Showing posts with label Animalia. Show all posts
Showing posts with label Animalia. Show all posts

Friday, September 13, 2019

Pintar Pelajaran Kelas Reptilia : Pengertian, Ciri-Ciri, Reproduksi, Contoh

Kelas Reptilia : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh - Reptilia artinya binatang melata. Reptilia berasal dari kata latin yaitu reptum yang berarti melata. Ciri-ciri reptilia ialah :
  • Tubuh terdiri atas kepala, badan, ekor dan 2 pasang alat pergerakan.
  • Seluruh tubuhnya teradaptasi secara maksimal untuk kehidupan terestrial, termasuk dijumpai adanya selaput embrio dan kulit yang tahan terhadap kekeringan. Hal ini sebab reptilia merupakan kelas pertama dari Superkelas Tertrapoda.
  • Retilia berkembang biak dengan bertelur (ovipar), namun ada juga yang ovovivipar (hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak, embrionya berkembang di dalam telur, dan telur tetap berada di dalam tubuh induknya hingga telur menetas. Setelah telur menetas, individu gres tersebut keluar dari tubuh induknya, misalnya ialah kadal dan beberapa jenis ular),
  • Sebagian besar reptilia hidup di darat dan beberapa ada yang hidup di air.
Sebenarnya, sebagian besar jenis dari kelas reptilia telah punah, meskipun demikian keberadaan beberapa jenis yang masih ada tetap merupakan fauna yang penting walaupun populasinya relatif lebih sedikit dibandingkan masa lalu. (Baca juga : Hewan Bertulang Belakang)

Berdasarkan ada tidaknya lubang temporal pada tulang tengkoraknya kelas reptilia diklasifikasikan menjadi 4 ordo, yaitu :

1. Ordo Chelonia

Ordo Chelonia merupakan subkelas Anasipda, hal ini berarti bahwa tidak ada lubang pada tulang yang menjadi pecahan atas dari kawasan temporalnya. Contoh Ordo Chelonia ialah penyu dan kura-kura.

2. Ordo Rhynchocephalia

Ordo Rynchocephala termasuk Subkelas Lepidosauria, hal ini berarti bahwa pada tengkoraknya terdapat dua lubang pada tulang-tulang yang menjadi atapnya di kawasan temporal (jika tidak ada perubahan sekunder, lubang-lubang di antara tulang langit-langit dan gigi selalu berada pada atap rongga verbal dan pada tepi rahang). Ordo Rhynchocephalia hanya mempunyai 1 jenis yang masih hidup, yaitu tuatara (Spenodon punctatum).


3. Ordo Squamata

Ordo Squamata juga termasuk Subkelas Lepidosauria. Contoh Ordo Squamata ialah ular, komodo dan kadal. Perhatikan Gambar 1.
 Reptilia berasal dari kata latin yaitu reptum yang berarti melata Pintar Pelajaran Kelas Reptilia : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Komodo (Varanus komodoensis) (Niall Corbet / Flickr)
4. Ordo Crocodilia

Ordo Crocodilia merupakan anggota Subkelas Archosaurus. Ciri-ciri utama Subkelas Archosaurus ialah tengkoraknya mempunyai dua lubang temporal selalu berlipat pada pelat tulang yang terbuka. Sering terdapat lubang-lubang pada tengkorak Crocodilia, yaitu di depan mata dan pada pinggiran rahang bawah, sedangkan gigi semuanya marginal. Contoh Ordo Crocodilia ialah buaya.

Baca juga :

1. Sistem pernapasan pada reptil

2. Sistem peredaran darah pada reptil

Anda kini sudah mengetahui Kelas Reptilia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Kelas Aves (Burung) : Pengertian, Ciri-Ciri, Reproduksi, Contoh

Kelas Aves (Burung) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh - Kelas aves yaitu binatang yang kita sebagai kelompok burung. Ciri-ciri aves antara lain :
  • Secara umum tubuhnya terdiri atas kepala, leher, badan, dan ekor.
  • Tubuhnya ditutupi oleh bulu. 
  • Lengan depannya mengalami modifikasi sebagai sayap yang umumnya dipakai untuk terbang.
  • Alat gerak belakang dipakai untuk berjalan, bertengger, atau berenang, dan umumnya dilengkapi dengan 4 jari.
  • Mulut Aves meluas sebagai paruh dan tidak bergigi.
  • Bentuk paruhnya bervariasi.
Kelas aves digolongkan menjadi 2 subkelas, yaitu Subkelas Archaeornithes dan Subkelas Neornithes.

1. Subkelas Archaeornithes

Archaeornithes yaitu burung purba dan ketika ini telah punah. Ciri-ciri Archaeornithes antara lain mempunyai gigi pada paruhnya, ekornya masih bertulang, serta sayapnya masih bercakar. Contoh Subkelas Archaeornithes yaitu Archaeopteryx sp. (Baca juga : Hewan Bertulang Belakang)
 Kelas aves yaitu binatang yang kita sebagai kelompok burung Pintar Pelajaran Kelas Aves (Burung) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Bentuk paruh dan kaki pada burung
2. Subkelas Neornithes

Neornithes yaitu kelompok burung sejati. Ciri-ciri Subkelas Neornithes antara lain :
  • Tulang metacarpalia bersatu membentuk carpometacarpus
  • Jari kaki keduanya merupakan jari terpanjang
  • Memiliki 13 vertebrae caudal atau kurang
  • Tulang dada (sternum) dengan atau tanpa carina, dan
  • Ekornya berbulu dan berukuran pendek.

Neornithes merupakan kelompok burung modern yang sering kita jumpai pada ketika ini. Contoh Subkelas Neornithes antara lain :
  • Burung pelari yang cepat, contohnya burung unta (Struthio camelus)
  • Burung terestial yang tidak sanggup terbang, contohnya kiwi (Apteryx sp.),
  • Burung perenang di Antartika, pinguin (Aptenodytes sp.), dan
  • Kelompok burung penyanyi, contohnya burung gelatik (Padda oryzivora), serta kelompok-kelompok yang lain. Perhatikan Gambar 2.
 Kelas aves yaitu binatang yang kita sebagai kelompok burung Pintar Pelajaran Kelas Aves (Burung) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Pinguin emperor (Aptenodytes forsteri) (Wikimedia Commons)
Baca juga :

1. Sistem Peredaran Darah pada Aves

2. Sistem Pernapasan pada Burung

Anda kini sudah mengetahui Kelas Aves. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Kelas Mamalia : Pengertian, Ciri-Ciri, Reproduksi, Contoh

Kelas Mamalia : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh - Ciri-ciri mamalia ialah :
  1. Ciri utamanya ialah mempunyai kelenjar susu (glandula mammae) yang berfungsi untuk menyusui anaknya yang gres lahir. 
  2. Tubuhnya umumnya ditutupi oleh rambut
  3. Kulitnya dilengkapi dengan banyak sekali macam kelenjar
  4. Rahangnya umumnya dilengkapi dengan gigi. 
  5. Mammalia mempunyai tungkai yang sesuai untuk berjalan, memanjat, menggali, berenang, dan terbang.
    Jarinya dilengkapi cakar, kuku atau teracak. 
  6. Perkembangbiakan dengan beranak atau melahirkan (vivipar) dan bertelur (ovipar). Ordo Monotremata merupakan satu-satunya Mamalia yang berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar). Contoh Ordo Monotremata yang populer ialah Platypus sp. dari Australia, yang hidupnya di sungai. Sedangkan teladan dari Indonesia ialah nokdiak atau landak irian (Zaglossus bruijni). Perhatikan Gambar 1. (Baca juga : Hewan Vertebrata)
Ciri-ciri tersebut telah menunjukkan bahwa Mamalia merupakan kelas yang paling maju di antara kelas-kelas yang lain dari filum animalia. Kelas mamalia dibagi menjadi 28 ordo, dan beberapa ordo diantaranya telah punah. (Baca juga : Sistem Pernapasan pada Mamalia)
Ciri utamanya ialah mempunyai kelenjar susu  Pintar Pelajaran Kelas Mamalia : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Zaglossus bruijni (Ekidna moncong panjang barat / Landak Irian) (Wikimedia Commons)
1. Ordo Marsupialia

Ordo Marsupialia merupakan kelompok binatang dari Kelas Mamalia yang mempunyai kantung (berkantung), yaitu Ordo Marsupialia. Ciri-ciri Ordo Marsupialia antara lain :
  1. Kantung (marsupium) ini umumnya dijumpai pada binatang betina di bab ventral badan (Ventral berarti perut. Istilah ini digunakan untuk menyatakan sisi depan/perut dari suatu bab tubuh, atau sisi yang lebih jauh dengan poros (axis)) atau lipatan marsupial di sekeliling puting susu pada abdomen.
  2. Umumnya ordo ini tidak mempunyai plasenta sehingga telurnya dibuahi secara internal dan mulai berkembang di dalam uterus. Selanjutnya anak-anaknya akan dilahirkan dalam keadaan prematur yang lalu bergerak perlahan-lahan atau merambat ke kantung marsupium.
  3. Kantung tersebut merupakan daerah yang sangat akrab dengan puting susu induknya.
  4. Contoh Ordo Marsupialia ialah kanguru yang hidup di Australia (Macropus sp.) dan teladan Ordo Marsupialia yang hidup di Indonesia ialah tikus berkantung ekor panjang (Muretia longicauda) dan tikur berkantung ekor hitam (Abthechinus melanurus).
2. Ordo Chiroptera

Ordo Chiroptera ialah kelompok Mammalia yang sanggup terbang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenalnya sebagai kelelawar. Kelelawar ialah mamalia terbang. Ciri-ciri kelelawar ialah berukuran kecil, dengan lengan depan dan jari ke-2 dan ke-5 sangat panjang, disokong dengan lapisan membran kulit integumental atau sanggup disebut ’sayap’, yang juga menyelingkupi tungkai belakang. Pada beberapa jenis, bahkan ada yang hingga menyelingkupi ekornya.

Ordo Ordo Chiroptera dibagi lagi menjadi 2 subordo, yaitu Megachiroptera dan Microchiroptera. Contoh subordo Megachiroptera yang hidup di Indonesia ialah kalong (Pteropus vampyrus) dan cecudu pisang (Macroglossus maximus). Sedangkan yang merupakan teladan subordo Microcheroptiera yang ada di Indonesia ialah kelelawar coklat (Myotis spp.) dan kelelawar ekor bebas (Tadarida spp.). Kedua kelelawar tersebut merupakan pemakan serangga.

3. Ordo Karnivora (Carnivora)


Karnivora ialah kelompok mamalia pemakan daging. Kelompok ini terdiri atas hewan-hewan yang berukuran kecil hingga besar. Ciri-ciri karnivora ialah jari kaki umumnya berjumlah 5 atau paling sedikit 4 dan semuanya bercakar. Carnivora juga mempunyai gigi taring. Contohnya Karnivora ialah anjing peliharaan (Canis sp.), beruang madu (Helarcos malayanus), dan harimau (Felis tigris).

4. Ordo Primata

Ciri utama Ordo Primata ialah matanya stereoskopik menghadap ke depan. Contoh Ordo Primata yang gampang kita jumpai di Indonesia ialah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan orang utan (Pongo pygmeus). Orang utan merupakan Primata yang hanya sanggup ditemukan di hutan Kalimantan dan hutan Sumatera. Saat ini, orang utan hanya tersisa sedikit jumlahnya dan terancam punah akhir adanya perburuan liar, pembalakan liar, dan kebakaran hutan.

Selanjutnya, pelajarilah bahan wacana peranan kelompok binatang tersebut dalam kehidupan.

Anda kini sudah mengetahui Kelas Mamalia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Peranan Dan Manfaat Binatang (Animalia) Bagi Kehidupan Manusia

Peranan dan Manfaat Hewan (Animalia) bagi Kehidupan Manusia - Di alam, aneka macam jenis binatang telah memperlihatkan peranan yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Pada uraian berikut ini anda akan mengetahui peranan penting beberapa jenis hewan.

1. Peranan Penting filum Porifera

Salah satu jenis binatang yang menguntungkan insan ialah porifera. Apa saja tugas penting porifera? Porifera merupakan salah satu pembentuk keanekaragaman (biodiversitas) di dasar maritim (samudera). Simbiosis antara anggota filum ini dengan basil sanggup menghasilkan senyawa bioaktif. Salah satu manfaat senyawa bioaktif ialah sebagai materi baku obat, contohnya obat kanker.

