Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-badan-mikro-gambar. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-badan-mikro-gambar. Sort by date Show all posts

Monday, March 9, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel

Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel - Semua sel eukariotik mempunyai membran inti. Selain itu, sel eukariotik mempunyai sistem endomembran, yakni mempunyai organel-organel bermembran mirip retikulum endoplasma, kompleks Golgi, mitokondria, dan lisosom. Sel eukariotik juga memiliki sentriol. Perhatikan Gambar 1 wacana struktur sel eukariotik di bawah ini. Berikut ini akan dibahas mengenai struktur sel eukariotik yang mencakup membran plasma, sitoplasma, dan organel-organel sel (ribosom, kompleks Golgi, mitokondria, lisosom, tubuh mikro, dan mikrotubulus).

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 1. Struktur sel eukariotik pada tumbuhan
1. Membran Sel (Selaput Plasma)

Membran sel merupakan belahan terluar sel yang membatasi belahan dalam sel dengan lingkungan luar. Membran sel merupakan selaput selektif permeabel, artinya hanya sanggup dilalui molekul-molekul tertentu mirip glukosa, asam amino, gliserol, dan banyak sekali ion. Membran sel mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut.
  1. Sebagai reseptor (penerima) rangsang dari luar, seperti hormon dan materi kimia lain, baik dari lingkungan luar maupun dari belahan lain dalam organisme itu sendiri.
  2. Melindungi biar isi sel tidak keluar meninggalkan sel.
  3. Mengontrol zat-zat yang boleh masuk maupun keluar meninggalkan sel. Hal inilah yang menyebabkan
  4. membran plasma bersifat semipermeabel (selektif permeabel).
  5. Sebagai tempat terjadinya aktivitas biokimiawi, seperti reaksi oksidasi dan respirasi.
Berdasarkan analisis kimiawi sanggup diketahui bahwa hampir seluruh membran sel terdiri atas lapisan protein dan lapisan lipid (lipoprotein). Membran plasma terdiri atas dua lapisan, yaitu berupa lapisan lipid rangkap dua (lipid bilayer). Lapisan lipid disusun oleh fosfolipid. Fosfolipid adalah lipid yang mengandung gugus fosfat dan terdiri atas bagian kepala (polar head) dan belahan ekor (nonpolar tail). Bagian kepala bersifat hidrofilik (suka air), sedangkan belahan ekor bersifat hidrofobik (tidak suka air). Lipid terdiri atas fosfolipid, glikolipid, dan sterol.
  1. Fosfolipid adalah lipid yang mengandung deretan fosfat.
  2. Glikolipid adalah lipid yang mengandung karbohidrat.
  3. Sterol adalah lipid alkohol terutama kolesterol.
Lapisan protein membran sel terdiri atas glikoprotein. Lapisan protein membentuk dua macam lapisan, yaitu
lapisan protein perifer atau ekstrinsik dan lapisan protein integral atau intrinsik. Lapisan protein perifer membungkus bagian kepala (polar head) lipid rangkap dua belahan luar. Lapisan protein integral membungkus belahan kepala (polar head) lipid rangkap dua belahan dalam. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 2. Struktur membran sel dan fosfolipid
2. Sitoplasma

Sitoplasma merupakan cairan yang mengelilingi inti sel dengan membran sel sebagai batas luarnya. Dasar penyusunnya ialah sitosol yang bersifat koloid. Di dalam sitosol terdapat ion sederhana misalnya sodium, fosfat dan klorida, molekul organik mirip asam amino, ATP dan neuklotida, dan tempat penyimpanan bahan. Sitosol dapat berubah dari fase sol (cair) ke fase gel (semi-padat) atau juga sebaliknya. Cairan sitosol yang lebih pekat dan berbatasan dengan membran sel dinamakan ektoplasma. Keberadaan sitoplasma bagi sel amatlah penting. Ini ditunjukkan dengan beragamnya fungsi yang dimiliki, antara lain: tempat penyimpanan bahan-bahan kimia yang mempunyai kegunaan ketika proses metabolisme sel (seperti enzim, protein, dan lemak); tempat berlangsungnya reaksi metabolisme; dan tempat organel-organel untuk bergerak dan bekerja sesuai fungsinya.

3.1. Organel Sel Bermembran

Organel sel bermembran dari makhluk hidup antara lain; nukleus, retikulum endoplasma, aparatus Golgi, mitokondria, lisosom, badan mikro, vakuola, dan kloroplas.


Nukleus atau inti sel merupakan orga nel sel terbesar dibanding organel sel lainnya. Diameter nukleus berkisar antara 10 sampai 20 m. Nukle us ini berbentuk lingkaran oval. Bagian- bagian yang melapisi nukleus mencakup membran inti, nukleoplasma, dan nukleolus (anak inti). Perhatikan Gambar 3.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 3. Struktur nukleus
Membran inti atau karioteka merupakan lapisan pembungkus inti sel. Pada permukaannya terdapat pori-pori yang berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya molekul dari sitoplasma ke nukleoplasma. Membran inti ini berafiliasi deng an membran sel melalui organel yang disebut retikulum endoplasma. Di dalam nukleus terdapat cairan yang dinamakan nukleoplasma. Cairan nukleoplasma tersusun dari air, asam inti, protein, dan enzim. Sifat cairannya yakni gel. Pada nukleoplasma bisa ditemui benang kromatin. Saat sel mengalami pembelahan, benang kromatin ini akan mengalami penebalan sehingga membentuk kromosom. Kromosom merupakan zat yang berisi materi genetik.

Nukleoplasma menyelubungi belahan penting sel yang disebut nukleolus (anak inti). Setiap nukleolus mempunyai tugas dalam pembentukan protein, semisal RNA ribosom (disingkat RNAr) dan RNA. RNA ribosom merupakan salah satu materi pembentuk ribosom. Saat pembelahan sel secara mitosis, tepatnya ketika fase profase, nukleolus lenyap atau hilang. Namun, ketika fase interfase, nukleolus terbentuk kembali. Di dalam sel, nukleus mempunyai tugas penting, antara lain: menjadi sentra kontrol sel; pembawa perintah sintesis protein dalam inti DNA; memperbaiki sel yang rusak dalam nukleolus; memengaruhi produksi ribosom dan RNA; dan berperan dalam pembelahan sel.


Antara organel sel satu dengan organel sel lainnya, seperti nukleus dan membran sel, dihubungkan oleh organel yang disebut retikulum endoplasma (RE). RE merupakan sebuah sistem membran kompleks yang membentuk kantong pipih dan meluas hampir menutupi sitoplasma. RE mempunyai jaringan tubula dan gelembung membran yang disebut sisterne. RE terbagi atas dua macam, yakni RE berangasan dan RE halus. Permukaan RE berangasan tertutup oleh ribosom, sedangkan permukaan RE halus tidak tertutupi oleh ribosom. Perhatikan Gambar 4.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 4. Retikulum endoplasma (RE) berangasan dan RE halus
RE berangasan berfungsi sebagai penampung protein skretoris yang telah disintesis oleh ribosom. Protein ini akan dimasukkan ke dalam kantong pipih yang disebut lumen RE. RE berangasan juga berperan dalam produksi membran yang ditranspor ke organel lainnya. Membran yang demikian dinamakan membran RE. Berbeda dengan RE kasar, RE halus mempunyai beberapa fungsi, antara lain: mensintesis banyak sekali zat mirip lemak, kolesterol, fosfolipid, dan steroid; metabolisme karbohidrat, contohnya proses penyimpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen pada sel hati; dan membantu proses penetralan obat dan racun yang biasa terjadi pada RE sel hati.

Namun demikian, RE berangasan dan RE halus mempunyai fungsi yang sama, yakni sebagai alat transpor molekul dari satu sel ke sel lain, memproduksi antibodi, dan berperan dalam proses glikolasi yaitu penambahan gula pada molekul protein.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 5. Struktur retikulum endoplasma kasar
3.1.3. Aparatus Golgi

Protein yang dihasilkan ribosom akan ditranspor melewati aparatus Golgi. Di dalam aparatus Golgi tersebut, protein diproses dan disimpan, kemudian dikirim ke organel lainnya. Dinamakan aparatus Golgi alasannya yakni ditemukan oleh ilmuwan yang ber nama Camilio Golgi. Organel ini disebut pula tubuh Golgi atau diktiosom. Secara struktural, aparatus Golgi tersusun atas kan tong pipih bertumpuk-tumpuk yang disebut sisterne. Perhatikan Gambar 6.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 6. Aparatus Golgi
Pada proses metabolisme sel, aparatus Golgi berfungsi sebagai peserta dan pengirim vesikula transpor yang berisi protein. Selain itu, aparatus Golgi dijadikan tempat terjadinya glikolasi. Glikolasi merupakan suatu
proses modifi kasi protein seusai protein disintesis dengan mereaksikan bersama glikosilat (gula). Hasil glikolasi yang berupa glikoprotein disimpan dan selanjutnya dikirimkan ke luar sel oleh vesikula transpor. Di samping fungsi tersebut, aparatus Golgi dapat pula berperan dalam pembentukan lisosom dan berbagai enzim pencernaan yang belum aktif, contohnya enzim zymogen dan koenzim.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 7 Aparatus Golgi dan hubungannya dengan nukleus, retikulum endoplasma dan lisosom
Sebagian besar tubuh Golgi terdapat pada sel-sel sekretori, sehingga produknya banyak disekresikan. Sebagai contoh, sel sekretori pada kelenjar pencernaan yang mengeluarkan enzim-enzim pencernaan, contohnya laktase dan peptidase. Badan Golgi juga ada yang terdapat pada sel-sel pankreas yang mengeluarkan tripsin dan lipase, termasuk juga pada kelenjar air mata yang mengeluarkan antibodi.

