Showing posts sorted by relevance for query gangguan-fisiologis-pada-tulang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query gangguan-fisiologis-pada-tulang. Sort by date Show all posts

Sunday, May 19, 2019

Pintar Pelajaran Gangguan Fisiologis Pada Tulang

Gangguan Fisiologis Tulang - Penyebab tulang mengalami gangguan fisiologis yaitu adanya keabnormalan fungsi hormon atau tulang kekurangan mineral dan vitamin. Gangguan ini mengakibatkan kelainan di antaranya berupa : (Baca : Gangguan Tulang)

1. Hidrocephalus

Hidrocephalus yaitu suatu kelainan yang ditandai pengumpulan abnormal cairan spinal dan terjadi pelebaran rongga dalam otak sehingga kepala membesar, disebut juga megalochephalus.

2. Mikrocephalus

Mikrocephalus yaitu gangguan pertumbuhan tulang tengkorak jawaban kekurangan zat kapur ketika pembentukan tulang pada bayi.

3. Osteoporosis

Osteoporosis yaitu pengeroposan tulang yang terjadi karena kekurangan hormon sehingga tulang mudah patah dan rapuh.

4. Rakhitis

Rakhitis yaitu gangguan tulang alasannya yaitu kekurangan vitamin D. Biasanya terjadi pada bawah umur dalam masa pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan tulang terganggu sehingga bentuk kaki membelok keluar (berbentuk huruf X) atau membengkok ke dalam (berbentuk aksara O).

Anda kini sudah mengetahui Gangguan Fisiologis pada Tulang. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :
Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Monday, May 20, 2019

Pintar Pelajaran Gangguan Dan Kelainan Pada Tulang


Gangguan Tulang dan Kelainan pada Tulang. Orang yang mengalami patah tulang biasanya dirawat dengan memasang ”gips” pada tempat tulang yang patah, misal kaki. Menurut Anda apa maksud kaki orang itu ”di gips”? Dapatkah tulangnya yang patah itu tersambung kembali? Patah tulang merupakan salah satu dari gangguan atau kelainan pada tulang. Kelainan atau gangguan tersebut sering terjadi dan sanggup Anda amati di sekitar Anda. Selain karena gangguan mekanis (misalnya pada patah tulang), kelainan tulang dapat terjadi akhir infeksi, gangguan fisiologis, gangguan persendian, dan kesalahan sikap. (Baca juga : Sistem Gerak Pasif)






Anda kini sudah mengetahui Gangguan Tulang dan Kelainan Tulang. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :
Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Wednesday, September 18, 2019

Pintar Pelajaran Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan

Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan - Vitamin A ialah kelompok nutrisi hidrokarbon tak jenuh, yang mencakup retinol, retinal, asam retinoat, dan beberapa karotenoid provitamin A, di antaranya  adalah beta-karoten yang merupakan karotenoid provitamin A terpenting [1]. Vitamin A mempunyai beberapa fungsi, yaitu; sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta untuk pemeliharaan sistem kekebalan tubuh dan visi/penglihatan  yang baik [2]. Vitamin A dibutuhkan oleh retina mata dalam bentuk retinal. Retinal berkombinasi dengan  protein opsin untuk membentuk rhodopsin yang merupakan molekul menyerap cahaya [3]. Rhodopsin sangat diharapkan untuk menangkap cahaya rendah (visi scotopic) dan penentuan warna yang dilihat oleh mata [4]. Vitamin A juga juga sanggup berfungsi dalam tugas yang berbeda dalam bentuk retinol yang teroksidasi secara irreversibel yang dikenal sebagai asam retinoat. Asam retinoat berperan menyerupai hormon untuk faktor  pertumbuhan bagi sel epitel dan sel-sel lainnya [5].
 Vitamin A ialah kelompok nutrisi hidrokarbon tak jenuh Pintar Pelajaran Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan
Gambar 1. Trans Retinol. [65]
Pada masakan yang berasal dari hewan, bentuk utama dari vitamin A ialah ester, terutama dalam bentk retinyl palmitate yang kemudian akan dikonversi menjadi retinol (secara kimia ialah alkohol) di usus kecil. Bentuk retinol ini berfungsi sebagai kawasan penyimpanan vitamin, kemudian sanggup dikonversi dari dan menjadi bentuk aldehida visual aktif, berupa retinal. Senyawa asam yang berafiliasi dengan vitamin A berupa retinoic acid, merupakan suatu metabolit yang sanggup disintesis secara irreversibel dari vitamin A dan hanya merupakan sebagian dari acara vitamin A. Retinoic acid ini tidak berfungsi pada siklus penglihatan yang terjadi di retina. Retinoic acid dipakai untuk pertumbuhan dan diferensisasi seluler [6].

Semua bentuk vitamin A mempunyai cincin beta-Ionone dimana terdapat rantai isoprenoid pada cincin tersebut, kelompok ini kelompok retinil. Kedua fitur struktural tersebut sangat penting untuk acara vitamin [7]. Pigmen oranye pada wortel, beta-karoten, sanggup direpresentasikan sebagai dua kelompok retinil yang terhubung, yang dipakai di dalam tubuh untuk berkontribusi terhadap tingkatan vitamin A. Alpha-karoten dan gamma-karoten juga mempunyai kelompok retinil tunggal, yang memperlihatkan mereka beberapa acara vitamin. Tidak satu pun dari karoten jenis lain mempunyai acara vitamin. Karotenoid, beta-cryptoxanthinpossesses, mempunyai kelompok Ionone dan mempunyai acara vitamin pada manusia.

Vitamin A sanggup ditemukan dalam dua bentuk utama di dalam masakan :

Senyawa dan kondisi kimia lingkungannya
Mikrogram retinol yang setara dengan satu mikrogram senyawa pada tabel di samping
retinol
1
Beta-karoten, yang larut dalam minyak
1/2
Beta-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/12
Alpha-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/24
Gamma-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/24
Beta-cryptoxanthin, terdapat pada masakan secara umum
1/24

Retinol ialah bentuk dari vitamin A yang diperoleh ketika mengkonsumsi sumber pangan hewani. Retinol berwarna kuning dan merupakan senyawa yang larut dalam lemak. Oleh sebab dalam bentuk alkohol murni bersifat tidak stabil, vitamin yang ditemukan di dalam jaringan berbentuk ester retinil. Retinol juga diproduksi secara komersial dalam bentuk ester menyerupai retinil asetat atau palmitat [8].

Karoten; alpha-karoten, beta-karoten, gamma-karoten, dan xanthophyll beta-cryptoxanthin (semuanya mengandung cincin beta-Ionone), berfungsi sebagai provitamin A pada binatang herbivora dan omnivora yang mempunyai enzim 15-15'-dioxygenase yang memotong beta-karoten dalam mukosa usus dan mengkonversinya menjadi retinol [9]. Secara umum, karnivora ialah converter yang jelek dari karotenoid yang mengandung ionin. Karnivora murni menyerupai kucing dan musang kekurangan 15-15'-dioxygenase dan tidak sanggup mengkonversi karotenoid menjadi retinal (sehingga menimbulkan tidak ada karotenoid dalam bentuk vitamin A pada spesies ini).

1. Sejarah Vitamin A

Penemuan vitamin A kemungkinan berasal dari penelitian yang dilakukan pada tahun 1816, ketika seorang fisiologis berjulukan Magendie mengamati bahwa anjing kekurangan nutrisi menderita ulkus kornea dan mempunyai tingkat janjkematian yang tinggi [10]. Pada tahun 1912, Frederick Gowland Hopkins memperlihatkan bahwa "faktor aksesori" yang tidak diketahui ditemukan di dalam susu, selain karbohidrat, protein, dan lemak yang diharapkan untuk pertumbuhan pada tikus. Hopkins mendapatkan Hadiah Nobel untuk inovasi ini pada tahun 1929.[11][12] Pada tahun 1917, salah satu zat ini secara independen ditemukan oleh Elmer McCollum dari University of Wisconsin-Madison, dan Lafayette Mendel dan Thomas Osborne Burr dariYale University yang mempelajari tugas lemak di dalam diet. "Faktor aksesori" diberi istilah "larut dalam lemak (fat-soluble)" pada tahun 1918 dan kemudian diberi nama "vitamin A" pada tahun 1920. Pada tahun 1919, Harry Steenbock (University of Wisconsin) mengusulkan relasi antara pigmen tumbuhan berwarna kuning (beta-karoten) dengan vitamin A. Pada tahun 1931, seorang kimiawan dari Swiss berjulukan Paul Karrer menggambarkan struktur kimia vitamin A. [13] Vitamin A pertama kali disintesis pada tahun 1947 oleh dua kimiawan asal Belanda; David Adriaan van Dorp dan Jozef Ferdinand Arens.

