Showing posts sorted by relevance for query perilaku-konsumen-dan-produsen-dalam-kegiatan-ekonomi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perilaku-konsumen-dan-produsen-dalam-kegiatan-ekonomi. Sort by date Show all posts

Monday, September 2, 2019

Pintar Pelajaran Sikap Konsumen Dan Produsen Dalam Acara Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal Dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi

Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibuat? Terbuat dari apakah mi instan tersebut? Jika Anda pernah melihat proses pembuatan mi tersebut, Anda akan memperoleh citra secara umum mengenai kegiatan produksi. Proses produksi dilakukan melalui banyak sekali tahap mulai dari materi dasar tepung hingga menjadi barang jadi (mi instan). Setelah dikemas, mi einstan tersebut didistribusikan ke penjual, contohnya warung. Anda mungkin mengonsumsi mie tersebut untuk makan sehari-hari. Mengonsumsi mi tersebut sanggup dikatakan sikap konsumen alasannya ialah Anda membeli dan mengonsumsi mie instan tersebut.

Uraian singkat di atas menggambarkan sikap produsen (pabrik mi instan) dan sikap konsumen (Anda sebagai pembeli dan pengonsumsi mie instan tersebut). Dalam Bab ini, Anda akan mendapat materi sikap konsumen dan perilaku produsen, siklus arus barang, jasa, dan pendapatan (circular flow diagram) yang terdiri atas perekonomian tertutup dan perekonomian terbuka, dan tugas konsumen dan tugas produsen dalam perekonomian.

A. Perilaku Konsumen dan Perilaku Produsen


Akibat adanya keterbatasan pendapatan dan impian untuk mengkonsumsi barang dan jasa sehingga diperoleh kepuasan maksimal, maka muncul sikap konsumen. Perilaku konsumen intinya menjelaskan bagaimana konsumen mendayagunakan sumber daya yang ada (uang) dalam memuaskan impian atau kebutuhan dari suatu atau beberapa produk. Dalam teori sikap konsumen terdapat dua pendekatan utama untuk melaksanakan analisis mengenai sikap konsumen dalam menikmati barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhannya. Dua pendekatan tersebut ialah pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

a. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach)


Pendekatan kardinal merupakan adonan dari beberapa pendapat para hebat ekonomi aliran subjektif menyerupai Herman Heinrich Gossen (1854), William Stanley Jevons (1871), dan Leon Walras (1894). Pendekatan kardinal sanggup dianalisis dengan memakai konsep utilitas marjinal (marginal utility). Asumsi dalam pendekatan ini antara lain:
  1. konsumen bertindak rasional (ingin memaksimalkan kepuasan sesuai dengan batas anggarannya);
  2. pendapatan konsumen tetap;
  3. uang mempunyai nilai subjektif yang tetap.
Menurut pendekatan kardinal utilitas suatu barang dan jasa sanggup diukur dengan satuan util. Contoh, sebuah raket akan lebih mempunyai kegunaan bagi pemain tenis dari pada pemain sepak bola. Namun bagi pemain sepak bola, bola akan lebih mempunyai kegunaan daripada raket. Beberapa konsep fundamental yang berkaitan sikap konsumen melalui pendekatan kardinal ialah konsep utilitas total (total utility) dan utilitas marjinal (marginal utility). Utilitas total ialah yang dinikmati konsumen dalam mengonsumsi sejumlah barang atau jasa tertentu secara keseluruhan. Adapun utilitas marjinal ialah pertambahan utilitas yang dinikmati oleh konsumen dari setiap embel-embel satu unit barang dan jasa yang dikonsumsi.

Sampai pada titik tertentu, semakin banyak unit komoditas yang dikonsumsi oleh individu, akan semakin besar kepuasan total yang diperoleh. Meskipun utilitas total meningkat, namun embel-embel (utilitas) yang diterima dari mengonsumsi tiap unit embel-embel komoditas tersebut biasanya semakin menurun.

Hal tersebut yang mendasari aturan utilitas marjinal yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility). Menurut aturan ini jumlah embel-embel utilitas yang diperoleh konsumen akan semakin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari barang atau jasa tersebut. Hukum tersebut diperkenalkan pertama kali oleh H.H. Gossen (1810–1858), spesialis ekonomi dan matematika Jerman, dan selanjutnya aturan ini dikenal dengan nama Hukum Gossen I. Sebagai contoh, jikalau Anda dalam keadaan haus, segelas teh anggun atau cuek akan terasa sangat menyegarkan, gelas kedua masih terasa segar, hingga gelas ketiga mungkin Anda merasa kekenyangan bahkan mual. Contoh di atas memperlihatkan turunnya utilitas total hingga pada tingkat tertentu.

Contoh tersebut akan lebih terang dengan memakai data kuantitatif, menyerupai Tabel 1.

Kuantitas Barang yang Dikonsumsi (unit)
Total Utility (TU) (util)
Marginal Utility (MU) (util)
0
0
-
1
4
4
2
7
3
3
9
2
4
10
1

Dari Tabel 1. terlihat bahwa utilitas total (TU) meningkat sejalan dengan kenaikan konsumsi, akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang semakin menurun. Adapun utilitas marjinal (MU) semakin menurun sejalan dengan adanya kenaikan konsumsi. Jika seseorang mengkonsumsi dua unit barang, utilitas marjinalnya ialah 7 – 4 = 3 util, dan jikalau mengonsumsi tiga unit barang, utilitas marjinalnya ialah 9 – 7 = 2 util, begitu seterusnya.

Tabel 1. sanggup digambarkan dalam Kurva 1. yaitu sebagai berikut.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Kurva 1. Utilitas Total dan Utilitas Marjinal
Dari Kurva 1. terlihat bahwa utilitas total meningkat seiring dengan bertambahnya konsumsi, akan tetapi dengan proporsi yang semakin menurun. Adapun utilitas marjinal dari setiap embel-embel barang akan menurun sejalan dengan meningkatnya konsumsi. Selanjutnya kebutuhan insan tidak hanya terdiri atas satu atau dua kebutuhan, tetapi banyak sekali jenis kebutuhan. Oleh alasannya ialah itu, bagaimana insan sanggup mengatur kebutuhannya untuk memuaskan kebutuhan atas banyak sekali jenis barang atau jasa? Gossen menjelaskan bahwa konsumen akan memuaskan kebutuhan yang bermacam-macam tersebut hingga mempunyai tingkat intensitas yang sama.

Dengan tegas, Gossen menyatakan bahwa konsumen akan melaksanakan konsumsi sedemikian rupa sehingga rasio antara utilitas marjinal dan harga setiap barang atau jasa yang dikonsumsi besarnya sama. Selanjutnya, pernyataan ini dikenal dengan Hukum Gossen II.

