tidak sanggup menempel pada trp operator. Ketika triptofan tidak tersedia, Trp repressor tetap bersifat inaktif, sehingga trp operon ditranskripsikan untuk menghasilkan enzim yang dipakai untuk biosintesis triptofan.

Ketika triptofan tersedia, enzim untuk biositesis triptofan tidak diharapkan sehingga verbal gen tersebut harus dihentikan. Triptofan akan menempel pada Trp repressor, sehingga menyebabkan Trp repressor berada dalam konformasi aktifnya. Trp repressor yang aktif bisa berikatan dengan operator sehingga menghentikan transkirpsi trp operon. Dalam hal ini, triptofan disebut co-repressor dan prosedur pengaturan ini disebut pengaturan negatif lantaran terikatnya repressor mencegah transkripsi (Gambar 7).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 7. Mekanisme represi pada pengaturan trp operon.
2.2. Pengaturan Degradasi Enzim

Enzim didegradasi melalui jalur yang sama dengan jalur degradasi protein. Pada sel hewan, sebagian besar enzim didegradasi melalui jalur ubiquitin proteasome. Proteasome terdiri dari 30 subunit polipeptida yang terangkai menjadi bentuk silinder kosong. Sisi aktif proteolitik proteasome menghadap sisi dalam silinder sehingga mencegah degradasi protein selular yang lain. Protein yang akan didegradasi ditandai melalui proses ubiquitination, yakni pelekatan satu atau lebih molekul ubiquitin secara kovalen. Ubiquitination dikatalis oleh keluarga enzim E3 ligase. Jalur ubiquitin proteasome bertanggungjawab atas pengaturan degradasi selektif protein selular yang tidak sempurna/rusak. Selektivitas sistem ubiquitin proteasome disebabkan baik lantaran keragaman enzim E3 ligase maupun kemampuannya untuk membedakan  konformasi protein target.


Sintesis enzim merupakan proses yang terdiri dari banyak tahap dan umumnya memerlukan waktu usang (jam) untuk meningkatkan konsentrasi enzim hingga cukup. Sebaliknya, perubahan kegiatan katalitik enzim sanggup diselesaikan dalam waktu cepat (detik). Perubahan konsentrasi enzim dipakai untuk pembiasaan jangka panjang, sedangkan perubahan kegiatan katalitik enzim sangat sesuai untuk merespon fluktuasi metabolit yang bersifat cepat dan sementara.

3.1. Pengaturan Langsung

Pengaturan eksklusif kegiatan katalitik enzim sanggup terjadi dengan mengubah konsentrasi substrat atau reaktan. Apabila konsentrasi subtrat bertambah, maka laju reaksi meningkat hingga tercapai nilai pembatas (kejenuhan), sedangkan apabila produk menumpuk, laju reaksi menurun. Selain itu, konsentrasi koenzim dan kofaktor juga sanggup menawarkan dampak terhadap pengaturan kegiatan enzim di dalam sel. 

Tipe pengaturan ini sanggup juga disebabkan oleh adanya penggolongan enzim di dalam sel, yakni enzim sanggup terikat pada aneka macam struktur internal, terutama membran dan makromolekul, sehingga enzim dan substrat tidak berada dalam kontak langsung. Pada beberapa mikrobia, enzim proteolitik (perombak protein) yang sangat spesifik menguraikan enzim lain yang tidak lagi dibutuhkan untuk reaksi-reaksi metabolik.

3.2. Modifikasi Kovalen Reversible

Pengaturan kegiatan enzim sanggup dilakukan dengan memodifikasi molekul enzim melalui pengikatan suatu gugus secara kovalen. Pengaturan ini tidak mengubah laju verbal gen, tetapi menghipnotis enzim pertama dari suatu rangkaian reaksi biosintesis. Pengikatan gugus tersebut merupakan suatu proses yang reversible dan dikatalis oleh enzim khusus. Gugus yang biasa dipakai untuk memodifikasi molekul enzim antara lain fosforil, adenilil, uridilil, metil, dan adenosine diphosphate ribosyl. Pada sel mamalia, gugus yang biasa dipakai ialah gugus fosforil. Fosforilasi (penambahan gugus fosforil) merupakan proses reversible yang dikatalis oleh enzim protein kinase, sedangkan hidrolisis gugus fosforil dikatalis oleh enzim protein fosfatase. Protein kinase sanggup dikelompokkan menjadi 2 kelas, yaitu protein kinase kelas I yang memindahkan fosfat terutama ke gugus hidroksil residu serin atau treoinin enzim target, sedangkan kelas II memindahkan fosfat ke residu tirosin. Baik kegiatan protein kinase maupun protein fosfatase mempunyai pengaturan tersendiri untuk menghindari proses yang secara termodinamik tidak produktif (Gambar 8). 
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 8. Modifikasi kovalen melalui penambahan dan pelepasan gugus fosforil.
Fosforilasi dan defosforilasi merupakan proses yang selektif, tidak semua enzim dan gugus hidroksil pada permukaan enzim menjadi sasaran fosforilasi. Perubahan frekuensi fosforilasi (penambahan gugus fosforil) dan defosforilasi (pelepasan gugus fosforil) merupakan prosedur pengaturan kegiatan enzim. Fosforilasi dan defosforilasi menyebabkan perubahan fungsional suatu enzim selama kegiatan enzim tersebut diperlukan. Ketika kegiatan enzim tidak diharapkan lagi, enzim tersebut sanggup diubah kembali menjadi bentuk awalnya sehingga siap untuk merespon rangsangan berikutnya. Oleh lantaran itu, fosforilasi dan defosforilasi sanggup dipakai untuk pengaturan jalur metabolisme secara cepat dan reversible sesuai dengan kebutuhan sel. 