2. Nilai Ekuivalen dari Retinoid dan Karotenoid

Beberapa jenis karotenoid sanggup dikonversi menjadi vitamin A. Beberapa upaya telah dilakukan untuk memilih berapa banyak nilai dari kandungan karotenoid di dalam masakan yang setara dengan jumlah retinol tertentu, sehingga perbandingan dari manfaat masakan yang berbeda sanggup dibuat. Selama bertahun-tahun, sistem international unit (IU) yang dipakai ialah satu IU setara dengan 0,3 ug retinol, 0,6 ug β-karoten, atau 1,2 mg provitamin A karotenoid [14] Kemudian, satuan lainnya yang disebut retinol equivalent (RE) diperkenalkan. Sebelum tahun 2001, satu RE setara dengan: 1 mg retinol, 2 mg β-karoten yang larut dalam minyak (pada kebanyakan pil suplemen hanya sebagian yang larut, sebab tingkat kelarutan sangat rendah pada medium apapun), 6 mg β-karoten pada masakan normal (karena tidak diserap ketika dalam minyak), dan 12 ug α-karoten, γ-karoten, atau β-cryptoxanthin di dalam makanan.

Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa, penyerapan provitamin-A karotenoid hanya setengah dari jumlah yang diperkirakan sebelumnya. Sebagai hasilnya, pada tahun 2001, US Institute of Medicine mengeluarkan satuan gres yaitu, retinol activity equivalent (RAE). Satu μg RAE setara dengan 1 μg retinol, 2 μg β-carotene di dalam minyak,12 μg "dietary" beta-carotene, dan 24 μg 3 “dietary” provitamin-A karotenoid lainnya [15].

Oleh sebab konversi retinol dari provitamin karotenoid oleh tubuh insan secara aktif diatur oleh jumlah retinol yang tersedia di dalam tubuh, konversi berlaku ketat hanya untuk insan yang mengalami defisiensi/kekurangan  vitamin A. Penyerapan provitamin sangat tergantung pada jumlah lipid yang tertelan bersamaan dengan provitamin tersebut; lipid meningkatkan serapan dari provitamin. [16].

Kesimpulan yang sanggup ditarik dari penelitian terbaru, adalah, bahwa buah-buahan dan sayuran tidak  begitu berkhasiat untuk mendapatkan vitamin A, menyerupai yang diperkirakan sebelumnya, dengan kata lain, IU yang dilaporkan terkandung pada masakan ini bernilai jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah dari IU yang terkandung di dalam minyak yang larut dalam lemak dan (sampai batas tertentu) suplemen . Hal ini penting untuk vegetarian, dimana rabun senja lazim terjadi pada negara-negara yang sedikit menyediakan masakan atau dagin yang diperkaya dengan vitamin A .

Contoh dari pola makan seorang vegetarian selama satu hari yang menyediakan vitamin A yang cukup telah diterbitkan oleh Food and Nutrition Board (halaman 120 [15]). Di sisi lain, nilai teladan untuk retinol atau persamaannya yang disediakan oleh National Academy of Sciences telah menurun. RDA (untuk pria) pada tahun 1968 ialah 5000 IU (1500 mg retinol). Pada tahun 1974, RDA ditetapkan sebesar 1000 RE (1000 ug retinol), sedangkan satt ini Dietary Reference Intake sebesar 900 RAE (900 mg atau 3000 IU retinol). Nilai itu setara dengan 1.800 mg suplemen β-karoten (3000 IU) atau 10800 ug β-karoten di dalam masakan (18000 IU).

3. Asupan Vitamin A Harian yang Disarankan Berdasarkan Dietary Reference Intake : [17]

Umur
RDA
Adequate intakes (AI*)
μg/hari
Ambang batas
μg/day
bayi
0–6 bulan
7–12 bulan

400
500

600
600
Anak-anak
1–3 tahun
4–8 tahun

300
400

600
900
Pria
9–13 tahun
14–18 tahun
19 – >70 tahun

600
900
900

1700
2800
3000
Wanita
9–13 tahun
14–18 tahun
19 – >70 tahun

600
700
700

1700
2800
3000
Wanita Hamil
<19 tahun
19 – >50 tahun

750
770

2800
3000
Masa Menyusui
<19 tahun
19 – >50 tahun

1200
1300

2800
3000


(Ambang batas pada tabel di atas ialah untuk retinol sintetis dan alami berbentuk ester dari vitamin A. bentuk karoten yang bersumber dari masakan tidak beracun. [18] [19])

Menurut Institute of Medicine of the National Academies, "RDA ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dari hampir semua (97-98%) individu dalam suatu kelompok. Untuk bayi sehat yang disusui, nilai AI ialah asupan rata-rata. Sedangkan AI untuk kelompok lainnya diyakini sanggup menutupi kebutuhan semua individu dalam kelompok, namun kurangnya data mencegah untuk sanggup meyakinkan jumlah persentase individu yang tercakup oleh asupan ini. "[20]

4. Makanan Sumber-Sumber Vitamin A

Vitamin A ditemukan secara alami pada banyak sekali jenis masakan :
  • minyak hati ikan cod (30000 μg)
  • hati (kalkun) (8058 μg)
  • hati (sapi, ikan) (6500 μg 722%)
  • hati (chicken) (3296 μg)
  • dandelion (5588 IU 112%)[21]
  • wortel (835 μg 93%)
  • daun brokoli (800 μg 89%) – menurut database dari USDA database bunga brokoli mengandung lebih sedikit vitamin A.[22]
  • ubi jalar (709 μg 79%)
  • mentega (684 μg 76%)
  • kubis (681 μg 76%)
  • bayam (469 μg 52%)
  • labu (400 μg 41%)
  • daun collard (333 μg 37%)
  • keju cheddar (265 μg 29%)
  • melon (169 μg 19%)
  • telur (140 μg 16%)
  • aprikot (96 μg 11%)
  • pepaya (55 μg 6%)
  • mangga (38 μg 4%)
  • kacang (38 μg 4%)
  • brokoli (31 μg 3%)
  • susu (28 μg 3%)
  • tomat
  • rumput laut
Catatan: Data yang diambil dari basis data USDA yang berada di dalam kurung ialah retinol activity equivalences (Raes) dan persentase RDA pada laki-laki dewasa, per 100 gram dari materi masakan (rata-rata). Konversi karoten ke retinol bervariasi bagi tiap individu dan ketersediaan karoten secara alami pada masakan bervariasi. [23][24]

5. Manfaat Vitamin A

5.1. Fungsi Metabolik vitamin A

Vitamin A mempunyai banyak fungsi dan peranan bagi tubuh, beliau antaranya ialah :

a. Penglihatan
b. Transkripsi gen
c. Perkembangan dan reproduksi embrionik
d. Metabolisme tulang
e. Haematopoiesis
f. Aktivitas antioksidan

5.2. Peran Vitamin A untuk Penglihatan

Peran vitamin A untuk penglihatan sangat berafiliasi dengan bentuk dari retinol. Pada mata, 11-cis retinal melekat pada protein yang disebut “opsin” untuk kemudian membentuk rhodopsin pada batang mata dan iodopsin (cones) pada residu lysine yang ada di mata. Pada dikala cahaya mengenai mata, 11-cis retinal terisomerasi menjadi bentuk “–trans”. Retinal yang berbentuk “–trans” ini kemudian terpisah dari opsin melalui serangkaian tahapan yang disebut photo-bleaching. Proses isomerasi ini menginduksi sinyal syaraf di sepanjang syaraf penglihatan menuju sentra penglihatan yang ada di otak. Setelah terpisah dengan opsin, retinal yang berbentuk “–trans” tadi kemudian di “daur ulang” kembali menjadi bentuk 11-cis retinal oleh serangkaian reaksi enzimatik. Beberapa bentuk retinal “–trans” sanggup dikonversi menjadi bentuk retinol “–trans” dan ditransfer memakai interphotoreceptor retinol-binding protein (IRBP) menuju ke sel epitel pigmen. Proses eseterifikasi lebih lanjut menjadi ester retinil “-trans” memungkinkan penyimpanan retinol “-trans” di dalam sel epitel pigmen sanggup dipakai kembali ketika dibutuhkan. [26] Tahap terakhir ialah konversi dari 11-cis retinal akan menempel/terikat kembali pada opsin untuk kembali membentuk rhosdopsin (visual purple) pada retina. Rhodopsin diharapkan untuk sanggup melihat pada intensitas cahaya rendah dan pada dikala malam. Kuhne, memperlihatkan bahwa, regenerasi dari rhodopsin hanya terjadi pada dikala retina melekat pada retinal pigmented epithelial (RPE). [25] Dari proses yang sudah dijabarkan, sanggup diambil kesimpulan bahwa, kekurangan vitamin A akan menghambat pembentukan rhodopsin dan sanggup menimbulkan salah satu tanda-tanda penyakit berupa rabun senja / rabun ayam. [27]

