Showing posts sorted by relevance for query hewan-invertebrata-pengertian-ciri-ciri-klasifikasi-reproduksi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query hewan-invertebrata-pengertian-ciri-ciri-klasifikasi-reproduksi. Sort by date Show all posts

Friday, September 13, 2019

Pintar Pelajaran Kingdom Animalia (Hewan) : Pengertian, Klasifikasi, Ciri-Ciri, Reproduksi

Kingdom Animalia (Hewan) : Pengertian, Klasifikasi, Ciri-ciri, Reproduksi - Manusia mempunyai sifat-sifat biologis yang bersahabat dengan hewan sehingga dalam penjabaran makhluk hidup insan termasuk satu kelompok dengan hewan. Karena kedekatan ini, kita cenderung mudah membedakan antara binatang dengan tumbuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga mengembangbiakkan aneka macam jenis binatang untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga ada hewan-hewan yang bernilai ekonomis tinggi. Hewan mempunyai aneka macam macam ciri yang khas antara satu jenis dengan jenis lainnya. Ciri-ciri umum binatang juga sangat berkaitan dengan penjabaran hewan-hewan tersebut ke dalam berbagai takson. Dengan mengetahui ciri-ciri umumnya, kita bisa menentukan dengan gampang apakah suatu organisme yang kita temui termasuk hewan atau termasuk organisme lain. Sekarang kalian cermati uraian berikut.

1. Ciri Umum

Hewan merupakan organisme atau makhluk hidup yang sanggup kita jumpai pada aneka macam tempat. Ada aneka macam jenis binatang yang hidup di darat, di dalam air, di kawasan tropis maupun subtropis, dan bahkan di daerah gurun yang sangat kering maupun kawasan kutub yang sangat dingin. Hewan juga mempunyai cara hidup bermacam-macam, ada yang hidup sebagai individu yang sanggup bangkit diatas kaki sendiri dan ada pula yang hidup menumpang pada organisme lain sebagai parasit, ada soliter dan ada yang berkelompok. Ada binatang yang memakan tumbuhan, memangsa hewan-hewan lain, dan ada yang memakan keduanya. Umumnya hewan sanggup bergerak aktif sehingga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Beberapa kelompok binatang juga melaksanakan migrasi pada waktu-waktu tertentu. Hewan bergerak untuk mencari makanan dan bertahan hidup. Hewan-hewan tersebut berbeda antar kelompok satu dengan yang lainnya, ada yang kecil ada yang besar, ada yang bisa berlari, ada yang bisa terbang, dan ada pula yang bergerak sangat lambat. Hewan juga mempunyai badan yang beraneka ragam warna dan bentuknya.

Namun demikian, hewan-hewan tersebut mempunyai ciri-ciri umum yang sama sehingga mereka dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut Kingdom Animalia atau Dunia Hewan. Ciri-ciri binatang ialah 1) organisme eukariotik dan multiselular. 2) bersifat heterotrof, yaitu mendapat energi dengan memakan organisme lain (tumbuhan atau binatang lain). Inilah sifat umum yang membedakan tumbuhan dan hewan. 3) Sel binatang tidak mempunyai dinding sel. 4) Tidak memiliki klorofil sehingga tidak bisa berfotosintesis. 5) Bereproduksi dengan cara yang khas, yaitu secara kawin (seksual). Hanya beberapa jenis yang dapat bereproduksi secara aseksual. 6) Sebagian besar binatang memiliki otak dan sistem syaraf. 7) Hewan merupakan organisme yang aktif bergerak (motile).


2. Klasifikasi Hewan

Kingdom Animalia atau Dunia binatang oleh para hebat zoologi dikelompokkan menjadi binatang invertebrata dan vertebrata. Pengelompokan ini didasarkan pada ada dan tidaknya tulang belakang (vertebrae). Hewan juga bisa dikelompokkan menurut habitatnya, ada yang hidup di darat atau terestrial dan ada yang hidup di air (laut, payau, tawar) atau akuatik. Namun demikian, kelompok-kelompok tersebut bukan merupakan penjabaran ilmiah. Klasifikasi dan derma nama ilmiah hewan, secara international diatur dalam International Code of Zoological Nommenclature atau Kode Internasional Tata Nama Hewan. Di bawah kategori kingdom, Dunia Hewan dibagi ke dalam beberapa filum. Dalam pembahasan berikut, untuk mempermudah pembelajaran kalian, kita akan membedakan Kingdom Animalia ke dalam dua kelompok besar, yaitu Invertebrata (hewan tidak bertulang belakang) dan Vertebrata (hewan bertulang belakang).