Kemampuan fosforilasi dan defosforilasi untuk mengubah struktur dan fungsi enzim disebabkan lantaran sifat gugus fosforil yang mempunyai muatan besar dan cenderung untuk membentuk jembatan garam diantara residu-residu arginil. Fosforilasi umumnya terjadi pada asam amino yang terletak jauh dari sisi katalitik enzim, tetapi sangat memilih struktur 3 dimensi protein, sehingga fosforilasi sanggup mempunyai dampak yang dramatis terhadap konformasi enzim dan efisiensi katalitiknya. Selain itu, fosforilasi juga sanggup mengubah letak enzim di dalam sel, kerentanan terhadap degradasi proteolitik, atau responsifitasnya terhadap ligand allosterik. Dengan demikian fosforilasi bisa menghipnotis efisiensi katalitik maupun mengubah enzim menjadi inaktif.

Fosforilasi dan defosforilasi merupakan pengaturan kegiatan enzim sebagai respon terhadap sinyal fisiologis spesifik. Pengaturan tersebut melibatkan beberapa protein dan ATP dibawah kendali syaraf dan hormonal secara langsung. Baik protein kinase maupun protein fosfatase sanggup berubah dari bentuk inaktif menjadi aktif akhir pengikatan second messenger atau modifikasi kovalen fosforilasi dan defosforilasi.Salah satu pola penting pengaturan fosforilasi ialah pada glikogen fosforilase yang mengkatalis reaksi pemecahan glikogen menjadi glukosa dalam otot dan hati. Glikogen fosforilase terdapat dalam dua bentuk, bentuk yang lebih aktif ialah bentuk yang terfosforilasi pada gugus hidroksil residu serin (Gambar 9). 
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 9. Pengaturan kegiatan glikogen fosforilase dengan modifikasi kovalen.
Fosforilasi dan defosforilasi dipakai sebagai prosedur pengaturan kegiatan enzim lantaran mempunyai beberapa kelebihan, yaitu 1. Bersifat reversible sehingga enzim sanggup dengan cepat diubah menjadi bentuk aktif atau inaktif. 2. Tidak memerlukan banyak energi lantaran tidak melibatkan sintesis enzim atau protein inhibitor. 3. Cepat sehingga waktunya sanggup diadaptasi dengan kebutuhan fisiologis sel. 4. Efeknya sanggup diperbesar secara cepat melalui kinase cascade.

3.3. Feedback Inhibition

Feedback inhibition merupakan suatu prosedur penghambatan kegiatan enzim pertama dalam jalur biosintesis oleh produk final jalur tersebut. Reaksi pertama dalam jalur biosintesis menghasilkan produk intermediet yang dipakai oleh enzim berikutnya sebagai substrat. Dengan demikian, penghambatan kegiatan enzim pada reaksi pertama sanggup menghindarkan sel dari penggunaan persediaan energi dan pembentukan produk intermediet yang tidak diperlukan.

Pada pola berikut (Gambar 10), biosintesis Z dari prekursor A dikatalis oleh serangkaian enzim (E1 – En). Konsentrasi Z yang tinggi menghambat perubahan A menjadi B. Penghambatan terjadi lantaran Z bisa terikat pada enzim 1 (E1) pada sisi selain sisi katalitik. Pengikatan Z pada E1 menyebabkan perubahan konformasi yang menurunkan efisiensi katalitiknya. Dalam pola ini, Z ialah modulator negatif/inhibitor E1.
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 10. Skema prosedur feedback inhibition pada suatu jalur biosintesis.
Pada jalur biosintesis yang bercabang, reaksi awal menyebabkan sintesis beberapa produk. Pada pola berikut(Gambar 10), baik Y maupun Z disintesis dari prekursor yang sama (A) melalui jalur yang berbeda. Akumulasi Y menyebabkan penghambatan pada enzim 3* (E3*) yang mengkatalis perubahan C menjadi D. Di sisi lain, akumulasi Z menyebabkan penghambatan pada enzim 3 (E3) yang mengkatalis perubahan C menjadi E. Penghambatan tersebut menyebabkan C terakumulasi lantaran tidak dipakai untuk reaksi berikutnya. Akumulasi C selanjutnya menghambat enzim 1 (E1) yang mengkatalis reaksi pertama dalam jalur tersebut. Mekanisme penghambatan ini tetap memungkinkan sintesis suatu produk final dari suatu cabang meskipun sintesis produk final yang lain dari cabang yang berbeda dihambat. Pengaturan ini disebut sequential feedback inhibition.

