Showing posts sorted by relevance for query gejala-dan-penyebab-penyakit-anemia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query gejala-dan-penyebab-penyakit-anemia. Sort by date Show all posts

Friday, April 26, 2019

Pintar Pelajaran Tanda-Tanda Dan Penyebab Penyakit Anemia

Artikel Gejala dan Penyebab Penyakit Anemia - Anemia ialah suatu keadaan dari penderita yang kekurangan eritrosit terutama unsur hemoglobin. Oleh alasannya ialah itu, ada yang menyebutnya penyakit kurang darah. Kekurangan hemoglobin ini menyebabkan pemenuhan kebutuhan oksigen (O2) menuju jaringan menurun, sehingga mengganggu fungsi kerja sel. Gejala anemia antara lain ditandai dengan muka penderita pucat, cepat lelah, sakit kepala, timbulnya bintik-bintik hitam pada mata, jantung berdebar, dan denyut nadi meningkat. Anemia sanggup terjadi juga apabila kita terluka dan kehilangan banyak darah. Sehingga cara yang bisa dilakukan adalah transfusi darah. Kurangnya zat ibarat zat besi (Fe) dan vitamin B12 juga bisa menjadikan anemia. Selain itu, ada pula anemia yang terjadi secara genetis. Misalnya thalasemia dan anemia bulan sabit (siclema). Thalasemia adalah suatu kelainan pada eritrosit, sehingga selnya mudah rapuh dan cepat rusak. Ini terjadi alasannya ialah sel-selnya tidak mampu mensintesis rantai polipeptida alfa (α) dan rantai polipeptida beta (β) dengan cukup, sehingga hemoglobin tidak terbentuk. Sementara, anemia bulan sabit (cicle cell anemia) merupakan anemia yang sel-selnya mengandung tipe hemoglobin abnormal, yang disebut hemoglobin S. Perhatikan Gambar 1. Apabila hemoglobin S ini berikatan dengan oksigen (O2) yang berkonsentrasi rendah, maka akan mengendap menjadi kristal-kristal yang panjang di dalam eritrosit. Kristal-kristal tersebut berbentuk ibarat bulan sabit. Hemoglobin yang mengendap ini juga akan merusak membran sel, sehingga sel tersebut menjadi lebih rapuh.
Anemia ialah suatu keadaan dari penderita yang kekurangan Pintar Pelajaran Gejala dan Penyebab Penyakit Anemia
Gambar 1. Bentuk eritrosit penderita siclema.
Anda kini sudah mengetahui Gejala Anemia, Penyebab Anemia, dan Penyakit Anemia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.


Referensi :
Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Friday, August 9, 2019

Pintar Pelajaran 8 Tanda-Tanda Penyakit Rematik

Perpustakaan Cyber (30/10/2014)  - Penyakit rematik merupakan sebuah penyakit yang menyerang pada penggalan jaringan dan organ tubuh menyerupai sendi, tulang, otot, darah dan penggalan tubuh lainnya. penyebab utama dari penyakit rematik yaitu kelebihan zat purin sebagai hasil dari metabolisme tubuh yang tertimbun pada persendian. Selain itu rematik yang biasa juga disebut “Rheumatoid Arhritis” ini sanggup juga disebabkan oleh kelebihan berat tubuh (obesitas) dan terjadinya peradangan pada penggalan persendian. 

Penyakit rematik termasuk penyakit sistemik dan autoimun yang progresif lantaran sanggup memperlihatkan imbas negatif pada organ tubuh yang lain. berdasarkan penelitian dari Prof. Dr. dr. Handono Kalim, SpPD KR, Ketua Indonesia Rheumatology Association (IRA), serta dokter seorang hebat penyakit dalam, menyampaikan bahwa tanda-tanda dari rematik yaitu penderita akan mengalami peradangan, merah dan rasa nyeri pada sendi kaki dan tangan, yang disertai dengan tanda-tanda sistemik lainnya menyerupai anemia, depresi, dan kelelahan.


