Showing posts sorted by relevance for query sumber-energi-baru-energi-listrik-dari-air-limbah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sumber-energi-baru-energi-listrik-dari-air-limbah. Sort by date Show all posts

Wednesday, July 31, 2019

Pintar Pelajaran Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah

Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah - Para insinyur dari Oregon State University telah membuat terobosan gres untuk meningkatkan kinerja sel materi bakar mikrobia. Sel materi bakar ini sanggup menghasilkan energi listrik dari air limbah secara langsung. Dengan adanya temuan ini, maka kawasan pengolahan air limbah tidak hanya sanggup menghasilkan energi untuk mensuplai kebutuhannya sendiri, namun juga sanggup menjual kelebihan energi tersebut kepada industri lainnya.

Teknologi gres yang dikembangkan di OSU ini sanggup menghasilkan energi listrik sebanyak 10 hingga 100 kali per volume air limbah dibandingkan teknologi lainnya yang juga memakai sel materi bakar mikrobia.

Para peneliti menyampaikan bahwa teknologi ini akan mengubah cara pengolahan air limbah di seluruh dunia yang sebelumnya memakai metode sistem lumpur aktif (activated sludge). Sistem lumpur aktif merupakan sistem pengolahan limbah yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengkonsumsi komponen-komponen limbah sebagai sumber masakan atau energi. Sistem ini telah dipakai selama hampir 1 abad.
 Para insinyur dari Oregon State University telah membuat terobosan gres untuk meningkatka Pintar Pelajaran Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah
Hong Liu, seorang insinyur di Oregon State University, telah membuatkan metode gres untuk menghasilkan listrik dari pengolahan air limbah. (Credit: Photo courtesy of Oregon State University)
Kelebihan teknologi gres ini yaitu sanggup menghasilkan sejumlah besar energi listrik sementara proses pencucian air limbah juga berjalan secara efektif.

Temuan ini gres saja diterbitkan di jurnal Energy and Environmental Science, yaitu jurnal terkemuka yang didirikan oleh National Science Foundation.

“Jika teknologi ini diaplikasikan pada skala komersial, maka kami percaya bahwa hasil penelitian ini akan terbukti. Nantinya, pengolahan air limbah tidak akan membutuhkan biaya besar, namun justru akan menghasilkan sejumlah besar energi. Dampak secara global dari aplikasi teknologi gres ini yaitu menghemat biaya pengolahan air limbah, menawarkan cara pengolahan air limbah yang lebih baik dan mendorong keberlanjutan energi.” Kata Liu Hong, Profesor di OSU Department of Biological and Ecological Engineering.

Para jago memperkirakan bahwa sekitar 3 % energi listrik di Amerika Serikat dan Negara maju lainnya telah dipakai untuk mengolah air air limbah. Padahal dominan sumber energi listrik tersebut berasal dari materi bakar fosil yang secara konkret telah menawarkan donasi terhadap pemanasan global.

Berdasarkan penelitian ini maka sanggup diketahui bahwa jikalau air limbah biodegradable tersebut dimanfaatan secara maksimal, maka secara teoritis sanggup menghasilkan lebih banyak energi untuk mensuplai kebutuhan kawasan pengolahan air limbah. Kabar baiknya yaitu energi tersebut tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Para peneliti OSU telah melaporkan potensi teknologi gres ini di beberapa tahun sebelumnya. Namun, dikala itu, sistem yang dipakai hanya menghasilkan daya listrik dalam jumlah yang sedikit. Akhirnya, pada dikala ini mereka berhasil menyempurnakan teknologi tersebut, dengan cara mengurangi jarak antara katoda dan anoda, memakai  material pemisah baru, dan menambahkan mikrobia. Teknologi ini sanggup menghasilkan daya listrik lebih  dari 2 kilowatt per meter kubik volume reaktor cair.Dengan demikian, jumlah densitas daya yang dihasilkan jauh melebihi daya dari sel materi bakar mirobia lainnya.

Sistem ini juga mempunyai kelebihan dibandingkan pendekatan alternatif lainnya untuk membuat energi listrik dari air limbah yang memakai proses digesti anaerobik untuk menghasilkan gas metana. Kelebihannya yaitu pengolahan air limbah lebih efektif dan tidak menjadikan imbas jelek terhadap lingkungan, ibarat produksi gas yang tidak diinginkan yaitu hidrogen sulfida atau lepasnya gas metana ke atmosfer yang berpotensi menjadi gas rumah kaca.

“Berdasarkan uji di laboratorium, sistem yang dikembangkan OSU ini telah terbukti sanggup diaplikasikan di skala besar. Langkah berikutnya penelitian ini yaitu mengaplikasikannya di skala pilot (percontohan). Namun, dana untuk proses selanjunya sedang diupayakan. Pada tahap awal, kawasan yang menjadi kandidat untuk studi percontohan kemungkinan yaitu pabrik pengolahan makanan. Pabrik ini mempunyai sistem yang menghasilkan pasokan beberapa jenis air limbah yang sanggup menghasilkan sejumlah besar energi listrik.” Kata Liu.

Para ilmuwan di OSU menyampaikan bahwa penelitian lanjutan juga harus sanggup menemukan mikrobia yang mempunyai kemampuan lebih baik, mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan, dan memperbaiki fungsi teknologi pada skala komersial.

Setelah para peneliti berhasil mengurangi biaya awal yang tinggi, mereka memperkirakan bahwa biaya untuk modal konstruksi teknologi gres tersebut harus sebanding dengan biaya yang dikeluarkan pada sistem lumpur aktif yang dikala ini telah dipakai secara luas. Bahkan biayanya seharusnya menjadi lebih rendah jikalau kelebihan energi listrik yang dijual, sanggup menjadi income (pemasukan).

Teknologi gres ini sanggup membersihkan limbah (kotoran) dengan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan sistem yang memakai kuman anarobik di masa lalu. Pendekatan yang dimaksud contohnya kuman bisa mengoksidasi materi organik kemudian dihasilkan elektron yang mengalir dari anoda ke katoda pada sel materi bakar, dan kesudahannya proses ini bisa menghasilkan arus listrik.

Melalui teknologi gres ini, hampir semua jenis materi sampah organik sanggup dipakai untuk menghasilkan energi listrik, bukan hanya air limbah. Misalnya rumput kering, kotoran binatang dan produk samping dari proses produksi di industry anggur, bir, atau susu.

Aplikasi teknologi gres ini di Negara berkembang kemungkinan juga mempunyai nilai lebih. Negara berkembang biasanya mempunyai kanal listrik terbatas dan pengolahan limbah sangat sulit atau mustahil dilakukan di lokasi terpencil.

Kemampuan mikrobia untuk menghasilkan listrik telah dikenal selama puluhan tahun, namun produksi listrik dengan daya yang besar untuk penggunaan komersial, gres sanggup dilakukan baru-baru ini dengan adanya kemajuan teknologi.

Referensi Jurnal :

Yanzhen Fan, Sun-Kee Han, Hong Liu. Improved performance of CEA microbial fuel cells with increased reactor size. Energy & Environmental Science, 2012; 5 (8): 8273 DOI: 10.1039/C2EE21964F

Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Oregon State University via Science Daily (13 Agustus 2012).

Friday, November 8, 2019

Pintar Pelajaran Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah

Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah - Para insinyur dari Oregon State University telah membuat terobosan gres untuk meningkatkan kinerja sel materi bakar mikrobia. Sel materi bakar ini sanggup menghasilkan energi listrik dari air limbah secara langsung. Dengan adanya temuan ini, maka kawasan pengolahan air limbah tidak hanya sanggup menghasilkan energi untuk mensuplai kebutuhannya sendiri, namun juga sanggup menjual kelebihan energi tersebut kepada industri lainnya.

Teknologi gres yang dikembangkan di OSU ini sanggup menghasilkan energi listrik sebanyak 10 hingga 100 kali per volume air limbah dibandingkan teknologi lainnya yang juga memakai sel materi bakar mikrobia.

Para peneliti menyampaikan bahwa teknologi ini akan mengubah cara pengolahan air limbah di seluruh dunia yang sebelumnya memakai metode sistem lumpur aktif (activated sludge). Sistem lumpur aktif merupakan sistem pengolahan limbah yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengkonsumsi komponen-komponen limbah sebagai sumber masakan atau energi. Sistem ini telah dipakai selama hampir 1 abad.
 Para insinyur dari Oregon State University telah membuat terobosan gres untuk meningkatka Pintar Pelajaran Sumber Energi Baru, Energi Listrik Dari Air Limbah
Hong Liu, seorang insinyur di Oregon State University, telah membuatkan metode gres untuk menghasilkan listrik dari pengolahan air limbah. (Credit: Photo courtesy of Oregon State University)
Kelebihan teknologi gres ini yaitu sanggup menghasilkan sejumlah besar energi listrik sementara proses pencucian air limbah juga berjalan secara efektif.

Temuan ini gres saja diterbitkan di jurnal Energy and Environmental Science, yaitu jurnal terkemuka yang didirikan oleh National Science Foundation.

“Jika teknologi ini diaplikasikan pada skala komersial, maka kami percaya bahwa hasil penelitian ini akan terbukti. Nantinya, pengolahan air limbah tidak akan membutuhkan biaya besar, namun justru akan menghasilkan sejumlah besar energi. Dampak secara global dari aplikasi teknologi gres ini yaitu menghemat biaya pengolahan air limbah, menawarkan cara pengolahan air limbah yang lebih baik dan mendorong keberlanjutan energi.” Kata Liu Hong, Profesor di OSU Department of Biological and Ecological Engineering.

Para jago memperkirakan bahwa sekitar 3 % energi listrik di Amerika Serikat dan Negara maju lainnya telah dipakai untuk mengolah air air limbah. Padahal dominan sumber energi listrik tersebut berasal dari materi bakar fosil yang secara konkret telah menawarkan donasi terhadap pemanasan global.

Berdasarkan penelitian ini maka sanggup diketahui bahwa jikalau air limbah biodegradable tersebut dimanfaatan secara maksimal, maka secara teoritis sanggup menghasilkan lebih banyak energi untuk mensuplai kebutuhan kawasan pengolahan air limbah. Kabar baiknya yaitu energi tersebut tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Para peneliti OSU telah melaporkan potensi teknologi gres ini di beberapa tahun sebelumnya. Namun, dikala itu, sistem yang dipakai hanya menghasilkan daya listrik dalam jumlah yang sedikit. Akhirnya, pada dikala ini mereka berhasil menyempurnakan teknologi tersebut, dengan cara mengurangi jarak antara katoda dan anoda, memakai  material pemisah baru, dan menambahkan mikrobia. Teknologi ini sanggup menghasilkan daya listrik lebih  dari 2 kilowatt per meter kubik volume reaktor cair.Dengan demikian, jumlah densitas daya yang dihasilkan jauh melebihi daya dari sel materi bakar mirobia lainnya.

Sistem ini juga mempunyai kelebihan dibandingkan pendekatan alternatif lainnya untuk membuat energi listrik dari air limbah yang memakai proses digesti anaerobik untuk menghasilkan gas metana. Kelebihannya yaitu pengolahan air limbah lebih efektif dan tidak menjadikan imbas jelek terhadap lingkungan, ibarat produksi gas yang tidak diinginkan yaitu hidrogen sulfida atau lepasnya gas metana ke atmosfer yang berpotensi menjadi gas rumah kaca.

“Berdasarkan uji di laboratorium, sistem yang dikembangkan OSU ini telah terbukti sanggup diaplikasikan di skala besar. Langkah berikutnya penelitian ini yaitu mengaplikasikannya di skala pilot (percontohan). Namun, dana untuk proses selanjunya sedang diupayakan. Pada tahap awal, kawasan yang menjadi kandidat untuk studi percontohan kemungkinan yaitu pabrik pengolahan makanan. Pabrik ini mempunyai sistem yang menghasilkan pasokan beberapa jenis air limbah yang sanggup menghasilkan sejumlah besar energi listrik.” Kata Liu.

Para ilmuwan di OSU menyampaikan bahwa penelitian lanjutan juga harus sanggup menemukan mikrobia yang mempunyai kemampuan lebih baik, mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan, dan memperbaiki fungsi teknologi pada skala komersial.

Setelah para peneliti berhasil mengurangi biaya awal yang tinggi, mereka memperkirakan bahwa biaya untuk modal konstruksi teknologi gres tersebut harus sebanding dengan biaya yang dikeluarkan pada sistem lumpur aktif yang dikala ini telah dipakai secara luas. Bahkan biayanya seharusnya menjadi lebih rendah jikalau kelebihan energi listrik yang dijual, sanggup menjadi income (pemasukan).

Teknologi gres ini sanggup membersihkan limbah (kotoran) dengan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan sistem yang memakai kuman anarobik di masa lalu. Pendekatan yang dimaksud contohnya kuman bisa mengoksidasi materi organik kemudian dihasilkan elektron yang mengalir dari anoda ke katoda pada sel materi bakar, dan kesudahannya proses ini bisa menghasilkan arus listrik.

Melalui teknologi gres ini, hampir semua jenis materi sampah organik sanggup dipakai untuk menghasilkan energi listrik, bukan hanya air limbah. Misalnya rumput kering, kotoran binatang dan produk samping dari proses produksi di industry anggur, bir, atau susu.

Aplikasi teknologi gres ini di Negara berkembang kemungkinan juga mempunyai nilai lebih. Negara berkembang biasanya mempunyai kanal listrik terbatas dan pengolahan limbah sangat sulit atau mustahil dilakukan di lokasi terpencil.