Feedback inhibitor umumnya berupa molekul kecil yang merupakan building block makromolekul dan umumnya menghambat reaksi pertama suatu jalur biosintesis. Mekanisme multiple feedback loop menyediakan pengaturan lain yang lebih kompleks. Pada pola berikut (Gambar 6), produk B yang terakumulasi menghambat perubahan S1 menjadi S2, sehingga menghambat sintesis ketiga produk lainnya (A, C, D). Namun, umumnya setiap produk final hanya menghambat kegiatan katalitik secara parsial. Pengaruh penghambatan kegiatan enzim oleh 2 atau lebih produk final yang lebih besar dari dampak individualnya disebut cooperative feedback inhibition (Garis putus-putus, Gambar 11).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 11. Skema prosedur multiple feedback inhibition pada suatu jalur biosintesis Garis tegas: feedback inhibition sederhana, Garis putus-putus: cooperative feedback inhibition.
Karena struktur molekul produk final suatu jalur metabolisme berbeda dengan struktur molekul prekursor yang digunakan, produk final akan mengikat enzim pada sisi selain sisi aktif. Pengikatan tersebut diperantarai ikatan nonkovalen sehingga bersifat reversible, sehingga apabila konsentrasi produk final berkurang kecepatan reaksi akan meningkat. Enzim yang mempunyai sifat tersebut disebut enzim allosterik. Enzim allosterik bisa merespon secara cepat dan reversible terhadap fluktuasi konsentrasi produk final suatu jalur biosintesis di dalam sel.

Salam satu pola prosedur feedback inhibition enzim allosterik ialah perubahan L-threonine menjadi L-isoleucine dalam 5 langkah reaksi. Pada sistem tersebut, enzim pertama (threonine dehydratase) dihambat oleh isoleusin yang merupakan produk terakhir rangkaian reaksi. Isoleusin bersifat spesifik, tidak ada senyawa intermediet dalam rangkaian reaksi tersebut yang menghambat threonine dehydratase, demikian juga tidak ada enzim lain dalam rangkaian reaksi tersebut yang dihambat oleh isoleusin (Gambar 12). 
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 12. Skema prosedur feedback inhibition enzim allosterik dalam perubahan L-threonine menjadi L-isoleucine.
3.4. Enzim Allosterik

Allosteric berasal dari kata Yunani, 'allo' berarti lain dan 'steric' berarti tempat atau sisi. Sehingga allosterik berarti sisi lain, dan enzim allosterik ialah enzim yang mempunyai 2 sisi pengikatan, satu sisi untuk substrat dan sisi yang lain untuk molekul efektor/modulator. Aktivitas sisi aktif enzim allosterik sanggup dimodulasi oleh efektor/modulator pada sisi selain sisi aktif. Modulator yang meningkatkan kecepatan reaksi dan afinitasnya terhadap substrat disebut modulator positif/activator, sedangkan yang menurunkan kecepatan reaksi dan afinitasnya terhadap substrat disebut modulator negatif/inhibitor. Pada umumnya pengikatan modulator allosterik menginduksi perubahan konformasi sisi aktif enzim. Perubahan tersebut sanggup kuat pada efisiensi katalitik suatu enzim, afinitas terhadap substrat atau keduanya. Dengan demikian enzim allosterik umumnya berupa enzim multisubunit dengan satu atau lebih sisi aktif setiap subunit.

Seringkali modulator enzim allosterik ialah substratnya sendiri, sehingga substrat dan modulatornya identik. Enzim allosterik yang demikian disebut allosterik homotropic. Namun, apabila modulatornya ialah molekul lain selain substrat, maka disebut allosterik heterotropic. Enzim allosterik umumnya mempunyai lebih dari 1 sisi pengikat modulator. Sisi pengikat tersebut spesifik terhadap modulatornya. Enzim allosterik dengan beberapa modulator umumnya mempunyai sisi pengikatan spesifik yang berbeda untuk setiap modulator. Pada enzim allosterik homotropic, sisi aktif dan sisi pengaturannya sama (Gambar 13).
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 13. Interaksi enzim allosterik dengan aktivator, inhibitor dan substratnya.
Kurva kinetika kecepatan reaksi yang dikatalis oleh enzim allosterik memperlihatkan terjadi peningkatan kecepatan secara tajam pada kisaran sempit konsentrasi substrat (Gambar 14). Hal ini memperlihatkan bahwa enzim allosterik sensitif terhadap perubahan kecil konsentrasi substrat dalam rentang fisiologis. Kinetika sigmoid juga mencerminkan interaksi kooperatif diantara subunit protein. Dengan kata lain, perubahan struktur satu subunit akhir pengikatan substrat menyebabkan perubahan struktur subunit yang berdekatan sehingga afinitas terhadap substratnya meningkat. Pengaruh tersebut diperantarai interaksi nonkovalen pada permukaan antar subunit.
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 14. Kurva kinetika kecepatan reaksi yang dikatalis oleh enzim allosterik.  + : terdapat aktivator, - : terdapat inhibitor
IV. Pengaturan Dengan Proteolitik

Beberapa protein disintesis dan disekresikan dalam bentuk prekursor tidak aktif yang disebut proprotein. Proprotein enzim disebut proenzim atau zymogen. Proteolisis selektif terhadap suatu proenzim atau zymogen melalui pemotongan sedikit demi sedikit akan membentuk enzim yang aktif. Pemotongan spesifik menyebabkan perubahan konformasi yang menyingkap sisi aktif enzim. Mekanisme pengaturan ini sanggup dilakukan di luar sel lantaran tidak memerlukan ATP untuk mngubah zymogen menjadi enzim aktif. Karena prosedur ini bersifat irreversible, maka diharapkan prosedur lain untuk menginaktifkan enzim. Protease diinaktifkan dengan protein inhibitor yang mengikat secara kuat pada sisi aktif enzim.