Bagi masyarakat umum, mungkin akan sulit mendiagnosis penyakit rematik, lantaran umumnya tanda-tanda yang timbul hampir sama dengan beberapa penyakit lainnya. Namun salah satu tanda-tanda rematik yang sering menjadi tolak ukur bagi orang awam sedang mengalami penyakit rematik yaitu terasa nyeri pada persendian, sedangkan tanda-tanda yang lainnya masih sering diabaikan, lantaran masih belum sepenuhnya mengetahui tanda-tanda dari penyakit rematik.

Berikut ini 8 tanda-tanda penyakit rematik yang perlu di ketahui dan kenali lebih jauh, biar sanggup segera menanganinya dengan cepat dan sempurna dikala merasakannya pada penggalan tubuh Anda, yaitu :

1. Kesemutan atau Mati Rasa

Kesemutan atau menyerupai mati rasa pada pergelangan tangan dan kaki, dan biasanya akan terasa lebih jelek pada dikala malam hari, sebaiknya kompreslah penggalan kaki dan tangan Anda yang terasa kesemutan.

2. Praktis Cedera  

Terkadang mungkin Anda menganggap keseleo atau terkilir merupakan hal yang tidak terlalu serius. Padahal hal tersebut sanggup jadi merupakan tanda-tanda dari rematik.

3. Masalah Pada Indra Penglihatan (Mata)

Penderita rematik juga mengalami gangguan autoimun yang sanggup menimbulkan kekeringan pada mata, hidung, mulut, kulit, dan tenggorokan, hal ini disebabkan lantaran terjadinya peradangan. Bila Anda mengalami persoalan dengan mata dan telah memakai obat mata, namun belum ada perubahan berarti, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter seorang hebat reumathologi. 

4. Rasa Nyeri dan Pegal Pada Persendian

Gejala ini merupakan yang paling mayoritas dan dikenali oleh semua orang sebagai tanda penyakit rematik, biasanya rasa nyeri dan pegal ini berlangsung selama lebih dari satu minggu.

5. Pada Pagi Hari Terasa Kaku

Salah satu ciri khas dari penyakit rematik yaitu rasa kaku akhir dari rasa sakit sehabis melaksanakan kegiatan yang usang menyerupai tidur. Perbedaan rasa kaku rematik dengan osteoarthritis yaitu penderita rematik akan membutuhkan waktu yang lebih usang untuk sanggup mengurangi rasa kaku pada persendiannya.

6. Mengalami Sendi Terasa Terkunci

Pembengkakan tendon pada sekitar sendi menciptakan lutut dan siku terkadang terasa menyerupai terkunci, 

7. Benjolan (Nodul) Pada Kulit Dekat Persendian

Nodul merupakan benjolan yang timbul pada kulit bersahabat dengan penggalan persendian yang mengalami rematik dan umumnya terjadi pada penggalan belakang siku.

8. Gerakan Tubuh Menjadi Lamban dan kaku

Penyakit rematik menciptakan beberapa penggalan persendian menjadi lebih kaku, dan memerlukan waktu yang usang untuk mengurangi rasa kaku dan nyeri tersebut, hal ini menjadikan gerakan tubuh menjadi lebih lambat dari keadaan normalnya tubuh Anda.

Dengan lebih mengenali tanda-tanda penyakit rematik diatas akan menciptakan Anda lebih perhatian dengan keadaan tubuh Anda.

Wednesday, September 18, 2019

Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Pengaruh Samping, Struktur, Makanan

Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan - Vitamin B ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolisme sel. Vitamin B pernah dianggap sebagai vitamin tunggal, dan disebut sebagai vitamin B (sebagian besar orang menyebutnya vitamin C). Penelitian selanjutnya mengatakan bahwa, vitamin B dan C ialah vitamin yang berbeda  dan sering berdampingan di dalam masakan yang sama. Secara umum, komplemen yang mengandung keseluruhan delapan vitamin B disebut sebagai vitamin B kompleks. Suplemen vitamin B tunggal disebut dengan nama spesifik dari setiap vitamin (misalnya, B1B2B3 dan lain-lain).