Kemampuan mikrobia untuk menghasilkan listrik telah dikenal selama puluhan tahun, namun produksi listrik dengan daya yang besar untuk penggunaan komersial, gres sanggup dilakukan baru-baru ini dengan adanya kemajuan teknologi.

Referensi Jurnal :

Yanzhen Fan, Sun-Kee Han, Hong Liu. Improved performance of CEA microbial fuel cells with increased reactor size. Energy & Environmental Science, 2012; 5 (8): 8273 DOI: 10.1039/C2EE21964F

Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Oregon State University via Science Daily (13 Agustus 2012).

Wednesday, September 4, 2019

Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Materi Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif Di Ghana

Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sosial telah meningkatkan minat Negara-negara di dunia untuk mencari sumber energi alternatif global yang higienis dan ramah lingkungan. Salah satu Negara tersebut ialah Ghana. Ghana merupakan Negara berkembang yang sangat tergantung pada woodfuel (kayu yang dijadikan sebagai materi bakar atau kayu bakar) sebagai sumber materi bakarnya. Penggunaan woodfuel mencapai 72 % dari pasokan energi primernya. Sumber energi lainnya berupa minyak mentah dan energi dari air (hidro). Biogas merupakan produk samping dari proses digesti (pencernaan) anaerobik memakai materi baku limbah organik. Setelah ada bukti bahwa biogas sanggup menjadi teknologi yang mudah dan menjanjikan, maka penerapan teknologi ini dipastikan akan berhasil jikalau diikuti dengan manajemen jadwal yang baik. Ghana mempunyai sumber daya biomassa, termasuk limbah organik, yang melimpah dan tersebar luas. Sumber daya ini mempunyai potensi untuk dipakai sebagai materi baku produksi biogas. Tujuannya ialah untuk mengurangi ketergantungan terhadap materi bakar dari woodfuel dan fosil; dan membantu mengurangi emisi gas rumah beling yang sanggup berdampak negatif pada perubahan iklim.

Ghana mempunyai potensi untuk membangun sekitar 278.000 reaktor biogas. Namun, sejauh ini hanya sekitar 100 reaktor biogas yang sudah selesai dibangun. Makalah ini akan memperlihatkan klarifikasi mengenai situasi dari teknologi dan pemanfaatan biogas di Ghana. Selain itu juga akan dijelaskan mengenai potensi keuntungan, prospek dan tantangan yang dihadapi oleh teknologi biogas.

Daftar isi

1. Pendahuluan
1.1. Demografi dan Geografi
1.2. Ekonomi
2. Teknologi Biogas di Ghana
2.1. Sejarah dan Pemanfaatan Biogas di Ghana
2.2. Desain / Rancangan Digester Biogas
2.3. Sumber Energi Biogas
3. Potensi Keuntungan dari Aplikasi Teknologi Biogas
3.1. Sektor Pertanian
3.2. Sektor Kesehatan
3.3. Penciptaan Lapangan Kerja
3.4. Sektor Lingkungan
3.5. Pemberdayaan Perempuan dan Pengurangan Beban Kerja
4. Prospek dan Tantangan Teknologi Biogas
5. Kesimpulan

1. Pendahuluan

“Biogas” dihasilkan dari material organik pada kondisi anaerobik. Bahan baku untuk produksi biogas terdiri dari kotoran sapi, kotoran unggas, kotoran babi, kotoran ayam, kotoran yang masih mengandung rumput, dan algae. Negara yang pertaniannya menjadi sektor penting bagi pertumbuhan ekonominya, mempunyai potensi untuk mengembangkan teknologi biogas. Aplikasi teknologi ini akan sanggup menggantikan sumber materi bakar dari woodfuel menjadi kotoran atau limbah untuk memasak dan memanaskan masakan atau minuman. Pemerintah Ghana harus mempertimbangkan energi alternatif lainnya, menyerupai biogas, lantaran beberapa alasan, yaitu, harga minyak yang terus naik, ketersediaan materi bakar fosil dan woodfuel semakin berkurang, resiko kesehatan yang tinggi jawaban gas buang (emisi) dari materi bakar fosil atau woodfuel, dan dampak buruknya terhadap lingkungan. Teknologi biogas menjadi salah satu alternatif lantaran materi bakunya tersedia dan sanggup diperbarui.

Sebenarnya, teknologi biogas telah tersebar secara luas. Namun, bagi beberapa Negara, teknologi ini merupakan hal baru. Aplikasi teknologi ini sanggup menjadi langkah yang tepat untuk mengatasi informasi Indoor Air Pollution (IAP) atau polusi udara di ruangan, kerusakan hutan jawaban penebangan pohon, dan perubahan iklim. Biogas merupakan energi yang higienis lantaran pembakarannya tidak menghasilkan jelaga (asap hitam)  dan partikulat (partikel halus atau kecil) lain  serta mempunyai rantai karbon yang lebih pendek. Emisi karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfer selama pembakaran hanya sedikit. Beberapa Negara telah mendapat manfaat dari aplikasi teknologi biogas, diantaranya menambah devisa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menghemat anggaran untuk pembelian atau subsidi materi bakar. Makalah ini menjelaskan kondisi konsumsi energi di Ghana khususnya mengenai ketergantungan rumah tangga di Negara tersebut untuk memakai woodfuel sebagai materi bakar. Secara khusus, makalah ini akan berusaha untuk menggambarkan potensi masa depan dan tantangan dalam mengaplikasikan teknologi biogas.

1.1. Demografi dan Geografi

Ghana ialah negara kecil di Afrika Barat dengan perekonomian yang berorientasi pada pertanian. Pertanian telah memperlihatkan bantuan sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (GDP), dan perdagangan domestik skala kecil. Hari ini, Ghana telah mengembangkan pertambangan emas dan industri kayu. Ghana merupakan bekas koloni Inggris sehingga bahasa Inggris menjadi bahasa perdagangan dan pemerintah. Negara ini berbatasan dengan dengan Republik Togo di timur, Burkina Faso di utara, Pantai Gading di sebelah barat dan Samudra Atlantik di selatan. Berdasarkan Sensus Penduduk dan Perumahan tahun 2000, penduduk Ghana mencapai 18,9 juta jiwa. Jumlah penduduk ini meningkat 53,8% dibandingkan tahun 1984 yang hanya berjumlah 12,3 juta jiwa. Dengan demikian, tingkat pertumbuhan penduduk setiap sensus dilakukan mencapai 2,7 %. Jumlah rumah tangga diperkirakan mencapai 3,7 juta dengan rata-rata 8,7 orang per rumah tangga [1].
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Gambar 1. Persentase kontrbusi pasokan energi primer di Ghana pada tahun 2008 [7]
Pada tahun 2007, populasi Ghana diperkirakan mencapai 22,4 juta jiwa dengan rasio penduduk perempuan dan laki-laki sekitar 1,02. Total area pertanahan di Ghana ialah 238.533 km2 sehingga proyeksi kepadatan penduduknya ialah 94 orang/km2 pada tahun 2007. Negara ini dibagi menjadi enam zona agro-ekologi menurut iklimnya. Zona tersebut tercermin dari vegetasi alami dan kondisi tanah. Zona agro-ekologi dari utara ke selatan adalah: Zona Savana Sudan, Zona Savana Guinea, Zona Transisi, zona Hutan Semi-daun, Zona Hutan Hujan dan Zona Savana [2].

1.2 Ekonomi

Sektor pertanian merupakan penggagas ekonomi Ghana dan melibatkan hampir 86% kepala rumah tangga serta membukukan sekitar 35% dari pendapatan ekspor semenjak tahun 2000 [2]. Sementara, Sensus Penduduk dan Perumahan tahun 2000 (PHC) memperlihatkan bahwa secara ekonomi, sekitar 80% dari penduduknya bekerja di sektor informal. Hal ini memperlihatkan tugas penting perjuangan rumah tangga di bidang ekonomi [3]. Total pengeluaran pemerintah meningkat dari GH¢5624.53 juta (40,0% dari PDB) pada tahun 2007 menjadi GH¢8009.82 juta (46,5% dari PDB) pada tahun 2008. Pengeluaran ini didominasi oleh pengeluaran yang berafiliasi dengan biaya energi, perkembangan infrastruktur dan santunan sosial [23].

Menurut Laporan Pembangunan Manusia pada tahun 2009 dari United Nations Development Programme (UNDP),  Nilai indeks Pembangunan Manusia Ghana (HDI) tahun 2007 sebesar 0,526, dimana Ghana menempati peringkat 152 dari seluruh Negara di dunia [30]. Sekitar 3,4 juta rumah tangga di Ghana mempunyai atau mengoperasikan sebuah peternakan atau bekerja menjaga ternak. Selain itu, lebih dari setengah rumah tangga (1,8 juta jiwa), yang mempunyai perjuangan pertanian telah  mempekerjakan tenaga kerja untuk menjalankan perjuangan tersebut. Jagung dan kakao merupakan komoditas perdagangan utama sehingga dibudidayakan dalam jumlah yang banyak [30].

1.3 Konsumsi Energi

Total energi yang dihasilkan di Ghana pada tahun 2000 mencapai 6,2 juta ton minyak atau sekitar sebelas setengah tahun lebih banyak dari energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air [1] Akosombo dan Kpong. Jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik ini mengalami kenaikan pada tahun 2004 [4]. Jumlah energinya setara dengan 6,8 juta ton minyak [4].  Sebagian besar pasokan energi di Ghana berasal dari woodfuel, yakni kayu bakar dan arang. Penggunaan woodfuel sekitar 71 ± 1% dari pasokan total energi primer dan sekitar 60% dari undangan energi final [5]. Pada tahun 2008 woodfuel memperlihatkan bantuan sekitar 72% dari pasokan energi primer ke negara itu, sisanya berasal dari minyak mentah dan hidro menyerupai dijelaskan pada Gambar 1. Pada keadaan normal, sektor ekonomi perumahan atau rumah tangga mengkonsumsi hampir 50 % dari total konsumsi energi Ghana. Tingginya konsumsi energi di sektor perumahan ini disebabkan oleh tingginya penggunaan woodfuel yang utamanya terdiri dari kayu bakar (hampir 76 %) dan arang [6].
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Gambar 2. Total konsumsi energi dari aneka macam jenis energi di Ghana dari tahun 2003 hingga 2008  [7]
Strategi Pengentasan Kemiskinan di Ghana (GPRS) menargetkan untuk membawa negara ini menjadi negara berpenghasilan menengah yaitu sebesar US $ 1000 per kapita pada tahun 2015. Permasalahannya ialah undangan woodfuel akan meningkat dari sekitar 14 juta ton pada tahun 2000 menjadi 38-46 juta ton pada 2012, dan 54-66 juta ton pada tahun 2020 [4]. Peningkatan undangan woodfuel akan memperlihatkan dampak negatif terhadap hutan Negara, dimana hutan akan berkurang jawaban tekanan berlebihan sehingga terjadi deforestasi yang parah. Jika tidak ada tindakan pencegahan yang tepat, maka kondisi tersebut selanjutnya sanggup berdampak serius pada perubahan iklim, pertanian dan sumber daya air. Selama beberapa tahun terakhir ini, undangan woodfuel terus meningkat. Hal ini lantaran sebagian besar (sekitar 80 %) rumah tangga di Ghana sangat tergantung pada woodfuel untuk memasak dan memanaskan air [5]. Tingginya penggunaan woodfuel juga diakibatkan oleh penggunaannya untuk komersial, industri, dan institusi/lembaga. Gambar 1 memperlihatkan bahwa sekitar 18 juta ton kayu bakar telah dipakai pada tahun 2000. Jika tren konsumsi tersebut terus naik, maka kemungkinannya ialah Ghana akan mengkonsumsi lebih dari 25 juta ton kayu bakar pada tahun 2020.
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Tabel 1. Sumber materi bakar yang dipakai rumah tangga untuk memasak di aneka macam daerah di Ghana [2]
Woodfuel telah menjadi jenis energi utama yang telah dikonsumsi di Ghana antara tahun 2003-2008 menyerupai ditunjukkan pada Gambar. 2. Kontribusinya sekitar 70%, 77,7% dan 76,4% pada tahun 2000, 2004 dan 2008 [7] dari total energi yang dikonsumsi. Luas tutupan hutan di Ghana telah menyusut dari 8,13 juta hektar pada awal masa lalu, menjadi 1,6 juta hektar ketika ini [2]. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, laju deforestasi di Ghana mencapai 3% per tahun. Pada tahun 2000, hasil atau produksi tahunan kayu sekitar 30 juta ton, dimana sekitar 18 juta ton akan dipakai sebagai woodfuel [5].

Tabel 1 memperlihatkan sumber utama materi bakar untuk memasak bagi rumah tangga di sepuluh daerah di Ghana. Tabel ini menegaskan tingginya ketergantungan rumah tangga terhadap materi bakar tradisional untuk memasak. Tabel 1 juga mengungkapkan bahwa sekitar 87% rumah tangga di Ghana memakai materi bakar kayu: kayu bakar (56,6%) dan arang (32%) sebagai materi bakar utama untuk memasak [2].
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Tabel 2. Profil pnyedia layanan biogas di Ghana [2]

2.1. Sejarah dan Pemanfaatan Biogas di Ghana

Penggunaan konvensional kotoran sapi sebagai sumber materi bakar untuk memasak telah menjadi praktek umum selama bertahun-tahun di Ghana. Hal ini menjadi pilihan utama bagi daerah padang rumput utara lantaran daerah tersebut mengalami kelangkaan kayu bakar dan arang untuk memasak [2]. Ketertarikan terhadap teknologi biogas di Ghana dimulai pada final 1960-an namun tidak hingga pada pertengahan tahun 1980-an, teknologi biogas tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah [8]. Sebelum pertengahan tahun 1980-an, perhatian pemerintah terhadap jadwal diseminasi tersebut hanya terfokus pada penyediaan energi domestik untuk memasak [8]. Basis sumber daya woodfuel yang menipis secara cepat ditambah adanya proyeksi peningkatan penggunannya di masa depan yang sanggup memperlihatkan dampak sosial dan lingkungan yang buruk, telah membuat pemerintah Ghana lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan sumber daya materi bakar alternatif yang sanggup dikembangkan dan dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, contohnya untuk memasak. Akhirnya, teknologi biogas tepilih menjadi salah satu opsi untuk mengurangi deforestasi hutan.