Hukum Gossen II memperlihatkan adanya upaya setiap orang untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhannya berbanding harga barang hingga memperoleh tingkat optimalisasi konsumsinya. Dengan tingkat pendapatan tertentu seorang konsumen akan berusaha men dapatkan kombinasi banyak sekali macam kebutuhan hingga rasio antara utilitas marjinal (MU) dan harga sama untuk semua barang atau jasa yang dikonsumsinya.

b. Pendekatan Ordinal (Ordinal Approach)


Pendekatan ordinal kali pertama diperkenalkan oleh Francis Edgeworth dan Vilfredo Pareto. Asumsi yang dipergunakan dalam pendekatan ini antara lain:
  1. konsumen bertindak rasional (ingin memaksimumkan kepuasannya);
  2. konsumen mempunyai pola pilihan (preferensi) terhadap barang yang disusun menurut urutan besar kecilnya (pilihan) nilai guna;
  3. konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu;
  4. konsumen konsisten dengan pilihannya. Jika ia menentukan A dibanding B, menentukan B dibanding C, maka ia akan menentukan A dibanding C.
Pendekatan ordinal menganggap bahwa utilitas suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen bisa menciptakan urutan tinggi rendahnya utilitas yang di peroleh dari mengonsumsi sejumlah barang atau jasa. Selanjutnya konsumsi dipandang sebagai upaya optimalisasi dalam konsumsinya.

Pendekatan ordinal sanggup dianalisis dengan memakai kurva indiferen (indifference curve) dan garis anggaran ( budget line).

1) Kurva Indiferen

Kurva indiferen ialah kurva yang memperlihatkan kombinasi dua macam barang konsumsi yang menawarkan tingkat utilitas yang sama. Seorang konsumen membeli sejumlah barang, misalnya, makanan dan pakaian dan berusaha mengombinasikan dua kebutuhan yang menghasilkan utilitas yang sama, digambarkan dalam Tabel 2. yaitu sebagai berikut.

Situasi
Makanan
Pakaian
A
4
2
B
3
4

Apabila konsumen menyatakan bahwa.

a) A>B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 3 kali sehari dan membeli pakaian 4 kali setahun.
b) A<B, berarti makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun.
c) A=B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun dan makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun menawarkan utilitas yang sama kepada konsumen.

Contoh situasi tersebut sanggup digambarkan dalam kurva indiferen sebagaimana ditunjukkan dalam kurva 2.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Kurva 2. Indiferen Kombinasi Makanan dan Pakaian.
Dari Kurva 2. terlihat bahwa dengan memperoleh lebih banyak barang yang satu akan menyebabkan kehilangan sebagian barang yang lain. Kombinasi makanan dan pakaian yang menawarkan utilitas sama digambarkan sebagai kurva indiferen.

Ciri-ciri kurva indiferen ialah sebagai berikut.

a) Turun dari kiri atas ke kanan bawah, hal ini berakibat pada terjadinya keadaan yang saling meniadakan (trade-off), yaitu jikalau konsumen ingin menambah konsumsi atas satu barang, ia harus mengurangi konsumsi atas barang lainnya.
b) Cembung ke arah titik asal (angka 0), yang memperlihatkan jikalau konsumen menambah konsumsi satu unit barang, jumlah barang lain yang dikorbankan semakin kecil. Dalam analisis ilmu ekonomi hal ini sering disebut sebagai tingkat substitusi marginal (marginal rate of substitution atau MRS), yaitu tingkat ketika barang X bisa disubstitusikan dengan barang Y dengan tingkat utilitas yang tetap.
c) Kurva indiferen tidak saling berpotongan.
d) Jika kombinasi barang yang dikonsumsi mempunyai kualitas yang semakin banyak, maka akan menawarkan utilitas yang semakin tinggi yang ditunjukan oleh kurva indiferen yang semakin menjauhi titik 0.

Kurva indiferen digagas pertama kali oleh ekonom kelahiran Irlandia, Francis Edgeworth (1845-1926) dan ekonom kelahiran Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923). Mereka berdua menyatakan bahwa pendekatan ordinal seharusnya membentuk basis analisis ekonomi ketimbang pendekatan kardinal. Edgeworth dan juga Pareto membuatkan perangkat analisis yang kini disebut kurva indeferen (indifference curve).

Contoh Soal SPMB 2004 1 :

Kurva indiferen

1. menurun dari kiri ke kanan bawah
2. cembung ke arah titik origin
3. memperlihatkan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen
4. tidak akan saling berpotongan

Yang memperlihatkan ciri kurva indiferen ialah ....

a. 1 dan 2 d. 2 dan 4
b. 1 dan 3 e. 1 dan 4
c. 2 dan 3

Penyelesaian:

ciri-ciri kurva indiferen :

1. berbentuk cembung terhadap sumbu ordinat
2. gradien negatif
3. tidak saling berpotongan
4. semakin jauh kurva tersebut menggambarkan utilitas yang semakin tinggi

Jawaban : E

2) Garis Anggaran ( Budget Line)

Adanya keterbatasan pada pendapatan akan membatasi pengeluaran konsumen untuk mengonsumsi sejumlah barang. Hal ini digambarkan dalam garis anggaran ( budget line), yaitu garis yang memperlihatkan banyak sekali kombinasi dari dua macam barang yang berbeda oleh konsumen dengan pendapatan yang sama. 

Persamaan garis anggaran adalah: 

I = Px.X + Py.Y

Misalnya seorang konsumen mengonsumsi barang X dan Y, harga barang X (Px) dan harga barang Y (Py) ialah Rp1.000,00 dan pendapatan konsumen (I) pada ketika itu ialah Rp10.000,00 dan semuanya dibelanjakan untuk barang X dan Y.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Kurva 3. Garis Anggaran Barang X dan Barang Y.
Jika konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang Y, ia sanggup membeli sebanyak 10 unit barang X  , hal tersebut ditunjukkan oleh titik A. Sebaliknya jikalau konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang X, ia sanggup membeli sebanyak 0 unit barang Y  , ditunjukkan oleh titik B. Menghubungkan titik A dan B dengan suatu garis lurus sanggup diperoleh garis anggaran AB yang memperlihatkan kombinasi yang berbeda dari dua jenis barang yang sanggup dibeli konsumen dengan tingkat pendapatan yang terbatas. Selanjutnya untuk mengetahui pada ketika kapan konsumen optimalisasi dalam mengkonsumsi secara optimal, yaitu pada ketika kurva indiferen (IC2) bersinggungan dengan garis anggaran (AB), terjadi di titik (E).

Adapun kurva indiferen (IC1) dan kurva indiferen (IC3) merupakan kurva yang tidak dibutuhkan oleh konsumen, alasannya ialah kurva-kurva tersebut tidak memperlihatkan keseimbangan barang dan jasa yang dikonsumsi.

c. Perilaku Produsen dalam Kegiatan Produksi


Produksi merupakan hasil simpulan dari proses kegiatan produksi atau acara ekonomi dengan memanfaatkan beberapa input (faktor produksi). Secara teknis kegiatan produksi dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa input untuk menghasilkan sejumlah output. Hubungan teknis antara input dan output dalam proses produksi dinamakan fungsi produksi. Fungsi produksi ialah suatu persamaan yang memperlihatkan jumlah maksimum yang dihasilkan dengan mengkombinasikan input atau faktor produksi tertentu. Hubungan antara input dan output diformulasikan dalam sebuah fungsi produksi secara matematis sebagai berikut.