1. Daftar Nama Vitamin B
  • Vitamin B1 (thiamine / tiamina)
  • Vitamin B2 (riboflavin)
  • Vitamin B3 (niacin or niacinamide)
  • Vitamin B5 (pantothenic acid)
  • Vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, pyridoxamine, atau pyridoxine hydrochloride)
  • Vitamin B7 (biotin)(vitamin H)
  • Vitamin B9 (folic acid)(asam folat)
  • Vitamin B12 (berbagai jenis cobalamin; biasanya berbentuk cyanocobalamin pada komplemen vitamin)
2. Fungsi Molekuler Vitamin B

Vitamin
Nama
Struktur
Fungsi Molekuler
Vitamin B1
Thiamine (Tiamina)

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Thiamine memerankan peranan penting pada pembentukan energi yang berasal dari karbohidrat. Thiamine  terlibat di dalam produksi RNA dan DNA, serta fungsi saraf. Bentuk aktifnya berupa koenzim yang disebut Thiamine pyrophosphate (TPP), yang terlibat dalam peranan konversi piruvat menjadi asetil koenzim A (CoA) pada metabolisme. [1]
Vitamin B2
Riboflavin

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Riboflavin terlibat dalam produksi energi untuk rantai transport elektron, siklus asam sitrat, serta katabolisme asam lemak (oksidasi beta / beta oxidation) [2]
Vitamin B3
Niacin (Niasin)
 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Niasin terdiri dari dua struktur: asam nikotinat dan nikotinamida. Ada dua bentuk koenzim dari niasin: nikotinamida adenin dinukleotida (NAD) dan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADP). Keduanya memainkan tugas penting dalam reaksi transfer energi dalam metabolisme glukosa, lemak dan alkohol. [3]
NAD membawa hidrogen dan elektron mereka selama reaksi metabolik, termasuk jalur dari siklus asam sitrat menuju rantai transport elektron. NADP ialah koenzim di dalam lipid dan sintesis asam nukleat. [4]
Vitamin B5
Pantothenic acid (Asam pantotenat)

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Asam pantotenat terlibat di dalam oksidasi asam lemak dan karbohidrat. Koenzim A, yang sanggup disintesis dari asam pantotenat, terlibat dalam sintesis asam amino, asam lemak, keton, kolesterol, [5] fosfolipid, hormon steroid, neurotransmiter (seperti asetilkolin), dan antibodi.  [6]
Vitamin B6
Pyridoxine

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Pyridoxine biasanya disimpan di dalam tubuh ssebagai bentuk piridoksal 5'-fosfat (PLP), yang merupakan bentuk koenzim dari vitamin B6. Pyridoxine terlibat di dalam metabolisme asam amino dan lipid; sintesis neurotransmitter [7] dan hemoglobin, serta dalam produksi asam nikotinat (vitamin B3). [8] Pyridoxine juga memainkan tugas penting dalam glukoneogenesis.
Vitamin B7
Biotin

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Biotin memainkan tugas kunci di dalam metabolisme lipid, protein dan karbohidrat. Biotin ialah koenzim penting dari empat karboksilase : asetil KoA karboksilase (terlibat dalam sintesis asam lemak dari asetat); propionil KoA karboksilase (terlibat dalam glukoneogenesis), β-methylcrotonyl KoA karboksilase (terlibat dalam metabolisme leucin/leusin), dan piruvat KoA karboksilase (terlibat dalam metabolisme energi, asam amino dan kolesterol). [9]
Vitamin B9
Folic Acid (Asam Folat)

