Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-vakuola-tumbuhan-gambar. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-vakuola-tumbuhan-gambar. Sort by date Show all posts

Wednesday, February 26, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Vakuola Tumbuhan - Gambar

Struktur dan Fungsi Vakuola pada Tumbuhan - Gambar - Vakuola merupakan organel dalam sel yang berisi cairan. Di dalam vakuola terdapat membran yang disebut tonoplas. Organel ini banyak terdapat pada sel tumbuhan. Kalau pun ada pada sel hewan, bentuk vakuolanya amat kecil. Lihat Gambar 1. Sebuah vakuola tumbuhan berisi larutan garam mineral, gula, asam amino, materi sisa (seperti tanin) dan beberapa pigmen seperti antosianin. Setiap sel tumbuhan mempunyai bentuk vakuola yang amat beragam. Vakuola sel tumbuhan cukup umur berbentuk besar, sedangkan vakuola tumbuhan muda berbentuk kecil. Semakin tua usia tumbuhan, maka vakuolanya akan bertambah besar, bahkan sanggup menjadi bab yang secara umum dikuasai dalam sel. Pada sel tumbuhan, vakuola mempunyai banyak sekali fungsi, antara lain: sebagai daerah menyimpan cadangan makanan dan ion anorganik, menyerupai gula, protein, kalium, dan klorida; sebagai osmoregulator yakni penjaga nilai osmotik sel; dan berperan dalam proses sekresi hasil sisa metabolisme yang membahayakan sel.

Struktur dan Fungsi Vakuola pada Tumbuhan Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Vakuola Tumbuhan - Gambar
Gambar 1. Vakuola sel tumbuhan
Untuk menarik datangnya serangga penyerbuk, sebagian vakuola sel tumbuhan mempunyai pigmen. Contohnya, pigmen merah dan biru pada mahkota bunga. Sebaliknya, supaya hewan pemangsa tidak tiba mendekat, vakuola sel tumbuhan mengandung senyawa beracun dan amis tak sedap. Pada sel hewan, vakuola hanya terdapat pada binatang uniselluler saja. Contohnya ialah protozoa. Fungsi vakuola ialah sebagai vakuola pencernaan makanan (vakuola non-kontraktil). Selain itu, protozoa juga mempunyai vakuola berdenyut (vakuola kontraktil) yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotik sitoplasma.

Tekanan Turgor

Apakah tekanan turgor itu? Turgidus artinya menggelembung. Tekanan turgor terjadi kalau sitoplasma bersifat hipertonik terhadap vakuola. Oleh karena itu, vakuola menyerap air, membesar, sehingga tekanannya meningkat (tekanan turgor). Selanjutnya, cairan vakuola mendesak tonoplas, sehingga dinding sel juga ikut terdesak. Dinding sel ini membatasi volume sitoplasma. Akibatnya, lingkungan di luar sel memberi tekanan pada tonoplas untuk memelihara turgiditas sel.

Anda kini sudah mengetahui mengenai Vakuola. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Monday, March 9, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel

Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel - Semua sel eukariotik mempunyai membran inti. Selain itu, sel eukariotik mempunyai sistem endomembran, yakni mempunyai organel-organel bermembran mirip retikulum endoplasma, kompleks Golgi, mitokondria, dan lisosom. Sel eukariotik juga memiliki sentriol. Perhatikan Gambar 1 wacana struktur sel eukariotik di bawah ini. Berikut ini akan dibahas mengenai struktur sel eukariotik yang mencakup membran plasma, sitoplasma, dan organel-organel sel (ribosom, kompleks Golgi, mitokondria, lisosom, tubuh mikro, dan mikrotubulus).

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 1. Struktur sel eukariotik pada tumbuhan
1. Membran Sel (Selaput Plasma)

Membran sel merupakan belahan terluar sel yang membatasi belahan dalam sel dengan lingkungan luar. Membran sel merupakan selaput selektif permeabel, artinya hanya sanggup dilalui molekul-molekul tertentu mirip glukosa, asam amino, gliserol, dan banyak sekali ion. Membran sel mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut.
  1. Sebagai reseptor (penerima) rangsang dari luar, seperti hormon dan materi kimia lain, baik dari lingkungan luar maupun dari belahan lain dalam organisme itu sendiri.
  2. Melindungi biar isi sel tidak keluar meninggalkan sel.
  3. Mengontrol zat-zat yang boleh masuk maupun keluar meninggalkan sel. Hal inilah yang menyebabkan
  4. membran plasma bersifat semipermeabel (selektif permeabel).
  5. Sebagai tempat terjadinya aktivitas biokimiawi, seperti reaksi oksidasi dan respirasi.
Berdasarkan analisis kimiawi sanggup diketahui bahwa hampir seluruh membran sel terdiri atas lapisan protein dan lapisan lipid (lipoprotein). Membran plasma terdiri atas dua lapisan, yaitu berupa lapisan lipid rangkap dua (lipid bilayer). Lapisan lipid disusun oleh fosfolipid. Fosfolipid adalah lipid yang mengandung gugus fosfat dan terdiri atas bagian kepala (polar head) dan belahan ekor (nonpolar tail). Bagian kepala bersifat hidrofilik (suka air), sedangkan belahan ekor bersifat hidrofobik (tidak suka air). Lipid terdiri atas fosfolipid, glikolipid, dan sterol.
  1. Fosfolipid adalah lipid yang mengandung deretan fosfat.
  2. Glikolipid adalah lipid yang mengandung karbohidrat.
  3. Sterol adalah lipid alkohol terutama kolesterol.
Lapisan protein membran sel terdiri atas glikoprotein. Lapisan protein membentuk dua macam lapisan, yaitu
lapisan protein perifer atau ekstrinsik dan lapisan protein integral atau intrinsik. Lapisan protein perifer membungkus bagian kepala (polar head) lipid rangkap dua belahan luar. Lapisan protein integral membungkus belahan kepala (polar head) lipid rangkap dua belahan dalam. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 2. Struktur membran sel dan fosfolipid
2. Sitoplasma

Sitoplasma merupakan cairan yang mengelilingi inti sel dengan membran sel sebagai batas luarnya. Dasar penyusunnya ialah sitosol yang bersifat koloid. Di dalam sitosol terdapat ion sederhana misalnya sodium, fosfat dan klorida, molekul organik mirip asam amino, ATP dan neuklotida, dan tempat penyimpanan bahan. Sitosol dapat berubah dari fase sol (cair) ke fase gel (semi-padat) atau juga sebaliknya. Cairan sitosol yang lebih pekat dan berbatasan dengan membran sel dinamakan ektoplasma. Keberadaan sitoplasma bagi sel amatlah penting. Ini ditunjukkan dengan beragamnya fungsi yang dimiliki, antara lain: tempat penyimpanan bahan-bahan kimia yang mempunyai kegunaan ketika proses metabolisme sel (seperti enzim, protein, dan lemak); tempat berlangsungnya reaksi metabolisme; dan tempat organel-organel untuk bergerak dan bekerja sesuai fungsinya.

3.1. Organel Sel Bermembran

Organel sel bermembran dari makhluk hidup antara lain; nukleus, retikulum endoplasma, aparatus Golgi, mitokondria, lisosom, badan mikro, vakuola, dan kloroplas.


Nukleus atau inti sel merupakan orga nel sel terbesar dibanding organel sel lainnya. Diameter nukleus berkisar antara 10 sampai 20 m. Nukle us ini berbentuk lingkaran oval. Bagian- bagian yang melapisi nukleus mencakup membran inti, nukleoplasma, dan nukleolus (anak inti). Perhatikan Gambar 3.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 3. Struktur nukleus
Membran inti atau karioteka merupakan lapisan pembungkus inti sel. Pada permukaannya terdapat pori-pori yang berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya molekul dari sitoplasma ke nukleoplasma. Membran inti ini berafiliasi deng an membran sel melalui organel yang disebut retikulum endoplasma. Di dalam nukleus terdapat cairan yang dinamakan nukleoplasma. Cairan nukleoplasma tersusun dari air, asam inti, protein, dan enzim. Sifat cairannya yakni gel. Pada nukleoplasma bisa ditemui benang kromatin. Saat sel mengalami pembelahan, benang kromatin ini akan mengalami penebalan sehingga membentuk kromosom. Kromosom merupakan zat yang berisi materi genetik.

Nukleoplasma menyelubungi belahan penting sel yang disebut nukleolus (anak inti). Setiap nukleolus mempunyai tugas dalam pembentukan protein, semisal RNA ribosom (disingkat RNAr) dan RNA. RNA ribosom merupakan salah satu materi pembentuk ribosom. Saat pembelahan sel secara mitosis, tepatnya ketika fase profase, nukleolus lenyap atau hilang. Namun, ketika fase interfase, nukleolus terbentuk kembali. Di dalam sel, nukleus mempunyai tugas penting, antara lain: menjadi sentra kontrol sel; pembawa perintah sintesis protein dalam inti DNA; memperbaiki sel yang rusak dalam nukleolus; memengaruhi produksi ribosom dan RNA; dan berperan dalam pembelahan sel.


