Showing posts sorted by relevance for query sistem-reproduksi-pada-manusia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sistem-reproduksi-pada-manusia. Sort by date Show all posts

Monday, December 9, 2019

Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi Pada Manusia


Sistem Reproduksi pada Manusia - Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi. Sistem reproduksi insan lebih kompleks dibandingkan pada tumbuhan. Seorang laki-laki dan perempuan telah siap menghasilkan keturunan apabila memenuhi ciri-ciri tertentu secara biologis. Anda dapat menyimak materi berikut untuk sanggup memahami ciri-ciri ini. Pada potongan berikut, kita akan mempelajari sistem reproduksi manusia, baik laki-laki ataupun wanita. Selain itu, kita juga membahas beberapa proses yang terkait dengan sistem reproduksi, menyerupai ovulasi, menstruasi, fertilisasi, gestasi, persalinan, dan ASI. Penting pula kita ketahui mengenai berbagai gangguan dan kelainan yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi.

Perkembangbiakan atau reproduksi merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan jenisnya. Manusia tergolong makhluk dioseus (berumah dua). Hal ini berarti, satu individu hanya mempunyai satu jenis alat reproduksi, yaitu laki-laki dan wanita. Laki-laki cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut spermatozoa, sedangkan perempuan cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut ovum. Jika kedua sel gamet ini melebur atau terjadi fertilisasi, maka terbentuk zigot yang akan tumbuh menjadi janin dan dalam waktu 9 bulan akan menjadi bayi. Bagaimana proses pembentukan sperma dan ovum? Apa kaitannya dengan kehamilan dan menstruasi? Kamu akan mengetahui jawabannya sehabis mempelajari potongan ini.

Setelah mempelajari materi tersebut, kalian diperlukan mampu menjelaskan struktur, fungsi, dan proses yang terjadi pada sistem reproduksi manusia. Selain itu, kalian juga diperlukan bisa menjelaskan proses-proses pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, dan pemberian ASI. Tak kalah penting, kalian juga diperlukan mampu menjelaskan banyak sekali kelainan atau penyakit yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi insan sekaligus cara mencegah serta cara mengatasinya.

A. Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)

1. Alat Kelamin Pria

Alat kelamin laki-laki berfungsi menghasilkan gamet jantan, yaitu spermatozoa (sperma). Alat kelamin laki-laki dibedakan menjadi alat kelamin dalam dan alat kelamin luar.

a. Alat kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Testis

Testis mempunyai bentuk bundar telur dan berjumlah sepasang, terdapat pada skrotum (zakar). Testis merupakan tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin (testosteron).

Pada testis terdapat pembuluh-pembuluh halus yang disebut tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma (spermatogonium yang diploid. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel-sel interstisiil yang menghasilkan hormon testosteron dan hormon kelamin jantan lainnya. Selain itu, terdapat pula sel-sel berukuran besar yang berfungsi menyediakan makanan bagi spermatozoa, sel ini disebut sel sertoli.

2) Saluran reproduksi

Saluran reproduksi terdiri atas duktus epididimis, yaitu tempat pematangan sperma lebih lanjut dan tempat penyimpanan sementara sperma. Selanjutnya, terdapat vas deferens yang merupakan suatu akses untuk mengangkut sperma ke vesikula seminalis (kantung sperma). Arah vas deferens ini ke atas, kemudian melingkar dan salah satu ujungnya berakhir pada kelenjar prostat dan di belakang kandung kemih, akses ini bersatu membentuk duktus ejakulatorius pendek yang berakhir di uretra. Uretra dari duktus ejakulatorius sama-sama berakhir di ujung p*nis.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 1. Anatomi organ reproduksi laki-laki. (Wikimedia Commons)
3) Kelenjar kelamin

Saluran kelamin dilengkapi dengan tiga kelenjar yang sanggup mengeluarkan getah atau semen. Kelenjar-kelenjar ini, antara lain vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretral (Cowper).

a) Vesikula seminalis

Vesikula seminalis berjumlah sepasang dan terletak di atas dan bawah kandung kemih. Vesikula seminalis menghasilkan 60% dari volume total semen. Cairan dari vesikula seminalis berwarna jernih, kental mengandung lendir, asam amino, dan fruktosa. Cairan ini berfungsi memberi makan sperma. Selain itu, vesikula seminalis juga mengekskresikan prostaglandin yang berfungsi menciptakan otot uterin berkontraksi untuk mendorong sperma mencapai uterus.

b) Kelenjar prostat

Kelenjar prostat berukuran lebih besar dibandingkan dua kelenjar lainnya. Cairan yang dihasilkan encer menyerupai susu dan bersifat alkalis sehingga sanggup menyeimbangkan keasaman residu urin di uretra dan keasaman v*gina. Cairan ini langsung bermuara ke uretra lewat beberapa akses kecil.

c) Kelenjar bulbouretral atau kelenjar Cowper.

Kelenjar ini kecil, berjumlah sepasang, dan terletak di sepanjang uretra. Cairan kelenjar ini kental dan disekresikan sebelum p*nis mengeluarkan sperma dan semen.

4) Uretra

Uretra ialah akses di dalam p*nis yang berfungsi sebagai akses urin dari kandung (vesica urinaria) keluar tubuh dan sebagai akses jalannya semen dari kantong semen.

b. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar pria, yaitu berupa p*nis dan skrotum. P*nis ialah organ yang berperan untuk kopulasi (persetubuan). Kopulasi ialah penyimpanan sperma dari alat kelamin jantan (pria) ke dalam alat kelamin betina (wanita). P*nis pada laki-laki sanggup mengalami ereksi. Ereksi ialah penegangan dan pengembangan p*nis lantaran terisinya akses p*nis oleh darah. Skrotum pada laki-laki di kenal dengan buah zakar. Di dalam buah zakar ini terdapat testis.

Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet (sel kelamin). Gametogenesis dibagi menjadi dua, yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Spermatogenesis ialah proses pembentukan gamet jantan (sperma), sedangkan oogenesis ialah proses pembentukan gamet betina (ovum). Bagaimana prosedur kedua gametogenesis tersebut? Adakah perbedaannya?

2. Spermatogenesis

Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus. Spermatogonesis memakan waktu 65–75 hari di dalam tubuh pria. Di dalam tubulus seminiferus, terdapat banyak sel induk sperma (spermatogonium). Spermatogonium bersifat diploid (2n), mengandung 46 kromosom. Spermatogonium akan membelah secara mitosis menjadi spermatosit primer. Spermatosit ini akan membelah pula secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n). Haploid (n) artinya mengandung 23 kromosom atau setengah dari sel induk. Kemudian, setiap spermatosit sekunder akan membelah lagi secara meiosis menjadi dua spermatosit sehingga terbentuklah empat spermatid. Sel-sel spermatid tersebut akan mengalami pendewasaan menjadi sperma.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 2. Spermatogenesis.
B. Sistem Reproduksi pada Wanita (Perempuan)

1. Alat Kelamin Wanita

Alat reproduksi perempuan menyerupai juga pada laki-laki terdiri atas alat kelamin luar dan dalam organ reproduksi pada perempuan ialah ovarium. Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur (ovum).
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 3. Anatomi organ reproduksi wanita. (britannica.com)
a. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar terdiri atas:
  1. Celah luar disebut vulva.
  2. Sepasang bibir besar atau lipatan kulit disebut juga (Labium mayora) membatasi kedua belah celah dan sepasang bibir kecil lipatan disebut (Labium minora). Di potongan depan labium minor terdapat tonjolan yang disebut klit*ris. Klit*ris merupakan suatu berkas jaringan yang peka. Klit*ris berasal dari bahasa Yunani, yang berarti sebuah bukit kecil.
  3. Di dalam vulva bermuara dua saluran, yaitu akses urin dan akses kelamin.
b. Alat Kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Ovarium (indung telur)

Ovarium terdapat dalam rongga tubuh di tempat pinggang, yaitu di sebelah kanan dan kiri. Dalam ovarium terdapat kelenjar endokrin dan jaringan tubuh yang menciptakan sel telur (ovum) yang disebut folikel. Sel folikel akan memproduksi sel telur pada ovarium wanita. Peristiwa pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium sehabis folikel masak disebut ovulasi. Ovulasi pada perempuan berlangsung sebulan sekali. Pada ketika folikel telur tumbuh, ovarium menghasilkan hormon estrogen, dan sehabis ovulasi menghasilkan hormon progesteron.