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Asam folat bertindak sebagai koenzim dalam bentuk tetrahidrofolat (THF), yang terlibat dalam transfer unit karbon-tunggal di dalam metabolisme asam nukleat dan asam amino. THF terlibat dalam sintesis nukleotida pirimidin, sehingga dibutuhkan untuk pembelahan sel normal, terutama selama kehamilan dan pada bayi, dimana pada masa bayi merupakan masa pertumbuhan yang cepat. Folat juga membantu dalam proses eritropoiesis (produksi sel darah merah). [10]
Vitamin B12
Cobalamin

 ialah kelompok vitamin yang larut dalam air dan memainkan tugas penting dalam metabolism Pintar Pelajaran Vitamin B, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Struktur, Makanan

Vitamin B12 terlibat di dalam metabolisme sel karbohidrat, protein dan lipid. Hal ini penting untuk produksi sel darah di sumsum tulang belakang, selubung saraf dan protein. [11] Vitamin B12 berfungsi sebagai koenzim di dalam metabolisme mediator untuk reaksi metionin sintase dengan methylcobalamin, dan reaksi methylmalonyl KoA mutase dengan adenosylcobalamin. [12]

3. Kekurangan / Defisiensi Vitamin B

Berikut ialah beberapa jenis penyakit yang terjadi akhir kekurangan vitamin B.

Vitamin
Nama
Akibat Defisiensi
Vitamin B1
Thiamine (Tiamina)
Defisiensi mengakibatkan penyakit beri-beri. Gejala dari penyakit ini pada sistem saraf termasuk berat badan, gangguan emosi, Wernicke's encephalopathy (gangguan panca indera), kelemahan dan nyeri pada tungkai, periode detak jantung yang tidak teratur, dan edema (pembengkakan jaringan tubuh). Gagal jantung dan maut sanggup terjadi dalam kasus-kasus lanjutan. Kekurangan tiamina kronis juga sanggup mengakibatkan sindrom Korsakoff; suatu demensia ireversibel yang ditandai dengan amnesia dan konfabulasi (gangguan memori).
Vitamin B2
Riboflavin
Defisiensi mengakibatkan ariboflavinosis. Gejala-gejala yang terjadi kemungkinan berupa cheilosis (retak di bibir), sensitivitas tinggi terhadap sinar matahari, angular cheilitis, glossitis (radang lidah), dermatitis seboroik atau pseudo-sifilis (terutama mensugesti skrotum atau labia majora dan mulut), faringitis (radang tenggorokan ), hiperemia, dan edema pada faring dan mukosa oral.
Vitamin B3
Niacin (Niasin)
Defisiensi niasin yang bersamaan dengan kekurangan triptofan mengakibatkan pellagra. Gejala-gejala yang terjadi ialah agresi, dermatitis, insomnia, kelemahan, kebingungan mental, dan diare. Dalam masalah lanjut, pellagra sanggup mengakibatkan demensia dan maut (3 (+1) Ds: dermatitis, diare, demensia, dan kematian).
Vitamin B5
Pantothenic acid (Asam pantotenat)
Defisiensi sanggup mengakibatkan jerawat dan paresthesia, meskipun hal ini jarang terjadi.
Vitamin B6
Pyridoxine
Defisiensi sanggup mengakibatkan anemia mikrositik (karena fosfat pyridoxyl ialah kofaktor untuk sintesis heme/hemoglobin), depresi, dermatitis, tekanan darah tinggi (hipertensi), retensi air, dan peningkatan kadar homocysteine​​.
Vitamin B7
Biotin
Kekurangan / defisiensi biasanya tidak menimbulkan tanda-tanda pada orang sampaumur tetapi sanggup mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan gangguan neurologis pada bayi. Kekurangan karboksilase berlebih, kesalahan metabolisme bawaan, sanggup mengakibatkan defisiensi biotin bahkan ketika asupan biotin melalui masakan sudah normal.
Vitamin B9
Folic Acid (Asam Folat)
Defisiensi sanggup mengakibatkan anemia makrositik, dan peningkatan kadar homocysteine​​. Defisiensi pada perempuan hamil sanggup mengakibatkan bayi lahir cacat. Suplementasi sering dianjurkan selama kehamilan. Para peneliti telah mengatakan bahwa asam folat juga bisa memperlambat imbas berbahaya dari penuaan pada otak.
Vitamin B12
Cobalamin
Defisiensi mengakibatkan anemia makrositik, meningkatnya kadar homocysteine​​, neuropati perifer, kehilangan memori dan defisit kognitif lainnya. Hal ini paling mungkin terjadi di antara orang tua, seiring menurnnya peresapan melalui usus akhir penuaan; penyakit autoimun anemia pernisiosa ialah penyebab umum lainnya. Hal ini juga sanggup mengakibatkan tanda-tanda mania dan psikosis. Dalam masalah ekstrim yang jarang terjadi, sanggup mengakibatkan kelumpuhan.