Antara organel sel satu dengan organel sel lainnya, seperti nukleus dan membran sel, dihubungkan oleh organel yang disebut retikulum endoplasma (RE). RE merupakan sebuah sistem membran kompleks yang membentuk kantong pipih dan meluas hampir menutupi sitoplasma. RE mempunyai jaringan tubula dan gelembung membran yang disebut sisterne. RE terbagi atas dua macam, yakni RE berangasan dan RE halus. Permukaan RE berangasan tertutup oleh ribosom, sedangkan permukaan RE halus tidak tertutupi oleh ribosom. Perhatikan Gambar 4.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 4. Retikulum endoplasma (RE) berangasan dan RE halus
RE berangasan berfungsi sebagai penampung protein skretoris yang telah disintesis oleh ribosom. Protein ini akan dimasukkan ke dalam kantong pipih yang disebut lumen RE. RE berangasan juga berperan dalam produksi membran yang ditranspor ke organel lainnya. Membran yang demikian dinamakan membran RE. Berbeda dengan RE kasar, RE halus mempunyai beberapa fungsi, antara lain: mensintesis banyak sekali zat mirip lemak, kolesterol, fosfolipid, dan steroid; metabolisme karbohidrat, contohnya proses penyimpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen pada sel hati; dan membantu proses penetralan obat dan racun yang biasa terjadi pada RE sel hati.

Namun demikian, RE berangasan dan RE halus mempunyai fungsi yang sama, yakni sebagai alat transpor molekul dari satu sel ke sel lain, memproduksi antibodi, dan berperan dalam proses glikolasi yaitu penambahan gula pada molekul protein.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 5. Struktur retikulum endoplasma kasar
3.1.3. Aparatus Golgi

Protein yang dihasilkan ribosom akan ditranspor melewati aparatus Golgi. Di dalam aparatus Golgi tersebut, protein diproses dan disimpan, kemudian dikirim ke organel lainnya. Dinamakan aparatus Golgi alasannya yakni ditemukan oleh ilmuwan yang ber nama Camilio Golgi. Organel ini disebut pula tubuh Golgi atau diktiosom. Secara struktural, aparatus Golgi tersusun atas kan tong pipih bertumpuk-tumpuk yang disebut sisterne. Perhatikan Gambar 6.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 6. Aparatus Golgi
Pada proses metabolisme sel, aparatus Golgi berfungsi sebagai peserta dan pengirim vesikula transpor yang berisi protein. Selain itu, aparatus Golgi dijadikan tempat terjadinya glikolasi. Glikolasi merupakan suatu
proses modifi kasi protein seusai protein disintesis dengan mereaksikan bersama glikosilat (gula). Hasil glikolasi yang berupa glikoprotein disimpan dan selanjutnya dikirimkan ke luar sel oleh vesikula transpor. Di samping fungsi tersebut, aparatus Golgi dapat pula berperan dalam pembentukan lisosom dan berbagai enzim pencernaan yang belum aktif, contohnya enzim zymogen dan koenzim.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 7 Aparatus Golgi dan hubungannya dengan nukleus, retikulum endoplasma dan lisosom
Sebagian besar tubuh Golgi terdapat pada sel-sel sekretori, sehingga produknya banyak disekresikan. Sebagai contoh, sel sekretori pada kelenjar pencernaan yang mengeluarkan enzim-enzim pencernaan, contohnya laktase dan peptidase. Badan Golgi juga ada yang terdapat pada sel-sel pankreas yang mengeluarkan tripsin dan lipase, termasuk juga pada kelenjar air mata yang mengeluarkan antibodi.

3.1.4. Lisosom

Lisosom (lysis = pemisahan, pembelahan, soma = tubuh) adalah tubuh berbentuk lingkaran mirip kantong kecil dengan diameter 0,1 hingga 1 m. Perhatikan Gambar 8. Di dalam lisosom terdapat 50 enzim dan kebanyakan yakni enzim hidrolitik yang bersifat asam. Enzim hidrolitik dipakai lisosom untuk mencerna makromolekul ketika pencernaan intraseluler. Contoh enzim hidrolitik yakni lipase, protase, nuklease, dan fosfatase. Sementara, makromolekul yang dihidrolisis contohnya protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 8. Aparatus Golgi dan hubungannya dengan nukleus, retikulum endoplasma dan lisosom
Di dalam sel, lisosom berperan ketika terjadi fagositosis. Fagositosis merupakan proses pencernaan yang dilakukan makhluk hidup dalam memakan organisme atau zat kuliner yang lebih kecil dari tubuhnya. Pada makhluk hidup uniselluler, proses fagositosis terjadi pada Amoeba. Sementara pada manusia, proses ini terjadi pada sel makrofaga, yakni suatu sel yang berperan dalam pertahanan tubuh dari basil perusak dan penyerang lainnya. Selain proses fagositosis, lisosom juga berperan dalam proses autofagi. Autofagi yakni proses daur ulang materi organik oleh enzim hidrolitik secara individual. Di dalam tubuh manusia, proses autofagi contohnya terjadi pada sel hati. Di dalam sel, lisosom juga bisa mencerna partikel-partikel yang masuk secara endositosis dan penge luaran enzim secara eksositosis. Misalnya, ketika terjadi pembentukan tulang keras dari tulang rawan. Lisosom sanggup pula melaksanakan autolisis. Autolisis juga termasuk proses yang terjadi pada lisosom. Autolisis merupakan proses penghancuran belahan tertentu suatu makhluk hidup secara mandiri. Contohnya, perusakan sel ekor katak ketika masih berudu.

3.1.5. Mitokondria

Mitokondria berbentuk lingkaran panjang atau mirip tongkat terdapat pada sel eukariotik aerob. Mitokondria dibatasi dua lapis membran yang kuat, fleksibel, dan stabil, serta tersusun atas lipoprotein. Membran dalam membentuk tonjolantonjolan yang disebut krista untuk memperluas permukaan agar perembesan oksigen lebih efektif. Ruangan dalam mitokondria berisi cairan disebut matriks mitokondria. Matriks ini kaya enzim pernapasan (sitokrom), DNA, RNA, dan protein. Perhatikan Gambar 9 berikut ini.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 9. Mitokondria dengan dua lapis membran dan krista.
Mitokondria mempunyai DNA sendiri yang mengkode sintesis protein spesifik. Mitokondria berfungsi dalam oksidasi makanan, respirasi sel, dehidrogenasi, fosforilasi oksidasif, dan sistem transfer elektron. Oksidasi zat kuliner di dalam mitokondria menghasilkan energi dan zat sisa. Secara sederhana reaksinya sanggup ditulis sebagai berikut.

                           Oksidasi
C6H12O6 + O2  -----------> CO2 + H2O + Energi
(glukosa)            Respirasi

Berkaitan dengan fungsi tersebut mitokondria sering disebut the power house of cell.

3.1.6. Badan Mikro

Badan mikro hampir ibarat lisosom, berbentuk agak bulat, diselubungi membran tunggal, dan di dalamnya berisi enzim katalase dan oksidase. Organela ini disebut badan mikro alasannya yakni ukurannya kecil, hanya bergaris tengah 0,3–1,5 μm. Terdapat dua tipe tubuh mikro, yaitu peroksisom dan glioksisom. Peroksisom terdapat pada sel hewan, fungi, dan daun tumbuhan tingkat tinggi. Perhatikan Gambar 10. untuk mengetahui letak peroksisom di dalam sel. Peroksisom berperan dalam oksidasi substrat menghasilkan H2O2 (bersifat racun bagi sel) yang selanjutnya dipecah menjadi H2O + O2Peroksisom penting dalam perembesan cahaya dan respirasi sehingga berafiliasi erat dengan kloroplas dan mitokondria. Peran lain peroksisom selain melindungi sel dari H2O2 juga berperan dalam perubahan lemak menjadi karbohidrat dan perubahan purin dalam sel. Glioksisom terdapat pada sel tanaman. Glioksisom berperan dalam metabolisme asam lemak dan tempat terjadinya siklus glioksilat.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 10. Struktur peroksisom.
3.1.7. Kloroplas

Kloroplas hanya terdapat pada sel tumbuhan dan Algae tertentu. Pada tumbuhan biasanya berbentuk cakram dengan diameter 5–8 μm dan tebal 2–4 μm. Kloroplas dibatasi membran ganda. Di dalam kloroplas terdapat klorofil (pigmen fotosintetik) dan pigmen lain yang terletak pada membran atau pada materi dasar di dalam kloroplas. Bahan dasar kloroplas berupa cairan disebut stroma. Perhatikan Gambar 11. berikut.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 11. Struktur kloroplas.
Kloroplas berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Peran pigmen untuk menangkap cahaya matahari yang akan diubah menjadi energi kimia.

3.1.8. Vakuola

3.2. Organela Sel Tak Bermembran

3.2.1. Sitoskeleton

Sitoskeleton atau rangka sel tersusun atas tiga jenis serabut yang berbeda yaitu, mikrofilamen, mikrotubulus, dan filamen intermediar.

a. Mikrofilamen

Mikrofilamen yakni rantai ganda protein yang bertaut dan tipis. Mikrofilamen tersusun atas dua macam protein, yaitu aktin dan miosin. Mikrofilamen banyak terdapat pada sel-sel otot. Mikrofilamen mempunyai diameter 7 nm sehingga pengamatannya harus menggunakan mikroskop elektron.

b. Mikrotubulus

Mikrotubulus yakni rantai-rantai protein yang membentuk spiral. Spiral ini membentuk tabung berlubang yang panjangnya mencapai 2,5 mm dengan diameter 25 nm. Mikrotubulus tersusun atas protein yang dikenal sebagai tubulin. Mikrotubulus merupakan penyusun sitoskeleton yang terbesar. Mikrotubulus terdapat pada gelendong sel, yaitu berupa benang-benang spindel yang menghubungkan dua kutub sel pada waktu sel membelah. Gerakan kromosom dari kawasan ekuator ke kutub masing-masing pada anafase dikendalikan oleh mikrotubulus. Dengan demikian, mikrotubulus mempunyai fungsi mengarahkan gerakan komponen-komponen sel, mempertahankan bentuk sel, serta membantu dalam pembelahan mitosis.

c. Filamen Intermediar

Filamen intermediar yakni rantai molekul protein yang membentuk untaian yang saling melilit. Filamen ini berdiameter 8 – 10 nm. Disebut serabut intermediar karena ukurannya di antara ukuran mikrofilamen dan mikrotubulus. Serabut ini tersusun atas protein yang disebut fimentin, tetapi tidak semua sel filamen intermediarnya tersusun atas fimentin. Misalnya sel kulit filamennya tersusun atas protein keratin. Perhatikan Gambar 12 untuk mengetahui susunan sitoskeleton.

Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 12. Bagian-bagian sitoskeleton
3.2.2. Ribosom

Ribosom merupakan struktur paling kecil yang tersuspensi dalam sitoplasma dan terdapat di sel eukariotik maupun prokariotik. Pada sel eukariotik, ribosom terdapat bebas dalam sitoplasma atau terikat RE. Ribosom tersusun atas protein dan RNA. Ribosom terdiri dari dua subunit, yaitu subunit kecil dan subunit besar. Perhatikan Gambar 13 untuk mengetahui struktur ribosom. Tiap-tiap subunit disintesis dalam nukleolus dan dikeluarkan melalui porus nukleus ke sitoplasma tempat kedua subunit bergabung. Ribosom berperan dalam sintesis protein.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 13. Struktur ribosom
3.2.3. Sentriol

Sel binatang dan beberapa mikroorganisme serta tumbuhan tingkat rendah mengandung dua sentriol dalam sitoplasma. Sentriol terletak di bersahabat permukaan luar nukleus. Setiap sentriol terdiri atas sebaris silinder sebanyak sembilan mikrotubul. Perhatikan Gambar 14 di samping. Sentriol berperan dalam proses pembelahan sel.
Semua sel eukariotik mempunyai membran inti Pintar Pelajaran Struktur Sel Eukariotik – Gambar Fungsi Organel
Gambar 14. Struktur sentriol
3.2.4. Dinding Sel


Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Friday, May 15, 2020

Pintar Pelajaran Macam Dan Jenis Jaringan Pada Tumbuhan

Macam-macam dan Jenis-jenis Jaringan pada Tumbuhan - Masing-masing bab tubuh tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang. Kemampuan ini ada alasannya yaitu tumbuhan mempunyai bab sel hidup yang membentuk jaringan. Tubuh tumbuhan tersusun atas aneka macam macam jaringan. Menurut kemampuan membelahnya, jaringan tumbuhan ada dua macam, yaitu jaringan meristem dan jaringan permanen. Baiklah, untuk mengetahuinya, mari kita pahami jenis jaringan pada uraian berikut.

1. Jaringan Meristem (Embrional)

Meristem merupakan istilah dari kata Yunani, meristes, yang berarti ”terbelah”. Jaringan meristem disebut juga jaringan muda karena terdiri dari sel-sel yang masih muda (embrional) dan belum mengalami diferensiasi atau spesialisasi. Jadi, jaringan meristem yaitu jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional, artinya sel-selnya senantiasa aktif membelah diri untuk menambah jumlah sel tubuh. Sel-sel jaringan meristem biasanya berdinding tipis, vakuola banyak dan ukurannya kecil, mengandung banyak protoplasma, plastida belum matang, dan inti besar. Bentuk sel penyusun jaringan meristem umumnya sama ke segala arah. Perhatikan Gambar 1 di bawah ini.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 1. Letak jaringan meristem
Berdasarkan letaknya pada batang, jaringan meristem dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.
  1. Meristem lateral (lateral meristem) atau meristem samping, terdapat di kambium dan kambium gabus (felogen).
  2. Meristem interkalar (intercalary meristem) atau meristem antara, terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya di pangkal ruas batang.
  3. Meristem apikal (apical meristem) atau meristem ujung, terdapat di ujung batang dan ujung akar.
Perhatikan Gambar 2. supaya Anda sanggup mengetahui struktur jaringan meristem yang terletak di ujung batang tumbuhan.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 2. Struktur jaringan meristem pada ujung batang tumbuhan

Sementara itu, jaringan meristem dibedakan menjadi meristem primer dan meristem sekunder menurut asal terbentuknya.

2. Jaringan Permanen / Dewasa

Berdasarkan kemampuan membelahnya, tumbuhan memiliki jaringan permanen. nama lain jaringan permanen yaitu jaringan dewasa. Sifat jaringan permanen yakni non meristematik. Artinya, sel jaringan permanen tidak bisa tumbuh dan berkembang lagi. Hanya membentuk struktur tubuh tumbuhan dengan fungsi tertentu saja. Menurut asalnya, jaringan permanen dihasilkan dari diferensiasi dan spesialisasi sel-sel pada jaringan meristem. Diferensiasi yaitu perubahan bentuk tubuh tumbuhan yang diadaptasi dengan fungsinya. Sementara, spesialisasi yaitu pengkhususan sel tumbuhan guna menyokong fungsi sel tertentu.

Seperti halnya jaringan meristem, jaringan permanen tersusun dari aneka macam jenis jaringan. Penyusun jaringan permanen meliputi jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan penyokong, jaringan pengangkut, dan jaringan gabus. Simak uraiannya sebagai berikut.


Asal kata “epidermis” yaitu epi artinya di atas dan derma artinya kulit yang berasal dari Yunani. Sesuai namanya, jaringan epidermis dalam badan tumbuhan berfungsi sebagai penutup dan pelindung jaringan lainnya, terutama pada jaringan muda yang masih memungkinkan mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Karena itu, jaringan epidermis terletak pada lapisan terluar akar, batang, dan daun. Ciri jaringan epidermis antara lain selnya hidup dan tersusun rapat, tidak mempunyai klorofil dan berbentuk balok. Amati Gambar 3.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 3. Struktur jaringan epidermis

Jaringan epidermis juga bisa melaksanakan diferensiasi epidermis. Karena itu, jaringan epidermis pada tumbuhan tertentu mempunyai stomata, sel kipas, sel gabus, sel kersik, trikomata, spina, dan velamen. Derivat-derivat ini sanggup ditemukan baik pada akar, batang, maupun daun. Stomata (tunggal disebut stoma) atau mulut daun merupakan pori kecil yang diapit oleh dua sel penjaga. Di dalam sel penjaga terdapat kloroplas.

Kloroplas merupakan bab epidermis yang berisi klorofil dengan tugas sebagai daerah terjadinya proses fotosintesis. Agar kalian mengetahui bentuk stomata dengan tepat, cermatilah Gambar 4. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 4. Stomata yang diapit sel penjaga pada lapisan epidermis
Fungsi stomata adalah sebagai daerah terjadinya respirasi (pertukaran gas) dan juga transpirasi (proses penguapan air). Salah satu bentuk diferensiasi epidermis yang lain adalah sel kipas. Sel kipas terdapat pada epidermis atas daun rumput-rumputan (Gramineae atau Cyperaceae). Sebagai contoh, sel kipas pada rumput teki dan daun bambu. Sel kipas bentuknya lebih besar dibanding sel epidermis, dinding sel tipis dan bisa mengempis. Daun rumput teki, bambu, dan sejenisnya sanggup menggulung untuk mengurangi penguapan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 5.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 5. a. Daun bambu b. Daun rumput teki
Sel epidermis daun atas juga mengalami diferensiasi. Lapisan kutikula (senyawa lemak), misalnya, merupakan zat kutin yang mengalami penebalan, Contohnya daun pohon nangka. Sementara lapisan lilin sanggup ditemukan pada epidermis bawah daun. Misalnya saja, lapisan lilin pada daun pisang. Bentuk diferensiasi epidermis lainnya yaitu trikoma (jamak disebut trikomata). Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa rambut-rambut. Trikoma biasanya terletak pada akar, daun, batang, bunga, buah, maupun biji. Pada sel epidermis, trikoma muncul dari epidermis atas. Jumlah selnya bisa tunggal atau banyak. Ada trikoma yang mempunyai kelenjar sekretori dan ada juga yang tidak. Adapun bentuk trikoma pada batang sanggup kalian cermati pada Gambar 6 berikut.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 6. Trikoma pada batang
Trikoma mempunyai bermacam-macam fungsi, antara lain mengurangi penguapan, mengurangi gangguan hewan, dan membantu penyerbukan bunga. Trikoma juga berfungsi menyerap air dan garam mineral dari tanah, misalnya trikoma pada akar. Selain itu, trikoma mampu meneruskan rangsang dari luar dan membantu penyebaran biji. Kemudian, bentuk diferensiasi epidermis yang lain yaitu duri pada batang atau cabang tumbuhan. Duri (spina) merupakan modifikasi sel epidermis yang terdapat pada tumbuhan tertentu. Duri tumbuhan terbagi dalam dua jenis, yakni duri orisinil dan duri palsu. Duri orisinil dibuat oleh jaringan di dalam stele batang. Misalnya, duri pada tumbuhan bunga kertas Bougainvillea). Sedangkan duri palsu dibuat oleh jaringan di bawah epidermis yaitu jaringan korteks batang. Contohnya, duri pada batang tumbuhan mawar. Perhatikan Gambar 7.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 7. Duri (spina) pada bunga mawar dan bunga kertas
Bila kalian melihat tumbuhan anggrek, maka kalian akan menemukan velamen. Velamen merupakan modifikasi sel epidermis yang terdapat pada akar udara tumbuhan anggrek. Epidermis dan akar anggrek disebut epidermis ganda atau multipel epidermis. Velamen berfungsi sebagai daerah menyimpan air. Velamen pada tanaman anggrek sanggup kalian cermati pada Gambar 8.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 8. Velamen tumbuhan anggrek.
Berikutnya yaitu sel kersik. Sel kersik merupakan hasil modifikasi sel epidermis pada batang Graminae. Sel kersik mengandung zat kersik atau silika (SiO2). Batang tebu yaitu tumbuhan yang banyak mengandung sel ini. Karenanya, permukaan batang tebu menjadi keras.