3.1.4. Lisosom

Lisosom (lysis = pemisahan, pembelahan, soma = tubuh) adalah tubuh berbentuk lingkaran mirip kantong kecil dengan diameter 0,1 hingga 1 m. Perhatikan Gambar 8. Di dalam lisosom terdapat 50 enzim dan kebanyakan yakni enzim hidrolitik yang bersifat asam. Enzim hidrolitik dipakai lisosom untuk mencerna makromolekul ketika pencernaan intraseluler. Contoh enzim hidrolitik yakni lipase, protase, nuklease, dan fosfatase. Sementara, makromolekul yang dihidrolisis contohnya protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 8. Aparatus Golgi dan hubungannya dengan nukleus, retikulum endoplasma dan lisosom
Di dalam sel, lisosom berperan ketika terjadi fagositosis. Fagositosis merupakan proses pencernaan yang dilakukan makhluk hidup dalam memakan organisme atau zat kuliner yang lebih kecil dari tubuhnya. Pada makhluk hidup uniselluler, proses fagositosis terjadi pada Amoeba. Sementara pada manusia, proses ini terjadi pada sel makrofaga, yakni suatu sel yang berperan dalam pertahanan tubuh dari basil perusak dan penyerang lainnya. Selain proses fagositosis, lisosom juga berperan dalam proses autofagi. Autofagi yakni proses daur ulang materi organik oleh enzim hidrolitik secara individual. Di dalam tubuh manusia, proses autofagi contohnya terjadi pada sel hati. Di dalam sel, lisosom juga bisa mencerna partikel-partikel yang masuk secara endositosis dan penge luaran enzim secara eksositosis. Misalnya, ketika terjadi pembentukan tulang keras dari tulang rawan. Lisosom sanggup pula melaksanakan autolisis. Autolisis juga termasuk proses yang terjadi pada lisosom. Autolisis merupakan proses penghancuran belahan tertentu suatu makhluk hidup secara mandiri. Contohnya, perusakan sel ekor katak ketika masih berudu.

3.1.5. Mitokondria

Mitokondria berbentuk lingkaran panjang atau mirip tongkat terdapat pada sel eukariotik aerob. Mitokondria dibatasi dua lapis membran yang kuat, fleksibel, dan stabil, serta tersusun atas lipoprotein. Membran dalam membentuk tonjolantonjolan yang disebut krista untuk memperluas permukaan agar perembesan oksigen lebih efektif. Ruangan dalam mitokondria berisi cairan disebut matriks mitokondria. Matriks ini kaya enzim pernapasan (sitokrom), DNA, RNA, dan protein. Perhatikan Gambar 9 berikut ini.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 9. Mitokondria dengan dua lapis membran dan krista.
Mitokondria mempunyai DNA sendiri yang mengkode sintesis protein spesifik. Mitokondria berfungsi dalam oksidasi makanan, respirasi sel, dehidrogenasi, fosforilasi oksidasif, dan sistem transfer elektron. Oksidasi zat kuliner di dalam mitokondria menghasilkan energi dan zat sisa. Secara sederhana reaksinya sanggup ditulis sebagai berikut.

                           Oksidasi
C6H12O6 + O2  -----------> CO2 + H2O + Energi
(glukosa)            Respirasi

Berkaitan dengan fungsi tersebut mitokondria sering disebut the power house of cell.

3.1.6. Badan Mikro

Badan mikro hampir ibarat lisosom, berbentuk agak bulat, diselubungi membran tunggal, dan di dalamnya berisi enzim katalase dan oksidase. Organela ini disebut badan mikro alasannya yakni ukurannya kecil, hanya bergaris tengah 0,3–1,5 μm. Terdapat dua tipe tubuh mikro, yaitu peroksisom dan glioksisom. Peroksisom terdapat pada sel hewan, fungi, dan daun tumbuhan tingkat tinggi. Perhatikan Gambar 10. untuk mengetahui letak peroksisom di dalam sel. Peroksisom berperan dalam oksidasi substrat menghasilkan H2O2 (bersifat racun bagi sel) yang selanjutnya dipecah menjadi H2O + O2. Peroksisom penting dalam perembesan cahaya dan respirasi sehingga berafiliasi erat dengan kloroplas dan mitokondria. Peran lain peroksisom selain melindungi sel dari H2O2 juga berperan dalam perubahan lemak menjadi karbohidrat dan perubahan purin dalam sel. Glioksisom terdapat pada sel tanaman. Glioksisom berperan dalam metabolisme asam lemak dan tempat terjadinya siklus glioksilat.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 10. Struktur peroksisom.
3.1.7. Kloroplas

Kloroplas hanya terdapat pada sel tumbuhan dan Algae tertentu. Pada tumbuhan biasanya berbentuk cakram dengan diameter 5–8 μm dan tebal 2–4 μm. Kloroplas dibatasi membran ganda. Di dalam kloroplas terdapat klorofil (pigmen fotosintetik) dan pigmen lain yang terletak pada membran atau pada materi dasar di dalam kloroplas. Bahan dasar kloroplas berupa cairan disebut stroma. Perhatikan Gambar 11. berikut.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 11. Struktur kloroplas.
Kloroplas berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Peran pigmen untuk menangkap cahaya matahari yang akan diubah menjadi energi kimia.

3.1.8. Vakuola

3.2. Organela Sel Tak Bermembran

3.2.1. Sitoskeleton

Sitoskeleton atau rangka sel tersusun atas tiga jenis serabut yang berbeda yaitu, mikrofilamen, mikrotubulus, dan filamen intermediar.

a. Mikrofilamen

Mikrofilamen yakni rantai ganda protein yang bertaut dan tipis. Mikrofilamen tersusun atas dua macam protein, yaitu aktin dan miosin. Mikrofilamen banyak terdapat pada sel-sel otot. Mikrofilamen mempunyai diameter 7 nm sehingga pengamatannya harus menggunakan mikroskop elektron.

b. Mikrotubulus

Mikrotubulus yakni rantai-rantai protein yang membentuk spiral. Spiral ini membentuk tabung berlubang yang panjangnya mencapai 2,5 mm dengan diameter 25 nm. Mikrotubulus tersusun atas protein yang dikenal sebagai tubulin. Mikrotubulus merupakan penyusun sitoskeleton yang terbesar. Mikrotubulus terdapat pada gelendong sel, yaitu berupa benang-benang spindel yang menghubungkan dua kutub sel pada waktu sel membelah. Gerakan kromosom dari kawasan ekuator ke kutub masing-masing pada anafase dikendalikan oleh mikrotubulus. Dengan demikian, mikrotubulus mempunyai fungsi mengarahkan gerakan komponen-komponen sel, mempertahankan bentuk sel, serta membantu dalam pembelahan mitosis.

c. Filamen Intermediar

Filamen intermediar yakni rantai molekul protein yang membentuk untaian yang saling melilit. Filamen ini berdiameter 8 – 10 nm. Disebut serabut intermediar karena ukurannya di antara ukuran mikrofilamen dan mikrotubulus. Serabut ini tersusun atas protein yang disebut fimentin, tetapi tidak semua sel filamen intermediarnya tersusun atas fimentin. Misalnya sel kulit filamennya tersusun atas protein keratin. Perhatikan Gambar 12 untuk mengetahui susunan sitoskeleton.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 12. Bagian-bagian sitoskeleton
3.2.2. Ribosom

Ribosom merupakan struktur paling kecil yang tersuspensi dalam sitoplasma dan terdapat di sel eukariotik maupun prokariotik. Pada sel eukariotik, ribosom terdapat bebas dalam sitoplasma atau terikat RE. Ribosom tersusun atas protein dan RNA. Ribosom terdiri dari dua subunit, yaitu subunit kecil dan subunit besar. Perhatikan Gambar 13 untuk mengetahui struktur ribosom. Tiap-tiap subunit disintesis dalam nukleolus dan dikeluarkan melalui porus nukleus ke sitoplasma tempat kedua subunit bergabung. Ribosom berperan dalam sintesis protein.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 13. Struktur ribosom
3.2.3. Sentriol

Sel binatang dan beberapa mikroorganisme serta tumbuhan tingkat rendah mengandung dua sentriol dalam sitoplasma. Sentriol terletak di bersahabat permukaan luar nukleus. Setiap sentriol terdiri atas sebaris silinder sebanyak sembilan mikrotubul. Perhatikan Gambar 14 di samping. Sentriol berperan dalam proses pembelahan sel.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 14. Struktur sentriol
3.2.4. Dinding Sel


Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Monday, March 2, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Tubuh Mikro - Gambar


Struktur dan Fungsi Badan Mikro - Gambar - Perioksim Glioksisom - Sesuai namanya, tubuh mikro berukuran kecil dengan diameter 0,3 sampai 1,5 μm. Organel ini terbungkus oleh selapis membran yang terdiri atas peroksisom dan glioksisom. Perhatikan Gambar 1. Perioksisom mengandung banyak enzim katalase. Enzim katalase berperan untuk menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) sehingga menjadi netral dari racun. Selain itu, enzim katalase juga berperan dalam metabolisme lemak dan fotorespirasi. Perioksisom sanggup kita temukan pada sel binatang dan sel tumbuhan. Pada sel hewan, banyak perioksisom terdapat pada sel hati, sel otot, dan sel ginjal. Perioksisom ini sangat terkait dengan relitikulum endoplasma. Sebab, peroksisom merupakan membran yang dihasilkan retikulum endoplasma.
membran yang terdiri atas peroksisom dan glioksisom Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Badan Mikro - Gambar
Gambar 1. Peroksisom yang berada pada sel daun
Sementara itu, glioksisom terdapat banyak pada sel tumbuhan yang berlemak, contohnya saja pada biji. Di dalamnya terdapat enzim katalase dan oksidase yang berperan dalam metabolisme lemak yakni mengubah lemak menjadi gula. Energi hasil metabolisme ini digunakan ketika perkecambahan biji.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Thursday, November 7, 2019

Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Binatang Dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi

Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi - Saat terdengar kata “sel”, mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tindak kriminal. Pemahaman ini tidak seutuhnya salah, alasannya yaitu sel diibaratkan sebuah kamar-kamar kecil yang tersebar di seluruh tubuh. Isi kamar tersebut berupa organela sel yang selalu beraktivitas. Karena itu, sel yaitu unit terkecil penyusun makhluk hidup dan sebagai daerah berlangsungnya kegiatan kehidupan. Aktivitas kehidupan sel mencakup sintesis, pengangkutan zat, pernapasan, pengeluaran zat sisa, pertumbuhan dan perkembangan.