Q = f (R, L, , E ….)

Di mana: 

Q = Output
R = Sumber daya alam (resources)
L = Tenaga Kerja (labor)
K = Modal (capital)
E = Keahlian atau kewirausahaan (entrepreneurship)

Apabila input yang dipergunakan dalam proses produksi hanya terdiri atas input tetap (modal) dan input variabel (tenaga kerja), formula persamaan matematisnya sebagai berikut. 

Q = f (, L)

Fungsi produksi di atas memperlihatkan maksimum output yang sanggup diproduksi dengan memakai pilihan kombinasi dari Modal () sebagai input tetap dan tenaga kerja (L) sebagai input variabel. Apabila kedua input yang dipakai ialah input variabel, disebut produksi jangka panjang dan ditulis sebagai berikut.

Q = f (, L)

Dari sebuah fungsi produksi jangka pendek, sanggup dipelajari tiga konsep penting dalam produksi. Ketiga konsep tersebut ialah sebagai berikut.

a) Produk total (Total Product atau TP) memperlihatkan total output yang diproduksi.
b) Produk marjinal (Marginal Product atau MP) memperlihatkan embel-embel produk atau output yang diakibatkan oleh pertambahan satu unit input (dalam hal ini tenaga kerja), dengan menganggap faktor lainnya konstan (ceteris paribus). Secara matematis ditulis sebagai berikut.
c) Produk rata-rata (Average Product atau AP) memperlihatkan output total dibagi dengan unit total input (tenaga kerja). Secara matematis ditulis sebagai berikut.
Dari klarifikasi di atas maka sanggup dibentuk tahap-tahap kurva produksi sebagai berikut.

Tahap produksi dilaksanakan dalam beberapa tahap.
  1. Tahap I : dimulai dari tenaga kerja (L)=0 hingga MP=AP atau AP maksimum.
  2. Tahap II : dimulai dari MP=AP atau AP maksimum hingga MP=0 atau TP maksimum.
  3. Tahap III : dimulai dari MP=0 ke kanan.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Kurva 4. Produk Total dan Produk Marjinal.
Kurva produksi jangka pendek berbentuk menyerupai gunung alasannya ialah berlakunya aturan pertambahan hasil yang semakin menurun ( law of diminishing returns), yang menyatakan bahwa apabila faktor produksi K tetap, semakin banyak faktor produksi L ditambah, awalnya hasil produksi akan bertambah, mencapai maksimum, dan selanjutnya menurun. law of diminishing returns terjadi secara berturut-turut pada MP, AP, dan TP. Pentahapan produksi I, II, dan III ditentukan menurut pola pikir rasional, yang sanggup dijelaskan pada Tabel 3.

Tahap
Faktor
Produksi L
TPL
Ada/Tidak
Eksternalitas
Rasional/
Tidak Rasional
Tahap I
Ditambah
Bertambah
Ada
Tidak Rasional
Tahap II
Ditambah
Bertambah
Tidak Ada
Rasional
Tahap III
Ditambah
Berkurang
Ada
Tidak Rasional

Tahap Produksi II ialah tahap produksi yang akan dipakai produsen yang rasional untuk melaksanakan produksinya alasannya ialah (1) jikalau produsen menambah L ia akan memperoleh embel-embel output (TPL), dan (2) seluruh proses produksi sepenuhnya berada dalam pengendaliannya alasannya ialah tidak ada eksternalitas yang mengganggu jalannya proses produksi.

B. Circular Flow Diagram (Diagram Arus Kegiatan Ekonomi)


1. Perekonomian Dua Sektor


Dalam circular flow diagram dijelaskan mengenai diagram aliran pendapatan pada perekonomian tertutup yang hanya melibatkan dua pelaku kegiatan ekonomi. Untuk lebih jelasnya perhatikan Bagan 1. berikut.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Bagan 1. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Dua Sektor.

Dari Bagan 1. terlihat bahwa sektor rumah tangga konsumen akan menjual faktor produksi pada sektor perusahaan (rumah tangga produsen) semoga memperoleh pendapatan. Dalam hal ini, sektor rumah tangga konsumen akan menawarkan faktor produksi menyerupai tanah, tenaga kerja, modal atau keahlian pada perusahaan (garis a). Sebagai tanggapan atas faktor produksi yang diberikan oleh sektor rumah tangga, maka sektor perusahaan akan me mberikan balas jasa berupa sewa untuk tanah, upah atau honor bagi tenaga kerja, bunga atau sewa untuk modal dan laba bagi keahlian (garis b).

Setelah sektor rumah tangga memperoleh balas jasa atas faktor produksi yang mereka jual kepada perusahaan, maka sektor rumah tangga mempunyai pendapatan yang siap untuk dibelanjakan (yaitu pendapatan sesudah dikurangi tabungan dan pajak) pada sektor perusahaan, berupa pembelian barang dan jasa (garis c bawah). Kemudian sektor rumah tangga produsen akan menyerahkan barang dan jasa tersebut kepada sektor rumah tangga konsumen (garis d).

2. Perekonomian Tiga Sektor


Diagram aliran interaksi perekonomian tiga sektor dijelaskan dalam Bagan 2. 

Perhatikan Bagan 2. berikut.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Bagan 2. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Tiga Sektor.
Dalam teori ekonomi makro, komponen tabungan (S: Saving), pajak (T: Tax) dan impor (M: Import) merupakan kebocoran (leakages) bagi siklus aliran pendapatan alasannya ialah jikalau ditambah menyebabkan penurunan pendapatan nasional. Sedangkan investasi (I: Investment), pengeluaran pemerintah (G: Goverment) dan ekspor (X: Eksport) merupakan suntikan (injections) dalam siklus aliran pendapatan, alasannya ialah jikalau ditambah akan meningkatkan pendapatan nasional.

3. Perekonomian Empat Sektor


Diagram aliran interaksi perekonomian empat sektor dijelaskan dalam Bagan 3. Perhatikan Bagan 3. berikut.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibentuk Pintar Pelajaran Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi
Bagan 3. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Empat Sektor.
Dari Bagan 1, Bagan 2, dan Bagan 3. sanggup dilihat perbedaan interaksi antarpelaku ekonomi dalam perekonomian sederhana (Bagan 1), perekonomian tertutup (Bagan 2), dan perekonomian terbuka (Bagan 3). Hampir semua negara di dunia pada ketika ini melaksanakan interaksi dengan negara lain, sehingga interaksi ekonomi juga melibatkan sektor luar negeri. Sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah merupakan perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy) jikalau tidak melaksanakan interaksi dengan sektor luar negeri. Adapun perekonomian suatu negara dikatakan terbuka (open economy) apabila terjadi interaksi dengan sektor luar negeri yang ditandai dengan adanya prosedur ekspor dan impor. Ekspor merupakan aliran pendapatan dari perekonomian luar negeri ke perekonomian domestik. Adapun impor merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestik ke perekonomian luar negeri.