Jaringan parenkim merupakan bentuk lain dari jaringan dewasa. Jaringan parenkim menyusun badan tumbuhan sehabis jaringan epidermis. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar. Alasannya, jaringan dasar bisa ditemukan pada semua organ tumbuhan, mirip akar, batang, dan daun. Pada batang, jaringan dasar ditemukan pada korteks dan empulur batang. Sedangkan pada daun, jaringan dasar berdiferensiasi menjadi jaringan bunga karang. Kemudian juga pada selubung berkas pengangkut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 9.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 9. Jaringan parenkim
Adapun ciri-ciri jaringan parenkim antara lain ukuran sel besar dan hidup, dinding sel tipis, banyak terdapat vakuola, sel berbentuk segi enam, dan banyak mempunyai ruang antar sel. Selain itu, jaringan parenkim bisa membelah, baik secara embrional maupun meristematik.

Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim terbagi menjadi beberapa jaringan, yaitu parenkim air, parenkim pengangkut, parenkim penyimpan udara, parenkim asimilasi, parenkim penimbun, dan parenkim epilog luka.

Parenkim air yaitu parenkim yang berperan dalam penyimpan air. Sebagai contoh, parenkim air pada tumbuhan kaktus. Parenkim pengangkut merupakan salah satu jaringan yang menyusun xilem dan floem. Xilem berfungsi mengangkut air dan garam mineral, sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil asimilasi yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh.

Jenis parenkim lainnya yaitu parenkim penyimpan udara (aerenkim). Seperti namanya, fungsi parenkim ini sebagai penyimpan udara pada ruang antarsel. Contohnya, parenkim penyimpan udara pada tumbuhan air yang mempunyai ruang antarsel dengan jumlah banyak dan ukuran yang besar.

Jenis berikutnya yaitu parenkim asimilasi. Fungsi parenkim asimilasi yaitu daerah pembuatan zat masakan pada proses fotosintesis. Parenkim ini banyak terdapat pada bab tumbuhan yang berwarna hijau. Selain jenis parenkim tersebut, ada pula parenkim penimbun. Peran parenkim ini yaitu menyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan tersebut berada pada vakuola. Contohnya umbi, rimpang, dan biji. Sementara itu, jaringan parenkim epilog luka disebut kambium gabus (felogen). Jaringan ini bisa beregenerasi menjadi jaring embrional (meristematik) yaitu fungsinya.

c. Jaringan Penyokong / Penguat / Mekanik

Jaringan cukup umur juga mempunyai jaringan penyokong. Seperti halnya beton pada bangunan, jaringan penyokong berfungsi menunjang dan memperkokoh bentuk tumbuhan. Karena itu, jaringan ini disebut juga jaringan mekanik. Selain itu, jaringan ini juga berfungsi melindungi embrio, melindungi berkas pengangkut, dan memperkuat jaringan parenkim.

Jaringan penyokong mempunyai tebal dan kuat. Sel jaringan ini dapat pula mengalami spesialisasi. Oleh alasannya yaitu itu, jaringan ini dinamakan pula jaringan penguat. Jaringan penyokong ini terdapat pada daun, batang, dan biji.

Jaringan penyokong ini terbagi atas dua jenis jaringan, yakni jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. Jaringan kolenkim mempunyai sel hidup, dan tak berlignin. Selain itu, selnya mengalami penebalan. Perhatikan bentuk sel kolenkim pada Gambar 10. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 10. Jaringan kolenkim
Jaringan banyak terdapat pada organ tumbuhan yang sedang tumbuh. Bila berbaur dengan sel parenkim, sel jaringan penyokong tampak lebih tebal. Jaringan kolenkim berfungsi mengokohkan dan menjaga kelenturan badan tumbuhan. Sementara itu, jaringan sklerenkim hanya terdapat pada organ tumbuhan dewasa. Sel sklerenkim mati dan dindingnya tebal berlignin. Dibandingkan sel kolenkim, sel-sel sklerenkim ini jauh lebih kaku. Sel sklerenkim ada dua bentuk, yakni sel serat dan sklereid. Sel serat berbentuk panjang, ramping, tirus, dan bundel-bundel. Agar kalian mengetahui bentuk sel serat dan sklereid dengan tepat, perhatikan Gambar 11. Misalnya serat rami, dipakai untuk menciptakan tali dan serat rami halus untuk dipintal menjadi linen.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 11. (a) sel serat, (b) sklereid
Sedangkan sklereid (sel batu) mempunyai bentuk tidak beraturan. Ukuran sklereid lebih pendek daripada sel serat. Dengan adanya sklereid, kulit kacang dan lapisan biji menjadi keras. Sklereid dapat dijumpai pada daging buah jambu biji, buah pir, tempurung kelapa, kulit biji jarak, dan buah kenari.


Di samping ketiga jenis jaringan permanen di atas, jaringan pengangkut juga terdapat pada tumbuhan. Jaringan pengangkut disebut juga berkas vaskuler atau berkas pengangkutan (fasis). Jaringan ini berfungsi mengangkut air dan unsur hara hasil asimilasi dari satu bagian badan tumbuhan ke bab yang lain. Jaringan pengangkut terbagi menjadi dua macam. Yakni xilem dan floem. Xilem dinamakan pula pembuluh kayu. Fungsinya adalah mengangkut air dan garam mineral dari tanah ke dalam badan hingga daun.

Pada xilem terdapat dua jenis sel, yaitu trakeid dan unsur pembuluh. Sel trakeid berbentuk gelondong, panjang dan tipis dengan ujung runcing. Pada dinding selnya terdapat ceruk sebagai tempat jalan air dari sel ke sel lain. Perhatikan bentuk sel trakeid pada Gambar 12.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 12. (a) Trakeid, (b) Unsur pembuluh
Oleh alasannya yaitu dinding sekundernya terdapat lignin, maka trakeid berfungsi sebagai penyokong dan pengangkut air. Sementara itu, unsur pembuluh pada xilem berbentuk lebih lebar, ukuran lebih pendek, dinding sel tipis, dan ujung tidak terlalu runcing. Simaklah Gambar 12. Unsur pembuluh berbentuk pipa kecil panjang dari ujung ke ujung dinamakan pembuluh xilem. Pada dinding ujung unsur pembuluh ini terdapat perforasi (lubang) yang memungkinkan air mengalir bebas.

Jaringan pengangkut selanjutnya yaitu floem. Floem dinamakan pula pembuluh tapis. Agar kalian mengetahui bentuk pembuluh tapis, simaklah Gambar 13. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 13. Pembuluh tapis pada jaringan pengangkut.
Floem berfungsi menyalurkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bab tumbuhan. Jaringan ini tersusun atas anggota pembuluh tapis. Di antara anggota pembuluh tapis terdapat dinding berpori atau lempengan tapis. Dengan adanya dinding berpori, aliran zat yang berasal dari sel-sel pada pembuluh tapis bergerak dengan mudah. Di sepanjang sisi anggota pembuluh tapis terdapat sel pendamping yang memiliki nukleus. Pada daun, sel pendamping ini sanggup menciptakan gula yang selanjutnya disalurkan ke seluruh anggota pembuluh tapis.


Jaringan gabus merupakan jaringan yang tersusun oleh sel-sel parenkim gabus. Jaringan ini mempunyai sel gabus yang mati dan kosong. Bentuknya memanjang dan berdinding gabus. Untuk lebih jelasnya, cermati Gambar 14. 
tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 14. Jaringan gabus
Jaringan gabus mempunyai kegunaan melindungi jaringan-jaringan di bawahnya dari kehilangan air. Jaringan gabus pada tumbuhan dikotil dibuat oleh kambium gabus atau felogen yang ada di bawah epidermis. Jaringan gabus terbagi menjadi dua macam. Jaringan gabus yang dibuat kambium gabus ke arah luar dan sel-selnya mati disebut felem. Sedangkan jaringan gabus yang dibentuk kambium gabus ke arah dalam dan sel-sel yang hidup mirip parenkim disebut feloderm.

Anda kini sudah mengetahui Macam dan Jenis Jaringan Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Monday, February 24, 2020

Pintar Pelajaran Sel Binatang Dan Sel Tumbuhan - Gambar Dan Fungsi


Sel Hewan dan Sel Tumbuhan - Gambar dan Fungsi - Struktur Sel tumbuhan dan sel binatang mempunyai bagian-bagian tertentu yang berbeda. Perbedaan ini sanggup kita tentukan dari ragam organel penyusun sel kedua makhluk hidup tersebut. Terlebih dahulu, Bacalah materi mengenai Sel Eukariotik.

1. Sel Tumbuhan

Organel-organel sel tumbuhan yang tidak terdapat pada sel hewan dijelaskan sebagai berikut.
 Struktur Sel tumbuhan dan sel binatang mempunyai bab Pintar Pelajaran Sel Hewan dan Sel Tumbuhan - Gambar dan Fungsi
Gambar 1. Sel Tumbuhan
a. Dinding Sel

Dinding sel merupakan bab terluar sel tumbuhan. Dinding sel ini bersifat kaku dan tersusun atas polisakarida. Polisakarida ini terdiri atas selulosa, hemiselulosa, dan pektin. Dinding sel dibuat oleh diktiosom. Dinding sel bersama-sama dengan vakuola berperan dalam turgiditas sel atau kekakuan sel. Pada awal pembentukannya, dinding sel berupa selaput tipis tersusun atas selulosa (polisakarida kompleks). Di antara dua dinding sel yang berdekatan terdapat lamela tengah. Dua sel yang berdekatan dihubungkan oleh kanal yang di dalamnya terdapat benang-benang plasma yang disebut plasmodesmata.