A. Sejarah Penemuan Sel

Penemuan sel pertama kali diawali dengan ditemukannya mikroskop oleh Antoni von Leeuwenhoek. Bentuk mikroskop tersebut sanggup kalian ketahui dengan mencermati Gambar 1.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 1. Bentuk mikroskop yang ditemukan pertama kali.
Adanya inovasi mikroskop ini mengilhami ilmuwan Inggris, Robert Hooke (1635-1703), jago pembuat mikroskop, melaksanakan pengamatan terhadap suatu obyek biologi. Saat itu ia mengamati irisan penampang melintang gabus batang tumbuhan. Irisan melintang tersebut tampak pada Gambar 2.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 2. Irisan melintang gabus batang flora yang diamati Hooke.
Ia melihat bahwa di dalam irisan itu terdapat rongga segi enam yang kosong dan mati. Ia menyebut rongga tersebut dengan nama sel, yang berasal dari kata cellula yang berarti ‘kamar’. Tahun 1838, dua jago biologi Jerman, yakni Mathias J. Schleiden yang jago botani dan Th eodor Schwann yang jago zoologi, menandakan bahwa sel itu hidup dan bukanlah kamar kosong. Namun, di dalam sel tersebut terdapat sitoplasma yang berisi cairan. Oleh lantaran itu, muncullah teori terkait sel. Teori ini dinamakan teori sel yang berbunyi bahwa semua makhluk hidup tersusun atas sel. Sel merupakan potongan terkecil makhluk hidup yang mempunyai kegiatan kehidupan. Sehingga hal ini memperlihatkan bahwa sel merupakan penyusun dasar badan makhluk hidup.

Penelitian perihal sel kemudian dilanjutkan oleh Felix Dujardin. Ia menemukan bahwa sel terdiri atas dinding sel dan isi sel. Isi sel ini mencakup materi yang bersifat hidup dan termasuk potongan terpenting sel hidup. Isi sel tersebut dinamakan protoplasma dengan arti zat pertama yang dibentuk. Sebenarnya, istilah protoplasma sudah diperkenalkan pertama kali tahun 1839 oleh jago fi siologi J. Purkinye. Protoplasma merupakan potongan sel yang berisi cairan menyerupai agar-agar.

Pada tahun 1858 Rudolf Virchow melengkapi teori perihal sel tersebut. Ia menemukan bahwa setiap sel berasal dari sel yang ada sebelumnya (omnis cellula cellula), sehingga muncul teori sel yang menyatakan bahwa sel merupakan kesatuan pertumbuhan. Tahun 1880 August Weismann memperlihatkan suatu kesimpulan bahwa sel yang ada ketika ini sanggup ditelusuri asal-usulnya hingga makhluk hidup yang paling awal. Inilah sejarah inovasi sel dari awal hingga era ke-19. Tentunya, pembahasan sel ketika ini semakin berkembang.

Sel hidup mempunyai banyak sekali ukuran dan bentuk, yakni bulat, oval, panjang, pendek, berekor, atau lainnya. Untuk mengetahui pelbagai bentuk sel pada makhluk hidup, perhatikan Gambar 3.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 3. Macam-macam bentuk Sel.
Sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi sama akan membentuk sebuah jaringan. Sekelompok jaringan yang berbeda akan menyusun suatu organ. Kemudian, organ-organ yang berbeda bekerja bersama membentuk sistem organ. Berbagai sistem organ yang berbeda akan berkumpul sehingga terbentuk individu.

Seiring perkembangan teknologi mikroskop dan teknik pewarnaan, inovasi potongan sel pun mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya inovasi organel sel sebagai penyusun sel hidup. Alhasil, komponen sel yang diketahui semakin bertambah. Sel tidak hanya tersusun atas membran plasma, inti sel dan sitoplasma saja, namun juga organel sel. Bahkan, pada tahun 1944 telah ditemukan komponen sel yaitu DNA atau gen.

Selain sebagai unit terkecil dalam kehidupan, sel juga sebagai unit fungsional. Artinya, sel-sel yang menyusun badan makhluk hidup tersebut sanggup melaksanakan fungsi atau kegi atan hidup. Selain itu, sel juga berperan sebagai unit hereditas (pewaris), yakni penurun sifat genetis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2. Komponen Kimiawi Penyusun Sel

Protoplasma yaitu sejenis substansi kompleks mirip agar-agar yang tidak habis dipakai ketika aktifi tas kimiawi dalam menjaga kelangsungan hidup sel. Substansi kompleks sel tersebut merupakan gabungan beberapa senyawa yang mempunyai perbandingan sama. Sebagian besar komposisi protoplasma yaitu air, yakni sekitar 70% hingga 90%. Di dalamnya terdapat garam mineral dan senyawa organik/senyawa karbon mirip karbohidrat, lemak, dan protein.

Komposisi protoplasma dalam setiap sel makhluk hidup berbeda. Sebab, protoplasma tersusun atas banyak sekali gabungan zat. Oleh lantaran itu, kemungkinan protoplasma yang menyusun sel penyusun organ badan tertentu berbeda dengan sel penyusun organ badan yang lain. Sebagai contoh, protoplasma yang menyusun sel otot berbeda dengan protoplasma penyusun sel otak.

Berdasarkan asal bahannya, protoplasma mempunyai dua bentuk, yakni potongan cair dan semi cair mirip gel. Kedua bentuk protoplasma ini amat bergantung pada materi fisiologis sel. Sekalipun para ilmuwan mengetahui banyak sekali jenis senyawa dalam protoplasma, namun tidak satupun yang bisa menciptakan sebuah gabungan sehingga bisa disebut protoplasma. Kendalanya yaitu sifat niscaya dari protoplasma masih belum diketahui. Selain itu, para ilmuwan belum bisa menghasilkan kondisi lingkungan yang hidup sanggup mulai. Ini menandakan kuasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Protoplasma sebuah sel tersusun atas tiga bagian, antara lain membran sel, sitoplasma, dan organel sel (termasuk nukleus). Kalian sanggup mempelajarinya pada bahasan berikutnya.










10. Anafase









19. Lisosom





24. Ribosom



27. Vakuola




Demikianlah daftar materi mengenai Sel. Semoga bermanfaat dan terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Sunday, November 10, 2019

Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Binatang Dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi

Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi - Saat terdengar kata “sel”, mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tindak kriminal. Pemahaman ini tidak seutuhnya salah, alasannya yaitu sel diibaratkan sebuah kamar-kamar kecil yang tersebar di seluruh tubuh. Isi kamar tersebut berupa organela sel yang selalu beraktivitas. Karena itu, sel yaitu unit terkecil penyusun makhluk hidup dan sebagai daerah berlangsungnya kegiatan kehidupan. Aktivitas kehidupan sel mencakup sintesis, pengangkutan zat, pernapasan, pengeluaran zat sisa, pertumbuhan dan perkembangan.

A. Sejarah Penemuan Sel

Penemuan sel pertama kali diawali dengan ditemukannya mikroskop oleh Antoni von Leeuwenhoek. Bentuk mikroskop tersebut sanggup kalian ketahui dengan mencermati Gambar 1.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 1. Bentuk mikroskop yang ditemukan pertama kali.
Adanya inovasi mikroskop ini mengilhami ilmuwan Inggris, Robert Hooke (1635-1703), jago pembuat mikroskop, melaksanakan pengamatan terhadap suatu obyek biologi. Saat itu ia mengamati irisan penampang melintang gabus batang tumbuhan. Irisan melintang tersebut tampak pada Gambar 2.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 2. Irisan melintang gabus batang flora yang diamati Hooke.
Ia melihat bahwa di dalam irisan itu terdapat rongga segi enam yang kosong dan mati. Ia menyebut rongga tersebut dengan nama sel, yang berasal dari kata cellula yang berarti ‘kamar’. Tahun 1838, dua jago biologi Jerman, yakni Mathias J. Schleiden yang jago botani dan Th eodor Schwann yang jago zoologi, menandakan bahwa sel itu hidup dan bukanlah kamar kosong. Namun, di dalam sel tersebut terdapat sitoplasma yang berisi cairan. Oleh lantaran itu, muncullah teori terkait sel. Teori ini dinamakan teori sel yang berbunyi bahwa semua makhluk hidup tersusun atas sel. Sel merupakan potongan terkecil makhluk hidup yang mempunyai kegiatan kehidupan. Sehingga hal ini memperlihatkan bahwa sel merupakan penyusun dasar badan makhluk hidup.

Penelitian perihal sel kemudian dilanjutkan oleh Felix Dujardin. Ia menemukan bahwa sel terdiri atas dinding sel dan isi sel. Isi sel ini mencakup materi yang bersifat hidup dan termasuk potongan terpenting sel hidup. Isi sel tersebut dinamakan protoplasma dengan arti zat pertama yang dibentuk. Sebenarnya, istilah protoplasma sudah diperkenalkan pertama kali tahun 1839 oleh jago fi siologi J. Purkinye. Protoplasma merupakan potongan sel yang berisi cairan menyerupai agar-agar.