2. Peranan Penting filum Cnidaria

Keberadaan binatang ini sangat penting bagi ekosistem laut. Salah satu manfaat anggota filum cnidaria ialah bisa membentuk lingkungan terumbu karang (coral reef). Fungsi dari terumbu karang ialah sebagai pelindung pantai dari abrasi, daerah hidup aneka macam anggota Avertebrata lain, daerah berlindung, daerah mencari makan bagi ikan, dan daerah bertelurnya aneka macam jenis ikan dan biota laut, serta daerah pemijahan ikan dan udang secara alami. Selain itu, keindahan terumbu karang juga menjadi daya tarik ekowisata. Hewan maritim ini sanggup dikonsumsi sebagai sumber protein, contohnya ialah jelly fish atau ubur-ubur. Hal ini lantaran ubur-ubur mempunyai kandungan protein yang tinggi.

 aneka macam jenis binatang telah memperlihatkan peranan yang menguntungkan bagi kehidupan insan Pintar Pelajaran Peranan dan Manfaat Hewan (Animalia) bagi Kehidupan Manusia
Gambar 1. Simbiosis mutualisme alga dengan terumbu karang di pulau Endenbury (Wikimedia Commons)
3. Peranan penting Filum Annelida

Filum ini juga menguntungkan bagi kehidupan. Beberapa jenis Annelida sanggup dikonsumsi dan merupakan sumber protein hewani, contohnya cacing palolo dan cacing wawo. Anggota filum ini lainnya ialah cacing tanah. Cacing tanah berperan dalam membantu menguraikan sampah dan menggemburkan tanah sehingga tanah menjadi subur. Hal ini sangat menuntungkan industri pertanian.

4. Peranan Penting Filum Moluska

Filum Mollusca juga mempunyai tugas yang menguntungkan bagi manusia. Anggota filum ini merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi, contohnya cumi-cumi, siput, tiram, kerang, dan sotong. Contoh lainnya ialah bekicot (Achatina fulica) dan siput telanjang (Vaginula sp.). Hewan-hewan tersebut merupakan salah satu komoditas ekspor yang penting. Selain itu, filum ini juga menghasilkan salah satu komoditas ekspor nonmigas yang cukup penting, yaitu mutiara. Mutiara ialah permata yang dihasilkan oleh kerang Pecten sp. Saat ini, budidaya kerang penghasil mutiara sudah dikembangkan secara luas. Mutiara yang dihasilkan berupa mutiara lingkaran atau setengah lingkaran (mutiara blister).

5. Peranan Penting Filum Echinodermata

Peranan penting filum ini bagi insan ialah sebagai sumber nutrisi atau kuliner dan dipercaya sanggup menyembuhkan aneka macam penyakit. Contohnya ialah teripang dan telur landak laut. Teripang juga berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem laut, yaitu sebagai detritivor (organisme yang memakan partikel-partikel organik atau sisa-sisa jaringan organisme lain) pada ekosistem laut.

6. Peranan Penting Filum Arthropoda

Salah satu anggota Filum Arthropoda yang memperlihatkan laba bagi kehidupan ialah Crustacea. Peranan penting Crustacea antara lain :
  1. Sumber kuliner yang berprotein tinggi bagi manusia, contohnya udang, kepiting, dan rajungan.
  2. Salah satu belahan penting pada mata rantai kuliner bagi ekosistem perairan, contohnya zooplankton.
  3. Membantu penyerbukan tanaman, contohnya kupu-kupu dan lebah.
  4. Menghasilkan madu, contohnya lebah.
  5. Hewan model pada penelitian di bidang genetika, yaitu lalat buah (Drosophila melanogaster).
  6. Sumber kuliner (dikonsumsi sebagai kuliner tradisional) di aneka macam wilayah di dunia, ibarat di Afrika, Australia, Amerika Latin, dan Asia, contohnya serangga. Bahkan ketika ini, beberapa jenis serangga menjadi sajian kuliner istimewa bagi masyarakat kelas atas di Thailand, Jepang, dan Meksiko. Menurut perkiraan. sekitar 500 jenis serangga telah dimanfaatkan sebagai materi makanan. Jenis serangga yang paling diminati untuk dikonsumsi antara lain belalang, laron, jangkrik, lebah, semut, rayap dan beberapa serangga air dan aneka macam jenis ulat.
7. Peranan Penting Filum Chordata


Manfaat Filum Chordata bagi kehidupan insan antara lain :
  1. Sumber protein hewani, contohnya ayam, itik, ikan, kambing, sapi dan sebagainya.
  2. Sumber materi sandang, contohnya domba yang menghasilkan wol dan sapi penghasil kulit samakan.
  3. Di bidang kesehatan, minyak ular, minyak penyu, dan sirip ikan hiu sanggup diolah menjadi obat-obatan.
Selain menguntungkan, sebagian binatang juga bisa merugikan kehidupan manusia. Berikut ini ialah tumpuan imbas negatif yang diakibatkan oleh filum animalia.

8. Dampak Negatif Filum Nemathelminthes

Nemathelminthes yang hidup sebagai benalu sanggup menjadikan penyakit pada vertebrata yang menjadi hospesnya (inangnya), termasuk manusia. Penyakit yang diakibatkan oleh filum ini antara lain :
  1. Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) dan cacingan pada anak yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides.
  2. Beberapa anggota Platyhelminthes juga merugikan badan vertebrata dengan cara memakan nutrisi, contohnya cacing pita dan cacing hati.
9. Dampak Negatif Filum Mollusca

Kerugian yang diakibatkan oleh filum Mollusca, antara lain :
  1. Merusak lambung atau bangunan kapal dengan cara menempel, contohnya Tredo navalis yang merupakan kerang.
  2. Menjadi inang mediator cacing Fasciola hepatica, contohnya ialah Lymnea javanica.
  3. Perusak tanaman, contohnya bekicot dan siput telanjang.
10. Dampak Negatif Filum Nemathelminthes

Kerugian yang diakibatkan oleh filum Mollusca, antara lain :
  1. Merusak kayu dengan cara menggerek, contohnya isopoda.
  2. Menimbulkan penyakit pada ikan piaraan, contohnya kutu ikan (Argulus indicus).
  3. menyebabkan penyakit pada manusia, ternak, dan tumbuhan budidaya, contohnya Acarina.
  4. Merusak buah-buahan, contohnya Bactrocera sp., yaitu sejenis lalat buah.
Anda kini sudah mengetahui Manfaat Hewan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Kelas Amphibia (Amfibi) : Pengertian, Ciri-Ciri, Reproduksi, Contoh

Kelas Amphibia (Amfibi) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh - Amfibia atau Amfibi yakni binatang yang mempunyai dua bentuk kehidupan atau hidup di dua alam. Amphibia berasal dari kata latin yaitu amphi (rangkap) dan bios (kehidupan). Ciri-ciri binatang ini antara lain :
  1. Hewan ini merupakan binatang peralihan dari kehidupan air ke kehidupan darat.
  2. Pada ketika larva, hidupnya di air dan bernapas memakai insang, sedangkan pada waktu remaja hidupnya di darat dan bernapas dengan paru-paru.
  3. Seperti halnya ikan, amfibia jua merupakan binatang berdarah dingin.
  4. Tubuh Amfibia terdiri atas kepala, badan, dan anggota gerak, namun tidak mempunyai leher.
  5. Anggota gerak amfibi intinya yakni pentadactylus dan tidak mempunyai kuku atau cakar. Pentadactylus yakni alat gerak belakang yang mempunyai lima jari (pentadactylus), dengan selaput renang (webb) yang terdapat antara jari-jari serta bervariasi pada tiap jenisnya.
  6. Kulit mempunyai kelenjar mukosa atau kelenjar racun (berbintil-bintil), contohnya pada beberapa jenis katak.
  7. Amfibia mengalami metamorfosis secara sempurna. Perhatikan Gambar 1. (Baca juga : Vertebrata)
 Amfibia atau Amfibi yakni binatang yang mempunyai dua bentuk kehidupan atau hidup di dua al Pintar Pelajaran Kelas Amphibia (Amfibi) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Metamorfosis Rana sp.
Baca juga :

1. Sistem pernapasan pada amfibi

2. Sistem peredaran darah pada amfibi

Anda kini sudah mengetahui Kelas Amphibia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Kelas Pisces (Ikan) : Pengertian, Ciri-Ciri, Reproduksi, Contoh

Kelas Pisces (Ikan) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh - Kelas Pisces ini merupakan kelompok ikan. Ciri-ciri kelas pisces antara lain :
  • Hidup di perairan baik di sungai maupun di laut.
  • Tubuhnya dilengkapi dengan sirip-sirip yang berfungsi untuk membantu berenang dan menjaga keseimbangan tubuh. Sirip ikan dibedakan atas sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal, sirip ekor.
  • Ikan memiliki gurat sisi yang berfungsi untuk mengetahui tekanan air.
  • Tubuh ikan ditutupi oleh sisik yang licin dan berlendir, sehingga sanggup bergerak dengan cepat di dalam air.
  • Ikan berkembangbiak dengan cara bertelur (ovivar), namun ada juga yang melalui fertilisasi internal dan fertilisasi eksternal.
Kelas Pisces terdiri dari 2 subkelas yaitu :

1. Kelompok ikan bertulang rawan (Subkelas Chondrichthyes)

Contoh ikan bertulang rawan yaitu hiu (Galeocerda sp.) dan Ikan pari (Dasyatis sp.). Perhatikan gambar 1.

2. Kelompok ikan bertulang sejati (Subkelas Osteichthyes).

Contoh ikan bertulang sejati yaitu lele (Clarias batrachus) dan bandeng (Chanos chanos).

Fertilisasi eksternal yaitu fertilisasi yang dilakukan dengan cara gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Fertilisasi ini dilakukan oleh hewan-hewan akuatik.

Fertilisasi internal yaitu fertilisasi yang dilakukan dengan cara sprma dimasukkan ke dalam alat reproduksi betina, selanjutnya terjadi  fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi untuk menghalangi pemasukan sprma lalinnya. Kadang-kadang sprma itu diharapkan hanya untuk mengaktivasi telur. Fertilisasi ini dilakukan untuk penyesuaian dengan kehidupan di darat)[1]
 Kelas Pisces ini merupakan kelompok ikan Pintar Pelajaran Kelas Pisces (Ikan) : Pengertian, Ciri-ciri, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Ikan pari (Dasyatis pastinaca) (Wikimedia Commons)
Baca juga :

1. Sistem peredaran darah pada ikan

2. Sistem pernapasan pada pisces

Anda kini sudah mengetahui Kelas Pisces. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Referensi Lainnya :

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuahan

Pintar Pelajaran Binatang Vertebrata : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Contoh, Gambar

Hewan Vertebrata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Contoh, Gambar - Vertebrata ialah kelompok binatang bertulang belakang. Vertebrata juga merupakan subfilum di dalam Filum Chrodata. Jadi, kata “vertebrata” juga merupakan salah satu kategori takson, sedangkan kata “invertebrate” tidak dimasukkan pada kategori takson. Ciri khusus dari Filum Chordata ialah mempunyai notochorda (notho: punggung dan chord: batang tali) atau corda dorsalis.  Notochorda berfungsi sebagai penyokong tubuhnya.

Filum chordata dibagi menjadi 3 subfilum, yaitu :

1. Cephalochordata

Ciri utama Cephalochordata ialah hanya mempunyai notochorda di bab kepala saja.

2. Urochordata atau Tunicata

Ciri utama Urochordata atau Tunicata ialah hanya mempunyai notochorda di bab ekor atau pada larvanya.

3. Vertebrata

Ciri utama Vertebrata ialah nothocorda membentuk aksis tubuhnya.

Pada bahan selanjutnya, hanya kelompok binatang dari Subfilum Vertebrata yang akan kita pelajari. (Baca juga : Hewan)

Ciri-ciri Subfilum Vertebrata antara lain :
  • Hewan yang mempunyai tulang belakang dari dalam tubuhnya.
  • Tulang belakang ini berupa tulang rawan atau tulang sejati.
  • Chorda dorsalis membentuk aksis tubuhnya.
  • Chorda dorsalis jua membentuk vertebrae yang tersusun overlaping antara satu dengan yang lainnya
  • Sistem syaraf dorsal membentuk saluran.
  • Otak kompleks.
  • Darah berwarna merah.
  • Memiliki 2 pasang alat gerak.
Beberapa kelas di dalam Filum Chordata yang akan kita pelajari ialah :

1. Kelas Pisces

2. Kelas Amphibia

3. Kelas Reptilia

4. Kelas Aves

5. Kelas Mammalia

Anda kini sudah mengetahui Hewan Vertebrata. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang) yang permukaan tubuhnya diselubungi oleh kulit yang berduri. Kata Echinodermata berasal dari bahasa Latin, yaitu echinus (duri) dan tunjangan (kulit). Ciri-ciri Filum Echinodermata ialah :
  • Tubuhnya tidak mempunyai segmen-segmen.
  • Umumnya, bentuk tubuhnya simetri radial dan bilateral.
  • Memiliki sel kelamin yang terpisah
  • Kulitnya tersusun atas lempeng-lempeng yang terbuat dari zat kapur.
  • Biasanya berukuran besar dengan bentuk tubuh memipih, mirip bintang, globuler (bulat mirip bola), dan memanjang dengan permukaan oral (sisi puncak) dan aboral (sisi dasar) yang terlihat jelas.
  • Warna tubuhnya berkilauan dan transparan.
  • Memiliki kaki tabung atau podia yang merupakan alat suplemen pada sistem ambulakral. Ambulakral ialah sistem susukan air pada anatomi Echinodermata yang berfungsi untuk bergerak, bernafas, atau membuka mangsa. (Baca juga : Invertebrata)
Filum Echinodermata dibagi menjadi 5 kelas yaitu Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Holothuroidea, dan Crinoidea.