Enzim yang memerlukan prosedur tersebut antara lain pepsin (proenzim = pepsinogen), tripsin (proenzim = tripsinogen), khimotripsin (proenzim = khimotripsinogen) dan beberapa enzim yang terlibat dalam proses pembekuan darah (Gambar 15). Sintesis dan sekresi enzim protease dalam bentuk inaktif melindungi jaringan asal (misalnya pankreas) dari autodigestion menyerupai pada pancreatitis. Selain mensintesis dan mensekresikan zymogen, pankreas juga mensintesis trypsin-inhibitor protein yang terikat kuat pada sisi aktif tripsin sehingga mencegah autodigestion. Selain itu, enzim yang diharapkan dalam sementara tetapi cepat juga disintesis dan disekresikan dalam bentuk inatif. Hal ini dikarenakan proses sintesis enzim gres dan sekresinya memerlukan waktu usang sehingga tidak cukup cepat untuk mencegah konsisi patofisiologis menyerupai perdarahan. 
 Sebuah sel hidup mempunyai ribuan enzim yang berbeda Pintar Pelajaran Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik
Gambar 15. Aktivasi zimogen dengan pemotongan proteolitik. a. Aktivasi khimotripsinogen menjadi α- khimotripsinogen, b. Aktivasi tripsinogen menjadi tripsin.
V. Pengendalian Yang Berkaitan Dengan Energi
Ligan pengatur yang terlibat dalam reaksi-reaksi yang berkaitan dengan energi ialah adenilat, menyerupai adenosin trifosfat (ATP) atau nukleotida purin / pirimidin. Beberapa enzim sensitif terhadap konsentrasi mutlak ATP, adenosin difosfat (ADP), atau adenosin monofosfat (AMP); enzim yang lain sensitif terhadap perbandingan antar dua dari ketiga nukleotida tersebut. Pada umumnya enzim yang berperan dalam pembentukan energi dihambat oleh muatan energi yang tinggi (misalnya, konsentrasi ATP yang tinggi), sedangkan beberapa enzim biosintetik yang penting justru dirangsang. Pengaturan semacam itu sangat penting untuk menyeimbangkan produksi dan penggunaan energi.

Daftar Pustaka

Berg, J.M., J.L. Tymoczko and L. Stryer. 2000. Biochemistry. 5th edition. W.H. Freeman and Company. www.whfreeman.com/biochem5.

Hames, D. and N. Hooper. 2005. Instant Notes in Biochemistry. 3rd edition. Taylor & Francis Group. Abingdon, UK.

Murray, R.K., D.K. Granner and V.W. Rodwell. 2006. Harper's Illustrated Biochemistry. 27th Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. USA.

Nelson, D.L. and M.M. Cox. 2004. Lehninger Principles of Biochemistry. 4th Editoin. W.H. Freeman. www.whfreeman.com/lehninger4e.

Pelczar, M.J. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI-Press. Jakarta.

Anda kini sudah mengetahui Enzim : Aktivitas, Sintesis, Induksi, Represi, Operon, Degradasi, Pengaturan, Katalitik. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Tuesday, August 6, 2019

Pintar Pelajaran Inilah Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Enzim

Grafik kerja enzim dan penjelasannya

Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim - Selain adanya zat penghambat (inhibitor), kerja enzim sanggup dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: adanya zat pengaktif (aktivator), suhu, hasil akhir, pH, konsentrasi enzim atau substrat, dan air. Secara rinci sanggup dijelaskan sebagai berikut :

a. Zat-zat pengaktif (aktivator)

Zat-zat kimia tertentu sanggup memacu atau mengaktifkan kegiatan enzim. Contoh: garam-garam dari logam alkali dan logam alkali tanah dengan konsentrasi encer, ion kobalt (Co), mangan (Mn), nikel (Ni), magnesium (Mg), dan klor (Cl).

b. Suhu

Setiap enzim sanggup bekerja dengan efektif pada suhu tertentu dan aktivitasnya akan berkurang kalau berada pada kondisi di bawah atau di atas titik tersebut. Kondisi yang mengakibatkan kerja enzim menjadi efektif ini disebut kondisi optimal. Sebagian besar enzim pada insan memiliki suhu optimal yang mendekati suhu badan (35 oC - 40 oC). Pada suhu tinggi (>50 oC), enzim sanggup rusak dan pada suhu rendah (0 oC), enzim menjadi tidak aktif. Perhatikan Gambar 2.7. Suhu yang tidak sesuai tersebut akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk sisi aktif enzim. Sifat en zim yang tidak tahan panas atau sanggup berubah alasannya yaitu imbas suhu ini disebut termolabil. 

Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim Pintar Pelajaran Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.1. Grafik pengaruh suhu terhadap acara enzim.
c. pH 

Selain suhu, faktor lingkungan yang menghipnotis kerja enzim yaitu derajat keasaman (pH). Sebagaimana faktor suhu, enzim juga memiliki pH tertentu semoga sanggup bekerja secara efektif. Enzim sanggup bekerja optimal pada pH netral (pH = 7), pH basa (>7) atau pH asam (<7) tergantung pada jenis enzim masing-masing. Perhatikan Gambar 2.8. Enzim pencerna protein misalnya, memiliki pH paling optimal 1-2, sedangkan enzim pencernaan yang lain memiliki pH optimal 8. Pada pH tertentu, enzim sanggup mengubah substrat menjadi hasil akhir. Kemudian, apabila pH tersebut diubah, enzim sanggup mengubah kembali hasil simpulan menjadi substrat.

Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim Pintar Pelajaran Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.2. Grafik pengaruh pH terhadap acara satu jenis enzim
d. Hasil akhir

Kalian telah mengetahui bahwa dalam suatu reaksi kimia diharapkan adanya reaktan yang akan diubah menjadi produk atau hasil akhir. Hasil simpulan merupakan senyawa gres sebagai hasil pembentukan maupun penguraian reaktan. Apabila hasil simpulan ini banyak, enzim akan sulit bergabung dengan substrat sehingga reaksi kimianya berlangsung lambat.

e. Konsentrasi enzim

Konsentrasi enzim yang tinggi akan menghipnotis kecepatan reaksi secara linear (kecepatan bertambah secara konstan). Dapat dikatakan bahwa kekerabatan antara konsentrasi enzim dengan kecepatan reaksi enzimatis berbanding lurus. Kecepatan reaksi suatu enzim satu dengan yang lain berbeda-beda meskipun memiliki konsentrasi enzim yang sama. Konsentrasi enzim yang sangat tinggi dalam suatu sistem yang kompleks akan kuat terhadap kecepatan reaksi.

Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim Pintar Pelajaran Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.3. Hubungan laju reaksi dengan konsentrasi beberapa enzim.
Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim Pintar Pelajaran Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.4. Hubungan V dengan [E] sangat tinggi pada  sistem yang kompleks.
f. Konsentrasi substrat

Pada konsentrasi substrat yang rendah, kenaikan substrat akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis hampir secara linear. Jika konsentrasi substrat tinggi, maka peningkatan kecepatan reaksi enzimatis akan semakin menurun sejalan dengan peningkatan jumlah substratnya. Kecepatan maksimum (Vmax) reaksi enzimatis ditunjukkan dengan garis mendatar yang menggambarkan peningkatan kecepatan reaksi yang rendah seiring penambahan konsentrasi substrat.

Grafik faktor yang menghipnotis kerja enzim Pintar Pelajaran Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.5. Hubungan konsentrasi substrat kecepatan reaksi enzimatik
g. Air

Menurut penelitian, di dalam biji terdapat majemuk enzim. Masih ingatkah kalian dengan perkecambahan biji? Ya, pada proses perkecambahan, imbibisi air pada biji yang sehat dan telah bau tanah akan mengaktifkan enzim- enzim dalam biji sehingga biji berkecambah.

Anda kini sudah mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Penghambat Kerja Inhibitor Enzim

Penghambat Kerja Inhibitor Enzim Kerja suatu enzim selama metabolisme tidak selalu berjalan lancar tanpa ada yang menghalanginya. Suatu zat tertentu yang sanggup menghalangi kerja enzim ini disebut inhibitor. Zat-zat penghambat (inhibitor) berupa zat-zat kimia yang sanggup menghambat kerja enzim. Contoh: garam-garam logam berat menyerupai air raksa, iodium-asetat, fluorida, sianida, azida, dan karbon monoksida.

a. Inhibitor kompetitif

Zat penghambat ini mempunyai struktur yang menyerupai dengan substrat. Oleh alasannya ialah itu, zat penghambat dan substrat bersaing untuk sanggup bergabung dengan enzim membentuk kompleks enzim- substrat. Selain menghambat ikatan antara enzim dengan substrat, inhibitor sanggup menghambat penguraian dan pembentukan senyawa baru. Inhibitor berikatan lemah (ikatan ion) dengan enzim pada sisi aktifnya sehingga inhibitor ini bersifat reversibel. Dengan menambah kepekatan substrat, inhibitor tidak bisa lagi bergabung dengan enzim. Contoh inhibitor kompetitif yaitu asam malonat, yang menghambat ikatan antara enzim dengan asam suksinat. Perhatikan Gambar 1.1 (c).

 Kerja suatu enzim selama metabolisme tidak selalu berjalan lancar tanpa ada yang menghala Pintar Pelajaran Penghambat Kerja Inhibitor Enzim
Gambar 1.1. (a) Bentuk substrat dan enzim normal, (b) Inhibitor non-kompetitif, dan (c) Inhibitor kompetitif.
b. Inhibitor non-kompetitif 

Pada umumnya, inhibitor ini tidak mempunyai struktur yang menyerupai dengan substrat dan bergabung dengan enzim pada bab selain sisi aktif enzim. Jika inhibitor ini bergabung dengan enzim maka akan mengubah bentuk sisi aktif enzim. Dengan demikian, bentuk sisi aktif tidak sesuai lagi dengan bentuk substrat (ingat model kerja enzim teori gembok– kunci). Contoh inhibitor non-kompetitif, antara lain: pestisida (DDT) dan paration yang menghambat kerja enzim dalam sistem syaraf, serta antibiotik dan penisilin pada sel bakteri. Perhatikan Gambar 1.1 (b). Berbeda dengan dua macam inhibitor yang lain, inhibitor irreversibel menempel pada sisi aktif enzim dengan sangat besar lengan berkuasa (ikatan kovalen) sehingga tidak sanggup lepas dari enzim (irreversibel). Akibatnya, enzim menjadi tidak aktif.