2) Saluran tuba fallopii

Saluran tuba fallopii atau oviduk berjumlah sepasang, di kanan dan di kiri. Saluran ini menghubungkan ovarium dengan rahim. Bagian pangkalnya berbentuk corong disebut tuba infundibulum. Tuba infundibulum ini dilengkapi dengan jumbai-jumbai yang dinamakan fimbriae. Fimbriae berfungsi menangkap sel telur yang telah masak dan lepas dari ovarium. Tuba fallopii berfungsi untuk menggerakkan ovum ke arah rahim dengan gerak peristaltik dan dengan dukungan silia.

3) Uterus (rahim)

Rahim insan mempunyai satu ruangan dan berbentuk buah pir, pada potongan bawahnya mengecil dan disebut leher rahim atau serviks uteri, potongan ujung yang besar disebut tubuh rahim atau corpus uteri. Lapisan terdalam yang membatasi rongga rahim terdiri atas jaringan epitel yang disebut endometrium atau selaput rahim. Lapisan ini menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Sebulan sekali, pada ketika menstruasi (haid) lapisan ini dilepaskan diikuti dengan pendarahan. Dinding pada rahim selalu mengalami perubahan ketebalan, insiden ini dipengaruhi hormon, di antaranya adalah:

a) Menjelang ovulasi dinding menebal, lantaran efek hormon estrogen.
b) Dinding rahim akan semakin menebal sehabis ovulasi, lantaran efek hormon progesteron.
c) Pada ketika menstruasi dinding rahim tipis kembali, lantaran dinding endometrium mengelupas. Setelah menstruasi, dinding dibuat kembali, insiden ini disebut siklus menstruasi.
d) Uterus atau rahim merupakan ruangan tempat janin menempel, tumbuh dan berkembang.

4) V*gina (liang peranakan)

V*gina ialah sebuah tabung berlapiskan otot yang membujur ke arah belakang dan atas. Dinding v*gina lebih tipis dari rahim dan banyak lipatan-Iipatan. Hal ini untuk mempermudah jalan kelahiran bayi. Selain itu, juga terdapat lendir yang dihasilkan oleh dinding v*gina dan suatu kelenjar, yaitu kelenjar barlholini.

2. Oogenesis

Oogenesis terjadi di dalam ovarium. Ovarium mengandung banyak sel induk telur (oogonium)yang bersifat diploid (2n). Oogonium tersebut akan membelah secara mitosis menjadi oosit primer. Oosit primer akan membelah secara meiosis menjadi satu oosit sekunder dan satu tubuh polar primer. Kemudian, oosit sekunder membelah secara meiosis menjadi satu ootid dan satu tubuh polar sekunder. Ootid akan mengalami pematangan menjadi sel telur (ovum), sedangkan tubuh polar sekunder akan luruh (degenerasi).

Sel telur yang telah matang akan dilepaskan oleh ovarium. Pelepasan sel telur oleh ovarium disebut ovulasi.

Di dalam ovarium terdapat banyak folikel yang merupakan pelindung dan pemberi nutrisi bagi sel telur yang sedang dibentuk. Pada proses ovulasi, folikel akan mengeluarkan sel telur. Folikel yang telah mengeluarkan sel telurnya disebut corpus luteum. Corpus luteum menyekresikan hormon estrogen dan progesteron.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 4. Oogenesis terjadi di ovarium.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 5. Proses pelepasan sel telur oleh ovarium (ovulasi). (embryology.med.unsw.edu.au).
Pada ketika dilahirkan, ovarium pada bayi perempuan mengandung 600 ribu oosit primer. Akan tetapi, hanya 400 yang akan berkembang menjadi ovum.

3. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi mengacu kepada perubahan yang muncul di dalam uterus. Rata-rata siklus menstruasi pada perempuan sekitar 28 hari. Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yaitu fase menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekretori (Campbell, 1998: 951).

Fase menstruasi merupakan fase pada ketika terjadi peluruhan dinding uterus yang menebal (endometrium). Endometrium yang luruh tersebut merupakan proses menstruasi (keluarnya darah dari v*gina). Fase menstruasi hanya terjadi dalam beberapa hari saja (4–7hari). Menstruasi menyebabkan dinding uterus menjadi tipis menyerupai semula.

Setelah 1–2 minggu, dinding uterus kembali menebal. Proses ini terjadi pada fase proliferasi. Fase terakhir dari siklus menstruasi ialah fase sekretori. Fase sekretori berlangsung selama dua minggu. Pada fase ini, endometrium semakin menebal, kaya akan pembuluh darah. Apabila tidak terjadi implantasi embrio pada endometrium, maka endometrium akan luruh. Hal ini akan mengawali terjadinya kembali siklus menstruasi.

Pada ketika terjadi siklus menstruasi, berlangsung pula siklus ovarium. Siklus ini, terdiri atas tiga fase, yaitu fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Siklus ovarium diawali oleh fase folikular. Pada fase ini, folikelfolikel pada ovarium akan tumbuh dan berkembang. Dari beberapa folikel yang tumbuh, hanya satu saja yang akan matang, sementara folikel yang lainnya akan luruh. Fase ini berakhir pada ketika sel telur dikeluarkan (ovulasi). Peristiwa ini merupakan fase ovulasi. Folikel yang telah mengeluarkan sel telur akan tetap berada di ovarium dan menjelma corpus luteum. Proses tersebut terjadi pada fase luteal.

Siklus menstruasi dan siklus ovarium sangat dipengaruhi oleh hormon. Hormon tersebut besar lengan berkuasa terhadap perkembangan folikel, ovulasi, dan penebalan dinding rahim. Terdapat lima jenis hormon yang berperan dalam siklus menstruasi dan siklus ovarium (Campbell, 1998: 951). Kelima hormon tersebut ialah Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing Hormone (LH), estrogen, dan progesteron.

Pada fase folikular dari siklus ovarium, hipotalamus akan mengeluarkan GnRH yang akan merangsang sekresi hormon FSH dan LH. FSH akan merangsang perkembangan folikel yang akan menyekresikan estrogen. LH sendiri menyebabkan terjadinya ovulasi dan pembentukan corpus luteum. Corpus luteum akan menyekresikan hormon estrogen dan progesteron. Kadar estrogen akan meningkat pada hari ke-12 siklus. Hal ini akan menyebabkan insiden ovulasi pada hari ke-14 siklus. Produksi estrogen dan progesteron akan mencapai puncaknya pada hari ke-22 siklus.

Apabila tidak terjadi pembuahan, kadar estrogen dan progesteron yang tinggi akan menghambat produksi FSH dan LH. Turunnya kadar LH akan menyebabkan luruhnya corpus luteum sehingga kadar estrogen dan progesteron pun menurun. Hal ini mengawali siklus menstruasi yang baru. Berdasarkan Gambar 6. dapatkah Anda menjelaskan kekerabatan antara siklus menstruasi, siklus ovarium, dan keadaan hormon dalam tubuh?
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Grafik 7. Grafik siklus menstruasi.
4. Fertilisasi dan Kehamilan

Kehamilan akan terjadi lantaran adanya fertilisasi. Fertilisasi merupakan proses bertemunya sel telur (ovum) dengan sel sperma. Pada manusia, sel sperma akan masuk ke dalam v*gina untuk bertemu dengan sel telur melalui proses kopulasi.