5.3. Peran Vitamin A untuk Transkripsi Gen

Vitamin A di dalam bentuk asam retinoat, memainkan tugas penting dalam transkripsi gen. Setelah retinol telah diambil oleh sel, retinol tersebut sanggup dioksidasi menjadi retina (retinaldehid) oleh enzim retinol dehydrogenase dan kemudian retinaldehid sanggup dioksidasi menjadi asam retinoat oleh enzim retinaldehid dehydrogenase. [28] Konversi retinaldehid menjadi asam retinoat merupakan langkah yang irreversibel, hal ini berarti bahwa produksi asam retinoat diatur secara ketat, sebab sehubungan dengan aktivitasnya sebagai ligan untuk reseptor inti sel. [26] Bentuk fisiologis dari asam retinoat (asam -trans-retinoat) mengatur transkripsi gen dengan mengikat reseptor inti sel yang dikenal sebagai reseptor asam retinoat (RAR) yang terikat pada DNA sebagai heterodimer dengan retinoid "X" reseptor (RXR).  RAR dan RXR harus di dimerisasi sebelum sanggup terikat pada DNA. RAR akan membentuk sebuah heterodimer dengan RXR (RAR-RXR), tetapi tidak gampang membentuk suatu homodimer (RAR-RAR). RXR, di sisi lain, sanggup membentuk suatu homodimer (RXR-RXR) dan akan membentuk heterodimer dengan banyak reseptor inti sel lainnya, termasuk hormon tiroid reseptor (RXR-TR); Vitamin D3 reseptor (RXR-VDR); peroxisome proliferator-activated reseptor (PPAR-RXR) dan liver "X" reseptor (RXR-LXR). [29] Heterodimer RAR - RXR mengenali elemen respon asam retinoat (Rares) pada DNA sedangkan homodimer RXR - RXR mengenali retinoid " X " elemen respon ( RXREs ) pada DNA. Meskipun beberapa Rares yang bersahabat dengan gen sasaran telah memperlihatkan kemampuan untuk mengontrol proses fisiologis, [28] namun hal ini belum diketahui pada RXREs. Heterodimer dari RXR dengan reseptor inti sel selain RAR (yaitu TR , VDR , PPAR , LXR) terikat pada banyak sekali elemen respon yang berbeda dari DNA untuk mengontrol proses yang tidak diregulasi oleh vitamin A. [26] Setelah penempelan asam retinoat pada komponen RAR dari RAR - RXR heterodimer, reseptor mengalami perubahan konformasi yang mengakibatkan co- represor terpisah dari reseptor. Co-activators kemudian sanggup mengikat reseptor kompleks, yang sanggup membantu untuk melonggarkan struktur kromatin dari histon atau sanggup berinteraksi dengan proses transkripsi. [29] Hal ini sanggup meningkatkan (atau menurunkan) mulut gen sasaran , termasuk gen Hox serta gen yang mengkode reseptor itu sendiri (misalnya, RAR-beta pada mamalia). [26] 

5.4. Dermatologi 

Vitamin A, khususnya asam retinoat, mempunyai kemampuan untuk menjaga kesehatan kulit normal dengan mengaktifkan gen dan mendiferensiasi keratinosit (sel kulit yang belum matang) menjadi sel epidermis dewasa.[30] Mekanisme niscaya mengenai latar belakang digunakannya terapi retinoid sebagai biro farmakologis dalam pengobatan penyakit dermatologis masih terus diteliti. Pada pengobatan untuk jerawat, obat retinoid paling yang paling diresepkan ialah 13-cis retinoic acid (isotretinoin). Obat ini mengurangi ukuran dan sekresi kelenjar sebaceous. Isotretinoin akan mengurangi jumlah basil di dalam saluran dan permukaan kulit. Hal ini terjadi sebagai tanggapan dari pengurangan sebum (sumber nutrisi bagi bakteri). Isotretinoin mengurangi peradangan melalui penghambatan respon chemotactic dari monosit dan neutrofil.[26] Isotretinoin juga telah diketahui sanggup memulai “renovasi” kelenjar sebasea; hal ini memicu perubahan pada mulut gen yang secara selektif menginduksi apoptosis. [31] Isotretinoin merupakan teratogen (agen yang mempunyai potensi membuat kelainan perkembangan fisiologis) dengan sejumlah potensi imbas samping, oleh sebab itu penggunaannya membutuhkan pengawasan medis.

5.5. Retina / Retinol vs Asam Retinoat 

Tikus yang kehilangan/kekurangan vitamin A sanggup mempunyai kondisi kesehatan yang baik dengan suplementasi asam retinoat. Hal ini membalikkan imbas terhambatnya pertumbuhan tanggapan kekurangan vitamin A, serta tahap awal xerophthalmia. Namun, tikus tersebut memperlihatkan infertilitas (baik laki-laki dan perempuan) dan terus menerus mengalami degenerasi pada retina. Hal ini memperlihatkan bahwa fungsi-fungsi ini membutuhkan retina atau retinol, yang bersifat intraconvertable dimana hal tersebut tidak sanggup dipulihkan kembali hanya dengan memakai asam retinoat yang teroksidasi. Kebutuhan retinol untuk menyembuhkan reproduksi pada tikus yang kekurangan vitamin A sanggup diketahui sebab vitamin A dibutuhkan sebagai persyaratan untuk sintesis lokal asam retinoat dari retinol pada testis dan embrio [32] [33].

6. Defisiensi / Kekurangan Vitamin A

Kekurangan vitamin A diperkirakan terjadi pada sekitar sepertiga dari anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. [34] Hal ini diperkirakan telah merenggut kehidupan dari 670.000 balita per tahun. [35] Sekitar 250.000-500.000 anak di negara berkembang menjadi buta setiap tahunnya sebab kekurangan vitamin A, dengan prevalensi tertinggi terjadi di Asia Tenggara dan Afrika. [36]

Kekurangan vitamin A sanggup terjadi baik secara primer maupun sekunder. Kekurangan vitamin A primer terjadi di antara anak-anak dan orang cukup umur yang tidak mengkonsumsi asupan karotenoid provitamin A pada jumlah yang cukup dari buah-buahan dan sayuran serta vitamin A dari binatang dan produk susu. Penyapihan ASI yang terlalu awal juga sanggup meningkatkan risiko kekurangan vitamin A.

Defisiensi vitamin A sekunder dikaitkan dengan malabsorpsi kronis lipid/lemak, gangguan metabolism empedu, dan paparan kronis terhadapa oksidan (radikal bebas), menyerupai asap rokok dan kecanduan alkohol kronis. Vitamin A ialah vitamin larut lemak dan tergantung pada solubilitas miselar untuk terdispersi ke dalam usus kecil, oleh sebab itu acara vitamin A akan sangat rendah kalau melaksanakan diet rendah lemak. Defisiensi zinc juga sanggup mengganggu penyerapan, transportasi, dan metabolisme vitamin A sebab senyawa ini dipakai pada sintesis protein pembawa vitamin A dan sebagai kofaktor proses konversi retinol menuju retina. Pada populasi yang kekurangan gizi, asupan vitamin A dan zinc yang rendah meningkatkan tingkat keparahan defisiensi vitamin A sehingga mengarah pada gejala-gejala fisiologis tanggapan defisensi. [26] Sebuah studi di Burkina Faso memperlihatkan penurunan morbiditas malaria yang signifikan dengan memperlihatkan anak-anak suplementasi adonan antara vitamin A dan zinc. [37]

Sehubungan dengan fungsi yang unik dari retina sebagai kromofor visual, salah satu manifestasi awal dan spesifik dari defisiensi vitamin A ialah gangguan penglihatan, terutama pada intensitas cahaya yang rendah (rabun senja) . Defisiensi yang terjadi secara terus menerus menimbulkan serangkaian perubahan, yang paling dahsyat terjadi pada mata. Beberapa perubahan okular lainnya disebut xerophthalmia. Hal yang terjadi pertama kali ialah terjadi kekeringan pada konjungtiva (xerosis), ketika lacrimalis normal dan mukus yang mensekresi epitel digantikan oleh epitel yang terkeratinasi. Hal ini diikuti dengan pembentukan serpihan keratin di dalam plak kecil yang berwarna buram (bintik Bitot) dan, pada akhirnya, terjadi abrasi pada permukaan kornea yang garang dengan terjadinya pelunakan dan kerusakan kornea (keratomalacia), sehingga mengakibatkan kebutaan total. [38] Perubahan lainnya berupa; gangguan imunitas (peningkatan risiko jerawat telinga, jerawat saluran kemih, penyakit meningokokus), hiperkeratosis (benjolan putih pada folikel rambut), keratosis pilaris dan metaplasia skuamosa pada epitel yang melapisi saluran pernapasan atas dan kandung kemih yang menjelma epitel yang terkeratinasi. Pada hubungannya dengan bidang kedokteran gigi, kekurangan vitamin A sanggup mengakibatkan enamel hipoplasia.