Anda kini sudah mengetahui Penghambat Enzim atau Inhibitor Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Inilah Sifat-Sifat Enzim

Sifat-sifat Enzim - Setiap struktur (senyawa maupun molekul tertentu) yang berbeda, selalu mempunyai sifat-sifat khas masing-masing. Sebelumnya, kalian telah mengetahui bahwa enzim sebagai biokatalisator. Selama menjalankan fungsinya tersebut, enzim mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 

a. Enzim sebagai biokatalisator suatu reaksi 

Biokatalisator merupakan salah satu sifat spesifik dari enzim. Artinya, enzim sanggup mempercepat suatu reaksi namun tidak ikut bereaksi. Contoh: ketika amilase mempercepat reaksi perombakan amilum, amilase tidak bereaksi dengan substrat menjadi bentuk lain (bentuknya tetap), sehingga amilase sanggup berfungsi kembali.

b. Enzim bekerja secara khusus 

Reaksi kimia yang ada di dalam sel banyak sekali, bukan? Kemudian, bagaimana dengan enzim? Enzim bersifat sangat spesifik, artinya enzim hanya bekerja pada substrat tertentu saja, tidak sanggup untuk sembarang substrat. Enzim tertentu hanya mengkatalis reaksi kimia tertentu pula. Contoh: enzim ptialin mengkatalis reaksi pengubahan zat tepung menjadi maltosa. Dengan demikian, enzim ptialin hanya bekerja pada substrat zat tepung (amilum). Enzim katalase bekerja pada substrat H2O2 (hidrogen peroksida). H2O2 diuraikan oleh katalase menjadi H2 dan O2 (produk). 

c. Enzim sanggup bekerja secara bolak balik (reversibel) 

Sebagian besar reaksi kimia dalam badan organisme (biokimiawi) bersifat reversibel. Demikian juga kerja enzim sebagai biokatalisator. Artinya, enzim sanggup mengkatalisis reaksi maju maupun reaksi kebalikannya. Dengan demikian, enzim tidak mensugesti arah suatu reaksi. Enzim sanggup membentuk senyawa gres maupun menguraikan suatu senyawa gres tersebut menjadi senyawa lain. Contoh: enzim lipase mengubah gliserol dan asam lemak menjadi lemak. Enzim lipase juga sanggup mengubah lemak menjadi gliserol dan asam lemak. 

d. Wujud enzim yaitu koloid 

Secara keseluruhan, enzim merupakan protein. Oleh alasannya itu, enzim sanggup membentuk koloid. 

e. Enzim rusak jikalau kena panas 

Komponen protein penyusun enzim akan sangat memilih sifat enzim. Salah satu sifat dari protein yaitu tidak tahan terhadap panas (termolabil). Apoenzim bersifat termolabil. Oleh alasannya itu, enzim akan rusak jikalau terkena panas atau suhu yang tinggi. Kerusakan enzim akhir suhu tersebut dinamakan denaturasi. Pada suhu di atas 50 oC, enzim akan mengalami denaturasi. Enzim yang telah rusak menjadikan acara atau fungsi enzim hilang. Denaturasi bersifat irreversibel. Walaupun suhunya diturunkan atau dinormalkan, enzim yang rusak tidak akan sanggup berfungsi kembali. 

f. Enzim sanggup diekstraksi dari sel tanpa kehilangan acara katalitiknya 

Struktur dan prosedur kerja enzim yang terdapat di dalam sel sanggup dipelajari secara mendalam melalui suatu teknik khusus. Enzim yang akan dipelajari tersebut sanggup diekstraksi dari sel yang memproduksinya tanpa kehilangan acara katalitiknya.

Anda kini sudah mengetahui Sifat Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Inilah Fungsi Dan Cara Kerja Enzim (Lengkap)

Fungsi dan Cara Kerja Enzim - Di dalam reaksi kimia, antara suatu materi (zat, unsur, molekul atau senyawa) yang satu sanggup mengadakan reaksi dengan materi (zat, unsur, molekul atau senyawa) yang lain sehingga dihasilkan suatu senyawa yang baru. Hal tersebut terjadi di dalam proses metabolisme, sehingga dihasilkan materi yang diharapkan untuk tubuh. Nah, dalam proses metabolisme tersebut, tentunya diharapkan waktu tertentu untuk sanggup mengubah materi baku menjadi materi yang gres (produk). 

Selama terjadi reaksi kimia tersebut, diharapkan adanya suatu materi yang berperan dalam mengatur waktu untuk terjadinya reaksi ialah enzim. Enzim tersebut diharapkan untuk mempercepat terjadinya reaksi kimia (katalis), sehingga enzim disebut sebagai katalisator. Enzim yang berperan untuk mempercepat reaksi kimia dalam metabolisme suatu sistem hayati atau organisme disebut sebagai biokatalisator. Molekulmolekul yang dikatalis oleh enzim dinamakan substrat. 

Reaktan memerlukan energi (panas) untuk tetapkan ikatanikatan antar atomnya, sehingga atom-atom tersebut sanggup membentuk ikatan gres (produk). Energi bebas yang diharapkan untuk tetapkan ikatan ini disebut energi aktivasi (EA), sedangkan perbedaan antara energi bebas produk dengan energi bebas reaktan disimbolkan dengan ΔG. 