Pada lelaki normal, sperma akan dikeluarkan sebanyak 300–400 juta dalam satu kali ej*kulasi. Sel-sel sperma yang masuk ke dalam v*gina akan berenang menuju oviduct (tuba Fallopi). Apabila sel sperma bertemu dengan sel telur pada tuba Fallopi, maka akan terjadi fertilisasi (Gambar 7). Fertilisasi akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid (2n), hasil peleburan antara inti sperma dan inti sel telur.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 7. Fertilisasi terjadi di tuba Fallopi.
Dalam perjalanan menuju uterus, zigot akan mengalami pembelahan. Zigot yang mengalami pembelahan tersebut dinamakan morula. Morula tersebut akan terus mengalami pembelahan menjadi blastula. Blastula mempunyai rongga yang disebut blastosol. Pada tutup blastula, zigot akan menempel pada endometrium. Proses melekatnya zigot pada endometrium disebut implantasi.

Setelah implantasi, dimulailah proses kehamilan, secara umum, kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, yaitu trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pada trimester pertama, blastuta akan terus berkembang membentuk tiga lapisan, yaitu lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm). Tahap ini disebut gastrulasi.

Setelah itu, zigot akan mengalami organogenesis, yaitu proses pembentukan banyak sekali organ tubuh dari masing-masing lapisan. Ektoderm akan membentuk sisem saraf, kulit, mata, dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Endoderm akan membentuk organ-organ pernapasan dan pencernaan. Blastula yang mengalami organogenesis membentuk embrio.

Embrio tersebut mendapat nutrisi dari endometrium melalui plasenta. Pada trimester pertama, embrio akan merangsang kelenjar-kelenjar dalam dinding uterus untuk memproduksi hormon-hormon reproduksi. Salah satu hormon yang diproduksi, ialah Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Hormon ini berfungsi merangsang corpus luteum untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut akan menyebabkan dinding uterus tetap tebal yang mempunyai kegunaan sebagai implantasi dan memelihara janin. Pada trimester pertama, kadar HCG dari dalam darah ibu sangat tinggi sehingga sebagian di antaranya diekskresikan bersama urine. Adanya HCG di dalam urine sanggup digunakan sebagai indikator dalam uji kehamilan.

Pada trimester kedua, embrio tumbuh secara cepat dan aktif mencapai ukuran sekitar 30 cm. Embrio atau janin akan aktif bergerak pada trimester kedua ini. Pada periode ini, hormon HCG akan stabil dan plasenta akan menyekresikan sendiri progesteron untuk menjaga kehamilan. Pada trimester ketiga, janin akan tumbuh mencapai berat sekitar 3–3,5 kg dan panjang sekitar 50 cm. Pada periode ini, perut ibu akan kelihatan sangat membesar.

5. Kelahiran

Kehamilan berlangsung sekitar 9 bulan 10 hari. Janin sehabis mencapai usia tersebut akan siap untuk dilahirkan. Proses kelahiran diawali dengan meningkatnya hormon estrogen. Meningkatnya hormon estrogen ini akan meningkatkan kemampuan otot-otot uterus untuk berkontraksi. Selama ahad terakhir kehamilan, hormon estrogen meningkat secara pesat. Otot-otot uterus pun dipengaruhi oleh hormon oksitosin.

Kontraksi otot-otot uterus akan menekan kepala bayi menuju serviks (leher rahim). Akibatnya, serviks akan merenggang sehingga bayi keluar dari uterus. Secara bersamaan, kontraksi tersebut akan mendorong bayi menuju v*gina dan jadinya keluar dari tubuh ibu.

Pada ketika kelahiran (Gambar 8), bayi masih terhubung dengan plasenta melalui tali pusar. Ketika masih berada di dalam uterus, janin tidak perlu bernapas. Akan tetapi, sehabis keluar, bayi akan mulai bernapas.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 8. Proses kelahiran bayi. (global.britannica.com)
Air susu ibu atau ASI lebih banyak diproduksi sehabis bayi lahir lantaran hormon prolaktin lebih aktif. Kelenjar susu dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

Kolostrum, cairan kuning yang disintesis dan disimpan oleh kelenjar mamae mulai dari bulan keempat atau kelima kehamilan, akan menjadi makanan pertama bagi bayi. Kolostrum kaya akan kandungan antibodi ibu, menjaga bayi dari infeksi. Kandungan proteinnya yang tinggi juga membantu mencegah diare pada bayi. Beberapa hari sehabis kelahiran, bayi yang menyusui dikombinasikan dengan hormon prolaktin merangsang sintesis ASI bahwasanya dalam payudara ibu.

Keunggulan dan manfaat menyusui sanggup dilihat dari beberapa aspek, yaitu aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis, dan aspek penundaan kehamilan.

Tabel 1. Manfaat ASI

Aspek
Kandungan
Manfaat
Gizi


Kolostrum
Immunoglobulin A; protein, vitamin A; karbohidrat; lemak rendah dan air
Kekebalan tubuh yang cukup, membantu mengeluarkan mekonium (kotoran bayi pertama)
ASI
Gizi yang sesuai dan berkualitas tinggi; perbandingan whey dan casein 65 : 35; taurin; DHA (Decosahexanic Acid); AA (Arachidonic Acid)
Pertumbuhan dan kecerdasan bayi, lebih gampang dicerna dibandingkan susu sapi
Imunologik
Ig.A; Laktoferin; Lysosim; sel darah putih, yakni Bronchus Asociated Lympocyte (BALT)/antibodi akses pernapasan dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT)/antibodi jaringan payudara ibu; faktor bifidus
Kekebalan tubuh bayi, menjaga keasaman tanaman usus bayi, dan menghambat pertumbuhan basil merugikan
Aspek
Manfaat
Psikologik
Rasa percaya diri ibu menyusui, kasih sayang terhadap bayi, interaksi antara ibu dan bayi, rasa kondusif dan kehangatan ibu memberi kepuasan bagi bayi
Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan nilai gizi ASI mengoptimalkan perkembangan sistem saraf bayi dan meningkatkan kecerdasan. Penelitian memperlihatkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI mempunyai IQ 4,3 poin lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8,3 poin lebih tinggi pada usia 8,5 tahun dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI
Neurologis
Dengan menyusui, koordinasi saraf menelan, mengisap, dan bernapas bayi sanggup lebih tepat
Ekonomis
Dengan menawarkan ASI eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya makanan bayi hingga bayi berumur 6 bulan
Penundaan kehamilan
Memberikan ASI langsung sanggup menunda haid dan kehamilan. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi alamiah yang dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL)

C. Gangguan dan Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia

Seperti halnya sistem-sistem tubuh lainnya, sistem reproduksi pada insan sanggup mengalami gangguan dan penyakit. Gangguan dan penyakit tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, menyerupai tumor, nanah virus atau bakteri, serta kelainan fisiologis pada organ reproduksi. Berikut akan dijelaskan beberapa pola gangguan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia.
  1. Endometriosis, ialah gangguan akhir adanya jaringan endometrium dari luar rahim (uterus). Kelainan ini berupa tumbuhnya jaringan endometrium pada ovarium, usus besar ataupun kandung kemih. Endometriosis menyebabkan sakit pada ketika menstruasi.
  2. Imp*tensi, ialah ketidakmampuan p*nis untuk ereksi atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini sanggup disebabkan oleh banyak sekali faktor, menyerupai gangguan produksi hormon testosteron, penyakit diabetes mellitus, kecanduan alkohol, dan gangguan sistem saraf.
  3. Prostatitis, ialah peradangan pada kelenjar prostat. Peradangan kelenjar prostat ini sanggup diikuti oleh peradangan uretra. Penderita prostatitis mempunyai gejala-gejala menyerupai sakit ketika buang air kecil.
  4. Infertilitas, ialah ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan. Pada pria, infertilitas diartikan ketidakmampuan sperma untuk membuahi ovum. Infertilitas sanggup disebabkan oleh gangguan spermatogenesis dan oogenesis, tersumbatnya akses sperma, tersumbatnya tuba Fallopi, dan gangguan pada rahim.
  5. Kanker serviks, merupakan kanker pada potongan serviks wanita, banyak menyerang perempuan di atas umur 40 tahun. Kanker serviks disebabkan oleh nanah virus herpes dan human papilloma virus.
Anda kini sudah mengetahui Sistem Reproduksi pada Manusia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Firmansyah, R. A. M. Hendrawan dan M. U. Riandi. 2009. Praktis dan Aktif Belajar Biologi 2 : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 210.