1 . Kelas Asteroidea

Asteroidea merupakan kelompok binatang avertebrata yang sering disebut sebagai bintang laut. Kata Asteroidea berasal kata Yunani, yaitu aster (bintang) dan eiodes (bentuk).
Ciri-ciri Kelas Asteroidea antara lain :
  • Tubuhnya berbentuk pipih mirip bintang atau pentagonal dan mempunyai lima lengan atau lebih yang tersusun secara simetri radial.
  • Pada setiap ujung lengan terdapat alat sensor yang bentuknya ibarat tentakel dengan bintik mata pada ujungnya. Bintik mata ini mengandung pigmen merah yang peka terhadap cahaya.
  • Lekukan ambulakralnya terbuka dan didalamnya berisi kaki tabung. Kaki tabung ini biasanya dilengkapi dengan sucker (batil penghisap).
  • Permukaan tubuh kepingan atas (aboral) ditutupi oleh diri-diri tumpul berbentuk catut (pediselaria).
Contoh binatang dari kelas Asteroidea  ini ialah bintang bahari biru (Linckia sp.), Astropecten diplicatus, Archaster sp., bintang bahari merah (Asterias sp.), dan Culcita sp.

2. Kelas Echinoidea

Echinoidea ialah binatang avertebrata yang sering disebut juga landak laut. Echinoidea berasal dari kata Yunani yaitu echinos (landak) dan eiodes (bentuk).

Ciri-ciri Kelas Echinoidea antara lain :
  • Ciri utama Echinoidea ialah mempunyai banyak pediselaria di seluruh permukaan tubuh, berupa duri-duri mirip batang yang panjang.
  • Kerangka tersusun atas lempengan-lempengan zat kapur dan membentuk cangkang yang kaku dengan bentuk mirip kotak.
  • Tubuhnya berbentuk globuler dan bundar (oval).
  • Tidak mempunyai lengan.
  • Memiliki duri-duri tubuh yang panjang. Duri ini digerakkan oleh otot dan berfungsi untuk berjalan.
  • Lekukan ambulakral tertutup dan kaki tabung dilengkapi dengan sukers.
  • Memiliki tiga pediselaria yang bentuknya mirip rahang.
  • Mulutnya terletak di tengah dan dikelilingi oleh selaput peristoma.
Contoh binatang dari kelas Echinoidea ialah landak bahari (Echinus sp.), bulu babi (Diadema sp.), dan dolar pasir (Echinarachinus sp.).
 Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata  Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Struktur tubuh Echinus sp.

3. Kelas Ophiuroidea

Ophiuroidea ialah binatang avertebrata yang sering disebut juga bintang ular. Ophiuroidea berasal dari kata Yunani yaitu (ular), oura (ekor) dan eidos (bentuk). Ciri-ciri Kelas Ophiuroidea antara lain :
  • Bentuk tubuhnya memipih, mirip bintang atau pentamerous dengan lengan yang ramping dan fleskibel (elastis).
  • Tidak mempunyai kaki amburakral dan anus sehingga sisa masakan dikeluarkan melalui mulut.
  • Lekukan ambulakralnya tertutup dan kaki tabung tidak mempunyai sucker.
  • Madreporit terdapat pada permukaan oral.
  • Tidak mempunyai pediselaria.
Contoh binatang dari kelas Ophiuroidea ialah Gorgonocephalus sp., Ophiopholis sp., dan Opiotrix fragilis.
 Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata  Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Bintang ular (Ophiothrix fragilis) (habitas.org.uk)
4. Kelas Holothuroidea

Holothuroidea ialah binatang avertebrata yang sering disebut juga ketimun laut. Holothuroidea berasal dari kataYunani yaitu holothurion (ketimun laut) dan eidos (bentuk). Ciri-ciri Kelas Holothuroidea antara lain :
  • Tubuhnya memanjang dalam sumbu oral mirip cacing dan simetri bilateral.
  • Mulut dan anusnya terletak pada kedua ujung yang berlawanan.
  • Tidak mempunyai lengan dan duri. Durinya tereduksi menjadi spikula.
  • Kulitnya lunak dan tipis serta tidak mempunyai spina (duri) atau pediselaria.
  • Memiliki kaki tabung.
Contoh binatang dari kelas Holothuroidea ialah Cucumaria sp., Elapidia sp., dan teripang (Holothuria sp.). Perhatikan Gambar 3.
 Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata  Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Teripang (Holothuria mexicana) (Wikipedia Commons)
5. Kelas Crinoidea

Crinoida ialah binatang avertebrata yang mempunyai tubuh yang ibarat tumbuhan, sehingga sering disebut sebagai lilia laut. Ciri-ciri Kelas Crinoidea antara lain :
  • Habitatnya di karang atau tumbuhan laut.
  • Memiliki pinnula. Pinnula ialah lengan yang panjang ibarat daun, berjumlah lima atau kelipatannya. Panjang pinnula sanggup mencapai 80-200 cm.
  • Beberapa jenis Crinoidea mempunyai tangkai yang berasal dari tempat aboral, tangkai ini berfungsi untuk melekatkan diri pada substrat.
  • Mulutnya terletak di tempat oral, mengarah ke atas dan dikelilingi oleh tentakel-tentakel halus yang disebut cirri.
  • Amburakral terletak di permukaan oralnya.
Contoh binatang dari kelas Crinoidea ialah Holopus sp. (lilia bahari tidak bertangkai), Ptilocrinus pinnatus (lilia bahari bertangkai), Metaricanus intereptus (lilia bahari tidak bertangkai), dan Antendon sp. (lilia bahari tidak bertangkai). Perhatikan gambar 4 dan 5.

 Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata  Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Ptilocrinus pinnatus
 Echinodermata ialah kelompok binatang avertebrata  Pintar Pelajaran Filum Echinodermata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 5. Antendon sp.
Anda kini sudah mengetahui Filum Echinodermata. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas-ruas atau bersegmen dan kaki yang bersendi. Arthropoda berasal dari Bahasa Yunani, yaitu arthros (sendi atau ruas) dan podos (kaki). Ciri-ciri Filum Arthropoda antara lain :
  • Jumlah kaki mengalami modifikasi sesuai dengan kelasnya.
  • Memiliki rangka luar yang tersusun oleh kitin.
  • Tubuh simetri bilateral, bersegmen.
  • Memiliki perbedaan yang terang antara caput, thorak, dan abdomen.
  • Beberapa cuilan caput sanggup bersatu.
  • Memiliki anggota gerak yang berpasangan dan juga bersegmen.
Berdasarkan persamaan dan perbedaan struktur tubuhnya, Arthropoda diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu Crustacea, Myriapoda, Arachnida, dan Insecta. (Baca juga : Hewan Tak Bertulang Belakang)

1. Kelas Crustacea

Ciri-ciri Kelas Crustacea antara lain :
  • Pada umumnya hidup di air laut, mulai dari pantai sampai di bahari dalam. Namun, ada juga yang hidup di air tawar dan di darat terutama di tempat-tempat yang lembab.
  • Tubuhnya mempunyai kepala yang menyatu dengan dada, disebut cephalothoraks.
  • Cephalothoraks mempunyai 5 pasang kaki dan terdapat 2 pasang antenna di anterior.
  • Abdomen mempunyai segmentasi yang terang dan terdapat telson pada ujungnya. Telson yaitu suatu segmen terakhir tubuh Crustacea sehabis abdomen, membentuk ekor kipas.  Ada yang menganggap bahwa telson yaitu segmen terakhir dari tagma abdomen, tetapi ada pula yang menganggap bahwa telson bukan cuilan dari tagma abdomen.
  • Alat geraknya mengalami modifikasi, sesuai dengan fungsinya.
Contoh binatang dari Kelas Crustacea yaitu udang windu (Penaeus monodon), lobster (Panulirus humarus), dan kepiting bakau (Scylla cerata). 

2. Kelas Myriapoda

Ciri-ciri Kelas Myriapoda antara lain :
  • Semua anggotanya hidup di darat.
  • Tubuhnya terdiri dari caput (kepala) yang mempunyai sepasang antena, sepasang mata, dan 2 atau 3 pasang rahang.
  • Badannya terbagi ke dalam ruas-ruas dengan ukuran yang relatif sama, masing-masing mempunyai sepasang kaki.
Kelas Myriapoda dibagi menjadi 2 subkelas, yaitu Diplopoda dan Chilopoda.

2.1. Subkelas Diplopoda

Subkelas Diplopoda yaitu binatang dari Kelas Myriapoda yang sering disebut sebagai si kaki seribu (millipedes), alasannya mempunyai jumlah kaki yang sangat banyak.
Ciri-ciri Subkelas Diplopoda antara lain :
  • Umumnya mempunyai 30 pasang kaki atau lebih.
  • Tubuhnya bundar memanjang (silindir), beberapa segmen menyatu, pada setiap segmen terdapat 2 pasang kaki.
  • Hidupnya sebagai herbivora, banyak dijumpai di bawah serasah, bebatuan, atau di dalam tanah, dan selalu menghindar dari cahaya.
  • Gerakannya sangat lambat dan jikalau ada getaran, tubuhnya akan melingkar membentuk spiral atau bola.
  • Pada kepalanya terdapat sepasang antena, dua pasang mata tunggal, dan alat lisan tanpa taring bisa.
Contoh binatang dari Subkelas Diplopoda yaitu Polyxenus sp., Sigmoria sp., dan luwing (Spirobolus sp.).

2.2. Subkelas Chilopoda

Subkelas Chilopoda yaitu binatang dari Kelas Myriapoda yang sering disebut sebagai si kaki seratus (centipedes).

Ciri-ciri Subkelas Chilopoda antara lain :
  • Tubuhnya terdiri atas kepala (caput) dan tubuh (abdomen), berbentuk pipih dengan 15 pasang kaki atau lebih, dan beruas-ruas.
  • Tiap ruas tubuh terdapat satu pasang kaki.
  • Pada kepala terdapat 5 pasang antena yang panjang dan 2 pasang mata tunggal.
  • Mulut dilengkapi sepasang taring bisa, yaitu modifikasi alat gerak dari segmen tubuh yang pertama (kaki depan).
Contoh binatang dari Subkelas Chilopoda yaitu kelabang atau lipan (Scolopendra sp.) dan Lithobius forficatus.
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Lipan (Scolopendra cingulata)
3. Kelas Arachnida

Ciri-ciri Kelas Arachnida antara lain :
  • Tubuh terbagi atas kepala yang menyatu dengan dada (cephalothoraks) dan perut (abdomen).
  • Bagian abdomen terdiri dari beberapa segmen, kadang kala cephalothoraks dan abdomen menyatu.
  • Pada cephalotoraks terdapat sepasang cheli cera (alat gerak pertama), sepasang pedipalpus (alat gerak ke dua) yang berbentuk capit, dan 4 pasang kaki.
  • Arachnida tidak mempunyai antena.
Kelas Arachnida diklasifikasikan menjadi 3 ordo, yaitu Scorpionida (kalajengking), Araneida (laba-laba), dan Acarina (kutu tungau atau caplak).

3.1. Ordo Scorpionida

Ordo Scorpionida merupakan anggota Arthropoda darat yang paling tua. Ciri-ciri Ordo Scorpionida antara lain :
  • Memiliki pedipalpus yang berbentuk ibarat catut yang besar.
  • Memiliki chelisera yang kecil.
  • Mempunyai sengat.
Contohnya Ordo Scorpionida yaitu Scorpio sp.

3.2. Ordo Araneida

Ordo Araneida yaitu anggota Arthropoda yang bisa membentuk sarang (jaring) dengan benang-benang sutera alasannya mempunyai spinneret. Spinneret yaitu organ yang terdapat di depan anus. Araneida juga mempunyai karapaks dibagian anterior.
Contohnya Ordo Araneida yaitu Argyope sp.

3.3. Ordo Acarina

Ordo Acarina yaitu anggota Arthropoda yang ukuran tubuhnya kecil dan tidak bersegmen-segmen, serta abdomennya bersatu dengan cephalothoraks. Contoh Ordo Acarina yaitu caplak (Dermacentor sp.) (Gambar 2)
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Caplak (Dermacentor occidentalis)
4. Kelas Insecta

Kelas Insecta yaitu binatang dari Filum Arthropoda yang sering kita sebut sebagai serangga. Ciri-ciri Kelas Insecta antara lain mempunyai 3 pasang kaki, sehingga disebut juga heksapoda. Kelas Insecta merupakan kelas dengan keanekaragaman tertinggi di antara kelas-kelas yang lain. Penyebaran Insecta sangat luas, dari perairan sampai puncak gunung, dari khatulistiwa sampai ke kutub. Jumlah spesiesnya juga cukup banyak. Di dunia ini sedikitnya ditemukan 750.000 jenis yang dikelompokkan ke dalam 100 suku dan 26 ordo. Cabang ilmu biologi yang khusus mempelajari hewan-hewan anggota kelas ini yaitu Entomologi.
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Kutu Buku (Lepisma saccharina)
Berdasarkan ada tidaknya sayap, Kelas Insecta dibagi menjadi 2 subkelas, yaitu Subkelas Apterygota dan Subkelas Pterygota.

4.1. Subkelas Apterygota

Subkelas Apterygota yaitu serangga yang tidak bersayap. Subkelas Apterygota terdiri atas 4 ordo yaitu Protura, Diplura, Collembola, Thysanura. Ordo-ordo tersebut merupakan kelompok serangga yang tidak mengalami metamorfosis (Ametabola), contohnya yaitu kutu buku (Lepisma sp.). Perhatikan Gambar 3.

