Showing posts sorted by date for query sistem-jaringan-pada-tumbuhan. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query sistem-jaringan-pada-tumbuhan. Sort by relevance Show all posts

Thursday, May 14, 2020

Pintar Pelajaran Sistem Jaringan Pada Tumbuhan


Sistem Jaringan pada Tumbuhan - Berbagai jaringan sanggup berkumpul dan membentuk suatu sistem yang disebut sistem jaringan. Jaringan-jaringan seperti jaringan parenkim, kolenkim, sklerenkim, xilem, dan floem bila berkumpul sanggup membentuk sistem jaringan. Sebagai pola adalah jaringan yang berperan dalam transpor air, mineral, dan makanan. Pada transpor ini, tumbuhan banyak melibatkan banyak sekali macam jaringan, menyerupai jaringan epidermis, korteks, endodermis, stele, dan berkas pembuluh. Di dalam badan tumbuhan terdapat tiga macam sistem jaringan, yakni sistem jaringan dermal, sistem jaringan dasar, dan sistem jaringan pembuluh. Ketiga sistem jaringan ini tersebar pada daun, batang, maupun akar. Masing-masing sistem jaringan tersebut saling berkaitan sehingga menyusun tubuh tumbuhan. Simak Gambar 1.

 Berbagai jaringan sanggup berkumpul dan membentuk Pintar Pelajaran Sistem Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 1. Tiga sistem jaringan tumbuhan
Sistem jaringan dermal yakni lapisan yang membungkus, menutupi, dan melindungi semua bagian tumbuhan. Jaringan ini mencakup epidermis dan periderm. Pada akar, ekspansi dari sel-sel epidermis akan membentuk rambut-rambut akar. Rambut-rambut akar ini berfungsi sebagai penyerap air dan garam mineral. Pada batang dan daun, sistem jaringan dermal menyekresikan lapisan berlilin yang disebut kutikula. Kutikula berfungsi menahan air yang terlalu banyak keluar dari badan tumbuhan. Selanjutnya yakni sistem jaringan pembuluh. Sistem jaringan pembuluh amat terkait dengan pengangkutan (transportasi) air dan garam mineral. Xilem dan floem merupakan jaringan yang berperan dalam proses pengangkutan tersebut. Selain itu, sistem jaringan pembuluh berfungsi pula sebagai jaringan penguat, sebab di dalamnya terdapat serabut xilem dan serabut floem.

Sementara itu, sistem jaringan dasar merupakan jaringan pembentuk bahan dasar atau selimut jaringan pembuluh. Letak sistem jaringan ini berada di antara sistem jaringan dermal dan sistem jaringan pembuluh. Jaringan dasar penyusun badan tumbuhan yakni jaringan parenkim, jaringan kolenkim, dan jaringan sklerenkim. Masih ingatkah fungsi masing-masing jaringan tersebut?

Anda kini sudah mengetahui Sistem Jaringan pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Thursday, May 7, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Akar Pada Tumbuhan - Gambar


Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar - Akar ialah bab badan flora yang berada dalam tanah. Bentuk akar sebagian besar meruncing. Terkadang, akar memiliki ujung yang berwarna cerah. Akar berfungsi sebagai penopang dan penguat berdirinya tumbuhan. Untuk memperoleh zat dari luar tubuh, akar tumbuhan berperan dalam proses peresapan air dan garam mineral dari dalam tanah. Akar berfungsi sebagai daerah penyimpanan cadangan makanan, contohnya ialah ketela pohon dan kentang. Selain menjulur dari dasar tunas, akar flora juga sanggup keluar dari permukaan tanah. Akar demikian sanggup muncul dari batang ataupun daun. Kita sanggup menyebut akar yang tumbuh pada bab yang tidak semestinya ini dengan nama akar liar atau adventitious (lihat Gambar 1). 
 Akar ialah bab badan flora yang berada dalam Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 1. Akar liar (adventitious) pada tumbuhan jagung
Akar liar berfungsi sebagai penyangga dan penyokong batang tumbuhan yang menjulang tinggi. Sebagai pola ialah akar tanaman jagung yang tumbuh dari batangnya.

Berdasarkan jenisnya, akar flora terbagi menjadi dua, yaitu sistem akar tunggang dan sistem akar serabut. Sistem akar tunggang dimiliki oleh akar flora dikotil, sedangkan sistem akar serabut dimiliki oleh akar flora monokotil. Pada sistem akar tunggang terdapat satu akar tunggang besar, namun akar lateralnya kecil. Sementara pada sistem akar serabut, akarnya seolah-olah benang-benang. Perhatikan Gambar 2.
 Akar ialah bab badan flora yang berada dalam Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 2. Sistem akar tunggang dan sistem akar serabut.
Secara morfologis, akar terdiri atas leher akar (pangkal akar), batang akar, cabang akar, serabut akar, rambut akar, ujung akar, dan tudung akar (kaliptra). Perhatikan Gambar 3. 
 Akar ialah bab badan flora yang berada dalam Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 3. Akar dan bagian-bagiannya.
Bagian akar yang secara pribadi terhubung dengan batang disebut leher akar. Sementara bab yang berada di antara leher dan ujung akar dinamakan batang akar. Selanjutnya, akar juga memiliki bagian menonjol pada batang yang membentuk cabang akar. Selain itu, ada juga akar halus bercabang-cabang yang disebut serabut akar. Lalu, akar juga mempunyai bab yang mengalami diferensiasi pada jaringan epidermisnya. Bagian ini dinamakan rambut akar. Sementara, bab ujung akar yang berfungsi sebagai pelindung mesistem ketika akar memanjang menembus tanah disebut tudung akar.

Di belakang tudung akar terdapat banyak sekali zona pertumbuhan primer. Zona yang dimaksud adalah zona pembelahan sel, zona pemanjangan, dan zona pematangan. Perhatikan Gambar 4.
 Akar ialah bab badan flora yang berada dalam Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 4. Zona pertumbuhan akar dan struktur akar.
Pada zona pembelahan sel terdapat meristem apikal atau meristem primer. Meristem apikal menghasilkan sel-sel meristem dan mengganti sel tudung akar yang mengelupas ketika menembus tanah. Sel sentra damai juga terdapat pada lapisan ini. Fungsi sel sentra damai ialah sebagai cadangan pemulihan meristem ketika mengalami kerusakan. Di dalam zona ini terdapat protoderm, prokambium, dan meristem dasar. Masing-masing akan menghasilkan tiga sistem jaringan.