C. Peran Konsumen dan Peran Produsen


Telah diketahui bahwa sumber alat pemuas kebutuhan yang tersedia di bumi terbatas jumlahnya. Oleh alasannya ialah itu, dalam melaksanakan kegiatan ekonomi, baik yang berkaitan dengan perjuangan menghasilkan maupun memakai alat pemuas kebutuhan insan harus selalu bertindak hemat atau hemat. Artinya, setiap penggunaan sumber daya alam dan alat pemuas kebutuhan harus sanggup menghasilkan kepuasan maksimal bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Dalam melaksanakan tindakan ekonomi, insan harus selalu mempertimbangkan perbandingan antara pengorbanan dan hasil yang akan dicapai, perbandingan yang rasional antara pengorbanan dan hasil tersebut, sesuai dengan prinsip ekonomi. Pada dasarnya, prinsip ekonomi merupakan pedoman bagi insan atau pelaku ekonomi dalam melaksanakan kegiatan ekonomi untuk mencapai hasil maksimal dengan sumber daya yang terbatas.

Di dalam kegiatan ekonomi, konsumen berperan sebagai pengguna atau pemakai barang maupun jasa yang dihasilkan oleh pelaku ekonomi yang lain. Di samping sebagai pengguna barang atau jasa, konsumen juga sanggup berperan sebagai penyedia faktor produksi (tanah atau sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal), baik untuk produsen, pemerintah, maupun masyarakat luar negeri.

Adapun produsen sendiri berperan sebagai penghasil dan penyalur barang maupun jasa hingga hingga ke tangan konsumen. Dalam menghasilkan barang dan jasa tersebut, produsen memerlukan faktor produksi dari konsumen, pemerintah, maupun masyarakat luar negeri.

Pada kenyataannya, baik konsumen maupun produsen akan berperilaku sesuai prinsip ekonomi. Artinya, konsumen akan mengorbankan uangnya untuk membeli barang dengan kualitas yang paling baik dan tingkat harga serendah mungkin. Begitu pun produsen, ia akan selalu menjual harga produk setinggi mungkin semoga memperoleh laba maksimal.

Perilaku konsumen biasanya didasarkan pada selera dan tingkat pendapatan. Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi faktor selera sangat menghipnotis konsumsi seseorang terhadap suatu barang. Di samping itu, konsumen yang berakal mengatur keuangannya, akan mempertimbangkan tingkat pendapatannya dalam mengonsumsi suatu barang. Seseorang yang berpendapatan rendah akan membeli barang yang tidak terlalu mahal dan seseorang yang berpenghasilan tinggi tidak terlalu konsumtif terhadap barang yang harganya mahal.

Dari sisi produsen, seorang produsen akan berperilaku yang didasarkan pada motif mengambil laba optimum. Produsen akan mempertimbangkan cara memproduksi barang dengan biaya sekecil-kecilnya. Sumber materi baku diusahakan akrab dengan lokasi perusahaan semoga sanggup menekan biaya transportasi. Bahan pengemas produk diusahakan materi dengan harga murah semoga sanggup menghemat biaya. Hal-hal tersebut akan selalu dilakukan produsen untuk memperoleh laba yang maksimal.

Rangkuman :
  1. Utilitas diartikan sebagai utilitas atau nilai guna subjektif yang dirasakan oleh seseorang dari mengonsumsi suatu barang dan jasa.
  2. Terdapat banyak sekali bentuk utilitas antara lain utilitas tempat, bentuk, waktu, kepemilikan dan pelayanan.
  3. Utilitas suatu barang atau jasa sanggup dianalisis dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.
  4. Menurut pendekatan kardinal, utilitas suatu barang dan jasa sanggup diukur dengan satuan util dan tinggi rendahnya utilitas hanya sanggup diukur oleh orang yang bersangkutan.
  5. Utilitas total ialah utilitas yang dinikmati konsumen dalam mengonsumsi sejumlah barang atau jasa tertentu secara keseluruhan.
  6. Utilitas marjinal ialah pertambahan utilitas yang dinikmati oleh konsumen dari setiap embel-embel barang dan jasa yang dikonsumsi.
  7. Menurut pendekatan ordinal, utilitas suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen bisa menciptakan urutan tinggi rendahnya utilitas yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang atau jasa.
  8. Menurut Hukum Gossen I, jumlah embel-embel utilitas yang diperoleh konsumen akan semakin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari barang atau jasa tersebut.
  9. Menurut Hukum Gossen II, konsumen akan melaksanakan konsumsi sedemikian rupa sehingga rasio utilitas marjinal harga setiap barang atau jasa yang dikonsumsi besarnya sama.
  10. Kurva indiferen ialah kurva yang memperlihatkan kombinasi dua macam barang konsumsi yang menawarkan tingkat utilitas yang sama.
  11. Garis anggaran ( budget line), yaitu garis yang memperlihatkan banyak sekali kombinasi dari dua macam barang yang dibeli oleh konsumen dengan pen dapatan yang sama.
  12. Circular flow diagram ialah sebuah model yang menggambarkan bagaimana interaksi antar pelaku ekonomi menghasilkan pendapatan yang dipakai sebagai pengeluaran dalam upaya memaksimalkan utilitas (utility) masing-masing pelaku ekonomi.
  13. Seorang konsumen dikatakan berada dalam kondisi keseimbangan, apabila dengan batasan pendapatan dan harga tertentu ia sanggup memaksimalkan utilitas totalnya.
  14. Secara sederhana, produksi diartikan sebagai persamaan yang memperlihatkan jumlah maksimum yang dihasilkan dengan mengombinasi input atau faktor produksi tertentu.
  15. Fungsi produksi ialah suatu persamaan yang memperlihatkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input atau faktor produksi tertentu.
  16. Hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang menyatakan bahwa apabila faktor produksi terus ditambah, hasil produksi akan meningkat hingga titik tertentu, namun kemudian pertambahan itu semakin menurun.
Referensi :

Arifin, I. 2009. Membuka Cakrawala Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 170.

Pintar Pelajaran Pengertian Dan Tugas Pelaku Ekonomi, Acara Ekonomi Kelompok Masyarakat

Pengertian dan Peran Pelaku Ekonomi, Kegiatan Ekonomi Kelompok Masyarakat - Perekonomian Indonesia yang menganut sistem ekonomi kerakyatan menuntut tugas dari semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah guna mencapai tujuan utama yaitu ekonomi kerakyatan. Dalam ilmu ekonomi, kegiatan-kegiatan ekonomi dilakukan atau dijalankan oleh lima pelaku utama sebagai berikut.

1. Rumah Tangga


Rumah tangga yang dimaksudkan ialah rumah tangga konsumsi yaitu baik individu maupun kelompok yang bertujuan untuk menggunakan atau menggunakan barang atau jasa. Dalam rumah tangga keluarga mempunyai faktor produksi berupa tenaga kerja dan modal. Faktor produksi ini oleh rumah tangga keluarga dijual kepada rumah tangga perusahaan dengan memperoleh kompensasi atau imbalan berupa upah dan honor serta bunga dan sewa.

