Showing posts sorted by relevance for query ganggang-mikro-mikroalga. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query ganggang-mikro-mikroalga. Sort by date Show all posts

Saturday, May 11, 2019

Pintar Pelajaran Ganggang Mikro / Mikroalga

Artikel Makalah Pengertian Tumbuhan Ganggang Mikro / Mikroalga - Ganggang termasuk golongan flora berklorofil yang mencakup bermacam-macam organisme, dari luar ganggang mikro sering telah menampakkan suatu perbedaan, sehingga terlihat ibarat kormus flora tinggi, akan tetapi dari segi anatomi sel-selnya belum mengatakan perbedaan (yang mendalam). Ganggang berukuran sangat bermacam-macam dari yang berukuran sangat kecil dalam skala μm hingga beberapa meter panjangnya. Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen-pigmen lain untuk melangsungkan proses fotosintesis. Hampir semua organisme yang tergolong dalam divisi ini hidup di dalam air, baik air tawar maupun air laut, atau setidak-tidaknya kehidupannya terikat pada daerah - daerah yang berair di darat (Tjitrosoepomo, 2005). Ganggang yaitu flora talus (Thallophyta). 

1. Divisi Ganggang

Secara umum ada beberapa divisi ganggang utama yang dikenal di dunia yaitu:

a. Divisi Chlorophyta (Ganggang Hijau)

b. Divisi Chrysophyta (Ganggang Keemasan)

c. Divisi Rhodophyta (Ganggang Merah)

d. Divisi Cyanophyta (Ganggang Hijau Biru)

e. Divisi Euglenophyta (Alga Berflagel)

f. Divisi Phaeophyta (Ganggang Coklat)

2. Fisiologis Ganggang Mikro / Mikroalga

Secara umum komunitas ganggang baik di perairan maupun darat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ada mirip intensitas cahaya, suhu, salinitas, pH, konsentrasi zat hara organik dan anorganik.







9. Pemanfaatan Mikroalga / Ganggang Mikro

Pemanfaatan ganggang sebelumnya telah dikenal luas seperti UlvaEnteromorpna dan Gracilaria, sebagai salad rumput bahari atau sumber potensial karagenan yang diharapkan oleh industri gel. Sargassum dan Chlorela yang telah dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat. OsmundariaHypnea, dan Gelidium juga telah dimanfaatkan sebagai sumber senyawa bioaktif. Laminariales atau Kelp dan Sargassum Muticum yang mengandung senyawa alginat dan berkhasiat dalam industri farmasi. Secara umum dikenal dua jenis ganggang yaitu ganggang makro dan ganggang mikro. Ganggang makro yaitu organisme dengan ukuran yang lebih besar. Ganggang makro mempunyai kandungan karbohidrat (polisakarida) yang tinggi sebagai salah satu komponen selnya. Habitat hidup ganggang makro umumnya yaitu di laut. Sebaliknya ganggang mikro yaitu sel ganggang yang berukuran sangat kecil dalam skala μm dan habitat hidup ganggang ini yaitu di darat maupun di laut. Gangang mikro mempunyai kandungan lipid yang tinggi, dan lipid (lemak atau minyak) dari ganggang mikro inilah yang akan diproses menjadi BBN. Perbandingan kandungan minyak dari beberapa jenis flora penghasil BBN telah banyak diteliti. Menurut SBRC (2008), tumbuhan jarak pagar mempunyai kandungan minyak 30-35% berat kering dengan produktivitas 600 L/ha, sawit mempunyai kandungan minyak 25-30% berat kering dengan produktivitas 5.830 L/ha dan ganggang mikro mempunyai kandungan minyak 35-80% berat kering dengan produktivitas 58.000-136.900 L/ha.

Ganggang mikro mempunyai potensi untuk sanggup dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai penghasil BBN. Ganggang mikro juga tahan terhadap perubahan lingkungan dan mempunyai laju pertumbuhan yang tinggi. Baik proses fisik maupun kimia sanggup dipakai untuk menghasilkan minyak dari galur ganggang yang mempunyai kandungan lipid tinggi, dengan demikian maka eksplorasi ganggang mikro sebagai sumber BBN dari banyak sekali wilayah di Indonesia menjadi pilihan yang penting dan strategis.