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Rachmawati, F. N. Urifah, dan A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XI Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 193.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi Pada Laki-Laki (Laki-Laki)

Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki) - Manusia, baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk bereproduksi. Seandainya insan tidak bisa bereproduksi, tentu keberadaan insan di muka bumi akan punah. Sistem reproduksi pria dan perempuan saling melengkapi, sehingga insan sanggup menghasilkan keturunan. Masih ingatkah kalian wacana definisi sistem organ? Sistem organ adalah kumpulan dari beberapa organ yang secara bahu-membahu melakukan satu fungsi. Jadi, yang dimaksud sistem reproduksi yaitu kumpulan dari beberapa organ yang bahu-membahu melaksanakan fungsi reproduksi. (Baca juga : Sistem Reproduksi pada Manusia)

Sistem reproduksi laki-laki terdiri atas alat-alat reproduksi, proses pembentukan sel sperma (spermatogenesis), dan banyak sekali hormon yang ikut berperan dalam sistem reproduksi. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian berikut.

1. Proses dan Alat Reproduksi pada Pria (Laki-laki)

Sel sperma yang menjadi alat perkembangbiakan insan dan menjadi alat pembuahan sel telur betina merupakan sel kelamin yang diproduksi oleh pria. Sel sperma diproduksi di bab testis yang terlindung oleh sebuah jaringan ikat berbentuk kantung yang disebut skrotum. Tempat tersebut cukup nyaman bagi testis untuk melaksanakan perkembangan sel sperma (Gambar 1).

 baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)
Gambar 1. Bagian-bagian alat reproduksi pria.
Di dalam testis, terdapat kumparan daerah sel sperma diproduksi yang disebut tubulus seminiferus. Jika direntangkan, panjang terusan tersebut sanggup mencapai 20 meter. Di antara tubulus-tubulus tersebut, terdapat sel interstitial (sel Leydig) yang menyintesis hormon testosteron. Di dalam dinding tubulus seminiferus terdapat bakal sel sperma yang disebut spermatogonia. Selain itu, terdapat juga sel yang berukuran lebih besar yang disebut dengan sel sertoli. Sel ini bertugas memperlihatkan pasokan nutrisi untuk pertumbuhan spermatogonia. Untuk menjadi sel sperma, spermatogonia yang diploid harus mengalami beberapa kali pembelahan sel sampai karenanya menghasilkan 4 sel sperma yang haploid, proses ini disebut spermatogenesis.
 baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)
Gambar 2. Sel Leydig memproduksi testosteron yang mengatur spermatogenis.
Dalam perjalanan keluarnya sperma dari dalam badan pria, terdapat beberapa struktur saluran. Struktur dimulai dari epididimis yang merupakan campuran dari beberapa tubulus seminiferus. Epididimis akan bemuara di sebuah terusan yang disebut vas deferens. Saluran vas deferens membawa sel sperma keluar dari skrotum ke rongga perut. Epididimis dan vas deferens ini merupakan salah satu kantung cadangan yang menyimpan sel sperma sementara waktu dan daerah pendewasan sel sperma sebelum dikeluarkan. Vas deferens akan berlanjut di terusan yang sama dengan terusan ekskresi, yaitu uretra di kandung kemih. Di pertemuan dua terusan tersebut, terdapat prosedur yang mengatur pembuangan urine dan berfungsi juga dalam penyaluran sel sperma. Uretra berujung di p*nis. Proses keluarnya sel sperma dari p*nis disebut ej*kulasi. P*nis merupakan organ reproduksi eksternal yang berfungsi dalam senggma untuk mengantarkan sperma ke dalam badan wanita.
 baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)
Gambar 3. Anatomi sperma manusia. (Wikimedia Commons)
2. Proses Pembentukan Sperma (Spermatogenesis)

Sel sperma yang berfungsi dalam reproduksi, harus mengalami perkembangan dan pembelahan. Proses pembelahan tersebut terjadi secara mitosis dan meiosis. Sebagai alat reproduksi, sel sperma harus haploid sehingga sehabis pembuahan, akan tetap dihasilkan individu yang diploid. Begitu juga halnya dengan pembentukan sel telur yang haploid. Pembelahan mitosis hanya terjadi pada spermatogonia untuk memperbanyak bakal sel sperma menjadi spermatosit primer. Mulai dari spermatosit, terjadi pembelahan meiosis yang pertama dan menghasilkan sel anak haploid yang disebut spermatosit sekunder. Selanjutnya, terjadi pembelahan meiosis yang kedua dan menghasilkan sel spermatid. Setelah mengalami pematangan, sel spermatid akan menjadi sel sperma (Gambar 2).
 baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)
Gambar 2. Spermatogenesis terjadi di dalam testis yang karenanya menghasilkan spermatozoa.
Produksi sel sperma di badan laki-laki dilakukan sepanjang hidupnya, siklus waktunya yaitu tiga hari. Proses pematangan sel sperma dipicu oleh hadirnya hormon testosteron di testis, tepatnya di bab sel interstitial. Setiap hari, seorang laki-laki sampaumur memproduksi 100 juta sel spermatid yang disimpan di duktus epididimis, kemudian menuju vas deferens untuk mengalami pematangan. Pematangan sel spermatid pada manusia, umumnya terjadi dalam waktu sekitar dua minggu.
 baik laki-laki maupun perempuan diberikan kemampuan untuk Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)
Gambar 3. Spermatogenesis terjadi di testis.
3. Kontrol Hormonal pada Sistem Reproduksi Pria

Spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon gonadotropin, Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH), dan hormon testosteron. Mari cermati.

a. Hormon Gonadotropin

Hormon gonadotropin dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini berfungsi untuk merangsang kelenjar hipofisa bab depan (anterior) supaya mengeluarkan hormon FSH dan LH.

b. FSH (Follicle Stimulating Hormone)

FSH dihasilkan oleh hipofisa anterior. Hormon ini berfungsi menghipnotis dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang memacu pembentukan sperma.

c. LH (Luteinizing Hormone)

LH dihasilkan oleh hipofisa anterior. Hormon ini berfungsi merangsang sel-sel interstitial (sel leydig) supaya mensekresi hormon testosteron (androgen).

d. Hormon Testosteron

Hormon testosteron dihasilkan oleh testis. Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada ketika embrio, menghipnotis perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder serta mendorong spermatogenesis.

Anda kini sudah mengetahui Sistem Reproduksi pada Pria. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo. 2009. Mudah Belajar Biologi 2 : untuk kelas 12 Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 250.

Rachmawati, F. N. Urifah, dan A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XI Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 193.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Pintar Pelajaran Kesehatan Reproduksi Pada Manusia


Kesehatan Reproduksi pada Manusia - Tidak berbeda dengan sistem organ yang lainnya, sistem reproduksi manusia sanggup pula mengalami gangguan atau kelainan. Untuk mengatasi gangguan atau kelainan tersebut, bidang kesehatan telah berusaha mengembangkan aneka macam alat dengan sentuhan teknologi mutakhir. 