Kelompok rumah tangga melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut.
  1. Menerima penghasilan dari para produsen / perusahaan yang berupa sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba.
  2. Menerima penghasilan dari forum keuangan berupa bunga atas simpanan-simpanan mereka.
  3. Menjalankan penghasilan tersebut di pasar barang (sebagai konsumen).
  4. Menyisihkan sisa dari penghasilan tersebut untuk ditabung pada lembaga-lembaga keuangan.
  5. Membayar pajak kepada pemerintah.
  6. Masuk dalam pasar uang sebagai pembeli, alasannya kebutuhan mereka akan uang tunai untuk transaksi sehari-hari.

1.1. Peran Rumah Tangga Konsumen (RTK) [1]


Peranan dan aktivitas yang dilakukan oleh rumah tangga konsumen tidak terlepas dari sumber daya yang dimiliki dan sumbangannya dalam interaksi ekonomi.

Peran rumah tangga konsumen antara lain:

1.1.1. Penyedia atau Pemilik Faktor Produksi

Kelompok rumah tangga konsumen berperan sebagai penyedia dan pemilik faktor produksi yang dibutuhkan produsen untuk menghasilkan barang dan jasa. Faktor produksi yang disediakan oleh rumah tangga konsumen, yaitu:

a) Sumber daya alam.
b) Tenaga kerja.
c) Modal usaha.
d) Kewirausahaan.

1.1.2. Mendapat Imbalan (Balas Jasa)

Sebagai pemasok atau pemilik faktor produksi, rumah tangga konsumen berhak mendapatkan balas jasa. Balas jasa yang diterima yaitu:

a) Pemilik tanah mendapatkan uang sewa.
b) Pemilik modal mendapatkan bunga modal.
c) Tenaga kerja mendapatkan upah atau gaji.
d) Kewirausahaan mendapatkan bab keuntungan.

1.1.3. Bertindak sebagai Konsumen

Kelompok rumah tangga konsumen merupakan kelompok masyarakat yang kegiatannya menghabiskan dan/atau mengurangi nilai guna barang serta jasa. Pendapatan yang diperoleh dari penyediaan faktor produksi di atas akan dibelanjakan dalam bentuk barang dan jasa. Selain itu, rumah tangga konsumsi mengeluarkan uang untuk menabung atau membayar pajak kepada pemerintah.

1.2. Mengelola Ekonomi Rumah Tangga


Ada dua segi duduk perkara ekonomi yang dihadapi rumah tangga keluarga, yaitu penghasilan dan pengeluaran. Penghasilan menjadi duduk perkara alasannya selalu kurang. Dan pengeluaran menjadi duduk perkara alasannya selalu berubah terus. Maka, tantangan yang dihadapi dalam mengelola ekonomi rumah tangga ialah pertama, bagaimana mendapatkan penghasilan yang cukup untuk hidup, atau bagaimana mencari uang. Dan kedua, bagaimana mendayagunakan semaksimal mungkin setiap rupiah yang dimiliki sehingga Anda tahu berapa uang Anda, dari mana didapat dan digunakan untuk apa saja, dan juga bisa menyisihkan untuk ditabung, tanpa terlibat dalam utang yang tidak produktif.

Pengelolaan ekonomi rumah tangga yang realistis intinya menyangkut perilaku mental, yang terlihat dari cara bertindak ekonomis, hemat, sempurna guna, dan berencana, rela bekerja, dan bersedia mengubah perilaku boros. Mampu mengatur ekonomi rumah tangga keluarga berarti:
  1. Mampu mengatur pengeluaran sesuai dengan keadaan keuangan yang ada dan planning atau anggaran yang telah disusun.
  2. Mampu memilih pilihan atau seleksi atas kebutuhan-kebutuhannya, mana yang betul-betul dibutuhkan dikala ini maupun dikala mendatang, mana yang tidak atau kurang mendesak.
  3. Mampu mengadakan tabungan untuk harapan serta kebutuhan masa mendatang yang sudah direncanakan.
  4. Mampu mengatur keuangan sehingga tidak terjebak utang atau membeli secara kredit.
  5. Mampu menyusun target, menyusun agenda kerja dan anggaran.

2. Perusahaan / Produsen


Perusahaan atau rumah tangga perusahaan ialah setiap bentuk perjuangan yang menjalankan setiap jenis perjuangan yang bersifat tetap dan terus-menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan laba.

Kelompok perusahaan atau produsen melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut.
  1. Memproduksi dan menjual barang-barang atau jasa-jasa, yakni sebagai pemasok (supplier) di pasar barang.
  2. Menyewa atau menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga konsumsi untuk proses produksi.
  3. Menentukan pembelian barang-barang modal dan stok barang yang lain.
  4. Meminta kredit dari forum keuangan untuk membiayai investasi mereka atau pengembangan perjuangan mereka.
  5. Membayar pajak atas penjualan barang hasil produksinya.

2.1. Peran Rumah Tangga Produsen (RTP) [1]


Rumah tangga produsen merupakan kelompok masyarakat yang melaksanakan aktivitas produksi. Rumah tangga produsen sering disebut perusahaan, yang terdiri atas perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Kegiatan rumah tangga produsen berkaitan bersahabat dengan kelompok pelaku ekonomi lain terutama rumah tangga konsumen. Peran rumah tangga produsen antara lain:

2.1.1. Sebagai Penghasil Barang dan Jasa

Barang dan jasa yang dihasilkan oleh rumah tangga produsen kemudian disalurkan ke beberapa kelompok pelaku ekonomi lain, yaitu ke:
  1. Rumah tangga konsumen, baik secara eksklusif maupun melalui distributor dalam aktivitas jual beli.
  2. Pemerintah atau rumah tangga negara yang membutuhkan alat-alat atau barang untuk keperluan jalannya pemerintahan. Penyaluran ini sanggup terjadi di pasar barang atau secara langsung.
  3. Masyarakat luar negeri, yaitu negara-negara abnormal yang membeli barang dan jasa negara kita.
  4. Perusahaan lain yang terkait dengan produksi, contohnya perusahaan pemintalan benang memasok materi baku bagi perusahaan tekstil. Kegiatan ini terjadi di pasar barang atau melalui kolaborasi langsung.
2.1.2. Sebagai Pengguna Faktor Produksi

Agar bisa membuat atau menambah nilai guna barang dan jasa, produsen memerlukan banyak sekali faktor produksi ibarat sumber daya alam atau materi baku, modal, tenaga kerja, dan keahlian. Faktor-faktor tersebut disediakan oleh rumah tangga konsumen. Untuk itu, produsen harus memperlihatkan balas jasa atau imbalan kepada rumah tangga konsumen dalam bentuk sewa, upah, bunga modal, dan pembagian laba. Misalnya, produsen kain batik membutuhkan kain, pewarna, canting, tenaga kerja, dan tempat usaha. Maka ia juga bersedia mengeluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan produsen untuk mendapatkan faktor produksi disebut biaya produksi.