Anda kini sudah mengetahui ihwal Ganggang Mikro atau Mikroalga. Terima kasih sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Tjitrosoepomo G. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat - Obatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wednesday, May 8, 2019

Pintar Pelajaran Nutrisi Pada Pertumbuhan Mikroalga / Ganggang

Artikel Makalah Pengaruh Unsur Hara / Nutrisi pada Pertumbuhan Mikroalga / Ganggang MikroUnsur hara anorganik utama yang diperlukan ganggang mikro untuk tumbuh dan berproduksi yaitu N dan P. Gas nitrogen, nitrat, nitrit, ammonium, dan bentuk nitrogen organik yaitu bentuk nitrogen dalam air (Boyd, 1992). Gas nitrogen (N2) tidak sanggup dimanfaatkan secara pribadi oleh flora akuatik dan harus mengalami fiksasi terlebih dahulu menjadi ammonia (NH3), ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3-). Namun beberapa jenis Cyanophyta dapat memanfaatkan gas N2 secara lansung dari udara (Effendi, 2003). Unsur hara nitrogen yang diperlukan ganggang dalam pertumbuhannya yaitu nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-) (Nybakken, 1993). Ditambahkan oleh Mulyadi (1999), bahwa ketersediaan nitrat dalam media akan menghipnotis kecepatan serap ammonium oleh ganggang Dunaliella tertiolecta. Pemanfaatan ammonium meningkat seiring dengan semakin berkurangnya kandungan nitrat dalam media hidupnya. Kecepatan serap ganggang hijau ini bervariasi antara 0,041 - 0,085 mg/l. Kebutuhan akan hara anorganik mikro menyerupai Si juga telah dipelajari pada diatom. Diatom dan Silicoflagellata membutuhkan silikat (SiO2) dalam jumlah yang cukup. Rata-rata nitrogen yang diperlukan oleh banyak ganggang dalah diantara 5-10% dari berat kering atau 5-50 mM (Becker, 1994).

Fosfor merupakan unsur esensial bagi pertumbuhan ganggang, sehingga menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan ganggang akuatik. Fosfor ditemukan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat di perairan. Ortofosfat merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat yang paling sederhana dan sanggup dimanfaatkan secara pribadi oleh ganggang (Boyd, 1992). Ganggang tidak sanggup memanfaatkan fosfor yang berikatan dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob alasannya yaitu bersifat mengendap (Jeffries dan Mills, 1996).

Menurut Musa (1992), perairan dengan kandungan fosfat rendah 0.00 - 0.02 ppm akan didominasi oleh diatom, pada 0.02-0.05 ppm didominasi oleh Chlorophyta dan pada konsentrasi tinggi yaitu > 0.10 ppm akan didominasi oleh Cyanophyta. Selain hara anorganik utama, hara lainnya juga diperlukan untuk pengkayaan sejumlah ganggang tertentu menyerupai Si, Zn, Mn, Mo, Na, Cl, Cu, Co, dan B. Unsur hara mikro berperan dalam sistem enzim, proses oksidasi dan reduksi dalam metabolisme ganggang mikro serta dipakai untuk memproduksi klorofil (Garcia dan Garcia, 1985). Unsur hara anorganik dan organik hanya diperlukan dalam jumlah kecil atpi harus dipenuhi untuk melengkapi daur hidup ganggang (Nybakken, 1993).

Anda kini sudah mengetahui Unsur Hara pada Pertumbuhan Mikroalga / Ganggang. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Becker EW, Baddiley SJ, Carey NH, Higgins IJ, Potter WG, editor. 1994. Microalgae. Biotechnology and Microbiology. New York: Cambridge University Press.

Boyd CE. 1992. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Department of Fisheries and Allied Aguacultures. Alabama: Agricultural Experiment Station Auburn.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.


Garcia WU, Garcia RU. 1985. Prawn Farming: Made Simple with Fertilex. Ed Ke-1. Manila: National Science and Technology Authority Invention Awardes.


Jeffries M, Mills D. 1996. Freshwater Ecology. Principles and Aplications. Chichester: John Willey and Sons Inc.

Musa M. 1992. Komposisi, Biomasa dan Produktivitas Fitoplankton Serta Hubungannya Terhadap Fisika Kimia Perairan di Waduk Selorejo Malang. Jawa Timur [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Nybakken JW. 1993. Marine Biology. An Ecological Approach. Ed ke-3. New York: Harper Collins College Publishers.