Dinding sel sanggup dibedakan menjadi dinding sel primer dan dinding sel sekunder. Dinding sel primer dibuat pada waktu sel membelah, contohnya pada sel-sel muda yang sedang tumbuh. Dinding sel primer tersusun atas selulosa antara 9–25%, hemiselulosa, pektin, serta beberapa senyawa lainnya. Selulosa terdiri dari mikrofibril yaitu seratserat panjang yang mempunyai daya regang kuat. Sementara itu, dinding sel sekunder terbentuk karena penebalan. Dinding sel sekunder ini dimiliki oleh sel-sel dewasa yang terdapat di sebelah dalam dinding sel primer. Dinding sel sekunder mempunyai kandungan selulosa antara 41–45%, hemiselulosa, dan lignin.

Beberapa sel dindingnya mengalami penebalan oleh zat lignin yang disebut lignifikasi. Lignifikasi mengakibatkan xilem dan sklerenkim mengayu (keras dan kaku). Penebalan dinding sel sanggup terjadi secara penyisipan (aposisi ) pada penebalan-penebalan usang atau penambahan (intususepsi ) pada penebalan lama. Di antara dinding sel ada yang tidak mengalami penebalan disebut noktah.

b. Vakuola

Vakuola atau rongga sel ialah organel sitoplasmik yang berisi cairan dan dibatasi membran yang mungkin identik dengan membran sel. Sel tumbuhan muda mempunyai banyak vakuola kecil-kecil. Semakin remaja jumlah vakuola berkurang, tetapi ukuran membesar. Sel-sel tumbuhan yang memiliki vakuola besar biasanya yakni sel-sel parenkim dan kolenkim. Vakuola tersebut dibatasi oleh membran yang disebut tonoplas. Sel remaja hanya mempunyai satu vakuola tengah berukuran besar dikelilingi membran tonoplas yang bersifat diferensial permeabel. Vakuola tengah terbentuk sebagai akhir pertumbuhan dinding sel yang lebih cepat daripada pertumbuhan sitoplasma. Vakuola tengah ini berisi cairan (getah sel) yang berupa larutan pekat, kaya mineral, gula, O2, asam organik, CO3, pigmen, enzim, dan sisa-sisa metabolisme.

Vakuola mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut.
  1. Tempat penimbunan sisa metabolisme dan metabolit sekunder ibarat Ca-oksalat, tanin, getah karet, dan alkaloid.
  2. Tempat menyimpan zat masakan ibarat amilum dan gula.
  3. Memasukkan air melalui tonoplas untuk membangun turgiditas sel yang bekerja sama dengan dinding sel.
  4. Menyimpan pigmen, contohnya vakuola pada sel-sel mahkota bunga mengandung pigmen warna.
  5. Menyimpan minyak atsiri msialnya kayu putih, pepermin, dan aroma harum pada bunga.
c. Plastida

Plastida merupakan organel yang hanya terdapat pada sel tumbuhan. Plastida berasal dari perkembangan proplastida di kawasan meristematik.

Berdasarkan pigmen yang dikandungnya terdapat tiga jenis plastida sebagai berikut.

1) Kloroplas

Kloroplas yaitu plastida yang mengandung pigmen hijau disebut klorofil, karotenoid, dan pigmen fotosintetik lainnya. Kloroplas hanya dijumpai pada sel autotrof yang eukariotik. Kloroplas dimiliki oleh sel-sel yang berklorofil misalnya Algae, lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan bunga.

Kloroplas mempunyai bentuk beraneka ragam, tetapi pada umumnya berbentuk bundar atau lonjong (oval). Kloroplas pada sel tumbuhan tingkat tinggi mempunyai ukuran sekitar 4–6 µm. Setiap sel mengandung 20–40 kloroplas permilimeter persegi. Apabila jumlahnya masih kurang mencukupi, kloroplas sanggup membelah diri. Namun, kalau jumlahnya berlebihan maka sejumlah kloroplas akan rusak.

Kloroplas tersusun atas membran, yaitu membran luar dan dalam. Membran luar mempunyai permukaan rata yang berfungsi mengatur keluar masuknya zat. Membran dalam membungkus cairan kloroplas yang disebut stroma. Membran dalam kloroplas melipat ke arah dalam dan membentuk lembaran-lembaran yang disebut tilakoid. Pada tempat-tempat tertentu, tilakoid bertumpuk-tumpuk membentuk tubuh ibarat tumpukan uang logam yang disebut grana. Pada umumnya sebuah kloroplas mengandung 40–60 grana.

Di dalam tilakoid terdapat kumpulan partikel yang disebut kuantosom. Di kuantosom inilah terdapat klorofil yang berfungsi dalam proses fotosintesis.

Berdasarkan panjang gelombang (spektrum warna) yang diserap, jenis klorofil dibedakan sebagai berikut.

a) Klorofil a menyerap spektrum warna hijau-biru.
b) Klorofil b menyerap spektrum warna hijau-kuning.
c) Klorofil c menyerap spektrum warna hijau-cokelat.
d) Klorofil d menyerap spektrum warna hijau-merah.

Reaksi kimia proses fotosintesis sebagai berikut.


Cahaya

6 CO2 + 6 H2O
C6H12O6 + 6O2

Klorofil

                             
2) Leukoplas

Leukoplas yaitu plastida yang tidak berwarna, umumnya terdapat pada tempat yang tidak terkena sinar, misalnya organ penyimpan masakan cadangan seperti biji dan umbi. Berdasarkan fungsinya dibedakan tiga jenis leukoplas sebagai berikut.

a) Amiloplas untuk menyimpan amilum.
b) Elaioplas atau lipidoplas untuk membentuk dan menyimpan lemak.
c) Proteoplas untuk menyimpan protein.

3) Kromoplas

Kromoplas yaitu plastida yang mengandung pigmen nonfotosintetik (merah dan oranye atau kuning). Kromoplas banyak terdapat pada mahkota bunga. Pigmen yang terkandung dalam kromoplas sebagai berikut.

a) Karoten menjadikan warna kuning, misalnya pada wortel.
b) Xantofil menjadikan warna kuning kecokelatan, misalnya pada daun tua.
c) Fikosianin menjadikan warna biru, misalnya pada ganggang biru.

2. Sel Hewan

 Struktur Sel tumbuhan dan sel binatang mempunyai bab Pintar Pelajaran Sel Hewan dan Sel Tumbuhan - Gambar dan Fungsi
Gambar 2. Sel Hewan
Sel binatang tidak mempunyai dinding sel, tidak mempunyai plastida, dan bentuk tidak tetap ibarat sel tumbuhan. Vakuola pada sel hewan kecil atau tidak tampak. Hewan-hewan uniselular biasanya memiliki vakuola. Ada dua tipe vakuola sebagai berikut.

a. Vakuola kontraktil berperan dalam menjaga tekanan osmotik sitoplasma (disebut juga osmoregulator).
b. Vakuola nonkontraktil atau vakuola masakan berfungsi untuk mencerna makanan.

Sel tumbuhan tidak mempunyai sentrosom dan sentriol, kecuali tumbuhan tingkat rendah. Sel binatang mempunyai dua sentriol di dalam sentrosom. Saat pembelahan sel, tiap-tiap sentriol saling memisahkan diri menuju kutub yang berlawanan dan memancarkan benang-benang gelendong pembelahan yang akan menjerat kromosom. Ternyata antara sel binatang dan sel tumbuhan terdapat banyak perbedaan. Anda telah mengetahuinya dengan membaca uraian di depan.

(Baca juga : Perbedaan sel binatang dan sel tumbuhan.)

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Friday, November 29, 2019

Pintar Pelajaran Alga Dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-Ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil

Artikel dan Makalah ihwal Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil - Alga (jamak = algae) berperan penting sebagai produsen dalam rantai makanan, khususnya di ekosistem perairan. Makhluk hidup aquatik lain bergantung secara eksklusif pada alga sebagai produsen dan menyuplai ketersediaan oksigen. Water mold atau oomycetes ketika ini termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi (Barsanti and Gualtieri, 2006).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Alga merupakan organisme autotrof sederhana, yang sanggup melaksanakan fotosintesis mirip pada tumbuhan tingkat tinggi. Klasifikasi alga terus-menerus mengalami perubahan seiring berkembangnya filogenetik molekular. Saat ini, alga diklasifikasi ke dalam kingdom Protista dan domain Eukariot. (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Alga berperan penting sebagai produsen dalam rantai makanan, khususnya di ekosistem perairan. Makhluk hidup aquatik lain bergantung secara eksklusif pada alga sebagai produsen dan menyuplai ketersediaan oksigen. Alga juga banyak dimanfaatkan untuk banyak sekali kepentingan manusia, contohnya untuk pakan ternak, protein sel tunggal, produksi alginat, dan lain sebagainya (Anonim, 2011).

Water mold atau oomycetes ketika ini termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi. (Barsanti and Gualtieri, 2006). Akan tetapi, Oomisetes ketika ini diketahui berbeda dari kelompok fungi, Misalnya dinding sel oomisetes tersusun dari selulosa, tidak sama mirip fungi yang tersusun dari kitin, disamping itu, oomisetes atau water mold mempunyai alat gerak berupa flagel yang tidak ditunjukkan pada fungi. Dalam ekologi, oomisetes mempunyai habitat yang sama dengan fungi, dan sanggup tumbuh membentuk hifa mendekomposisi sisa-sisa tumbuhan maupun bangkai binatang di lingkungan perairan (Anonim, 2011).