B. Vertebrata

3. Peranan Animalia dalam Kehidupan

Anda kini sudah mengetahui Kingdom Animalia atau Hewan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel-sel penyengat yang terdapat pada epidermisnya. Cnidaria juga disebut Coelenterata sebab mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuh. Coelenterata berasal dari kata coilos (berongga) dan enteron (usus). Jadi, semua binatang yang termasuk filum ini mempunyai rongga usus (gastrovaskuler) yang berfungsi untuk pencernaan. Cnidaria mempunyai badan bersel banyak, simetri radial atau biradial, tidak mempunyai kepala atau ruas-ruas tubuh. Dalam pergiliran keturunan, Cnidaria mempunyai dua tipe hidup atau bentuk tubuh. Kedua bentuk badan tersebut ialah bentuk polip dan bentuk medusa. Cnidaria disebut sebagai fase polip dikala hidup melekat pada suatu substrat dan tidak sanggup berpindah daerah (sessil). (Baca juga : Invertebrata)
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Struktur badan Cnidaria
Sedangkan Cnidaria disebut sebagai fase medusa dikala hidup bebas berenang atau terapung di dalam air, hidup bebas berpindah tempat karena terbawa air (planktonik). Satu jenis Cnidaria selama hidupnya dapat berbentuk polip, medusa, atau polip dan medusa, dijumpai pada anggota kelas tertentu. Tubuh Cnidaria terdiri atas 2 lapisan sel (jaringan), yang luar disebut epidermis dan yang dalam disebut gastrodermis (endodermis). Kedua jaringan tersebut dipisahkan oleh lapisan mesoglea yang berisi gelatin dan sel-sel syaraf. Pada epidermis terdapat sel knidosit yang mengandung racun penyengat (nematosit). Nematosit pada permukaan knidoblas ini lebih berfungsi untuk membela diri (menyengat mangsa atau musuhnya) dan juga untuk membantu menangkap makanan, untuk bergerak dan menempel pada substrat.

Alat pencernaan pada Cnidaria masih sangat sederhana, yaitu berupa kanal mirip kantung yang disebut enteron. Mulut dikelilingi oleh tentakel, dan pribadi berafiliasi dengan rongga gastrovaskuler. Karena rongga tersebut hanya mempunyai satu lubang, maka berfungsi sekaligus sebagai lisan dan anus. Belum mempunyai alat ekskresi dan respirasi serta darah. Sistem saraf berupa sitem syaraf yang menyebar. Cnidaria berreproduksi secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Secara aseksual yaitu dengan membentuk tunas, dan secara seksual berarti dengan membentuk gamet.

Berdasarkan bentuk yang lebih banyak didominasi dalam siklus hidupnya, Filum Cnidaria dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, dan Anthozoa. Kelas Hydrozoa mempunyai bentuk polip dan medusa, pada Kelas Scyphozoa tipe medusa lebih dominan, sedangkan pada Kelas Anthozoa hanya mempunyai tipe polip saja. Berikut uraian masingmasing kelas tersebut.

a. Kelas Hydrozoa

Kelas Hydrozoa mempunyai anggota yang kebanyakan hidup di laut dan berkoloni, kadang kala ada yang soliter, dan ada juga yang hidup di air tawar. Ukuran tubuhnya sangat kecil dan mirip tumbuhan. Bila hidup berkoloni mempunyai bentuk badan polip dan medusa, sedangkan yang soliter hanya berbentuk polip. Hal tersebut menentukan tipe hidupnya, apakah sessil atau planktonik. Contoh anggota kelas ini adalah Hydra sp., Obelia sp., dan Physalia sp. Simaklah uraian berikut ini.

1) Hydra sp.

Hydra sp. merupakan jenis anggota Cnidaria yang hidup di air tawar dan soliter (Gambar 2). Tubuhnya berukuran antara 1-3 mm, berbentuk polip, tidak mempunyai bentuk medusa, sehingga hidupnya sessil. Tubuh berbentuk silindris, pada ujung yang bebas terdapat lisan yang dikelilingi hipostome yang berfungsi menangkap mangsa. Hewan ini bereproduksi secara vegetatif dan secara generatif. Secara vegetatif Hydra sp. bereproduksi dengan membentuk tunas.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Hydra sp. (Wikimedia Commons)
2) Obelia sp.