Demonstrasi reaktor biogas pertama, yaitu digester tipe kubah tetap bervolume 10 m3 buatan China, telah dibangun pada tahun 1986 oleh Departemen Energi di peternakan perbukitan Shai di Daerah Greater Accra. Pembuatan reaktor biogas ini mendapat dukungan dari pemerintah Cina. Setahun kemudian pada tahun 1987, United Nations Children Fund (UNICEF) mendukung pembangunan beberapa demonstrasi reaktor biogas domestik di daerah Jisonayilli dan Kurugu di wilayah Utara [2]. Departemen Energi mendirikan salah satu reaktor biogas berskala besar pertama melalui proyek pembangunan biogas secara komprehensif di Ghana, yang dinamai “Proyek lingkungan dan Energi Pedesaan Terpadu” di Apollonia, sebuah desa yang terletak sekitar 46 km dari Accra. Reaktor Biogas Apollonia memakai materi baku dari kotoran binatang dan kotoran manusia. Reaktor ini mempunyai generator 12,5 kW untuk menyediakan tenaga listrik bagi jalan dan penerangan rumah serta untuk memasak. Sedangkan bio-slurry (ampas biogas) dipakai untuk pertanian [9]. Sebanyak sembilan belas digester yang terdiri dari enam digester berukuran15 m3, dua digester Deenbandhu berukuran 30 m3, delapan digester berukuran10 m3, dan tiga digester tipe kubah tetap buatan China berukuran 25 m3 dibangun oleh para insinyur dari Departemen Energi (KLH) dan Institute of Industrial Research (IIR ) [8,10].

Sebagai cuilan dari langkah pertama dalam perencanaan dan pengembangan jadwal biogas nasional, maka dilakukan wawancara dengan pengusaha yang terlibat dalam pembangunan pembangkit biogas pada tahun 2007 oleh Kumasi Institut Teknologi dan Lingkungan (KITE)-sebuah LSM energi setempat. Saat penelitian ini sedang berlangsung, telah ada sedikitnya lebih dari 100 reaktor biogas yang telah dibangun di Ghana hingga ketika ini [2]. Sebagian besar reaktor biogas telah dilengkapi dengan bio-sanitasi menyerupai instalasi pengolahan limbah / cairan dan biolatrine. Biolatrine ialah penggunaan jamban yang hanya membutuhkan sedikit, hal ini untuk mengurangi meluapnya air pada tangki digester jawaban penggunan air yang berlebihan untuk menyiram jamban. Sebagian besar bio-sanitasi tersebut terletak di forum pendidikan dan kesehatan di daerah perkotaan [2,8,9]. Sebuah survei terhadap 50 reaktor biogas dilakukan dengan tujuan untuk memastikan keadaan bantu-membantu dari teknologi biogas di Ghana. Kunjungan lapangan ke instalasi biogas dilakukan antara Juni 2008 dan Februari 2009. Sebanyak 50 reaktor biogas dipilih dari populasi dengan memakai stratified and convenience sampling techniques [8,10]. Dari 50 instalasi yang diteliti, 22 berada dalam kondisi baik, 10 reaktor berfungsi meskipun ada beberapa kerusakan (misalnya terjadi kerusakan pada tabung gas, jaringan dan pipa gas) yang diamati, dan 14 reaktor tidak beroperasi. Hal ini disebabkan alasan-alasan berikut: (i) pemilik reaktor enggan membelanjakan pelengkap keuangan untuk merawat reaktor biogas, (ii) beberapa penyedia layanan reaktor biogas tidak memperlihatkan kursus yang memadai terhadap pengelola reaktor mengenai dasar dan cara kerja sistem biogas [8].

Rendahnya tugas pemerintah terhadap proyek biogas di Ghana juga telah membuat sejumlah perusahaan biogas swasta mengambil kebijakan untuk memasarkan teknologi tersebut, tentunya murni lantaran alasan bisnis. Alasan lain ialah karena reaktor biogas mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sanitasi bagi industri mereka [8]. Setidaknya ada 10 penyedia layanan biogas yang telah aktif terlibat dalam desain dan pembangunan pembangkit biogas skala domestik dan institusi di seluruh negeri. Tabel 2 memperlihatkan daftar penyedia layanan dan jumlah reaktor biogas yang telah dibangun oleh mereka.

Meskipun tidak ada taktik yang terperinci untuk promosi teknologi biogas di Ghana [9], namun sejumlah sistem telah dibangun semenjak tahun 1996 [2]. Menurut penulis [4], pemerintah Ghana akan mempromosikan biogas untuk dapur institusi, laboratorium, rumah sakit, asrama sekolah, barak, dan lain-lain. Reaktor Energi Nasional Strategis (SNEP) untuk Ghana mentargetkan untuk mencapai penetrasi 1% biogas bagi pemenuhan materi bakar untuk memasak di dapur hotel, restoran dan institusi pada tahun 2015 dan 2% pada tahun 2020. Dokumen tersebut tidak menyebutkan jadwal untuk sistem biogas rumah tangga. Namun, sejumlah individu telah mempunyai digester biogas digester bervolume antara 8 m3 dan 12 m3 yang dipasang di rumah mereka. Bahan baku digester biogas tersebut berasal sisa / limbah dapur [2].

2.2. Desain / Rancangan Digester Biogas

Biogas yang dihasilkan dari bio-digesti tergantung pada komposisi substrat, jenis substrat, waktu retensi (fermentasi) dan kondisi biodigester. Komposisi rata-rata biogas sanggup dilihat pada Tabel 3. Sebelum digunakan, komposisi biogas harus diketahui terlebih dahulu.  Hal ini lantaran adanya ancaman dari keberadaan hidrogen sulfida, terutama ketika biogas dipakai sebagai materi bakar dalam mesin pembakaran internal [14]. H2S bersifat korosif sehingga sanggup menimbulkan karat pada peralatan logam.
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Tabel 3. Komposisi rata-rata biogas dari aneka macam limbah / sisa organik [14].
Namun, pada tahun 2000, sekitar 90 % rumah tangga perkotaan di Ghana memakai peralatan masak dari tungku masak tradisional yang bukan terbuat dari logam [4], sehingga biogas yang diproduksi tidak memerlukan pemurnian. Hal ini lantaran gas hidrogen sulfida yang terdapat di biogas tidak mempunyai imbas negatif terhadap peralatan memasak mereka.
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Gambar 3. Digester biogas tipe kubah tetap Fixed dome digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Gasholder. 3. Digester. 4. Compensation tank. 5. Gas pipe.
Tiga tipe reaktor biogas yang telah dirancang, diuji dan disebarluaskan di Ghana ialah fixed-domed (kubah tetap), floating drum (drum mengambang) dan Puxin digester [2]. Sebuah reaktor biogas tipe kubah tetap terdiri dari digester tertutup berbentuk kubah dengan pipa gas yang kaku dan dilengkapi dengan lubang perpindahan substrat atau biasa disebut tangki kompensasi. Gas akan terkumpul di cuilan atas digester. Ketika produksi gas dimulai, slurry (bahan baku berbentuk menyerupai bubur) dipindahkan ke dalam tangki kompensasi menyerupai yang ditunjukkan pada Gambar. 3. Tekanan gas akan meningkat jikalau volume gas yang tersimpan bertambah. Hal ini ditandai dengan perbedaan ketinggian antara slurry di dalam digester tangki kompensasi [11]. Jika ada sedikit gas di gasholder (tabung gas), maka tekanan gas rendah.
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Gambar 4. Digester biogas tipe drum mengapung (Floating drum digester) 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Water jacket. 6. Gas pipe.
Reaktor biogas tipe Floating-drum (drum mengapung) terdiri dari digester bawah tanah dan tabung gas diatasnya yang sanggup bergerak naik turun menyerupai ditunjukkan pada Gambar. 4. Gas dikumpulkan pada tabung gas, yang sanggup naik atau turun, sesuai dengan jumlah gas yang tersimpan. Tabung gas dijaga supaya tetap tegak dan tidak miring memakai struktur kerangka yang berisi air (water jacket). Jika kadar gas di digester bertambah, maka tabung gas akan tertekan sehingga bergerak naik. Namun, jikalau kadar gas berkurang, maka tabung gas tersebut akan bergerak turun [12].
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Gambar 5. Puxin digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Gas pipe.
Digester biogas Puxin ialah biogas digester dengan tekanan hidrolik. Digester ini terdiri dari tangki fermentasi yang dibangun dengan beton. Sebuah tabung gas dibentuk dari serat gelas yang diperkuat plastik dan epilog outlet (saluran pembuangan) digester dibentuk dari serat gelas yang diperkuat plastik atau beton. Tabung gas ini dipasang di atas digester. Tabung gas dan digester ditutup dengan air [2] menyerupai ditunjukkan pada Gambar. 5.

Kisaran Suhu mesofilik untuk produksi biogas ialah 20 – 40 oC [12] dan dengan suhu Ghana tahunan 25 oC menyerupai yang dilaporkan oleh KITE [2]. Hal ini memperlihatkan bahwa kebanyakan reaktor biogas di Ghana sanggup beroperasi dengan baik dalam kondisi suhu mesofilik.

2.3. Sumber Energi Biogas

Biogas merupakan jenis energi higienis dan terbarukan. Biogas sanggup menambah daftar sumber energi konvensional. Biogas diproduksi melalui degradasi secara anaerobik yaitu proses yang sangat kompleks dan membutuhkan kondisi lingkungan tertentu serta aneka macam populasi basil [8,14,15]. Proses fermentasi anaerob secara lengkap dan singkat ditunjukkan pada Tabel 4. Energi biogas mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan sumber energi lain. Keberhasilan penggunaan teknologi biogas tidak hanya sanggup menghasilkan pembangkit energi dan bio-pupuk, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekologi lainnya termasuk sanitasi, penghijauan dan pengurangan konsumsi materi bakar dari minyak impor [16].
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Tabel 4. Degradasi anaerobik terhadap material organik [13].
Substrat materi baku untuk jadwal biogas di Ghana telah diidentifikasi. Bahan baku biogas yang dinyatakan layak secara hemat mencakup enceng gondok, kotoran (feses), daun singkong, sampah perkotaan, limbah padat, residu (sisa) dan limbah pertanian.

Sapi, domba, kambing, babi dan unggas ialah ternak utama yang dikembangkan di Ghana. Industri unggas di Ghana merupakan industri unggas terbesar dan paling sukses [2]. Hewan ini sanggup menghasilkan sejumlah besar pupuk kandang. Pupuk sangkar merupakan substrat yang cocok untuk digesti anaerobik.  Selain itu, pupuk sangkar juga merupakan substrat yang paling umum untuk produksi biogas dengan proses digesti anaerobik. Tabel 5 memperlihatkan potensi biogas dari kotoran ternak dari aneka macam daerah di Ghana pada tahun 2006.
 Penggunaan biomassa tradisional dan materi bakar fosil yang telah mengakibatkan dampak negat Pintar Pelajaran Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana
Tabel 5. Potensi biogas dari limbah organik yang dihasilkan ternak di Ghana pada tahun 2006  [2] [6] [17] [18].
Tabel 5 memperlihatkan bahwa kotoran dari ternak yang diproduksi di Ghana menghasilkan sekitar 350 juta m3 biogas pada tahun 2006. Nilai kalor biogas ialah 22,5 MJ/m3 [14]. Dengan demikian, biogas yang diproduksi di Ghana sanggup menghasilkan energi sekitar 7.875.000 GJ atau 2.100 GWh [6].

Hambatan yang dihadapi oleh Negara berkembang untuk menerapkan teknologi biogas ialah kurangnya sumber daya dan kemampuan untuk: (i) merencanakan dan menerapkan sistem pembuangan limbah, (ii) mengelola limbah cair dan padat, dan (iii) mengatasi problem sanitasi, dimana perumahan sering dibangun terlebih dahulu sebelum sistem pembuangan dan kebutuhan infrastruktur lainnya terpenuhi [19]. Berdasarkan literatur [19,20], problem limbah di Ghana juga merupakan jawaban pribadi dari berkembangnya penduduk perkotaan, perubahan pola produksi dan konsumsi, gaya hidup urban (perkotaan) dan industrialisasi. Penggunaan biogas dari Limbah Padat Kota (MSW) tidak sanggup dilihat sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi problem energi di seluruh negeri, tetapi bisa memperbaiki lingkungan melalui pengelolaan sampah yang benar, pelestarian air permukaan dan bawah tanah, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan pembangunan yang berkelanjutan [14].

Rata-rata limbah padat harian yang dihasilkan di Ghana mencapai 0,45 kg per kapita per hari [20]. Perkiraan populasi penduduk sebesar 22,9 juta pada tahun 2007 menyerupai dikutip dari Laporan Pembangunan insan untuk tahun 2009 [30].  Dengan demikian, total MSW yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai total 3,73 juta ton.