Zona pembelahan sel berafiliasi dengan zona pemanjangan. Di dalam zona ini sel-sel mengalami perpanjangan sepuluh kali panjang asalnya. Akibatnya, ujung akar terdorong semakin jauh ke dalam tanah. Sementara zona pematangan pada akar mengalami spesialisasi dan diferensiasi sesuai fungsinya.

Selain beberapa zona tersebut, akar juga mempunyai struktur tertentu. Kalian sanggup mengamati strukturnya melalui preparat awetan sayatan akar yang masih muda dengan memakai mikroskop. Struktur akar dari luar ke dalam berturut-turut ialah jaringan epidermis, korteks, dan stele (silinder pusat). Agar kalian sanggup membandingkan struktur akar flora dikotil dan monokotil, perhatikan Gambar 5.
 Akar ialah bab badan flora yang berada dalam Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Akar pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 5. Struktur akar flora dikotil dan monokotil.
Epidermis merupakan selapis sel yang berasal dari protoderm. Di dalamnya terdapat dinding berkutikula dan susunan sel yang rapat. Selain itu, epidermis terdapat rambut akar yang mempunyai kegunaan memperluas permukaan sel sehingga peresapan air dan zat terlarut lebih efisien. Lapisan berikutnya ialah korteks. Korteks terletak di antara lapisan epidermis dan stele. Pada korteks terdapat sel-sel parenkim yang berdinding sel tipis. Lapisan luar korteks tersebut dinamakan eksodermis. Sementara lapisan dalamnya tersusun rapat tanpa ruang antarsel dan berbentuk kubus, yang disebut endodermis. Sel-sel endodermis ini mengalami penebalan suberin yang membentuk pita Kaspari. Adapun dinding sel endodermis yang tidak menebal dan berfungsi sebagai jalan air mengalir dinamakan sel penerus.

Prokambium pada meristem primer bermetamorfosis stele (silinder pusat). Stele terdapat pada akar bab dalam, tepatnya di sebelah dalam endodermis. Stele tersusun dari empulur, perisikel dan berkas vaskuler (fasis) atau pembuluh pengangkut. Empulur merupakan sel-sel parenkim yang terdapat pada stele flora monokotil.

Empulur ini dikelilingi oleh xilem dan floem secara bergantian. Sementara itu, lapisan terluar stele membentuk periskel atau perikambium. Sel-sel stele pada perisikel ini gampang membelah dan membentuk cabang. Karena itu, cabang akar pertumbuhannya bersifat endogen. Sehingga stele ini sanggup membentuk kambium jari-jari empulur. Lapisan berikutnya ialah berkas vaskuler atau jaringan pengangkut. Di dalam berkas vaskuler terdapat xilem dan floem. Xilem akar dikotil terletak di sentra dan berbentuk bintang, sedangkan floemnya terletak di luar xilem. Sedangkan flora monokotil memiliki struktur yang berselang-seling.

Selain itu, di antara xilem dan floem akar flora dikotil terdapat kambium atau kolateral terbuka. Sementara, pada tumbuhan monokotil tidak ada kambium atau kolateral tertutup.

Anda kini sudah mengetahui Struktur Akar dan Fungsi Akar pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Wednesday, May 6, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Batang Pada Flora - Gambar

Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar - Batang yaitu bab sistem tunas pada tumbuhan. Letaknya berada di atas tanah. Organ ini dikategorikan sebagai penghasil alat-alat lateral, contohnya daun, tunas, dan bunga. Pada bab batang terdapat buku (node) atau tempat daun menempel dan ruas (internode), yaitu bagian batang yang letaknya di antara buku-buku. Selain buku dan ruas, pada batang terdapat suatu tunas. Tunas yang terdapat pada sudut di antara daun dan batang dinamakan tunas aksiler. Tunas ini berpeluang menjadi cabang. Adapun bab ujung batang terdapat tunas terminal. Perhatikan Gambar 1.
 Batang yaitu bab sistem tunas pada flora Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 1. Bagian-bagian batang
Pada bab berikut, akan mempelajari ciri dan struktur batang dua jenis tumbuhan, yakni flora dikotil dan tumbuhan monokotil. Simak dan pahami uraiannya.

1. Batang Tumbuhan Dikotil

Seperti halnya akar, batang juga tersusun atas aneka macam jaringan, yaitu jaringan epidermis, jaringan dasar, dan jaringan pembuluh. Jaringan dasar tersusun oleh korteks, sedangkan jaringan pembuluh terdapat berkas vaskuler yaitu xilem dan floem. Cermati bagian-bagian batang flora dikotil secara lebih detail pada Gambar 2.

 Batang yaitu bab sistem tunas pada flora Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 2. Struktur flora dikotil.
Karena itu, batang mempunyai bermacam-macam fungsi bagi tumbuhan. Namun, berbagai lapisan ini juga mempunyai bermacam-macam ciri khas. Jaringan epidermis pada batang mempunyai ciri yang sama seperti jaringan epidermis pada akar. Misalnya, sel yang tipis dan tersusun rapat serta berkutikula pada akar dan batang. Selain itu, batang memiliki kemampuan tumbuh, baik secara sekunder maupun primer. Pertumbuhan sekunder batang terjadi pada jaringan epidermis. Sedangkan pertumbuhan primer terjadi pada tunas terminal (ujung batang) tepatnya pada meristem apikal. Fungsi jaringan epidermis pada batang juga sama dengan jaringan epidermis pada akar yaitu melindungi jaringan yang ada di dalamnya. Epidermis batang ini juga dapat pecah. Pecahnya epidermis batang mengakibatkan jaringan kambium gabus (folagen) terisi dengan gabus. Bagian ini disebut lenti sel. Fungsi lenti sel yaitu sebagai daerah pertukaran gas dan penguapan (transpirasi).
 Batang yaitu bab sistem tunas pada flora Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 3. Lenti sel pada batang.
Lapisan penyusun batang selanjutnya yaitu jaringan dasar. Di dalam jaringan ini terdapat korteks. Korteks pada batang mencakup dua macam jaringan, yakni jaringan korteks luar dan korteks dalam. Sel kolenkim dan sel parenkim yaitu penyusun korteks luar. Korteks dalam hanya disusun dari sel-sel parenkim saja. Korteks dalam (endodermis) dimiliki oleh semua tumbuhan. Namun sebaliknya, tidak semua tumbuhan memiliki korteks luar. Ada satu ciri khas yang dimiliki tumbuhan biji terbuka terkait lapisan korteks. Pada korteksnya terdapat seludang pati (sarung tepung) yaitu lapisan yang berisi pati. Setelah korteks, badan flora tersusun oleh jaringan pembuluh.