2.1.3. Sebagai Penggerak Kegiatan Ekonomi

Selain berperan dalam menghasilkan barang dan jasa, aktivitas rumah tangga produsen merupakan aktivis aktivitas ekonomi. Adanya aktivitas produksi akan membuat seruan terhadap materi baku, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan sehingga pada kesudahannya meningkatkan balas jasa yang diterima masyarakat dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat.

3. Pemerintah


Dalam sistem demokrasi ekonomi di Indonesia, pemerintah memegang peranan penting dalam aktivitas ekonomi yang ditujukan untuk memilih kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi. Kebijakan pemerintah tersebut dalam rangka memakmurkan rakyat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Adapun kebijakan pemerintah di bidang ekonomi antara lain sebagai berikut.
  1. Kebijakan fiskal, ialah kebijakan pemerintah yang bekerjasama dengan pendapatan dan pengeluaran negara, atau yang bekerjasama dengan anggaran pendapatan dan belanja negara.
  2. Kebijakan moneter, ialah kebijakan pemerintah untuk mengatur jumlah peredaran uang dan menjamin kestabilan nilai uang, semoga tidak terjadi inflasi.
  3. Kebijakan keuangan internasional, yaitu tindakan yang diambil pemerintah di bidang keuangan dalam hubungannya dengan dunia internasional, baik perdagangan internasional maupun kolaborasi ekonomi internasional.
Kegiatan ekonomi yang dilakukan pemerintah antara lain berupa:
  1. menarik pajak eksklusif dan pajak tidak langsung,
  2. membelanjakan penerimaan negara untuk membeli barang-barang kebutuhan pemerintah,
  3. meminjam uang dari luar negeri,
  4. menyewa tenaga kerja, dan
  5. menyediakan kebutuhan uang kartal bagi masyarakat.

3.1. Peran Rumah Tangga Negara (RTN) [1]


Pemerintah berkewajiban untuk mengatur perekonomian dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mencegah terjadinya kekacauan dan hal-hal yang sanggup menjadikan kerugian bagi rakyat banyak. Jadi, secara eksklusif atau tidak eksklusif pemerintah berperan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Bentuk tugas pemerintah tersebut antara lain:

3.1.1. Mengatur Kegiatan Ekonomi

Pemerintah sanggup mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan aktivitas ekonomi melalui banyak sekali kebijakan, peraturan, undang-undang, dan pengawasan secara eksklusif di lapangan.

Beberapa tindakan dan tugas rumah tangga pemerintah dalam aktivitas ekonomi antara lain:
  1. Membuat perencanaan ekonomi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang untuk mengarahkan kehidupan ekonomi ke kondisi yang diinginkan.
  2. Menyediakan sarana dan prasarana publik untuk mendukung kebutuhan fisik dan nonfisik masyarakat. Sarana pemenuhan kebutuhan fisik, contohnya jalan raya, bandar udara, jembatan, terminal, dan jaringan listrik. Sedangkan sarana pemenuhan kebutuhan nonfisik contohnya sekolah, rumah sakit, dan pertahanan keamanan.
  3. Menetapkan peraturan untuk mengatur, melindungi, atau mengarahkan aktivitas konsumsi, produksi, dan distribusi semoga sesuai dengan agenda pembangunan. Misalnya untuk melindungi kepentingan buruh dan pengusaha, pemerintah harus merancang undang-undang ketenagakerjaan yang berpihak pada keduanya.
  4. Pengawasan jalannya perekonomian, contohnya pada dikala terjadi kelangkaan minyak tanah pemerintah perlu mengawasi distribusi di lapangan semoga pasokan minyak tanah tidak terhambat.
  5. Menjaga stabilitas harga (mengendalikan inflasi).
  6. Mengadakan bimbingan dan penyuluhan kepada pelaku ekonomi yang masih lemah usahanya atau bagi pengusaha pemula.
  7. Menyediakan kebutuhan pokok ibarat materi makanan dan materi bakar.
  8. Menentukan kebijaksanaan yang terkait dengan sektor luar negeri.
3.1.2. Peran Pemerintah sebagai Konsumen

Untuk menjalankan rumah tangga negara, pemerintah memerlukan barang dan jasa dari rumah tangga perusahaan. Misalnya, untuk keperluan dinas, pemerintah memerlukan banyak sekali peralatan dan perlengkapan kantor. Selain itu, untuk kesejahteraan masyarakat, pemerintah melalui anggaran belanja negara akan membiayai penyediaan sarana publik ibarat sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, transportasi umum, telekomunikasi, dan lain-lain. Dari citra tersebut, pemerintah berperan sebagai konsumen alasannya sifatnya menghabiskan atau mengurangi nilai guna barang dan jasa.

3.1.3. Peran Pemerintah sebagai Produsen

Selain sebagai konsumen dan pengatur aktivitas ekonomi, pemerintah juga berperan sebagai produsen. Kegiatan produksi pemerintah dikhususkan pada barangbarang yang menguasai hajat hidup orang banyak, ibarat produksi listrik, air, dan sumber energi. Meskipun demikian, aktivitas produksi pemerintah tidak harus dilakukan sendiri oleh pemerintah. Pemerintah sanggup menunjuk perusahaan-perusahaan negara contohnya PT Telkom, PT PLN dan juga menunjuk investor abnormal untuk menjalankan aktivitas produksi. Selain berperan sebagai produsen untuk barang-barang vital, pemerintah berperan dalam mendistribusikan barang dan jasa ke konsumen melalui tubuh urusan logistik/Bulog.

4. Lembaga-Lembaga Keuangan


Lembaga keuangan yang dimaksud ialah bank atau forum keuangan bukan bank yang melaksanakan aktivitas keuangan untuk memperlancar jalannya perekonomian suatu negara. 

Kelompok forum keuangan melaksanakan aktivitas pokok antara lain:
  1. menerima simpanan/deposito dari rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen,
  2. menyediakan kredit kepada perusahaan/produsen untuk berbagi usahanya (investasi), dan
  3. menyediakan uang giral untuk melaksanakan transaksi keuangan.

5. Masyarakat Luar Negeri


Suatu negara tidak akan sanggup mencukupi kebutuhan dengan memproduksi barang sendiri, tanpa adanya dukungan atau kekerabatan dengan negara lain. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi tersebut diharapkan peranan masyarakat luar negeri, sehingga aktivitas ekonominya juga sangat dipengaruhi oleh dunia internasional. Kaprikornus aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat luar negeri ialah aktivitas ekonomi internasional, mencakup segala aktivitas mengenai kekerabatan ekonomi antarnegara, baik mengenai perdagangan internasional maupun kemudian lintas pembayaran internasional, serta kolaborasi ekonomi regional dan internasional.