Obelia merupakan anggota Kelas Hydrozoa yang hidup di maritim dan berkoloni (Gambar 3). Di dalam siklus hidupnya dijumpai stadium polip dan medusa, tetapi bentuk polip lebih dominan. Polip bisa membentuk tunas (reproduksi aseksual) dan tunas-tunas tersebut tetap menempel pada induknya sehingga membentuk koloni.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Obelia sp. (cascadia.edu)
Polip-polip yang membentuk koloni ini ada yang bertentakel dan ada yang tidak. Polip tidak bertentakel berfungsi untuk makan, sedangkan yang bertentakel berfungsi untuk reproduksi. Polip reproduksi bisa menghasilkan medusa secara pertunasan. Medusa tersebut kemudian lepas dan hidup bebas secara planktonik. Pada perkembangannya, medusa tersebut mampu menghasilkan gamet sehingga fase hidup medusa dikenal dengan fase seksual. Gamet-gamet tersebut alhasil melaksanakan fertilisasi dan membentuk zigot yang kemudian berubah menjadi larva bersilia (planula) dan planula tersebut menempel di dasar laut dan tumbuh menjadi Obelia (polip). Perhatikan Gambar 4.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Siklus hidup Obelia sp.
3) Physalia sp.

Hewan ini hidup di laut. Tubuhnya unik, mempunyai bentuk yang panjang membentuk polip dan terdapat penggalan tudung yang digunakan untuk mengapung (seperti medusa). Polip mempunyai tiga penggalan yaitu gastrozoid (pencernaan), gonozoid (reproduksi), daktilozoid (menangkap mangsa). Physalia sp. merupakan Coelenterata yang berbahaya bagi manusia. Perhatikan Gambar 5.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 5. Physalia physalis (Wikimedia Commons)
b. Kelas Scyphozoa

Kelas Scyphozoa dikenal sebagai the true medusae (medusa sejati) atau jelly fish (ubur-ubur). Fase medusa sangat lebih banyak didominasi dan fase polip tidak ada atau mereduksi. Bentuk tubuhnya mirip parasut atau payung yang melayang-layang di laut. Perhatikan Gambar 6 dan 7. Hewan ini mempunyai lapisan mesoglea yang tebal dan sanggup digunakan sebagai sumber nutrien. Contoh kelas ini antara lain Aurelia sp., Pelagia sp., Stomolopus sp., dan Chrysauna quinquecirrha.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 6. Aurelia sp. (Wikimedia Commons)
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 7. Siklus hidup Aurelia sp.
c. Kelas Anthozoa

Kata anthozoa berarti binatang yang ibarat bunga, berasal dari Bahasa Yunani antho (bunga) dan zoon (hewan). Kelas ini merupakan kelas dalam filum Cnidaria dengan anggota terbanyak, mencakup koral, bunga karang (mawar laut), dan anemon laut. Ukuran tubuhnya bervariasi. Semua anggotanya hidup di laut, baik soliter atau berkoloni, dan hidupnya menempel pada substrat. Mereka menghasilkan zat kapur atau kalsium karbonat (CaCO3) yang membentuk terumbu karang.

Tubuh anthozoa berbentuk silinder pendek dan pada salah satu ujungnya terdapat lisan yang dikelilingi tentakel. Hewan ini hanya memiliki bentuk polip, dengan lisan yang terbuka secara tidak langsung, tetapi melalui faring yang menghubungkannya ke dalam rongga gastrovaskuler. Rongga tersebut mempunyai sekat-sekat yang disebut mesentris. Di dalamnya juga terdapat nematosis yang berfungsi mengeluarkan racun untuk melumpuhkan mangsa. Contoh anggota kelas ini adalah Tubifora musica, Acropora sp., Meandrina sp., dan Anthipates sp. Perhatikan Gambar 8.
 Filum ini disebut Cnidaria sebab mempunyai knidosit atau sel Pintar Pelajaran Filum Cnidaria (Coelenterata) : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 8. Acropora sp. (Wikimedia Commons)

Terumbu karang merupakan suatu daerah di dasar laut dengan pemandangan yang sangat indah. Tempat itu merupakan obyek wisata yang sangat menarik, contohnya Taman Laut Bunaken di Sulawesi yang populer sampai ke mancanegara. Di sana hidup berbagai jenis organisme laut yang berwarna-warni dan bermacam jenis dan bentuknya. Tahukah kalian bahwa Cnidaria merupakan kelompok hewan yang berperan besar dalam pembentukan terumbu karang ini? Anggota filum ini, terutama jenis-jenis dari Kelas Anthozoa mempunyai rangka tubuh dari zat kapur yang lama-kelamaan menumpuk dan bertambah besar koloninya membentuk terumbu karang.