4.2. Subkelas Pterygota

Subkelas Pterygota yaitu kelompok Insecta yang mempunyai sayap. Kelompok bersayap ini bisa dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok menurut sifat- sifat tertentu.
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Tipe-tipe lisan anggota Subkelas Pterygota
Berdasarkan tipe mulutnya, anggota Pterygota terbagi menjadi beberapa tipe (Gambar 4).

4.2.1. Tipe lisan penjilat

Contoh binatang tipe lisan penjilat yaitu Ordo Diptera, contohnya lalat (Musca sp.).

4.2.2. Tipe lisan pengisap

Contoh binatang tipe lisan pengisap yaitu Ordo Lepidoptera, contohnya Attacus sp.

4.2.3. Tipe lisan penggigit-pengisap

Contoh binatang tipe lisan penggigit-pengisap yaitu Ordo Hymenoptera, contohnya lebah madu (Apis mellifera).

4.2.4. Tipe lisan penggigit-pengunyah

Contoh binatang tipe lisan penggigit-pengunyah yaitu Ordo Orthoptera, contohnya belalang (Valanga sp.).

Tipe-tipe lisan tersebut merupakan adaptasi dari fungsinya, yaitu berkaitan dengan jenis masakan yang mereka makan.

Berdasarkan proses metamorfosisnya, Pterygota dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu hemimetabola dan holometabola.

a. Hemimetabola

Hemimetabola yaitu kelompok serangga bersayap yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Kelompok ini terdiri dari 14 ordo, di antaranya yaitu Orthoptera, Hemiptera, dan Homoptera. Contoh Hemimetabola yaitu belalang (Valanga sp.), capung merah (Crocotermis sp.), walang sangit (Leptocoriza sp.), dan tonggeret (Dundubia mannifera).

b. Holometabola

Holometabola yaitu kelompok serangga bersayap yang mengalami metamorfosis sempurna. Kelompok ini terdiri dari 9 ordo, ibarat ordo Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, dan Hymeroptera. Contoh Holometabola yaitu undur-undur (Myrmeleon frontalis), kunan-kunang (Photinus sp.), kupu-kupu jeruk (Papilio memmon), dan lalat rumah (Musca domestica).

Perbedaan antara proses metamorfosis tepat dan tidak tepat ditunjukkan oleh Gambar 5-6.
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 5. Proses metamorfosis tidak tepat pada Ordo Hemiptera
 Arthropoda yaitu binatang tak bertulang belakang yang mempunyai tubuh beruas Pintar Pelajaran Filum Arthropoda : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 6. Proses metamorfosis tepat pada Ordo Lepidoptera
Anda kini sudah mengetahui Filum Arthropoda. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Kata mollusca berasal dari Bahasa Latin mollis (lunak), sehingga Moluska berarti binatang yang bertubuh luak. Tubuhnya simetri bilateral, tripoblastik, dan tidak bersegmen. Tubuhnya yang lunak biasanya dilindungi pallium (mantle) yang menghasilkan sekret berupa eksoske leton dari zat kapur yang dikenal dengan cangkang atau concha. Bagian tubuh anterior yaitu kepala, bab ventral yaitu kaki muskuler, dan bab dorsal yaitu massa visera. Saluran pencernaannya lengkap, mempunyai glandula digestoria dan glandula salivary, lisan dilengkapi dengan gigi parut atau radula. Respirasi biasanya dengan insang, paru-paru, atau melalui epidermis. Habitatnya di laut, air tawar, dan di darat. (Baca juga : Hewan Tak Bertulang Belakang)

Berdasarkan struktur tubuh, Moluska dibagi menjadi lima kelas, yaitu Amphineura Gastropoda, Scaphopoda, Cephalopoda, dan Pelecypoda. Untuk lebih jelasnya, simak uraian berikut.

a. Kelas Amphineura

Hewan ini mempunyai tubuh simetri bilateral, dengan satu atau beberapa lembaran atau keping cangkang (plate atau valva) atau tanpa valva yang merupakan eksoske leton. Mempunyai beberapa insang di dalam rongga mantelnya. Perhatikan Gambar 1. Anggota kelas ini hidup di bahari (sekitar pantai), melekat pada batu-batu menggunakan kaki perutnya. Contoh anggota kelas ini yaitu Chiton sp., dan Neopilina sp.
 Kata mollusca berasal dari Bahasa Latin mollis  Pintar Pelajaran Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Chiton magnificus (Wikimedia Commons)
b. Kelas Gastropoda

Gastropoda berarti binatang yang memakai perutnya sebagai kaki (gastros: perut dan podos: kaki). Kelas ini merupakan kelas dengan anggota terbesar. Tempat hidupnya di laut, air tawar, maupun di daratan. Sebagian besar bercangkang, sehingga tubuhnya membelit menyesuaikan dengan bentuk cangkangnya. Pada kepalanya terdapat dua pasang tentakel, sepasang tentakel pendek sebagai alat pembau dan sepasang lainnya lebih panjang sebagai alat penglihat. Hewan ini bersifat hermaprodit, tetapi tidak pernah terjadi pembuahan sendiri. Contoh anggota kelas ini yaitu Achatina fulica (bekicot), Pilla ampulacea (Siput sawah), Cypraea sp., dan Conus sp. 

c. Kelas Scaphopoda

Anggota kelas ini hidup di bahari pada pantai berlumpur. Tubuhnya simetri bilateral, dilindungi oleh cangkang tubular (seperti taring atau terompet) yang terbuka di kedua ujungnya. Kakinya kecil dan berguna untuk menggali liang. Kepalanya mempunyai beberapa tentakel, tidak memiliki insang. Contoh jenisnya yaitu Dentalium sp. (Gambar 2).
 Kata mollusca berasal dari Bahasa Latin mollis  Pintar Pelajaran Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Dentalium vulgare (neptunea.org)
d. Kelas Cephalopoda

Cephalopoda merupakan kelas Mollusca yang sudah maju, mempunyai endoskeleton, eksoskeleton, atau tanpa keduanya, tubuhnya simetri bilateral, pada kepalanya terdapat lengan-lengan yang mempunyai sucker (batil penghisap). Cephalopoda berarti binatang yang mempunyai kaki di kepala. Tubuhnya terdiri atas kepala, leher, badan. Kepala Cephalopoda dilengkapi 1 pasang mata dan 8 buah tentakel atau 10 buah (2 tentakel dan 8 lengan) yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Contoh anggota kelas ini yaitu Nautilus sp., Cumi-cumi (Loligo indica), sotong (Sepia officinalis) dan gurita (Octopus). Perhatikan Gambar 3.
 Kata mollusca berasal dari Bahasa Latin mollis  Pintar Pelajaran Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Nautilus belauensis (Wikimedia Commons)
e. Kelas Pelecypoda

Pelecypoda mempunyai kaki pipih menyerupai kapak, memiliki dua buah cangkang sehingga disebut dengan bivalvia, dan memiliki lempengan- lempengan insang sehingga disebut juga lamelli branchiata. Mantelnya melekat pada cangkang. Di tepi cangkang, mantel tersebut secara terus-menerus membentuk cangkang gres sehingga cangkang makin usang makin besar dan menggelembung.
 Kata mollusca berasal dari Bahasa Latin mollis  Pintar Pelajaran Filum Mollusca : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Penampang melintang cangkang bivalvia
Cangkang Pelecypoda terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan nakreas, lapisan prismatik, dan periostrakum (Gambar 4). Lapisan nakreas merupakan lapisan terdalam. Lapisan ini sering disebut lapisan mutiara, atau disebut juga mother of nacre, berupa kristal-kristal halus yang mengandung kalsium karbonat, mengkilat bila terkena cahaya. Namun demikian tidak semua anggota Pelecypoda sanggup menciptakan mutiara. Di luar nakreas terdapat lapisan prismatik, terdiri atas zat kapur yang tebal berbentuk prisma. Di luar lapisan prismatik terdapat periostrakum, yaitu lapisan tipis dan berwarna gelap, tersusun oleh zat tanduk dan mudah mengelupas. Contoh anggota kelas ini yaitu kerang air tawar (Anadonta sp.), kerang mutiara (Pinctada margaritivera), Mytilus sp., dan kima raksasa (Tridacna maxima).

Mutiara

Mutiara yang sering digunakan sebagai suplemen oleh manusia gotong royong adalah hasil sekresi getah nakreas dari kerang mutiara, anggota Kelas Pelecypoda. Secara alami, pembentukan mutiara merupakan respons kerang tersebut terhadap masuknya benda asing, misalnya butiran pasir. Butiran ini akan tergulung oleh jaringan mantel dan berbentuk bulat. Bila kini ada mutiara yang bentuknya bermacam-macam itu terjadi karena manusia memang sengaja memasukkan butiran-butiran dengan bentuk-bentuk tertentu untuk merangsang kerang tersebut membentuk mutiara sesuai dengan bentuk-bentuk yang diinginkan oleh manusia.

Anda kini sudah mengetahui Filum Moluska. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Annelida : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Annelida : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Kata Annelida berasal dari bahasa Latin annulus (cincin kecil) dan oidus (bentuk). Annelida sanggup diartikan sebagai cacing yang tubuhnya bersegmen-segmen mirip cincin atau gelang, sehingga disebut cacing gelang. Cacing ini merupakan kelompok binatang yang sudah mempunyai rongga badan (coelom) yang sebenarnya. Alat pencernaan makanan telah berkembang dengan sempurna. Tubuhnya simetris bilateral dan permukaannya tertutup lapisan kutikula nonchitinous serta dilengkapi pula oleh sejumlah bristle chitin yang disebut setae. Memiliki alat komplemen berupa rambut kecil mirip batang. Alat ekskresinya berupa nefridium. Cacing ini bersifat hermaprodit, memiliki alat peredaran darah tertutup, dan belum mempunyai alat pernapasan khusus, sehingga pernapasannya dilakukan oleh seluruh permukaan tubuh. Sistem sarafnya berupa sepasang ganglion otak yang dihubungkan dengan tali saraf longitudinal. (Baca juga : Hewan Tak Bertulang Belakang)

Berdasarkan jumlah setae dan kawasan hidupnya, Annelida dikelompokkan ke dalam 3 kelas yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea. Untuk lebih memahaminya simaklah uraian berikut.

a. Kelas Polychaeta

Cacing ini merupakan Annelida laut. Tubuhnya bersegmen, tiap segmen dilengkapi parapodium (kaki). Kaki ditumbuhi rambut sehingga disebut cacing berambut banyak, (poly: banyak, chaeta: rambut). Contoh anggota kelas ini ialah cacing wawo (Lysidicea oele), cacing palolo (Palolo viridis). Perhatikan Gambar 1.
 Kata Annelida berasal dari bahasa Latin annulus  Pintar Pelajaran Filum Annelida : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Cacing Palolo (Palolo viridis) (berkeley.edu)
Cacing wawo banyak terdapat di Kepulauan Maluku. Penduduk setempat menyebutnya sebagai ulat jatuh, dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Kehidupannya diawali ovum yang dibuahi sel spermatozoid dan berkembang dalam segmen-segmen. Pada sekitar bulan Maret cacing tersebut menanggalkan segmen-segmen posteriornya yang penuh dengan ovum dan spermatozoid yang telah masak. Cacing ini muncul ke permukaan bahari dalam jumlah yang sangat banyak, sambil melepaskan ovum dan spermatozoid ke air. Penduduk setempat mengumpulkan penggalan-penggalan cacing tersebut untuk dimakan. Seperti halnya dengan cacing wawo, cacing palolo juga mempunyai sifat yang sama, hanya berbeda waktu munculnya ke permukaan laut, yaitu sekitar Oktober.

b. Kelas Olygochaeta

Kelompok ini beranggotakan jenis-jenis cacing yang hidup di air tawar atau di darat. Ukuran bervariasi, berbentuk silindris, bersegmen jelas dan mempunyai sedikit rambut (oligos: sedikit, chaeta: rambut). Kepalanya disebut prostomium, namun tidak dilengkapi mata, tentakel dan parapodia. Hewan ini tetap peka terhadap cahaya karena di sepanjang badan terdapat seta yang berfungsi sebagai organ perasa. Contoh jenis cacing anggota kelas ini ialah Lumbricus terrestris, cacing tanah (Pheretima sp.). 

c. Kelas Hirudinea

Anggota kelas ini banyak hidup di air laut, air tawar, dan tempat lembab. Hirudinea umumnya disebut sebagai lintah. Tubuhnya pipih (dorsiventral), mempunyai 1 prostomium dan 32 segmen tubuh, dan mempunyai dua alat pengisap pada kedua ujung tubuhnya. Alat pengisap atas berdekatan dengan mulut, dan alat pengisap bawah berdekatan de ngan anus. Cacing ini menghasilkan zat hirudin sebagai zat anti koagulan, yaitu zat untuk mencegah darah inang semoga tidak cepat membeku di dalam rongga tubuhnya. Contoh anggota kelas ini ialah Hirudo medicinalis dan Hirudinaria javanica.

