Showing posts sorted by relevance for query protista-yang-mirip-menyerupai-jamur. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query protista-yang-mirip-menyerupai-jamur. Sort by date Show all posts

Sunday, December 1, 2019

Pintar Pelajaran Protista Yang Seolah-Olah / Mirip Jamur

Klasifikasi Protista yang Mirip / Menyerupai Jamur - Anggota Protista yang mirip jamur mencakup jamur air dan jamur lendir. Walaupun sepertinya sama dengan jamur sejati, namun dalam organisasi seluler, cara reproduksinya, dan siklus hidupnya, kedua jamur ini berbeda dengan jamur (Fungi) sejati. Protista yang mirip jamur dibedakan menjadi jamur air (Oomycotina) dan jamur lendir (Myxomycotina). (Baca juga : Klasifikasi Protista)

Anda kini sudah mengetahui Protista yang Mirip / Menyerupai Jamur. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Tuesday, November 26, 2019

Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof

Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof - Sel merupakan suatu unit terkecil atau satuan unit yang paling dasar dari makhluk hidup yang sanggup melaksanakan perbanyakan diri (self-duplication).  Istilah sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1635-1703), seorang ilmuwan Inggris. Istilah tersebut dipakai ketika menjelaskan struktur potongan tipis gabus di bawah mikroskop, kemudian sehabis beberapa kala istilah tersebut dipakai untuk menyatakan satuan dasar makhluk hidup.

I. PENDAHULUAN

Sel merupakan suatu unit terkecil atau satuan unit yang paling dasar dari makhluk hidup yang sanggup melaksanakan perbanyakan diri (self-duplication).  Istilah sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1635-1703), seorang ilmuwan Inggris. Istilah tersebut dipakai ketika menjelaskan struktur potongan tipis gabus di bawah mikroskop, kemudian sehabis beberapa kala istilah tersebut dipakai untuk menyatakan satuan dasar makhluk hidup.

Sel memilih struktur maupun fungsi seluruh organisme, baik organisme tingkat rendah maupun tingkat tinggi.  Komponen kimiawi utama penyusun sel ialah polipeptida, lipid, polinukleotida, dan polisakarida.  Menurut Yuwono (2005), sel mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai piranti kimiawi yang melaksanakan proses metabolisme dan sebagai piranti yang menyimpan kode-kode isu biologis yang akan diturunkan ke dalam anaknya.

Setiap sel hidup mempunyai membran sitoplasma yang merupakan lapisan pelindung sel.  Membran ini juga merupakan alat transportasi bagi sel yaitu sebagai pengatur masuk dan keluarnya zat-zat yang diharapkan dan tidak diharapkan oleh sel.  Dalam sel hidup juga terdapat isu genetik yaitu DNA.

Makhluk hidup menurut jumlah selnya sanggup digolongkan menjadi organisme bersel banyak (multicellular organisms) yang terdiri atas tumbuhan dan hewan, termasuk manusia, serta organisme bersel tunggal  (unicellular organisms) yang disebut juga mikroba, contohnya bakteri, arkea, jamur, dan protozoa.

Sel organisme sanggup digolongkan menurut struktur dan organisasinya, yaitu sel prokariotik yang terdapat pada basil dan arkea dan sel eukariotik yang terdapat pada jamur (fungi), alga, protozoa, tumbuhan (plant), dan binatang (animal). Hal yang paling membedakan antara struktur sel prokariotik dan eukariotik ialah tidak adanya membran inti sel (nukleus) pada prokariotik.  Selain itu, organel yang terdapat dalam sel eukariotik lebih kompleks dan mempunyai fungsi yang spesifik daripada prokariotik. Secara organisasi, sel prokariotik mempunyai struktur yang lebih sederhana dibanding eukariotik.

Pada dasarnya, seluruh sel tersusun atas komponen kimiawi yang sama meskipun dengan komposisi berbeda, diduga semua sel berasal dari leluhur yang sama. Setelah melalui proses evolusi yang panjang alhasil sel tersebut berubah menjadi bermacam-macam sel, sehingga terdapat keanekaragaman atau diversifikasi pada sel.  Diversifikasi ini sanggup diamati dalam banyak sekali bentuk, contohnya fisiologi, variasi ukuran sel, morfologi (bentuk), maupun metabolismenya.

II.  TUJUAN 

Berdasarkan sifat struktural dan organisasi sel, makhluk hidup bersel tunggal atau mikroba tidak semuanya tergolong prokariotik namun ada juga yang tergolong eukariotik menyerupai pada sel jamur maupun protozoa. Dengan demikian terdapat keanekaragaman antar sel mikroba terkait dengan sifat fisiologi maupun struktur fungsionalnya.  Oleh alasannya ialah itu, makalah bertujuan mengulas lebih lanjut mengenai keanekaragaman fisiologi dan keanekaragaman prokariotik maupun eukariotik.

III.  PEMBAHASAN 

Sel merupakan satuan unit dasar kehidupan. Sel tunggal merupakan benda yang terpisah dari benda-benda lainnya oleh suatu selaput, dan adakala juga dipisahkan oleh dinding sel di luar selaput tersebut. Adanya dinding sel dan selaput tersebut mengakibatkan sel itu menjadi sebuah kompartemen yang semi permeabel dan mempunyai struktur yang dinamis. Sel tersebut sanggup berkomunikasi, bergerak, dan melaksanakan pertukaran material dengan lingkungannya. Hal inilah yang mengakibatkan sel tersebut mengalami perubahan secara konstan.

Semua sel menunjukkan adanya metabolisme, yaitu proses mengambil nutrisi dari lingkungan dan mentransformasikan nutrisi tersebut menjadi material pembentuk sel yang gres dan produk buangannya. Selama dalam proses transformasi tersebut, energi disimpan dalam bentuk yang sanggup segera dimanfaatkan oleh sel untuk mendukung sintesis biomolekul penting, menyerupai polinukleotida, polisakarida, protein, dan lipid (Madigan et al. 2011).

Sifat umum yang juga dimiliki oleh sel ialah kemampuan untuk melaksanakan diferensiasi dan motilitas. Dengan motilitas ini, sel sanggup bergerak menjauhi ancaman atau kondisi yang tidak menguntungkan baginya dan mendekati sumber nutrisi yang baru. Sel yang berdiferensiasi sanggup menghasilkan sel-sel tertentu yang berfungsi dalam pertumbuhan, bergerak, ataupun pertahanan diri. Beberapa sel sanggup merespon sinyal kimia di lingkungannya, termasuk sinyal kimia yang dihasilkan oleh sel yang sama ataupun yang berbeda jenisnya. Respon terhadap sinyal ini sanggup mengakibatkan kegiatan seluler yang baru. Oleh alasannya ialah itu, sanggup dikatakan bahwa sel-sel juga mempunyai sifat untuk melaksanakan komunikasi.