Setiap materi organik sanggup didegradasi untuk menghasilkan biogas [9,[11]]. Berdasarkan hal ini, maka proses degradasi materi organik di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sama dengan proses pada reaktor biogas. Perbedaannya ialah bahwa produksi biogas dari digesti anaerobik yang berlangsung di dalam reaktor sanggup dikendalikan dan prosesnya lebih cepat lantaran kondisinya diatur pada level optimal [19].

Studi yang dilakukan oleh Netherlands Development Organisation (SNV) telah memperlihatkan bahwa Ghana mempunyai potensi untuk membangun sekitar 278.000 [21] reaktor biogas di seluruh negeri.

3. Potensi Keuntungan dari Aplikasi Teknologi Biogas

3.1. Sektor Pertanian

Sektor pertanian Ghana telah memperlihatkan bantuan sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor ini memperlihatkan bantuan sekitar 33,5% terhadap PDB dengan pertumbuhan tahunan 5,1% pada tahun 2008 [22] dengan dominan rumah tangga di Ghana bergantung pada pertanian. Sebagian besar pupuk sangkar dipakai sebagai sumber utama pupuk pertanian. Laporan Tahunan Bank Ghana pada tahun 2008 menyebutkan bahwa GDP riil telah tumbuh sebesar 7,3% pada tahun 2008 atau berada di atas sasaran yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 7,0% dan 6,3% berhasil dicapai pada tahun 2007. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kinerja di sektor Pertanian dan Industri. Tingkat pertumbuhan di sektor pertanian meningkat dari 3,1% menjadi 4,9% pada tahun 2007, namun masih berada di bawah sasaran yang ditetapkan, yaitu sebesar 5% [23].

Menurut peneliti [21], para petani di negara berkembang sangat membutuhkan pupuk untuk menjaga produktivitas lahan pertanian. Pada ketika yang sama, ketersediaan nitrogen (N), kalium (K) dan fosfor (P) dalam bentuk materi organik ialah sekitar delapan kali lebih tinggi dibandingkan kuantitas yang tersedia di pupuk kimia yang dipakai di negara berkembang. Ampas yang dihasilkan dari digester telah terbukti menjadi pupuk terbaik untuk pertanian. Ampas ini sanggup menyediakan pupuk organik yang sangat bermanfaat dan mempunyai kualitas yang tinggi bagi para petani [25]. Selain itu, ampas tersebut juga sanggup dipakai sebagai alternatif pupuk kimia untuk pertanian [24]. Efek kumulatif dari penggunaan ampas biogas cair sebagai pupuk organik ialah sanggup meningkatkan hasil produksi panen. Hal ini kesudahannya sanggup mengurangi impor pupuk kimia sehingga menambah tabungan untuk menjalankan kegiatan ekonomi lain yang nantinya juga akan sanggup meningkatkan perekonomian Ghana.

3.2. Sektor Kesehatan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sekitar 87 % rumah tangga di Ghana memakai woodfuel sebagai sumber materi bakar untuk memasak. Konsekuensi penggunaan Woodfuel ialah adanya paparan asap pada lingkungan indoor (di dalam ruangan/rumah) jawaban pembakaran tidak sempurna. Hal ini sanggup mengakibatkan jerawat jalan masuk pernapasan akut dan jerawat mata pada setiap penduduk, baik yang muda atau tua, sehingga sanggup meningkatkan jumlah final hidup bayi.

Penggunaan biogas sebagai materi bakar untuk memasak sanggup mengurangi paparan asap di dapur secara drastis. Hal ini sanggup mengurangi jumlah penyakit yang diakibatkan oleh paparan asap, terutama bagi para perempuan atau anak-anak.

Memasak memakai biogas jauh lebih gampang dibandingkan woodfuel. Hal ini lantaran mereka tidak perlu menjaga stabilitas kobaran api yang biasanya dilakukan dengan menambahkan woodfuel secara terus-menerus.

Kotoran (feses) insan yang akan dijadikan pupuk pertanian harus melalui proses digesti bersama-sama dengan substrat organik lainnya sebelum diaplikasikan ke tanah pertanian. Jika kotoran tersebut dipakai secara langsung, maka akan sanggup berbagi penyakit yang terdapat di feses tersebut.

Sebagian besar patogen yang terdapat di feses sanggup mengakibatkan gangguan pencernaan, menyerupai diare, muntah, dan kejang perut. Selain itu, pathogen tersebut juga sanggup menyerang organ lain dan menimbulkan jawaban yang parah [26].

3.3. Penciptaan Lapangan Kerja

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Ghana mempunyai potensi untuk mendirikan sekitar 278.000 reaktor biogas. Hal ini sanggup memperlihatkan kesempatan besar untuk membuat lapangan kerja baik terampil maupun tidak terampil. Sebuah penyedia layanan Biogas, yaitu Biogas Technologies West Africa Limited (BTWAL)  memiliki 148 pekerja penuh waktu menyerupai yang ditunjukkan oleh Tabel 2. Selain itu, bidang desain dan pembuatan peralatan konstruksi dan alat biogas juga sanggup memperlihatkan kesempatan bagi pencari kerja.

Institusi akademik juga mendapat tugas di bidang penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas sistem biogas yang sesuai di Ghana

Teknologi biogas juga akan membuka peluang kerja bagi tukang batu, tukang pipa, insinyur sipil dan agronomi, dimana mereka sering menjadi promoter paling efektif untuk aplikasi teknologi biogas [12].

Jika ada sepuluh penyedia layanan biogas saja, maka teknologi ini akan memperlihatkan bantuan besar terhadap penciptaan lapangan kerja.

3.4. Sektor Lingkungan

Para pengambil kebijakan sanggup memakai teknologi biogas untuk memecahkan problem pembuangan limbah publik dan pengolahan air limbah. Energi yang dihasilkan dari proses digesti biasanya tidak menjadi energi utama (prioritas) untuk memenuhi kebutuhan energi suatu Negara. Namun, energi ini sangat mendukung kebutuhan energi publik menyerupai penerangan jalan, pompa air, kegiatan memasak di rumah sakit atau sekolah [12]. Kakus umum yang setiap harinya dikunjungi 2.000 orang per hari akan menghasilkan sekitar 60 m3 biogas yang sanggup menjalankan generator 10 KVA selama 8 hari [27].

Tingginya tingkat ketergantungan pada pemanfaatan woodfuel  juga diketahui telah memperlihatkan sebagian bantuan terhadap deforestasi dan emisi beberapa gas rumah beling di Ghana. Menurut penulis [2], asap dari kegiatan memasak akan menghasilkan sekitar 7 miliar ton karbon di lingkungan dalam bentuk gas rumah beling pada tahun 2050. Karbon ini hanya dari Afrika saja, belum termasuk benua lainnya. Woodfuel telah menyumbang sekitar 6% dari total gas rumah beling yang dihasilkan benua tersebut. Penggunaan biogas sebagai materi bakar akan mengurangi kadar gas metana di atmosfer, sehingga dampak negatifnya akan berkurang. Secara signifikan, air permukaan dan air tanah akan terlindungi dari material limbah berbahaya sehingga mengurangi paparan racun terhadap penduduk Ghana. Konversi material limbah dan kotoran menjadi pupuk yang lebih bermanfaat dan bernilai tinggi (ampas / bubur biogas), akan sanggup mempermudah pemenuhan kebutuhan pupuk pertanian dari materi organic. Hal ini akan sanggup melindungi tanah dari deplesi dan abrasi [21].

3.5. Pemberdayaan Perempuan dan Pengurangan Beban Kerja

Jika kita melihat isu-isu gender baik dari sisi undangan dan sisi penawaran energi, maka laki-laki dan perempuan mempunyai tuntutan yang berbeda lantaran hukum sosial-budaya dan tradisional yang ada. Kebanyakan perempuan hanya melaksanakan kegiatan memasak. Mereka juga sangat terlibat dalam pengumpulan kayu bakar dan produksi arang. Aktivitas mengumpulkan kayu bakar membutuhkan waktu yang usang sehingga mengurangi waktu yang seharusnya sanggup dipakai untuk kegiatan produktif lainnya.Penggolongan gender tenaga kerja dan degradasi lingkungan telah meningkatkan beban waktu bagi perempuan [4].

Traktor yang dipakai untuk mengolah lahan pertanian biasanya dioperasikan oleh pria. Alat ini telah menggantikan pekerjaan berat yang sebelumnya dilakukan oleh lembu jantan. Namun, penyiangan dan panen yang merupakan pekerjaan pertanian yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan. Jadi, meskipun traktor sanggup meningkatkan pendapatan keseluruhan keluarga, namun perempuan ternyata tetap mempunyai beban kerja yang masih berat.

Waktu yang dihabiskan oleh perempuan pedesaan untuk mengumpulkan woodfuel diperkirakan minimal dua hingga tiga kali seminggu. Meskipun waktu yang mereka habiskan tidak menghasilkan uang, namun mereka mempunyai cita-cita bahwa kerja keras tersebut akan sanggup memperpanjang kelangsungan hidupnya [2].

Padahal, jikalau ada teknologi biogas, maka mereka hanya perlu melaksanakan pekerjaan sekali di setiap harinya. Pekerjaan tersebut ialah mengkondisikan materi baku untuk menjadi homogen. Kondisi homogen ialah tercampurnya secara menyeluruh / tepat setiap materi baku biogas yang biasanya terdiri dari kotoran hewan, limbah dapur, dan residu (sisa) pertanian. Pekerjaan yang membutuhkan komitmen tinggi untuk setiap minggunya pada pembangkit biogas domestik meliputi: membersihkan kompor gas dan peralatan lain dan membuka perangkap uap air secara manual sehingga air embun sanggup mengalir ke luar melewati pipa/selang biogas. Untuk menjamin kinerja optimal reaktor biogas, maka perlu dilakukan beberapa pekerjaan bulanan, diantaranya; (i) mencampur materi baku antara lapisan atas dan bawah tabung perluasan (ii) menyelidiki dan mengisi air di water jacket yang berfungsi mengatur daya apung digester [11].

Sebagian besar pekerjaan tersebut dilakukan di lokasi reaktor biogas sehingga operator tidak perlu melaksanakan pengecekan reaktor biogas setiap hari, kecuali untuk pekerjaan khusus menyerupai melaksanakan penggantian peralatan utama yang mencakup kompor, desulfurizer (berfungsi untuk menghilangkan unsur belerang), dan lain-lain

Keterlibatan perempuan pada teknologi biogas akan sanggup menghemat waktu yang sebelumnya dipakai utnuk mencari woodfuel. Waktu tersebut sanggup diganti dengan kegiatan pendidikan atau kegiatan produktif lainnya. Hal ini akan meningkatkan standar hidup, memperlihatkan penghasilan pelengkap dan meningkatkan kebutuhan gizi dan kesehatan rumah tangga.

Saat ini, jumlah penduduk laki-laki yang melek abjad lebih banyak dibandingkan perempuan, yaitu sekitar 20 %. Bahkan, di daerah Utara Ghana jumlah kesenjangan tersebut mencapi 30 % [29].

Aplikasi teknologi biogas akan sanggup mengurangi kesenjangan tersebut lantaran bawah umur yang sebelumnya sibuk mencari kayu bakar, akan sanggup bersekolah di waktu luangnya. Hal ini juga akan sanggup meningkatkan komunikasi antara si buta abjad dan si melek abjad sehingga mempercepat peningkatan jumlah penduduk yang melek huruf.

4. Prospek dan Tantangan Teknologi Biogas

Meskipun ada beberapa peluang di sektor biogas, namun ada juga tantangan yang tidak sanggup diabaikan. Sebenarnya, Pendekatan yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan untuk penyebaran skala besar pembangkit biogas domestik di area pedesaan Ghana dengan pementingan pada tiga wilayah utara, dan daerah Ashanti secara teknis telah memungkinkan bagi sekitar 80.000 rumah tangga di empat wilayah tersebut untuk mempunyai setidaknya satu digester kubah tetap bervolume 6 m3 di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan energi memasak sehari-hari [21].

Selain itu, Ghana juga mempunyai jadwal nasional yang sanggup mempercepat aplikasi teknologi biogas ke setiap rumah tangga dan institusi.

Pemerintah Ghana melalui National Community Water and Sanitation Programme (NCWSP) mempunyai taktik nasional jangka menengah dan panjang untuk memperluas ketersediaan air higienis dan akomodasi sanitasi yang berkualitas bagi masyarakat pedesaan dan kota kecil di Ghana.  Secara tidak langsung, NCWSP telah menyediakan platform untuk produksi biogas melalui Community Water and Sanitation Agency (CWSA). CWSA telah berkomitmen untuk memperlihatkan santunan 1,1 juta WC (jamban) bagi rumah tangga, masyarakat, dan institusi sebagai cuilan dari taktik untuk memutus siklus penularan penyakit yang disebabkan oleh kotoran (feses). Namun, dokumen Energy for Poverty Reduction Action Plan for Ghana (EPRAP) yang dibentuk oleh KITE menyebutkan bahwa pengelolaan kotoran (feses) insan menjadi biogas dan pupuk hanya akan menguntungkan apabila sekitar 50 % kakus di institusi (sekitar 800 kakus) dan 20 % dari kakus komunal/komunitas (sekitar 1.670) telah dijadikan biolatrine [31].