4. Efek samping vitamin B

Vitamin
Nama
Batas Toleransi Asupan
Efek Samping Berbahaya
Vitamin B1
Thiamine (Tiamina)
Tidak ada [13]
Tidak ada masalah toksisitas yang diketahui dari asupan oral. Ada beberapa laporan dari anafilaksis yang disebabkan oleh suntikan tiamin takaran tinggi ke dalam pembuluh darah atau otot. Namun, takaran tersebut lebih besar dari  kuantitas yang sanggup diserap insan melalui asupan oral. [13]
Vitamin B2
Riboflavin
Tidak ada [14]
Tidak ada bukti toksisitas menurut penelitian terbatas yang dilakukan pada insan dan hewan. Satu-satunya bukti imbas jelek yang terkait dengan riboflavin berasal dari penelitian in vitro yang mengatakan produksi spesies oksigen reaktif (radikal bebas) ketika riboflavin terpapar cahaya tampak dan UV yang intens. [14]
Vitamin B3
Niacin (Niasin)
35 mg / hari dari suplemen, obat atau masakan yang diperkaya. [15]
Asupan nicotinamide (3000 mg / hari) dan asam nicotinic (1500 mg / hari) bekerjasama dengan gejala-gejala seperti; mual, muntah, dan tanda-tanda serta tanda-tanda toksisitas pada hati. Efek lainnya kemungkin mencakup; intoleransi glukosa, dan (reversibel) imbas okular. Selain itu, bentuk asam nikotinat sanggup mengakibatkan imbas vasodilatasi, yang juga dikenal sebagai flushing,  gejalanya meliputi; kemerahan pada kulit, sering disertai dengan rasa gatal, kesemutan, atau sensasi terbakar ringan, yang juga sering disertai dengan pruritus, sakit kepala, dan meningkatkan aliran darah intrakranial , dan kadang kala disertai dengan rasa sakit. [15] praktisi medis meresepkan takaran niasin yang dianjurkan sampai 2000 mg per hari, biasanya dalam format waktu rilis, untuk memerangi pengembangan plak arteri dalam masalah tingkat lipid yang tinggi. [16]
Vitamin B5
Pantothenic acid (Asam pantotenat)
Tidak ada
Tidak ada imbas yang diketahui
Vitamin B6
Pyridoxine
100 mg / hari dari suplemen, obat atau masakan yang diperkaya. [17]
Asupan lebih dari 1000 mg / hari dikaitkan dengan neuropati sensorik perifer, imbas lain yang belum dikonfirmasi: luka dermatologis [penyebab belum jelas]; ketergantungan B6 pada bayi yang gres lahir [hubungan sebab-akibat juga belum diketahui] [17].
Vitamin B7
Tidak ada
Tidak ada imbas yang diketahui
Vitamin B9
Folic Acid (Asam Folat)
1 mg/hari [18]
Sama dengan defisiensi vitamin B12, dimana hal ini sanggup menyebabkan kerusakan neurologi permanen. [18]
Vitamin B12
Cobalamin
Belum ditentukan [19]
Jerawat menyerupai ruam [penyebab belum ditentukan secara pasti]. [19] [20]