Di dalam jaringan pembuluh terdapat stele atau silinder pusat. Pada flora dikotil, stele terletak di sebelah dalam korteks atau sebelah dalam endodermis. Sementara, lapisan terluarnya disebut perisikel atau perikambium. Di sebelah dalam korteks terdapat empulur dan berkas pengangkut.

Pada berkas pengangkutan ini terdapat xilem dan floem. Sementara, di tengah stele terdapat empulur. Empulur juga ada di antara xilem dan floem. Bentuknya menyerupai jari-jari, disebut jari empulur. Selain itu,
di antara xilem dan floem juga terdapat kambium. Oleh lantaran itu, berkas pengangkutannya disebut berkas kolateral terbuka.

Kambium mempunyai dua bagian, yakni kambium vaskuler dan kambium intravaskuler. Bagian kambium yang berada di antara xilem dan floem berasal dari prokambium disebut kambium vaskuler. Sedangkan kambium di luar xilem dan floem yang berasal dari sel-sel parenkim disebut kambium intravaskuler.

Lingkaran Tahun

Pada ekspresi dominan penghujan dan ekspresi dominan kemarau, tumbuhan dikotil berkayu tumbuh berbeda. Saat musim kemarau, sel kayu yang dihasilkan tebal dan kecil-kecil. Sementara saat musim penghujan akan menghasilkan sel tipis yang besar-besar. Dengan demikian akan terbentuklah lingkaran-lingkaran dengan tekstur berbeda pada penampang kayu. Lingkaran inilah yang dinamakan bulat tahun. Melalui bulat tahun kita dapat mengetahui umur suatu tumbuhan berkayu. (Sumber: Whitten & Whitten, Indonesian Heritage: Tetumbuhan, 2002, hlm. 76).

 Batang yaitu bab sistem tunas pada flora Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 4. Lingkaran tahun.
2. Batang Tumbuhan Monokotil

Seperti halnya flora dikotil, struktur batang tumbuhan monokotil tersusun atas jaringan epidermis, jaringan dasar, dan jaringan pengangkut atau berkas pembuluh. Agar mengetahui bagian-bagian batang flora monokotil, simak Gambar 5. 

 Batang yaitu bab sistem tunas pada flora Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Batang pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 5. Struktur flora monokotil.
Bedanya, tumbuhan dikotil mempunyai bentuk meristem apikal yang kecil. Meristem inilah yang akan membentuk tunas ketiak daun, bakal daun, dan epidermis. Pada flora monokotil juga terdapat meristem perifer. Meristem perifer merupakan bab meristem yang berkembang menjadi batang berisi xilem dan floem.

Lapisan epidermis batang flora dikotil mempunyai dinding sel yang lebih tebal dibandingkan flora dikotil. Pada lapisan epidermisnya terdapat stomata dan buku-buku. Di bawah epidermis terdapat korteks. Korteks tersusun dari sel-sel sklerenkim. Korteks flora monokotil, korteks merupakan kulit batang. Kulit batang berfungsi mengeraskan bab luar batang.

Setelah korteks, lapisan berikutnya ialah stele. Tumbuhan monokotil mempunyai batas korteks dan stele yang tidak jelas. Di dalam stelenya terdapat berkas pengangkutan. Berkas pengangkutan tersebut tersebar pada empulur dan letaknya berdekatan dengan kulit batang. Sarung sklerenkim mengelilingi seluruh berkas pengangkut. Tipe berkas pengangkutannya dinamakan kolateral tertutup, lantaran di antara xilem dan floemnya tidak ditemui kambium. Akibatnya, flora monokotil tidak bisa tumbuh secara sekunder. Alias tubuhnya tidak membesar dan hanya memanjang.

Namun, kalau flora monokotil membesar tubuhnya menjadi berongga. Hal ini dilakukan dengan cara menghilangkan empulur pada bab tubuhnya, kecuali empulur pada ruang batas. Dengan begitu, antara struktur batang flora monokotil muda dan tua tidak terdapat perbedaan.

Anda kini sudah mengetahui Struktur Batang dan Fungsi Batang pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Tuesday, May 5, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Daun Pada Flora - Gambar


Struktur dan Fungsi Daun pada Tumbuhan - Gambar - Daun flora kebanyakan berwarna hijau. Namun tidak jarang juga daun mempunyai warna selain hijau. Warna hijau ada alasannya yakni daun memiliki pigmen klorofil. Daun merupakan organ flora yang berperan sebagai daerah terjadinya fotosintesis. Daun mempunyai bentuk yang beragam. Umumnya daun terdiri atas helai daun pipih dan tangkai daun (petiola). Tangkai daun bersambung dengan buku batang. Tumbuhan monokotil tidak mempunyai tangkai daun. Sebaliknya, flora dikotil mempunyai tangkai daun berbentuk pelepah yang membungkus batang. Pada flora dikotil, tulang daun utama mempunyai susunan bercabang. Sementara, tumbuhan monokotil mempunyai tulang daun utama yang tersusun pararel atau sejajar. Perbedaan bentuk dan susunan daun dikotil dan monokotil dapat kalian perhatikan pada Gambar 1.