Di Afrika, penyebaran teknologi biogas relatif tidak berhasil. Hal ini disebabkan kegagalan pemerintah Afrika untuk mendukung teknologi biogas melalui desain kebijakan energi terfokus, desain dan konstruksi digester yang pelaksanaan yang kurang tepat dan kurangnya perawatan akomodasi biogas oleh pengguna. Selain itu, taktik sosialisasi yang buruk, kurangnya pemantauan proyek dan tindak lanjut oleh promotor, dan rendahnya tanggung jawab oleh pengguna [8] juga menjadi tantangan untuk memperluas apikasi teknologi biogas. Meskipun biogas bisa memecahkan beberapa problem energi dan lingkungan yang dihadapi oleh penduduk pedesaan miskin, masyarakat perkotaan dan daerah industri, namun teknologi ini membutuhkan persyaratan investasi yang tinggi. Masalah utama dari pedesaan yang penduduknya bekerja sebagai peternak ialah ketidakmampuan mereka untuk membayar biaya penuh dari penggunaan teknologi biogas. Sebagai teladan pada tahun 2009, biaya rata-rata investasi dari reaktor biogas bervolume 10 m3 berkisar antara $ 2.800,00 hingga $ 4.200,00. Angka-angka ini jauh di atas kemampuan keuangan masyarakat petani pedesaan [8]. Keyakinan sosial dan budaya lainnya menyerupai kendala etnis, minimnya pemantauan dan pemeliharaan dan stigmatisasi dalam penggunaan kotoran insan sebagai pupuk berpotensi sanggup mensugesti penyebaran teknologi biogas dan hal ini dihentikan diabaikan.

5. Kesimpulan

Meskipun penetrasi (masuknya) teknologi biogas ke dalam ekonomi Ghana akan memperlihatkan bantuan besar, Namun, terdapat tantangan ekonomi dan sosial budaya yang dihentikan diabaikan. Manfaat yang akan diperoleh oleh negara tersebut antara lain pelestarian lingkungan, perbaikan kesehatan dan peningkatan produktivitas pertanian. Teknologi ini juga sanggup mengurangi beban kerja perempuan dalam rumah tangga sehingga memperlihatkan jalan bagi untuk memperoleh manfaat sosial dan ekonomi lain ketika mereka mengikuti jadwal yang tepat. Penerapan teknologi biogas akan mendukung jadwal pencegahan perubahan iklim global melalui pemanfaatan gas metana yang seharusnya terlepas ke atmosfer.

Beberapa rekomendasi yang disarankan untuk mengatasi problem minimnya keuangan bagi jadwal diseminasi teknologi biogas ialah pengenalan jadwal insentif keuangan menyerupai pinjaman lunak dan subsidi pada tahap awal aplikasi teknologi. Pemerintah juga sanggup memperlihatkan dukungan untuk Organisasi non-pemerintah (LSM) energi setempat menyerupai KITE dan Pusat Pengembangan Energi dan Lingkungan Berkelanjutan (CEESD). Nantinya, organisasi tersebut akan sanggup memperlihatkan dukungan teknis dan keuangan secara bersiklus kepada pemilik teknologi biogas domestik.

Meskipun Ghana tidak mempunyai jadwal diseminasi teknologi biogas secara nasional, namun tantangan global menyerupai perubahan iklim, berkurangnya cadangan minyak yang mengakibatkan  peningkatan pesat harga minyak, buruknya sistem pengelolaan limbah yang mengakibatkan buruknya sanitasi di daerah pedesaan dan perkotaan, hilangnya tutupan vegetasi secara cepat, dan dampak jelek penggunaan woodfuel terhadap kegiatan domestik, akan mendorong pengembangan dan promosi teknologi biogas. Kelompok-kelompok yang ditargetkan untuk diseminasi teknologi biogas harus dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat nasional, daerah dan komunitas. Tingkatan ini akan berperan penting dalam penyebaran teknologi biogas tetapi pendekatan yang dilakukan ke setiap tingkatan harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Selain itu, jadwal pendidikan dan kampanye secara intensif, dan pengembangan kerangka kerja kelembagaan dengan baik akan dibutuhkan untuk menjamin keberhasilan jadwal teknologi biogas tersebut secara menyeluruh.

Daftar Pustaka

[1]  Ghana in figures. Ghana Statistical Service (GSS), http://www.statsghana.gov.gh/docfiles/gh_figures_2008.pdf; 2008 [accessed 17.05.10].

[2]  Kumasi Institute of Technology. Energy and Environment (KITE). Feasibilitystudy report on domestic biogas in Ghana. Accra, Ghana: Submitted to Shell Foundation; 2008.

[3]  Ghana Statistical Service: Ghana living standards survey report of the fifth round (GLSS 5); 2008.

[4] Energy Commission (EC). Strategic national energy plan (2006e2020) and Ghana energy policy. Accra, Ghana: Main version; 2006.

[5] Energy Commission-Renewable Energy Division, Woodfuel use in Ghana: an outlook for the future? http://www.energycom.gov.gh/pages/docs/General%20Documents/Renewable%20Ghana%20Woodfuel%20Outlook.pdf [accessed 06.05.10].

[6] Energy Commission of Ghana (EC), Energy sector review, http://www. energycom.gov.gh/static.php?ID¼2 [accessed 07.05.10].

[7] Energy Commission (EC). Energy statistics; 2000e2008 [Ghana].

[8] Bensah EC, Brew-Hammond A. Biogas technology dissemination in Ghana: history, current status, future prospects, and policy significance. International Journal of Energy and Environment 2010;1(2):277e94.

[9] Arthur R. Feasibility study for institutional biogas plant for KNUST sewage treatment plant; MSc. Thesis, Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST), Kumasi, Ghana, 2009.

[10] Bensah E.C. Technical evaluation and standardization of biogas plants in Ghana. MSc. Thesis, Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST), Kumasi, Ghana, 2009.

[11] GTZ and ISAT. Biogas digest. In: Biogas – application and product development, vol. II, http://www.biores.eu/docs/BIOGASFUNDAMENTALS/biogasdigestvol2.pdf, [accessed 14.05.10].

[12] GTZ and ISAT. Biogas digest. In: Biogas e biogas basics, vol. I, http://www.gtz.de/de/dokumente/en-biogas-volume1.pdf, [accessed Date: 14.05.10].

[13] Omar AM, Fadella Y. Biogas energy technology in Sudan. Renewable Energy 2003;28(3):499e507.

[14] Salomon KR, Lora EES. Estimate of the electric energy generating potential for different sources of biogas in Brazil. Biomass and Bioenergy 2009;33(9):1101e7.

[15] Akinbani JFK, Ilori MO, Oyebisi TO. Biogas energy use in Nigeria: current status, future prospects and policy implications. Renewable and Sustainable Energy Reviews 2001;5(1):97e112.

[16] Walekhwa PN, Mugisha J, Drake L. Biogas energy from family-sized digesters in Uganda: critical factors and policy implications. Energy Policy 2009;37 (7):2754e62.

[17] Sasse L. Biogas plants. Eschborn, Germany: G TZ publication, http://www.borda-net.org; 1988 [accessed 12.05.10].

[18] Food and Agriculture Organization (FAO). Consolidated management services Nepal-session one. System approach to biogas technology; 1996.

[19] Wikner E. Modeling waste to energy systems in Kumasi, Ghana. ISSN 1653-5634. Sweden: Committee of Tropical Ecology, Uppsala University; 2009.

[20] 18th Session of the United Nations Commission on Sustainable Development. National report for Ghana, Waste management in Ghana, http://www.un.org/esa/dsd/dsd_aofw_ni/ni_pdfs/NationalReports/ghana/Anku_SCD_Waste%20Mgt%5B1%5D.pdf [accessed 11.05.10].

[21] Biogas Team. Biogas for better life, an African initiative; 2007. Business plan 2006e2020.

[22] Ghana at a glance, http://devdata.worldbank.org/AAG/gha_aag.pdf; 2009 [accessed 15.05.10].

[23] Bank of Ghana annual report; 2008.

[24] Gautam R, Bara S, Herat S. Biogas as a sustainable energy source in Nepal: present status and future challenges. Renewable and Sustainable Energy Reviews 2009;13(1):248e52.

[25] Dekelver G, Ruzigana S, Lam J. Report on the Feasibility study for a biogas support programme in the Republic of Rwanda. SNV; 2005.

[26] Niwagaba C. Human excreta treatment technologies e prerequisites, constraints and performance. Institutionen för biometri och teknik. Department of Biometry and Engineering; 2007 ISSN 1652-3261.

[27] UNDP. Human development report. Operation, impact and financing of Sulabh. Human Development Report Office: Occasional paper; 2006.

[28] UNDP. CDM information and guidebook. The UNEP project CD4CDM. 2nd ed.; 2004.

[29] African Development Fund. Ghana country gender profile. Human Development Department (OSHD); 2008.

[30] Human Development Report UNDP. Overcoming barriers: human mobility and development; 2009.

[31] KITE. Energy for poverty reduction e action plan for Ghana. Ghana: Ministry of Energy/UNDP; 2006.

Terima kasih atas kunjungan anda, agar artikel ini bermanfaat. Mohon berikan dukungan kepada kami dengan cara like, follow dan share melalui facebook, twitter, atau google +. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari Jurnal :

Richard Arthur, Martina Francisca Baidoo, Edward Antwi. 2011. Biogas as a potential renewable energy source: A Ghanaian case study. Renewable Energy, 36: pp. 1510-1516. DOI: 10.1016/j.renene.2010.11.012.

Saturday, November 16, 2019

Pintar Pelajaran Cara Kerja Dan Aplikasi Sel Materi Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh

Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh - Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup manusia. Saat ini kebutuhan energi sudah sangat besar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk terutama energi listrik. Jadi, dalam bidang energi sudah saatnya kita mengusahakan untuk memproduksi sumber energi alternatif untuk mengantisipasi ketersediaan energi di masa yang akan datang. Sumber energi tersebut harus memenuhi parameter keberhasilan suatu sumber energi alternatif yaitu: sanggup diperbarui (renewable energy), ramah lingkungan, dan biaya yang murah. Salah satunya dengan memanfaatkan sel materi bakar (Fuel cell). Fuel cell merupakan konverter dari energi kimia ke energi listrik yang ramah lingkungan. Fuel cell dirancang untuk sanggup diisi reaktannya yang terkonsumsi dimana fuel cell memproduksi listrik dan penyediaan materi bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel materi bakar yakni hidrogen di sisi anoda dan oksigen di sisi katoda. Reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan mengalir keluar. Sehingga operasi jangka panjang sanggup terus menerus dilakukan selama disuplai oleh materi bakar (hidrogen) dan oksigen.

Fuel cell ini di klasifikasikan sebagai pembangkit tenaga lantaran sel materi bakar ini sanggup beroperasi secara terus menerus atau selama ada persediaan materi bakar (fuel) dan oksidan. Fuel cell diklasifikasikan dalam beberapa jenis tergantung dari jenis materi bakar yang digunakan, yaitu Alkaline Fuel Cell (AFC), Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC), Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC), Proton Exchange Membrane (PEM), Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) (De Guire, 2003). Fuel cell mempunyai karakteristik umum yaitu sangat efisien (>85%), modular (dapat ditempatkan dimana diperlukan), ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah), panas yang terbuang sanggup di simpan (Handayani, 2008).

SOFC dianggap menarik lantaran mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan fuel cell jenis lain. SOFC merupakan fuel cell dengan temperatur tertinggi pada ketika ini yaitu sekitar 600 oC - 1000 oC dan juga mempunyai tingkat efesiensi yang paling tinggi yaitu sekitar 60%. SOFC berkembang semenjak tahun 1950 dan mempunyai dua bentuk yaitu planar dan tubular. Keuntungan dari fuel cell jenis ini yaitu sanggup memakai materi bakar lain selain hidrogen. Sama ibarat jenis fuel cell yang lain, SOFC juga mempunyai tiga penggalan penting yaitu elektrolit, katode, dan anode (De Guire, 2003).

1. Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)

Fuel cell (sel materi bakar) yakni suatu konverter dari energi kimia menjadi energi listrik dengan memanfaatkan kecendrungan hidrogen dan oksigen untuk bereaksi dimana operasi jangka panjangnya sanggup terus menerus terjadi selama materi bakarnya sanggup terus disuplai yaitu hidrogen dan oksigen. Gas hidrogen dan oksigen secara elektrokimia dikonvert menjadi air. Reaksi secara keseluruhannya yakni sebagai berikut (Cook, 2001):

Anoda : H2 → 2 H+ + 2 e-
Katoda : ½ O2 + 2 H+ + 2 e- → H2O

Reaksi total : H2 + ½ O2 → H2O + energi listrik + kalor


Prinsip kerja fuel cell yaitu hidrogen di dalam sel dialirkan menuju sisi anoda sedangkan oksigen di dalam udara dialirkan menuju sisi katoda. Pada anoda terjadi pemisahan hidrogen menjadi elektron dan proton (ion hidrogen). Ion hidrogen ini kemudian menyebrang dan bertemu dengan oksigen dan elektron di katoda dan menghasilkan air. Elektron-elektron yang mengandung muatan listrik ini akan menuju katoda melalui jaringan eksternal. Aliran elektron-elektron inilah yang akan menghasilkan arus listrik. Skema fuel cell diperlihatkan pada Gambar 1.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Skema sel materi bakar (fuel cell) (Anonim 2012)
Fuel cell mempunyai beberapa kelebihan yaitu (Anonim, 2008):
  1. Memiliki efiesiensi yang tinggi (60%-70%)
  2. Ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah)
  3. Secara teoritis, limbah atau emisi yang dihasilkan yakni air (H2O).
Berbeda dengan pada pembakaran biasa dengan memakai mesin, dimana limbah yang dihasilan yakni gas-gas yang berpotensi untuk mencemari lingkungan. Selain itu kalau memakai pembangkit daya yang konvensional, polusi kebisingan juga sanggup terjadi, sedangkan sel materi bakar ini tidak menghasilkan suara. Sel materi bakar tidak memerlukan penggantian elektrolit dan pengisian materi bakar, akan tetapi kalau materi bakarnya habis, maka sel ini juga tidak sanggup berfungsi.