Sel mikroba hidup di dalam sebuah populasi, gotong royong dengan populasi mikrob lainnya di alam. Interaksi antar populasi mikroba sanggup bersifat saling menguntungkan, netral, ataupun membahayakan. Sebagai contoh, produk sisa hasil metabolisme suatu organisme sanggup menjadi nutrisi ataupun toksin bagi kelompok organisme yang lain. Kumpulan organisme, gotong royong dengan semua komponen fisik dan kimia di lingkungan organisme tersebut membentuk sebuah ekosistem. Ekosistem mikroba yang utama ialah lingkungan perairan (samudra, danau, kolam, sungai, es, dan mata air panas), lingkungan darat (permukaan dan di bawah permukaan tanah), dan di organisme lain, menyerupai di tumbuhan dan hewan.

Kondisi lingkungan yang beraneka ragam mengakibatkan mikroorganisme menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, khususnya dalam hal metabolisme. Kemampuan metabolisme yang tinggi sanggup ditunjukkan dengan kemampuannya untuk hidup dan berkolonisasi pada habitat yang gres dan pada alhasil mendorong evolusi diversifikasi.

1. Keragaman Fisiologi Mikroba

Semua sel mikroba membutuhkan prosedur genetika untuk bereplikasi dan menyesuaikan diri terhadap banyak sekali perubahan di sekitarnya. Proses ini membutuhkan energi. Energi sanggup diperoleh melalui dua cara, yaitu melalui cahaya dan senyawa kimia. Mikroba yang mengunakan senyawa kimia sebagai sumber energinya  disebut sebagai kemotrof, sedangkan mikroba yang memanfaatkan cahaya sebagai sumber energi disebut fototrof.

Mikroorganisme kemotrof sanggup memakai senyawa organik ataupun anorganik sebagai sumber energi. Energi tersebut diperoleh melalui oksidasi senyawa dan disimpan di dalam senyawa kaya energi, adenosin trifosfat (ATP). Mikroorganisme yang sanggup mengoksidasi senyawa organik dari lingkungan, dengan ada ataupun tidak adanya oksigen disebut kemoorganotrof. Senyawa organik sanggup berupa glukosa, asam asetat, alkohol, dan lain-lain. Sejumlah mikroorganisme sanggup mengambil energi dari senyawa anorganik, misalnya H2S, Fe2+  amonia, dan lain-lain. Mikroorganisme ini disebut kemolitotrof. Bentuk metabolisme penghasil energi ini hanya ditemukan pada organisme prokariotik, yaitu Bakteria dan Arkea.

Mikroorganisme fototrof dicirikan dengan adanya pigmen tertentu yang memungkinkannya untuk memakai cahaya sebagai sumber energi. Organisme fototrof tidak bergantung pada senyawa kimia untuk menghasilkan energi alasannya ialah ATP dibentuk dari energi sinar matahari, yaitu melalui proses fotosintesis. Terdapat dua bentuk fototrofi pada prokariotik, yaitu fotosintesis oksigenik yang menghasilkan oksigen, contohnya pada cyanobacteria, dan fotosintesis anoksigenik yang tidak menghasilkan oksigen, contohnya pada basil ungu.

Karbon merupakan sumber nutrien utama. Oleh alasannya ialah itu, menurut sumber karbonnya, mikroorganisme sanggup dikelompokkan menjadi organisme heterotrof dan autotrof. Organisme heterotrof memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber karbon sedangkan organisme autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber karbonnya. Dengan demikian, mikroorganisme kemoorganotrof juga merupakan organisme heterotrof, sedangkan mikroorganisme fototrof ialah organisme autotrof. Berikut ini diperlihatkan diagram alir untuk memilih apakah suatu spesies termasuk ke dalam autotrof ataupun heterotrof (Gambar 1).
 Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof
Gambar 1. Diagram alir pembagian terstruktur mengenai organisme autotrof dan heterotrof. (Wikimedia Commons)
Mikroorganisme sanggup tumbuh dimana pun di muka bumi, contohnya di dalam air, tanah, hewan, tumbuhan, maupun pada substansi buatan manusia. Lingkungan di sekitar mikroba tersebut sering bersifat mencekam dan hanya beberapa mikrob yang sanggup bertahan di lingkungan yang ekstrim itu. Mikroorganisme yang bertahan dalam lingkungan yang ekstrim itu disebut ekstremofil. Prokariot ekstremofil sanggup ditemukan di lingkungan tercekam, contohnya sumber air panas, tempat es, perairan dengan kadar garam yang tinggi, dan lingkungan dengan pH asam atau basa. Prokariot tersebut selain toleran terhadap lingkungannya, ada juga yang membutuhkan kondisi tersebut untuk sanggup tumbuh optimal. Contoh beberapa prokariot ekstremofil diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Contoh beberapa prokariot ekstremofil

Ekstrim
Deskripsi
Spesies
Domain
Habitat
Derajat
Min
Opt
Maks
Suhu
Tinggi
Hipertermofil
Methanopyrus Kandleri
Arkea
Saluran hidrotermal bawah air
90 °C
106 °C
122 °C
Rendah
Psikrofil
Psychromonas ingrahami
Bacteria
Laut es
-12 °C
5 °C
10 °C
pH
Rendah
Asidofil
Picrophilusoshimae
Arkea
Sumber air panas, asam
-0.06
0.7
4
Tinggi
Alkalifil
Natronobacterium gregoryi
Arkea
Danau soda
8.5
10
12
Tekanan
Barofil
Moritellayayanosii
Bakteria
Sedimen bahari dalam
500 atm
700 atm
>1000 atm
Garam (NaCl)
Halofil
Halobacterium salinarium
Arkea
Saltern
15 %
25 %
32 %