Anda kini sudah mengetahui Filum Cnidaria. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Nemathelmintes : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Nemathelmintes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Nemathelminthes berasal dari bahasa Latin nema (benang) dan helminthes (cacing). Cacing ini sering disebut sebagai cacing benang. Hidup sebagai endoparasit pada hewan, tumbuh-tumbuhan, atau hidup bebas di dalam air dan tanah. Tubuhnya bilateral simetris dan mempunyai tiga lapisan sel. Tubuh tertutup lapisan kutikula, sehingga tahan terhadap imbas lingkungan luar. Organ pencernaan makanan lengkap, memanjang dari lisan di ujung anterior sampai anus di ujung posterior. Sistem sarafnya berupa cincin saraf yang mengelilingi esofagus yang dihubungkan 6 serabut ke kepingan anterior dan posterior. (Baca juga : Invertebrata)

Berkembangbiak secara kawin, dan berkelamin terpisah (dioceous). Cacing jantan berukuran lebih kecil daripada cacing betina dan ujung ekor cacing jantan bengkok. Fertilisasi berlangsung secara internal. Tubuh cacing ini tidak memiliki sistem peredaran darah tetapi mempunyai cairan tubuh.

Filum Nemathelminthes dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Kelas Nematoda dan Kelas Nematomorpha. Berikut uraian perihal kedua kelas tersebut.

a. Kelas Nematoda

Nematoda merupakan cacing benang berwarna putih atau putih pucat. Ukuran tubuhnya kecil dan ada yang hanya beberapa milimeter. Tubuhnya dilindungi kutikula, licin atau bergaris-garis sirkuler dengan 4 garis memanjang. Contoh cacing anggota kelas ini ialah Ascaris lumbricoides dan Wuchereria brancofti.

1) Ascaris lumbricoides

Cacing ini sering juga disebut sebagai cacing perut atau cacing gelang. Panjang tubuhnya dapat mencapai 49 cm, hidup parasit di usus halus manusia, menimbulkan penyakit cacingan. Di dalam usus, cacing ini membentuk enzim yang menghambat produksi enzim pencernaan. Untuk melindungi dirinya dari getah pencernaan manusia, permukaan badan cacing tersebut licin dan tertutup lapisan kutikula. Secara morfologi, cacing jantan lebih lebih kecil daripada cacing betina. Perhatikan Gambar 1.
 Nemathelminthes berasal dari bahasa Latin nema  Pintar Pelajaran Filum Nemathelmintes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Cacing gelang (Ascaris lumbricoides) (Wikimedia Commons)
2) Wuchereria brancofti

Cacing ini merupakan penyebab penyakit filariasis atau elephantiasis (kaki gajah). Di dalam badan manusia, cacing tersebut menyumbat pembuluh limfa (getah bening), sehingga mengakibatkan pembengkakan badan terutama pada kaki sehingga membesar. Oleh alasannya ialah itu disebut kaki gajah.

W. brancofti merupakan cacing berukuran kecil dan keras, hidup di dalam pembuluh getah bening (limfa) insan dikala dewasa. Larva cacing ini dapat masuk ke dalam badan insan melalui gigitan nyamuk Culex sp. yang membawa larva mikrofilaria. Di dalam badan manusia, larva tersebut tumbuh pada jaringan tubuh terutama di kepingan kaki dan skrotum. Perhatikan Gambar 2.
 Nemathelminthes berasal dari bahasa Latin nema  Pintar Pelajaran Filum Nemathelmintes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Siklus hidup Wucheria brancofi
b. Kelas Nematophora

Tubuh Nematophora dilapisi kutikula yang polos dan tidak bercincin. Larvanya hidup benalu pada badan insan atau arthropoda, dan sehabis cukup umur cacing tersebut hidup bebas di air tawar dan laut. Contoh cacing yang termasuk anggota kelas ini ialah Gordius sp. dan Nectonema sp.