1. Gangguan atau Kelainan pada Sistem Reproduksi Manusia

Berbagai gangguan atau kelainan sistem reproduksi insan antara lain sebagai berikut.
  1. Kanker v*gina, yaitu kanker yang terjadi pada wanita. Penyebabnya bisa alasannya yaitu adanya abuh virus pada v*gina.
  2. Kanker rahim, adalah gangguan yang ditandai dengan perdarahan pada vagiana secara tidak normal.
  3. Prostatis, adalah gangguan yang terjadi pada prostat dalam bentuk peradangan oleh kuman E. coli dan Chlamydia.
  4. Hipogonadisme yaitu gangguan pada hormon androgen dan testosteron pada pria, sehingga sanggup mengakibatkan infertilitas atau kemndulan.
Mndul yaitu gangguan yang sanggup terjadi baik pada pria maupun wanita. Pada pria, penyebab kemndulan yaitu jumlah produksi sprma yang sedikit atau bisa pula bentuk sprma yang abnormal. Sedangkan pada perempuan, kemndulan terjadi karena saluran indung telur tersumbat atau endometrium yang tidak berada pada daerah semestinya (endometriosis).

2. Teknologi Reproduksi pada Manusia

Sekarang banyak ditemukan aneka macam teknologi yang berperan untuk mengatasi permasalahan sistem reproduksi manusia. Misalnya saja, inovasi teknik bayi tabung, dan pembuatan aneka macam alat kontrasepsi. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak dan pahami ulasan berikut.

a. Amniosentesis

Amniosentesis yaitu teknik pengambilan cairan amnion untuk dianalisis secara genetik. Pengambilan cairan ini dimaksudkan agar penyakit genetik dan penyakit bawaan yang lahir ketika fetus dalam uterus sanggup terdeteksi. Sama ibarat teknik ini yaitu pengambilan sampel vilus korion (chorionic villus sampling).

b. Pencitraan Ultrasound

Pencitraan ultrasound atau pindai suara ultra yaitu salah satu teknologi yang dipakai untuk menampilkan keadaan kesehatan bayi dalam rahim ibu. Selain itu, adanya alat ini menimbulkan dokter mampu mengetahui jenis kelamin bayi.

c. Ferlitisasi In Vitro

Teknik ini dipakai untuk membantu pasangan tanpa anak yang menginginkan keturunan. Apabila oviduk seorang perempuan tersumbat, ovum yang berada pada folikel sanggup diambil. Ovum tersebut difertilisasi pada cawan petri di laboratorium. Jangka waktu 2,5 hari, embrio yang telah membelah sebanyak 8 sel ditempatkan pada uterus sehingga terjadi implantansi. Teknik demikian dinamakan teknik bayi tabung.

d. Kontrasepsi

Kontrasepsi yaitu salah satu upaya yang dilakukan oleh suami atau istri untuk mencegah pembuahan (fertilisasi) dan kehamilan. Upaya ini sanggup dilakukan dengan memakai metode rintangan dan metode ritme. Metode rintangan merupakan kontrasepsi yang menggunakan suatu alat. Alat-alat yang dipakai contohnya k*ndom laki-laki atau diafragma wanita, IUD (Intra Uterine Device) atau perkakas intrauterus pada wanita, dan pil pengontrol kelahiran. K*ndom yaitu lapisan karet lateks yang menutupi p*nis untuk mengumpulkan semen. Seperti fungsi k*ndom, pada perempuan memakai diafragma, yakni tudung karet berbentuk kubah yang dipasang pada serpihan atas v*gina sebelum hubungan kelamin. Kedua cara ini lebih efektif jikalau dipakai bersama dengan busa atau jeli spermasidal (pembunuh sprma). IUD adalahplastik kecil atau perkakas logam yang dimasukkan ke dalam rongga uterus dengan fungsi mencegah implantasi blastosis dalam uterus. Sedangkan penggunaan pil pengontrol kehamilan dilakukan dengan meminumnya secara teratur.

Di samping cara-cara tersebut, metode rintangan juga dapat dilakukan dengan cara sterlisasi. Sterelisasi pada laki-laki dilakukan dengan vasektomi. Vasektomi yaitu pemotongan kedua vas deferens pada saluran reproduksi pria. Ini dilakukan supaya sprma tidak sanggup masuk ke dalam uretra. Adapun pada wanita, proses sterelisasi dilakukan dengan pengikatan tuba falopi (tubal ligation) atau tubektomi. Cara ini dilakukan dengan melaksanakan pengikatan pada sebagian oviduk sehingga sel telur tidak sanggup masuk ke dalam uterus. Sebenarnya kedua cara ini cukup aman, namun pemotongan jalan masuk reproduksi ini sulit dikembalikan alias permanen.

Metode yang dipakai untuk mengontrol proses kelahiran berikutnya ialah metode ritme. Metode ritme atau keluarga berencana alamiah merupakan cara berpantang bekerjasama kelamin pada saat tertentu sehingga tidak terjadi fertilisasi. Untuk melaksanakan metode ini, setiap pasangan suami-istri harus mengetahui siklus menstruasi terutama pada fase ovulasi. Sebab, dengan mengetahui masa subur istri, sang suami sanggup menghindari untuk tidak bekerjasama kelamin.

Mencegah Penyakit pada Organ Reproduksi

Cara yang paling tepat untuk mencegah penyakit pada organ reproduksi adalah selalu menjaga kebersihannya. Selain itu, hindari kekerabatan seksual di luar ijab kabul sehingga tidak tertular Penyakit Menular Seksual (PMS).

Anda kini sudah mengetahui Kesehatan Reproduksi pada Manusia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Sunday, December 1, 2019

Pintar Pelajaran Kesehatan Reproduksi Pada Manusia


Kesehatan Reproduksi pada Manusia - Tidak berbeda dengan sistem organ yang lainnya, sistem reproduksi manusia sanggup pula mengalami gangguan atau kelainan. Untuk mengatasi gangguan atau kelainan tersebut, bidang kesehatan telah berusaha mengembangkan aneka macam alat dengan sentuhan teknologi mutakhir. 

1. Gangguan atau Kelainan pada Sistem Reproduksi Manusia

Berbagai gangguan atau kelainan sistem reproduksi insan antara lain sebagai berikut.
  1. Kanker v*gina, yaitu kanker yang terjadi pada wanita. Penyebabnya bisa alasannya yaitu adanya abuh virus pada v*gina.
  2. Kanker rahim, adalah gangguan yang ditandai dengan perdarahan pada vagiana secara tidak normal.
  3. Prostatis, adalah gangguan yang terjadi pada prostat dalam bentuk peradangan oleh kuman E. coli dan Chlamydia.
  4. Hipogonadisme yaitu gangguan pada hormon androgen dan testosteron pada pria, sehingga sanggup mengakibatkan infertilitas atau kemndulan.
Mndul yaitu gangguan yang sanggup terjadi baik pada pria maupun wanita. Pada pria, penyebab kemndulan yaitu jumlah produksi sprma yang sedikit atau bisa pula bentuk sprma yang abnormal. Sedangkan pada perempuan, kemndulan terjadi karena saluran indung telur tersumbat atau endometrium yang tidak berada pada daerah semestinya (endometriosis).