Pada tahun 1858 Rudolf Virchow melengkapi teori perihal sel tersebut. Ia menemukan bahwa setiap sel berasal dari sel yang ada sebelumnya (omnis cellula cellula), sehingga muncul teori sel yang menyatakan bahwa sel merupakan kesatuan pertumbuhan. Tahun 1880 August Weismann memperlihatkan suatu kesimpulan bahwa sel yang ada ketika ini sanggup ditelusuri asal-usulnya hingga makhluk hidup yang paling awal. Inilah sejarah inovasi sel dari awal hingga era ke-19. Tentunya, pembahasan sel ketika ini semakin berkembang.

Sel hidup mempunyai banyak sekali ukuran dan bentuk, yakni bulat, oval, panjang, pendek, berekor, atau lainnya. Untuk mengetahui pelbagai bentuk sel pada makhluk hidup, perhatikan Gambar 3.
 mungkin yang tebersit dalam benak yaitu daerah untuk mengurung penjahat atau pelaku tind Pintar Pelajaran Struktur, Fungsi, Organel, Pengertian Sel, Hewan dan Tumbuhan, Eukariotik Prokariotik, Pembelahan, Membran, Biologi
Gambar 3. Macam-macam bentuk Sel.
Sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi sama akan membentuk sebuah jaringan. Sekelompok jaringan yang berbeda akan menyusun suatu organ. Kemudian, organ-organ yang berbeda bekerja bersama membentuk sistem organ. Berbagai sistem organ yang berbeda akan berkumpul sehingga terbentuk individu.

Seiring perkembangan teknologi mikroskop dan teknik pewarnaan, inovasi potongan sel pun mengalami kemajuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya inovasi organel sel sebagai penyusun sel hidup. Alhasil, komponen sel yang diketahui semakin bertambah. Sel tidak hanya tersusun atas membran plasma, inti sel dan sitoplasma saja, namun juga organel sel. Bahkan, pada tahun 1944 telah ditemukan komponen sel yaitu DNA atau gen.

Selain sebagai unit terkecil dalam kehidupan, sel juga sebagai unit fungsional. Artinya, sel-sel yang menyusun badan makhluk hidup tersebut sanggup melaksanakan fungsi atau kegi atan hidup. Selain itu, sel juga berperan sebagai unit hereditas (pewaris), yakni penurun sifat genetis dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2. Komponen Kimiawi Penyusun Sel

Protoplasma yaitu sejenis substansi kompleks mirip agar-agar yang tidak habis dipakai ketika aktifi tas kimiawi dalam menjaga kelangsungan hidup sel. Substansi kompleks sel tersebut merupakan gabungan beberapa senyawa yang mempunyai perbandingan sama. Sebagian besar komposisi protoplasma yaitu air, yakni sekitar 70% hingga 90%. Di dalamnya terdapat garam mineral dan senyawa organik/senyawa karbon mirip karbohidrat, lemak, dan protein.

Komposisi protoplasma dalam setiap sel makhluk hidup berbeda. Sebab, protoplasma tersusun atas banyak sekali gabungan zat. Oleh lantaran itu, kemungkinan protoplasma yang menyusun sel penyusun organ badan tertentu berbeda dengan sel penyusun organ badan yang lain. Sebagai contoh, protoplasma yang menyusun sel otot berbeda dengan protoplasma penyusun sel otak.

Berdasarkan asal bahannya, protoplasma mempunyai dua bentuk, yakni potongan cair dan semi cair mirip gel. Kedua bentuk protoplasma ini amat bergantung pada materi fisiologis sel. Sekalipun para ilmuwan mengetahui banyak sekali jenis senyawa dalam protoplasma, namun tidak satupun yang bisa menciptakan sebuah gabungan sehingga bisa disebut protoplasma. Kendalanya yaitu sifat niscaya dari protoplasma masih belum diketahui. Selain itu, para ilmuwan belum bisa menghasilkan kondisi lingkungan yang hidup sanggup mulai. Ini menandakan kuasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Protoplasma sebuah sel tersusun atas tiga bagian, antara lain membran sel, sitoplasma, dan organel sel (termasuk nukleus). Kalian sanggup mempelajarinya pada bahasan berikutnya.










10. Anafase









19. Lisosom





24. Ribosom



27. Vakuola




Demikianlah daftar materi mengenai Sel. Semoga bermanfaat dan terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Saturday, November 16, 2019

Pintar Pelajaran Cara Kerja Dan Aplikasi Sel Materi Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh

Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh - Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup manusia. Saat ini kebutuhan energi sudah sangat besar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk terutama energi listrik. Jadi, dalam bidang energi sudah saatnya kita mengusahakan untuk memproduksi sumber energi alternatif untuk mengantisipasi ketersediaan energi di masa yang akan datang. Sumber energi tersebut harus memenuhi parameter keberhasilan suatu sumber energi alternatif yaitu: sanggup diperbarui (renewable energy), ramah lingkungan, dan biaya yang murah. Salah satunya dengan memanfaatkan sel materi bakar (Fuel cell). Fuel cell merupakan konverter dari energi kimia ke energi listrik yang ramah lingkungan. Fuel cell dirancang untuk sanggup diisi reaktannya yang terkonsumsi dimana fuel cell memproduksi listrik dan penyediaan materi bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel materi bakar yakni hidrogen di sisi anoda dan oksigen di sisi katoda. Reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan mengalir keluar. Sehingga operasi jangka panjang sanggup terus menerus dilakukan selama disuplai oleh materi bakar (hidrogen) dan oksigen.

Fuel cell ini di klasifikasikan sebagai pembangkit tenaga lantaran sel materi bakar ini sanggup beroperasi secara terus menerus atau selama ada persediaan materi bakar (fuel) dan oksidan. Fuel cell diklasifikasikan dalam beberapa jenis tergantung dari jenis materi bakar yang digunakan, yaitu Alkaline Fuel Cell (AFC), Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC), Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC), Proton Exchange Membrane (PEM), Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) (De Guire, 2003). Fuel cell mempunyai karakteristik umum yaitu sangat efisien (>85%), modular (dapat ditempatkan dimana diperlukan), ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah), panas yang terbuang sanggup di simpan (Handayani, 2008).

SOFC dianggap menarik lantaran mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan fuel cell jenis lain. SOFC merupakan fuel cell dengan temperatur tertinggi pada ketika ini yaitu sekitar 600 oC - 1000 oC dan juga mempunyai tingkat efesiensi yang paling tinggi yaitu sekitar 60%. SOFC berkembang semenjak tahun 1950 dan mempunyai dua bentuk yaitu planar dan tubular. Keuntungan dari fuel cell jenis ini yaitu sanggup memakai materi bakar lain selain hidrogen. Sama ibarat jenis fuel cell yang lain, SOFC juga mempunyai tiga penggalan penting yaitu elektrolit, katode, dan anode (De Guire, 2003).

1. Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)

Fuel cell (sel materi bakar) yakni suatu konverter dari energi kimia menjadi energi listrik dengan memanfaatkan kecendrungan hidrogen dan oksigen untuk bereaksi dimana operasi jangka panjangnya sanggup terus menerus terjadi selama materi bakarnya sanggup terus disuplai yaitu hidrogen dan oksigen. Gas hidrogen dan oksigen secara elektrokimia dikonvert menjadi air. Reaksi secara keseluruhannya yakni sebagai berikut (Cook, 2001):

Anoda : H2 → 2 H+ + 2 e-
Katoda : ½ O2 + 2 H+ + 2 e- → H2O

Reaksi total : H2 + ½ O2 → H2O + energi listrik + kalor


Prinsip kerja fuel cell yaitu hidrogen di dalam sel dialirkan menuju sisi anoda sedangkan oksigen di dalam udara dialirkan menuju sisi katoda. Pada anoda terjadi pemisahan hidrogen menjadi elektron dan proton (ion hidrogen). Ion hidrogen ini kemudian menyebrang dan bertemu dengan oksigen dan elektron di katoda dan menghasilkan air. Elektron-elektron yang mengandung muatan listrik ini akan menuju katoda melalui jaringan eksternal. Aliran elektron-elektron inilah yang akan menghasilkan arus listrik. Skema fuel cell diperlihatkan pada Gambar 1.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Skema sel materi bakar (fuel cell) (Anonim 2012)
Fuel cell mempunyai beberapa kelebihan yaitu (Anonim, 2008):
  1. Memiliki efiesiensi yang tinggi (60%-70%)
  2. Ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah)
  3. Secara teoritis, limbah atau emisi yang dihasilkan yakni air (H2O).
Berbeda dengan pada pembakaran biasa dengan memakai mesin, dimana limbah yang dihasilan yakni gas-gas yang berpotensi untuk mencemari lingkungan. Selain itu kalau memakai pembangkit daya yang konvensional, polusi kebisingan juga sanggup terjadi, sedangkan sel materi bakar ini tidak menghasilkan suara. Sel materi bakar tidak memerlukan penggantian elektrolit dan pengisian materi bakar, akan tetapi kalau materi bakarnya habis, maka sel ini juga tidak sanggup berfungsi.

3. Bahan bakarnya flexibel

Bahan bakar yang digunakan untuk sel materi bakar sanggup digunakan beberapa macam, kebanyakan memakai hidrogen dan oksigen sebagai materi bakar dan oksidannya. Selain memakai kedua materi tersebut, materi bakar lain yang dicoba digunakan antara lain ammonia, hidrazine, metanol dan batubara.