Reaksi kimia yang dikatalis oleh enzim, memperlihatkan bahwa reaksi tersebut membutuhkan energi untuk reaksi lebih sedikit dibanding reaksi yang tidak dikatalis oleh enzim. Oleh alasannya itu, enzim berperan penting dalam menurunkan energi aktivasi untuk memulai suatu reaksi, sehingga reaksi sanggup berjalan sangat cepat, efisien, dan tidak menjadikan suhu yang tinggi. Perhatikan Gambar 1.1. 

 yang satu sanggup mengadakan reaksi dengan materi  Pintar Pelajaran Inilah Fungsi dan Cara Kerja Enzim (Lengkap)
Gambar 1.1. Penurunan energi aktivasi oleh enzim.
Setelah mengetahui fungsi enzim dalam metabolisme, tahukah kalian di mana enzim dihasilkan atau ditemukan? 

Enzim dihasilkan di dalam sel dan sanggup bekerja di dalam sel maupun di luar sel. Enzim yang bekerja di dalam sel disebut enzim intraseluler. Misalnya, enzim yang berfungsi memperlihatkan racun sel H2O2 (hidrogen peroksida) menjadi H2 dan O2 yang bersifat netral. Enzim pernafasan selalu terdapat dalam sel. Sementara itu, enzim yang bekerja di luar sel disebut enzim ekstraseluler, ialah enzim- enzim pencernaan. Sebagian besar enzim terdapat pada protoplasma sel. Namun, pada sel tertentu enzim ditemukan di dalam vakuola dan dinding sel. Selanjutnya, bagaimanakah enzim bekerja? Ada dua teori yang menjelaskan kerja enzim tersebut, yaitu:


2. Teori Ketepatan Induksi (Induced Fit Theory)

Anda kini sudah mengetahui Fungsi Enzim dan Cara Kerja Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Pembentukan Enzim

Proses Pembentukan Enzim - Menurut hasil penelitian Beadle dan Tatum, pembentukan enzim menurut pada teori “one gene one enzyme”. Artinya, pembentukan satu enzim dikendalikan oleh satu gen. Namun, kepercayaan ini tidak bertahan lama. Pada awal tahun 1950-an, telah banyak kemajuan di bidang genetika biokimia sehingga teori tersebut dianggap sangat mustahil.

Dimulai pada tahun 1957, ketika Vernom Ingram dan rekan penelitinya mengatakan adanya variasi genetik pada protein (seperti pada perkara hemoglogin berbentuk bulan sabit/sickle cell hemoglobin). Perubahan hemoglobin normal ke bentuk bulan sabit ini hanya terjadi akhir adanya perubahan pada salah satu rantai polipeptida pada protein kompleks. Hal ini memunculkan teori gres yaitu" gen one polypeptide".

Namun, pada perkembangan selanjutnya, teori ini juga mendapat tantangan, dimana ternyata tidak semua gen selalu mentranskripsi mRNA untuk membentuk polipeptida. Kita telah mengetahui bahwa beberapa gen juga mentranskripsi tRNA dan rRNA, dimana keduanya tidak ditranslasikan untuk memproduksi polipeptida.

Berdasarkan hal tersebut maka teori "one gene one polipeptide" juga tidak tepat.

Perkembangan selanjutnya dari teori ini yakni munculnya pandangan gres dari Benjamin Lewin pada bukunya yang berjudul Gene VII yang diterbitkan pada tahun 2000. Ia membuatkan hipotesis gres yaitu "one polypeptide one gene". Sampai dikala teori ini belum bertentangan dengan kenyataan yang ada. Satu polipetida dihasilkan dari satu gen sepertinya lebih masuk nalar untuk diterima dibandingkan 2 teori sebelumnya. Penjelasan dari teori "one polypeptide one gene" yakni bawa satu polipeptida selalu dihasilkan oleh satu gen sedangkan satu gen tidak selalu menghasilkan polipeptida.

Lalu bagaimanakah pembentukan enzim ?

Tahapan pembentukan enzim hampir sama dengan sintesis protein, dimana dimulai dengan transkripsi kemudian translasi. Lalu apa bedanya antara protein dan enzim? Enzim juga termasuk protein, lebih tepatnya yakni protein fungsional. Enzim mempunyai sisi aktif, yang berfungsi untuk bereaksi dengan substrat. Kaprikornus sisi aktif inilah yang membedakan enzim dengan protein biasa. Intinya : Enzim termasuk protein sedangkan protein belum tentu enzim.

Berikut ini yakni salah satu pola prosedur regulasi gen pada pembentukan enzim selulase.
 Menurut hasil penelitian Beadle dan Tatum Pintar Pelajaran Pembentukan Enzim
Model induksi terhadap enzim selulase. [1]

Pada gambar di atas sanggup kita lihat bahwa CLR-1 (faktor transkripsi-1) merupakan elemen penting untuk Neurospora crassa cellobiose sensing mechanism atau prosedur deteksi adanya selubiosa pada fungi N. crassa. Jika gen clr-1 ini direpresi memakai carbon catabolite atau dilemahkan ekspresinya, maka mulut gen yang mengkode selulase,  β-glucosidases, cellobiose transporters, akan CLR-1 akan berkurang atau lemah. Namun, pada kondisi normal, jikalau ada selubiosa atau produk transglikosilasinya yang masuk ke dalam sel fungi, CLR-1 akan aktif. Aktifnya CLR-1 memicu mulut beberapa gen yang diharapkan untuk pemasukan selubiosa secara efisien ke dalam sel untuk dimetabolisme. CLR-1 akan menginduksi gen clr-2 untuk memproduksi CLR-2. Selanjutnya CLR-2 (faktor transkripsi-2) secara eksklusif menginduksi mulut gen hemiselulase (hemiselulase merupakan salah satu enzim yang termasuk kelompok selulase). Induksi secara eksklusif ini kemungkinan disebabkan oleh aktifnya gen CLR-1. Aktifnya CLR-1 sangat penting untuk  meningkatkan level mulut gen clr-2. CLR-1 ini menyerupai ditunjukkan oleh gambar di atas memicu mulut regulon avicel sehingga terjadi produksi selubiosa (selain glukosa yang dimetabolisme secara langsung) dalam jumlah lebih besar untuk membuat umpan balik yang positif bagi gen yang terkait dengan produksi selulase.