2. Teknologi Reproduksi pada Manusia

Sekarang banyak ditemukan aneka macam teknologi yang berperan untuk mengatasi permasalahan sistem reproduksi manusia. Misalnya saja, inovasi teknik bayi tabung, dan pembuatan aneka macam alat kontrasepsi. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak dan pahami ulasan berikut.

a. Amniosentesis

Amniosentesis yaitu teknik pengambilan cairan amnion untuk dianalisis secara genetik. Pengambilan cairan ini dimaksudkan agar penyakit genetik dan penyakit bawaan yang lahir ketika fetus dalam uterus sanggup terdeteksi. Sama ibarat teknik ini yaitu pengambilan sampel vilus korion (chorionic villus sampling).

b. Pencitraan Ultrasound

Pencitraan ultrasound atau pindai suara ultra yaitu salah satu teknologi yang dipakai untuk menampilkan keadaan kesehatan bayi dalam rahim ibu. Selain itu, adanya alat ini menimbulkan dokter mampu mengetahui jenis kelamin bayi.

c. Ferlitisasi In Vitro

Teknik ini dipakai untuk membantu pasangan tanpa anak yang menginginkan keturunan. Apabila oviduk seorang perempuan tersumbat, ovum yang berada pada folikel sanggup diambil. Ovum tersebut difertilisasi pada cawan petri di laboratorium. Jangka waktu 2,5 hari, embrio yang telah membelah sebanyak 8 sel ditempatkan pada uterus sehingga terjadi implantansi. Teknik demikian dinamakan teknik bayi tabung.

d. Kontrasepsi

Kontrasepsi yaitu salah satu upaya yang dilakukan oleh suami atau istri untuk mencegah pembuahan (fertilisasi) dan kehamilan. Upaya ini sanggup dilakukan dengan memakai metode rintangan dan metode ritme. Metode rintangan merupakan kontrasepsi yang menggunakan suatu alat. Alat-alat yang dipakai contohnya k*ndom laki-laki atau diafragma wanita, IUD (Intra Uterine Device) atau perkakas intrauterus pada wanita, dan pil pengontrol kelahiran. K*ndom yaitu lapisan karet lateks yang menutupi p*nis untuk mengumpulkan semen. Seperti fungsi k*ndom, pada perempuan memakai diafragma, yakni tudung karet berbentuk kubah yang dipasang pada serpihan atas v*gina sebelum hubungan kelamin. Kedua cara ini lebih efektif jikalau dipakai bersama dengan busa atau jeli spermasidal (pembunuh sprma). IUD adalahplastik kecil atau perkakas logam yang dimasukkan ke dalam rongga uterus dengan fungsi mencegah implantasi blastosis dalam uterus. Sedangkan penggunaan pil pengontrol kehamilan dilakukan dengan meminumnya secara teratur.

Di samping cara-cara tersebut, metode rintangan juga dapat dilakukan dengan cara sterlisasi. Sterelisasi pada laki-laki dilakukan dengan vasektomi. Vasektomi yaitu pemotongan kedua vas deferens pada saluran reproduksi pria. Ini dilakukan supaya sprma tidak sanggup masuk ke dalam uretra. Adapun pada wanita, proses sterelisasi dilakukan dengan pengikatan tuba falopi (tubal ligation) atau tubektomi. Cara ini dilakukan dengan melaksanakan pengikatan pada sebagian oviduk sehingga sel telur tidak sanggup masuk ke dalam uterus. Sebenarnya kedua cara ini cukup aman, namun pemotongan jalan masuk reproduksi ini sulit dikembalikan alias permanen.

Metode yang dipakai untuk mengontrol proses kelahiran berikutnya ialah metode ritme. Metode ritme atau keluarga berencana alamiah merupakan cara berpantang bekerjasama kelamin pada saat tertentu sehingga tidak terjadi fertilisasi. Untuk melaksanakan metode ini, setiap pasangan suami-istri harus mengetahui siklus menstruasi terutama pada fase ovulasi. Sebab, dengan mengetahui masa subur istri, sang suami sanggup menghindari untuk tidak bekerjasama kelamin.

Mencegah Penyakit pada Organ Reproduksi

Cara yang paling tepat untuk mencegah penyakit pada organ reproduksi adalah selalu menjaga kebersihannya. Selain itu, hindari kekerabatan seksual di luar ijab kabul sehingga tidak tertular Penyakit Menular Seksual (PMS).

Anda kini sudah mengetahui Kesehatan Reproduksi pada Manusia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi Pada Wanita

Sistem Reproduksi pada Wanita - Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses yang menyertainya. Proses-proses yang terjadi dalam sistem reproduksi wanita, contohnya oogenesis, siklus menstruasi, fertilisasi, gestasi (kehamilan), dan persalinan. (Baca juga : Sistem Reproduksi pada Manusia)

2. Proses Pembentukan Sel Telur (Oogenesis)

Ovarium menghasilkan ovum. Proses pembentukan ovum di dalam ovarium disebut oogenesis. Pada ovarium yang ada di dalam tubuh embrio atau fetus terdapat sekitar 600.000 buah sel induk telur atau disebut oogonium. Pada ketika umur fetus (embrio) lima bulan, oogonium memperbanyak diri secara mitosis, membentuk kurang lebih 7 juta oosit primer.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 1. Oogenesis terjadi di dalam ovarium yang akan menghasilkan ovum.
Pada ketika embrio (fetus) umur 6 bulan, oosit primer dalam tahap meiosis (profase I). Setelah itu, terjadi pengurangan jumlah oosit primer hingga lahir. Pada ketika lahir dua ovarium mengandung 2 juta oosit primer. Selanjutnya, oosit primer yang sedang tahap membelah tersebut istirahat hingga masa pubertas. Pada waktu anak berumur 7 tahun jumlahnya susut lagi menjadi sekitar 300.000 - 400.000 oosit primer.

Setelah masuk masa pubertas, perempuan akan mengalami menstruasi atau haid. Saat itu kelenjar hipofisis bisa menghasilkan FSH, dan oosit primer yang terbentuk melanjutkan pembelahan meiosis menghasilkan dua sel yang ukurannya tidak sama. Sel yang berukuran besar disebut oosit sekunder dan yang berukuran kecil disebut tubuh polar pertama. Penyelesaian tahap meiosis I sekitar menjelang ovulasi.

Oosit sekunder melanjutkan tahapan meiosis II dan berhenti pada metafase II. Jadi, pada ketika ovulasi, yang dikeluarkan bukan ovum melainkan oosit sekunder pada metafase II. Jika tidak terjadi penetrasi oleh sprma, oosit sekunder mati. Jika terjadi penetrasi sprma, oosit sekunder akan melengkapi tahapan meiosis II. Hasilnya yaitu satu sel yang besar disebut ootid dan satu sel yang kecil disebut tubuh polar kedua. Sedangkan, tubuh polar I menghasilkan 2 tubuh polar. Pada ketika menjelang terjadinya peleburan inti sel telur dengan inti sprma, ootid berkembang menjadi ovum (telur).

Ketiga tubuh polar yang melekat pada ovum tidak berfungsi dan mengalami degenerasi. Dengan demikian, hasil oogenesis yaitu sel ovum yang besar dan tiga sel tubuh polar yang melekat di ovum.

Seperti halnya spermatogenesis, proses oogenesis juga dipengaruhi oleh banyak sekali jenis hormon. Hormon-hormon tersebut sanggup dihasilkan oleh hipofisa, dan ovarium.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 2. Oogenesis terjadi di ovarium.

Pada siklus ovulasi, sel telur yang tidak dibuahi harus dikeluarkan dari dalam tubuh bersamaan dengan pendukung implantasi bayi di dinding rahim, yaitu endometrium. Proses peluruhan dinding rahim dan dibuangnya sel telur yang tidak dibuahi ini, disebut menstruasi. Secara hormonal, proses ini diawali dengan diproduksinya hormon gonadotropin (gonadotropin releasing hormone) yang akan memerintahkan pituitari untuk menghasilkan hormon FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). FSH dan LH ini akan menginisiasi (merangsang) pembentukan folikel daerah pematangan sel telur di dalam ovarium. Folikel yang berkembang akan menghasilkan hormon estrogen.

FSH, LH, dan hormon estrogen akan besar lengan berkuasa terhadap pematangan sel telur selama lebih kurang dua ahad hingga datang waktu ovulasi. Estrogen yang dihasilkan akan besar lengan berkuasa pada perkembangan folikel, merangsang pembentukan endometrium, serta merangsang diproduksinya FSH dan LH lebih banyak. Hormon FSH dan LH yang melimpah di hari ke-12 siklus menstruasi akan memengaruhi masa meiosis II hingga terjadi ovulasi. Ovulasi terjadi di hari ke-14 dan pada waktu ini seorang perempuan dikatakan berada dalam keadaan subur. Masa subur tersebut berlangsung selama lebih kurang 24 jam saja.

Folikel yang telah ditinggalkan oleh sel telur disebut tubuh kuning atau corpus luteum yang menghasilkan hormon estrogen serta progesteron. Kedua hormon ini bekerja menghambat sintesis FSH dan LH sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit. Selain itu, menjadikan penghambatan pematangan folikel lain di ovarium.