Asupan yang cukup dan tidak berlebihan dari vitamin A, sangat penting bagi perempuan hamil dan menyusui untuk perkembangan janin yang normal dan kualitas ASI yang baik. Kekurangan/defisiensi vitamin A tidak sanggup dikompensasi/digantikan oleh suplementasi sesudah melahirkan. [39][40] Kelebihan vitamin A, tanggapan suplementasi vitamin A takaran tinggi, sanggup mengakibatkan cacat lahir, sehingga dihentikan melebihi nilai harian yang direkomendasikan. [28]

Gangguan metabolisme vitamin A yang terjadi tanggapan dari mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilan, ditandai oleh teratogenik (perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang mengakibatkan kerusakan pada embrio) yang hampir sama dengan ibu hamil yang mengalami defisiensi vitamin A. [41]

7. Suplementasi Vitamin A

Upaya global yang dilakukan untuk mendukung pemerintah nasional dalam mengatasi kekurangan vitamin A dipimpin oleh Global Alliance for Vitamin A (GAVA), yang merupakan sebuah kerjasama informal antara A2Z, Canadian International Development Agency, Helen Keller International, the Micronutrient Initiative, UNICEF, USAID, and the World Bank. Kegiatan dari GAVA dikoordinasikan oleh forum Micronutrient Initiative.

Pada dikala penggunaan beberapa taktik untuk mendapatkan asupan vitamin A melalui kombinasi ASI dan asupan makanan, penggunaan suplemen takaran tinggi secara oral tetap menjadi taktik utama untuk meminimalkan kekurangan vitamin A. [42] Sebuah meta-analisis dari 43 penelitian memperlihatkan bahwa, suplementasi vitamin A bagi anak-anak di belum dewasa lima tahun yang beresiko mengalami defisiensi vitamin A sanggup mengurangi persentase janjkematian hingga 24%. [43] Sekitar 75% dari vitamin A yang dibutuhkan untuk kegiatan suplementasi di negara-negara berkembang disuplai oleh Micronutrient Initiative dengan dukungan dari Canadian International Development Agency. [44] Pendekatan berupa fortifikasi pangan menjadi semakin meningkat, [45] tetapi tingkat cakupannya belum sanggup dipastikan. [42]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa suplementasi vitamin A telah mencegah 1,25 juta janjkematian tanggapan kekurangan vitamin A di 40 negara semenjak tahun 1998. [46] Pada tahun 2008 diperkirakan bahwa investasi tahunan sebesar US $ 60 juta pada kombinasi vitamin A dan suplementasi zinc akan menghasilkan laba lebih dari US $ 1 miliar per tahun, dimana setiap dolar yang dihabiskan menghasilkan laba lebih dari US $ 17. [47] Upaya ini diberi peringkat oleh Konsensus Kopenhagen pada tahun 2008 sebagai pengembangan investasi terbaik di dunia. [47]

8. Toksisitas / Hypervitaminosis A (Kelebihan Vitamin A)

Oleh sebab vitamin A larut dalam lemak, membuang segala kelebihan vitamin A yang terjadi tanggapan diet, memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan vitamin B dan vitamin C yang larut dalam air. Hal ini sanggup mengakibatkan tingkat toksiksitas dari vitamin A menumpuk.

Secara umum, toksisitas akut terjadi pada takaran 25.000 IU (International Units) / kg berat badan, dengan toksisitas kronis terjadi pada 4.000 IU / kg berat tubuh setiap harinya selama 6-15 bulan. [48] Namun, toksisitas pada hati sanggup terjadi pada tingkat paling rendah sebesar 15.000 IU per hari hingga 1,4 juta IU per hari, dengan rata-rata takaran toksik harian 120.000 IU per hari, terutama dengan konsumsi alkohol yang berlebihan. Pada orang dengan penyakit gagal ginjal, nilai 4000 IU sanggup mengakibatkan kerusakan besar. Selain itu, asupan alkohol yang berlebihan sanggup meningkatkan toksisitas. Anak-anak sanggup mengalami keracunan pada 1.500 IU / kg berat badan. [49]

Konsumsi vitamin A yang berlebihan sanggup mengakibatkan rasa mual (nausea), iritabilitas, anoreksia (nafsu makan berkurang), muntah, penglihatan kabur, sakit kepala, kerontokan rambut, nyeri otot dan perut, mengantuk, dan perubahan status mental. Pada masalah seperti; rambut rontok, kulit kering, pengeringan selaput lendir, demam, insomnia, kelelahan, penurunan berat badan, patah tulang, anemia, dan diare, sanggup dijadikan sebagai bukti dari gejala-gejala yang berafiliasi dengan tingkat toksisitas yang tidak begitu serius.[50] beberapa gejala-gejala ini juga umum terjadi tanggapan pengobatan jerawat dengan memakai Isotretinoin. Dosis tinggi yang kronis dari vitamin A dan retinoid hasil sintesis menyerupai 13-cis asam retinoat, sanggup menimbulkan sindrom pseudotumor cerebri. [51] Gejala-gejala yang terjadi tanggapan sindrom ini ialah sakit kepala, kaburnya penglihatan dan kebingungan yang terkait dengan peningkatan tekanan intraserebral. Gejala-gejala tersebut sanggup diatasi dengan menghentikan asupan zat dari senyawa yang terkait. [52]

Asupan kronis sebesar 1500 RAE dari turunan vitamin A sanggup berafiliasi dengan osteoporosis dan patah tulang pinggul, sebab sanggup menekan proses pembentukan tulang sekaligus merangsang kerusakan tulang. [53].

Asupan vitamin A dalam takaran tinggi telah dikaitkan dengan patah tulang yang terjadi secara impulsif pada hewan. Penelitian mengenai kultur sel telah memperlihatkan relasi antara peningkatan resorpsi tulang dan penurunan pembentukan tulang dengan asupan vitamin A yang tinggi. Interaksi ini sanggup terjadi sebab vitamin A dan D sanggup bersaing sebagai reseptor yang sama dan kemudian berinteraksi dengan hormon paratiroid, yang mengatur kalsium. [49] Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Forsmo et al., memperlihatkan relasi antara kepadatan mineral tulang yang rendah dengan asupan vitamin A yang terlalu tinggi. [54]

Efek racun dari vitamin A telah terbukti secara signifikan mensugesti perkembangan janin. Dosis terapi yang dipakai untuk pengobatan jerawat telah terbukti mengganggu acara sel saraf cephalic. Janin sangat sensitif terhadap keracunan vitamin A selama periode organogenesis. [26] Keracunan ini hanya terjadi tanggapan preformed / turunan (retinoid) vitamin A (misalnya yang bersumber dari hati). Bentuk karotenoid (seperti beta-karoten menyerupai yang ditemukan dalam wortel), tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, kecuali dengan suplemen dan kecanduan alkohol kronis. Namun asupan masakan yang mengandung beta-karoten berlebihan sanggup mengakibatkan carotenodermia, yang mengakibatkan perubahan warna oranye-kuning pada kulit. [55][56][57]

Perokok dan pecandu alkohol kronis telah diamati mempunyai peningkatan risiko janjkematian tanggapan kanker paru-paru, kanker kerongkongan, kanker gastrointestinal dan kanker usus besar. [41] Melalui sebuah penelitian, cedera pada hepatik (hati) telah ditemukan pada insan dan hewan, di mana konsumsi alkohol dipasangkan dengan takaran tinggi vitamin A dan suplemen beta-karoten.

Para peneliti telah berhasil membuat bentuk vitamin A yang larut dalam air, yang dipercaya oleh mereka sanggup mengurangi potensi toksisitas. [58] Namun, sebuah studi pada tahun 2003 menemukan bahwa vitamin A yang larut dalam air diperkirakan 10 kali lebih beracun dibandingkan dengan vitamin A yang larut dalam lemak. [59] Sebuah penelitian pada tahun 2006 menemukan bahwa, anak-anak yang diberi vitamin A dan D yang larut dalam air, menderita asma dua kali lebih banyak kalau dibandingkan kelompok kontrol diberi vitamin A yang larut dalam lemak [60].

Pada beberapa penelitian, penggunaan suplemen vitamin A telah dikaitkan dengan peningkatan tingkat kematian, [61] tetapi hanya ada sedikit bukti untuk memperlihatkan hal ini [62].

9. Penggunaan Vitamin A dan Turunannya di Bidang Medis

Retinil palmitat telah dipakai di dalam krim kulit, di mana senyawa tersebut dipecah menjadi retinol dan akal-akalan dimetabolisme menjadi asam retinoat, yang mempunyai acara biologis yang kuat, menyerupai yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Retinoid (misalnya, 13-cis-asam retinoat) membentuk suatu kelas senyawa kimia yang secara kimiawi berkaitan dengan asam retinoat, dan dipakai dalam pengobatan untuk memodulasi fungsi gen. Seperti asam retinoat, senyawa terkait ini tidak mempunyai acara vitamin A secara keseluruhan, tetapi mempunyai imbas yang berpengaruh pada mulut gen dan diferensiasi sel epitel [63].