Thursday, May 9, 2019

Pintar Pelajaran Cara Identifikasi Mikroalga / Ganggang Mikro

Pendekatan Cara Identifikasi Mikroalga / Ganggang MikroPendekatan identifikasi ganggang mikro dilakukan dengan mengacu pada Bold dan Wynne (1985) dalam “Introduction to The Algae Structure and Reproduction”. Identifikasi ganggang mikro yang utama didasarkan pada karakteristik morfologi serta sifat-sifat selular seperti: sifat pigmen fotosintetik; struktur sel dan flagela yang dibuat oleh sel-sel yang bergerak, serta lipid sebagai materi cadangan organik yang dihasilkan sel.

1. Karakteristik morfologi

Banyak spesies ganggang terdapat sebagai sel tunggal yang sanggup berbentuk bola, batang, gada atau kumparan. Ganggang mempunyai ukuran sangat beragam. Ganggang ada yang mempunyai flagela ada yang tidak. Bersifat uniseluler tetapi spesies tertentu membentuk koloni-koloni multiseluler. Beberapa koloni merupakan agregasi (kumpulan) sel-sel tunggal identik yang saling menempel sesudah pembelahan. Ganggang sebagaimana protista eukariotik yang lain, mengandung nukleus yang membatasi membran yang mengandung pati, tetesan minyak dan vakuola. Setiap sel mengandung satu atau lebih kloroplas, yang sanggup berbentuk pita, di dalam matriks kloroplas terdapat gelembung-gelembung pipih bermembran yang dinamakan tilakoid. Membran tilakoid berisikan klorofil dan pigmen-pigmen tambahan yang merupakan situs reaksi cahaya fotosintesis.

2. Sistem pigmen

Pigmen terdapat dalam kloroplas. Kloroplas di dalam sel letaknya mengikuti bentuk dinding sel (parietal). Kloroplas kerap berisi masa protein cadangan, yang disebut pirenoid.

Tubuh ganggang terdapat zat warna (pigmen), yaitu:
- Fikosianin : warna biru
- Klorofil : warna hijau
- Fikosantin : warna coklat
- Fikoeritrin : warna merah
- Karoten : warna keemasan
- Xantofil : warna kuning

3. Sifat materi cadangan

Cadangan makanan ganggang umumnya merupakan amilum yang tersusun sebagai rantai glukosa tidak bercabang adalah amilosa dan rantai yang bercabang amilopektin. Seringkali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan tubuh protein dalam plastida disebut pirenoid. Pirenoid umumnya diliputi oleh butiran-butiran pati, pirenoid ini berasal dari hasil asimilasi berupa tepung dan lemak (lipid) tetapi beberapa jenis tidak mempunyai pirenoid.

4. Struktur sel dan Flagela

Struktur tubuh ganggang sangat bervariasi. Beberapa spesies yang bersel tunggal sanggup bergerak atas kekuatan sendiri (motil), sedangkan sebagian lagi non motil. Koloni ganggang sanggup berupa benang-benang (filamen). Koloni yang tidak membentuk filamen biasanya merupakan kumpulan sel berbentuk lingkaran atau pipih tanpa alat lekat (holdfast).

Dua tipe pergerakan fototaksis pada gangang yaitu:

a. Pergerakan dengan flagela

Pada umumnya sel ganggang dijumpai adanya flagela. Flagela dihubungkan dengan struktur yang sangat luas disebut aparatus neuromotor, merupakan granula pada pangkal dari tiap flagela disebut blepharoplas. Flagela tersebut dikelilingi oleh selubung plasma.

b. Pergerakan dengan sekresi lendir

Beberapa divisi ganggang juga terdiri dari anggota bersel satu yang tidak mempunyai flagela atau tidak mempunyai alat gerak yang lain. Mekanisme daya pelopor disebabkan adanya stimulus cahaya yang diduga oleh adanya sekresi lendir melalui porus dinding sel pada pecahan apikal dari sel. Daya pelopor lain oleh modifikasi khusus gerak ameboid. Gerakan ditimbulkan oleh arus sitoplasmik yang terarah di dalam susukan rafe, yang mendorong sel diatas substrat (Stanier et al., 1982).