Fuel cell mempunyai beberapa macam tipe yaitu
  1. Alkaline Fuel Cell (AFC)
  2. Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC)
  3. Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC)
  4. Proton Exchange Membrane (PEM)
  5. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)
4. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)

SOFC yakni suatu jenis perangkat elektrokimia yang memakai materi bakar oksida padat yang sanggup mengkonversi secara eksklusif dari energi kimia menjadi energi listrik yang lebih efisien dan materi bakarnya bebas dari polusi. Skema sebuah SOFC diperlihatkan pada Gambar 2. (Wikipedia, 2012):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 2. Skema SOFC. (Anonim, 2012)
Pada suhu tinggi oksigen bermigrasi melalui lapisan elektrolit menuju anoda yang akan mengoksidasi materi bakar yang mengandung molekul hidrogen pada anoda yang akan menghasilkan ion hidrogen dan akan membebaskan elektron. Elektron yang dihasilkan pada anoda keluar dari sirkuit masuk ke sisi katoda yang akan dipergunakan sebagai tenaga listrik dengan efisiensi 60%. SOFC mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis fuel cell yang lain, yaitu (Anonim, 2012):
  1. Memiliki efisiensi yang tinggi 60%.
  2. Memiliki stabilitas jangka panjang.
  3. Ramah lingkungan.
  4. Dapat memakai beberapa jenis materi bakar.
  5. Emisinya rendah.
  6. Biaya yang relatif rendah.
  7. Dapat beroperasi pada suhu tinggi yaitu 600 oC - 1000 oC.
SOFC mempunyai dua desain yaitu desain planar dan tubular (tabung) ibarat yang terlihat pada Gambar 3. 

Desain planar mempunyai lapisan khusus dalam aneka macam ukuran yang banyak digunakan dalam aneka macam sel materi bakar dimana lapisan elektrolitnya terletak diantara elektroda. Sedangkan desain tubular, udara atau materi bakar melewati penggalan dalam tabung dan gas lainnya dilewatkan pada penggalan luar tabung. Desain tubular menguntungkan lantaran lebih gampang untuk membatasi dan memisahkan materi bakar dari udara dibandingkan dengan bentuk planar (De Guire 2003).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 3. (a) sistem tubular SOFC (b) Sistem planar SOFC (De Guire 2003).
Sama ibarat fuel cell pada umumnya, SOFC juga mempunyai penggalan penting, yaitu (De Guire, 2003):

a. Elektrolit

Elektrolit merupakan pemisah antara katoda dan anoda. Elektrolit berfungsi untuk memindahkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dalam sel materi bakar. Elektrolit sangat kuat pada kinerja fuel cell.

b. Katode

Katode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan udara yang berfungsi menjadi batas untuk oksigen dan elektrolit, mengkatalis reaksi reduksi oksigen dan menghubungkan elektron-elektron dari sirkuit luar ke daerah reaksi.

c. Anode

Anode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan materi bakar yang berfungsi menjadi batas untuk materi bakar dan elektrolit, mengkatalis reaksi oksidasi dan menghubungkan elektron-elektron dari daerah reaksi elektron dari daerah reaksi ke eksternal sirkuit. Anoda merupakan penggalan terpenting dalam SOFC. Anode dalam sebuah SOFC harus mempunyai beberapa kriteria yaitu
  1. Memiliki konduktivitas listrik yang tinggi (10-1- 103 (Ω.cm)-1)
  2. Stabil dalam lingkungan reduksi
  3. Mempunyai porositas yang Istimewa dan banyak (20%-40%)
  4. Memiliki acara katalik dan elektrokimia yang tinggi untuk mengoksidasi materi bakar
  5. Memiliki struktur kristal kubik.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Herliyani (2012) dilakukan pembuatan anode dengan materi dasar CSZ (calcia stabilized zirconia) dengan metode kompaksi serbuk. Dimana metode kompaksi serbuk merupakan proses pembuatan serbuk dan benda jadi dari serbuk logam atau paduan logam dengan ukuran serbuk tertentu dengan cara di kompaksi tanpa melalui proses peleburan (Rusianto, 2009). Energi yang digunakan dalam proses ini relative rendah sedangkan laba lainnya antara lain hasil kesudahannya sanggup eksklusif diadaptasi dengan dimensi yang diinginkan yang berarti akan mengurangi biaya permesinan dan materi baku yang terbuang.

Jenis dan macam produk yang dihasilkan oleh proses metalurgi serbuk sangat ditentukan proses kompaksi dalam membentuk serbuk dengan kekuatan yang baik. Pada proses kompaksi serbuk meliputi proses pengepresan suatu bentuk di dalam cetakan yang terbuat dari baja. Teknik metalurgi serbuk meliputi pencampuran serbuk (mixing), pembuatan pellet (kompaksi), perlakuan panas (sintering). Pengecoran yakni suatu proses manufaktur yang memakai logam cair dan cetakan untuk menghasilkan parts dengan bentuk yang mendekati bentuk geometri simpulan produk jadi. Logam cair akan dituangkan atau ditekan ke dalam cetakan yang mempunyai rongga sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Anonim, 2011). Namun teknik ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain butir-butir yang dihasilkan cukup besar sehingga menurunkan kekuatan tariknya. Selain itu teknik pengecoran mempunyai kesulitan dalam pemaduan unsur-unsur dengan perbedaan titik leleh yang besar. Sehingga metode metalurgi serbuk ini digunakan dalam penelitian ini walaupun metode ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu : bentuk yang rumit tidak sanggup dibuat, materi serbuk logam mahal dan kadang sulit penyimpanannya lantaran gampang terkontaminasi.

Keramik CSZ ini merupakan adonan dari ZrO2 dan CaO dengan perbandingan persentase mol sebesar 85% dan 15% lantaran jika ZrO2 lebih dari 85% maka dikhawatirkan keramik akan menjadi ringkih sedangkan kalau persentase mol kurang dari 85% maka tidak akan membentuk struktur kristal kubik ibarat yang diharapkan. Kemudian adonan CSZ yang terbentuk ditambahkan dengan NiO dan PVA yang bervariasi konsentrasi beratnya masing-masing sebesar 2%, 6%, dan 10% dimana variasi persentase konsentrasi berat PVA ibarat ini paling tepat untuk menghasilkan porositas keramik yang Istimewa tetapi konsentrasi berat PVA ini bisa diekstrapolarsi kalau ada penelitian lain yang mencoba dengan persentase konsentrasi berat PVA sebesar ≤ 2%, 6%, dan 10%. Berikut ini yakni tabel karakteristik dari PVA (polyvinyl alcohol).

Tabel 1. Karakteristik PVA (Wikipedia, 2012)

Rumus Molekul
(C2H4O)
Kerapatan
1,19 – 1,39 g/cm3
Titik didih
228 oC
Titik lebur
230 oC

Matula et al., (2008) menjelaskan bahwa untuk mendapat materi anode SOFC yang paling baik, maka adonan harus disintering dengan temperature sintering ≤ 1400 oC dan direduksi pada temperatur minimal 800 oC  Hal ini terlihat dari Gambar 4, dimana pada gambar ini terlihat bahwa densitas dari Ni-YSZ meningkat seiring dengan penambahan suhu sintering tetapi akan kembali menurun kalau suhu sinteringnya lebih dari 1500 oC. Sedangkan kalau temperatur reduksi kurang dari 800 oC maka reduksi akan berlangsung tidak tepat lantaran masih adanya fase NiO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 4. Kurva sintering Ni-YSZ 50:50 (Matula et al., 2008)
Selain suhu sintering dan reduksi, komposisi NiO pada Ni-YSZ juga mensugesti materi yang akan dijadikan anode. Seperti yang diharapkan porositas meningkat terhadap NiO sebagai konsekuensi dari reduksi Ni. Efek ini menguntungkan untuk transport materi bakar di anoda. Namun, ketika tingkat porositas terlalu tinggi maka sifat mekanik berkurang. Berdasarkan pengujian sifat listrik ditemukan bahwa meningkatnya NiO mengakibatkan peningkatan konduktivitas pada Ni-YSZ. NiO yang lebih rendah dari 40% menghasilkan konduktivitas yang relative rendah dan material ini tidak sesuai untuk diaplikasikan sebagai anode pada SOFC. Untuk mempertahankan sifat mekanik yang tinggi yang dibutuhkan untuk anoda SOFC, komposisi NiO di NiO-YSZ adonan dihentikan lebih tinggi dari 60% tetapi dihentikan lebih kurang dari 40% biar harga konduktivitas keramik tidak terlalu rendah (Matula et al., 2008). Oleh lantaran itu, pada penelitian ini dilakukan pembuatan keramik Ni-CSZ untuk diaplikasikan sebagai anode SOFC dengan komposisi NiO 50% dengan suhu sintering 1500 oC dan direduksi pada suhu 900 oC.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 5. Proses yang terjadi selama pembuatan keramik secara fisis
Proses fisis yang terjadi selama pembuatan pelet Ni-CSZ secara fisis dijelaskan pada Gambar 5. sebagai berikut:

2.1. Keramik

Keramik sanggup didefinisikan sebagai adonan anorganik yang meliputi materi logam dan nonlogam yang dibuat menurut perlakuan panas dan tekanan (Boursoum, 1997). Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia, dan mineral bawaannya. Keramik mempunyai jenis yang sangat banyak. Salah satunya adalah ZrO2, dimana keramik ZrO2 memiliki karakteristik sebagai berikut: diguanakan pada suhu hingga 2.400 oC, kepadatan tinggi, konduktifitas termalnya rendah, kimia inertness, perlawanan terhadap logam cair , ionic konduksi listrik, ketangguhan perpatahan tinggi, kekerasan tinggi, (dalam Wikipedia, 2010). Gambar berikut pertanda diagram fasa ZrO2-CaO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 6. Diagram fasa ZrO2-CaO. (Anonim, 2012)
Gambar 6. merupakan diagram fasa ZrO2 CaO. Dalam penelitian ini keramik CSZ diharapkan membentuk struktur kubik sehingga persentase mol CaO harus diantara 15% - 27% dan temperature sinteringnya ≤ 1500 oC.

2.3 Sintering

Proses sinter merupakan proses perlakuan panas pada serbuk ataupun padatan dari serbuk pada temperatur 2/3 dibawah titik leleh untuk meningkatkan kekuatan (Didiek et al., 2007). Proses sintering ini lebih efektif daripada proses kalsinasi. Dimana kalsinasi itu merupakan suatu metode pemisahan dengan memecah ikatan antar senyawa memakai pemanasan 800 oC karena pada suhu ini ikatan kompleks akan terpecah. Sedangkan pembakaran yakni suatu tahapan reaksi kimia antara suatu materi bakar dan suatu oksidan disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.