 Daun flora kebanyakan berwarna hijau Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Daun pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 1. Bentuk dan susunan tulang daun; (a) dikotil, (b) monokotil
Sama menyerupai pada akar dan batang, daun juga tersusun dari tiga sistem jaringan. Sistem jaringan tersebut mencakup epidermis, jaringan dasar, dan berkas pembuluh. Untuk lebih jelasnya, simak Gambar 2.
 Daun flora kebanyakan berwarna hijau Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Daun pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 2. Anatomi daun. Terdapat tiga sistem jaringan : epidermis, jaringan dasar (mesofil), dan jaringan pembuluh
Lapisan paling atas pada daun yakni epidermis. Epidermis terbagi menjadi dua lapisan, mencakup epidermis atas dan epidermis bawah. Namun, ada juga daun yang mempunyai selapis epidermis saja. Sel-sel epidermis daun tersusun sangat rapat, sehingga ruang antarselnya tidak ada. Adapun pada lapisan luarnya terdapat kutikula berlilin, yang berfungsi mengurangi banyaknya air dari badan tumbuhan. Selain kutikula, lapisan epidermis juga terdapat stomata. Stomata diapit oleh sel-sel penjaga, yang berbentuk serupa ginjal atau biji kacang. Fungsi stomata yakni sebagai daerah pertukaran gas karbondioksida dan oksigen. Selain itu, juga berfungsi dalam proses transpirasi.

Stomata pada flora darat banyak terdapat pada lapisan epidermis bawah. Sedangkan pada flora air, stomata banyak terdapat pada permukaan epidermis atas. Setelah epidermis, lapisan daun berikutnya yakni jaring an dasar. Jaringan dasar daun dinamakan mesofil. Mesofil tersusun dari sel-sel parenkim. Pada flora dikotil, jaring an mesofilnya mempunyai dua bentuk jaringan, yakni parenkim palisade dan parenkim spons. Simak Gambar 3.

 Daun flora kebanyakan berwarna hijau Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Daun pada Tumbuhan - Gambar
Gambar 3. Parenkim palisade dan parenkim berspons.
Jaringan mesofil yang sempurna di bawah epidermis membentuk jaringan parenkim palisade. Kloroplas banyak ditemukan pada jaringan ini. Karena itu, proses fotosintesis sanggup berlangsung. Susunan sel pada jaringan parenkim palisade ini berbentuk kolumnar dan rapat. Adapun parenkim spons terletak sempurna di bawah jaringan parenkim palisade. Disebut parenkim spons, karena di dalamnya terkandung labirin ruangan udara yang dilewati gas karbon dioksida dan oksigen saat proses fotosintesis. Berbeda dengan parenkim palisade, sel-sel parenkim spons tidak rapat dan terdapat jaringan pengangkut. Walau jumlahnya tidak banyak, parenkim spons juga mempunyai kloroplas.

Berbeda dengan flora dikotil, tumbuhan monokotil tidak mempunyai parenkim palisade. Oleh karenanya, proses fotosintesis hanya terjadi pada jaringan palisade spons. Sel-sel parenkim spons ini tidak tersusun rapat dan terdapat berkas pengangkut. Lapisan daun berikutnya yakni berkas vaskuler. Letak berkas vaskuler berada di bawah jaringan dasar. Seperti pada akar dan batang, berkas vaskuler daun ini terdapat floem dan xilem. Selain itu, pada berkas vaskuler terdapat ibu tulang daun, cabang tulang daun, dan urat daun yang menonjol. Berkas vaskuler ini sangat berperan terutama dalam proses transpor zat.

Anda kini sudah mengetahui Struktur Daun dan Fungsi Daun pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Wednesday, April 29, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Organ Pada Tumbuhan

Struktur dan Fungsi Organ Tumbuhan - Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara bersama-sama melaksanakan fungsi khusus. Demikian pula pada tumbuhan, proses diferensiasi yang terjadi dalam jaringan sanggup membentuk berbagai macam bab pokok tumbuhan. Bagian-bagian itu yaitu akar, batang, dan daun. Sementara bab lain yang ada pada tubuh tumbuhan itu yaitu hasil modifikasi dari salah satu atau dua bagian tumbuhan tersebut. Contoh bab hasil modifikasi yaitu kuncup, bunga, rimpang, dan duri. Tubuh flora terbagi dalam sistem akar dan sistem tunas. Sesuai namanya, sistem akar terdiri atas organ akar dan bagian-bagiannya. Sedangkan sistem batang mencakup organ batang dan daun. Untuk mengetahui struktur dan fungsi banyak sekali macam organ tumbuhan, simak dan pahami uraian berikut.

1. Akar (Radix)

1.1. Fungsi Akar

Adapun fungsi akar secara umum sebagai berikut.
  1. Sebagai tempat melekatnya flora pada media (tanah) alasannya akar mempunyai kemampuan menerobos lapisan-lapisan tanah.
  2. Menyerap garam mineral dan air melalui bulu-bulu akar.
  3. Pada beberapa tanaman, akar dipakai sebagai tempat penyimpanan masakan cadangan, misalnya wortel dan ketela pohon.
  4. Pada tumbuhan tertentu, menyerupai jenis flora bakau (Rhizopora sp.) akar berperan untuk pernapasan.
1.2. Jaringan Penyusun Akar

Akar berkembang dari meristem apikal di ujung akar yang dilindungi kaliptra (tudung akar). Meristem apikal selalu membelah diri menghasilkan sel-sel baru. Sel-sel baru terbentuk pada bab tudung akar atau bab dalam meristem apikal. Pembelahan meristem apikal membentuk daerah pemanjangan, disebut zona perpanjangan sel.

Di belakangnya terdapat zona diferensiasi sel dan zona pendewasaan sel. Pada zona diferensiasi sel, sel-sel akar berkembang menjadi beberapa sel permanen. Misalnya beberapa sel terdiferensiasi menjadi xilem, floem, parenkim, dan sklerenkim. Perhatikan Gambar 1.

Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 1. Struktur morfologi akar.
Secara umum jaringan penyusun akar tumbuhan sebagai berikut.
  1. Epidermis terdiri dari satu lapis sel yang tersusun rapat. Dinding selnya tipis sehingga gampang ditembus air. Memiliki rambut-rambut akar yang merupakan hasil acara sel dari belakang titik tumbuh. Rambut-rambut akar berfungsi memperluas bidang penyerapan.
  2. Korteks terdiri dari banyak sel dan tersusun berlapis-lapis, dinding selnya tipis dan mempunyai banyak ruang antarsel untuk pertukaran gas. Jaringanjaringan yang terdapat pada korteks antara lain: parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.
  3. Endodermis terletak di sebelah dalam korteks. Endodermis berupa satu lapis sel yang tersusun rapat tanpa ruang antarsel. Dinding selnya mengalami penebalan gabus. Deretan sel-sel endodermis dengan penebalan gabusnya dinamakan pita kaspari. Penebalan gabus ini tidak sanggup ditembus oleh air, sehingga air harus masuk ke silinder sentra melalui sel endodermis yang dindingnya tidak menebal, yang disebut sel penerus air. Endodermis merupakan pemisah antara korteks dengan stele.
  4. Stele (silinder pusat) terletak di sebelah dalam endodermis. Berkas pengangkutan terdapat di antara stele.
Jaringan penyusun akar secara umum sanggup Anda amati pada Gambar 2. berikut.
Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 2. Struktur jaringan penyusun akar Dikotil dan Monokotil yang diamati secara melintang
Anda telah mempelajari jaringan penyusun akar secara umum. Bagaimana struktur jaringan penyusun akar tumbuhan Dikotil dan tumbuhan Monokotil? Apa perbedaan di antara keduanya?

2. Batang

2.1. Fungsi Batang

Secara umum, batang mempunyai beberapa fungsi berikut.
  1. Sebagai tempat pengangkutan air dan unsur hara dari akar.
  2. Memperluas tajuk flora untuk efisiensi penangkapan cahaya matahari.
  3. Tempat tumbuhnya organ-organ generatif.
  4. Efisiensi penyerbukan dan membantu pemencaran benih.
  5. Pada flora tertentu, sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, contohnya berupa umbi atau rimpang.
2.2. Struktur Jaringan Penyusun Batang

Secara umum struktur jaringan penyusun batang tumbuhan terdiri atas tiga bagian, yaitu epidermis, korteks, dan stele. Adapun struktur jaringan penyusun batang (dari luar ke dalam) beserta ciri-cirinya dijelaskan dalam Tabel 1 berikut. 

Tabel 1 Struktur Jaringan Penyusun Batang Beserta Ciri-Cirinya

No.
Jaringan
Ciri-Ciri
1.
Epidermis
Tersusun oleh selapis sel, tersusun rapat, tanpa ruang antarsel, dinding luar terdapat kutikula yang berfungsi untuk melindungi batang dari kehilangan air yang terlalu besar. Pada flora kayu yang telah bau tanah terdapat kambium gabus yang menggantikan fungsi jaringan primer.
Aktivitas kambium gabus yaitu melaksanakan pertukaran gas melalui celah yang disebut lentisel. Derivat epidermis antara lain sel silika dan sel gabus, contohnya pada batang tumbuhan tebu.
2.
Korteks
Tersusun oleh beberapa lapis sel parenkim yang tidak teratur dan berdinding tipis, banyak ruang antarsel.
Terdapat kolenkim dan sklerenkim yang berfungsi sebagai penyokong dan penguat tubuh.
Sel-sel korteks sebelah dalam yang mengandung amilum disebut floeterma (sarung tepung ).
3.
Stele (silinder pusat)
Lapisan terluar disebut perisikel.
Di dalamnya terdapat sel parenkim dan
berkas pengangkut.

Secara umum, struktur akar dan batang flora sama, yaitu terdiri atas bagian-bagian epidermis, korteks, dan stele. Akan tetapi, secara anatomis struktur batang Monokotil berbeda dengan Dikotil.

3. Daun (Folium)

3.1. Fungsi Daun

Secara umum fungsi daun sebagai berikut.
  1. Membuat masakan melalui proses fotosintesis.
  2. Sebagai tempat pengeluaran air melalui transpirasi dan gutasi.
  3. Menyerap CO2 dari udara.
  4. Respirasi.
c. Struktur Jaringan Penyusun Daun

1) Epidermis

Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang diapit oleh dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di permukaan atas saja, contohnya pada tumbuhan yang daunnya terapung (pada daun teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula yang terdapat di kedua permukaan daun (atas dan bawah). Tanaman Ficus mempunyai epidermis yang tersusun atas dua lapis sel. Alat-alat pelengkap yang terdapat di antara epidemis daun, antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas. Bentuk epidermis dan stomata sanggup Anda amati pada Gambar 3 dan 4.
Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 3. Epidermis dengan stomata

Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 4. Penampang melintang stomata.
2) Mesofil (Jaringan dasar)

Mesofil terdiri dari sel-sel parenkim yang tersusun renggang dan banyak ruang antarsel. Pada kebanyakan daun Dikotil, mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim spons (jaringan bunga karang). Sel-sel palisade bentuknya memanjang, mengandung banyak kloroplas, dan tersusun rapat. Parenkim spons bentuknya tidak teratur, bercabang, mengandung lebih sedikit kloroplas, dan
tersusun renggang.

3) Berkas Pengangkut

Berkas pengangkut terdapat pada tulang daun yang berfungsi sebagai alat transpor dan sebagai penguat daun.

4) Jaringan Tambahan

Jaringan pelengkap mencakup sel-sel khusus yang umumnya terdapat pada mesofil daun, contohnya sel-sel kristal dan kelenjar.

Anda kini sudah mengetahui Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Saturday, March 28, 2020

Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi

Artikel Contoh Jenis Macam-macam Produk Bioteknologi - Penerapan bioteknologi begitu luas dan telah dilakukan selama beratus-ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga bioteknologi modernBioteknologi sederhana telah banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Selain menawarkan keuntungan, penerapan bioteknologi juga tak lepas dari dampak jelek yang ditimbulkan. Apa saja aplikasi bioteknologi tersebut? Bagaimana dampak penerapan teknologi tersebut? Marilah kita pelajari dalam uraian berikut.

1. Produk Bioteknologi dalam Bidang Pangan, Pertanian dan Peternakan, serta Kedokteran

a. Bidang Pangan

Penerapan bioteknologi dalam memproduksi makanan dan minuman merupakan aplikasi bioteknologi tertua. Aplikasi ini banyak dijumpai pada bioteknologi konvensional melalui proses fermentasi. Lakukan kegiatan berikut untuk mengetahui penerapan bioteknologi konvensional di sekitar kita.