Berdasarkan uraian diatas maka divisi taksonomi ganggang utama menurut sifat-sifat seluler disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Divisi taksonomi ganggang utama menurut sifat-sifat seluler

Nama Umum
(Divisi)
Sistem
pigmen
Sifat Bahan
Cadangan
Struktur Sel dan
Flagela
Ganggang Hijau (Chlorophyta)
Klorofil; karoten; xantofil
Pati, minyak
Kebanyakan non motil (kecuali satu ordo), tetapi beberapa sel reproduktif sanggup berflagela
Ganggang Keemasan dan Diatom
(Chrysophyta)
Karoten
Karbohidrat ibarat pati; minyak
Flagela: 1 atau 2 sama atau tidak sama; pada beberapa permukaannya tertutup oleh sisik-sisik  khas
Ganggang Merah (Rhodophyta)
Fikoeritrin;
karoten dan
xantofil
Pati floridean
(seperti glikogen)
Nonmotil; biar dan keragen dalam dinding sel
Ganggang Hijau Biru
(Cyanophyta)
Fikosianin;
fikoeritrin
Glikogen dan
minyak
Nonmotil; selulosa dan pektin dalam dinding sel
Euglenoid
(Euglenophyta)
Klorofil;
karoten;
xantofil
Karbohidrat ibarat pati; minyak
Flagela: 1, 2, atau 3 yang sama, agak apikal ; ada kerongkongan; tidak ada dinding sel tetapi  mempunyai pelikel elastik
Ganggang Coklat
(Phaeophyta)
Fikosantin
Laminarin dan lipid
Flagela: 2 lateral, tak sama; asam alginat dalam dinding sel
Sumber : Pelczar dan Chan (1986)

Anda kini sudah mengetahui Identifikasi Alga. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Bold HC, Wynne MJ. 1985. Introduction to the Algae. Structure and Reproduction. Ed ke-2. New Jersey: Prentice-Hall Inc. Englewood Cliffs.

Pelczar MJ, Chan MJ. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jilid 1. Jakarta: UI Press.

Stanier R, Adelberg EA, Ingraham J. 1982. Dunia Mikrobe I. Gunawan AW, Angka SL, Lioe KG, Hastowo, Lay B, penerjemah; Tjitrosomo SS, editor. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara.

Wednesday, May 8, 2019

Pintar Pelajaran Dampak Salinitas Dan Ph Pada Mikroalga / Ganggang

Artikel Makalah Pengaruh Salinitas dan pH pada Mikroalga / Ganggang Mikro - Salinitas dan pH merupakan parameter oseanografi yang penting pada petumbuhan organisme. Salinitas yakni salah satu faktor yang besar lengan berkuasa terhadap organisme air dalam mempertahankan tekanan osmotik dalam protoplasma dengan air sebagai lingkungan hidupnya. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), ganggang Phaeodactylum sp. bertoleransi terhadap kadar garam 20-700/00 dan mengalami pertumbuhan optimal pada kisaran salinitas 350/00. Chaetoceros sp. mempunyai kisaran salinitas sangat tinggi yaitu 6-500/00, dengan kisaran salinitas 17-250/00 sebagai salinitas optimum untuk pertumbuhannya. Sedangkan pada Skletonema costatum salinitas yang optimal untuk pembentukan auksospora yakni 20-350/00. Menurut Takagi et al. (2005), penambahan 0,5 M NaCl selama kultivasi ganggang mikro maritim Dunaliella memberikan peningkatan pertumbuhan dan kandungan lipid.

Konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam cairan sel dan protoplasma sangat penting bagi fisiologis ganggang. Ganggang umumnya hidup dengan baik pada pH netral (pH 7). Colman dan Gehl (1983), menyatakan bahwa acara fotosintesis akan turun menjadi maximum 33% saat pH turun pada 5.0. Pertumbuhan ganggang maritim jenis Chlorella sp. sangat baik pada kisaran pH 6 - 8 dan kisaran salinitas 20 – 40 ppt (Sutomo, 1990). Perairan yang berkondisi asam dengan pH kurang dari 6.0 sanggup menimbulkan ganggang tidak sanggup hidup dengan baik. Perairan dengan nilai pH lebih kecil dari 4.0 merupakan perairan yang sangat asam dan sanggup menimbulkan ajal organisme air, sedangkan pH lebih dari 9.5 merupakan perairan yang sangat basa dan sanggup mengurangi produktivitas organisme air termasuk ganggang (Wardoyo, 1982). Air yang bersifat basa dan netral menimbulkan organisme yang hidup di dalamnya lebih produktif untuk tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan air yang bersifat asam (Hickling, 1971).