Hasil perbandingan sekuen rRNA dari banyak sekali sel makhluk hidup menghasilkan tiga kelompok atau domain, yaitu Bakteria, Arkea, dan Eukarya. Bakteria dan Arkea tergolong ke dalam kelompok prokariot, sedangkan Eukarya termasuk ke dalam kelompok eukariot. Percabangan domain diduga terbentuk semenjak perkembangan komunitas organisme yang ada semenjak awal kehidupan di bumi. Semua prokariot secara genetika tidak berkerabat dekat, selain itu Arkea lebih bersahabat kekerabatannya dengan Eukarya daripada Bakteria. Pohon filogeni yang menggambarkan hubungan di antara ketiga domain tersebut diperlihatkan pada Gambar 2.
 Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof
Gambar 2. Pohon filogeni kehidupan hasil sekuensing gen rRNA (Madigan et al. 2011)
Bakteria merupakan domain dengan variasi yang sangat besar. Filum terbesar dari domain ini ialah Proteobakteria alasannya ialah diversitas morfologi dan fisiologinya yang sangat beragam. Sampai dengan tahun 2005, terdapat 460 genera dan 1600 spesies yang telah berhasil diidentifikasi (Hogg 2005). Anggota filum ini diantaranya prokariot tanah dan air, yang hidup di dalam tumbuhan ataupun binatang sebagai patogen ataupun non patogen. Contoh Proteobakteria ialah Nitrosomonas, basil yang terlibat dalam nitrifikasi, Acidithiobacillus, basil pengoksidasi welirang dan besi, dan Alcaligenes, basil pengoksidasi hidrogen. Escherichia coli, model organisme untuk fisiologi, biokimia dan biologi molekuler, dan basil patogen menyerupai Salmonella, Rickettsiae, dan Neisseria juga termasuk ke dalam kelompok Proteobakteria.  Filum ini dibagi lagi menjadi 5 kelas, yaitu Alphaproteobacteria, Betaproteobacteria, Gammaproteobacteria, Delta-proteobacteria dan Epsilonproteobacteria (Hogg 2005). Beberapa rujukan spesies Proteobacteria diperlihatkan pada Gambar 3.
 Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof
Gambar 3. Proteobakteria: a. Acidithio-bacillus; b. Escherichia coli; c. Salmonella; d. Neisseria meningitidis. (WIkimedia Commons)
Contoh filum lainnya ialah Cyanobacteria dan Spirochaeta yang juga merupakan basil Gram negatif menyerupai halnya Proteobacteria. Cyanobacteria merupakan satu-satunya kelompok prokariot yang sanggup melaksanakan fotosintesis oksigenik, sedangkan prokariot lainnya melalui fotosintesis anoksigenik. Pada awalnya, kelompok ini digolongkan ke dalam alga biru-hijau alasannya ialah kemampuan fotosintesisnya yang menyerupai mirip alga dan tanaman, walaupun ada juga yang ditemukan berwarna merah, hitam, ataupun ungu, tergantug pada pigmen yang mereka miliki. Contoh Cyanobacteria ialah Oscilatoria, Anabaena, dan Prochlorococcus (Hogg 2005). Contoh gambar Oscilatoria diperlihatkan pada Gambar 4a.
 Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof
Gambar 4. Beberapa rujukan bakteri: a. Oscilatoria; b. T. pallidum; c. Clostridium difficile. (Wikimedia Commons)
Filum Spirochaeta mempunyai ciri khas yaitu morfologinya berupa spiral dan bergerak menyerupai pembuka botol. Filum ini terdiri atas basil aerob dan anaerob yang sanggup tinggal di banyak sekali habitat, contohnya air, tanah, dan juga di dalam usus serta rongga ekspresi binatang vertebrata dan invertebrata. Beberapa spesies dari filum ini merupakan patogen terhadap manusia, contohnya Treponema pallidum penyebab sifilis dan Leptospira interrogan penyebab leptospirosis. Contoh gambar T. pallidum diperlihat-kan pada Gambar 4b.

Bakteri Gram positif dibagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu Firmicutes dan Actinobacteria. Bacillus, Clostridium, dan basil penghasil spora lainnya menyerupai Streptomyces termasuk ke dalam basil Gram positif. Contoh lain basil Gram positif ialah basil asam laktat yang terdapat di tumbuh-tumbuhan yang membusuk dan produk-produk olahan susu maupun produk fermentasi, contohnya Lactobacillus. Mycoplasma merupakan genus basil Gram postif yang tidak mempunyai dinding sel dan genom yang sangat kecil (Madigan et al. 2011) Contoh gambar basil Gram positif diperlihatkan pada Gambar 4c.

Domain Arkea dicirikan dengan komponen dinding selnya, berbeda dengan basil yang berupa peptidoglikan, yaitu polimer dari asam N-asetilglukosamin dan N-asetilmuramat yang terikat secara β-(1,4) (Gambar 5a), melainkan berupa pseudomurein, yaitu polimer dari N-asetilglukosamin dan asam N-asetiltalosaminuronat yang terikat secara β-(1,3) (Gambar 5b). Selain itu, komponen lipid pada membran Arkea berupa isoprena bercabang yang terikat secara eter dengan gliserol. Hal ini berbeda dengan membran pada basil dan eukariot yang berupa asam lemak terikat secara ester dengan gliserol.
 Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba Pintar Pelajaran Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof
Gambar 5. a. Peptidoglikan pada dinding sel bakteri; b. Pseudomurein pada dinding sel arkea. 

Anggota domain Arkea banyak ditemukan di lingkungan ekstrim menyerupai jalan masuk hidrotermal bawah air dan danau garam. Beberapa termofil ekstrim ditemukan sanggup tumbuh pada suhu di atas 100 °C. selain itu, Arkea juga sanggup tumbuh tempat ekstrim asam dan basa. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Arkea mempunyai distribusi yang lebih luas, Arkea mempunyai proporsi signifikan dari biomassa basil yang ditemukan di seluruh lautan dunia dan lingkungan daratan. Ketidakmampuan mengkulturkan Arkea dalam lingkungan laboratorium menjadi penyebab tidak terdeteksinya Arkea jenis gres tersebut. Keberadaan Arkea itu hanya bisa diduga dengan memanfaatkan teknik analisis berbasis DNA (Hogg 2005).

Arkea diklasifikasikan menjadi dua filum, yaitu Euryarchaeota dan Crenarchaeota. Euryarchaeota dibagi menjadi empat subkelompok yang berbeda fisiologisnya, yaitu metanogen, halofil ekstrim, termoasidofil, dan hipertermofil. Beberapa anggota subkelompok membutuhkan gas oksigen, sedangkan anggota yang lain tidak sanggup bertahan pada ketika terpapar oksigen. Metanogen, contohnya Methanobacterium, ialah anaerob obligat. Metabolisme metanogen bersifat unik alasannya ialah energi disimpan selama menghasilkan gas metana. Sebagian besar gas alam yang ditemukan di bumi merupakan hasil dari metabolisme metanogen.

Halofil ekstrim merupakan kerabat dari metanogen, namun mempunyai ciri fisiologis yang berbeda. Halofil ekstrim membutuhkan oksigen untuk tumbuh dan membutuhkan garam (NaCl) dalam konsentrasi tinggi untuk melaksanakan metabolisme dan bereproduksi. Halobacterium salinarum sanggup melaksanakan fotosintesis yang unik dengan memakai pigmen bakteriorodopsin dan memakai ATP yang dihasilkan untuk transpor aktif ke dalam sel dengan memanfaatkan ion klorida yang tersedia.

Arkea termoasidofil, yaitu mikrob yang tumbuh optimum pada suhu tinggi dan lingkungan asam, contohnya Thermoplasma. Mikrob ini tumbuh optimal pada lingkungan bersuhu 60 – 70 °C dan pH 2. Arkea hipertermofil, yaitu mikrob yang tumbuh optimum pada suhu di atas 80 °C. Arkea ini mempunyai spesies-spesies unik dengan kemampuan metanogenesis (Methanopyrus), mereduksi sulfat (Archaeoglobus), mengoksidasi besi (Ferroglobus), dan mereduksi welirang (Pyrococcus). Sebagian besar organisme ini menggunakan CO2 untuk sintesis senyawa-senyawa organik di dalam sel. Oleh alasannya ialah itu, arkea hipertermofil termasuk autotrof.