Anda kini sudah mengetahui Filum Annelida. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur tubuhnya paling sederhana. Kata Platyhelminthes berasal dari bahasa Latin, platy (pipih) dan helminthes (cacing atau vermes), sehingga kelompok ini disebut cacing pipih. Dibandingkan dengan Filum Porifera dan Cnidaria, organisasi badan cacing pipih ini sudah sedikit lebih maju. Platyhelminthes mempunyai badan pipih, lunak, simetri bilateral dan bersifat hermaprodit. Tubuh sanggup dibedakan dengan tegas antara posterior dan anterior, dorsal dan ventral. Bersifat tripoblastik, dinding tubuh terdiri atas 3 lapisan, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. (Baca juga : Hewan Invertebrata)

Sistem pencernaan kuliner gastrovaskuler, tidak mempunyai rongga tubuh. Alat ekskresi berupa sel-sel api dan belum punya alat peredaran darah maupun alat respirasi. Sistem syarafnya disebut sistem syaraf tangga tali, terdiri atas sepasang ganglion (simpul syaraf ) anterior yang dihubungkan oleh satu hingga tiga pasang tali saraf memanjang.

Platyhelminthes atau Cacing pipih tidak bersegmen, merupakan cacing berbentuk simetris bilateral dan tidak mempunyai coelom (acoelomate) tetapi mempunyai tiga lapisan germinal. Beberapa jenis hidup secara bebas dan banyak yang bersifat parasit. Cacing pipih mempunyai sistem saraf cephalized yang terdiri dari ganglion kepala, biasanya menempel pada saraf longitudinal yang saling bekerjasama di seluruh badan dengan cabang yang melintang. Ekskresi dan osmoregulasi pada cacing pipih dikendalikan oleh "sel api" (flame cells) yang terletak di protonephridia (beberapa jenis cacing pipih ada yang tidak mempunyai protonephridia). Cacing pipih tidak mempunyai sistem pernafasan atau peredaran darah, fungsi-fungsi tersebut diganti dengan absorpsi melalui permukaan tubuh. Jenis cacing pipih non-parasit mempunyai badan yang sangat sederhana (tidak mempunyai usus yang lengkap),  bahkan pada spesies parasit, jaringan usus tersebut sangat tidak lengkap. [1]

1. Karakteristik Umum

Kurangnya organ peredaran darah dan pernapasan menciptakan platyhelminthes membatasi ukuran dan bentuknya, sehingga memungkinkan mereka untuk melaksanakan pemasukan oksigen dan pengeluaran karbondioksida pada semua cuilan tubuhnya dengan proses difusi sederhana. Oleh lantaran itu, ukuran cacing ini banyak yang mikroskopis dan spesies yang berukuran besar mempunyai bentuk mirip pita atau daun yang datar. Ususnya mempunyai banyak cabang, sehingga nutrisi sanggup menyebar ke seluruh cuilan badan [2,3]. Respirasi dilakukan melalui seluruh permukaan badan sehingga menciptakan mereka rentan terhadap kehilangan cairan dan alhasil habitat mereka menjadi terbatas. Cacing ini lebih sering hidup pada lingkungan yang lembab, mirip pada sampah daun atau tanah, dan sebagai benalu pada binatang lain. [2,4]

Ruang di antara kulit dan usus berupa mesenkim, yaitu jaringan ikat yang terbuat dari sel dan diperkuat oleh serat kolagen yang berfungsi mirip kerangka. Mesenkim menyediakan tempat penempelan untuk otot. Mesenkim berisi semua organ internal dan juga menjadi tempat terjadinya sirkulasi oksigen, nutrisi dan produk-produk limbah. Mesenkim terdiri dari dua jenis sel utama, yaitu sel tetap, beberapa di antaranya mempunyai vakuola berisi cairan, dan sel-sel punca (stem cells), yang sanggup bermetamorfosis semua jenis sel lain, dan dipakai untuk regenerasi regenerasi sesudah mengalami cedera atau reproduksi aseksual [2,4]

Kebanyakan platyhelminthes tidak mempunyai anus sehingga material yang tercerna dikeluarkan melalui mulut. Namun, beberapa spesies yang berukuran panjang mempunyai anus dan beberapa spesies lainnya mempunyai usus bercabang yang kompleks dengan lebih dari satu anus, lantaran akan menyulitkan bagi beberapa spesies ini jikalau ekskresi juga harus dilakukan melalui mulut. [2,5] Usus dilapisi dengan satu lapisan sel endodermal yang berfungi menyerap dan mencerna makanan. Beberapa spesies memecah dan melembutkan kuliner dengan mensekresi enzim didalam usus atau faring (tenggorokan). [2,4]

Semua binatang perlu menjaga konsentrasi zat terlarut di dalam cairan tubuhnya pada tingkat yang cukup konstan. Parasit internal dan binatang maritim hidup di lingkungan dengan konsentrasi materi terlarut yang tinggi, dan umumnya membiarkan jaringan mereka mempunyai tingkat konsentrasi yang sama dengan lingkungannya, sedangkan binatang air tawar perlu mencegah cairan badan mereka menjadi terlalu encer. Walau ada perbedaan pada lingkungan, sebagian platyhelminthes memakai sistem yang sama untuk mengontrol konsentrasi cairan badan mereka. Mereka memakai “sel api”, disebut demikian lantaran pergerakan flagela mereka tampak mirip nyala lilin yang berkedip-kedip. Sel api mengekstrak air dari mesenkim yang mengandung limbah dan beberapa materi yang sanggup dipakai kembali, kemudian didorong menuju ke jaringan sel-sel tabung yang dilapisi dengan flagela dan mikrovili. Flagela sel tabung yang mendorong air menuju keluar disebut nefridiopora, sementara mikrovili menyerap kembali materi yang sanggup dipakai kembali dan  air sebanyak yang dibutuhkan untuk menjaga cairan badan pada konsentrasi yang tepat. Kombinasi dari sel api dan sel tabung disebut protonefredia. [2,4] [2,6]

Pada semua platyhelminthes, sistem saraf terkonsentrasi di ujung kepala, mirip yang ada pada filum Acoel, yang mempunyai jaring saraf lebih mirip dengan cnidaria dan ctenophores, tapi terkonsentrasi di sekitar kepala. Platyhelminthes lain mempunyai cincin ganglia di kepala dan batang saraf utama yang ada di sepanjang badan mereka. [2,4] [2,5]

2. Sistem Pencernaan

Rongga pencernaan hanya mempunyai satu lubang untuk kedua ingesti (asupan nutrisi) dan egesti (pengeluaran), sebagai akibatnya, kuliner tidak sanggup diproses secara terus menerus. [2]

3. Alat Gerak

Pergerakan pada beberapa cacing pipih dikendalikan oleh lapisan otot longitudinal, melingkar, dan miring.  Sedangkan jenis lainnya bergerak sepanjang jalur lendir dengan gerakan silia epidermal. Perkembangan dari arah gerakan bekerjasama dengan cephalization. Pada beberapa cacing pipih, proses cephalization sudah meliputi perkembangan di wilayah kepala berupa organ peka cahaya yang disebut ocelli. Beberapa organ penginderaan yang ada pada beberapa anggota cacing pipih (tidak selalu di kepala) meliputi kemoreseptor, reseptor keseimbangan (statocysts), dan reseptor yang mencicipi pergerakan air (rheoreceptors). [1]

4. Reproduksi

Kebanyakan cacing pipih sanggup bereproduksi secara seksual atau aseksual, kebanyakan monoecious. Sebagian besar telah menyebarkan cara untuk menghindari fertilisasi sendiri (self-fertilization). Perkembangannya sanggup secara langsung (telur menetas menjadi cacing kecil yang ibarat cacing dewasa) atau tidak langsung (dengan bentuk larva bersilia). [1]

5. Interaksi dengan Manusia

Sebagian besar cacing pipih berupa parasit, beberapa di antaranya memperlihatkan imbas yang sangat jelek bagi populasi manusia. [1]

Lebih dari setengah spesies cacing pipih yang dikenal merupakan parasit, dan beberapa spesies ancaman besar bagi insan dan binatang ternak. Peyekit Schistosomiasis disebabkan oleh satu genus dari trematoda, penyakit ini merupakan nomor 2 paling dahsyat dari semua penyakit insan yang disebabkan oleh benalu (hanya dilampaui oleh malaria). Neurocysticercosis, terjadi ketika larva cacing pita babi Taenia solium menembus sistem saraf pusat, hal ini merupakan penyebab utama terjadinya epilepsi di seluruh dunia. Ancaman benalu platyhelminthes pada insan di negara maju meningkat lantaran pertanian organik. Hal ini disebabkan karena, popularitas kuliner mentah atau yang dimasak sebentar, dan impor kuliner dari tempat yang berisiko tinggi terserang platyhelminthes. Pada negara-negara kurang berkembang, orang sering tidak bisa membayar materi bakar yang dibutuhkan untuk memasak kuliner secara menyeluruh, dan pasokan air serta proyek irigasi yang jelek seiring dengan sanitasi yang jelek dan pertanian tidak bersih meningkatkan ancaman risiko terserang cacing ini. [2]

Dua spesies planaria telah dipakai dengan sukses di Filipina, Indonesia, Hawaii, Papua Nugini, dan Guam untuk mengendalikan populasi dari bekicot Afrika Achatina fulica, yang menggusur populasi siput asli. Namun, kini ada kekhawatiran bahwa planaria ini sendiri kemungkinan menjadi ancaman serius bagi populasi siput orisinil di tempat tesebut. Di barat maritim Eropa, ada kekhawatiran wacana penyebaran cacing planaria Selandia Baru, Arthurdendyus triangulatus, yang memangsa cacing tanah. [2]

6. Kelas dari Filum Platyhelminthes

Berdasarkan bentuk badan dan sifat hidupnya, Platyhelminthes dibagi menjadi tiga kelas yaitu, Kelas Turbellaria, Kelas Trematoda, dan Kelas Cestoda. Berikut klarifikasi untuk masing-masing kelas tersebut.

6.1. Kelas Turbellaria

Sebagian besar anggota Turbellaria hidup bebas, hanya beberapa yang parasit. Bisa ditemui di ekosistem air tawar, air laut, maupun terestrial. Tubuhnya berbentuk mirip daun, tidak bersegmen, pada epidermis terdapat bulu-bulu getar, dan intestinumnya bercabang. Panjang tubuhnya berkisar 6-15 mm dan tidak mempunyai darah.Tubuh berwarna gelap, coklat dan abu-abu bernapas secara difusi pada permukaan seluruh tubuh. Contoh anggota kelas ini ialah Dugesia trigina, yang lebih dikenal dengan nama Planaria (Gambar 1). Cacing planaria hidup bebas di air tawar yang jernih dan mengalir sepanjang tahun, menempel pada watu atau dedaunan yang jatuh.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Dugesia tigrina (Planaria) (jcoll.org)

6.1.1. Karakteristik Umum

Turbellaria terdiri dari sekitar 4.500 spesies, [5,7] sebagian besar hidup bebas, dengan ukuran panjang antara 1 mm (0,039 in) hingga 600 mm (24 in). Sebagian besar ialah predator atau pemakan bangkai. Spesies yang ada di darat sebagian besar aktif di malam hari dan tinggal di lingkungan yang lembab mirip pada sampah daun atau kayu yang membusuk. Beberapa ada yang bersimbiosis dengan binatang lain mirip krustasea, dan beberapa lainnya bersifat parasit. Turbellaria yang hidup bebas, biasanya berwarna hitam, coklat atau abu-abu, tetapi beberapa jenis yang lebih besar berwarna cerah. [2]

Turbellaria tidak mempunyai kutikula (lapisan luar berupa materi organik yang bersifat non-seluler). Pada beberapa spesies kulitnya berupa syncitium (kumpulan sel-sel dengan beberapa inti dan membran eksternal tunggal bersama). Namun, kulit pada sebagian besar spesies ini terdiri dari satu lapisan sel, yang masing-masing pada umumnya mempunyai beberapa silia ("rambut" kecil yang bergerak). Pada beberapa spesies berukuran besar permukaan atas tubuhnya tidak mempunyai silia. Kulit ini juga ditutupi dengan mikrovili yang ada di antara silia. Turbellaria mempunyai banyak kelenjar, biasanya berada di dalam lapisan otot di bawah kulit dan terhubung ke permukaan melalui pori-pori yang merupakan tempat untuk mengeluarkan lendir, perekat, dan zat lainnya. [5,7]

Spesies akuatik berukuran kecil memakai silia untuk bergerak, sementara yang lebih besar memakai gerakan otot dari seluruh badan untuk merayap atau berenang. Beberapa bisa menggali, melekatkan cuilan ujung belakang di bawah liang kemudian meregangkan kepala untuk mengambil kuliner dan kemudian menariknya kembali ke bawah. Beberapa spesies darat mengeluarkan benang dari lendir yang dipakai sebagai tali untuk memanjat dari satu daun ke yang lain. [5,7]

Beberapa Turbellaria mempunyai kerangka spikular, sehingga memperlihatkan bentuk annular (seperti cincin). [5,7]

6.1.2. Pola Makan dan Pencernaan

Convoluta roscoffensis sanggup menelan sel dari Tetraselmis (alga hijau) dan pada ketika cukup umur spesies ini menggunakaan alga tersebut sebagai endosymbiont untuk menyediakan makanan. Pada filum Acoel lainnya, ususnya dilapisi oleh syncitium. Turbellaria mempunyai faring sederhana yang dilapisi silia dan memakai silia untuk menyapu partikel kuliner dan mangsa kecil ke dalam mulutnya. Mulut ini biasanya berada di cuilan tengah bawah dari tubuhnya.