Anda kini sudah mengetahui Pengaruh Salinitas dan pH pada Pertumbuhan Mikroalga / Ganggang Mikro. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Colman B, Gehl KA. 1983. Effect of External pH on the Internal pH of Chlorella saccharophila. J Plant Physiol 77 (4): 917-921.

Hickling CF. 1971. Fish Culture. Faber and Faber. London.

Isnansetyo A, Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Yogyakarta: Kanisius.

Sutomo. 1990. Pengaruh Salinitas dan pH terhadap Pertumbuhan Chorella sp. Di dalam: Buku Panduan dan Kumpulan Abstrak Seminar Ilmiah Nasional Lustrum VII. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.

Takagi M, Karseno, Yoshida T. 2005. Effect of Salt Consentration on Intraselular Accumulation of Lipids dan Triacyglyceride in Marine Microalgae Dunaliella cell. J Biosci 101 (3):223-226.

Wardoyo STH. 1982 Kriteria Kualitas Air untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Training Analisis Dampak Lingkungan: PPLH UNDP - PUSDI –PSL. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Thursday, May 9, 2019

Pintar Pelajaran Komposisi Kimia Penyusun Sel Mikroalga / Ganggang Mikro

Komposisi Kimia Penyusun Sel Mikroalga / Ganggang MikroKomposisi kimia sel semua jenis ganggang umumnya terdiri dari protein, karbohidrat, lemak (fatty acids) atau lipid dan asam nukleat. Perbedaan komposisi lipid pada ganggang seringkali menunjukkan sebagai hasil dari variasi pada lingkungan atau kondisi media biakan. Komposisi kimia ganggang dalam persen bobot kering disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Komposisi kimia ganggang dalam persen bobot kering

Ganggang
Komposisi kimia (% bobot kering)
Protein
Karbohidrat
Lemak
Asam nukleat
Scenedesmus obliquus
50-56
10-17
12-14
3-6
Scenedesmus quadricauda
47
-
1.9
-
Scenedesmus dimorphus
8-18
21-52
16-40
-
Chlamydomonas rheinhardii
48
17
21
-
Chlorella vulgaris
51-58
12-17
14-22
4-5
Chlorella pyrenoidosa
57
26
2
-
Spirogyra sp.
6-20
33-64
11-21
-
Dunaliella bioculata
49
4
8
-
Dunaliella salina
57
32
6
-
Euglena gracilis
39-61
14-18
14-20
-
Prymnesium parvum
28-45
25-33
22-38
1-2
Tetraselmis maculata
52
15
3
-
Porphyridium cruentum
28-39
40-57
9-14
-
Spirulina platensis
46-63
8-14
4–9
2-5
Spirulina maxima
60-71
13-16
6-7
3-4.5
Synechoccus sp.
63
15
11
5
Anabaena cylindrica
43-56
25-30
4-7
-
Sumber : Becker (1994)

Lemak merupakan unsur terbanyak ketiga yang terdapat di dalam organisme hidup. Lemak terdapat pada sel-sel organ vegetatif flora di dalam protoplasma. Lemak yaitu salah satu bentuk lipid yang merupakan bentuk simpanan dari karbon, hidrogen dan oksigen. Angka dan Suhartono (2000), menemukan bahwa pada ganggang hijau biru Spirulina kaya akan asam lemak tak jenuh. Salah satu jenis yang utama yaitu asam linolenat yang mencapai 20% dari total lipid. Jenis gula yang menyusun karbohidrat Spirulina termasuk ramnosa (19%), glukan (1.5%), silitol berfosfat (2.5%), glukosamin dan asam muramat (2%), glikogen (0.5%), serta asam sialat (0.5%). Bold dan Wynne (1985), menambahkan bahwa 1.7 % dari berat dinding sel Pleurotaenium adalah lipid, 0.32% yaitu nitrogen dan selebihnya yaitu glukosa, galaktosa, xylosa dan arabinosa. Ganggang yaitu flora yang sanggup berfotosintesis. Gula merupakan karbohidrat paling sederhana yang dihasilkan dari fotosintesis.