Hampir semua anggota filum Crenarchaeota ialah termofil ekstrim yang sanggup tumbuh optimal pada suhu di atas 100 °C. Contoh organisme ini ialah Pyrolobus fumarii yang mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 106 °C dan sanggup bertahan hidup dari panasnya suhu autoklaf, 121 °C. Crenarchaeota memakai welirang baik sebagai sumber ataupun sebagai peserta elektron (oksidasi menjadi H2SO4 atau reduksi menjadi H2S  (Hogg 2005).

3. Keanekaragaman Mikroba Eukariotik

Kelompok utama mikrob eukariot ialah protista (alga dan protozoa), fungi, dan jamur lender (Gambar 6). Beberapa protista menyerupai alga merupakan organisme fototrof. Alga mempunyai kloroplas dan sanggup hidup di lingkungan yang hanya mengandung sedikit mineral, contohnya kalium, fosfor, magnesium, nitrogen, dan sulfur, air, CO2  dan cahaya. Alga tumbuh di habitat tanah dan air dan merupakan produsen utama di alam. Fungi terdiri dari jamur, kapang, dan khamir atau ragi.  Fungi tidak mempunyai pigmen fotosintesis, sanggup berupa sel tunggal (khamir) ataupun filamen (kapang). Fungi ialah distributor utama dekomposer dan mendaur ulang materi organik yang terdapat di tanah dan ekosistem lainnya.

Protozoa berbeda dibandingkan dengan alga dan fungi, yaitu pada dinding selnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, bersifat motil, dan tersebar di alam di habitat perairan, ataupun sebagai patogen bagi insan dan binatang lainnya. Kapang lendir menyerupai dengan protozoa alasannya ialah mempunyai sifat motil dan tidak mempunyai dinding sel. Akan tetapi keduanya mempunyai perbedaan, yaitu filogeni dan siklus kehidupannya yang kompleks.  Dalam siklus kapang lendir, sel motil bergabung membentuk struktur multiseluler yang disebut tubuh buah.

Liken merupakan struktur menyerupai daun yang ditemukan tumbuh di permukaan batuan ataupun tumbuh-tumbuhan. Liken ialah rujukan simbiosis mutualisme pada mikrob. Simbiosis ini terdiri atas fungi dan organisme fototrof, baik berupa alga, ataupun cyanobacteria. Organisme fototrof merupakan produsen primer, sedangkan fungi menyediakan tempat pertumbuhan, pinjaman dari faktor-faktor cuaca, dan sarana untuk menyerap nutrisi.

IV.   KESIMPULAN

Adanya proses evolusi diversifikasi akhir kondisi lingkungan yang mengalami perubahan, terjadilah keanekaragaman sel mikroba, yang sanggup dilihat dari segi keanekaragaman fisiologi dan keanekaragaman pada sel prokariot maupun eukariot.

Keragaman fisiologi mikroba sanggup ditinjau dari:
  1. Berdasarkan penggunaan energi, yaitu mikrob yang memanfaatkan cahaya sebagai sumber energi disebut fototrof sedangkan yang memanfaatkan senyawa kimia disebut kemotrof.
  2. Berdasarkan sumber karbonnya, yaitu mikrob yang memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber karbonnya disebut heterotrof, sedangkan yang menggunakan CO2 sebagai sumber karbon disebut autotrof.
Kelompok mikroba prokariotik ialah bakteria dan arkea. Filum pada bakteria diantaranya Cyanobacteria, Spirochaeta, dan Proteobacteria. Arkea diklasifikasikan menjadi dua filum yaitu Euryarchaeota dan Crenarchaeota.  Masing-masing filum tersebut mempunyai perbedaan baik dari segi fisiologi, morfologi, maupun habitatnya.

Kelompok mikroba eukariotik ialah protista (alga dan protozoa), fungi, dan jamur lendir. Beberapa protistaseperti alga merupakan organisme fototrof. Fungi tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, bersifat motil, dan tersebar di alam di habitat perairan, ataupun sebagai patogen bagi insan dan binatang lainnya.

V.  DAFTAR PUSTAKA 

Hogg S. 2005. Essential Microbiology. Chichester: Jown Wiley & Sons.

Madigan MT, Martinko JM, Stahl DA, Clark DP. 2011. Brock Biology of Microorganisms. Ed. ke-13. San Fransisco: Pearson Education.

Sunatmo TI. 2009. Mikrobiologi Esensial 1. Meryandini A, Wahyudi AT, Rusmana I, Mubarik NR, editor. Jakarta: Ardy Agency.

Yuwono T. 2005. Biologi Molekular. Safitri A, editor. Jakarta: Erlangga.

Anda kini sudah mengetahui tentang Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Friday, November 29, 2019

Pintar Pelajaran Alga Dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-Ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil

Artikel dan Makalah ihwal Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil - Alga (jamak = algae) berperan penting sebagai produsen dalam rantai makanan, khususnya di ekosistem perairan. Makhluk hidup aquatik lain bergantung secara eksklusif pada alga sebagai produsen dan menyuplai ketersediaan oksigen. Water mold atau oomycetes ketika ini termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi (Barsanti and Gualtieri, 2006).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Alga merupakan organisme autotrof sederhana, yang sanggup melaksanakan fotosintesis mirip pada tumbuhan tingkat tinggi. Klasifikasi alga terus-menerus mengalami perubahan seiring berkembangnya filogenetik molekular. Saat ini, alga diklasifikasi ke dalam kingdom Protista dan domain Eukariot. (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Alga berperan penting sebagai produsen dalam rantai makanan, khususnya di ekosistem perairan. Makhluk hidup aquatik lain bergantung secara eksklusif pada alga sebagai produsen dan menyuplai ketersediaan oksigen. Alga juga banyak dimanfaatkan untuk banyak sekali kepentingan manusia, contohnya untuk pakan ternak, protein sel tunggal, produksi alginat, dan lain sebagainya (Anonim, 2011).

Water mold atau oomycetes ketika ini termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi. (Barsanti and Gualtieri, 2006). Akan tetapi, Oomisetes ketika ini diketahui berbeda dari kelompok fungi, Misalnya dinding sel oomisetes tersusun dari selulosa, tidak sama mirip fungi yang tersusun dari kitin, disamping itu, oomisetes atau water mold mempunyai alat gerak berupa flagel yang tidak ditunjukkan pada fungi. Dalam ekologi, oomisetes mempunyai habitat yang sama dengan fungi, dan sanggup tumbuh membentuk hifa mendekomposisi sisa-sisa tumbuhan maupun bangkai binatang di lingkungan perairan (Anonim, 2011).

Habitat Oomisetes tersebar secara luas di ekosistem air tawar, laut, dan tanah. Sebagian besar obligat aerob, meskipun beberapa toleran pada lingkungan anaerob serta satu spesies (Aqualinderella fermentans) bersifat obligat aerob dan tidak mempunyai mitokondria. Oomisetes bersifat sapotropik pada materi organik, atau bersifat obligat (biotropik) maupun fakultatif (nekrotropik) benalu pada tumbuhan dan binatang air (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Saat ini, dalam pemanfatan alga dan penanganan banyak sekali penyakit yang timbul akhir water mold, diharapkan adanya pemahaman mengenai struktur dan organisasi sel alga dan water mold.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan memahami bentuk, organisasi dan struktur sel alga dan water mold serta aplikasinya dalam bidang bioteknologi.