Anda kini sudah mengetahui Pembentukan Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun ya.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Referensi Lainnya :

[1] Samuel T. Coradetti, James P. Craig, Yi Xiong, Teresa Shock1, Chaoguang Tian2, and N. Louise Glass. 2012. Conserved and essential transcription factors for cellulase gene expression in ascomycete fungi. PNAS. pp. 6. DOI : 10.1073/pnas.1200785109

Monday, August 5, 2019

Pintar Pelajaran Fungsi Enzim Pada Proses Metabolisme

Peranan enzim dalam proses metabolisme

Metabolisme (dari bahasa Yunani, metabole = ‘berubah’), merupakan suatu rangkaian atau proses yang terarah dan teratur di dalam sel badan melalui reaksi-reaksi kimiawi, sehingga dibutuhkan atau dihasilkan bahan-bahan tertentu menyerupai unsur, molekul, senyawa, atau energi.

Berdasarkan proses dan hasilnya, metabolisme dibedakan menjadi dua yaitu katabolisme dan anabolisme. Sebagaimana telah kalian ketahui bahwa katabolisme yaitu proses perombakan senyawa-senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui reaksireaksi kimiawi, sehingga dihasilkan energi.

Sementara itu, anabolisme yaitu proses pembentukan senyawa-senyawa kompleks dari senyawasenyawa yang lebih sederhana melalui reaksi-reaksi kimiawi sehingga dibutuhkan adanya energi.

Selanjutnya, tahukah kalian apakah enzim itu? Enzim merupakan senyawa organik yang tersusun oleh protein (spesialisasi protein) untuk menjalankan proses-proses biokimiawi dalam sisitem hayati.

Dengan demikian, reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh, baik anabolisme maupun katabolisme selalu melibatkan enzim. Komponen- komponen, fungsi, cara kerja, sifat-sifat, faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim, penamaan dan pengelompokkan enzim, serta bagaimana pembentukan enzim akan kalian pelajari pada materi berikut.

1. Sejarah Enzim

2. Komponen-komponen Enzim

3. Fungsi dan Cara Kerja Enzim

4. Sifat-sifat Enzim

5. Penghambat Kerja Enzim

6. Faktor yang Memengaruhi Kerja Enzim

7. Penamaan dan Pengelompokan Enzim

8. Pembentukan Enzim

Anda kini sudah mengetahui Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Sejarah Enzim

Penemuan / Sejarah Enzim

Tahukah kalian, kapan istilah enzim digunakan oleh orang? Pada awalnya, Kuhne (1878) memberi nama zat yang berperan dalam proses pengubahan atau pembongkaran dan penyusunan adalah ferment atau enzim.

Enzim dari kata “in” dan “zyme” yang artinya sesuai yang ada di dalam ragi. Buchner (1896), memberi nama zat yang diperoleh dari sel-sel ragi yang telah dihancurkan adalah zimase sebab zat itu berasal dari ragi (zyme).

Pada tahun 1926, Sumner berhasil memisahkan enzim dari biji polong-polongan tumbuhan Canavalia ensiformis dalam bentuk kristal.

Setelah itu, berhasil dipisahkan beberapa enzim ibarat katalase, papain, tripsin, dan pepsin. Semuanya dalam bentuk kristal. (sumber: suharjawanasuria.tripod.com)

Anda kini sudah mengetahui Sejarah Penemuan Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Pintar Pelajaran Komponen-Komponen Enzim

Penyusun / Komponen Enzim

Sebagian besar enzim tersusun oleh dua bagian, ialah bab yang berupa protein, disebut apoenzim dan bab non protein yang disebut kofaktor. Ada juga beberapa enzim yang hanya terdiri dari komponen protein saja.

Kofaktor sanggup berupa molekul anorganik maupun molekul organik. Molekul anorganik berupa mineral menyerupai ion Fe, ion Zn, dan ion Mn. Molekul organik contohnya NAD+, vitamin B1, B2, B6, niasin, dan biotin.

Kofaktor yang berupa molekul organik disebut koenzim, sedangkan kofaktor yang berupa molekul anorganik disebut gugus prostetik. Apoenzim dan koenzim yang bersatu membentuk enzim yang lengkap, disebut holoenzim.

Perhatikan Gambar 1.1. dan 1.2.

 Sebagian besar enzim tersusun oleh dua bab Pintar Pelajaran Komponen-komponen Enzim
Gambar 1.1. Enzim yang terdiri atas bab protein (apoenzim) dan bab non protein (gugus prostetik)

 Sebagian besar enzim tersusun oleh dua bab Pintar Pelajaran Komponen-komponen Enzim
Gambar 1.2. Apoenzim dan koenzim bersatu membentuk holoenzim.
Anda kini sudah mengetahui Penyusun Enzim atau Komponen Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.