Habitat Oomisetes tersebar secara luas di ekosistem air tawar, laut, dan tanah. Sebagian besar obligat aerob, meskipun beberapa toleran pada lingkungan anaerob serta satu spesies (Aqualinderella fermentans) bersifat obligat aerob dan tidak mempunyai mitokondria. Oomisetes bersifat sapotropik pada materi organik, atau bersifat obligat (biotropik) maupun fakultatif (nekrotropik) benalu pada tumbuhan dan binatang air (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Saat ini, dalam pemanfatan alga dan penanganan banyak sekali penyakit yang timbul akhir water mold, diharapkan adanya pemahaman mengenai struktur dan organisasi sel alga dan water mold.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan memahami bentuk, organisasi dan struktur sel alga dan water mold serta aplikasinya dalam bidang bioteknologi.

BAB II
PEMBAHASAN 

2.1. Struktur dan Organisasi Sel Alga

Secara anatomi sel, alga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: (1) Membran plasma, (2) Sitoplasma dan Organel Sel, serta (3) Inti Sel (Nukleus), mirip yang ditunjukkan pada gambar 1 (Anonim, 2011; Haas et al., 2009).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 1. Struktur sel alga.
2.1.1. Membran Plasma

Membran plasma terletak paling luar dan tersusun oleh lipoprotein (gabungan lipid dan protein). Membran plasma bersifat selektif permeabel, yang berarti hanya sanggup dilewati oleh molekul tertentu saja dan bertanggungjawab dalam transportasi zat dari dalam sel ke lingkungan (Barsanti and Gualtieri, 2006).

Sel alga mempunyai dinding sel di luar membran sel. Sebagian besar dinding sel alga tersusun atas selulosa, meskipun terkadang mengandung silika atau kalsium karbonat. Sebagian alga juga mempunyai dinding sel yang mengandung manan, xylan, asam alginat, agaros, dan lain sebagainya. Dinding sel sanggup berbentuk filamen, mirip pada fungi, atau tersusun atas plat-plat yang disekresikan oleh tubuh golgi. Terdapat kelompok tertentu yang tidak mempunyai dinding sel padat, tetapi selnya dilindungi oleh pelikel protein yang fleksibel di bawah membran plasma. Materi dinding sel diproduksi dan disekresi oleh tubuh golgi.

2.1.2. Sitoplasma dan organel sel

Bagian cair di dalam sel disebut dengan sitoplasma. Pada sitoplasma terdapat organela yang mempunyai fungsi tertentu (Graham and Wilcox, 2000). Organel sel tersebut antara lain :

a. Retikulum Endoplasma (RE)

Retikulum endoplasma merupakan jalinan saluran, dibatasi oleh membran yang kontinyu dengan selubung luar nukleus.  Fungsi RE yaitu sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri.

b. Ribosom (Ergastoplasma)

Ribosom terdiri dari subunit protein besar dan kecil. Sebagian ribosom menempel sepanjang RE, sebagian lain bebas di sitoplasma. Fungsi ribosom yaitu sebagai tempat sintesis protein.

c. Mitokondria (The Power House)

Mitokondria mempunyai dua lapis membran. Membran dalam yang berlekuk-lekuk dan disebut krista. Fungsi mitokondria merupakan pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi). Mitokondria pada alga mempunyai 2 tipe, mirip yang ditunjukkan pada gambar 2 : 1) Flat lamellar cristae (pada Rhodophyta, Crytophyta, Euglenophyta, dan Chlorophyta) dan 2) tubular cristae (pada Chrysophyta, Raphidophyta, Prymnesiophyta, Eustigmatophyta, dan Xanthophyta.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 2. Tipe mitokondria yang terdapat pada alga (a) flat lamelar cristae dan (b) tubular cristae (sumber: Chapman, 1941)
d. Lisosom

Lisosom yaitu penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler.

e. Vakuola Kontraktil

Sebagian besar alga berflagela mempunyai dua vakuola kontraktil pada kepingan anterior sel, yaitu diastole (saluran masuk) dan sistole (saluran pengeluaran), fungsinya untuk membuang sisa produk dari sel.

f. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)

Organel ini melaksanakan fungsi produksi dan sekresi polisakarida.

g. Sentrosom (Sentriol)

Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.

h. Plastida

Plastida merupakan tempat fotosintesis serta jalur biokimia asam amino aromatik, heme, isophrenoids, dan asam lemak.  Plastida utama pada alga yaitu kloroplas. Kloroplas mengandung sistem membran yang berjulukan tilakoid, yang sering membentuk tumpukan membran yang disebut grana. Enzim yang mengendalikan fotosintesis terdapat di membran tilakoid dan stroma. Plastida dibedakan menjadi tipe primer dan sekunder. Plastida tipe primer hanya diselubungi oleh dua lapis membran, sedangkan plastida sekunder dikelilingi empat atau tiga lapis membran. Plastida sekunder secara fisik tidak terletak di sitoplasma sebagaimana plastida primer, tetapi terletak di lumen sistem endomembran (Haas et al., 2009).

Selain klorofil, terdapat pigmen lain dalam plastida. Pigmen ini menyerap panjang gelombang yang berbeda dari klorofil. Hal ini mempunyai kegunaan pada alga yang hidup di perairan lebih dalam, yang tidak bisa ditembus oleh spektrum cahaya biru. Pigmen-pigmen tersebut adalah:

a. Fikosianin (pigmen warna biru)

b. Xantofil (pigmen warna kuning)

c. Karoten (pigmen warna keemasan)

d. Fikosantin (pigmen warna cokelat)

e. Fikoeritrin (pigmen warna merah).

i. Mikrotubulus

Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan. Selain itu, mikrotubulus mempunyai kegunaan dalam pembentakan sentriol, flagel dan silia.

j. Stigma atau bintik mata

Stigma merupakan area sitoplasma dengan konsentrasi pigmen tinggi (biasanya karoten). Stigma terdapat di bersahabat pangkal flagela. Stimulasi stigma oleh cahaya akan menstimulasi flagela pula, sehingga terjadi gerakan mendekati sumber cahaya.

2.1.3. Inti Sel (Nukleus)

Nukleus mengandung materi genetik sel dan dikelilingi oleh membran ganda. Nukleus terdiri dari selaput inti (karioteka), nukleolus, kromosom, dan materi pendukung atau karyolimph (Graham and Wilcox, 2000).

Alga uniseluler dan sel reproduksi alga multiseluler mempunyai flagela. Flagela terdapat di kepingan apikal, lateral, ataupun posterior sel. Flagela sanggup berupa satu berkas cambuk, ataupun mempunyai struktur ‘berambut’ atau ‘sisik’. Pergerakan sanggup ke samping atau spiral.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 3. Tipe flagela pada algae (a) fibrous solid hair, (b) tubular hair. (Chapman, 1941)
Terdapat dua tipe flagela, mirip yang ditunjukkan pada gambar 5, yaitu fibrous solid hair dan tubular hair. Fibrous solid hair mengelilingi flagela, meningkatkan luas permukaan, dan efisiensi dari tenaga penggerak. Tersusun atas glikoprotein dan terdapat pada Euglenophyta dan Dinoflagellata. Tubularhair tersusun atas protein dan glikoprotein, terdapat pada: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Chlorophyta (Chapman, 1941).

2.2. Klasifikasi Alga

Alga sanggup diklasifikasi menjadi beberapa kelompok. Berbagai karakteristik dipakai untuk mengklasifikasi alga, salah satunya yaitu keberadaan pigmen klorofil, cadangan karbon dan komponen dinding sel mirip yang ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi kelompok alga menurut pigmen fotosintesis, cadangan karbon dan komponen dinding sel (Madigan et al., 2003 dan Graham et al., 2000).

Kelompok Alga
Penamaan Umum
Morfologi
Pigmen Fotosintesis
Contoh
Cadangan Karbon
Dinding Sel
Habitat
Chlorophyta 
Alga Hijau
Uniseluler, berbentuk daun 
Klorofil a dan b, karotenoid, xantofil 
Chlamydomonas 
Pati (a-1,4 glukan),sukrosa 
Selulosa 
Air tawar, tanah, laut
Euglenophyta 
Euglenoid 
Uniseluler, berflagel 
Klorofil a dan b, karotenoid, xantofil 
Euglena 
Paramilon (b-1,2 glukan) 
Membran protein di bawah membran plasma 
Laut 
Dinoflagellata 
Dinoflagelata 
Uniseluler,
berflagel 
Klorofil a dan c, karotenoid, xantofil 
Gonyaulax, Pfiesteria 
Pati (a-1,4 glukan) 
Selulosa 
Air tawar, laut, tanah 
Chrysophyta 
Alga keemasan, diatom
Uniseluler 
Klorofil a dan c, karotenoid,  
Nitzschia 
Lemak 
Dua lapisan yang tersusun dari silika 
Laut 
Phaeophyta 
Alga coklat 
Filamen berbentuk daun, umumnya berukuran makro & seperti tanaman
Klorofil a dan c, karotenoid, xantofil 
Laminaria 
Lammarin (b-1,3 glukan), manitol 
Selulosa 
Laut 
Rhodophyta  
Alga merah
Uniseluler, filament berbentuk daun
Klorofil a dan d, karotenoid, xantofil, fikosianin, fikoritrin
Polysiphonia    
Floridean starch (a-1,4 dana-1,6 glukan)
Selulosa
Laut