Ilmu farmasi memakai mega takaran turunan asam retinoat alami yang dipakai untuk pengobatan kanker, HIV, dan tujuan dermatologis [64]. Pada takaran yang tinggi, imbas samping yang dihasilkan menyerupai dengan keracunan vitamin A (hypervitaminosis A). Efek samping parah yang berafiliasi dengan keracunan vitamin A, dan penggunaan pada kisaran optimal yang terbatas menjadi kendala utama dalam menyebarkan turunan vitamin A untuk dipakai sebagai terapi.

Referensi :
  1. Fennema, Owen (2008). Fennema's Food Chemistry. CRC Press taylor &Francis Group. pp. 454–455. ISBN 9780849392726.
  2. Tanumihardjo, S.A. (2011). "Vitamin A: biomarkers of nutrition for development". American Journal of Clinical Nutrition 94 (2): 658S–665S. doi: 10.3945/ajcn.110.005777.
  3. Wolf, G. (2001). "The discovery of the visual function of vitamin A". Journal of Nutrition 131 (6): 1647–1650.
  4. "Vitamin A".
  5. News Medical. "What is Vitamin A?". Retrieved 1 May 2012.
  6. Tanumihardjo, S.A (2011). "Vitamin A: biomarkers of nutrition for development". American Journal of Clinical Nutrition 94 (2): 658S–665S. doi: 10.3945/ajcn.110.005777.
  7. Carolyn Berdanier. 1997. Advanced Nutrition Micronutrients. CRC Press, ISBN 0849326648, pp. 22–39
  8. Meschino Health. "Comprehensive Guide to Vitamin A". Retrieved 1 May 2012.
  9. deMan, John (1999). Principles of Food chemistry. Maryland: Aspen Publication Inc. p. 358. ISBN 083421234x
  10. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A.". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  11. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A.". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  12. Wolf, George (2001-04-19). "Discovery of Vitamin A". Encyclopedia of Life Sciences. doi: 10.1038/npg.els.0003419. ISBN 0-470-01617-5.
  13. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  14. Composition of Foods Raw, Processed, Prepared USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Release 20 USDA, Feb. 2008
  15. a b Chapter 4, Vitamin A of Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Zinc, Food and Nutrition Board of the Institute of Medicine, 2001
  16. Solomons, NW; Orozco, M (2003). "Alleviation of vitamin A deficiency with palm fruit and its products". Asia Pacific journal of clinical nutrition 12 (3): 373–84. PMID 14506004.
  17. Dietary Reference Intakes: Vitamins.
  18. "Sources of vitamin A". Retrieved 2007-08-27.
  19. "Linus Pauling Institute at Oregon State University: Vitamin A Safety". Retrieved 2007-09-02.
  20. Food and Nutrition Board. Institute of Medicine. National Academies. (2001) "Dietary Reference Intakes"
  21. Dandelion greens, raw. NutritionData.Self.com.
  22. The RAE value in the USDA data for broccoli leaves is similar to the IU value for broccoli florets, which implies that the leaves have about 20 times as much beta-carotene.
  23. Borel P, Drai J, Faure H, et al. (2005). "Recent knowledge about intestinal absorption and cleavage of carotenoids". Ann. Biol. Clin. (Paris) (in French) 63 (2): 165–77. PMID 15771974.
  24. Tang G, Qin J, Dolnikowski GG, Russell RM, Grusak MA (2005). "Spinach or carrots can supply significant amounts of vitamin A as assessed by feeding with intrinsically deuterated vegetables". Am. J. Clin. Nutr. 82 (4): 821–8. PMID 16210712.
  25. a b Wolf, G. (2001). "The discovery of the visual function of vitamin A". The Journal of nutrition 131 (6): 1647–1650. PMID 11385047.
  26. a b c d e f g Combs, Gerald F. (2008). The Vitamins: Fundamental Aspects in Nutrition and Health (3rd ed.). Burlington: Elsevier Academic Press. ISBN 978-0-12-183493-7.
  27. McGuire, Michelle; Beerman, Kathy A. (2007). Nutritional sciences: from fundamentals to food. Belmont, CA: Thomson/Wadsworth. ISBN 0-534-53717-0.
  28. a b c Duester, G (2008). "Retinoic Acid Synthesis and Signaling during Early Organogenesis". Cell 134 (6): 921–31. doi: 10.1016/j.cell.2008.09.002. PMC 2632951. PMID 18805086.
  29. a b Stipanuk, Martha H. (2006). Biochemical, Physiological and Molecular Aspects of Human Nutrition (2nd ed.). Philadelphia: Saunders. ISBN 9781416002093.
  30. "Regulation of terminal differentiation of cultured human keratinocytes by vitamin A". Cell 25 (3): 617–25. 1981. doi: 10.1016/0092-8674(81)90169-0. PMID 6169442.
  31. Nelson, A. M.; et al. (2008). "Neutrophil gelatinase–associated lipocalin mediates 13-cis retinoic acid–induced apoptosis of human sebaceous gland cells". Journal of Clinical Investigation 118 (4): 1468–1478. doi: 10.1172/JCI33869. PMC 2262030. PMID 18317594.
  32. Moore, T.; Holmes, P. D. (1971). "The production of experimental vitamin A deficiency in rats and mice". Laboratory Animals 5 (2): 239–50. doi: 10.1258/002367771781006492. PMID 5126333.
  33. VanPelt, H.M.M.; DeRooij, D.G. (1991). "Spermatogenesis in retinol-deficient rats maintained on retinoic acid". Endocrinology 128 (2): 697–704. doi: 10.1530/jrf.0.0940327. PMID 1593535.
  34. World Health Organization, Global prevalence of vitamin A deficiency in populations at risk 1995–2005, WHO global database on vitamin A deficiency.
  35. Black, RE; Allen, LH; Bhutta, ZA; Caulfield, LE; De Onis, M; Ezzati, M; Mathers, C; Rivera, J et al. (2008). "Maternal and child undernutrition: global and regional exposures and health consequences". Lancet 371 (9608): 243–60. doi: 10.1016/S0140-6736(07)61690-0. PMID 18207566
  36. "Office of Dietary Supplements. Vitamin A". National Institute of Health. Retrieved 2008-04-08.
  37. Zeba AN, Sorgho H, Rouamba N, et al. (2008). "Major reduction of malaria morbidity with combined vitamin A and zinc supplementation in young children in Burkina Faso: a randomized double blind trial". Nutr J 7: 7. doi: 10.1186/1475-2891-7-7. PMC 2254644. PMID 18237394.
  38. Roncone DP (2006). "Xerophthalmia secondary to alcohol-induced malnutrition". Optometry (St. Louis, Mo.) 77 (3): 124–33. doi:10.1016/j.optm.2006.01.005. PMID 16513513.
  39. Strobel M, Tinz J, Biesalski HK (2007). "The importance of beta-carotene as a source of vitamin A with special regard to pregnant and breastfeeding women". Eur J Nutr. 46 Suppl 1: I1–20. doi: 10.1007/s00394-007-1001-z. PMID 17665093.
  40. Schulz C, Engel U, Kreienberg R, Biesalski HK (2007). "Vitamin A and beta-carotene supply of women with gemini or short birth intervals: a pilot study". Eur J Nutr 46 (1): 12–20. doi: 10.1007/s00394-006-0624-9. PMID 17103079.
  41. a b Crabb DW, et al. (2001). "Alcohol and Retinoids". Alcoholism: Clinical and Experimental Research. 25 Suppl 5: 207S–217S. doi: 10.1111/j.1530-0277.2001.tb02398.x.
  42. a b UNICEF, Vitamin A Supplementation: A Decade of Progress, New York, 2007, p.3.
  43. Mayo-Wilson E et al. [1]. Vitamin A supplements for preventing mortality, illness, and blindness in children aged under 5: systematic review and meta-analysis BMJ 2011;343:d5094
  44. Micronutrient Initiative, Annual Report 2009-2010, p. 4.
  45. Golden Rice is an effective source for Vitamin A, American Journal of Clinical Nutrition, June 2009.
  46. "Micronutrient Deficiencies-Vitamin A". World Health Organization. Retrieved 2008-04-09.
  47. a b Copenhagen Consensus 2008, Results, press release, May 30, 2008.
  48. Rosenbloom, Mark. "Toxicity, Vitamin". eMedicine.
  49. a b Penniston, Kristina L.; Tanumihardjo, Sherry A. (2006). "The acute and chronic toxic effects of vitamin A". Am. J. Clin. Nutr. 83 (2): 191–201. PMID 16469975.
  50. Eledrisi, Mohsen S. "Vitamin A Toxicity". eMedicine.
  51. Brazis PW (2004). "Pseudotumor cerebri". Current neurology and neuroscience reports 4 (2): 111–6. doi: 10.1007/s11910-004-0024-6. PMID 14984682.
  52. AJ Giannini, RL Gilliland. The Neurologic, Neurogenic and Neuropsychiatric Disorders Handbook. New Hyde Park, NY. Medical Examination Publishing Co., 1982, ISBN 0-87488-699-6 pp. 182–183.
  53. Whitney, Ellie; Sharon Rady Rolfes (2011). Peggy Williams, ed. Understanding Nutrition (Twelfth ed.). California: Wadsworth:Cengage Learning. ISBN 0-538-73465-5.
  54. Forsmo, Siri; Fjeldbo,Sigurd Kjørstad; Langhammer, Arnulf (2008). "Childhood Cod Liver Oil Consumption and Bone Mineral Density in a Population-based Cohort of Peri- and Postmenopausal Women: The Nord-Trøndelag Health Study". Am. J. Epidemiol. 167 (4): 406–411. doi: 10.1093/aje/kwm320. PMID 18033763.
  55. Sale TA, Stratman E (2004). "Carotenemia associated with green bean ingestion". Pediatr Dermatol 21 (6): 657–9. doi: 10.1111/j.0736-8046.2004.21609.x. PMID 15575851.
  56. Nishimura Y, Ishii N, Sugita Y, Nakajima H (1998). "A case of carotenodermia caused by a diet of the dried seaweed called Nori". J. Dermatol. 25 (10): 685–7. PMID 9830271.
  57. Takita Y, Ichimiya M, Hamamoto Y, Muto M (2006). "A case of carotenemia associated with ingestion of nutrient supplements". J. Dermatol. 33 (2): 132–4. doi: 10.1111/j.1346-8138.2006.00028.x. PMID 16556283.
  58. Science News. Water-soluble vitamin A shows promise.
  59. Myhre AM, Carlsen MH, Bøhn SK, Wold HL, Laake P, Blomhoff R (2003). "Water-miscible, emulsified, and solid forms of retinol supplements are more toxic than oil-based preparations". Am. J. Clin. Nutr. 78 (6): 1152–9. PMID 14668278.
  60. Kull I, Bergström A, Melén E, et al. (2006). "Early-life supplementation of vitamins A and D, in water-soluble form or in peanut oil, and allergic diseases during childhood". J. Allergy Clin. Immunol. 118 (6): 1299–304. doi: 10.1016/j.jaci.2006.08.022. PMID 17157660.
  61. USA Today - News (2011-10-10). "Study flags risk of daily vitamin use among older women". Retrieved 1 May 2012.
  62. Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud LL, Simonetti RG, Gluud C (2008). "Antioxidant supplements for prevention of mortality in healthy participants and patients with various diseases.". Cochrane Database of Systematic Reviews (2). doi: 10.1002/14651858.CD007176. PMID 18425980.
  63. American Cancer Society: Retinoid Therapy.
  64. Vivat-Hannah, V; Zusi, FC (2005). "Retinoids as therapeutic agents: today and tomorrow". Mini reviews in medicinal chemistry 5 (8): 755–60. doi: 10.2174/1389557054553820. PMID 16101411.
  65. http://en.wikipedia.org/wiki/File:All-trans-Retinol2.svg
Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Wikipedia (12/10/2013). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Monday, December 9, 2019

Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi Pada Manusia


Sistem Reproduksi pada Manusia - Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi. Sistem reproduksi insan lebih kompleks dibandingkan pada tumbuhan. Seorang laki-laki dan perempuan telah siap menghasilkan keturunan apabila memenuhi ciri-ciri tertentu secara biologis. Anda dapat menyimak materi berikut untuk sanggup memahami ciri-ciri ini. Pada potongan berikut, kita akan mempelajari sistem reproduksi manusia, baik laki-laki ataupun wanita. Selain itu, kita juga membahas beberapa proses yang terkait dengan sistem reproduksi, menyerupai ovulasi, menstruasi, fertilisasi, gestasi, persalinan, dan ASI. Penting pula kita ketahui mengenai berbagai gangguan dan kelainan yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi.

Perkembangbiakan atau reproduksi merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan jenisnya. Manusia tergolong makhluk dioseus (berumah dua). Hal ini berarti, satu individu hanya mempunyai satu jenis alat reproduksi, yaitu laki-laki dan wanita. Laki-laki cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut spermatozoa, sedangkan perempuan cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut ovum. Jika kedua sel gamet ini melebur atau terjadi fertilisasi, maka terbentuk zigot yang akan tumbuh menjadi janin dan dalam waktu 9 bulan akan menjadi bayi. Bagaimana proses pembentukan sperma dan ovum? Apa kaitannya dengan kehamilan dan menstruasi? Kamu akan mengetahui jawabannya sehabis mempelajari potongan ini.

Setelah mempelajari materi tersebut, kalian diperlukan mampu menjelaskan struktur, fungsi, dan proses yang terjadi pada sistem reproduksi manusia. Selain itu, kalian juga diperlukan bisa menjelaskan proses-proses pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, dan pemberian ASI. Tak kalah penting, kalian juga diperlukan mampu menjelaskan banyak sekali kelainan atau penyakit yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi insan sekaligus cara mencegah serta cara mengatasinya.

A. Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)

1. Alat Kelamin Pria

Alat kelamin laki-laki berfungsi menghasilkan gamet jantan, yaitu spermatozoa (sperma). Alat kelamin laki-laki dibedakan menjadi alat kelamin dalam dan alat kelamin luar.

a. Alat kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Testis

Testis mempunyai bentuk bundar telur dan berjumlah sepasang, terdapat pada skrotum (zakar). Testis merupakan tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin (testosteron).

Pada testis terdapat pembuluh-pembuluh halus yang disebut tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma (spermatogonium yang diploid. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel-sel interstisiil yang menghasilkan hormon testosteron dan hormon kelamin jantan lainnya. Selain itu, terdapat pula sel-sel berukuran besar yang berfungsi menyediakan makanan bagi spermatozoa, sel ini disebut sel sertoli.

2) Saluran reproduksi

Saluran reproduksi terdiri atas duktus epididimis, yaitu tempat pematangan sperma lebih lanjut dan tempat penyimpanan sementara sperma. Selanjutnya, terdapat vas deferens yang merupakan suatu akses untuk mengangkut sperma ke vesikula seminalis (kantung sperma). Arah vas deferens ini ke atas, kemudian melingkar dan salah satu ujungnya berakhir pada kelenjar prostat dan di belakang kandung kemih, akses ini bersatu membentuk duktus ejakulatorius pendek yang berakhir di uretra. Uretra dari duktus ejakulatorius sama-sama berakhir di ujung p*nis.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 1. Anatomi organ reproduksi laki-laki. (Wikimedia Commons)
3) Kelenjar kelamin

Saluran kelamin dilengkapi dengan tiga kelenjar yang sanggup mengeluarkan getah atau semen. Kelenjar-kelenjar ini, antara lain vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretral (Cowper).

a) Vesikula seminalis

Vesikula seminalis berjumlah sepasang dan terletak di atas dan bawah kandung kemih. Vesikula seminalis menghasilkan 60% dari volume total semen. Cairan dari vesikula seminalis berwarna jernih, kental mengandung lendir, asam amino, dan fruktosa. Cairan ini berfungsi memberi makan sperma. Selain itu, vesikula seminalis juga mengekskresikan prostaglandin yang berfungsi menciptakan otot uterin berkontraksi untuk mendorong sperma mencapai uterus.

b) Kelenjar prostat

Kelenjar prostat berukuran lebih besar dibandingkan dua kelenjar lainnya. Cairan yang dihasilkan encer menyerupai susu dan bersifat alkalis sehingga sanggup menyeimbangkan keasaman residu urin di uretra dan keasaman v*gina. Cairan ini langsung bermuara ke uretra lewat beberapa akses kecil.

c) Kelenjar bulbouretral atau kelenjar Cowper.

Kelenjar ini kecil, berjumlah sepasang, dan terletak di sepanjang uretra. Cairan kelenjar ini kental dan disekresikan sebelum p*nis mengeluarkan sperma dan semen.

4) Uretra

Uretra ialah akses di dalam p*nis yang berfungsi sebagai akses urin dari kandung (vesica urinaria) keluar tubuh dan sebagai akses jalannya semen dari kantong semen.

b. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar pria, yaitu berupa p*nis dan skrotum. P*nis ialah organ yang berperan untuk kopulasi (persetubuan). Kopulasi ialah penyimpanan sperma dari alat kelamin jantan (pria) ke dalam alat kelamin betina (wanita). P*nis pada laki-laki sanggup mengalami ereksi. Ereksi ialah penegangan dan pengembangan p*nis lantaran terisinya akses p*nis oleh darah. Skrotum pada laki-laki di kenal dengan buah zakar. Di dalam buah zakar ini terdapat testis.

Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet (sel kelamin). Gametogenesis dibagi menjadi dua, yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Spermatogenesis ialah proses pembentukan gamet jantan (sperma), sedangkan oogenesis ialah proses pembentukan gamet betina (ovum). Bagaimana prosedur kedua gametogenesis tersebut? Adakah perbedaannya?