3. Bahan bakarnya flexibel

Bahan bakar yang digunakan untuk sel materi bakar sanggup digunakan beberapa macam, kebanyakan memakai hidrogen dan oksigen sebagai materi bakar dan oksidannya. Selain memakai kedua materi tersebut, materi bakar lain yang dicoba digunakan antara lain ammonia, hidrazine, metanol dan batubara.

Fuel cell mempunyai beberapa macam tipe yaitu
  1. Alkaline Fuel Cell (AFC)
  2. Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC)
  3. Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC)
  4. Proton Exchange Membrane (PEM)
  5. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)
4. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)

SOFC yakni suatu jenis perangkat elektrokimia yang memakai materi bakar oksida padat yang sanggup mengkonversi secara eksklusif dari energi kimia menjadi energi listrik yang lebih efisien dan materi bakarnya bebas dari polusi. Skema sebuah SOFC diperlihatkan pada Gambar 2. (Wikipedia, 2012):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 2. Skema SOFC. (Anonim, 2012)
Pada suhu tinggi oksigen bermigrasi melalui lapisan elektrolit menuju anoda yang akan mengoksidasi materi bakar yang mengandung molekul hidrogen pada anoda yang akan menghasilkan ion hidrogen dan akan membebaskan elektron. Elektron yang dihasilkan pada anoda keluar dari sirkuit masuk ke sisi katoda yang akan dipergunakan sebagai tenaga listrik dengan efisiensi 60%. SOFC mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis fuel cell yang lain, yaitu (Anonim, 2012):
  1. Memiliki efisiensi yang tinggi 60%.
  2. Memiliki stabilitas jangka panjang.
  3. Ramah lingkungan.
  4. Dapat memakai beberapa jenis materi bakar.
  5. Emisinya rendah.
  6. Biaya yang relatif rendah.
  7. Dapat beroperasi pada suhu tinggi yaitu 600 o- 1000 oC.
SOFC mempunyai dua desain yaitu desain planar dan tubular (tabung) ibarat yang terlihat pada Gambar 3. 

Desain planar mempunyai lapisan khusus dalam aneka macam ukuran yang banyak digunakan dalam aneka macam sel materi bakar dimana lapisan elektrolitnya terletak diantara elektroda. Sedangkan desain tubular, udara atau materi bakar melewati penggalan dalam tabung dan gas lainnya dilewatkan pada penggalan luar tabung. Desain tubular menguntungkan lantaran lebih gampang untuk membatasi dan memisahkan materi bakar dari udara dibandingkan dengan bentuk planar (De Guire 2003).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 3. (a) sistem tubular SOFC (b) Sistem planar SOFC (De Guire 2003).
Sama ibarat fuel cell pada umumnya, SOFC juga mempunyai penggalan penting, yaitu (De Guire, 2003):

a. Elektrolit

Elektrolit merupakan pemisah antara katoda dan anoda. Elektrolit berfungsi untuk memindahkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dalam sel materi bakar. Elektrolit sangat kuat pada kinerja fuel cell.

b. Katode

Katode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan udara yang berfungsi menjadi batas untuk oksigen dan elektrolit, mengkatalis reaksi reduksi oksigen dan menghubungkan elektron-elektron dari sirkuit luar ke daerah reaksi.

c. Anode

Anode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan materi bakar yang berfungsi menjadi batas untuk materi bakar dan elektrolit, mengkatalis reaksi oksidasi dan menghubungkan elektron-elektron dari daerah reaksi elektron dari daerah reaksi ke eksternal sirkuit. Anoda merupakan penggalan terpenting dalam SOFC. Anode dalam sebuah SOFC harus mempunyai beberapa kriteria yaitu
  1. Memiliki konduktivitas listrik yang tinggi (10-1- 103 (Ω.cm)-1)
  2. Stabil dalam lingkungan reduksi
  3. Mempunyai porositas yang Istimewa dan banyak (20%-40%)
  4. Memiliki acara katalik dan elektrokimia yang tinggi untuk mengoksidasi materi bakar
  5. Memiliki struktur kristal kubik.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Herliyani (2012) dilakukan pembuatan anode dengan materi dasar CSZ (calcia stabilized zirconia) dengan metode kompaksi serbuk. Dimana metode kompaksi serbuk merupakan proses pembuatan serbuk dan benda jadi dari serbuk logam atau paduan logam dengan ukuran serbuk tertentu dengan cara di kompaksi tanpa melalui proses peleburan (Rusianto, 2009). Energi yang digunakan dalam proses ini relative rendah sedangkan laba lainnya antara lain hasil kesudahannya sanggup eksklusif diadaptasi dengan dimensi yang diinginkan yang berarti akan mengurangi biaya permesinan dan materi baku yang terbuang.

Jenis dan macam produk yang dihasilkan oleh proses metalurgi serbuk sangat ditentukan proses kompaksi dalam membentuk serbuk dengan kekuatan yang baik. Pada proses kompaksi serbuk meliputi proses pengepresan suatu bentuk di dalam cetakan yang terbuat dari baja. Teknik metalurgi serbuk meliputi pencampuran serbuk (mixing), pembuatan pellet (kompaksi), perlakuan panas (sintering). Pengecoran yakni suatu proses manufaktur yang memakai logam cair dan cetakan untuk menghasilkan parts dengan bentuk yang mendekati bentuk geometri simpulan produk jadi. Logam cair akan dituangkan atau ditekan ke dalam cetakan yang mempunyai rongga sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Anonim, 2011). Namun teknik ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain butir-butir yang dihasilkan cukup besar sehingga menurunkan kekuatan tariknya. Selain itu teknik pengecoran mempunyai kesulitan dalam pemaduan unsur-unsur dengan perbedaan titik leleh yang besar. Sehingga metode metalurgi serbuk ini digunakan dalam penelitian ini walaupun metode ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu : bentuk yang rumit tidak sanggup dibuat, materi serbuk logam mahal dan kadang sulit penyimpanannya lantaran gampang terkontaminasi.

Keramik CSZ ini merupakan adonan dari ZrO2 dan CaO dengan perbandingan persentase mol sebesar 85% dan 15% lantaran jika ZrO2 lebih dari 85% maka dikhawatirkan keramik akan menjadi ringkih sedangkan kalau persentase mol kurang dari 85% maka tidak akan membentuk struktur kristal kubik ibarat yang diharapkan. Kemudian adonan CSZ yang terbentuk ditambahkan dengan NiO dan PVA yang bervariasi konsentrasi beratnya masing-masing sebesar 2%, 6%, dan 10% dimana variasi persentase konsentrasi berat PVA ibarat ini paling tepat untuk menghasilkan porositas keramik yang Istimewa tetapi konsentrasi berat PVA ini bisa diekstrapolarsi kalau ada penelitian lain yang mencoba dengan persentase konsentrasi berat PVA sebesar ≤ 2%, 6%, dan 10%. Berikut ini yakni tabel karakteristik dari PVA (polyvinyl alcohol).

Tabel 1. Karakteristik PVA (Wikipedia, 2012)

Rumus Molekul
(C2H4O)
Kerapatan
1,19 – 1,39 g/cm3
Titik didih
228 oC
Titik lebur
230 oC

Matula et al., (2008) menjelaskan bahwa untuk mendapat materi anode SOFC yang paling baik, maka adonan harus disintering dengan temperature sintering ≤ 1400 oC dan direduksi pada temperatur minimal 800 oC  Hal ini terlihat dari Gambar 4, dimana pada gambar ini terlihat bahwa densitas dari Ni-YSZ meningkat seiring dengan penambahan suhu sintering tetapi akan kembali menurun kalau suhu sinteringnya lebih dari 1500 oC. Sedangkan kalau temperatur reduksi kurang dari 800 oC maka reduksi akan berlangsung tidak tepat lantaran masih adanya fase NiO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 4. Kurva sintering Ni-YSZ 50:50 (Matula et al., 2008)
Selain suhu sintering dan reduksi, komposisi NiO pada Ni-YSZ juga mensugesti materi yang akan dijadikan anode. Seperti yang diharapkan porositas meningkat terhadap NiO sebagai konsekuensi dari reduksi Ni. Efek ini menguntungkan untuk transport materi bakar di anoda. Namun, ketika tingkat porositas terlalu tinggi maka sifat mekanik berkurang. Berdasarkan pengujian sifat listrik ditemukan bahwa meningkatnya NiO mengakibatkan peningkatan konduktivitas pada Ni-YSZ. NiO yang lebih rendah dari 40% menghasilkan konduktivitas yang relative rendah dan material ini tidak sesuai untuk diaplikasikan sebagai anode pada SOFC. Untuk mempertahankan sifat mekanik yang tinggi yang dibutuhkan untuk anoda SOFC, komposisi NiO di NiO-YSZ adonan dihentikan lebih tinggi dari 60% tetapi dihentikan lebih kurang dari 40% biar harga konduktivitas keramik tidak terlalu rendah (Matula et al., 2008). Oleh lantaran itu, pada penelitian ini dilakukan pembuatan keramik Ni-CSZ untuk diaplikasikan sebagai anode SOFC dengan komposisi NiO 50% dengan suhu sintering 1500 oC dan direduksi pada suhu 900 oC.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 5. Proses yang terjadi selama pembuatan keramik secara fisis
Proses fisis yang terjadi selama pembuatan pelet Ni-CSZ secara fisis dijelaskan pada Gambar 5. sebagai berikut:

2.1. Keramik

Keramik sanggup didefinisikan sebagai adonan anorganik yang meliputi materi logam dan nonlogam yang dibuat menurut perlakuan panas dan tekanan (Boursoum, 1997). Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia, dan mineral bawaannya. Keramik mempunyai jenis yang sangat banyak. Salah satunya adalah ZrO2, dimana keramik ZrO2 memiliki karakteristik sebagai berikut: diguanakan pada suhu hingga 2.400 oC, kepadatan tinggi, konduktifitas termalnya rendah, kimia inertness, perlawanan terhadap logam cair , ionic konduksi listrik, ketangguhan perpatahan tinggi, kekerasan tinggi, (dalam Wikipedia, 2010). Gambar berikut pertanda diagram fasa ZrO2-CaO.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 6. Diagram fasa ZrO2-CaO. (Anonim, 2012)
Gambar 6. merupakan diagram fasa ZrO2 CaO. Dalam penelitian ini keramik CSZ diharapkan membentuk struktur kubik sehingga persentase mol CaO harus diantara 15% - 27% dan temperature sinteringnya ≤ 1500 oC.

2.3 Sintering

Proses sinter merupakan proses perlakuan panas pada serbuk ataupun padatan dari serbuk pada temperatur 2/3 dibawah titik leleh untuk meningkatkan kekuatan (Didiek et al., 2007). Proses sintering ini lebih efektif daripada proses kalsinasi. Dimana kalsinasi itu merupakan suatu metode pemisahan dengan memecah ikatan antar senyawa memakai pemanasan 800 oC karena pada suhu ini ikatan kompleks akan terpecah. Sedangkan pembakaran yakni suatu tahapan reaksi kimia antara suatu materi bakar dan suatu oksidan disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.

Proses sintering sangat efektif untuk mengurangi porositas, meningkatkan kekuatan, meningkatkan konduktivitas termal, dan meningkatkan kerapatan keramik sesuai dengan mikrostruktur dan komposisi fasa yang diinginkan. Selama proses sintering ukuran butir mengecil dan menjadi lebih bundar lantaran permukaan partikel masuk ke pori-pori di dalamnya sehingga porositas berkurang dan menciptakan sampel menjadi lebih padat. Gambar 7a. dan Gambar 7b. pertanda dua kemungkinan yang akan terjadi selama proses sintering.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 7. (a) Densifikasi diikuti dengan pertumbuhan butir (grain growth), (b) coarsening (Barsoum, 1997).
Kedua prosedur ini saling bersaing. Jika proses atomnya yang mendominasi yakni densifikasi, maka kerapatan dan porositasnya akan mengecil dan menghilang terhadap waktu. Tetapi, kalau proses coarsening lebih cepat, maka kekasaran dan porositasnya akan membesar terhadap waktu (Barsoum, 1997).

3. Polimeric Electrolyte Membrane Fuel Cells (PEMFC) (Mudzakir, 2010)

PEMFC merupakan sel materi bakar yang banyak dipilih dikarenakan sel materi bakar tersebut mempunyai sifat yang lebih menguntungkan, yakni bisa meminimalisir korosi yang sering terjadi dalam penggunaan sel materi bakar jenis laindengan materi elektrolit yang korosif, selain itu PEMFC sanggup beroperasi pada temperatur rendah (sekitar 80 oC). Pada PEMFC membran digunakan sebagai konduktor proton dan insulator elektronik sehingga mempermudah pengemasan dan meningkatkan efisiensi kerja transfer ion H+ hingga mencapai 40-50%. (Souza, 2003)

Membran yang ketika ini banyak digunakan untuk PEMFC yakni Nafion®. Politetrafluoroetilena dengan cabang gugus asam sulfonat (Nafion®) mempunyai konduktivitas proton, ketahanan mekanik, dan ketahanan termal yang baik. Namun membran Nafion® mempunyai kekurangan yaitu tidak ramah lingkungan, harga yang mahal serta mempunyai permeabilitas metanol yang tinggi sehingga tidak sanggup diaplikasikan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Oleh lantaran itu aneka macam penelitian dilakukan dengan tujuan mendapat membran gres yang lebih baik dari segi kualitas, harga dan ramah lingkungan dibandingkan dengan Nafion®.