BAB II
PEMBAHASAN 

2.1. Struktur dan Organisasi Sel Alga

Secara anatomi sel, alga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: (1) Membran plasma, (2) Sitoplasma dan Organel Sel, serta (3) Inti Sel (Nukleus), mirip yang ditunjukkan pada gambar 1 (Anonim, 2011; Haas et al., 2009).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 1. Struktur sel alga.
2.1.1. Membran Plasma

Membran plasma terletak paling luar dan tersusun oleh lipoprotein (gabungan lipid dan protein). Membran plasma bersifat selektif permeabel, yang berarti hanya sanggup dilewati oleh molekul tertentu saja dan bertanggungjawab dalam transportasi zat dari dalam sel ke lingkungan (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Sel alga mempunyai dinding sel di luar membran sel. Sebagian besar dinding sel alga tersusun atas selulosa, meskipun terkadang mengandung silika atau kalsium karbonat. Sebagian alga juga mempunyai dinding sel yang mengandung manan, xylan, asam alginat, agaros, dan lain sebagainya. Dinding sel sanggup berbentuk filamen, mirip pada fungi, atau tersusun atas plat-plat yang disekresikan oleh tubuh golgi. Terdapat kelompok tertentu yang tidak mempunyai dinding sel padat, tetapi selnya dilindungi oleh pelikel protein yang fleksibel di bawah membran plasma. Materi dinding sel diproduksi dan disekresi oleh tubuh golgi.

2.1.2. Sitoplasma dan organel sel

Bagian cair di dalam sel disebut dengan sitoplasma. Pada sitoplasma terdapat organela yang mempunyai fungsi tertentu (Graham and Wilcox, 2000). Organel sel tersebut antara lain :

a. Retikulum Endoplasma (RE)

Retikulum endoplasma merupakan jalinan saluran, dibatasi oleh membran yang kontinyu dengan selubung luar nukleus.  Fungsi RE yaitu sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri.

b. Ribosom (Ergastoplasma)

Ribosom terdiri dari subunit protein besar dan kecil. Sebagian ribosom menempel sepanjang RE, sebagian lain bebas di sitoplasma. Fungsi ribosom yaitu sebagai tempat sintesis protein.

c. Mitokondria (The Power House)

Mitokondria mempunyai dua lapis membran. Membran dalam yang berlekuk-lekuk dan disebut krista. Fungsi mitokondria merupakan pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi). Mitokondria pada alga mempunyai 2 tipe, mirip yang ditunjukkan pada gambar 2 : 1) Flat lamellar cristae (pada Rhodophyta, Crytophyta, Euglenophyta, dan Chlorophyta) dan 2) tubular cristae (pada Chrysophyta, Raphidophyta, Prymnesiophyta, Eustigmatophyta, dan Xanthophyta.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 2. Tipe mitokondria yang terdapat pada alga (a) flat lamelar cristae dan (b) tubular cristae (sumber: Chapman, 1941)
d. Lisosom

Lisosom yaitu penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler.

e. Vakuola Kontraktil

Sebagian besar alga berflagela mempunyai dua vakuola kontraktil pada kepingan anterior sel, yaitu diastole (saluran masuk) dan sistole (saluran pengeluaran), fungsinya untuk membuang sisa produk dari sel.

f. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)

Organel ini melaksanakan fungsi produksi dan sekresi polisakarida.

g. Sentrosom (Sentriol)

Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.

h. Plastida

Plastida merupakan tempat fotosintesis serta jalur biokimia asam amino aromatik, heme, isophrenoids, dan asam lemak.  Plastida utama pada alga yaitu kloroplas. Kloroplas mengandung sistem membran yang berjulukan tilakoid, yang sering membentuk tumpukan membran yang disebut grana. Enzim yang mengendalikan fotosintesis terdapat di membran tilakoid dan stroma. Plastida dibedakan menjadi tipe primer dan sekunder. Plastida tipe primer hanya diselubungi oleh dua lapis membran, sedangkan plastida sekunder dikelilingi empat atau tiga lapis membran. Plastida sekunder secara fisik tidak terletak di sitoplasma sebagaimana plastida primer, tetapi terletak di lumen sistem endomembran (Haas et al., 2009).

Selain klorofil, terdapat pigmen lain dalam plastida. Pigmen ini menyerap panjang gelombang yang berbeda dari klorofil. Hal ini mempunyai kegunaan pada alga yang hidup di perairan lebih dalam, yang tidak bisa ditembus oleh spektrum cahaya biru. Pigmen-pigmen tersebut adalah:

a. Fikosianin (pigmen warna biru)

b. Xantofil (pigmen warna kuning)

c. Karoten (pigmen warna keemasan)

d. Fikosantin (pigmen warna cokelat)

e. Fikoeritrin (pigmen warna merah).

i. Mikrotubulus

Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan. Selain itu, mikrotubulus mempunyai kegunaan dalam pembentakan sentriol, flagel dan silia.

j. Stigma atau bintik mata

Stigma merupakan area sitoplasma dengan konsentrasi pigmen tinggi (biasanya karoten). Stigma terdapat di bersahabat pangkal flagela. Stimulasi stigma oleh cahaya akan menstimulasi flagela pula, sehingga terjadi gerakan mendekati sumber cahaya.

2.1.3. Inti Sel (Nukleus)

Nukleus mengandung materi genetik sel dan dikelilingi oleh membran ganda. Nukleus terdiri dari selaput inti (karioteka), nukleolus, kromosom, dan materi pendukung atau karyolimph (Graham and Wilcox, 2000).

Alga uniseluler dan sel reproduksi alga multiseluler mempunyai flagela. Flagela terdapat di kepingan apikal, lateral, ataupun posterior sel. Flagela sanggup berupa satu berkas cambuk, ataupun mempunyai struktur ‘berambut’ atau ‘sisik’. Pergerakan sanggup ke samping atau spiral.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 3. Tipe flagela pada algae (a) fibrous solid hair, (b) tubular hair. (Chapman, 1941)
Terdapat dua tipe flagela, mirip yang ditunjukkan pada gambar 5, yaitu fibrous solid hair dan tubular hair. Fibrous solid hair mengelilingi flagela, meningkatkan luas permukaan, dan efisiensi dari tenaga penggerak. Tersusun atas glikoprotein dan terdapat pada Euglenophyta dan Dinoflagellata. Tubularhair tersusun atas protein dan glikoprotein, terdapat pada: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Chlorophyta (Chapman, 1941).

2.2. Klasifikasi Alga

Alga sanggup diklasifikasi menjadi beberapa kelompok. Berbagai karakteristik dipakai untuk mengklasifikasi alga, salah satunya yaitu keberadaan pigmen klorofil, cadangan karbon dan komponen dinding sel mirip yang ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi kelompok alga menurut pigmen fotosintesis, cadangan karbon dan komponen dinding sel (Madigan et al., 2003 dan Graham et al., 2000).