Proses sintering sangat efektif untuk mengurangi porositas, meningkatkan kekuatan, meningkatkan konduktivitas termal, dan meningkatkan kerapatan keramik sesuai dengan mikrostruktur dan komposisi fasa yang diinginkan. Selama proses sintering ukuran butir mengecil dan menjadi lebih bundar lantaran permukaan partikel masuk ke pori-pori di dalamnya sehingga porositas berkurang dan menciptakan sampel menjadi lebih padat. Gambar 7a. dan Gambar 7b. pertanda dua kemungkinan yang akan terjadi selama proses sintering.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 7. (a) Densifikasi diikuti dengan pertumbuhan butir (grain growth), (b) coarsening (Barsoum, 1997).
Kedua prosedur ini saling bersaing. Jika proses atomnya yang mendominasi yakni densifikasi, maka kerapatan dan porositasnya akan mengecil dan menghilang terhadap waktu. Tetapi, kalau proses coarsening lebih cepat, maka kekasaran dan porositasnya akan membesar terhadap waktu (Barsoum, 1997).

3. Polimeric Electrolyte Membrane Fuel Cells (PEMFC) (Mudzakir, 2010)

PEMFC merupakan sel materi bakar yang banyak dipilih dikarenakan sel materi bakar tersebut mempunyai sifat yang lebih menguntungkan, yakni bisa meminimalisir korosi yang sering terjadi dalam penggunaan sel materi bakar jenis laindengan materi elektrolit yang korosif, selain itu PEMFC sanggup beroperasi pada temperatur rendah (sekitar 80 oC). Pada PEMFC membran digunakan sebagai konduktor proton dan insulator elektronik sehingga mempermudah pengemasan dan meningkatkan efisiensi kerja transfer ion H+ hingga mencapai 40-50%. (Souza, 2003)

Membran yang ketika ini banyak digunakan untuk PEMFC yakni Nafion®. Politetrafluoroetilena dengan cabang gugus asam sulfonat (Nafion®) mempunyai konduktivitas proton, ketahanan mekanik, dan ketahanan termal yang baik. Namun membran Nafion® mempunyai kekurangan yaitu tidak ramah lingkungan, harga yang mahal serta mempunyai permeabilitas metanol yang tinggi sehingga tidak sanggup diaplikasikan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Oleh lantaran itu aneka macam penelitian dilakukan dengan tujuan mendapat membran gres yang lebih baik dari segi kualitas, harga dan ramah lingkungan dibandingkan dengan Nafion®.

Dalam PEMFC membran yang digunakan harus bermuatan negatif biar efisien dalam menarik dan melewatkan proton dari anoda ke katoda. Dan biar lebih ramah lingkungan membran harus sanggup terdegradasi secara alami, sehingga membran hasil pemakaian tidak menjadi limbah atau polutan.

Kitosan merupakan salah satu biopolimer yang memenuhi syarat untuk diaplikasikan sebagai membran dalam sel materi bakar. Karena kitosan bersifat hidrofilik, mempunyai kekuatan mekanik yang baik, gampang dimodifikasi secara kimia serta sanggup terdegradasi secara alami. Kitosan merupakan biopolimer yang berasal dari kulit udang yang telah dideasetilisasi. Sehingga pemanfaatan kitosan sebagai membran sanggup menjawab permasalahan limbah dan menaikkan nilai ekonomi kulit udang tersebut. Bila dibandingkan dengan Nafion® konduktivitas kitosan sangat rendah, sehingga untuk menaikkan konduktivitas ioniknya dilakukan sulfonasi pada kitosan.

Polymeric electrolyte membrane fuel cell (PEMFC) disebut juga proton exchange membrane fuel cell. Membran ini berupa lapisan tipis padat yang berfungsi sebagai elektrolit pemisah katoda dan anoda. Membran ini secara selektif mengontrol transport proton dari anoda ke katoda dalam sel materi bakar. PEMFC mengandung katalis platina. Selain itu, pada fuel cell ini tidak digunakan fluida yang bersifat korosif ibarat jenis sel materi bakar lainnya.

Membran polimer merupakan komponen yang sangat penting dalam PEM fuel cell. Membran polimer ini sanggup memisahkan reaktan dan menjadi sarana transportasi ion hidrogen yang dihasilkan di anoda menuju katoda sehingga menghasilkan energi listrik. Kemurnian gas hidrogen sangat mensugesti emisi buang sistem fuel cell berbasis polimer tersebut. Kemurnian hidrogen yang tinggi mengatakan tingkat emisi yang mendekati zero emission. Penggunaan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi juga sanggup memperpanjang waktu hidup membran fuel cell dan mencegah pembentukan karbonmonoksida (COx) yang beracun, pada permukaan katalis (Jamal, 2007).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Skema PEMFC
Skema citra pada prinsip sel materi bakar ditunjukkan pada Gambar 8. hidrogen sebagai materi bakar yang dikonsumsi pada anoda, menghasilkan elektron yang dialirkan ke katoda melalui rangkaian luar. Ion hidrogen masuk ke larutan elektrolit dan tersebar ke katoda oleh aliran elektroosmotik. Pada katoda, oksigen dikombinasikan dengan elektron dan proton dari aliran elektrolit untuk menghasilkan air dan panas. Ionic liquids fuel cell (ILFs) merupakan sel materi bakar berbasis hidrogen dengan cairan ionik sebagai elektrolitnya, yang berfungsi sebagai media untuk proton (H+) bermigrasi dari anoda menuju ke katoda. Pada penelitian sebelumnya (Souza, 2003) telah melaksanakan penelitian mengenai cairan ionik imidazolium sebagai media penghantar proton dalam sel materi bakar.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Diagram aplikasi sel materi bakar pada aneka macam bidang.
Dengan kemajuan yang signifikan, kini sel materi bakar telah diaplikasikan pada aneka macam bidang untuk memenuhi kebutuhan dan fasilitas bagi kehidupan manusia. Diantaranya untuk transportasi air, udara dan bahari serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan industri. Serta digunakan dalam aneka macam bidang ibarat industri, kedokteran, transportasi hingga militer.

3.1 Kitosan

Kitosan pertama kali ditemukan oleh ilmuan Perancis, Ojier, pada tahun 1823. Ojier meneliti kitosan hasil ekstrak kerak hewan berkulit keras, ibarat udang, kepiting, dan serangga.

Senyawa kitosan diperoleh dari proses deasetilisasi senyawa kitin. Kitin yakni poliamino sakarida yang cukup banyak terdapat di alam sesudah selulosa, susunan molekulnya ibarat dengan selulosa. Keterbatasan penggunaan kitin disebabkan kitin sukar larut dalam beberapa pereaksi. Oleh lantaran itu kitin banyak digunakan sesudah ditransformasikan dalam bentuk kitosan. Gambar 9. memperlihatkan reaksi transformasi kitin menjadi kitosan.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 9. Reaksi Transformasi Kitin Menjadi Kitosan. [1]
Kitosan yang sanggup diperoleh dari deasetilasi kitin merupakan biopolimer yang potensial untuk dijadikan materi dasar membran sel materi bakar (fuel cell membranes). Dikarenakan keunggulan material ini yang bersifat hidrofilik, mempunyai ketahanan mekanik yang tinggi, gampang dimodifikasi secara kimia, ramah lingkungan serta keberadaanya yang melimpah di alam.

3.2 Kitosan Sulfonat

Untuk meningkatkan konduktivitas membran kitosan dan menurunkan permeasi terhadap metanol dalam aplikasi sel materi bakar dilakukan proses sulfonasi terhadap kitosan. Reaksi sulfonasi sanggup diartikan sebagai suatu reaksi subtitusi untuk mengganti atom hidrogen dengan gugus –SO3H pada molekul organik melalui ikatan kimia pada atom karbon. Syarat untuk terjadinya sulfonasi yakni keasaman fasa yang harus dipenuhi, lantaran kalau terjadi perbedaan fasa antara gugus sulfonasi dengan polimer yang akan disulfonasi sanggup mengakibatkan reaksi sulfonasi mengalami kegagalan. Selain itu dalam reaksi ini dibutuhkan suatu pelarut yang mempunyai kelarutan yang baik.

Proses sulfonasi sanggup dilakukan dengan senyawa yang mempunyai gugus sulfonat diantaranya yaitu asam sulfat (H2SO4), oleum, asetil sulfat, dan asam klorosulfonat. Proses sulfonasi pun sanggup dilakukan dengan 2 metode, metode pertama yaitu metode konvensional dan metode yang kedua memakai dukungan gelombang mikro (microwave oven). Hasil karakterisasi penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfonat yang dihasilkan dengan metoda konvensional mempunyai sifat termal dan kapasitas penukar proton yang lebih tinggi dibandingkan membran yang diperoleh dengan dukungan gelombang mikro. 