Berikut ini ialah aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat luar negeri.
  1. Menyediakan kebutuhan barang impor.
  2. Membeli hasil-hasil barang ekspor suatu negara.
  3. Menyediakan kredit untuk pemerintah dan swasta dalam negeri.
  4. Masuk ke dalam pasar uang dalam negeri sebagai penyalur uang (devisa) dari luar negeri, peminta kredit, dan uang kartal rupiah untuk kebutuhan cabang-cabang perusahaan mereka di Indonesia.
  5. Sebagai penghubung pasar uang dalam negeri dengan pasar uang luar negeri.

5.1. Peran Masyarakat Luar Negeri [1]


Masyarakat luar negeri merupakan pelaku ekonomi yang penting. Berbagai bentuk kolaborasi dalam bidang ekonomi sanggup dilakukan dengan masyarakat luar negeri. Selain itu, masyarakat luar negeri berperan dalam menyediakan sumber daya produksi maupun barang dan jasa yang tidak sanggup disediakan sendiri oleh suatu negara. Misalnya suatu negara yang mengalami kekurangan modal untuk aktivitas investasi, sanggup meminjam dari negara lain. Atau ketika produksi minyak tidak sanggup mencukupi kebutuhan dalam negeri, maka negara tersebut mengimpor dari negara kawan dagangnya.

Di sisi lain, masyarakat luar negeri juga berperan menjadi pasar bagi produk-produk ekspor dalam negeri. Perluasan pasar ke luar negeri ini akan meningkatkan efisiensi perjuangan alasannya terpenuhinya skala produksi yang ekonomis. Pada akhirnya, keuntungan perusahaan di dalam negeri meningkat. Hubungan dengan masyarakat luar negeri tersebut berkaitan dengan perdagangan internasional (ekspor impor), yaitu adanya kelompok pelaku ekonomi yang bertindak sebagai pembeli dan adanya kelompok pelaku yang bertindak sebagai penjual.

Contoh aktivitas yang dilakukan oleh pelaku ekonomi di sektor luar negeri antara lain:

5.1.1. Ekspor Impor Barang

Kegiatan ekspor dan impor barang berlangsung alasannya sumber daya produksi yang dimiliki antarnegara tidak merata dan terbatas jumlahnya. Selain itu, setiap negara mempunyai perbedaan tingkat kapasitas produksi baik secara kuantitas, kualitas, maupun jenis produksinya. Misalnya negara Indonesia membutuhkan gandum, tetapi tanaman gandum tidak bisa dibudidayakan di tanah air sehingga harus mengimpor gandum dari negara penghasil gandum. Atau mungkin negara Indonesia bisa melaksanakan ekspor rempah-rempah ke negara-negara Eropa alasannya rempah-rempah tidak bisa dibudidayakan di Eropa.

5.1.2. Ekspor Impor Jasa

Untuk mengekspor atau mengimpor barang diharapkan jasa-jasa. Contoh jasa dalam perdagangan internasional di antaranya jasa keuangan untuk pembayaran internasional, jasa pengangkutan dan penggudangan, serta jasa asuransi untuk mengurangi risiko dalam pengiriman barang ke luar negeri. Kegiatan lain yang termasuk dalam ekspor dan impor jasa ialah aktivitas pariwisata. Wisatawan abnormal yang berkunjung di Indonesia akan menggunakan jasa kemudahan (penginapan), jasa agen wisata, dan jasa transportasi. Sedangkan apabila penduduk Indonesia berkunjung ke luar negeri dan menggunakan jasa perjalanan abnormal maka dikatakan kita mengimpor jasa dari luar negeri.

5.1.3. Aliran Modal

Negara-negara berkembang ibarat Indonesia pada umumnya mengalami duduk perkara kekurangan modal. Hal ini sanggup diatasi apabila masyarakat dari suatu negara menanamkan modalnya di suatu negara untuk mengelola usaha. Anda bisa melihat perkembangan perusahaan-perusahaan abnormal di Indonesia yang telah berkembang dengan pesat. Kondisi ini membawa banyak manfaat di antaranya sanggup membuka lapangan kerja gres dan menambah aktivitas ekonomi.

5.1.4. Pertukaran Tenaga Kerja

Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di dunia mempunyai tenaga kerja yang berlimpah. Keterbatasan lapangan kerja di dalam negeri mengharuskan sebagian tenaga kerja tersebut disalurkan ke luar negeri. Namun alasannya rendahnya kualitas sumber daya manusia, kita hanya bisa mengirimkan tenaga kerja bergairah ibarat buruh industri, buruh perkebunan, dan pembantu rumah tangga. Sementara itu, negara kita masih kekurangan tenaga kerja jago dalam mengelola sumber daya, contohnya untuk bidang pengeboran minyak, teknologi komunikasi, dan di bidang keuangan. Dari uraian tersebut Anda sanggup menyimpulkan bahwa telah terjadi pertukaran tenaga kerja antara negara kita dengan negara lain.

Masyarakat ekonomi luar negeri intinya merupakan pelaku ekonomi yang bekerjasama dengan transaksi luar negeri. Transaksi luar negeri higienis (neto) akan memengaruhi tingkat dan komposisi aktivitas ekonomi domestik dan keadaan pembayaran negara. Selain itu, aktivitas ekspor dan impor serta tinggi rendahnya kurva valuta abnormal (dolar) besar lengan berkuasa besar terhadap aktivitas ekonomi nasional, produksi, tingkat harga, peredaran uang, dan kesempatan kerja. Namun, apabila masyarakat ekonomi dalam negeri akan melaksanakan kolaborasi dengan masyarakat luar negeri dalam bentuk ekspor impor harus mendapat izin dari rumah tangga negara (pemerintah). Karena kekerabatan ekonomi dengan masyarakat luar negeri menyangkut bidang yang sangat luas, yang terang memengaruhi kepentingan nasional sehingga pemerintah tidak sanggup tinggal membisu saja. Campur tangan pemerintah berkaitan dengan transaksi luar negeri ialah dengan cara aktif mengatur dan mengawasinya.

Hubungan kerjasama dengan luar negeri dalam bidang ekonomi sanggup berupa: [2]

a. Perdagangan (Ekspor ke luar negeri dan Impor ke dalam negeri)

b. Kerjasama Regional (satu kawasan) seperti:
  1. ASEAN (Association of South East Asian Nation) atau Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara.
  2. AFTA (Asean Free Trade Area) atau Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN.
  3. Proyek SIJORI (Singapura, Johor dan Riau).
  4. EEC (Europe Economy Community) atau Masyarakat Ekonomi Eropa.
c. Kerjasama Multilateral (dari banyak sekali kawasan), ibarat IMF (International Monetary Fund = Dana Moneter Internasional), World Bank (Bank Dunia).

Referensi :

Nurcahyaningtyas. 2009. Ekonomi : Untuk Kelas X SMA/MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 322.

Referensi Lainnya :

[1] Ismawanto. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 210.

[2] Eko, Y. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 218.

Pintar Pelajaran Pengertian Distribusi, Tujuan, Fungsi, Saluran, Faktor Yang Menghipnotis Aktivitas Distribusi, Ekonomi

Pengertian Distribusi, Tujuan, Fungsi, Saluran, Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Distribusi, Ekonomi - Kalian niscaya pernah melihat seseorang yang membawa barang tertentu untuk ditawarkan kepada pembeli, pola menyerupai tukang sayur, tukang bakso dan tukang sate. Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut merupakan kegiatan distribusi.