Kelompok Alga
Penamaan Umum
Morfologi
Pigmen Fotosintesis
Contoh
Cadangan Karbon
Dinding Sel
Habitat
Chlorophyta 
Alga Hijau
Uniseluler, berbentuk daun 
Klorofil a dan b, karotenoid, xantofil 
Chlamydomonas 
Pati (a-1,4 glukan),sukrosa 
Selulosa 
Air tawar, tanah, laut
Euglenophyta 
Euglenoid 
Uniseluler, berflagel 
Klorofil a dan b, karotenoid, xantofil 
Euglena 
Paramilon (b-1,2 glukan) 
Membran protein di bawah membran plasma 
Laut 
Dinoflagellata 
Dinoflagelata 
Uniseluler,
berflagel 
Klorofil a dan c, karotenoid, xantofil 
Gonyaulax, Pfiesteria 
Pati (a-1,4 glukan) 
Selulosa 
Air tawar, laut, tanah 
Chrysophyta 
Alga keemasan, diatom
Uniseluler 
Klorofil a dan c, karotenoid,  
Nitzschia 
Lemak 
Dua lapisan yang tersusun dari silika 
Laut 
Phaeophyta 
Alga coklat 
Filamen berbentuk daun, umumnya berukuran makro & seperti tanaman
Klorofil a dan c, karotenoid, xantofil 
Laminaria 
Lammarin (b-1,3 glukan), manitol 
Selulosa 
Laut 
Rhodophyta  
Alga merah
Uniseluler, filament berbentuk daun
Klorofil a dan d, karotenoid, xantofil, fikosianin, fikoritrin
Polysiphonia    
Floridean starch (a-1,4 dana-1,6 glukan)
Selulosa
Laut

2.2.1. Chlorophyta

Chlorophyta atau alga hijau merupakan kelompok yang besar dan berragam. Sebagian besar alga hijau mempunyai habitat di air tawar, meskipun beberapa kelompok alga yang lain ditemukan di tanah. Beberapa alga hidup sebagai simbion pada liken. Alga hijau mengandung klorofil a dan b yang memperlihatkan karakteristik berwarna hijau serta cadangan karbon berupa pati yang terdapat di dalam kloroplast. Chlorophyta mempunyai dua sub kelompok, yaitu chlorophyta (contoh : Volvox dan Dunaliella) dan charophyta (contoh : Chara sp.), kelompok alga yang mempunyai kemiripan dengan tanaman. Gambar 4 memperlihatkan rujukan chlorophyta dan charophyta (Graham and Wilcox, 2000).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 4. (a) Sel Dunaliella, uniseluler dan berflagel, serta (b) Caulerpa sp., multiseluler dan mempunyai kemiripan dengan tumbuhan (Graham et al., 2000)
Alga hijau mempunyai morfologi yang bervariasi, dari bentuk uniseluler hingga filamen, sel tunggal yang saling bergabung membentuk koloni sebagai agregat sel. Ostreococcus tauri, uniseluler fitoplankton laut, merupakan eukariot terkecil dari kelompok alga hijau. Sel O. tauri mempunyai diameter ± 1 μm dan mengandung genom eukariot fototropik terkecil sekitar 12,6 Mbp. Contoh alga hijau yang berbentuk koloni yaitu Volvox yang tersusun dari ratusan sel flagel, beberapa bersifat motil dan berperan dalam fortosintesis, sedangkan yang lain berperan dalam reproduksi. Sel dalam koloni Volvox dihubungkan oleh benang tipis sitoplasma sehingga koloni bergerak secara terkoordinasi. Gambar sel O. tauri dan Volvox sanggup dilihat pada gambar 5.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 5. Sel uniseluler Ostreococcus tauri (a) dan sel koloni Volvox (b) (Graham et al., 2000).
2.2.2. Euglenophyta

Euglenophyta meliputi sebagian besar uniseluler berflagel, dan beberapa spesies yang berkoloni. Euglenophyta terdistribusi secara luas di perairan air tawar dan laut, serta bersifat autotrof dengan mengandung klorofil a dan b. Euglena merupakan salah satu rujukan kelompok Euglenophyta yang mempunyai panjang sel ± 15 μm. Euglena mempunyai struktur yang disebut eyespot, tempat yang peka terhadap cahaya. Euglena sanggup merespon kondisi lingkungannya dengan bergerak ke arah cahaya untuk melaksanakan fotosintesis. Jika cahaya tidak tersedia untuk terjadinya fotosintesis, maka euglena akan menjadi kemoorganotrof dan memakai cadangan karbon yang tersedia dalam sitoplasma. Euglenoid menyimpan cadangan energi dalam bentuk paramylon, salah satu jenis polisakarida (Rogers, 2011).

Banyak Euglena yang juga memakan sel basil lain melalui fagositosis, yaitu sebuah proses pengambilan partikel dengan cara kepingan membran sitoplasma yang fleksibel akan  melingkupi partikel dan membawanya masuk ke dalam sel.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 6. Organela pada sel Euglena.
2.2.3. Dinoflagellata

Dinoflagellata merupakan organisme akuatik uniseluler dengan ukuran sel antara 5-2000 μm dan berflagel. Beberapa Dinoflagellata hidup bebas dan yang lain hidup bersimbiosis dengan binatang membentuk kerikil karang. Sebagian Dinnoflagellata bersifat autotrof, dengan kandungan klorofil a dan c, serta sebagian lain termasuk predator. Cadangan karbon berupa pati (a-1,4-glukan) dan terdapat pada sitoplasma. Dinoflagellata merupakan komponen penting dalam rantai kuliner di ekosistem perairan alasannya yaitu berperan sebagai produsen (fitoplankton) dan bisa menghasilkan lumminescence (Rogers, 2011).

Beberapa kelompok Dinoflagellata sanggup menghasilkan toksik yang sanggup membunuh ikan maupun patogen pada manusia. Pfiesteria, mirip yang terlihat pada gambar 9, merupakan salah satu rujukan Dinoflagellata yang sanggup menghasilkan toksik. Meskipun bisa melaksanakan fotosintesis, Pfiesteria lebih dikenal sebagai patogen pada ikan dan juga patogen pada manusia. Neurotoksin yang dihasilkan Pfiesteria akan menginfeksi bahkan membunuh ikan, dengan cara mempengaruhi sistem gerak dan merusak kulit.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 7. Pfiesteria, kelompok autotrof bersifat patogen pada ikan dan manusia. (Rogers, 2011)
2.2.4. Chrysophyta

Chrysophyta mempunyai habitat di bahari dan air tawar, serta sebagian besar berbentuk uniseluler. Beberapa spesies bersifat kemoorganotrof dan mensuplai nutrisi yang diharapkan dengan prosedur fagositosis atau transportasi senyawa organik melalui membran sitoplasma. Chrysophyta disebut juga dengan alga keemasan alasannya yaitu secara fisik berwarna keemasan. Hal ini dikarenakan alga keemasan mempunyai pigmen kloroplast yang didominasi dengan fukosantin. Selain itu, klorofil c lebih mendominasi daripada klorofil a, dan tidak mempunyai fikobiliprotein mirip yang terdapat pada alga merah (Rogers, 2011).