Dalam PEMFC membran yang digunakan harus bermuatan negatif biar efisien dalam menarik dan melewatkan proton dari anoda ke katoda. Dan biar lebih ramah lingkungan membran harus sanggup terdegradasi secara alami, sehingga membran hasil pemakaian tidak menjadi limbah atau polutan.

Kitosan merupakan salah satu biopolimer yang memenuhi syarat untuk diaplikasikan sebagai membran dalam sel materi bakar. Karena kitosan bersifat hidrofilik, mempunyai kekuatan mekanik yang baik, gampang dimodifikasi secara kimia serta sanggup terdegradasi secara alami. Kitosan merupakan biopolimer yang berasal dari kulit udang yang telah dideasetilisasi. Sehingga pemanfaatan kitosan sebagai membran sanggup menjawab permasalahan limbah dan menaikkan nilai ekonomi kulit udang tersebut. Bila dibandingkan dengan Nafion® konduktivitas kitosan sangat rendah, sehingga untuk menaikkan konduktivitas ioniknya dilakukan sulfonasi pada kitosan.

Polymeric electrolyte membrane fuel cell (PEMFC) disebut juga proton exchange membrane fuel cell. Membran ini berupa lapisan tipis padat yang berfungsi sebagai elektrolit pemisah katoda dan anoda. Membran ini secara selektif mengontrol transport proton dari anoda ke katoda dalam sel materi bakar. PEMFC mengandung katalis platina. Selain itu, pada fuel cell ini tidak digunakan fluida yang bersifat korosif ibarat jenis sel materi bakar lainnya.

Membran polimer merupakan komponen yang sangat penting dalam PEM fuel cell. Membran polimer ini sanggup memisahkan reaktan dan menjadi sarana transportasi ion hidrogen yang dihasilkan di anoda menuju katoda sehingga menghasilkan energi listrik. Kemurnian gas hidrogen sangat mensugesti emisi buang sistem fuel cell berbasis polimer tersebut. Kemurnian hidrogen yang tinggi mengatakan tingkat emisi yang mendekati zero emission. Penggunaan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi juga sanggup memperpanjang waktu hidup membran fuel cell dan mencegah pembentukan karbonmonoksida (COx) yang beracun, pada permukaan katalis (Jamal, 2007).
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Skema PEMFC
Skema citra pada prinsip sel materi bakar ditunjukkan pada Gambar 8. hidrogen sebagai materi bakar yang dikonsumsi pada anoda, menghasilkan elektron yang dialirkan ke katoda melalui rangkaian luar. Ion hidrogen masuk ke larutan elektrolit dan tersebar ke katoda oleh aliran elektroosmotik. Pada katoda, oksigen dikombinasikan dengan elektron dan proton dari aliran elektrolit untuk menghasilkan air dan panas. Ionic liquids fuel cell (ILFs) merupakan sel materi bakar berbasis hidrogen dengan cairan ionik sebagai elektrolitnya, yang berfungsi sebagai media untuk proton (H+) bermigrasi dari anoda menuju ke katoda. Pada penelitian sebelumnya (Souza, 2003) telah melaksanakan penelitian mengenai cairan ionik imidazolium sebagai media penghantar proton dalam sel materi bakar.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 8. Diagram aplikasi sel materi bakar pada aneka macam bidang.
Dengan kemajuan yang signifikan, kini sel materi bakar telah diaplikasikan pada aneka macam bidang untuk memenuhi kebutuhan dan fasilitas bagi kehidupan manusia. Diantaranya untuk transportasi air, udara dan bahari serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan industri. Serta digunakan dalam aneka macam bidang ibarat industri, kedokteran, transportasi hingga militer.

3.1 Kitosan

Kitosan pertama kali ditemukan oleh ilmuan Perancis, Ojier, pada tahun 1823. Ojier meneliti kitosan hasil ekstrak kerak hewan berkulit keras, ibarat udang, kepiting, dan serangga.

Senyawa kitosan diperoleh dari proses deasetilisasi senyawa kitin. Kitin yakni poliamino sakarida yang cukup banyak terdapat di alam sesudah selulosa, susunan molekulnya ibarat dengan selulosa. Keterbatasan penggunaan kitin disebabkan kitin sukar larut dalam beberapa pereaksi. Oleh lantaran itu kitin banyak digunakan sesudah ditransformasikan dalam bentuk kitosan. Gambar 9. memperlihatkan reaksi transformasi kitin menjadi kitosan.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 9. Reaksi Transformasi Kitin Menjadi Kitosan. [1]
Kitosan yang sanggup diperoleh dari deasetilasi kitin merupakan biopolimer yang potensial untuk dijadikan materi dasar membran sel materi bakar (fuel cell membranes). Dikarenakan keunggulan material ini yang bersifat hidrofilik, mempunyai ketahanan mekanik yang tinggi, gampang dimodifikasi secara kimia, ramah lingkungan serta keberadaanya yang melimpah di alam.

3.2 Kitosan Sulfonat

Untuk meningkatkan konduktivitas membran kitosan dan menurunkan permeasi terhadap metanol dalam aplikasi sel materi bakar dilakukan proses sulfonasi terhadap kitosan. Reaksi sulfonasi sanggup diartikan sebagai suatu reaksi subtitusi untuk mengganti atom hidrogen dengan gugus –SO3H pada molekul organik melalui ikatan kimia pada atom karbon. Syarat untuk terjadinya sulfonasi yakni keasaman fasa yang harus dipenuhi, lantaran kalau terjadi perbedaan fasa antara gugus sulfonasi dengan polimer yang akan disulfonasi sanggup mengakibatkan reaksi sulfonasi mengalami kegagalan. Selain itu dalam reaksi ini dibutuhkan suatu pelarut yang mempunyai kelarutan yang baik.

Proses sulfonasi sanggup dilakukan dengan senyawa yang mempunyai gugus sulfonat diantaranya yaitu asam sulfat (H2SO4), oleum, asetil sulfat, dan asam klorosulfonat. Proses sulfonasi pun sanggup dilakukan dengan 2 metode, metode pertama yaitu metode konvensional dan metode yang kedua memakai dukungan gelombang mikro (microwave oven). Hasil karakterisasi penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfonat yang dihasilkan dengan metoda konvensional mempunyai sifat termal dan kapasitas penukar proton yang lebih tinggi dibandingkan membran yang diperoleh dengan dukungan gelombang mikro. 

Namun demikian, membran yang dihasilkan dari metoda pertama sangat rapuh. Sebaliknya, membran kitosan tersulfonasi yang diperoleh dari hasil reaksi dengan dukungan gelombang mikro mempunyai kekuatan mekanik yang baik untuk uji permeasi selanjutnya. Data penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa membran kitosan sulfat yang disintesis dengan gelombang mikro mempunyai nilai permeasi terhadap metanol yang lebih rendah dibandingkan dengan membran kitosan tanpa sulfonasi (Velianti, 2008). Gambar 10. memperlihatkan reaksi transformasi kitosan menjadi kitosan sulfonat dengan asam klorosulfonat sebagai biro pensulfonasinya.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 10. Reaksi Transformasi Kitosan Menjadi Kitosan Sulfonat. [10]
Penelitian mengenai sintesis kitosan sulfat dengan dukungan gelombang mikro telah dilakukan sebelumnya (Mansyur, 2009). Gelombang mikro digunakan untuk membantu pemasukan gugus N-sulfo dan O-sulfo pada kitosan. Struktur kitosan sulfonat yang didapatkan dengan gelombang mikro tidak jauh berbeda dengan struktur kitosan. Karakterisasi penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan memakai gelombang infra merah menghasilkan spektrum khas yang sama dengan kitosan hanya berbeda serapan pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1 yang memperlihatkan vibrasi ulur ikatan –SO2O-O- dan pada serapan 1018,41 cm-1 yang memperlihatkan ikatan C-O-S. Selain itu, puncak gugus C=O yang terdapat pada bilangan gelombang 1658 cm-1 mempunyai kesamaan antara kitosan dan kitosan sulfonat memperlihatkan bahwa rantai polimer tidak mengalami pemutusan ikatan.

3.3 Modifikasi Membran dengan Cairan ionik

Pemodifikasian membran Nafion® dengan cairan ionik 1-etil-3-metilimidazolium (EMI) telah dilakukan oleh Bennett, et al. (2005). Pemodifikasian tersebut dilakukan untuk mengetahui efek cairan ionik pada membran Nafion® dengan cara identifikasi pada nilai konduktivitas membran dan morfologi membran. Pemodifikasian dilakukan dengan cara meredam membran dalam cairan ionik / metanol dengan perbandingan 1:1 (v/v) selama 3 jam pada suhu ruang dan pada suhu 70 oC. Metanol dipilih lantaran sanggup melarutkan cairan ionik dan sifatnya yang gampang menguap. Membran kemudian dikeringkan pada suhu 110 oC selama 3 jam untuk menghilangkan metanol. Dilaporkan pula bahwa proses pemodifikasian membran dengan cairan ionik akan lebih baik pada suhu tinggi, namun penguapan methanol sangat cepat pada suhu 90 oC, sehingga proses pemodifikasian tidak terkendali.

3.4. Cairan Ionik (Ionic Liquids)

Cairan ionik (ionic liquids) yakni suatu senyawa yang hanya mempunyai spesies ionik tanpa adanya molekul netral yaitu hanya terdiri atas kation-anion (Hermanutz, et al., 2006). Dalam arti luas, istilah ini meliputi semua garam cair, misalnya, lelehan natrium klorida pada suhu yang lebih tinggi dari 800 °C. Namun, pada ketika ini, istilah "cairan ionik" digunakan untuk garam dengan titik lebur yang relatif rendah (dibawah 100 °C). Berbeda dengan garam cair (molten salt) yang biasanya mempunyai titik leleh dan viskositas tinggi, juga sangat korosif, cairan ionik umumnya berwujud cair pada suhu kamar, mempunyai viskositas relatif lebih rendah dan relatif tidak mempunyai sifat korosif (Toma, et al., 2000). Dengan demikian, cairan ionik (ILs) hanya digunakan untuk garam dengan titik leleh yang relatif rendah, yaitu terletak pada suhu < 100 - 150 oC (Hagiwara dan Ito, 2000; Hermanutz, et al., 2006), terutama garam yang berbentuk cairan pada suhu kamar lebih dikenal dengan room-temperature ionic liquids (RTILs).

Keuntungan dari sifat yang dimiliki cairan ionik yakni mempunyai rentang cair besar, sekitar 300 °C (-96 hingga lebih dari 200 °C) ; mempunyai kestabilan termal dan elektrokimia yang tinggi; merupakan pelarut yang baik bagi material organik, anorganik maupun polimer; tidak gampang menguap; tidak gampang terbakar; tidak beraroma (bau yang ditimbulkan berasal dari pengotor); memperlihatkan keasaman Bronsted, Lewis, Franklin dan keasaman yang tinggi (Superacidity); sanggup menjadi katalis sekaligus sebagai pelarut; mempunyai sifat selektif yang tinggi terhadap suatu reaksi dan sebagainya (Fitzwater, et al., 2005; Lajunen, 2006; Pitner, 2004).

Sifat dari cairan ionik sanggup diadaptasi dengan mengubah struktur kation dan anionnya (Murugesan dan Linhardt, 2005). Sifat-sifat cairan ionik ibarat kepolaran atau hidrofilisitas/ lipofilisitas yang bisa diatur tergantung dari kation maupun anion yang menyusunnya mengakibatkan cairan ionik dikenal sebagai tailored-made solvents (Gordon, 2003).

Jenis-jenis kation yang sering digunakan sebagai kation cairan ionik diantaranya yakni sebagai berikut (Murugesan dan Linhardt, 2005):
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 11. Beberapa Jenis Kation Cairan Ionik.
Sedangkan jenis anion yang sering digunakan diantaranya yakni tetraflouroborat [BF4]-, heksaflouroposfat ([PF6]-), heksafluoro antimonat ([SbF6]-), nitrat ([NO3]-), tosilat ([Ots]-), triflat ([Otf]-), bromida (Br-), klorida (Cl-), iodida (I-), triflouroasetat ([CF3CO2]-), perklorat ([ClO4]-), germanium klorida ([GeCl3]-), bis(trifluorometilsulfonil) imida ([NTf2]-), aluminium klorida ([Al2Cl7]-), aluminium tetraklorida ([AlCl4]-), asetat ([CH3CO2]-), dan benzoat ([C6H5CO2]-) (Murugesan dan Linhardt, 2005).

3.4.1 Sintesis Cairan Ionik

Tahapan sintesis dari cairan ionik sanggup dibagi menjadi dua tahap, yaitu: pembentukan kation yang diinginkan dan pergantian anion untuk membentuk produk yang diinginkan. Pada beberapa kasus, produk sanggup eksklusif dihasilkan tanpa melaksanakan tahap kedua ibarat pada pembentukan etilammonium nitrat. Kebanyakan masalah kation yang diinginkan secara komersil tersedia dalam harga yang masuk akal (seperti garam halida, garam tetraalkilammonium dan trialkilsulfonium iodida), yang hanya digunakan untuk reaksi pergantian anion. Reaksi yang digunakan untuk mensintesis cairan ionik meliputi reaksi kuartenerisasi dan reaksi pergantian anion (Gordon, 2003).