Estrogen dan progesteron tolong-menolong mempersiapkan kehamilan dengan mempertebal dinding endometrium hingga mencapai ketebalan 5 mm. Jika tidak terjadi kehamilan atau fertilisasi, corpus luteum akan berdegenerasi sehingga produksi estrogen dan progesteron menurun. Jika kedua hormon ini menurun, tidak ada lagi yang mempertahankan keberadaan endometrium sehingga endometrium mengalami degenerasi. Proses ini terjadi di hari ke-27 atau 28 dan terjadilah menstruasi.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 3. Siklus menstruasi. Siklus ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.
Dengan hilangnya estrogen dan progesteron, hormon gonadotropin dengan leluasa sanggup memerintahkan pituitari hipofisis untuk kembali memproduksi FSH dan LH dan memulai siklus menstruasi kembali.

5. Fertilisasi, Gestasi (Kehamilan) dan Persalinan

Fertilisasi terjadi bila sel telur bertemu dengan sel sprma. Pada manusia, proses tersebut didahului dengan proses s*nggama. P*nis harus berada dalam keadaan tegak (ereksi), biar sanggup mengantarkan sprma ke dalam v*gina. P*nis ereksi disebabkan oleh melebarnya arteri dan menutupnya pembuluh vena di p*nis. Dengan demikian ada banyak aliran darah yang masuk dan sedikit darah yang dikeluarkan (ditahan dalam pembuluh darah p*nis).

Pembuluh darah juga akan memenuhi jaringan di dalam p*nis sehingga p*nis mengalami pemanjangan dan berkembang menjadi lebih keras. Jika p*nis sudah ereksi, proses s*nggama sanggup dilakukan. Pada ketika p*nis memasuki v*gina, reseptor di p*nis akan mendapatkan rangsangan sentuhan yang mengakibatkan dikeluarkannya semen yang berisi jutaan sel sp*rma. Proses keluarnya semen tersebut dinamakan ej*kulasi.

Pada lelaki normal, dalam satu kali ej*kulasi akan dikeluarkan 300 juta – 400 juta sel sprma. Pergerakan sel sprma di dalam v*gina dibantu oleh semen dan cairan pelicin yang dihasilkan oleh cervix. Cairan pelicin tersebut akan disekresikan oleh kelenjar di cervix bila seorang perempuan telah siap melaksanakan sengg*ma atau menerima rangsangan seksual. Sel sprma akan berenang menuju oviduk atau tuba Fallopi daerah sel telur berada sesudah masa ovulasi. Oviduk atau tuba Fallopi merupakan daerah fertilisasi pada manusia.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 4. Sel telur dalam keadaan siap dibuahi.
Pergerakan sel sprma didukung oleh ekor sprma yang banyak mengandung mitokondria penghasil ATP. Sel telur yang diovulasikan umumnya masih berada pada tahap meiosis II dan belum sepenuhnya menjadi oosit. Dengan adanya peleburan sel sprma, proses meiosis II sanggup dipercepat. Sel telur yang telah siap dibuahi akan membentuk zona pelindung yang dinamakan corona radiata di pecahan luar serta sebuah cairan bening di dalamnya yang disebut zona pelusida.

Sel sprma yang telah mencapai sel telur akan berlomba untuk sanggup memasuki zona pelusida (Gambar 4). Zona pelusida mempunyai reseptor yang bersifat "spesies spesifik", yaitu hanya sanggup dilalui oleh sel sprma dari satu species. Akrosom sprma mempunyai enzim litik yang bisa menembus corona radiata dan zona pelusida.

Pada ketika sel sprma menembus corona radiata, akrosom sprma akan meluluh. Sel telur kemudian akan segera menuntaskan tahap meiosis II menghasilkan inti fungsional yang haploid. Bagian inti sel sprma ini kemudian bersatu dengan membran sel telur untuk melaksanakan fusi materi genetik. Gerakan ini menyerupai dengan prosedur endositosis pada sel. Setelah terjadi peleburan atau fertilisasi ini, corona radiata akan menebal sehingga tidak ada lagi sel sprma lain yang sanggup masuk. Pada ketika ini sel tersebut sudah dibuahi dan berkembang menjadi zigot. Zigot akan membelah secara mitosis menjadi morula.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 5. Sel telur yang dikelilingi oleh sprma. (Photograph: Rich Frishman/Getty)
Zigot ini kemudian melaksanakan pembelahan sel selama perjalanannya di oviduk menuju rahim. Pergerakan zigot menuju rahim (uterus) tersebut memakan waktu 4 hari. Dalam waktu 1 minggu, zigot telah berbentuk menyerupai bola yang dinamakan blastula. Blastula mempunyai rongga yang disebut blastosol. Masa sel di pecahan dalam blastosol, akan menjadi bakal embrio.

Bagian lengket dari blastosol tersebut kemudian akan melekat di endometrium. Proses tersebut dinamakan implantasi. Blastula selanjutnya berkembang membentuk tiga lapisan, yaitu lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm). Tahap ini disebut gastrulasi yang terjadi sekitar ahad ketiga.

Selanjutnya, ektoderm akan membentuk sistem saraf, kulit, mata, dan hidung. Mesoderm membentuk otot, tulang, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Sementara itu, endoderm akan membentuk organ-organ serta kelenjar yang berafiliasi dengan sistem pernapasan. Peristiwa ini disebut dengan organogenesis. Organogenesis dimulai dari ahad keempat hingga ahad kedelapan dan penyempurnaan pada ahad kesembilan (Gambar 6).
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 6. Perkembangan zigot hingga menjadi janin yang dimulai dari umur (a) 2 minggu, (b) 5 minggu, (c) 9 minggu, dan (d) 20 minggu.
Embrio akan melepaskan hormon corionic gonadotropin (hormon yang menyerupai dengan LH) yang akan dibawa ke ovarium untuk mencegah luluhnya corpus luteum. Dengan demikian, estrogen dan progesteron tetap dihasilkan sehingga sanggup mempertahankan persiapan kehamilan di rahim dengan mempertahankan ketebalan endometrium. Dari manakah embrio memperoleh suplai makanan?

Kehamilan terjadi mulai dari fertilisasi hingga kelahiran. Pada manusia, rata-rata kehamilan terjadi selama 266 hari (38 minggu) dari fertilisasi atau 40 ahad dari siklus menstruasi terakhir hari pertama. Kelahiran bayi terjadi melalui serangkaian kontraksi uterus yang beraturan. Beberapa hormon, menyerupai estrogen, oksitosin, dan prostaglandin berperan dalam proses ini. Secara umum, proses kelahiran terjadi melalui tahap pembukaan cervix, tahap pengeluaran bayi, dan tahap pelepasan plasenta.

Catatan Biologi :


Masyarakat umumnya beropini bahwa plasenta sanggup mencegah zat-zat berbahaya dari ibu memasuki tubuh janin yang dikandungnya. Namun, para ilmuwan mengetahui bahwa plasenta tidak berfungsi sebagai pelindung. Apapun yang terdapat dalam darah ibu sanggup memasuki janin. Virus, obat-obatan, dan alkohol termasuk zat yang sanggup memengaruhi janin. (Sumber: Heath Biology 1985)



Semenjak bayi dilahirkan, ia tidak lagi diberi nutrisi melalui plasenta. Namun, sang ibu masih sanggup memberi makan bayi dengan memproduksi dan menyekresikan susu dari payudaranya. Di dalam payudara, terkandung kelenjar mamae. Kelenjar mamae (kelenjar susu) berada di lapisan kulit dan menyekresikan adonan lemak, protein, dan karbohidrat yang dikenal dengan air susu.
Sistem reproduksi perempuan terdiri atas beberapa organ dan proses Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Wanita
Gambar 7. Persentase kandungan ASI.
Berikut tabel kandungan nutrien dalam ASI.