Teknologi fermentasi dan hasil-hasilnya telah kita bahas di kelas IX. Pada ketika ini, kita pelajari bioteknologi pangan yang lebih modern, yaitu protein sel tunggal (PST atau Single Cell Protein) dan mikoprotein.

1) Protein Sel Tunggal (PST)

Sebagai sumber protein, organisme penghasil PST mempunyai beberapa keunggulan. Keunggulan tersebut terletak pada kemampuan perkembangbiakan yang cepat dan relatif mudah, serta mempunyai konversi protein yang tinggi dibanding sumber protein yang lain. PST mempunyai kadar protein lebih tinggi bila dibandingkan kadar protein kedelai. Keunggulan lainnya yaitu substrat yang dipakai sebagai medium tumbuh mikrobia penghasil PST ini sanggup memanfaatkan limbah.

Beberapa referensi mikrobia yang sanggup dipakai sebagai PST yaitu Saccharomyces cerevisiae dan Candida utilis. Mikrobia ini sanggup dibiakkan dalam skala besar (industri). Protein yang dihasilkan oleh mikrobia ini mengandung asam nukleat tinggi, namun badan insan kurang mempunyai enzim untuk memetabolismenya. Hal ini cenderung mengakibatkan reaksi yang merugikan pada susukan pencernaan manusia. PST dari mikrobia ini (S. cerevisiae dan C. utilis) sering dipakai sebagai suplemen masakan ternak.

Mikrobia lain yang dipakai sebagai sumber PST yaitu Spirulina. Spirulina termasuk Cyanobacteria (ganggang biru) yang sanggup berfotosintesis sehingga sangat menguntungkan sebagai sumber makanan. Spirulina telah dipakai selama berabad-abad dalam bentuk kering oleh bangsa Aztec di Meksiko. Saat ini produk PST banyak dijumpai di pasaran, menyerupai terlihat pada Gambar 1.

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 1. Spirulina dalam bentuk cair dan bubuk
2) Mikoprotein

Mikoprotein yaitu materi masakan sumber protein yang dihasilkan melalui proses fermentasi secara berkesinambungan dari miselium jamur Fusarium graminearum. Jamur tersebut ditumbuhkan pada substrat yang mengandung glukosa dan zat hara lain. Jamur ini juga membutuhkan gas amonia serta garam amonia sebagai sumber nitrogen.

Selain mempunyai nilai konversi protein tinggi, mikoprotein juga mempunyai nilai gizi yang tinggi. Pengujian dan penelitian terhadap nilai gizi serta keamanan bagi konsumennya telah banyak dilakukan. Menurut penelitian telah diketahui bahwa mikoprotein mengandung 47% protein, 14% lemak, 25% serat untuk diet, 10% karbohidrat, 1% RNA, dan 3% abu.

b. Bidang Pertanian dan Peternakan

Indonesia merupakan negara agraris yang menitikberatkan pembangunan pada sektor pertanian. Namun hingga kini kebutuhan beras masih lebih tinggi daripada produksi nasional sehingga Indonesia perlu mengimpor beras. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara industri maju menyerupai Amerika. Meskipun bukan negara agraris, produksi kedelai Amerika lebih besar daripada produksi kedelai Indonesia. Semua ini terjadi karena negara industri maju menerapkan bioteknologi modern dalam mengelola pertaniannya.

Bioteknologi modern banyak diaplikasikan dalam bidang pertanian dan peternakan, terutama dalam perjuangan mendapat bibit unggul. Bioteknologi dalam bidang pertanian dan peternakan modern banyak memanfaatkan teknologi DNA rekombinan. Proses DNA rekombinan pada flora memakai vektor Agrobacterium tumefaciens yang mempunyai plasmid Ti (Tumor inducing). Langkah pertama, plasmid Ti diisolasi, kemudian disisipi dengan gen ajaib (transplantasi gen). Setelah itu, plasmid dimasukkan ke dalam A. tumefaciens. Ketika digabung dengan sel-sel tumbuhan, A. tumefaciens membiakkan plasmid.

Setelah berbiak, A. tumefaciens yang telah mengalami rekombinasi (melalui proses DNA rekombinan) kembali menginfeksi kromosom tumbuhan. Kini flora tersebut telah mengandung gen ajaib yang dicangkokkan pada A. tumefaciens. Sel-sel yang dihasilkan dari proses DNA rekombinan tersebut ditumbuhkan dengan metode kultur jaringan sehingga menghasilkan tunas. Setelah tumbuh, tumbuhan tersebut dapat ditanam pada lahan pertanian. Rangkaian proses tersebut dapat Anda simak pada Gambar 2 berikut.
ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 2. Rekayasa genetika pada flora Agrobacterium tumefaciens dengan menggunakan plasmid Ti
Aplikasi (penerapan) DNA rekombinan dengan vektor mikrobia telah menghasilkan binatang maupun tumbuhan transgenik. Hewan maupun flora yang dihasilkan melalui proses ini mempunyai karakteristik yang tidak ditemukan di alam. Beberapa referensi aplikasi bioteknologi dalam bidang pertanian dan peternakan sebagai berikut.

1) Padi Transgenik

Penelitian terkini di Jepang yang dilakukan oleh Rachmawati, D., Mori, T., Hosaka, T., Takaiwa, F., Inoue, E., dan Anzai, H. melaporkan bahwa Agrobacterium juga dapat dipakai pada tumbuhan serealia, salah satunya padi. Hasil penelitian mereka telah ditulis dalam jurnal Breeding Science dengan judul Production and Characterization of Recombinant Human Lactoferrin in Transgenic Javanica Rice. Penelitian ini telah berhasil mengekspresikan laktoferin rekombinan pada tanaman padi transgenik kultur rojolele. Laktoferin berfungsi memberikan daya tahan terhadap serangan mikrobia patogen (antibakterial, antiviral, dan antifungal), antiinflamantori, memacu pertumbuhan sel limfosit, aktivitas antioksidan, dan berperan dalam transpor besi dalam tubuh manusia. Walaupun mulut laktoferin pada biji padi rojolele transgenik hanya sekitar 20%, namun penelitian ini telah membuktikan dan menjadi pionir penggunaan

Agrobacterium sebagai vektor tumbuhan serealia. Para ilmuwan di Inggris, Cina, Australia, dan Meksiko juga telah mengembangkan cara lain untuk memperoleh tanaman serealia unggul. Mereka mempelajari peningkatan kandungan vitamin A padi di laboratorium dan mengembangkan padi yang tahan terhadap cuaca dingin.