Kebanyakan Turbellaria merupakan karnivora, mereka memangsa invertebrata kecil, protozoa, atau memakan bangkai binatang yang mati. Beberapa spesies memakan binatang yang lebih besar, termasuk tiram dan teritip. Bdelloura, bersimbiosis komensialisme pada insang kepiting tapal kuda. Turbellaria jenis ini biasanya mempunyai faring eversible.[2] Microstomum caudatum merupakan spesies air tawar yang sanggup membuka mulutnya hampir selebar panjang tubuhnya, dan bisa menelan mangsa sebesar tubuhnya. [5,7]

Usus dilapisi oleh sel fagosit yang menangkap partikel kuliner yang sebagian telah dicerna oleh enzim di dalam usus. Pencernaan kemudian diselesaikan di dalam sel fagosit dan nutrisi disebar ke seluruh tubuh.

6.1.3. Sistem Saraf

Pada filum Acoel, setidaknya ada konsentrasi jaringan saraf di tempat kepala, yang mempunyai jaringan saraf lebih mirip dengan cnidaria dan ctenophores, tapi memadat di sekitar kepala. Turbellaria mempunyai otak yang berbeda, meskipun relatif sederhana dalam struktur. Terdapat 1-4 pasang tali saraf dari otak hingga di sepanjang tubuh, dengan banyaknya percabangan syaraf yang lebih kecil. Tidak mirip binatang yang lebih kompleks, mirip Annelida, tidak ada ganglia pada pita saraf, selain yang membentuk otak. [7,8]

Kebanyakan Turbellaria mempunyai ocelli ("mata kecil"), satu pasang di sebagian besar spesies, tapi dua atau bahkan tiga pasang pada beberapa spesies. Beberapa spesies dengan ukuran besar mempunyai banyak mata di cuilan atas otak; pada tentakel, atau di sepanjang tepi tubuh. Ocelli hanya bisa membedakan arah datangnya cahaya, sehingga memungkinkan binatang ini untuk menghindarinya. [7,8]

Beberapa kelompok, terutama catenulida, acoelomorpha dan seriate mempunyai statocysts, (ruangan berisi cairan yang mengandung partikel padat). Statocysts dianggap sebagai sensor keseimbangan dan pergerakan, pada medusae, cnidaria, dan ctenophores, statocysts juga mempunyai fungsi yang sama. Namun, statocysts pada turbellaria tidak mempunyai silia sensorik, dan tidak diketahui bagaimana mereka mencicipi gerakan dan posisi dari partikel padat.

Sebagian besar spesies mempunyai sel sensor sentuhan bersilia yang tersebar di seluruh badan mereka, terutama pada tentakel dan di sekitar tepi tubuh. Sel-sel khusus di dalam lubang atau lekukan pada kepala ini kemungkinan merupakan sensor penciuman. [5,7]

6.1.5. Reproduksi

Kebanyakan Turbellaria berkembang biak dengan mengkloning dirinya, sedangkan pada jenis Acoel, berkembang biak dengan tunas. Planaria genus Dugesia merupakan perwakilan genus yang populer dari kelas Turbellaria. [5,7]

Semua Turbellaria merupakan organisme hermafrodit, mempunyai sel-sel reproduksi jantan dan betina, dan membuahi telurnya secara internal melalui kopulasi. [5,7] Beberapa spesies akuatik yang lebih besar melaksanakan perkawinan dengan p*nis fencing / sabung pen*s, duel di mana setiap individu mencoba untuk menghamili yang lain, individu yang kalah mengadopsi tugas wanita untuk menyebarkan telur. [7,9]

Meskipun pada filum Acoel, gonadnya tidak sanggup dibedakan, pada Turbellaria lainnya ada satu pasang atau lebih testis dan ovarium. Saluran sprma melalui vesikula seminalis, menuju ke otot pen*s. Pada banyak spesies, jauh lebih rumit dengan adanya penambahan kelenjar perhiasan atau struktur yang lain. Pen*s terletak di dalam rongga, dan sanggup berereksi melalui sebuah lubang di cuilan bawah posterior hewan. Pada sebagian besar spesies, sel sprma mempunyai dua ekor. [7,8]

Pada kebanyakan platyhelminthes, ovarium dibagi menjadi dua, salah satu menghasilkan ovum, dan satunya lagi memproduksi sel kuning telur khusus, yang dipakai untuk memelihara perkembangan embrio. Banyak spesies Turbellaria mempunyai sistem reproduksi mirip ini, akan tetapi pada beberapa spesies sepertinya mempunyai sistem reproduksi yang lebih primitif. Ada spesies yang indung telurnya tidak terbagi, dan sel telurnya sudah mengandung kuning telur di dalam sitoplasma mereka sendiri, mirip yang terjadi pada sebagian besar binatang lain. Pada sistem reproduksi lainnya, ovarium mempunyai saluran telur yang menuju ke bursa untuk mendepositkan (menyimpan) sprma. Bursa ialah cuilan dari sistem reproduksi betina dan berfungsi menyimpan sprma dimana perkembangannya sangat bermacam-macam dan kemungkinan mempunyai tempat sekunder atau aksesori. Bursa ini pada gilirannya terhubung ke v*gina yang membuka di depan pen*s. Pada beberapa kasus, ada juga struktur/organ lain yang dipakai untuk penyimpanan sprma selain bursa, atau bahkan rahim untuk penyimpanan telur yang telah matang. [7,8]

Pada sebagian besar spesies "miniatur organisme dewasa" muncul ketika telur menetas, tetapi spesies dengan ukuran yang besar menghasilkan beberapa plankton mirip larva. [5,7]

6.2. Kelas Trematoda

Trematoda merupakan cacing benalu pada vertebrata. Tubuhnya tertutup lapisan-lapisan kutikula. Kelompok ini disebut juga sebagai cacing penghisap, lantaran mempunyai alat penghisap atau sucker.

Trematoda merupakan kelas di dalam filum Platyhelminthes yang terdiri dari tiga kelompok cacing pipih parasit, sering disebut juga sebagai "flukes". Kelompok-kelompok dari cacing benalu tersebut ialah Cestoda, Monogenea dan Trematoda. [10]

6.2.1. Taksonomi dan Biodiversitas

Trematoda atau “flukes” diperkirakan mencapai 18.000 [10,11] hingga 24.000 [10,12] spesies, dan dibagi menjadi dua subkelas. Hampir semua trematoda ialah benalu pada moluska dan vertebrata. Aspidogastrea, yang terdiri dari sekitar 100 spesies, merupakan benalu obligat pada moluska yang juga sanggup menginfeksi kura-kura dan ikan, termasuk ikan bertulang rawan. Digenea, yang merupakan kelompok dengan keanekaragaman dominan pada trematoda, ialah benalu obligat dari moluska dan vertebrata, tetapi Digenea jarang menjadi benalu pada ikan bertulang rawan.

Sebelumnya, Monogenea  termasuk di dalam Trematoda, dengan dasar bahwa cacing ini juga merupakan benalu berbentuk ulat (vermiform), namun studi filogenetik modern telah menimbulkan kelompok menjadi kelas tersendiri di dalam filum Platyhelminthes, bersama dengan Cestoda

Trematoda berbentuk oval dan mempunyai bentuk mirip cacing, biasanya panjangnya tidak lebih dari beberapa sentimeter. Fitur eksternal yang paling khas pada Trematoda ialah adannya dua pengisap, satu erat dengan mulut, dan yang lainnya berada di cuilan bawah. [10,13]

Permukaan badan trematoda terdiri dari syncitial tegument berpengaruh yang membantu melindungi terhadap enzim pencernaan usus hewan. Permukaan syncitial tegument ini berfungsi untuk pertukaran gas (tidak ada organ pernapasan pada Trematoda) [10,13].

Mulutnya terletak di ujung depan, berupa otot yang disokong oleh faring. Faring terhubung melalui esofagus pendek yang disebut caeca. Caeca bercabang pada beberapa spesies. Seperti cacing pipih lainnya, Trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa limbah pencernaan dikeluarkan melalui mulut. [10,13]

Meskipun ekskresi limbah nitrogen sebagian besar terjadi melalui Tegument, Trematoda mempunyai sistem ekskretoris, terutama yang berkaitan dengan osmoregulasi. Sistem eksretoris ini terdiri dari dua atau lebih protonephridia, yang terletak pada setiap lubang di sisi cuilan badan dan menjadi duktus pengumpul (collecting duct). Kedua saluran pengumpul biasanya bertemu di kandung kemih tunggal, membuka ke luar melalui satu atau dua pori-pori  di erat ujung posterior hewan. [10,13]

Otak pada Trematoda terdiri dari sepasang ganglia  yang berada di wilayah kepala. Dari masing-masing ganglia tersebut terdapat dua atau tiga pasang tali saraf yang menjalar ke seluruh cuilan tubuh. Tali saraf yang menjalar di sepanjang permukaan ventral ialah selalu yang terbesar, sedangkan tali saraf punggung / dorsal hanya ada pada Aspidogastrea. Trematoda pada umumnya kekurangan organ penginderaan khusus, meskipun ada beberapa spesies ektoparasit yang mempunyai satu atau dua pasang ocelli sederhana. [10,13]

6.2.2. Sistem Reproduksi

Kebanyakan trematoda merupakan hermafrodit (memiliki organ reproduksi jantan dan betina di dalam satu tubuh). Biasanya mempunyai dua testis, dengan saluran sprma yang bergabung bersama di bawah badan cuilan tengah depan. Sistem ini bervariasi secara struktur di antara spesies, tetapi sistem ini biasanya sudah meliputi kantung penyimpanan sprma dan kelenjar aksesori, sebagai tambahan organ kopulasi, baik yang reversible (disebut sebagai cirrus), atau non-eversible (disebut sebagai pen*s). [10,13]

Biasanya Trematoda hanya mempunyai ovarium tunggal, yang terhubung melalui sepasang saluran menuju ke sejumlah kelenjar vitelline di kedua sisi tubuh, yang menghasilkan sel kuning telur (yolk cell). Telur lepas dari ovarium menuju ke dalam wadah yang disebut ootype atau kelenjar Mehlis (kelenjar di mana pembuahan terjadi). Kelenjar membuka menjadi uterus memanjang yang membuka ke luar, berdekatan dengan organ jantan. Ovarium sering juga dikaitkan dengan kantung penyimpanan sprma dan saluran kopulasi yang disebut kanal Laurer. [10,13]

6.2.3. Siklus Hidup 

Hampir semua trematoda menginfeksi moluska sebagai inang pertama pada siklus hidupnya, dan sebagian besar mempunyai siklus hidup kompleks yang melibatkan jenis inang lainnya. Kebanyakan trematoda merupakan monoeciuos dan bergantian bereproduksi secara seksual dan aseksual, kecuali pada Aspidogastrea yang tidak mempunyai reproduksi aseksual dan Schistosomatidae yang bersifat dioecious (organ reproduksi jantan dan betina terpisah). [10]

Di dalam definitive host (inang, dimana benalu mencapai kematangan dan, jikalau mungkin, bereproduksi secara seksual), di mana reproduksi seksual terjadi, telur biasanya keluar bersamaan dengan feses dari inang. Telur yang dilepaskan di air membentuk larva yang bisa berenang bebas dan bersifat infektif ke intermediate host (inang perantara), di mana reproduksi aseksual terjadi. [10]

Sebuah spesies yang mencontohkan siklus hidup yang luar biasa dari trematoda ialah cacing pada burung, Leucochloridium paradoxum. Berbagai jenis burung hutan bertindak sebagai inang definitive bagi spesies tersebut, sementara aneka macam jenis siput merupakan  inang tempat benalu tumbuh (intermediate host). Parasit cukup umur di dalam usus burung memproduksi telur dan pada akhirnya telur tersebut akan berakhir di tanah keluar bersamaan dengan feses burung. Beberapa telur ditelan oleh siput dan di dalam siput mereka menetas menjadi larva kecil transparan (mirasidium). Larva ini tumbuh dan mempunyai bentuk mirip kantung. Tahap ini dikenal sebagai sporocyst, sporocyst ini kemudian akan membentuk badan sentral  pada kelenjar pencernaan siput yang membentang menjadi kantung perindukan di kepala , otot kaki dan tangkai mata siput. Parasit bereplikasi sendiri pada cuilan badan pusat sporocyst, menghasilkan banyak embrio kecil (redia). Embrio ini akan pindah menuju ke kantung perindukan dan berkembang   cukup umur menjadi cercaria. [10]

6.2.4. Infeksi

Infeksi pada insan kerap terjadi di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Namun, Trematoda sanggup ditemukan pada semua tempat dimana limbah / kotoran insan dipakai sebagai pupuk. Schistosomasis (dikenal juga dengan bilharzia, bilharziosis atau demam siput) merupakan salah satu teladan penyakit parasitik yang disebabkan oleh salah satu spesies Trematoda, sebuah spesies cacing benalu dari genus Schistosoma. [10]

6.2.5. SubKelas dari Kelas Trematoda

6.2.5.1. Digenea

Digenea mempunyai sekitar 11.000 spesies lebih banyak dari semua adonan spesies platyhelminthes lainnya. Digenea dewasa, biasanya mempunyai dua holdfasts, sebuah cincin di sekitar ekspresi dan pengisap di cuilan tengah bawah yang berukuran lebih besar.[2,3] Meskipun nama "Digeneans" berarti "dua generasi", sebagian besar mempunyai siklus hidup yang sangat kompleks hingga mencapai tujuh tahap (tergantung pada kondisi lingkungan yang ditemui pada tahap awal), yang paling penting adalah, apakah telur disimpan di darat atau di air. Tahap peralihan mentransfer benalu dari satu inang ke inang yang lain. Definitive host, yang merupakan tempat perkembangan menuju organisme cukup umur berupa vertebrata darat, inang pertama pada tahap remaja biasanya siput yang sanggup hidup di darat atau di air, dan pada banyak kasus ikan atau arthropoda ialah inang kedua. [2,5]

Sebuah ilustrasi yang memperlihatkan siklus hidup dari intestinal fluke (cacing yang hidup di usus), Metagonimus. Cacing ini menetas di dalam usus siput, berpindah ke ikan, di mana ia menembus badan dan encyst (membentuk kantong perindukan) pada daging; kemudian bergerak ke usus kecil binatang darat yang memakan ikan mentah; dan kemudian menghasilkan telur yang dikeluarkan melalui feses dan kemudian dicerna kembali oleh siput. Schistosomes, yang merupakan penyebab penyakit tropis, bilharzia, termasuk di dalam kelompok ini [2,14].