2.2.1. Chlorophyta

Chlorophyta atau alga hijau merupakan kelompok yang besar dan berragam. Sebagian besar alga hijau mempunyai habitat di air tawar, meskipun beberapa kelompok alga yang lain ditemukan di tanah. Beberapa alga hidup sebagai simbion pada liken. Alga hijau mengandung klorofil a dan b yang memperlihatkan karakteristik berwarna hijau serta cadangan karbon berupa pati yang terdapat di dalam kloroplast. Chlorophyta mempunyai dua sub kelompok, yaitu chlorophyta (contoh : Volvox dan Dunaliella) dan charophyta (contoh : Chara sp.), kelompok alga yang mempunyai kemiripan dengan tanaman. Gambar 4 memperlihatkan rujukan chlorophyta dan charophyta (Graham and Wilcox, 2000).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 4. (a) Sel Dunaliella, uniseluler dan berflagel, serta (b) Caulerpa sp., multiseluler dan mempunyai kemiripan dengan tumbuhan (Graham et al., 2000)
Alga hijau mempunyai morfologi yang bervariasi, dari bentuk uniseluler hingga filamen, sel tunggal yang saling bergabung membentuk koloni sebagai agregat sel. Ostreococcus tauri, uniseluler fitoplankton laut, merupakan eukariot terkecil dari kelompok alga hijau. Sel O. tauri mempunyai diameter ± 1 μm dan mengandung genom eukariot fototropik terkecil sekitar 12,6 Mbp. Contoh alga hijau yang berbentuk koloni yaitu Volvox yang tersusun dari ratusan sel flagel, beberapa bersifat motil dan berperan dalam fortosintesis, sedangkan yang lain berperan dalam reproduksi. Sel dalam koloni Volvox dihubungkan oleh benang tipis sitoplasma sehingga koloni bergerak secara terkoordinasi. Gambar sel O. tauri dan Volvox sanggup dilihat pada gambar 5.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 5. Sel uniseluler Ostreococcus tauri (a) dan sel koloni Volvox (b) (Graham et al., 2000).
2.2.2. Euglenophyta

Euglenophyta meliputi sebagian besar uniseluler berflagel, dan beberapa spesies yang berkoloni. Euglenophyta terdistribusi secara luas di perairan air tawar dan laut, serta bersifat autotrof dengan mengandung klorofil a dan b. Euglena merupakan salah satu rujukan kelompok Euglenophyta yang mempunyai panjang sel ± 15 μm. Euglena mempunyai struktur yang disebut eyespot, tempat yang peka terhadap cahaya. Euglena sanggup merespon kondisi lingkungannya dengan bergerak ke arah cahaya untuk melaksanakan fotosintesis. Jika cahaya tidak tersedia untuk terjadinya fotosintesis, maka euglena akan menjadi kemoorganotrof dan memakai cadangan karbon yang tersedia dalam sitoplasma. Euglenoid menyimpan cadangan energi dalam bentuk paramylon, salah satu jenis polisakarida (Rogers, 2011).

Banyak Euglena yang juga memakan sel basil lain melalui fagositosis, yaitu sebuah proses pengambilan partikel dengan cara kepingan membran sitoplasma yang fleksibel akan  melingkupi partikel dan membawanya masuk ke dalam sel.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 6. Organela pada sel Euglena.
2.2.3. Dinoflagellata

Dinoflagellata merupakan organisme akuatik uniseluler dengan ukuran sel antara 5-2000 μm dan berflagel. Beberapa Dinoflagellata hidup bebas dan yang lain hidup bersimbiosis dengan binatang membentuk kerikil karang. Sebagian Dinnoflagellata bersifat autotrof, dengan kandungan klorofil a dan c, serta sebagian lain termasuk predator. Cadangan karbon berupa pati (a-1,4-glukan) dan terdapat pada sitoplasma. Dinoflagellata merupakan komponen penting dalam rantai kuliner di ekosistem perairan alasannya yaitu berperan sebagai produsen (fitoplankton) dan bisa menghasilkan lumminescence (Rogers, 2011).

Beberapa kelompok Dinoflagellata sanggup menghasilkan toksik yang sanggup membunuh ikan maupun patogen pada manusia. Pfiesteria, mirip yang terlihat pada gambar 9, merupakan salah satu rujukan Dinoflagellata yang sanggup menghasilkan toksik. Meskipun bisa melaksanakan fotosintesis, Pfiesteria lebih dikenal sebagai patogen pada ikan dan juga patogen pada manusia. Neurotoksin yang dihasilkan Pfiesteria akan menginfeksi bahkan membunuh ikan, dengan cara mempengaruhi sistem gerak dan merusak kulit.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 7. Pfiesteria, kelompok autotrof bersifat patogen pada ikan dan manusia. (Rogers, 2011)
2.2.4. Chrysophyta

Chrysophyta mempunyai habitat di bahari dan air tawar, serta sebagian besar berbentuk uniseluler. Beberapa spesies bersifat kemoorganotrof dan mensuplai nutrisi yang diharapkan dengan prosedur fagositosis atau transportasi senyawa organik melalui membran sitoplasma. Chrysophyta disebut juga dengan alga keemasan alasannya yaitu secara fisik berwarna keemasan. Hal ini dikarenakan alga keemasan mempunyai pigmen kloroplast yang didominasi dengan fukosantin. Selain itu, klorofil c lebih mendominasi daripada klorofil a, dan tidak mempunyai fikobiliprotein mirip yang terdapat pada alga merah (Rogers, 2011).

2.2.5. Phaeophyta

Phaeophyta atau alga coklat mempunyai habitat di bahari serta bervariasi dalam bentuk dan ukuran, dari filamen kecil hingga dengan ukuran besar yang mempunyai diameter 1-100 m (contoh : Laminaria dan Macrocystis). Alga coklat mempunyai banyak kegunaan. Salah satu kegunaannnya yaitu sebagai sumber algin yang dipakai sebagai stabiliser dalam industri roti dan es krim. Bahkan, spesies tertentu sanggup di konsumsi mirip sayuran, sebagai contohnya Laminaria mirip yang ditunjukkan pada gambar 8 (Rogers, 2011).
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 8. Alga coklat (a) Laminaria dan (b) Mycrocystic.
2.2.6. Rhodophyta

Rhodophyta atau alga merah mempunyai habitat di kawasan perairan, akan tetapi terdapat beberapa spesies yang ditemukan pada habitat air tawar dan terestrial. Alga merah merupakan organisme fototropik serta mengandung klorofil a dan b. Warna kemerahan pada alga merah dihasilkan oleh pigmen fikobilin (fikoritrin dan fikosianin), pigmen pelengkap yang menutup warna hijau dari klorofil. Pada tempat yang gelap dan tidak tertembus cahaya, sel akan memproduksi lebih banyak fikoritrin dan menghasilkan warna merah yang lebih gelap, sedangkan pada spesies permukaan akan mengandung sedikit fikoritrin, bahkan sanggup berwarna hijau. Cadangan karbon berupa floridean starch (a-1,4 dan a-1,6-glukan) yang terletak pada kepingan sitoplasma (Rogers, 2011)

Sebagian besar spesies alga merah merupakan multiseluler dan tidak mempunyai flagela. Beberapa spesies dianggap sebagai rumput bahari dan sumber agar, biro pemadat yang dipakai dalam media bakteriologi, mengentalkan dan biro penstabil yang dipakai pada industri makanan. Beberapa spesies berbentuk filamen, mirip daun, maupun menyimpan kalsium karbonat, coralline (menyerupai koral). Beberapa coralline berperan penting dalam perkembangan karang laut.

Contoh alga merah yaitu Corallina, berperan dalam pembentukan karang bahari gotong royong dengan binatang koral. Selain itu, spesies Galdieria yang tumbuh pada lingkungan dengan pH rendah dan suhu tinggi, mirip pada sumber air panas. Sel Galdieria berdiameter 25 μm dan berwarna hijau alasannya yaitu mengandung sedikit pigmen fikoritrin. Morfologi Corallina dan Galdieria sanggup dilihat pada gambar 9.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 9. Morfologi alga merah (a) Corallina dan (b) Galdieria.
2.3. Struktur dan Organisasi Sel Water mold (Oomycota)

Water mold atau oomisetes termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic (multinukleat), mirip karakteristik pada fungi. Akan tetapi, oomisetes ternyata berbeda dari kelompok fungi. Sebagai contoh, dinding sel oomisetes tersusun dari selulosa, tidak sama mirip fungi yang tersusun dari kitin. Selain itu oomisetes atau water mold mempunyai alat gerak berupa flagel yang tidak ditunjukkan pada fungi. Dalam hal ekologi, oomisetes mempunyai habitat yang sama dengan fungi, dan sanggup tumbuh membentuk hifa mendekomposisi sisa-sisa tumbuhan maupun bangkai binatang di lingkungan perairan (Wiley et al., 2009).

Habitat oomisetes tersebar secara luas di ekosistem air tawar, laut, dan tanah. Sebagian besar obligat aerob, meskipun beberapa toleran pada lingkungan anaerob serta satu spesies (Aqualinderella fermentans) bersifat obligat aerob dan tidak mempunyai mitokondria. Oomisetes bersifat sapotropik pada materi organik, atau bersifat obligat (biotropik) maupun fakultatif (nekrotropik) benalu pada tumbuhan (Wiley et al., 2009).

Secara keseluruhan, struktur sel water mold sama mirip struktur organisme eukariotik yang terdiri dari 3 kepingan yaitu dinding sel dan hifa, sitoplasma dan organela, serta nukleus (inti sel). Morfologi water mold atau oomisetes sanggup dilihat pada gambar 10.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 10. Morfologi sel water mold atau oomisetes, (a) Phytophtora kernovia, dan (b) Phytophtora capsici.
2.3.1. Dinding sel dan hifa

Struktur polimer dinding sel chromista yaitu selulosa. Meskipun beberapa spesies tumbuh dengan membentuk talus yang bercabang, sebagian besar oomisetes membentuk hifa (miselium). Oomisetes dikenal sebagai evolusi dari fungi Eumycota, yang mempunyai struktur hifa berbeda. Hifa pada oomisetes tumbuh secara apikal dan mensekresikan enzim, terdapat percabangan di sepanjang substratum dan membentuk miselium. Pada oomisetes, hifa bersifat coenocytic, yaitu miselium tidak membentuk septa kecuali pada kepingan yang renta atau struktur reproduksi.