2) Tembakau Resistan terhadap Virus

Penggunaan plasmid Ti (Tumor inducing) Agrobacterium tumefaciens sebagai vektor sangat luas pemanfaatannya. Berbagai macam flora dapat dikembangkan melalui DNA rekombinan dengan plasmid Ti ini. Salah satu pemanfaatannya yaitu pada penemuan flora tembakau yang tahan terhadap virus TMV (Tobacco Mozaic Virus). Tumbuhan tidak mempunyai sistem kekebalan seperti pada hewan. Beachy, seorang ilmuwan dari Universitas Washington (AS) mengembangkan tumbuhan yang tahan terhadap virus TMV. Ia menggunakan plasmid Ti yang digabung dengan gen yang tahan terhadap penyakit TMV. Gabungan ini kemudian dimasukkan dalam kromosom tembakau. Kromosom tembakau yang telah disisipi gen tahan virus TMV tersebut kemudian diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Tanaman tembakau yang dihasilkan terbebas dari jerawat virus TMV. Virus TMV tidak dapat menginfeksi sel-sel flora tembakau transgenik yang telah disisipi oleh gen tahan virus TMV.

3) Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (Biokontrol)

Mikrobia telah dimanfaatkan untuk mengendalikan hama dan penyakit tumbuhan (biokontrol). Keuntungan pemanfaatan biokontrol untuk pertanian antara lain mengurangi penggunaan pestisida yang tidak ramah lingkungan. Contoh mikrobia yang dipakai sebagai biokontrol di antaranya Beauveria bassiana (Gambar 3) untuk mengendalikan serangga menyerupai pada Gambar 4, Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan hama boktor tebu (Dorysthenes sp.), dan Trichoderma harzianum untuk mengendalikan penyakit tular tanah (Gonoderma sp., jamur akar putih, dan Phytopthora sp.)

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 3. Beauveria bassiana merupakan salah satu mikrobia yang dipakai sebagai  biokontrol
Produk-produk biokontrol yang telah dikomersialisasikan oleh unit kerja lingkup Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) antara lain Meteor, Greemi–G, Triko SP, NirAma, dan Marfu.

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 4. Serangga yang mati alasannya ditumbuhi jamur B. bassiana
4) Pembuatan Pupuk Organik

Mikrobia juga dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik. Peneliti di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) mengembangkan teknologi pembuatan pupuk superfosfat yang disebut Bio–SP dengan menggunakan bantuan mikroba pelarut fosfat. Keunggulan teknologi ini yaitu penggunaan biro biologi untuk mengurangi penggunaan asam anorganik sehingga lebih kondusif bagi lingkungan dan mengurangi biaya produksi.

5) Biosuplemen Probiotik untuk Sapi

Para peternak biasa memasukkan biosuplemen ke dalam pakan ternak. Probiotik merupakan mikrobia yang dapat meningkatkan kesehatan ternak dan mempermudah penyerapan dalam susukan pencernaan ternak. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mempu memproduksi biosuplemen probiotik yang diberi nama PSc. PSc telah diujikan terhadap sapi potong dan sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil pengujian memperlihatkan adanya kenaikan produksi daging sapi potong dan produksi susu pada sapi perah.

Bioteknologi di bidang pertanian dan peternakan terus berkembang. Anda telah mempelajari beberapa produk bioteknologi dalam uraian di atas. Selain yang telah disebutkan, masih ada beberapa produk bioteknologi di bidang pertanian dan peternakan di antaranya sebagai berikut.

Tabel 1. Produk Bioteknologi di Bidang Pertanian dan Peternakan

No.
Produk Bioteknologi
Keterangan
1.
Bunga antilayu
Etilen merupakan hormon flora yang menimbulkan bunga menjadi layu. Para peneliti mengganti gen yang sensitif terhadap etilen pada mahkota bunga dengan gen yang kurang sensitif sehingga kelayuan bunga sanggup ditunda. Contohnya anyelir transgenik yang bisa bertahan tetap segar selama 3 minggu.
2.
Buah tahan kebusukan
Etileh juga merangsang pematangan buah. Aktivitas gen penghasil etilen sanggup dihambat melalui rekayasa genetika sehingga buah tetap segar dalam waktu yang cukup lama. Contohnya tomat ”Flavr Savr”.
3.
Ikan salmon raksasa
Ikan salmon disisipi gen yang sanggup menghasilkan hormon pertumbuhan yang aktif pada fase pertumbuhan embrio. Ikan salmon transgenik ini mempunyai berat 11 kali lipat dibanding ikan salmon biasa dan siklus hidupnya lebih pendek.
4.
Sapi perah dengan hormon
Gen laktoferin yang memproduksi HLF

manusia
(Human Lactoferrin) disisipkan pada sapi perah melalui rekayasa genetika. Sapi tersebut akan memproduksi susu yang mengandung laktoferin. Contohnya sapi Herman.
5.
Hormon Bovin Somatotro-
Gen somatotropin sapi ditransplantasikan

pin (BST)
pada plasmid Eschericia coli sehingga menghasilkan BST. BST yang ditambahkan pada masakan ternak sanggup meningkatkan produksi daging dan susu ternak.
6.
Kain ”alami” sintesis
Kain dari serat alami mempunyai tekstur halus tetapi gampang putus. Adapun kain dari serat sintetis (poliester) tidak gampang putus tetapi terasa panas. Kini telah dikembangkan gen pada kuman yang mengkode enzim yang sanggup mensintesis poliester.

c. Bidang Kedokteran

Penerapan rekayasa genetika dalam bidang kedokteran untuk memproduksi hormon buatan, vaksin untuk melawan virus, maupun antibodi.