5. Sumber-Sumber Vitamin B

Vitamin B ditemukan pada seluruh masakan yang belum diolah. Karbohidrat olahan menyerupai gula dan tepung putih cenderung mempunyai kandungan vitamin B yang lebih rendah daripada produk-produk yang belum diolah. Oleh lantaran itu, dibutuhkan aturan / peraturan di Amerika Serikat (dan banyak negara lainnya) yang mengharuskan penambahan kembali vitamin B (tiamin, riboflavin, niasin, dan asam folat)  ke tepung putih sehabis pengolahan. Hal ini kadang kala disebut dengan "Enriched Flour" pada label makanan. Vitamin B biasanya terkonsentrasi di dalam daging, menyerupai pada kalkun, tuna dan hati. [21] Sumber yang baik untuk vitamin B meliputi; kombucha, biji-bijian, kentang, pisang, kacang, cabai, tempe,  kacang-kacangan, ragi bernutrisi, ragi, dan molase. Meskipun ragi yang dipakai untuk menciptakan bir merupakan sumber vitamin B, [22] bioavailabilitasnya sangat sedikti, bahkan negative, lantaran mengkonsumsi etanol (alkohol) menghambat peresapan thiamine / tiamina (B1), [23][24] riboflavin (B2), [25] niacin / niasin (B3), [26] biotin (B7), [27] dan asam folat / folic acid (B9). [28][29] Selain itu, pada setiap penelitian sebelumnya lebih lanjut menekankan bahwa, konsumsi bir dan minuman berbahan dasar etanol yang berlebihan, menurunkan kandungan kadar vitamin B murni di dalam tubuh dan mengakibatkan risiko kesehatan yang bekerjasama dengan kekurangan tersebut (defisiensi vitamin B).

Vitamin B12 perlu diperhattikan lantaran tidak tersedia dari produk tanaman, sehingga menciptakan defisiensi B12 perlu menjadi perhatian bagi para vegetarian. Produsen masakan nabati kadang kala akan memberi label kandungan B12 pada produknya, sehingga mengakibatkan kebingungan mengenai sumber apa yang menghasilkan B12. Kebingungan muncul lantaran metode US Pharmacopeia  (USP) untuk mengukur kandungan B12 tidak mengukur B12 langsung. Justru,metode tersbut mengukur respon basil terhadap makanan. Varian kimia dari vitamin B12 ditemukan pada sumber tumbuhan yang aktif bagi bakteri, tetapi tidak sanggup dipakai oleh tubuh manusia. Fenomena yang sama sanggup mengakibatkan pelabelan kandungan B12 berlebihan pada jenis-jenis masakan lainnya. [30]

Cara terkenal lainnya yang dipakai untuk meningkatkan asupan vitamin B seseorang ialah melalui penggunaan komplemen makanan. Vitamin B juga sering ditambahkan ke minuman energi, banyak produk minuman berenergi yang telah dipasarkan mempunyai kandungan vitamin B dalam jumlah besar, [31] dengan klaim bahwa hal ini akan mengakibatkan konsumen untuk "melalui hari tanpa merasa gelisah atau tegang." [31] Beberapa mahir gizi telah bersikap kritis terhadap klaim-klaim ini, dimana sebenarnya, kebanyakan orang telah mendapat jumlah vitamin B yang dibutuhkan dengan gampang dalam masakan mereka. [31]