Namun demikian, membran yang dihasilkan dari metoda pertama sangat rapuh. Sebaliknya, membran kitosan tersulfonasi yang diperoleh dari hasil reaksi dengan dukungan gelombang mikro mempunyai kekuatan mekanik yang baik untuk uji permeasi selanjutnya. Data penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfat yang disintesis dengan gelombang mikro mempunyai nilai permeasi terhadap metanol yang lebih rendah dibandingkan dengan membran kitosan tanpa sulfonasi (Velianti, 2008). Gambar 10. memperlihatkan reaksi transformasi kitosan menjadi kitosan sulfonat dengan asam klorosulfonat sebagai biro pensulfonasinya.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 10. Reaksi Transformasi Kitosan Menjadi Kitosan Sulfonat. [10]
Penelitian mengenai sintesis kitosan sulfat dengan dukungan gelombang mikro telah dilakukan sebelumnya (Mansyur, 2009). Gelombang mikro digunakan untuk membantu pemasukan gugus N-sulfo dan O-sulfo pada kitosan. Struktur kitosan sulfonat yang didapatkan dengan gelombang mikro tidak jauh berbeda dengan struktur kitosan. Karakterisasi penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan memakai gelombang infra merah menghasilkan spektrum khas yang sama dengan kitosan hanya berbeda serapan pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1 yang memperlihatkan vibrasi ulur ikatan –SO2O-O- dan pada serapan 1018,41 cm-1 yang memperlihatkan ikatan C-O-S. Selain itu, puncak gugus C=O yang terdapat pada bilangan gelombang 1658 cm-1 mempunyai kesamaan antara kitosan dan kitosan sulfonat memperlihatkan bahwa rantai polimer tidak mengalami pemutusan ikatan.

3.3 Modifikasi Membran dengan Cairan ionik

Pemodifikasian membran Nafion® dengan cairan ionik 1-etil-3-metilimidazolium (EMI) telah dilakukan oleh Bennett, et al. (2005). Pemodifikasian tersebut dilakukan untuk mengetahui efek cairan ionik pada membran Nafion® dengan cara identifikasi pada nilai konduktivitas membran dan morfologi membran. Pemodifikasian dilakukan dengan cara meredam membran dalam cairan ionik / metanol dengan perbandingan 1:1 (v/v) selama 3 jam pada suhu ruang dan pada suhu 70 oC. Metanol dipilih lantaran sanggup melarutkan cairan ionik dan sifatnya yang gampang menguap. Membran kemudian dikeringkan pada suhu 110 oC selama 3 jam untuk menghilangkan metanol. Dilaporkan pula bahwa proses pemodifikasian membran dengan cairan ionik akan lebih baik pada suhu tinggi, namun penguapan methanol sangat cepat pada suhu 90 oC, sehingga proses pemodifikasian tidak terkendali.

3.4. Cairan Ionik (Ionic Liquids)

Cairan ionik (ionic liquids) yakni suatu senyawa yang hanya mempunyai spesies ionik tanpa adanya molekul netral yaitu hanya terdiri atas kation-anion (Hermanutz, et al., 2006). Dalam arti luas, istilah ini meliputi semua garam cair, misalnya, lelehan natrium klorida pada suhu yang lebih tinggi dari 800 °C. Namun, pada ketika ini, istilah "cairan ionik" digunakan untuk garam dengan titik lebur yang relatif rendah (dibawah 100 °C). Berbeda dengan garam cair (molten salt) yang biasanya mempunyai titik leleh dan viskositas tinggi, juga sangat korosif, cairan ionik umumnya berwujud cair pada suhu kamar, mempunyai viskositas relatif lebih rendah dan relatif tidak mempunyai sifat korosif (Toma, et al., 2000). Dengan demikian, cairan ionik (ILs) hanya digunakan untuk garam dengan titik leleh yang relatif rendah, yaitu terletak pada suhu < 100 - 150 oC (Hagiwara dan Ito, 2000; Hermanutz, et al., 2006), terutama garam yang berbentuk cairan pada suhu kamar lebih dikenal dengan room-temperature ionic liquids (RTILs).

Keuntungan dari sifat yang dimiliki cairan ionik yakni mempunyai rentang cair besar, sekitar 300 °C (-96 hingga lebih dari 200 °C) ; mempunyai kestabilan termal dan elektrokimia yang tinggi; merupakan pelarut yang baik bagi material organik, anorganik maupun polimer; tidak gampang menguap; tidak gampang terbakar; tidak beraroma (bau yang ditimbulkan berasal dari pengotor); memperlihatkan keasaman Bronsted, Lewis, Franklin dan keasaman yang tinggi (Superacidity); sanggup menjadi katalis sekaligus sebagai pelarut; mempunyai sifat selektif yang tinggi terhadap suatu reaksi dan sebagainya (Fitzwater, et al., 2005; Lajunen, 2006; Pitner, 2004).

Sifat dari cairan ionik sanggup diadaptasi dengan mengubah struktur kation dan anionnya (Murugesan dan Linhardt, 2005). Sifat-sifat cairan ionik ibarat kepolaran atau hidrofilisitas/ lipofilisitas yang bisa diatur tergantung dari kation maupun anion yang menyusunnya mengakibatkan cairan ionik dikenal sebagai tailored-made solvents (Gordon, 2003).

Jenis-jenis kation yang sering digunakan sebagai kation cairan ionik diantaranya yakni sebagai berikut (Murugesan dan Linhardt, 2005):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 11. Beberapa Jenis Kation Cairan Ionik.
Sedangkan jenis anion yang sering digunakan diantaranya yakni tetraflouroborat [BF4]-, heksaflouroposfat ([PF6]-), heksafluoro antimonat ([SbF6]-), nitrat ([NO3]-), tosilat ([Ots]-), triflat ([Otf]-), bromida (Br-), klorida (Cl-), iodida (I-), triflouroasetat ([CF3CO2]-), perklorat ([ClO4]-), germanium klorida ([GeCl3]-), bis(trifluorometilsulfonil) imida ([NTf2]-), aluminium klorida ([Al2Cl7]-), aluminium tetraklorida ([AlCl4]-), asetat ([CH3CO2]-), dan benzoat ([C6H5CO2]-) (Murugesan dan Linhardt, 2005).

3.4.1 Sintesis Cairan Ionik

Tahapan sintesis dari cairan ionik sanggup dibagi menjadi dua tahap, yaitu: pembentukan kation yang diinginkan dan pergantian anion untuk membentuk produk yang diinginkan. Pada beberapa kasus, produk sanggup eksklusif dihasilkan tanpa melaksanakan tahap kedua ibarat pada pembentukan etilammonium nitrat. Kebanyakan masalah kation yang diinginkan secara komersil tersedia dalam harga yang masuk akal (seperti garam halida, garam tetraalkilammonium dan trialkilsulfonium iodida), yang hanya digunakan untuk reaksi pergantian anion. Reaksi yang digunakan untuk mensintesis cairan ionik meliputi reaksi kuartenerisasi dan reaksi pergantian anion (Gordon, 2003).

3.4.2 Reaksi Kuartenerisasi

Pembentukan kation sanggup dihasilkan melalui protonasi dengan adanya asam bebas atau kuartenerisasi dari amina atau fosfin, biasanya dengan haloalkana. Reaksi protonasi, yang biasa digunakan pada pembentukan garam ibarat etilammonium nitrat, melibatkan penambahan asam nitrat 3 M yang kemudian didinginkan ke dalam larutan etilamin. Kelemahan proses ini yaitu dihasilkannya residu amina yang tidak diharapkan (Gordon, 2003).

Pada prinsipnya, reaksi kuartenerisasi sangatlah sederhana, amin atau fosfin dicampurkan dengan haloalkana yang diinginkan kemudian diaduk dan dipanaskan. Garam halida yang dihasilkan pun sanggup dengan gampang dirubah menjadi garamgaram lain dengan anion yang berbeda (Gordon, 2003).

3.4.3 Reaksi Pergantian Anion

Reaksi pergantian anion sanggup dibagi dalam dua kategori yaitu perlakuan eksklusif dari garam halida dengan asam lewis dan pembentukan cairan ionik melalui reaksi metatesis anion (Gordon, 2003).

3.4.3.1 Reaksi Asam Basa Lewis

Pembentukan cairan ionik dengan proses ini dilakukan dengan perlakuan dari garam halida dengan asam Lewis (biasanya AlCl3). Proses yang umum dilakukan yaitu perlakuan dari kuartener garam halida Q+X- dengan asam Lewis MXn menghasilkan pembentukan lebih dari satu spesi anion yang bergantung dari perbandingan relatif dari Q+X- dan MXn. Pembentukan dari proses ini sanggup dicontohkan dengan etilmetilimdazolium (EMIM) klorida dan AlCl3 seperti reaksi dibawah ini:

[EMIM]+Cl- + AlCl3 → [EMIM]+ [AlCl4]-
[EMIM]+ [AlCl4]- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al2Cl7]-
[EMIM]+ [Al2Cl7] -- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al3Cl10]–

Metode yang sering digunakan untuk pembentukan cairan ionik dilakukan dengan pencampuran sederhana dari asam Lewis dengan garam halida. Reaksi umumnya eksoterm, ketika menambahkan satu zat ke dalam zat lain haruslah dengan sangat hati-hati. Walaupun garam relatif stabil akan suhu, panas yang terbentuk dari lingkungan sanggup mengakibatkan dekomposisi cairan ionik yang disintesis. Hal ini sanggup dicegah dengan pendinginan selama proses pencampuran, walaupun hal itu dirasakan sangat sulit, atau bisa juga dengan menambahkan suatu zat ke dalam zat lain dengan jumlah yang sedikit demi sedikit. Dekomposisi atau pengurangan jumlah terjadi akhir adanya hidrolisis yang terjadi dalam cairan. Tetapi, hal yang biasa kalau produk yang dihasilkan tidak murni 100% atau tercemar dengan pengotor. Hal itu pun niscaya terjadi pada sintesis cairan ionik, dan pengotor yang biasa mengkontaminasi produk yakni pelarut organik (Gordon, 2003).

3.4.3.2 Reaksi Metatesis Anion

Reaksi metatesis anion biasanya terjadi pada garam-garam yang ditambahkan dengan garam perak (AgNO3, AgNO2, AgBF4, Ag[CO2CH3] dan Ag2SO4) dalam metanol atau larutan metanol. Pada beberapa aplikasi, produk akan berupa cairan pada suhu ruangan. Kombinasi dari anion sanggup menghasilkan perbedaan sifat termal yang berbeda-beda (Gordon, 2003).