2. Spermatogenesis

Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus. Spermatogonesis memakan waktu 65–75 hari di dalam tubuh pria. Di dalam tubulus seminiferus, terdapat banyak sel induk sperma (spermatogonium). Spermatogonium bersifat diploid (2n), mengandung 46 kromosom. Spermatogonium akan membelah secara mitosis menjadi spermatosit primer. Spermatosit ini akan membelah pula secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n). Haploid (n) artinya mengandung 23 kromosom atau setengah dari sel induk. Kemudian, setiap spermatosit sekunder akan membelah lagi secara meiosis menjadi dua spermatosit sehingga terbentuklah empat spermatid. Sel-sel spermatid tersebut akan mengalami pendewasaan menjadi sperma.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 2. Spermatogenesis.
B. Sistem Reproduksi pada Wanita (Perempuan)

1. Alat Kelamin Wanita

Alat reproduksi perempuan menyerupai juga pada laki-laki terdiri atas alat kelamin luar dan dalam organ reproduksi pada perempuan ialah ovarium. Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur (ovum).
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 3. Anatomi organ reproduksi wanita. (britannica.com)
a. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar terdiri atas:
  1. Celah luar disebut vulva.
  2. Sepasang bibir besar atau lipatan kulit disebut juga (Labium mayora) membatasi kedua belah celah dan sepasang bibir kecil lipatan disebut (Labium minora). Di potongan depan labium minor terdapat tonjolan yang disebut klit*ris. Klit*ris merupakan suatu berkas jaringan yang peka. Klit*ris berasal dari bahasa Yunani, yang berarti sebuah bukit kecil.
  3. Di dalam vulva bermuara dua saluran, yaitu akses urin dan akses kelamin.
b. Alat Kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Ovarium (indung telur)

Ovarium terdapat dalam rongga tubuh di tempat pinggang, yaitu di sebelah kanan dan kiri. Dalam ovarium terdapat kelenjar endokrin dan jaringan tubuh yang menciptakan sel telur (ovum) yang disebut folikel. Sel folikel akan memproduksi sel telur pada ovarium wanita. Peristiwa pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium sehabis folikel masak disebut ovulasi. Ovulasi pada perempuan berlangsung sebulan sekali. Pada ketika folikel telur tumbuh, ovarium menghasilkan hormon estrogen, dan sehabis ovulasi menghasilkan hormon progesteron.

2) Saluran tuba fallopii

Saluran tuba fallopii atau oviduk berjumlah sepasang, di kanan dan di kiri. Saluran ini menghubungkan ovarium dengan rahim. Bagian pangkalnya berbentuk corong disebut tuba infundibulum. Tuba infundibulum ini dilengkapi dengan jumbai-jumbai yang dinamakan fimbriae. Fimbriae berfungsi menangkap sel telur yang telah masak dan lepas dari ovarium. Tuba fallopii berfungsi untuk menggerakkan ovum ke arah rahim dengan gerak peristaltik dan dengan dukungan silia.

3) Uterus (rahim)

Rahim insan mempunyai satu ruangan dan berbentuk buah pir, pada potongan bawahnya mengecil dan disebut leher rahim atau serviks uteri, potongan ujung yang besar disebut tubuh rahim atau corpus uteri. Lapisan terdalam yang membatasi rongga rahim terdiri atas jaringan epitel yang disebut endometrium atau selaput rahim. Lapisan ini menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Sebulan sekali, pada ketika menstruasi (haid) lapisan ini dilepaskan diikuti dengan pendarahan. Dinding pada rahim selalu mengalami perubahan ketebalan, insiden ini dipengaruhi hormon, di antaranya adalah:

a) Menjelang ovulasi dinding menebal, lantaran efek hormon estrogen.
b) Dinding rahim akan semakin menebal sehabis ovulasi, lantaran efek hormon progesteron.
c) Pada ketika menstruasi dinding rahim tipis kembali, lantaran dinding endometrium mengelupas. Setelah menstruasi, dinding dibuat kembali, insiden ini disebut siklus menstruasi.
d) Uterus atau rahim merupakan ruangan tempat janin menempel, tumbuh dan berkembang.

4) V*gina (liang peranakan)

V*gina ialah sebuah tabung berlapiskan otot yang membujur ke arah belakang dan atas. Dinding v*gina lebih tipis dari rahim dan banyak lipatan-Iipatan. Hal ini untuk mempermudah jalan kelahiran bayi. Selain itu, juga terdapat lendir yang dihasilkan oleh dinding v*gina dan suatu kelenjar, yaitu kelenjar barlholini.

2. Oogenesis

Oogenesis terjadi di dalam ovarium. Ovarium mengandung banyak sel induk telur (oogonium)yang bersifat diploid (2n). Oogonium tersebut akan membelah secara mitosis menjadi oosit primer. Oosit primer akan membelah secara meiosis menjadi satu oosit sekunder dan satu tubuh polar primer. Kemudian, oosit sekunder membelah secara meiosis menjadi satu ootid dan satu tubuh polar sekunder. Ootid akan mengalami pematangan menjadi sel telur (ovum), sedangkan tubuh polar sekunder akan luruh (degenerasi).

Sel telur yang telah matang akan dilepaskan oleh ovarium. Pelepasan sel telur oleh ovarium disebut ovulasi.

Di dalam ovarium terdapat banyak folikel yang merupakan pelindung dan pemberi nutrisi bagi sel telur yang sedang dibentuk. Pada proses ovulasi, folikel akan mengeluarkan sel telur. Folikel yang telah mengeluarkan sel telurnya disebut corpus luteum. Corpus luteum menyekresikan hormon estrogen dan progesteron.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 4. Oogenesis terjadi di ovarium.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 5. Proses pelepasan sel telur oleh ovarium (ovulasi). (embryology.med.unsw.edu.au).
Pada ketika dilahirkan, ovarium pada bayi perempuan mengandung 600 ribu oosit primer. Akan tetapi, hanya 400 yang akan berkembang menjadi ovum.

3. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi mengacu kepada perubahan yang muncul di dalam uterus. Rata-rata siklus menstruasi pada perempuan sekitar 28 hari. Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yaitu fase menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekretori (Campbell, 1998: 951).

Fase menstruasi merupakan fase pada ketika terjadi peluruhan dinding uterus yang menebal (endometrium). Endometrium yang luruh tersebut merupakan proses menstruasi (keluarnya darah dari v*gina). Fase menstruasi hanya terjadi dalam beberapa hari saja (4–7hari). Menstruasi menyebabkan dinding uterus menjadi tipis menyerupai semula.

Setelah 1–2 minggu, dinding uterus kembali menebal. Proses ini terjadi pada fase proliferasi. Fase terakhir dari siklus menstruasi ialah fase sekretori. Fase sekretori berlangsung selama dua minggu. Pada fase ini, endometrium semakin menebal, kaya akan pembuluh darah. Apabila tidak terjadi implantasi embrio pada endometrium, maka endometrium akan luruh. Hal ini akan mengawali terjadinya kembali siklus menstruasi.

Pada ketika terjadi siklus menstruasi, berlangsung pula siklus ovarium. Siklus ini, terdiri atas tiga fase, yaitu fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Siklus ovarium diawali oleh fase folikular. Pada fase ini, folikelfolikel pada ovarium akan tumbuh dan berkembang. Dari beberapa folikel yang tumbuh, hanya satu saja yang akan matang, sementara folikel yang lainnya akan luruh. Fase ini berakhir pada ketika sel telur dikeluarkan (ovulasi). Peristiwa ini merupakan fase ovulasi. Folikel yang telah mengeluarkan sel telur akan tetap berada di ovarium dan menjelma corpus luteum. Proses tersebut terjadi pada fase luteal.

Siklus menstruasi dan siklus ovarium sangat dipengaruhi oleh hormon. Hormon tersebut besar lengan berkuasa terhadap perkembangan folikel, ovulasi, dan penebalan dinding rahim. Terdapat lima jenis hormon yang berperan dalam siklus menstruasi dan siklus ovarium (Campbell, 1998: 951). Kelima hormon tersebut ialah Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing Hormone (LH), estrogen, dan progesteron.

Pada fase folikular dari siklus ovarium, hipotalamus akan mengeluarkan GnRH yang akan merangsang sekresi hormon FSH dan LH. FSH akan merangsang perkembangan folikel yang akan menyekresikan estrogen. LH sendiri menyebabkan terjadinya ovulasi dan pembentukan corpus luteum. Corpus luteum akan menyekresikan hormon estrogen dan progesteron. Kadar estrogen akan meningkat pada hari ke-12 siklus. Hal ini akan menyebabkan insiden ovulasi pada hari ke-14 siklus. Produksi estrogen dan progesteron akan mencapai puncaknya pada hari ke-22 siklus.

Apabila tidak terjadi pembuahan, kadar estrogen dan progesteron yang tinggi akan menghambat produksi FSH dan LH. Turunnya kadar LH akan menyebabkan luruhnya corpus luteum sehingga kadar estrogen dan progesteron pun menurun. Hal ini mengawali siklus menstruasi yang baru. Berdasarkan Gambar 6. dapatkah Anda menjelaskan kekerabatan antara siklus menstruasi, siklus ovarium, dan keadaan hormon dalam tubuh?
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Grafik 7. Grafik siklus menstruasi.
4. Fertilisasi dan Kehamilan

Kehamilan akan terjadi lantaran adanya fertilisasi. Fertilisasi merupakan proses bertemunya sel telur (ovum) dengan sel sperma. Pada manusia, sel sperma akan masuk ke dalam v*gina untuk bertemu dengan sel telur melalui proses kopulasi.