Oleh lantaran vitamin B larut dalam air, kelebihan vitamin B (misalnya, melalui suplemen) pada umumnya selalu gampang untuk diekskresi / dikeluarkan, meskipun penyerapan, penggunaan dan metabolisme tiap individu berbeda. [31] Orang bau tanah dan atlet mungkin perlu untuk melengkapi asupannya dengan vitamin B12 dan vitamin B lainnya lantaran permasalahan dalam peresapan dan peningkatan kebutuhan untuk produksi energi. Pada masalah yang parah, kekurangan vitamin B, khususnya B12, pemberian vitamin B juga sanggup diberikan melalui suntikan untuk menyembuhkan kekurangan. [32] Penderita diabetes (tipe 1 dan tipe 2), juga disarankan untuk menambahkan asupan komplemen thiamine / tiamina yang mempunyai prevalensi yang tinggi dari konsentrasi tiamin plasma rendah dan bisa meningkatkan pembersihan/ekskresi tiamin yang bekerjasama dengan diabetes. [33] Defisiensi vitamin B9 (asam folat) pada awal perkembangan embrio telah dikaitkan dengan terjadinya cacat tabung saraf (neural tube defects). Bagi perempuan yang berencana untuk hamil biasanya dianjurkan untuk meningkatkan asupan asam folat melalui masakan sehari-hari atau penambahan suplemen. [34]