Anda kini sudah mengetahui Filum Nemathelmintes. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Binatang Invertebrata : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi

Hewan Invertebrata : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi - Invertebrata ialah nama yang dipakai untuk menyebut kelompok binatang yang tidak bertulang belakang. Kata ini berasal dari bahasa Latin in (tanpa) dan vertebrae (tulang belakang). Invertebrata merupakan kelompok binatang yang jumlahnya sangat besar, terdiri dari aneka macam filum, yaitu Porifera, Cnidaria (Coelenterata), Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata. Pada uraian berikut kalian dapat mempelajari ciri masing-masing filum dan pola jenis-jenis binatang yang menjadi anggota filum tersebut. (Baca juga : Kingdom Animalia)

1. Porifera

2. Cnidaria (Coelenterata)

3. Platyhelminthes

4. Nemathelminthes

5. Annelida

6. Mollusca

7. Arthropoda

8. Echinodermata

Anda kini sudah mengetahui Hewan Invertebrata. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur tubuhnya paling sederhana. Kata Platyhelminthes berasal dari bahasa Latin, platy (pipih) dan helminthes (cacing atau vermes), sehingga kelompok ini disebut cacing pipih. Dibandingkan dengan Filum Porifera dan Cnidaria, organisasi badan cacing pipih ini sudah sedikit lebih maju. Platyhelminthes mempunyai badan pipih, lunak, simetri bilateral dan bersifat hermaprodit. Tubuh sanggup dibedakan dengan tegas antara posterior dan anterior, dorsal dan ventral. Bersifat tripoblastik, dinding tubuh terdiri atas 3 lapisan, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. (Baca juga : Hewan Invertebrata)

Sistem pencernaan kuliner gastrovaskuler, tidak mempunyai rongga tubuh. Alat ekskresi berupa sel-sel api dan belum punya alat peredaran darah maupun alat respirasi. Sistem syarafnya disebut sistem syaraf tangga tali, terdiri atas sepasang ganglion (simpul syaraf ) anterior yang dihubungkan oleh satu hingga tiga pasang tali saraf memanjang.

Platyhelminthes atau Cacing pipih tidak bersegmen, merupakan cacing berbentuk simetris bilateral dan tidak mempunyai coelom (acoelomate) tetapi mempunyai tiga lapisan germinal. Beberapa jenis hidup secara bebas dan banyak yang bersifat parasit. Cacing pipih mempunyai sistem saraf cephalized yang terdiri dari ganglion kepala, biasanya menempel pada saraf longitudinal yang saling bekerjasama di seluruh badan dengan cabang yang melintang. Ekskresi dan osmoregulasi pada cacing pipih dikendalikan oleh "sel api" (flame cells) yang terletak di protonephridia (beberapa jenis cacing pipih ada yang tidak mempunyai protonephridia). Cacing pipih tidak mempunyai sistem pernafasan atau peredaran darah, fungsi-fungsi tersebut diganti dengan absorpsi melalui permukaan tubuh. Jenis cacing pipih non-parasit mempunyai badan yang sangat sederhana (tidak mempunyai usus yang lengkap),  bahkan pada spesies parasit, jaringan usus tersebut sangat tidak lengkap. [1]

1. Karakteristik Umum

Kurangnya organ peredaran darah dan pernapasan menciptakan platyhelminthes membatasi ukuran dan bentuknya, sehingga memungkinkan mereka untuk melaksanakan pemasukan oksigen dan pengeluaran karbondioksida pada semua cuilan tubuhnya dengan proses difusi sederhana. Oleh lantaran itu, ukuran cacing ini banyak yang mikroskopis dan spesies yang berukuran besar mempunyai bentuk mirip pita atau daun yang datar. Ususnya mempunyai banyak cabang, sehingga nutrisi sanggup menyebar ke seluruh cuilan badan [2,3]. Respirasi dilakukan melalui seluruh permukaan badan sehingga menciptakan mereka rentan terhadap kehilangan cairan dan alhasil habitat mereka menjadi terbatas. Cacing ini lebih sering hidup pada lingkungan yang lembab, mirip pada sampah daun atau tanah, dan sebagai benalu pada binatang lain. [2,4]