3.5. Fatty Imidazolinium sebagai Sistem Kation Baru pada Cairan Ionik

Kation fatty imidazolinium pada Gambar 12(b) mempunyai struktur dan fungsi yang sangat ibarat dengan kation imidazolium Gambar 12(a), berbeda hanya pada gugus substituen pada N3 [dengan adanya gugus amida, -[C(O)(NH)] pada Gambar 12(b) dan adanya ikatan rangkap pada sistem lingkar Gambar 12 (a). Garam fatty imidazolinium ini sanggup disintesis dari asam lemak (Bajpai, dan Tyagi, 2006; Tyagi, et al., 2007), sehingga dimungkinkan untuk mendapat garam ini dari minyak nabati terbarukan lokal.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 12. Struktur Kation Imidazolium (a) dan Fatty Imidazolinium (b)

 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 13. Struktur Molekul dari (i) Fatty Imidazoline dan (ii) Kation Fatty Imidazolinium
Penggunaan iradiasi gelombang mikro (microwave irradiation) dalam sintesis organik memperlihatkan beberapa laba yaitu umumnya reaksi sanggup berlangsung dalam waktu yang singkat, rendemen yang diperoleh tinggi, dan kemurnian hasil yang tinggi. Selain itu, reaksi kering (dry reaction) dalam microwave menarik perhatian para peneliti lantaran sanggup meminimalisir keracunan akhir penguapan dari pelarut organik yang berbahaya bagi badan (Bajpai et al., 2008).

3.6 Mekanisme Pemanasan dengan Gelombang Mikro

Gelombang mikro merupakan salah satu bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 0,01 hingga 1 meter. Gelombang mikro terletak di antara gelombang inframerah dan gelombang radio dan mempunyai frekuensi berkisar antara 0,3 samapai 30 GHz. Untuk penggunaan dalam laboratorium, frekuensi yang sering digunakan yakni 2,45 GHz. Proses pemanasan dalam sintesis organik dengan gelombang mikro melibatkan agitasi molekul polar atau ion yang bergetar dibawah efek medan magnet atau arus listrik yang bergetar. Dalam medan yang bergetar, partikel-pertikel berusaha untuk mengorientasi diri biar menjadi sefasa. Gerakan partikel-partikel dibatasi oleh gaya dalam partikel yang menghasilkan gerakan acak hingga kesudahannya menghasilkan panas.

Respon aneka macam material terhadap radiasi gelombang mikro bermacam-macam dan tidak semua material sanggup mengalami pemanasan oleh gelombang mikro, hanya material yang mengadsorpsi radiasi gelombang mikro saja yang sesuai dengan microwave chemistry.

Material ini dikelompokkan menurut prosedur pemanasannya:

3.6.1. Polarisasi dipolar

Polarisasi dipolar merupakan proses menghasilkan panas oleh molekul polar. Molekul polar yang berada dalam medan elektromagnetik yang berosilasi dengan frekuensi yang sesuai berusaha untuk mengikuti medan dan menjajarkan diri biar sefasa dengan medan. Adanya gaya dalam molekul mengakibatkan molekul polar tidak sanggup mengikuti orientasi medan. Peristiwa tersebut menghasilkan pergerakan partikel acak yang akan menghasilkan panas.

Polarisasi dipolar sanggup menghasilkan panas dengan salah satu atau dua prosedur ini :

a. Interaksi antara molekul pelarut polar, seperti: air, methanol dan etanol
b. Interaksi antara molekul terlarut polar, seperti: ammonia dan asam format

Radiasi gelombang mikro mempunyai frekuensi yang sesuai (0,3-30 GHz) untuk mengosilasi partikel polar dan bernilai cukup besar untuk interaksi intermolekul. Disamping itu, energi foton gelombang mikro sangat rendah (0,037 kkal/mol) relatif terhadap energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan molekul (80-120 kkal/mol). Oleh lantaran itu, eksitasi molekul dengan gelombang mikro tidak mensugesti struktur molekul. Interaksi yang terjadi murni kinetik.

3.6.2. Mekanisme konduksi

Panas dihasilkan lantaran adanya resistansi terhadap arus listrik. Medan elektromagnetik yang bergetar menghasilkan getaran electron atau ion dalam konduktor dan menghasilkan arus listrik. Arus yang masuk kedalam tahanan internal akan memanaskan konduktor.

3.6.3. Polarisasi antar muka (Interfacial polaritation)

Mekanisme pemanasan jenis ini merupakan gabungan dari prosedur polarisasi dipolar dan prosedur konduksi. Keuntungan sintesis dengan gelombang mikro ialah laju reaksi meningkat dengan adanya fenomena superboiling. randemen lebih tinggi, pemanasan lebih merata, lebih ramah lingkungan, pemanasan lebih selektif lantaran respon tiap molekul pada radiasi gelombang mikro berbeda-beda.

2.6 Konduktivitas Ionik

Konduktivitas listrik timbul lantaran adanya migrasi elektron atau migrasi ion. Konduktivitas elektronik yakni konduktivitas listrik yang disebabkan migrasi elektron-elektron. Sedangkan konduktivitas ionik yakni konduktifitas yang terjadi lantaran adanya migrasi ion-ion. Konduktivitas ionik bergantung pada jenis ion yang bermigrasi dalam material. Material disebut konduktor anionik kalau ion-ion pembawa muatan negatif yang bermigrasi sedangkan untuk ion-ion pembawa muatan aktual yang bergerak maka material tersebut dinamakan konduktor kationik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.(2012). Solid Oxide Fuel Cell. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/solid_oxide_fuel_cell. [22 Maret 2012].

Bajpai, Divya dan Tyagi, V. K. (2008). Microwave Synthesis of Cationic Fatty Imidazolines and their Characterization. AOCS.

Barsoum, Michel. (1997). Fundamental of Ceramics. Library of Congress in Publication Data: Singapore

Bennet, M. (2005). “Morphological and Electromechanical Characterization of Ionic Liquid / Nafion Polymer Composites”. Virginia Tech.

Cook, Brian. (2001). An Introduction to Fuel Cell and Hydrogen Technology. Canada.

De Guire, Eileen J. (2003). Solid Oxid Fuel Cell. Tersedia: http://www.csa.com/discoveryguides/fuelcell/overview.php. [17 Maret 2012].

Fitzwater, G., Geissler, W., Moulton, R., Plechkova, N.V., Robertson, A., Seddon, K.R., Swindall, J., dan Joo, K.W. (2005) “Ionic Liquids: Source of Innovation”. [Online]. Tersedia : http://quill.qub.ac.uk/source [8 Juli 2010]

Gordon, C. M., (2003)., Synthesis and Purification of Ionic Liquid, Ionic Liquid in Synthesis. P. Wasserscheid dan T. Welton (Eds.), Wiley Verlag, Frankfurt.

Handayani, Sri. (2008). Membran elektrolit berbasis polieter-eter keton tersulfonasi untuk direct methanol fuel cell suhu tinggi. Skripsi Universitas Indonesia (UI) Jakarta: tidak diterbitkan.

Herhady, R.Didiek, R.Sukarsono. (2007). Pengaruh suhu dan waktu sintering terhadap kualitas materi bakar kernel UO2 dalam Furnace jenis Fluidized Bed. ISSN: 0854-2910: Jakarta.

Herliyani, E. 2012. Pengaruh Penambahan Polyvinyl Alcohol (Pva) Terhadap Karakteristik Keramik Ni-Csz Untuk Diaplikasikan Sebagai Anode Pada Sofc. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Hermanutz, F., Meister, F., dan Uerdingen, E. (2006). “A new Developments in the Manufacture of Cellulose fibers with ionic liquids”. Chemical Fibers International. 342-344.

Jamal, E. (2007). “Pembuatan Membran Fuel Cell dari Limbah Plastik LDPE (Low Density Poly-Ethylene)”. Laporan Karya Ilmiah. Institut Teknologi Bandung.

Lajunen, M. (2006). “Green Chemistry for Sustainable Production”. Waste Minimization and Resources Optimization. Department of Chemistry University of Oulu.

Mansyur, Rosida., (2009). “Sintesis Kitosan Sulfonat Sebagai Surfaktan”. Tesis. Institut Teknologi Bandung.

Matula, G, T. Jardiel, R. Jimenez, B. Levenfeld, A.Varez. (2008). Microstructure, mechanical and electrical properties of Ni-YSZ anode supported solid oxide fuel cells. Volume 32. Pages 21-25. Archives of Materials Sciences and Engineering. Madrid, Spanyol.

Mudzakir, A.. 2010. Pengaruh Impregnasi Cairan Ionik Fatty Imidazolinium Terhadap Morfologi Dan Karakter Elektrokimia Membran Polielektrolit Kitosan Sulfonat. Skripsi. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Pitner, W. (2004). “Ionic Liquids : Properties and Applications”. Ionic Liquids Workshop. Royal Society of Chemistry. 1-53.

Rusianto, Toto. (2009). Hot Pressing Metalurgi Serbuk Aluminum dengan Variasi Suhu Pemanasan. Volume 2. Pages 89-95.

Souza, F.R., Padilha, J., Goncalves, R., Dupont, J. (2003). “Room Temperature dialkylimidazolium ionic liquids –based fuel cell” Laboratory of Molecular Catalysis and laboratory of Electrochemistry, Institute of Chemistry, Brazil.

Toma, G., Gotov, B., dan Solcaniova, E. (2000). “Enantioselective Allylic Substitution Catalyzed by Pd0–Ferrocenylphosphine Complexes in [Bmim][PF6] IonicLiquid”, Green Chem. 2, 149.

Velianti., (2008). “Sintesis dan Karakterisasi Membran Kitosan Sulfat untuk Aplikasi Fuel Cell”. Skripsi. Institut Teknologi Bandung.

Referensi Lainnya :

[2] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S014181301100482X

Anda kini sudah mengetahui Sel Bahan Bakar. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.