A. Pengertian Distribusi


Distribusi yakni kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat distribusi barang dan jasa sanggup hingga ke tangan konsumen. Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat sesudah sanggup dikonsumsi.

Dari apa yang gres saja diuraikan sanggup disimpulkan bahwa distribusi yakni semua kegiatan yang ditujukan untuk menyalurkan barang dan/atau jasa dari produsen ke konsumen. Orang yang melaksanakan kegiatan distribusi disebut distributor.

Ada tiga jenis susukan distribusi, yaitu:

a. Saluran distribusi langsung

Produsen → Konsumen

Contoh: petani sayur menjual sayuran di pasar.

b. Saluran distribusi semi langsung

Produsen → Perantara → Konsumen

Contoh: Penerbit buku menjual bukunya melalui sales.

c. Saluran distribusi tidak langsung

Produsen → Pedagang Besar → Pedagang Kecil → Pedagang Eceran → Konsumen

Contoh: Pabrik televisi menjual televisi kepada konsumen melalui pedagang barang elektronik yang mengambil/membeli dari biro atau perwakilan dagang pabrik televisi tersebut.

B. Fungsi Utama Distribusi 


Yang dimaksud dengan fungsi utama / pokok yakni tugas-tugas yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dalam hal ini fungsi pokok distribusi meliputi:

1) Pengangkutan (Transportasi)


Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat tinggal konsumen, perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan pengangkutan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin majunya teknologi, kebutuhan insan semakin banyak. Hal ini menyebabkan barang yang disalurkan semakin luas, sehingga membutuhkan alat transportasi (pengangkutan).

2) Penjualan (Selling)


Di dalam pemasaran barang, selalu ada kegiatan menjual yang dilakukan oleh produsen. Pengalihan hak dari tangan produsen kepada konsumen sanggup dilakukan dengan penjualan. Dengan adanya kegiatan ini maka konsumen sanggup memakai barang tersebut.

3) Pembelian (Buying)


Setiap ada penjualan berarti ada pula kegiatan pembelian. Jika penjualan barang dilakukan oleh produsen, maka pembelian dilakukan oleh orang yang membutuhkan barang tersebut.

4) Penyimpanan (Stooring)


Sebelum barang-barang disalurkan pada konsumen biasanya disimpan terlebih dahulu. Dalam menjamin kesinambungan, keselamatan dan keutuhan barang-barang, perlu adanya penyimpanan (pergudangan). Contoh, kalian bisa lihat mengapa orang renta kita ada yang menciptakan lumbung padi?

5) Pembakuan Standar Kualitas Barang


Dalam setiap transaksi jual-beli, banyak penjual maupun pembeli selalu menghendaki adanya ketentuan mutu, jenis dan ukuran barang yang akan diperjualbelikan. Oleh sebab itu perlu adanya pembakuan standar baik jenis, ukuran, maupun kualitas barang yang akan diperjualbelikan tersebut. Pembakuan (standardisasi) barang ini dimaksudkan semoga barang yang akan dipasarkan atau disalurkan sesuai dengan harapan.

6) Penanggung Risiko


Barang yang didistribusikan bisa jatuh dan pecah, maka rusaklah barang yang akan didistribusikan tersebut. Hal ini mungkin saja terjadi pada kegiatan distribusi, maka seorang distributor tentunya akan menanggung risiko. Pada jaman kini untuk menanggung risiko yang muncul bisa dilakukan kerjasama dengan lembaga/perusahaan asuransi.

C. Saluran Distribusi


Pengertian dari susukan distribusi atau mediator distribusi yakni orang atau forum yang kegiatannya menyalurkan barang dari produsen hingga ke tangan konsumen dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Saluran distribusi sanggup kita bedakan menjadi dua golongan forum distribusi, yaitu pedagang dan mediator khusus.

1) Pedagang


Pengertian pedagang yakni seseorang atau forum yang membeli dan menjual barang kembali tanpa mengubah bentuk dan tanggung jawab sendiri dengan tujuan untuk mendapat keuntungan.

Pedagang dibedakan menjadi:

a) Pedagang Besar (Grosir atau Wholesaler) yakni pedagang yang membeli barang dan menjualnya kembali kepada pedagang yang lain. Pedagang besar selalu membeli dan menjual barang dalam partai besar.
b) Pedagang Eceran (Retailer) yakni pedagang yang membeli barang dan menjualnya kembali eksklusif kepada konsumen. Untuk membeli biasa partai besar, tetapi menjualnya biasanya dalam partai kecil atau persatuan.

2) Perantara Khusus


Sama halnya dengan pedagang, kegiatan mediator khusus juga menyalurkan barang dari produsen hingga ke tangan konsumen. Bedanya mediator khusus tidak bertanggung jawab penuh atas barang yang tidak laris terjual. 

Perantara khusus meliputi:
  1. Agen (Dealer) yakni mediator pemasaran atas nama perusahaan. Menjualkan barang hasil produksi perusahaan tersebut di suatu tempat tertentu. Balas jasa yang diterima berupa pengurangan harga dan komisi.
  2. Broker (Makelar) yakni mediator pemasaran yang kegiatannya mempertemukan penjual dan pembeli untuk melaksanakan kontrak atau transaksi jual beli. Balas jasa yang diterima disebut kurtasi atau provisi.
  3. Komisioner yakni mediator pembelian dan penjualan atas nama dirinya sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Balas jasa yang diterima disebut komisi.
  4. Eksportir yakni pedagang yang melaksanakan aktivitasnya dengan menyalurkan barang ke luar negeri.
  5. Importir yakni pedagang yang melaksanakan aktivitasnya dengan menyalurkan barang dari luar negeri ke dalam negeri. Jika dibuatkan bagan, maka kekerabatan antara produsen, susukan distribusi dan konsumen sebagai berikut.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Distribusi


Faktor-faktor yang mensugesti kegiatan distribusi ialah:

1) Faktor Pasar


Dalam lingkup faktor ini, susukan distribusi dipengaruhi oleh pola pembelian konsumen, yaitu jumlah konsumen, letak geografis konsumen, jumlah pesanan dan kebiasaan dalam pembelian.

2) Faktor Barang


Pertimbangan dari segi barang bersangkut-paut dengan nilai unit, besar dan berat barang, gampang rusaknya barang, standar barang dan pengemasan.

3) Faktor Perusahaan


Pertimbangan yang diharapkan di sini yakni sumber dana, pengalaman dan kemampuan manajemen serta pengawasan dan pelayanan yang diberikan.

4) Faktor Kebiasaan dalam Pembelian


Pertimbangan yang diharapkan dalam kebiasaan pembelian yakni kegunaan perantara, perilaku mediator terhadap akal produsen, volume penjualan dan ongkos penyaluran barang.

Referensi :

Eko, Y. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 218.