3.4.2 Reaksi Kuartenerisasi

Pembentukan kation sanggup dihasilkan melalui protonasi dengan adanya asam bebas atau kuartenerisasi dari amina atau fosfin, biasanya dengan haloalkana. Reaksi protonasi, yang biasa digunakan pada pembentukan garam ibarat etilammonium nitrat, melibatkan penambahan asam nitrat 3 M yang kemudian didinginkan ke dalam larutan etilamin. Kelemahan proses ini yaitu dihasilkannya residu amina yang tidak diharapkan (Gordon, 2003).

Pada prinsipnya, reaksi kuartenerisasi sangatlah sederhana, amin atau fosfin dicampurkan dengan haloalkana yang diinginkan kemudian diaduk dan dipanaskan. Garam halida yang dihasilkan pun sanggup dengan gampang dirubah menjadi garamgaram lain dengan anion yang berbeda (Gordon, 2003).

3.4.3 Reaksi Pergantian Anion

Reaksi pergantian anion sanggup dibagi dalam dua kategori yaitu perlakuan eksklusif dari garam halida dengan asam lewis dan pembentukan cairan ionik melalui reaksi metatesis anion (Gordon, 2003).

3.4.3.1 Reaksi Asam Basa Lewis

Pembentukan cairan ionik dengan proses ini dilakukan dengan perlakuan dari garam halida dengan asam Lewis (biasanya AlCl3). Proses yang umum dilakukan yaitu perlakuan dari kuartener garam halida Q+X- dengan asam Lewis MXn menghasilkan pembentukan lebih dari satu spesi anion yang bergantung dari perbandingan relatif dari Q+X- dan MXn. Pembentukan dari proses ini sanggup dicontohkan dengan etilmetilimdazolium (EMIM) klorida dan AlCl3 seperti reaksi dibawah ini:

[EMIM]+Cl- + AlCl3 → [EMIM]+ [AlCl4]-
[EMIM]+ [AlCl4]- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al2Cl7]-
[EMIM]+ [Al2Cl7] -- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al3Cl10]

Metode yang sering digunakan untuk pembentukan cairan ionik dilakukan dengan pencampuran sederhana dari asam Lewis dengan garam halida. Reaksi umumnya eksoterm, ketika menambahkan satu zat ke dalam zat lain haruslah dengan sangat hati-hati. Walaupun garam relatif stabil akan suhu, panas yang terbentuk dari lingkungan sanggup mengakibatkan dekomposisi cairan ionik yang disintesis. Hal ini sanggup dicegah dengan pendinginan selama proses pencampuran, walaupun hal itu dirasakan sangat sulit, atau bisa juga dengan menambahkan suatu zat ke dalam zat lain dengan jumlah yang sedikit demi sedikit. Dekomposisi atau pengurangan jumlah terjadi akhir adanya hidrolisis yang terjadi dalam cairan. Tetapi, hal yang biasa kalau produk yang dihasilkan tidak murni 100% atau tercemar dengan pengotor. Hal itu pun niscaya terjadi pada sintesis cairan ionik, dan pengotor yang biasa mengkontaminasi produk yakni pelarut organik (Gordon, 2003).

3.4.3.2 Reaksi Metatesis Anion

Reaksi metatesis anion biasanya terjadi pada garam-garam yang ditambahkan dengan garam perak (AgNO3, AgNO2, AgBF4, Ag[CO2CH3] dan Ag2SO4) dalam metanol atau larutan metanol. Pada beberapa aplikasi, produk akan berupa cairan pada suhu ruangan. Kombinasi dari anion sanggup menghasilkan perbedaan sifat termal yang berbeda-beda (Gordon, 2003).

3.5. Fatty Imidazolinium sebagai Sistem Kation Baru pada Cairan Ionik

Kation fatty imidazolinium pada Gambar 12(b) mempunyai struktur dan fungsi yang sangat ibarat dengan kation imidazolium Gambar 12(a), berbeda hanya pada gugus substituen pada N3 [dengan adanya gugus amida, -[C(O)(NH)] pada Gambar 12(b) dan adanya ikatan rangkap pada sistem lingkar Gambar 12 (a). Garam fatty imidazolinium ini sanggup disintesis dari asam lemak (Bajpai, dan Tyagi, 2006; Tyagi, et al., 2007), sehingga dimungkinkan untuk mendapat garam ini dari minyak nabati terbarukan lokal.
 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 12. Struktur Kation Imidazolium (a) dan Fatty Imidazolinium (b)

 Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup  Pintar Pelajaran Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh
Gambar 13. Struktur Molekul dari (i) Fatty Imidazoline dan (ii) Kation Fatty Imidazolinium
Penggunaan iradiasi gelombang mikro (microwave irradiation) dalam sintesis organik memperlihatkan beberapa laba yaitu umumnya reaksi sanggup berlangsung dalam waktu yang singkat, rendemen yang diperoleh tinggi, dan kemurnian hasil yang tinggi. Selain itu, reaksi kering (dry reaction) dalam microwave menarik perhatian para peneliti lantaran sanggup meminimalisir keracunan akhir penguapan dari pelarut organik yang berbahaya bagi badan (Bajpai et al., 2008).

3.6 Mekanisme Pemanasan dengan Gelombang Mikro

Gelombang mikro merupakan salah satu bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 0,01 hingga 1 meter. Gelombang mikro terletak di antara gelombang inframerah dan gelombang radio dan mempunyai frekuensi berkisar antara 0,3 samapai 30 GHz. Untuk penggunaan dalam laboratorium, frekuensi yang sering digunakan yakni 2,45 GHz. Proses pemanasan dalam sintesis organik dengan gelombang mikro melibatkan agitasi molekul polar atau ion yang bergetar dibawah efek medan magnet atau arus listrik yang bergetar. Dalam medan yang bergetar, partikel-pertikel berusaha untuk mengorientasi diri biar menjadi sefasa. Gerakan partikel-partikel dibatasi oleh gaya dalam partikel yang menghasilkan gerakan acak hingga kesudahannya menghasilkan panas.

Respon aneka macam material terhadap radiasi gelombang mikro bermacam-macam dan tidak semua material sanggup mengalami pemanasan oleh gelombang mikro, hanya material yang mengadsorpsi radiasi gelombang mikro saja yang sesuai dengan microwave chemistry.

Material ini dikelompokkan menurut prosedur pemanasannya:

3.6.1. Polarisasi dipolar

Polarisasi dipolar merupakan proses menghasilkan panas oleh molekul polar. Molekul polar yang berada dalam medan elektromagnetik yang berosilasi dengan frekuensi yang sesuai berusaha untuk mengikuti medan dan menjajarkan diri biar sefasa dengan medan. Adanya gaya dalam molekul mengakibatkan molekul polar tidak sanggup mengikuti orientasi medan. Peristiwa tersebut menghasilkan pergerakan partikel acak yang akan menghasilkan panas.

Polarisasi dipolar sanggup menghasilkan panas dengan salah satu atau dua prosedur ini :

a. Interaksi antara molekul pelarut polar, seperti: air, methanol dan etanol
b. Interaksi antara molekul terlarut polar, seperti: ammonia dan asam format

Radiasi gelombang mikro mempunyai frekuensi yang sesuai (0,3-30 GHz) untuk mengosilasi partikel polar dan bernilai cukup besar untuk interaksi intermolekul. Disamping itu, energi foton gelombang mikro sangat rendah (0,037 kkal/mol) relatif terhadap energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan molekul (80-120 kkal/mol). Oleh lantaran itu, eksitasi molekul dengan gelombang mikro tidak mensugesti struktur molekul. Interaksi yang terjadi murni kinetik.

3.6.2. Mekanisme konduksi

Panas dihasilkan lantaran adanya resistansi terhadap arus listrik. Medan elektromagnetik yang bergetar menghasilkan getaran electron atau ion dalam konduktor dan menghasilkan arus listrik. Arus yang masuk kedalam tahanan internal akan memanaskan konduktor.

3.6.3. Polarisasi antar muka (Interfacial polaritation)

Mekanisme pemanasan jenis ini merupakan gabungan dari prosedur polarisasi dipolar dan prosedur konduksi. Keuntungan sintesis dengan gelombang mikro ialah laju reaksi meningkat dengan adanya fenomena superboiling. randemen lebih tinggi, pemanasan lebih merata, lebih ramah lingkungan, pemanasan lebih selektif lantaran respon tiap molekul pada radiasi gelombang mikro berbeda-beda.

2.6 Konduktivitas Ionik

Konduktivitas listrik timbul lantaran adanya migrasi elektron atau migrasi ion. Konduktivitas elektronik yakni konduktivitas listrik yang disebabkan migrasi elektron-elektron. Sedangkan konduktivitas ionik yakni konduktifitas yang terjadi lantaran adanya migrasi ion-ion. Konduktivitas ionik bergantung pada jenis ion yang bermigrasi dalam material. Material disebut konduktor anionik kalau ion-ion pembawa muatan negatif yang bermigrasi sedangkan untuk ion-ion pembawa muatan aktual yang bergerak maka material tersebut dinamakan konduktor kationik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.(2012). Solid Oxide Fuel Cell. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/solid_oxide_fuel_cell. [22 Maret 2012].

Bajpai, Divya dan Tyagi, V. K. (2008). Microwave Synthesis of Cationic Fatty Imidazolines and their Characterization. AOCS.

Barsoum, Michel. (1997). Fundamental of Ceramics. Library of Congress in Publication Data: Singapore

Bennet, M. (2005). “Morphological and Electromechanical Characterization of Ionic Liquid / Nafion Polymer Composites”. Virginia Tech.

Cook, Brian. (2001). An Introduction to Fuel Cell and Hydrogen Technology. Canada.

De Guire, Eileen J. (2003). Solid Oxid Fuel Cell. Tersedia: http://www.csa.com/discoveryguides/fuelcell/overview.php. [17 Maret 2012].

Fitzwater, G., Geissler, W., Moulton, R., Plechkova, N.V., Robertson, A., Seddon, K.R., Swindall, J., dan Joo, K.W. (2005) “Ionic Liquids: Source of Innovation”. [Online]. Tersedia : http://quill.qub.ac.uk/source [8 Juli 2010]

Gordon, C. M., (2003)., Synthesis and Purification of Ionic Liquid, Ionic Liquid in Synthesis. P. Wasserscheid dan T. Welton (Eds.), Wiley Verlag, Frankfurt.

Handayani, Sri. (2008). Membran elektrolit berbasis polieter-eter keton tersulfonasi untuk direct methanol fuel cell suhu tinggi. Skripsi Universitas Indonesia (UI) Jakarta: tidak diterbitkan.

Herhady, R.Didiek, R.Sukarsono. (2007). Pengaruh suhu dan waktu sintering terhadap kualitas materi bakar kernel UO2 dalam Furnace jenis Fluidized Bed. ISSN: 0854-2910: Jakarta.

Herliyani, E. 2012. Pengaruh Penambahan Polyvinyl Alcohol (Pva) Terhadap Karakteristik Keramik Ni-Csz Untuk Diaplikasikan Sebagai Anode Pada Sofc. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Hermanutz, F., Meister, F., dan Uerdingen, E. (2006). “A new Developments in the Manufacture of Cellulose fibers with ionic liquids”. Chemical Fibers International. 342-344.

Jamal, E. (2007). “Pembuatan Membran Fuel Cell dari Limbah Plastik LDPE (Low Density Poly-Ethylene)”. Laporan Karya Ilmiah. Institut Teknologi Bandung.

Lajunen, M. (2006). “Green Chemistry for Sustainable Production”. Waste Minimization and Resources Optimization. Department of Chemistry University of Oulu.

Mansyur, Rosida., (2009). “Sintesis Kitosan Sulfonat Sebagai Surfaktan”. Tesis. Institut Teknologi Bandung.

Matula, G, T. Jardiel, R. Jimenez, B. Levenfeld, A.Varez. (2008). Microstructure, mechanical and electrical properties of Ni-YSZ anode supported solid oxide fuel cells. Volume 32. Pages 21-25. Archives of Materials Sciences and Engineering. Madrid, Spanyol.

Mudzakir, A.. 2010. Pengaruh Impregnasi Cairan Ionik Fatty Imidazolinium Terhadap Morfologi Dan Karakter Elektrokimia Membran Polielektrolit Kitosan Sulfonat. Skripsi. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. repository.upi.edu

Pitner, W. (2004). “Ionic Liquids : Properties and Applications”. Ionic Liquids Workshop. Royal Society of Chemistry. 1-53.

Rusianto, Toto. (2009). Hot Pressing Metalurgi Serbuk Aluminum dengan Variasi Suhu Pemanasan. Volume 2. Pages 89-95.

Souza, F.R., Padilha, J., Goncalves, R., Dupont, J. (2003). “Room Temperature dialkylimidazolium ionic liquids –based fuel cell” Laboratory of Molecular Catalysis and laboratory of Electrochemistry, Institute of Chemistry, Brazil.

Toma, G., Gotov, B., dan Solcaniova, E. (2000). “Enantioselective Allylic Substitution Catalyzed by Pd0–Ferrocenylphosphine Complexes in [Bmim][PF6] IonicLiquid”, Green Chem. 2, 149.

Velianti., (2008). “Sintesis dan Karakterisasi Membran Kitosan Sulfat untuk Aplikasi Fuel Cell”. Skripsi. Institut Teknologi Bandung.

Referensi Lainnya :

[2] http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S014181301100482X

Anda kini sudah mengetahui Sel Bahan Bakar. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.