2.2.5. Phaeophyta

Phaeophyta atau alga coklat mempunyai habitat di bahari serta bervariasi dalam bentuk dan ukuran, dari filamen kecil hingga dengan ukuran besar yang mempunyai diameter 1-100 m (contoh : Laminaria dan Macrocystis). Alga coklat mempunyai banyak kegunaan. Salah satu kegunaannnya yaitu sebagai sumber algin yang dipakai sebagai stabiliser dalam industri roti dan es krim. Bahkan, spesies tertentu sanggup di konsumsi mirip sayuran, sebagai contohnya Laminaria mirip yang ditunjukkan pada gambar 8 (Rogers, 2011).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 8. Alga coklat (a) Laminaria dan (b) Mycrocystic.
2.2.6. Rhodophyta

Rhodophyta atau alga merah mempunyai habitat di kawasan perairan, akan tetapi terdapat beberapa spesies yang ditemukan pada habitat air tawar dan terestrial. Alga merah merupakan organisme fototropik serta mengandung klorofil a dan b. Warna kemerahan pada alga merah dihasilkan oleh pigmen fikobilin (fikoritrin dan fikosianin), pigmen pelengkap yang menutup warna hijau dari klorofil. Pada tempat yang gelap dan tidak tertembus cahaya, sel akan memproduksi lebih banyak fikoritrin dan menghasilkan warna merah yang lebih gelap, sedangkan pada spesies permukaan akan mengandung sedikit fikoritrin, bahkan sanggup berwarna hijau. Cadangan karbon berupa floridean starch (a-1,4 dan a-1,6-glukan) yang terletak pada kepingan sitoplasma (Rogers, 2011)

Sebagian besar spesies alga merah merupakan multiseluler dan tidak mempunyai flagela. Beberapa spesies dianggap sebagai rumput bahari dan sumber agar, biro pemadat yang dipakai dalam media bakteriologi, mengentalkan dan biro penstabil yang dipakai pada industri makanan. Beberapa spesies berbentuk filamen, mirip daun, maupun menyimpan kalsium karbonat, coralline (menyerupai koral). Beberapa coralline berperan penting dalam perkembangan karang laut.

Contoh alga merah yaitu Corallina, berperan dalam pembentukan karang bahari gotong royong dengan binatang koral. Selain itu, spesies Galdieria yang tumbuh pada lingkungan dengan pH rendah dan suhu tinggi, mirip pada sumber air panas. Sel Galdieria berdiameter 25 μm dan berwarna hijau alasannya yaitu mengandung sedikit pigmen fikoritrin. Morfologi Corallina dan Galdieria sanggup dilihat pada gambar 9.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 9. Morfologi alga merah (a) Corallina dan (b) Galdieria.
2.3. Struktur dan Organisasi Sel Water mold (Oomycota)

Water mold atau oomisetes termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi. Akan tetapi, oomisetes ternyata berbeda dari kelompok fungi. Sebagai contoh, dinding sel oomisetes tersusun dari selulosa, tidak sama mirip fungi yang tersusun dari kitin. Selain itu oomisetes atau water mold mempunyai alat gerak berupa flagel yang tidak ditunjukkan pada fungi. Dalam hal ekologi, oomisetes mempunyai habitat yang sama dengan fungi, dan sanggup tumbuh membentuk hifa mendekomposisi sisa-sisa tumbuhan maupun bangkai binatang di lingkungan perairan (Wiley et al., 2009).

Habitat oomisetes tersebar secara luas di ekosistem air tawar, laut, dan tanah. Sebagian besar obligat aerob, meskipun beberapa toleran pada lingkungan anaerob serta satu spesies (Aqualinderella fermentans) bersifat obligat aerob dan tidak mempunyai mitokondria. Oomisetes bersifat sapotropik pada materi organik, atau bersifat obligat (biotropik) maupun fakultatif (nekrotropik) benalu pada tumbuhan (Wiley et al., 2009).

Secara keseluruhan, struktur sel water mold sama mirip struktur organisme eukariotik yang terdiri dari 3 kepingan yaitu dinding sel dan hifa, sitoplasma dan organela, serta nukleus (inti sel). Morfologi water mold atau oomisetes sanggup dilihat pada gambar 10.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 10. Morfologi sel water mold atau oomisetes, (a) Phytophtora kernovia, dan (b) Phytophtora capsici.
2.3.1. Dinding sel dan hifa

Struktur polimer dinding sel chromista yaitu selulosa. Meskipun beberapa spesies tumbuh dengan membentuk talus yang bercabang, sebagian besar oomisetes membentuk hifa (miselium). Oomisetes dikenal sebagai evolusi dari fungi Eumycota, yang mempunyai struktur hifa berbeda. Hifa pada oomisetes tumbuh secara apikal dan mensekresikan enzim, terdapat percabangan di sepanjang substratum dan membentuk miselium. Pada oomisetes, hifa bersifat coenocytic, yaitu miselium tidak membentuk septa kecuali pada kepingan yang renta atau struktur reproduksi.

2.3.2. Sitoplasma dan organela

Sitoplasma berbentuk granular agresif dan mengandung organela, antara lain vakuola, tubuh golgi, dan mitokondria.

a. Vakuola

Sistem vakuola oomisetes mempunyai vesikel yang berbentuk padat/tebal mengandung polimer b-1,3-glukan terfosforilasi, disebut dengan mikolaminarin. Mikolaminarin merupakan cadangan karbon, mirip cadangan fosfat dan polifosfat yang ditemukan pada vakuola fungi.

b. Badan golgi

Adanya tubuh golgi, mirip pada Protozoa. Sedangkan tubuh golgi pada Eumycota biasanya direduksi menjadi single cisternae.

c. Mitokondria

Mitokondria yang dimiliki oomisetes berbentuk krista tubular. Membran dalam mitokondria berupa lipatan tubular mirip yang dutemukan pada tanaman. Krista mitokrondria pada kingdom Eumycota dan Animalia umumnya berbentuk lamelar.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 11. Ultrastruktur mitokondria diamati oleh mikroskop elektron. (a) Mitokondria Phytophthora erythroseptica (Oomycetes). Membran dalam mitokondria membentuk lipatan krista tubular. (b) Mitokondria Sordaria fimicola (Ascomycota) yang berbentuk lamelar.
2.3.3. Nukelus (inti sel)

Nukleus Oomycotina bersifat diploid.

2.4. Klasifikasi Water Mold

Genera oomycetes banyak kuat dalam kehidupan manusia. Kelompok oomisetes, Phytophthora infestans, diketahui menjadikan penyakit bercak daun “late blight” pada kentang. Spesies Saprolegnia spp. sanggup menjadikan nanah serius pada ikan, khususnya ikan salmon, meskipun ada spesies lain yang bermanfaat mirip Lagenidium giganteum yang benalu pada serangga dan dipakai sebagai biro pengendali hayati larva nyamuk. Berdasarkan talus dan cara reproduksinya, oomisetes sanggup dibagi menjadi 8 kelompok ordo mirip yang ditunjukkan pada tabel 2 (Webster dan Weber, 2007).