Ruang di antara kulit dan usus berupa mesenkim, yaitu jaringan ikat yang terbuat dari sel dan diperkuat oleh serat kolagen yang berfungsi mirip kerangka. Mesenkim menyediakan tempat penempelan untuk otot. Mesenkim berisi semua organ internal dan juga menjadi tempat terjadinya sirkulasi oksigen, nutrisi dan produk-produk limbah. Mesenkim terdiri dari dua jenis sel utama, yaitu sel tetap, beberapa di antaranya mempunyai vakuola berisi cairan, dan sel-sel punca (stem cells), yang sanggup bermetamorfosis semua jenis sel lain, dan dipakai untuk regenerasi regenerasi sesudah mengalami cedera atau reproduksi aseksual [2,4]

Kebanyakan platyhelminthes tidak mempunyai anus sehingga material yang tercerna dikeluarkan melalui mulut. Namun, beberapa spesies yang berukuran panjang mempunyai anus dan beberapa spesies lainnya mempunyai usus bercabang yang kompleks dengan lebih dari satu anus, lantaran akan menyulitkan bagi beberapa spesies ini jikalau ekskresi juga harus dilakukan melalui mulut. [2,5] Usus dilapisi dengan satu lapisan sel endodermal yang berfungi menyerap dan mencerna makanan. Beberapa spesies memecah dan melembutkan kuliner dengan mensekresi enzim didalam usus atau faring (tenggorokan). [2,4]

Semua binatang perlu menjaga konsentrasi zat terlarut di dalam cairan tubuhnya pada tingkat yang cukup konstan. Parasit internal dan binatang maritim hidup di lingkungan dengan konsentrasi materi terlarut yang tinggi, dan umumnya membiarkan jaringan mereka mempunyai tingkat konsentrasi yang sama dengan lingkungannya, sedangkan binatang air tawar perlu mencegah cairan badan mereka menjadi terlalu encer. Walau ada perbedaan pada lingkungan, sebagian platyhelminthes memakai sistem yang sama untuk mengontrol konsentrasi cairan badan mereka. Mereka memakai “sel api”, disebut demikian lantaran pergerakan flagela mereka tampak mirip nyala lilin yang berkedip-kedip. Sel api mengekstrak air dari mesenkim yang mengandung limbah dan beberapa materi yang sanggup dipakai kembali, kemudian didorong menuju ke jaringan sel-sel tabung yang dilapisi dengan flagela dan mikrovili. Flagela sel tabung yang mendorong air menuju keluar disebut nefridiopora, sementara mikrovili menyerap kembali materi yang sanggup dipakai kembali dan  air sebanyak yang dibutuhkan untuk menjaga cairan badan pada konsentrasi yang tepat. Kombinasi dari sel api dan sel tabung disebut protonefredia. [2,4] [2,6]

Pada semua platyhelminthes, sistem saraf terkonsentrasi di ujung kepala, mirip yang ada pada filum Acoel, yang mempunyai jaring saraf lebih mirip dengan cnidaria dan ctenophores, tapi terkonsentrasi di sekitar kepala. Platyhelminthes lain mempunyai cincin ganglia di kepala dan batang saraf utama yang ada di sepanjang badan mereka. [2,4] [2,5]

2. Sistem Pencernaan

Rongga pencernaan hanya mempunyai satu lubang untuk kedua ingesti (asupan nutrisi) dan egesti (pengeluaran), sebagai akibatnya, kuliner tidak sanggup diproses secara terus menerus. [2]

3. Alat Gerak

Pergerakan pada beberapa cacing pipih dikendalikan oleh lapisan otot longitudinal, melingkar, dan miring.  Sedangkan jenis lainnya bergerak sepanjang jalur lendir dengan gerakan silia epidermal. Perkembangan dari arah gerakan bekerjasama dengan cephalization. Pada beberapa cacing pipih, proses cephalization sudah meliputi perkembangan di wilayah kepala berupa organ peka cahaya yang disebut ocelli. Beberapa organ penginderaan yang ada pada beberapa anggota cacing pipih (tidak selalu di kepala) meliputi kemoreseptor, reseptor keseimbangan (statocysts), dan reseptor yang mencicipi pergerakan air (rheoreceptors). [1]

4. Reproduksi

Kebanyakan cacing pipih sanggup bereproduksi secara seksual atau aseksual, kebanyakan monoecious. Sebagian besar telah menyebarkan cara untuk menghindari fertilisasi sendiri (self-fertilization). Perkembangannya sanggup secara langsung (telur menetas menjadi cacing kecil yang ibarat cacing dewasa) atau tidak langsung (dengan bentuk larva bersilia). [1]