Tabel 1. Beberapa Zat yang Dikandung Kolostrum dan ASI

No.
Kandungan
Manfaat
1.
Kolostrum


Immunoglobulin A
Zat kekebalan untuk melindungi bayi dan banyak sekali penyakit terutama diare.

Protein, vitamin A,
karbohidrat, dan lemak
Sesuai kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
2.
ASI


Taurin
Asam amino, berfungsi sebagai neurotransmiter dan proses pematangan otak

Decosahexanoic Acid (DHA)
dan Arachidonic Acid (AA)

Asam lemak tak jenuh rantai panjang untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Dapat dibuat oleh tubuh dari substansi pembentuknya (precursor), yaitu masing-masing dari omega 3 (asam linolenat) dan omega 6 (asam linoleat).

Immunoglobulin A (Ig.A)

Ig.A tidak diserap, tetapi sanggup melumpuhkan basil patogen E.coli dan banyak sekali virus pencernaan.

Laktoferin

Sejenis protein komponen zat kekebalan tubuh

Lisozim

Enzim yang melindungi bayi terhadap basil E.coli dan Salmonella serta virus.

Sel darah putih

Pada ASI 2 ahad pertama terdapat lebih dari 4000 sel/mL.
Terdiri atas 3 macam, yaitu Bronchus Asociated Lympocyte Tissue (BALT)/antibodi pernapasan; Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT)/antibodi terusan pernapasan; dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT)/antibodi jaringan payudara ibu.

Faktor bifidus

Menunjang pertumbuhan basil Lactobacillus bifidus yang menjaga tanaman usus bayi.

Kelenjar mamae mengalami pematangan pada perempuan sewaktu mengalami pubertas. Namun, hanya sesudah perempuan melahirkan saja kelenjar mamae mengalami perkembangan dan pematangan final menjadi kelenjar yang menyekresikan air susu. Sekresi kelenjar mamae ini merupakan respons terhadap hormon progesteron dan estrogen.

Pada bulan ke tiga atau ke empat kehamilan, kelenjar mamae mulai menyintesis dan menyimpan cairan kuning yang disebut kolostrum, dalam jumlah yang sedikit. Kolostrum akan menjadi kuliner pertama bagi bayi.

Kolostrum mengandung banyak antibodi ibu yang akan membantu bayi dari infeksi. Selain itu, mengandung banyak protein yang sanggup mencegah diare. Beberapa hari sesudah dilahirkan, bayi akan mulai disusui. Proses menyusui bila dikombinasikan dengan hormon prolaktin dari kelenjar hipofisis akan menstimulasi sintesis ASI.

Sewaktu plasenta dipisahkan antara bayi dan ibunya, progesteron dan estrogen dari plasenta tidak sanggup lagi menghambat pengeluaran prolaktin. Setelah produksi susu dimulai, hubungan fisiologi dan psikologi antara ibu dan anak terjadi. Bayi secara insting mengisap puting payudara, mengakibatkan terjadinya pengiriman impuls kepada otak ibu untuk menghasilkan prolaktin dan oksitosin dari kelenjar hipofisis. Prolaktin merangsang produksi ASI lebih banyak, sedangkan oksitosin merangsang sekresi ASI.

Pemberian ASI saja atau yang dikenal dengan ASI eksklusif, selama 6 bulan pertama dianjurkan oleh tubuh kesehatan dunia (WHO). Hal ini didasarkan pada bukti ilmiah perihal manfaat ASI bagi daya tahan tubuh bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. Pemberian ASI langsung selama 6 bulan pertama tidak memerlukan penambahan cairan atau kuliner lain. Rata-rata kebutuhan cairan bayi sehat sehari berkisar 800–100 mL/kg berat tubuh dalam ahad pertama usianya. Pada usia 3–6 bulan, sekitar 140–160 mL/kg berat badan. Jumlah ini sanggup dipenuhi cukup dari ASI langsung dan tidak dibatasi (sesuai 'permintaan' bayi, siang dan malam). Selain itu, pemberian ASI langsung selama 6 bulan sanggup menghemat pengeluaran rumah tangga.

ASI mempunyai glukosa, albumin dan kandungan air lebih tinggi dibandingkan air susu yang lain. Glukosa sangat dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan menghasilkan energi. Albumin yaitu protein untuk mencerdaskan bayi dan sangat baik untuk pertumbuhannya. ASI mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
  1. Saat gres berguru menyusui, hisapan bayi merangsang keluarnya air susu. Sehingga, bayi tidak mengalami kesulitan menyusui.
  2. ASI steril sehingga gampang dicerna oleh bayi dan mengandung antibodi.
  3. Memberi ASI memerlukan kalori sehingga mempercepat pengurangan bobot tubuh ibu sesudah melahirkan.
  4. Menambah ikatan emosi antara ibu dan anak.
  5. Sebagai salah satu pencegah kehamilan, bila ibu memberi ASI langsung (tanpa kuliner embel-embel apapun).
  6. Untuk menghemat pengeluaran.
ASI merupakan susu dengan komposisi tepat yang tidak bisa digantikan oleh susu formula. Tetapi, lantaran kondisi tertentu ibu tidak bisa memberi ASI. Beberapa kondisi yang mengakibatkan ibu tidak sanggup menyusui, antara lain:

1. Hambatan Psikis

Hambatan psikis ini disebabkan lantaran kurangnya pinjaman dari suami atau keluarga sehingga sang ibu tidak merasa nyaman untuk menyusui. Selain itu, lantaran ibu mengalami depresi pasca kelahiran atau ibu merasa jera lantaran rasa sakit ketika awal menyusui.

2. Hambatan Fisik

Hambatan fisik ini disebabkan lantaran beberapa hal, antara lain kesehatan ibu tidak memungkinkan untuk menyusui, air susu tidak keluar, atau lantaran ibu mengkonsumsi obat-obatan tertentu sehingga tidak diperbolehkan memberi ASI pada bayi.

7. Pemeriksaan Sebelum Kehamilan: Faktor Rh

Pemeriksaan kondisi pasangan sebelum menikah sangat baik dilakukan untuk mengurangi risiko yang akan timbul pada bayi. Salah satu investigasi yang umum dilakukan yaitu investigasi golongan rhesus (Rh) darah calon ibu dan anak. Walaupun mustahil untuk menggagalkan ijab kabul yang akan dilaksanakan, tetapi dengan investigasi ini diharapkan calon orangtua sanggup melaksanakan perencanaan yang matang terhadap keluarga yang akan dibentuknya kelak.

Terdapat 85% insan mempunyai protein tertentu dalam darahnya yang memilih sifat Rh darahnya (positif atau negatif). Rh nyata bersifat mayoritas terhadap Rh negatif sehingga apabila seorang perempuan mempunyai Rh negatif dan suaminya mempunyai Rh positif, anaknya akan mempunyai Rh positif. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya penolakan bayi oleh tubuh ibu. Hal ini telah Anda pelajari dalam Bab Sistem Peredaran Darah.

Pada kehamilan pertama, penolakan tubuh ibu tidak terlalu tampak. Rh nyata yang dikandung oleh anak pada kehamilan pertama belum direspons secara maksimal oleh sistem imun tubuh ibu. Namun, telah dipersiapkan bila terjadi serangan Rh nyata yang kedua. Oleh lantaran itu, pada kehamilan kedua, bayi akan diserang oleh sistem imunitas tubuh ibu lantaran dianggap Rh nyata yaitu protein absurd yang harus dilawan. Antibodi tubuh ibu ini akan menciptakan darah bayi menggumpal sehingga sanggup menjadikan ajal pada bayi. Kasus ajal bayi akhir ketidakcocokan Rh ini disebut eritroblastosis fetalis.

Anda kini sudah mengetahui Sistem Reproduksi pada Wanita. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo. 2009. Mudah Belajar Biologi 2 : untuk kelas 12 Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 250.

Rachmawati, F. N. Urifah, dan A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XI Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 193.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.