Referensi :
  1. Fattal-Valevski, A (2011). "Thiamin (vitamin B1)". Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine 16 (1): 12–20. |accessdate= requires |url= (help)
  2. "Riboflavin". Alternative Medicine Review 13 (4): 334–340. 2008. |accessdate= requires |url= (help)
  3. Whitney, N; Rolfes, S Crowe, T Cameron-Smith, D Walsh, A (2011). Understanding Nutrition. Melbourne: Cengage Learning.
  4. National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board, ed. (1998). "Chapter 6 - Niacin". Dietary Reference Intakes for Tjiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press.
  5. University of Bristol (2002). "Pantothenic Acid". Retrieved 16 September 2012.
  6. Gropper, S; Smith, J (2009). Advanced nutrition and human metabolism. Belmont, CA: Cengage Learning.
  7. University of Maryland Medical Center (2012). "Vitamin B6 (Pyridoxine)". Retrieved 16 September 2012.
  8. University of Bristol (2002). "Vitamin B6 (Pyridoxine)". Retrieved 15 September 2012.
  9. University of Bristol (2012). "Biotin". Retrieved 17 September 2012.
  10. National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board, ed. (1998). "Chapter 8 - Folate". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press.
  11. University of Bristol (2002). "Vitamin B12". Retrieved 16 September 2012.
  12. DSM (2012). > "Vitamin B12". Retrieved 16 September 2012.
  13. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 4 - Thiamine". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. pp. 58–86. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 18 June 2009. Retrieved 2009-06-17.
  14. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 5 - Riboflavin". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. pp. 87–122. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 18 June 2009. Retrieved 2009-06-17.
  15. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 6 - Niacin". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. pp. 123–149. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 18 June 2009. Retrieved 2009-06-17.
  16. http://www.rxabbott.com/pdf/niaspan.pdf
  17. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 7 - Vitamin B6". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. pp. 150–195. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 18 June 2009. Retrieved 2009-06-17.
  18. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 8 - Folate". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. pp. 196–305. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 18 June 2009. Retrieved 2009-06-17.
  19. a b National Academy of Sciences. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board., ed. (1998). "Chapter 9 - Vitamin B12". Dietary Reference Intakes for Thiamine, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline. Washington, D.C.: National Academy Press. p. 346. ISBN 0-309-06411-2. Archived from the original on 11 October 2010. Retrieved 2010-09-23.
  20. Dupré, A; Albarel, N; Bonafe, JL; Christol, B; Lassere, J (1979). "Vitamin B-12 induced acnes". Cutis; cutaneous medicine for the practitioner 24 (2): 210–1. PMID 157854.
  21. Stipanuk, M.H. (2006). Biochemical, physiological, molecular aspects of human nutrition (2nd ed.). St Louis: Saunders Elsevier p.667
  22. Winklera, C; B. Wirleitnera, K. Schroecksnadela, H. Schennachb and D. Fuchs (September 2005). "Beer down-regulates activated peripheral blood mononuclear cells in vitro". International Immunopharmacology 6 (3): 390–395. doi: 10.1016/j.intimp.2005.09.002. PMID 16428074. Retrieved 2010-01-18.
  23. Hoyumpa Jr, AM (1980). "Mechanisms of thiamin deficiency in chronic alcoholism". American Journal of Clinical Nutrition 33 (12): 2750–2761. PMID 6254354. Retrieved 2010-01-18.
  24. Leevy, Carroll M. (1982). "Thiamin deficiency and alcoholism". Annals of the New York Academy of Sciences 378 (Thiamin: Twenty Years of Progress): 316–326. doi: 10.1111/j.1749-6632.1982.tb31206.x. Retrieved 2010-01-18.
  25. Pinto, J; Y P Huang, and R S Rivlin (May 1987). "Mechanisms underlying the differential effects of ethanol on the bioavailability of riboflavin and flavin adenine dinucleotide". Journal of Clinical Investigation 79 (5): 1343–1348. doi: 10.1172/JCI112960. PMC 424383. PMID 3033022.
  26. Spivak, JL; DL Jackson (June 1977). "Pellagra: an analysis of 18 patients and a review of the literature". The Johns Hopkins Medical Journal 140 (6): 295–309. PMID 864902.
  27. Said, HM; A Sharifian, A Bagherzadeh and D Mock (1990). "Chronic ethanol feeding and acute ethanol exposure in vitro: effect on intestinal transport of biotin". American Journal of Clinical Nutrition 52 (6): 1083–1086. PMID 2239786. Retrieved 2010-01-18.
  28. Halsted, Charles; Picciano, M.F., Stokstad, E.L.R. and Gregory, J.F. (eds) (1990). Intestinal absorption of dietary folates (in Folic acid metabolism in health and disease). New York, New York: Wiley-Liss. pp. 23–45. ISBN 0-471-56744-2.
  29. Watson, Ronald; Watzl, Bernhard, eds. (September 1992). Nutrition and alcohol. CRC Press. pp. 16–18. ISBN 978-0-8493-7933-8.
  30. Herbert, Victor (1 September 1998). "Vitamin B-12: Plant sources, requirements, and assay". Am. J. Clin. Nutr. 48 (3): 852–8. PMID 3046314. Archived from the original on 24 February 2008. Retrieved 2008-02-26.
  31. a b c d Chris Woolston (July 14, 2008). "B vitamins don't boost energy drinks' power". Los Angeles Times. Archived from the original on 19 October 2008. Retrieved 2008-10-08.
  32. Vitamin B injections mentioned.
  33. Thornalley, P. J.; Babaei-Jadidi, R.; Al Ali, H.; Rabbani, N.; Antonysunil, A.; Larkin, J.; Ahmed, A.; Rayman, G. et al. (2007). "High prevalence of low plasma thiamine concentration in diabetes linked to a marker of vascular disease". Diabetologia 50 (10): 2164–70. doi: 10.1007/s00125-007-0771-4. PMC 1998885. PMID 17676306.
  34. Shaw, Gary M.; Schaffer, Donna; Velie, Ellen M.; Morland, Kimberly; Harris, John A. (1995). "Periconceptional Vitamin Use, Dietary Folate, and the Occurrence of Neural Tube Defects". Epidemiology 6 (3): 219–26. doi: 10.1097/00001648-199505000-00005. PMID 7619926.
  35. Vera Reader (1930). "The assay of vitamin B4". Biochem J. 24 (6): 1827–31. PMC 1254803. PMID 16744538.
  36. Lerner IJ (February 1984). "The whys of cancer quackery". Cancer 53 (3 Suppl): 815–9. doi: http://dx.doi.org/10.1002%2F1097-0142%2819840201%2953%3A3%2B%3C815%3A%3AAID-CNCR2820531334%3E3.0.CO%3B2-U. PMID 6362828.
  37. Stecol JA (1958). "Biosynthesis of Choline and Betaine". Am J Clin Nutr. 6 (3): 200–15. PMID 13533306.
  38. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19906248.
Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Wikipedia (12/10/2013). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.