2.3.2. Sitoplasma dan organela

Sitoplasma berbentuk granular agresif dan mengandung organela, antara lain vakuola, tubuh golgi, dan mitokondria.

a. Vakuola

Sistem vakuola oomisetes mempunyai vesikel yang berbentuk padat/tebal mengandung polimer b-1,3-glukan terfosforilasi, disebut dengan mikolaminarin. Mikolaminarin merupakan cadangan karbon, mirip cadangan fosfat dan polifosfat yang ditemukan pada vakuola fungi.

b. Badan golgi

Adanya tubuh golgi, mirip pada Protozoa. Sedangkan tubuh golgi pada Eumycota biasanya direduksi menjadi single cisternae.

c. Mitokondria

Mitokondria yang dimiliki oomisetes berbentuk krista tubular. Membran dalam mitokondria berupa lipatan tubular mirip yang dutemukan pada tanaman. Krista mitokrondria pada kingdom Eumycota dan Animalia umumnya berbentuk lamelar.
 berperan penting sebagai produsen dalam rantai kuliner Pintar Pelajaran Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil
Gambar 11. Ultrastruktur mitokondria diamati oleh mikroskop elektron. (a) Mitokondria Phytophthora erythroseptica (Oomycetes). Membran dalam mitokondria membentuk lipatan krista tubular. (b) Mitokondria Sordaria fimicola (Ascomycota) yang berbentuk lamelar.
2.3.3. Nukelus (inti sel)

Nukleus Oomycotina bersifat diploid.

2.4. Klasifikasi Water Mold

Genera oomycetes banyak kuat dalam kehidupan manusia. Kelompok oomisetes, Phytophthora infestans, diketahui menjadikan penyakit bercak daun “late blight” pada kentang. Spesies Saprolegnia spp. sanggup menjadikan nanah serius pada ikan, khususnya ikan salmon, meskipun ada spesies lain yang bermanfaat mirip Lagenidium giganteum yang benalu pada serangga dan dipakai sebagai biro pengendali hayati larva nyamuk. Berdasarkan talus dan cara reproduksinya, oomisetes sanggup dibagi menjadi 8 kelompok ordo mirip yang ditunjukkan pada tabel 2 (Webster dan Weber, 2007).

Tabel 2. Karakteristik Water Mold

Ordo
Talus dan reproduksi
Habitat
Myzocytiopsidales
Holokarpik, pada tahap selanjutnya berbentuk coralloid atau menjadi segmen. Zoospora, oospora
Parasit pada invertebrata dan alga
Olpidiopsidales
Holokarpik, bermetamorfosis sporangium. Zoospora, oospora
Parasit biotrofik pada Oomycota, Chytridiomycota dan algaSaprotrof air tawar, anaerobik
Rhipidiales
Eukarpik dengan rhizoid. Zoospora, oospora
Saprotrof air tawar dan benalu pada hewan
Leptomitales
Terdiri dari hifa yang memproduksi sporangia
Saprotrof atau nekrotrofik pada hewan, tumbuhan dan organism lainnya
Saprolegniales
Terdiri dari miselium yang tebal. Zoospora, oospora
Saprotof pathogen (cenderung bersifat nekrotrofik) pada tumbuhan, jamur dan hewan
Pythiales
Terdiri dari miselium yang tipis. Zoospora, oospora
Patogen biotrofik pada tumbuhan, penyebab downy mildews dan penyakit lainnya
Peronosporales
Miselium intraselular dengan haustoria. Sporangiofor yang terdiferensiasi. Zoospora atau “conidia”, oospora
Patogen biotrofik pada rumput, penyebab downy mildews
Sclerosporaceae
Miseliumnya terdiri dari hifa yang sangat tipis. Sporangiofor yang terdiferensiasi. Zoospora atau “conidia”, oospora

2.4.1. Saprolegniales

Ordo saprolegniales dibagi menjadi 2 famili yaitu Saprolegniaceae (contoh : Achyla, Saprolegnia, Brevilegnia) dan Leptolegniaceae (contoh : Plectospira, Leptolegnia). Saprolegniales dikenal sebagai kelompok jamur akuatik dan mempunyai habitat di tanah lembab, tepian danau, air tawar, dan bersifat saprofit pada sisa-sisa tumbuhan dan hewan. Kelompok saprolegniales mempunyai morfologi yang kasar, hifa keras dan bercabang menghasilkan tipe miselium tumbuh dengan cepat (fast-growing). Hifa saprolegniales bersifat coenocytic, adanya lapisan di sekitar sitoplasma mengelilingi vakuola sentral.

Spesies Saprolegnia dan Achyla benalu pada ikan dan telur ikan. Aphanomyce euteiches menjadikan penyakit bau akar pada kacang-kacangan dan beberapa tumbuhan lain (Webster and Weber, 2007).

2.4.2. Pythiales

Ordo pythiales dibagi menjadi dua famili, yaitu pythiaceae dan pythiogetonaceae. Pythiogetonaceae merupakan kelompok kecil dari saprofitik aquatik, mempunyai habitat di sedimen dasar air tawar maupun danau dengan ketiadaan oksigen, serta bersifat fakultatif anaerob. Contoh kelompok pythiogetonaceae yaitu Pythiogeton zeae yang sanggup menjadikan bau akar dan batang pada jagung. Kelompok besar dari pythiales yaitu famili pythiaceae, sebagai rujukan Pythium dan Phytophthora. Phytophthora merupakan kelompok patogenik pada tumbuhan sedangkan Pythium, kelompok saprofitik tanah yang sanggup bersifat patogen pada tumbuhan muda (contoh : Pythium spp.). Pythium mempunyai kemampuan benalu yang lebih luas daripada Phytophthora, meliputi benalu pada mamalia, jamur dan alga (Webster and Weber, 2007).

2.4.3. Peronosporales

Peronosporales merupakan water mold yang bersifat patogen biotrofik obligat dan tidak sanggup hidup terpisah tanpa inang, menginfeksi pada tumbuhan tingkat tinggi. Ordo Peronosporales sanggup dibagi menjadi dua famili yaitu Peronosporaceae (contoh : Peronospora, Plasmopara, Bremia) and Albuginaceae (contoh : Albugo) (Wiley et al., 2009).

BAB III
KESIMPULAN

Alga mempunyai keragaman struktur selulernya, terutama pada dinding sel, mitokondria, flagela, dan plastidanya. Karakteristik yang dipakai untuk mengelompokkan alga antara lain keberadaan pigmen klorofil, cadangan karbon dan komponen dinding sel.

Water mold atau oomisetes termasuk dalam kingdom chromista dan domain eukariot. Water mold sebelumnya dikelompokkan ke dalam kingdom fungi menurut persamaan pertumbuhan filamen dan keberadaan hifa coenocytic. Tetapi kini dibedakan dengan fungi alasannya yaitu water mold mempunyai struktur flagela yang tidak dimiliki fungi dan mempunyai komposisi dinding sel yang berbeda dengan fungi.

Karakteristik yang dipakai untuk mengelompokkan kelompok water mold antara lain thallus, habitat, prosedur reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Algae Information, Production, Methods, Products, and Terminology. <http://marketplayground.com/forum/showthread.php/808-Algae-Information-Production-Methods-and Terminology>. Diakses tanggal 8 Oktober 2011.

Barsanti, L and P. Gualtieri. 2006. Algae. Taylor & Francis Group. United State of America.

Chapman, V.J. 1941. Introduction to the Study of Algae. Cambridge University Press. New York.

Graham, L. E. and L. W. Wilcox. 2000. Algae. Prentice-Hall, Inc. United State of America.

Haas, BJ; Kamoun, S; Zody, MC; Jiang, RH; Handsaker, RE; Cano, LM; Grabherr, M; Kodira, CD et al. (2009). “Genome sequence and analysis of the Irish potato famine pathogen Phytophthora infestans.”. Nature.

Keeling, P.J.2004.Diversity and Evolutionary History of Plastids and Their Hosts.American Journal of Botany, Vol. 91, No. 10 (Oct., 2004).

Kortekamp, A. (2005). “Growth, occurrence and development of septa in Plasmopara viticola and other members of the Peronosporaceae using light- and epifluorescence-microscopy”. Mycological research.

Madigan, M. T., J. M. Martinko and J. Parker. 2003. Brock Biology of Microorganism. 10th (ed). Pearson Education, Inc. New Jersey.

Nicklin, J., K. Gramae-Cook, T. Paget & R. Killington.1999.Instant Notes in Microbiology.BIOS Scientific Limited, UK.

Rogers, Kara. 2011. Fungi, Algae and Protista 1st ed. Britannica Educational Publishing. New York.

Van der Auwera G, De Baere R, Van de Peer Y, De Rijk P, Van den Broeck I, De Wachter R. 1995. ”The phylogeny of the Hyphochytriomycota as deduced from ribosomal RNA sequences of Hyphochytrium catenoides”. Mol. Biol. Evol.

Webster, J. and Weber R. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University Press. New York.

Willey, J.M., L.M. Sherwood & C.J. Woolferton. 2009. Prescott’s Principles of Microbiology.McGraw-Hill, New York.

Anda kini sudah mengetahui Alga dan Water Mold : Struktur, Sel, Contoh, Ciri-ciri, Gambar, Organel, Pigmen, Fotosintesis, Klorofil. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.