5. Interaksi dengan Manusia

Sebagian besar cacing pipih berupa parasit, beberapa di antaranya memperlihatkan imbas yang sangat jelek bagi populasi manusia. [1]

Lebih dari setengah spesies cacing pipih yang dikenal merupakan parasit, dan beberapa spesies ancaman besar bagi insan dan binatang ternak. Peyekit Schistosomiasis disebabkan oleh satu genus dari trematoda, penyakit ini merupakan nomor 2 paling dahsyat dari semua penyakit insan yang disebabkan oleh benalu (hanya dilampaui oleh malaria). Neurocysticercosis, terjadi ketika larva cacing pita babi Taenia solium menembus sistem saraf pusat, hal ini merupakan penyebab utama terjadinya epilepsi di seluruh dunia. Ancaman benalu platyhelminthes pada insan di negara maju meningkat lantaran pertanian organik. Hal ini disebabkan karena, popularitas kuliner mentah atau yang dimasak sebentar, dan impor kuliner dari tempat yang berisiko tinggi terserang platyhelminthes. Pada negara-negara kurang berkembang, orang sering tidak bisa membayar materi bakar yang dibutuhkan untuk memasak kuliner secara menyeluruh, dan pasokan air serta proyek irigasi yang jelek seiring dengan sanitasi yang jelek dan pertanian tidak bersih meningkatkan ancaman risiko terserang cacing ini. [2]

Dua spesies planaria telah dipakai dengan sukses di Filipina, Indonesia, Hawaii, Papua Nugini, dan Guam untuk mengendalikan populasi dari bekicot Afrika Achatina fulica, yang menggusur populasi siput asli. Namun, kini ada kekhawatiran bahwa planaria ini sendiri kemungkinan menjadi ancaman serius bagi populasi siput orisinil di tempat tesebut. Di barat maritim Eropa, ada kekhawatiran wacana penyebaran cacing planaria Selandia Baru, Arthurdendyus triangulatus, yang memangsa cacing tanah. [2]

6. Kelas dari Filum Platyhelminthes

Berdasarkan bentuk badan dan sifat hidupnya, Platyhelminthes dibagi menjadi tiga kelas yaitu, Kelas Turbellaria, Kelas Trematoda, dan Kelas Cestoda. Berikut klarifikasi untuk masing-masing kelas tersebut.

6.1. Kelas Turbellaria

Sebagian besar anggota Turbellaria hidup bebas, hanya beberapa yang parasit. Bisa ditemui di ekosistem air tawar, air laut, maupun terestrial. Tubuhnya berbentuk mirip daun, tidak bersegmen, pada epidermis terdapat bulu-bulu getar, dan intestinumnya bercabang. Panjang tubuhnya berkisar 6-15 mm dan tidak mempunyai darah.Tubuh berwarna gelap, coklat dan abu-abu bernapas secara difusi pada permukaan seluruh tubuh. Contoh anggota kelas ini ialah Dugesia trigina, yang lebih dikenal dengan nama Planaria (Gambar 1). Cacing planaria hidup bebas di air tawar yang jernih dan mengalir sepanjang tahun, menempel pada watu atau dedaunan yang jatuh.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Dugesia tigrina (Planaria) (jcoll.org)

6.1.1. Karakteristik Umum

Turbellaria terdiri dari sekitar 4.500 spesies, [5,7] sebagian besar hidup bebas, dengan ukuran panjang antara 1 mm (0,039 in) hingga 600 mm (24 in). Sebagian besar ialah predator atau pemakan bangkai. Spesies yang ada di darat sebagian besar aktif di malam hari dan tinggal di lingkungan yang lembab mirip pada sampah daun atau kayu yang membusuk. Beberapa ada yang bersimbiosis dengan binatang lain mirip krustasea, dan beberapa lainnya bersifat parasit. Turbellaria yang hidup bebas, biasanya berwarna hitam, coklat atau abu-abu, tetapi beberapa jenis yang lebih besar berwarna cerah. [2]