Tabel 2. Karakteristik Water Mold

Ordo
Talus dan reproduksi
Habitat
Myzocytiopsidales
Holokarpik, pada tahap selanjutnya berbentuk coralloid atau menjadi segmen. Zoospora, oospora
Parasit pada invertebrata dan alga
Olpidiopsidales
Holokarpik, bermetamorfosis sporangium. Zoospora, oospora
Parasit biotrofik pada Oomycota, Chytridiomycota dan algaSaprotrof air tawar, anaerobik
Rhipidiales
Eukarpik dengan rhizoid. Zoospora, oospora
Saprotrof air tawar dan benalu pada hewan
Leptomitales
Terdiri dari hifa yang memproduksi sporangia
Saprotrof atau nekrotrofik pada hewan, tumbuhan dan organism lainnya
Saprolegniales
Terdiri dari miselium yang tebal. Zoospora, oospora
Saprotof pathogen (cenderung bersifat nekrotrofik) pada tumbuhan, jamur dan hewan
Pythiales
Terdiri dari miselium yang tipis. Zoospora, oospora
Patogen biotrofik pada tumbuhan, penyebab downy mildews dan penyakit lainnya
Peronosporales
Miselium intraselular dengan haustoria. Sporangiofor yang terdiferensiasi. Zoospora atau “conidia”, oospora
Patogen biotrofik pada rumput, penyebab downy mildews
Sclerosporaceae
Miseliumnya terdiri dari hifa yang sangat tipis. Sporangiofor yang terdiferensiasi. Zoospora atau “conidia”, oospora

2.4.1. Saprolegniales

Ordo saprolegniales dibagi menjadi 2 famili yaitu Saprolegniaceae (contoh : Achyla, Saprolegnia, Brevilegnia) dan Leptolegniaceae (contoh : Plectospira, Leptolegnia). Saprolegniales dikenal sebagai kelompok jamur akuatik dan mempunyai habitat di tanah lembab, tepian danau, air tawar, dan bersifat saprofit pada sisa-sisa tumbuhan dan hewan. Kelompok saprolegniales mempunyai morfologi yang kasar, hifa keras dan bercabang menghasilkan tipe miselium tumbuh dengan cepat (fast-growing). Hifa saprolegniales bersifat coenocytic, adanya lapisan di sekitar sitoplasma mengelilingi vakuola sentral.

Spesies Saprolegnia dan Achyla benalu pada ikan dan telur ikan. Aphanomyce euteiches menjadikan penyakit bau akar pada kacang-kacangan dan beberapa tumbuhan lain (Webster and Weber, 2007).

2.4.2. Pythiales

Ordo pythiales dibagi menjadi dua famili, yaitu pythiaceae dan pythiogetonaceae. Pythiogetonaceae merupakan kelompok kecil dari saprofitik aquatik, mempunyai habitat di sedimen dasar air tawar maupun danau dengan ketiadaan oksigen, serta bersifat fakultatif anaerob. Contoh kelompok pythiogetonaceae yaitu Pythiogeton zeae yang sanggup menjadikan bau akar dan batang pada jagung. Kelompok besar dari pythiales yaitu famili pythiaceae, sebagai rujukan Pythium dan Phytophthora. Phytophthora merupakan kelompok patogenik pada tumbuhan sedangkan Pythium, kelompok saprofitik tanah yang sanggup bersifat patogen pada tumbuhan muda (contoh : Pythium spp.). Pythium mempunyai kemampuan benalu yang lebih luas daripada Phytophthora, meliputi benalu pada mamalia, jamur dan alga (Webster and Weber, 2007).

2.4.3. Peronosporales

Peronosporales merupakan water mold yang bersifat patogen biotrofik obligat dan tidak sanggup hidup terpisah tanpa inang, menginfeksi pada tumbuhan tingkat tinggi. Ordo Peronosporales sanggup dibagi menjadi dua famili yaitu Peronosporaceae (contoh : Peronospora, Plasmopara, Bremia) and Albuginaceae (contoh : Albugo) (Wiley et al., 2009).

BAB III
KESIMPULAN

Alga mempunyai keragaman struktur selulernya, terutama pada dinding sel, mitokondria, flagela, dan plastidanya. Karakteristik yang dipakai untuk mengelompokkan alga antara lain keberadaan pigmen klorofil, cadangan karbon dan komponen dinding sel.

Water mold atau oomisetes termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic. Tetapi kini dibedakan dengan fungi alasannya yaitu water mold mempunyai struktur flagela yang tidak dimiliki fungi dan mempunyai komposisi dinding sel yang berbeda dengan fungi.

Karakteristik yang dipakai untuk mengelompokkan kelompok water mold antara lain thallus, habitat, prosedur reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Algae Information, Production, Methods, Products, and Terminology. <http://marketplayground.com/forum/showthread.php/808-Algae-Information-Production-Methods-and Terminology>. Diakses tanggal 8 Oktober 2011.

Barsanti, L and P. Gualtieri. 2006. Algae. Taylor & Francis Group. United State of America.

Chapman, V.J. 1941. Introduction to the Study of Algae. Cambridge University Press. New York.

Graham, L. E. and L. W. Wilcox. 2000. Algae. Prentice-Hall, Inc. United State of America.

Haas, BJ; Kamoun, S; Zody, MC; Jiang, RH; Handsaker, RE; Cano, LM; Grabherr, M; Kodira, CD et al. (2009). “Genome sequence and analysis of the Irish potato famine pathogen Phytophthora infestans.”. Nature.

Keeling, P.J.2004.Diversity and Evolutionary History of Plastids and Their Hosts.American Journal of Botany, Vol. 91, No. 10 (Oct., 2004).

Kortekamp, A. (2005). “Growth, occurrence and development of septa in Plasmopara viticola and other members of the Peronosporaceae using light- and epifluorescence-microscopy”. Mycological research.

Madigan, M. T., J. M. Martinko and J. Parker. 2003. Brock Biology of Microorganism. 10th (ed). Pearson Education, Inc. New Jersey.

Nicklin, J., K. Gramae-Cook, T. Paget & R. Killington.1999.Instant Notes in Microbiology.BIOS Scientific Limited, UK.

Rogers, Kara. 2011. Fungi, Algae and Protista 1st ed. Britannica Educational Publishing. New York.

Van der Auwera G, De Baere R, Van de Peer Y, De Rijk P, Van den Broeck I, De Wachter R. 1995. ”The phylogeny of the Hyphochytriomycota as deduced from ribosomal RNA sequences of Hyphochytrium catenoides”. Mol. Biol. Evol.

Webster, J. and Weber R. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University Press. New York.

Willey, J.M., L.M. Sherwood & C.J. Woolferton. 2009. Prescott’s Principles of Microbiology.McGraw-Hill, New York.

Anda kini sudah mengetahui Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.