Total sel yang mengandung lemak (fatty acids) pada diatom dipelajari berada pada jumlah yang cukup pada total sel lipid yaitu 1.6-52.4 pg sel-1 dan 898 pg sel -1 pada Coscinodiscus sp. Pada lemak jenuh diperoleh 16-37% dari total lemak (fatty acids) (Dunstan et al., 1993). Kandungan lipid ganggang mikro dipengaruhi oleh keadaan lingkungan fisiknya. Menurut Khotimchenko dan Yakovleva (2004), rasio kandungan dan struktur lipid ganggang merah Tichocarpus crinitus sangat dipengaruhi oleh kondisi cahaya. T. crinitus memiliki kandungan lipid yang melimpah pada kondisi intensitas cahaya yang tinggi. Lipid pada jenis ganggang ini terdiri atas glikolipid, phospolipid dan lipid. Glikolipid mencapai 58 - 63% dari total lipid dan terdiri dari monogalactosyldiacylglycerol (MGDG), digalactosyldiacylglycerol (DGDG) dan sulfoquinovosyldiacylglycerol (SQDG). Phospolipid utama pada T. crinitus adalah phosphatidylcholine (PC) dan phosphatidylglycerol (PG), sedangkan Lipid terdiri dari triacylglycerols (TG). Kandungan total lipid pada aneka macam kelas ganggang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Kandungan total lipid pada aneka macam kelas ganggang

Kelas ganggang
Total lipid (%biomasa)
Kandungan total lipid
Hidrokarbon (% biomasa)
Neutral lipid
Glycolipid
Phospholipid
Chlorophyceae
1-70
21-66
6-62
17-53
0.03-1.0
Chrysophyceae
12-72
-
-
-
-
Rhodophyceae
-
41-58
42-59
-
-
Cyanophyceae
2-23
11-68
12-41
16-50
0.005-0.6
Euglenophyceae
17
-
-
-
-
Bacillariophyceae
1-39
14-60
13-44
10-47
0.2-0.7
Sumber : Borowitzka dan Borowitzka (1988)



Efek dari konsentrasi hara nitrogen dalam kultur media terhadap produksi lipid dilaporkan oleh Regnault et al. (1995), bahwa pada konsentrasi nitrogen tinggi, ganggang hijau Chlorella vulgaris, Scenedesmus obligus dan Frintschiella tuberose menghasilkan sejumlah besar polar lipid. Pada konsentrasi nitrogen yang rendah, kandungan lipid, terutama triacylglycerols (TG), meningkat. Sebaliknya kandungan C14 lemak (fatty acids) berada pada jumlah yang tetap.

Becker (1994), menemukan bahwa pada kondisi optimum Dunaliella spp. Dapat mengakumulasi sampai 40% gliserol dari total biomasa. Pada kultur media terbuka menawarkan rata-rata produksi Dunaliella spp. sekitar 4.5 g gliserol m-2 d-1 sanggup ditemukan pada media dengan salinitas 3.5 M. Kandungan gliserol yang lebih tinggi sanggup ditemukan pada kultur media dengan tingkat salinitas yang lebih rendah.

Hidrokarbon merupakan senyawa dasar pembentuk materi bakar. Sejumlah kecil hidrokarbon terdeteksi sebanyak (0.3- 10% dari total lipid), yang didominasi n-C 21:5 dan n-C 21:6 pada semua spesies ganggang kecuali pada Haslea ostrearia, dan Rhizosolenia setigera dimana C25 dan C 30 tersedia dalam jumlah yang melimpah (Dunstan et al., 1993).

Anda sudah mengetahui Komponen Penyusun Sel Mikroalga. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Angka SL, Suhartono MT. 2000. Bioteknologi Hasil-Hasil Laut. IPB: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.

Becker EW, Baddiley SJ, Carey NH, Higgins IJ, Potter WG, editor. 1994. Microalgae. Biotechnology and Microbiology. New York: Cambridge University Press.

Dunstan GA, John KV, Stephanie MB, Jeannie ML, Jeffrey SW. 1993. Essential Polyunsaturated Fatty Acids From 14 Species of Diatom (Bacilliariophyceae). J Phytochem 35(1):155-161.

Khotimchenko SV, Yakovleva IM. 2004. Lipid Composition of The Red Alga Tichocarpus crinitus Exposed to Different of Photon Irradiance. J Phytochem 66: 73-79.

Regnault A, Daisy C, Antoine C, Francoise P, Regis C, Paul M. 1995. Lipid Composition of Euglena gracilis In Relation to Carbon-Nitrogen Balance. J Phytochem 40(3):725-733.