Cacing cukup umur mempunyai panjang antara 0,2 mm (0,0079 in) dan 6 mm (0.24 in). Stu individu Digenea cukup umur individu hanya mempunyai satu alat reproduksi (jantan / betina), dan pada beberapa spesies, betina hidup pada celah tertutup yang berada di sepanjang badan organisme jantan, dan secara periodik keluar untuk bertelur. Pada semua spesies, organisme cukup umur mempunyai sistem reproduksi yang kompleks dan sanggup menghasilkan antara 10.000-100.000 kali lebih banyak telur sebagai cacing pipih yang hidup bebas. Selain itu, pada tahap peralihan mereka hidup di dalam siput dan bereproduksi secara aseksual. [2,5]

Spesies cukup umur dari spesies yang berbeda menempati cuilan / tempat yang berbeda pada inang definitive, contohnya usus, paru-paru, pembuluh darah besar, [2,3] dan hati [2,5]. Organisme cukup umur memakai faring berotot berukuran relatif besar untuk menelan sel, fragmen sel, lendir, cairan badan atau darah. Pada organisme cukup umur dan organisme yang hidup di siput, syncytium eksternalnya bisa menyerap nutrisi terlarut dari inangnya. Digenea cukup umur sanggup hidup tanpa oksigen untuk waktu yang lama. [2,5]

6.2.5.2. Aspidogastrea

Anggota dari kelompok kecil ini mempunyai sebuah pengisap tunggal atau gugusan pengisap yang berada cuilan bawah tubuh. [1,5] Mereka menginfeksi usus ikan bertulang belakang, ikan bertulang rawan, kura-kura, dan rongga badan bivalvia dan gastropoda (baik air maritim maupun air tawar). [2,3] Telur mereka menghasilkan larva bersilia yang bisa berenang, dan pada siklus hidupnya mempunyai satu atau dua inang. [2,5]

6.2.6. Contoh Spesies Kelas Trematoda

Contoh anggota kelas ini ialah cacing hati (Fasciola hepatica) dan Clonorchis sinensis. Untuk lebih memahami kedua spesies tersebut cermati uraian berikut.

1) Fasciola hepatica

Cacing ini hidup sebagai benalu di dalam hati insan dan hewan ternak mirip sapi, babi, dan kerbau. Tubuhnya mencapai panjang 2-5 cm, dilengkapi alat penghisap yang letaknya mengelilingi mulut dan di erat perut (Gambar 2). Cacing hati berkembangbiak secara seksual dengan pembuahan silang atau pembuahan sendiri (hermaprodit).
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Cacing hati (Fasciola hepatica) (Wikimedia Commons)
Fasciola hepatica mempunyai siklus hidup mulai dari dalam tubuh inangnya, ketika keluar dari badan inang, sampai kemudian masuk kembali sebagai benalu di badan inang yang baru. Perhatikan Gambar 3. Di dalam badan inangnya, cacing dewasa memproduksi sprma dan ovum kemudian melakukan pembuahan. Telur yang telah dibuahi kemudian keluar dari tubuh inang bersama feses (kotoran). Bila jatuh di tempat yang sesuai, telur ini akan menetas dan menjadi mirasidium (larva bersilia). Mirasidium kemudian berenang di perairan selama 8-20 jam. Bila menemukan siput air (Lymnaea javanica), mirasidium akan masuk ke badan siput tersebut, tetapi bila tidak bertemu siput air mirasidum akan mati. Di dalam badan siput, mirasidium kemudian tumbuh menjadi sporoskista. Sporokista kemudian berpartenogenesis menjadi redia dan kemudian menjadi serkaria.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Siklus hidup cacing Fasciola hepatica
Serkaria membentuk ekor dan keluar menembus badan siput, kemudian berenang beberapa usang sehingga melepaskan ekornya di rumput dan flora air untuk menjadi metaserkaria. Metaserkaria kemudian membungkus diri dengan kista (cyste) sehingga sanggup bertahan pada rumput atau flora lain, menunggu tergoda oleh hewan. Ketika kista ikut termakan bersama tumbuhan, kista akan menembus dinding usus lalu masuk ke hati, kemudian berkembang hingga cukup umur dan bertelur kembali mengulang siklus yang sama.

2) Clonorchis sinensis

Cacing ini hidup di dalam hati dan saluran empedu manusia, anjing, atau kucing. Siklus hidupnya mirip dengan cacing hati. Inang perantaranya ialah siput, ikan, atau udang. Siklus hidup Chlonorchis sinensis dijelaskan dengan Gambar 4.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Siklus hidup Chlonorchis sinensis
6.3. Kelas Cestoda

Cacing ini mempunyai bentuk badan pipih panjang menyerupai pita sehingga disebut juga sebagai cacing pita. Tubuhnya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu skoleks (kepala) dan strobilus. Setiap strobilus terdiri atas rangkaian segmen-segmen yang disebut proglotid. Proglotid dibuat melalui pembelahan tranversal di daerah leher, dan masing-masing berisi kelengkapan kelamin jantan dan betina, sehingga setiap proglotid sanggup dipandang sebagai satu individu. Cacing ini hidup sebagai benalu pada babi atau sapi.

Cestoda (Cestoidea) ialah nama yang diberikan untuk kelas cacing pipih benalu dari filum Platyhelminthes, dan biasa disebut cacing pita. Anggota dari Cestoda cukup umur hidup di dalam saluran pencernaan vertebrata, dan pada ketika juveni sering berada di dalam badan aneka macam hewan. Lebih dari seribu spesies Cestoda telah dideskripsikan, dan semua spesies vertebrata sanggup dijadikan inang oleh setidaknya satu spesies cacing pita. Beberapa spesies benalu pada manusia, lantaran mengkonsumsi daging yang tidak diamasak dengan baik mirip daging babi (Taenia solium), daging sapi (T. saginata), dan ikan (Diphyllobothrium spp.), atau bisa juga mengkonsumsi kuliner yang disiapkan dalam kondisi kebersihan yang jelek (Hymenolepis spp. ; Echinococcus spp. ).

T. saginata, cacing pita dari sapi, sanggup tumbuh hingga 20 m (65 kaki), spesies terbesar, cacing pita paus, Polygonoporus giganticus, sanggup tumbuh hingga 30 m (100 ft) [15, 16, 17].

Cacing pita benalu pada vertebrata mempunyai sejarah panjang: fosil dari telur Cestoda, salah satu telurnya mempunyai larva yang berkembang, telah ditemukan dalam fosil kotoran (coprolita) dari hiu pada periode pertengahan hingga final Permian, sekitar 270 juta tahun [15, 18].

Kingdom : Animalia

Filum : Platyhelminthes

Kelas : Cestoda

Subkelas :

Cestodaria
Eucestoda

Ordo dari Cestodaria :

Amphilinidea
Gyrocotylidea

Ordo dari Eucestoda

Aporidea
Caryophyllidea
Cyclophyllidea
Diphyllidea
Lecanicephalidea
Litobothridea
Nippotaeniidea
Proteocephalidea
Pseudophyllidea
Spathebothriidea
Tetraphyllidea
Trypanorhyncha

6.3.1. Anatomi

a. Scolex 

Scolex cacing ("kepala") menempel ke usus inang definitive (inang tetap). Pada beberapa spesies, scolex ini didominasi oleh bothria (tentakel) yang berfungsi sebagai penghisap. Spesies lain mempunyai kait dan pengisap yang membantu untuk menempel. Cestoda Cyclophyllid sanggup diidentifikasi oleh adanya empat pengisap pada scolex mereka [15, 19]. scolex ini berasal dari sel-sel yang berasal dari cuilan posterior.

Scolex merupakan cuilan yang paling khas dari cacing pita dewasa, seringkali hal ini tidak disadari pada investigasi klinik lantaran cuilan ini berada di dalam badan pasien. Dengan demikian, mengidentifikasi telur dan proglottids dalam kotoran pasien merupakan hal yang penting untuk mengetahui abses cacing ini.

b. Sistem Saraf dan Tubuh

Pusat saraf utama Cestoda ialah sebuah ganglion otak di dalam scolex. Saraf motorik dan sensorik tergantung pada jumlah dan kompleksitas dari scolex tersebut. Saraf yang lebih kecil berasal dari Commissures (istilah) yang berfungsi memasok otot badan dan merupakan ujung saraf sensorik. Bagian cirrus (istilah) dan v*gina mempunyai saraf, dan mempunyai ujung sensorik di sekitar pori genital yang lebih banyak dibandingkan tempat lain. Fungsi sensorik meliputi tactoreception dan chemoreception . Beberapa saraf hanya bersifat sementara.

c. Proglottid 

Tubuh Cestoda terdiri dari segmen yang berurutan (proglottids). Jumlah dari proglottid disebut Strobila (tipis dan ibarat sepotong pita). Seperti pada beberapa cacing pipih lainnya, Cestoda memakai sel api (protonephridia), yang terletak di proglottid, untuk ekskresi. Proglottid matang dilepaskan dari ujung posterior cacing pita dan keluar bersamaan dengan feses inangnya.

Oleh lantaran setiap proglottid berisi organ reproduksi jantan dan betian, mereka bisa bereproduksi secara mandiri. Beberapa jago biologi telah menyatakan bahwa, tiap-tiap proglottods tidak harus dianggap sebagai organisme tunggal, dan bahwa cacing pita bekerjsama merupakan koloni dari proglottids.

Tata letak proglottid terdiri dari dua bentuk, craspedota (proglottid yang tumpang tindih oleh proglottid sebelumnya, dan acraspedote (proglottid yang tidak tumpang tindih). [15, 20]

Setelah menempel pada dinding usus inang, cacing pita menyerap nutrisi melalui dinding usudari kuliner yang dicerna oleh inangnya dan mulai menumbuhkan ekor yang panjang, dimana setiap segmen mengandung sistem pencernaan independen dan saluran reproduksi. Segmen yang berusia bau tanah didorong ke arah ujung ekor dimana segmen gres diproduksi oleh segmen tersebut. Pada ketika segmen telah mencapai ujung ekor, hanya saluran reproduksi yang tersisa. Kemudian keluar bersama feses dengan membawa telur cacing pita ke inang berikutnya, lantaran pada ketika itu, proglottid  pada dasarnya ialah sebuah kantung telur. [15, 21]

d. Reproduksi

Cacing pita sejati merupakan organisme hermafrodit, mereka mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina di dalam badan mereka. Sistem reproduksi meliputi satu atau banyak testis, cirrus, vas deferens and vesikula seminalis sebagai organ jantan. Sedangkan ovarium mempunyai saluran telur dan rahim yang saling bekerjasama berfungsi sebagai organ jantan. Ada bukaan / lubang eksternal yang secara umum dipakai untuk sistem reproduksi jantan dan betina, yang dikenal sebagai pori genital. Pori genital terletak pada bukaan permukaan atrium berbentuk cangkir [15, 22] [15, 23]. Meskipun secara seksual merka ialah hermafrodit, pembuahan sendiri merupakan fenomena langka. Fertilisasi silang antara dua individu merupakan hal yang sering dilakukan untuk bereproduksi, hal ini dilakukan biar sanggup terjadi hibridisasi. Selama kopulasi, cirrus dari satu individu terhubung dengan individu lain melalui pori genital, dan kemudian terjadi pertukaran sprmatozoa.

e. Siklus Hidup

Siklus hidup cacing pita sangat sederhana, dalam artian bahwa tidak ada fase aseksual mirip pada cacing pipih lainnya. Akan tetapi mempunyai kerumitan tersendiri dimana setidaknya diharapkan satu inang mediator dan satu inang tetap (definitive host). Pola siklus hidup ini telah menjadi kriteria penting untuk mengetahui evolusi pada Platyhelminthes. [15, 24] Banyak cacing pita mempunyai dua tahap siklus hidup dengan dua jenis inang. Cacing Taenia saginata cukup umur hidup di dalam usus primata mirip manusia, tetapi yang ebih mengkhawatirkan ialah Taenia solium, lantaran  dapat membentuk kista dalam otak manusia. Proglottid meninggalkan badan melalui anus dan jatuh ke tanah, di mana mereka sanggup masuk bersamaan rumput yang dimakan oleh binatang mirip sapi. Sapi dan binatang lain yang memakan proglottids  ini dikenal sebagai inang perantara. Juvenil bermigrasi dan menetap sebagai kista di antara jaringan badan inang mirip otot. Mereka menimbulkan kerusakan lebih parah pada inang mediator dibandingkan pada inang tetap. Parasit melengkapi siklus hidupnya ketika inang mediator memperlihatkan benalu ke inang tetap. Hal ini biasanya terjadi karena, inang tetap memakan inang mediator yang terinfeksi. Misalnya mirip insan yang lebih cenderung menyukai makan daging setengah mentah. [15, 25]

f. Contoh Spesies Kelas Cestoda

Contoh anggota kelas ini ialah Taenia solium dan Taenia saginata. Berikut uraian kedua jenis cacing tersebut.