1) Pembuatan Insulin

Insulin yaitu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pankreas. Hormon ini berperan dalam mengatur kadar gula dalam darah (glukosa). Namun, tidak semua orang sanggup memproduksi insulin dengan jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh. Bahkan, terdapat pula orang yang sama sekali tidak memproduksi insulin. Orang ini adalah penderita diabetes mellitus. Pasien diabetes memerlukan suntikan insulin tambahan. Pada awalnya insulin ini dibentuk dari kelenjar pankreas sapi atau babi. Insulin yang dibutuhkan seorang pasien diabetes selama setahun lebih kurang sebanyak 0,5 g. Insulin seberat itu diperoleh dari 4.800 g kelenjar pankreas dari 28 ekor hewan. Padahal, bila penderita diabetes mellitus sebanyak 800 pasien lebih, berapa banyak binatang yang harus diambil pankreasnya setiap tahun?

Kebutuhan insulin terpenuhi melalui pengambilan insulin dari hewan, tetapi beberapa pasien menunjukkan gejala alergi. Melalui teknik rekayasa genetika, dapat diperoleh insulin dalam jumlah banyak tanpa mengorbankan banyak binatang ternak. Insulin ini diperoleh dengan mencangkokkan gen (transplantasi gen) yang mengkode insulin ke dalam plasmid bakteri.

Bakteri dengan gen adonan ini dibiarkan membiakkan diri. Bakteri yang dibiakkan tersebut sanggup memproduksi insulin yang dibutuhkan. Hal ini sanggup Anda simak pada Gambar 5 berikut ini.

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 5. Langkah-langkah DNA rekombinan pada produksi insulin.
2) Produksi Vaksin

Selain dipakai untuk memproduksi hormon maupun enzim, teknologi DNA rekombinan juga digunakan untuk menciptakan vaksin. Pada aplikasi ini, secara garis besar beberapa mikroorganisme dipakai untuk menghambat kemampuan mikroorganisme patogen (penyebab penyakit). Mikrobia menjadi suatu bibit penyakit dalam tubuh apabila mikrobia tersebut menghasilkan senyawa toksik bagi badan manusia. Selain itu, bagian-bagian tubuh mikrobia menyerupai flagel dan membran sel juga dapat menimbulkan penyakit. Hal ini alasannya bagian-bagian tersebut kemungkinan terdiri dari protein ajaib bagi tubuh. Senyawa dan protein ajaib ini disebut antigen.

Gen yang mengkode senyawa penyebab penyakit (antigen) diisolasi dari mikrobia yang bersangkutan. Kemudian gen ini disisipkan pada plasmid mikrobia yang sama, tetapi telah dilemahkan (tidak berbahaya). Mikrobia ini menjadi tidak berbahaya alasannya telah dihilangkan kepingan yang mengakibatkan penyakit, misal lapisan lendirnya. Mikrobia yang telah disisipi gen ini akan membentuk antigen murni. Bila antigen ini disuntikkan pada manusia, sistem kekebalan insan akan membuat senyawa khas yang disebut antibodi.

Munculnya antibodi ini akan mempertahankan badan dari pengaruh senyawa ajaib (antigen) yang masuk dalam tubuh. Pelajari Gambar 6 berikut semoga Anda lebih memahami pembuatan vaksin transgenik.

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 6. Langkah-langkah DNA rekombinan pada produksi insulin.
Indonesia juga memanfaatkan bioteknologi untuk membuat vaksin flu burung. Baru-baru ini para mahir dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB bekerja sama dengan Shigeta Pharmaceutical, sebuah perusahaan farmasi dari Jepang telah berhasil menemukan vaksin untuk penyakit yang meresahkan masyarakat ini. Vaksin ini diberi nama Bird CLOSE 5.1. Vaksin ini diperoleh melalui rekayasa genetika dari virus penyebab flu burung H5N1 yang dikawinkan dengan virus influenza Puerto Rico yang sanggup tumbuh dengan pesat. Virus yang dijadikan sampel dalam pembuatan vaksin ini yaitu virus H5N1 yang ditemukan di kawasan Legok, Tangerang, Banten. Zat-zat berbahaya dari virus ini dihilangkan kemudian virus ini dikembangbiakkan dengan cepat. Virus yang sudah tidak berbahaya inilah yang dipakai sebagai vaksin.

3) Antibodi Monoklonal

Teknologi pembuatan antibodi monoklonal diperkenalkan oleh Kohler dan Milstein pada tahun 1975. Mereka sanggup memperlihatkan bahwa sel limfosit penghasil antibodi sanggup difusikan dengan sel mieloma (kanker). Teknologi ini memakai prinsip fusi protoplasma. Fusi ini menghasilkan sel-sel yang sanggup menghasilkan antibodi sekaligus sanggup memperbanyak diri secara terus-menerus menyerupai pada sel-sel kanker. Sel-sel ini menghasilkan antibodi monoklonal. Secara garis besar proses fusi sel antibodi dan sel mieloma (kanker) terlihat pada Gambar 7.

Secara sederhana pembuatan antibodi monoklonal sebagai berikut. Kelinci atau tikus terlebih dahulu diinjeksi dengan antigen kemudian limfanya (tempat pembuatan sel darah putih) diambil. Sel-sel limfa ini kemudian difusikan dengan sel mieloma (sel kanker) melalui elektrofusi. Elektrofusi yaitu fusi secara elektris dengan frekuensi tinggi yang menimbulkan sel-sel tertarik satu sama lain dan kesudahannya bergabung (fusi).

Sel-sel yang melaksanakan fusi kemudian diseleksi untuk mengidentifikasi sel adonan tersebut. Sel-sel ini kemudian diinjeksikan ke badan hewan. Sel-sel gabungan ini akan membentuk antibodi dalam badan hewan. Perhatikan Gambar 6.

ratus tahun mulai dari taraf sederhana hingga  Pintar Pelajaran Produk Bioteknologi
Gambar 7. Proses pembuatan antibodi monoklonal melalui rekayasa genetika
Sel adonan ini sanggup dibiakkan ke dalam suatu kultur sehingga menghasilkan antibodi dalam jumlah besar. Antibodi monoklonal sanggup dipakai untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam urine perempuan hamil. Dengan demikian, cara ini dapat untuk mendeteksi adanya kehamilan.

Anda kini sudah mengetahui Produk Bioteknologi. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Sembiring, L dan Sudjino. 2009. Biologi : Kelas XII untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.