Pada lelaki normal, sperma akan dikeluarkan sebanyak 300–400 juta dalam satu kali ej*kulasi. Sel-sel sperma yang masuk ke dalam v*gina akan berenang menuju oviduct (tuba Fallopi). Apabila sel sperma bertemu dengan sel telur pada tuba Fallopi, maka akan terjadi fertilisasi (Gambar 7). Fertilisasi akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid (2n), hasil peleburan antara inti sperma dan inti sel telur.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 7. Fertilisasi terjadi di tuba Fallopi.
Dalam perjalanan menuju uterus, zigot akan mengalami pembelahan. Zigot yang mengalami pembelahan tersebut dinamakan morula. Morula tersebut akan terus mengalami pembelahan menjadi blastula. Blastula mempunyai rongga yang disebut blastosol. Pada tutup blastula, zigot akan menempel pada endometrium. Proses melekatnya zigot pada endometrium disebut implantasi.

Setelah implantasi, dimulailah proses kehamilan, secara umum, kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, yaitu trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pada trimester pertama, blastuta akan terus berkembang membentuk tiga lapisan, yaitu lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm). Tahap ini disebut gastrulasi.

Setelah itu, zigot akan mengalami organogenesis, yaitu proses pembentukan banyak sekali organ tubuh dari masing-masing lapisan. Ektoderm akan membentuk sisem saraf, kulit, mata, dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Endoderm akan membentuk organ-organ pernapasan dan pencernaan. Blastula yang mengalami organogenesis membentuk embrio.

Embrio tersebut mendapat nutrisi dari endometrium melalui plasenta. Pada trimester pertama, embrio akan merangsang kelenjar-kelenjar dalam dinding uterus untuk memproduksi hormon-hormon reproduksi. Salah satu hormon yang diproduksi, ialah Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Hormon ini berfungsi merangsang corpus luteum untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut akan menyebabkan dinding uterus tetap tebal yang mempunyai kegunaan sebagai implantasi dan memelihara janin. Pada trimester pertama, kadar HCG dari dalam darah ibu sangat tinggi sehingga sebagian di antaranya diekskresikan bersama urine. Adanya HCG di dalam urine sanggup digunakan sebagai indikator dalam uji kehamilan.

Pada trimester kedua, embrio tumbuh secara cepat dan aktif mencapai ukuran sekitar 30 cm. Embrio atau janin akan aktif bergerak pada trimester kedua ini. Pada periode ini, hormon HCG akan stabil dan plasenta akan menyekresikan sendiri progesteron untuk menjaga kehamilan. Pada trimester ketiga, janin akan tumbuh mencapai berat sekitar 3–3,5 kg dan panjang sekitar 50 cm. Pada periode ini, perut ibu akan kelihatan sangat membesar.

5. Kelahiran

Kehamilan berlangsung sekitar 9 bulan 10 hari. Janin sehabis mencapai usia tersebut akan siap untuk dilahirkan. Proses kelahiran diawali dengan meningkatnya hormon estrogen. Meningkatnya hormon estrogen ini akan meningkatkan kemampuan otot-otot uterus untuk berkontraksi. Selama ahad terakhir kehamilan, hormon estrogen meningkat secara pesat. Otot-otot uterus pun dipengaruhi oleh hormon oksitosin.

Kontraksi otot-otot uterus akan menekan kepala bayi menuju serviks (leher rahim). Akibatnya, serviks akan merenggang sehingga bayi keluar dari uterus. Secara bersamaan, kontraksi tersebut akan mendorong bayi menuju v*gina dan jadinya keluar dari tubuh ibu.

Pada ketika kelahiran (Gambar 8), bayi masih terhubung dengan plasenta melalui tali pusar. Ketika masih berada di dalam uterus, janin tidak perlu bernapas. Akan tetapi, sehabis keluar, bayi akan mulai bernapas.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 8. Proses kelahiran bayi. (global.britannica.com)
Air susu ibu atau ASI lebih banyak diproduksi sehabis bayi lahir lantaran hormon prolaktin lebih aktif. Kelenjar susu dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

Kolostrum, cairan kuning yang disintesis dan disimpan oleh kelenjar mamae mulai dari bulan keempat atau kelima kehamilan, akan menjadi makanan pertama bagi bayi. Kolostrum kaya akan kandungan antibodi ibu, menjaga bayi dari infeksi. Kandungan proteinnya yang tinggi juga membantu mencegah diare pada bayi. Beberapa hari sehabis kelahiran, bayi yang menyusui dikombinasikan dengan hormon prolaktin merangsang sintesis ASI bahwasanya dalam payudara ibu.

Keunggulan dan manfaat menyusui sanggup dilihat dari beberapa aspek, yaitu aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis, dan aspek penundaan kehamilan.

Tabel 1. Manfaat ASI

Aspek
Kandungan
Manfaat
Gizi


Kolostrum
Immunoglobulin A; protein, vitamin A; karbohidrat; lemak rendah dan air
Kekebalan tubuh yang cukup, membantu mengeluarkan mekonium (kotoran bayi pertama)
ASI
Gizi yang sesuai dan berkualitas tinggi; perbandingan whey dan casein 65 : 35; taurin; DHA (Decosahexanic Acid); AA (Arachidonic Acid)
Pertumbuhan dan kecerdasan bayi, lebih gampang dicerna dibandingkan susu sapi
Imunologik
Ig.A; Laktoferin; Lysosim; sel darah putih, yakni Bronchus Asociated Lympocyte (BALT)/antibodi akses pernapasan dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT)/antibodi jaringan payudara ibu; faktor bifidus
Kekebalan tubuh bayi, menjaga keasaman tanaman usus bayi, dan menghambat pertumbuhan basil merugikan
Aspek
Manfaat
Psikologik
Rasa percaya diri ibu menyusui, kasih sayang terhadap bayi, interaksi antara ibu dan bayi, rasa kondusif dan kehangatan ibu memberi kepuasan bagi bayi
Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan nilai gizi ASI mengoptimalkan perkembangan sistem saraf bayi dan meningkatkan kecerdasan. Penelitian memperlihatkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI mempunyai IQ 4,3 poin lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8,3 poin lebih tinggi pada usia 8,5 tahun dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI
Neurologis
Dengan menyusui, koordinasi saraf menelan, mengisap, dan bernapas bayi sanggup lebih tepat
Ekonomis
Dengan menawarkan ASI eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya makanan bayi hingga bayi berumur 6 bulan
Penundaan kehamilan
Memberikan ASI langsung sanggup menunda haid dan kehamilan. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi alamiah yang dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL)

C. Gangguan dan Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia

Seperti halnya sistem-sistem tubuh lainnya, sistem reproduksi pada insan sanggup mengalami gangguan dan penyakit. Gangguan dan penyakit tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, menyerupai tumor, nanah virus atau bakteri, serta kelainan fisiologis pada organ reproduksi. Berikut akan dijelaskan beberapa pola gangguan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia.
  1. Endometriosis, ialah gangguan akhir adanya jaringan endometrium dari luar rahim (uterus). Kelainan ini berupa tumbuhnya jaringan endometrium pada ovarium, usus besar ataupun kandung kemih. Endometriosis menyebabkan sakit pada ketika menstruasi.
  2. Imp*tensi, ialah ketidakmampuan p*nis untuk ereksi atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini sanggup disebabkan oleh banyak sekali faktor, menyerupai gangguan produksi hormon testosteron, penyakit diabetes mellitus, kecanduan alkohol, dan gangguan sistem saraf.
  3. Prostatitis, ialah peradangan pada kelenjar prostat. Peradangan kelenjar prostat ini sanggup diikuti oleh peradangan uretra. Penderita prostatitis mempunyai gejala-gejala menyerupai sakit ketika buang air kecil.
  4. Infertilitas, ialah ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan. Pada pria, infertilitas diartikan ketidakmampuan sperma untuk membuahi ovum. Infertilitas sanggup disebabkan oleh gangguan spermatogenesis dan oogenesis, tersumbatnya akses sperma, tersumbatnya tuba Fallopi, dan gangguan pada rahim.
  5. Kanker serviks, merupakan kanker pada potongan serviks wanita, banyak menyerang perempuan di atas umur 40 tahun. Kanker serviks disebabkan oleh nanah virus herpes dan human papilloma virus.
Anda kini sudah mengetahui Sistem Reproduksi pada Manusia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Firmansyah, R. A. M. Hendrawan dan M. U. Riandi. 2009. Praktis dan Aktif Belajar Biologi 2 : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 210.

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Rachmawati, F. N. Urifah, dan A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XI Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 193.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.