1) Cacing pita babi (Taenia solium)

Cacing pita ini hidup pada saluran pencernaan babi dan bisa menular ke manusia. Panjang tubuhnya mencapai 3 m. Pada bagian kepala atau skoleks terdapat empat buah sucker dan kumpulan alat kait atau rostelum. Di sebelah belakang skoleks terdapat leher atau tempat perpanjangan (strobillus). Dari tempat inilah proglotid terbentuk melalui pembelahan transversal. Dalam kondisi yang optimal panjang badan cacing pita babi sanggup mencapai 2,5-3 m dengan jumlah proglotid mencapai 1.000 buah. Cacing ini memiliki siklus hidup mirip pada Gambar 5.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 5. Siklus hidup Taenia solium
2) Cacing pita sapi (Taenia saginata)

Taenia saginata tidak mempunyai rostelum (kait) pada skoleknya, dan secara umum tubuhnya mirip dengan T. solium. Cacing cukup umur hidup sebagai benalu dalam usus manusia, masuk ke dalam badan insan melalui sapi sebagai hospes intermediet. Cacing ini tidak begitu berbahaya dibandingkan T. solium. Namun demikian cacing ini tetap merugikan, karena menghambat absorpsi kuliner dalam tubuh manusia.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 6.Siklus hidup Taenia saginata
Siklus hidup cacing ini dimulai dari terlepasnya proglotid bau tanah bersama feses manusia (Gambar 6). Di dalam setiap proglotid terdapat ribuan telur yang telah dibuahi (zigot). Zigot tersebut kemudian berkembang menjadi larva onkosfer di dalam kulit telur. Jika telur tersebut tergoda sapi, larva onkosfer akan menembus usus masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limfa dan akhirnya sampai di otot lurik. Di dalam otot sapi, larva onkosfer berubah menjadi kista dan berkembang menjadi cacing gelembung atau sisteserkus yang membentuk skoleks pada dindingnya. Ketika daging sapi tersebut dimakan insan (kemungkinan sisteserkus masih hidup), di dalam usus insan skoleks tersebut akan keluar lantas menempel pada dinding usus, kemudian tumbuh cukup umur dan membentuk proglotidproglotid baru. Kemudian siklus hidupnya terulang kembali.

6.4. Kelas Monogenea

6.4.1. Ciri-ciri Kelas Monogenea

Monogenea merupakan cacing pipih benalu yang berukuran sangat kecil, cacing ini ditemukan terutama pada kulit atau insang ikan. Cacing ini jarang mempunyai ukuran lebih dari 2 cm. Beberapa spesies yang menginfeksi ikan maritim tertentu berukuran lebih besar dan cacing yang hidup di maritim pada umumnya lebih besar daripada yang ditemukan pada inang air tawar. Monogenean kurang dalam sistem pernapasan, tulang dan peredaran darah dan tidak mempunyai penghisap 0ral (kurang begitu berkembang). [26, 27] Monogenea menempel pada inang memakai kait, penjepit dan aneka macam struktur khusus lainnya. Mereka secara dramatis bisa memanjang dan memperpendek ketika bergerak. Ahli biologi perlu memastikan bahwa spesimen ini benar-benar dalam kondisi relaks sebelum pengukuran dilakukan. [26, 28]

Seperti semua ektoparasit, Monogenea mempunyai struktur untuk menempel yang berkembang dengan baik. Struktur anterior secara kolektif disebut prohaptor, sedangkan yang posterior secara kolektif disebut opisthaptor. Bagian posterior opishaptor denga bentuk mirip  kait, jangkar, penjepit, dll biasanya merupakan organ penempelan utama.

Seperti cacing pipih lainnya, Monogenea tidak mempunyai rongga badan sejati (coelom). Mereka mempunyai sistem pencernaan sederhana yang terdiri dari bukaan ekspresi dengan faring berotot dan usus tanpa bukaan final (anus). Umumnya, mereka juga bersifat hermafrodit dengan organ reproduksi fungsional dari kedua jenis kelamin yang ada pada satu individu. Kebanyakan spesies bertelur (ovipar) tetapi beberapa diantaranya beranak (vivipar). Monogenea merupakan Platyhelminthes, oleh lantaran itu Monogenea ialah salah satu invertebrata terendah yang mempunyai tiga lapisan kulit embrionik; endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Selain itu, mereka mempunyai kepala yang berisi organ-organ penginderaan dan jaringan saraf (otak).

6.4.2. Sistematika Dan Evolusi

Nenek moyang Monogenea kemungkinan ialah cacing pipih yang hidup bebas, yang mirip dengan Turbellaria modern. Menurut pandangan yang lebih diterima secara luas, "rhabdocoel Turbellaria memunculkan Monogenea, hal ini, pada gilirannya, memunculkan Digenea yang merupakan asal munculnya Cestoda. Pandangan lainnya ialah bahwa, nenek moyang rhabdocoel memunculkan dua jalur; satu memunculkan Monogenea yang memunculkan Digenea, dan jalur lain memunculkan Cestoda "[26, 27].

Monogenea mempunyai sekitar 50 famili dan ribuan spesies yang telah dideskripsikan.

Beberapa jago benalu (parasitologi) membagi Monogenea menjadi dua (atau tiga) subkelas menurut kompleksitas haptor mereka: Monopisthocotylea mempunyai satu cuilan utama pada haptor, sering berupa kait atau cakram yang besar; sedangkan Polyopisthocotylea mempunyai beberapa cuilan pada haptor, biasanya berupa penjepit. Kelompok ini juga dikenal sebagai Polyonchoinea dan Heteronchoinea. Polyopisthocotyleans hampir secara pribadi merupakan penghisap darah yang tinggal di insang, sedangkan Monopisthocotyleans sanggup hidup pada insang, kulit dan sirip.

Monopisthocotylea :
  1. Genus Gyrodactylus, tidak mempunyai titik mata dan bersifat vivipar (beranak).
  2. Genus Dactylogyrus, mempunyai empat titik mata dan bersifat ovipar. Genus ini merupakan genera metazoa yang paling banyak, dimana setidaknya mempunyai 970 species.
  3. Genus Neobenedenia, berukuran lebih besar dan hidup pada kulit spesies maritim tropis, menimbulkan abses  yang parah pada budidaya binatang laut.
Semua genus diatas sanggup menimbulkan epizootik (penyakit yang muncul sebagai kasus gres pada populasi binatang tertentu, selama periode tertentu) pada budidaya ikan air.

Polyopisthocotylea :
  1. Genus Diclidophora, kebanyakan ditemukan pada ikan maritim dan ikan air tawar primitif mirip ikan sturgeon dan paddlefish. 
  2. Genus Protopolystoma, ditemukan pada katak bercakar (spesies Xenopus species).
6.4.3. Ekologi Dan Siklus Hidup

Monogenea mempunyai siklus hidup yang paling sederhana di antara Platyhelminthes yang bersifat parasit. Mereka tidak mempunyai inang mediator dan bersifat ektoparasit pada ikan (kadang-kadang ada di kandung kemih dan rektum vertebrata berdarah dingin). Meskipun mereka hermafrodit, sistem reproduksi jantan berfungsi terlebih dahulu sebelum cuilan reproduksi betina. Telur yang menetas melepaskan larva yang sangat bersilia dikenal sebagai oncomiracidium. Oncomiracidium ini mempunyai banyak kait posterior dan umumnya merupakan tahap kehidupan yang bertanggung jawab untuk transmisi dari inang ke inang.

Tidak ada monogenean yang diketahui menginfeksi burung, tapi ada satu spesies (Oculotrema hippopotami) yang menginfeksi mamalia, yaitu menjadi benalu pada mata kuda nil.

Sejauh yang diketahui, tidak ada Monogenea yang menginfeksi burung, tetapi ada satu spesies yang menginfeksi mamalia, spesies ini merupakan benalu pada mata kuda nil.

Penyakit Cacing Lintah Pertama di Indonesia

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kalimantan Selatan pada pertengahan tahun 2000 dan bersifat endemik. Penyebabnya adalah Fasciolopsis buski, jenis cacing yang mampu menghasilkan jutaan telur yang sangat kecil dan telur-telur tersebut hanya ditemukan pada umbi teratai. Umbi tersebut sangat digemari oleh warga, terutama belum dewasa yang sering memakannya tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga mempercepat penyebaran penyakit ini. Cacing tersebut juga menyebar melalui tinja manusia dengan bekicot sebagai binatang mediator nya. Meskipun tidak mematikan, penyakit ini ditangani serius oleh pemerintah karena menimbul kan dampak yang sangat gawat, yaitu memperlambat partumbuhan dan menurun kan tingkat kecerdasan. (www.jawapos.co.id)

Anda kini sudah mengetahui Filum Platyhelminthes. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Referensi Lainnya :

[1] http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Platyhelminthes/

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Flatworm

[3] Walker, J.C., and Anderson, D.T. 2001. The Platyhelminthes. In Anderson, D.T.,. Invertebrate Zoology. Oxford University Press. pp. 58–80. ISBN 0-19-551368-1.

[4] Barnes, R.S.K. 1998. The Diversity of Living Organisms. Blackwell Publishing. pp. 194–195. ISBN 0-632-04917-0.

[5] Ruppert, E.E., Fox, R.S., and Barnes, R.D. 2004. Invertebrate Zoology (7 ed.). Brooks / Cole. pp. 226–269. ISBN 0-03-025982-7.

[6] Ruppert, E.E., Fox, R.S., and Barnes, R.D. 2004. Invertebrate Zoology (7 ed.). Brooks / Cole. pp. 196–224. ISBN 0-03-025982-7.

[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Turbellaria

[8] Barnes, Robert D. 1982. Invertebrate Zoology. Philadelphia, PA: Holt-Saunders International. pp. 201–230. ISBN 0-03-056747-5.

[9]  Leslie Newman. "Fighting to mate: flatworm p*nis fencing". Diakses 18-05-2013.

 [10] http://en.wikipedia.org/wiki/Trematoda

[11] Littlewood, D T J; R. A. Bray (7 December 2000). "The Digenea". Interrelationships of the Platyhelminthes. Systematics Association Special Volume 60 (1 ed.). CRC. pp. 168–185. ISBN 978-0-7484-0903-7.

[12] Poulin, Robert; Serge Morand (7 January 2005). Parasite Biodiversity. Smithsonian. p. 216. ISBN 978-1-58834-170-9.

[13] Barnes, Robert D. 1982. Invertebrate Zoology. Philadelphia, PA: Holt-Saunders International. pp. 230–235. ISBN 0-03-056747-5.

[14] The Carter Center. "Schistosomiasis Control Program". Diakses 15-05-2013.

[15] http://en.wikipedia.org/wiki/Cestoda

[16]  "The Persistent Parasites". Time Magazine (Time Inc). 1957-04-08.

[17] Hargis, William J. (1985). "Parasitology and pathology of marine organisms of the world ocean". NOAA Tech. Rep. (National Oceanic and Atmospheric Administration).

[18] "Marvistavet.com

[22] Cheng TC (1986). General Parasitology (2nd edn). Academic Press, Division of Hardcourt Brace & Company, USA, pp. 402-416. ISBN 0-12-170755-5.

[23] McDougald LR (2003). Cestodes and trematodes. In: Diseases of Poultry, 11th edn (YM Saif, HJ Barnes, AM Fadly, JR Glisson, LR McDougald & DE Swayne, eds). Iowa State Press, USA, pp. 396-404. ISBN 0-8138-0718-2.

[24] Llewellyn J (1987). "Phylogenetic inference from platyhelminth life-cycle stages". Int J Parasitol. 17 (1): 281–89. doi: 10.1016/0020-7519(87)90051-8

[25] "Tapeworm infection". Mayo Clinic. Diakses 20-12-2012.

[26] http://en.wikipedia.org/wiki/Monogenea

[27] flatworm :: Annotated classification - Britannica Online Encyclopedia

[28] Roberts, S. Larry & John Janovy, Jr. Foundations of Parasitology.