Turbellaria tidak mempunyai kutikula (lapisan luar berupa materi organik yang bersifat non-seluler). Pada beberapa spesies kulitnya berupa syncitium (kumpulan sel-sel dengan beberapa inti dan membran eksternal tunggal bersama). Namun, kulit pada sebagian besar spesies ini terdiri dari satu lapisan sel, yang masing-masing pada umumnya mempunyai beberapa silia ("rambut" kecil yang bergerak). Pada beberapa spesies berukuran besar permukaan atas tubuhnya tidak mempunyai silia. Kulit ini juga ditutupi dengan mikrovili yang ada di antara silia. Turbellaria mempunyai banyak kelenjar, biasanya berada di dalam lapisan otot di bawah kulit dan terhubung ke permukaan melalui pori-pori yang merupakan tempat untuk mengeluarkan lendir, perekat, dan zat lainnya. [5,7]

Spesies akuatik berukuran kecil memakai silia untuk bergerak, sementara yang lebih besar memakai gerakan otot dari seluruh badan untuk merayap atau berenang. Beberapa bisa menggali, melekatkan cuilan ujung belakang di bawah liang kemudian meregangkan kepala untuk mengambil kuliner dan kemudian menariknya kembali ke bawah. Beberapa spesies darat mengeluarkan benang dari lendir yang dipakai sebagai tali untuk memanjat dari satu daun ke yang lain. [5,7]

Beberapa Turbellaria mempunyai kerangka spikular, sehingga memperlihatkan bentuk annular (seperti cincin). [5,7]

6.1.2. Pola Makan dan Pencernaan

Convoluta roscoffensis sanggup menelan sel dari Tetraselmis (alga hijau) dan pada ketika cukup umur spesies ini menggunakaan alga tersebut sebagai endosymbiont untuk menyediakan makanan. Pada filum Acoel lainnya, ususnya dilapisi oleh syncitium. Turbellaria mempunyai faring sederhana yang dilapisi silia dan memakai silia untuk menyapu partikel kuliner dan mangsa kecil ke dalam mulutnya. Mulut ini biasanya berada di cuilan tengah bawah dari tubuhnya.

Kebanyakan Turbellaria merupakan karnivora, mereka memangsa invertebrata kecil, protozoa, atau memakan bangkai binatang yang mati. Beberapa spesies memakan binatang yang lebih besar, termasuk tiram dan teritip. Bdelloura, bersimbiosis komensialisme pada insang kepiting tapal kuda. Turbellaria jenis ini biasanya mempunyai faring eversible.[2] Microstomum caudatum merupakan spesies air tawar yang sanggup membuka mulutnya hampir selebar panjang tubuhnya, dan bisa menelan mangsa sebesar tubuhnya. [5,7]

Usus dilapisi oleh sel fagosit yang menangkap partikel kuliner yang sebagian telah dicerna oleh enzim di dalam usus. Pencernaan kemudian diselesaikan di dalam sel fagosit dan nutrisi disebar ke seluruh tubuh.

6.1.3. Sistem Saraf

Pada filum Acoel, setidaknya ada konsentrasi jaringan saraf di tempat kepala, yang mempunyai jaringan saraf lebih mirip dengan cnidaria dan ctenophores, tapi memadat di sekitar kepala. Turbellaria mempunyai otak yang berbeda, meskipun relatif sederhana dalam struktur. Terdapat 1-4 pasang tali saraf dari otak hingga di sepanjang tubuh, dengan banyaknya percabangan syaraf yang lebih kecil. Tidak mirip binatang yang lebih kompleks, mirip Annelida, tidak ada ganglia pada pita saraf, selain yang membentuk otak. [7,8]

Kebanyakan Turbellaria mempunyai ocelli ("mata kecil"), satu pasang di sebagian besar spesies, tapi dua atau bahkan tiga pasang pada beberapa spesies. Beberapa spesies dengan ukuran besar mempunyai banyak mata di cuilan atas otak; pada tentakel, atau di sepanjang tepi tubuh. Ocelli hanya bisa membedakan arah datangnya cahaya, sehingga memungkinkan binatang ini untuk menghindarinya. [7,8]

Beberapa kelompok, terutama catenulida, acoelomorpha dan seriate mempunyai statocysts, (ruangan berisi cairan yang mengandung partikel padat). Statocysts dianggap sebagai sensor keseimbangan dan pergerakan, pada medusae, cnidaria, dan ctenophores, statocysts juga mempunyai fungsi yang sama. Namun, statocysts pada turbellaria tidak mempunyai silia sensorik, dan tidak diketahui bagaimana mereka mencicipi gerakan dan posisi dari partikel padat.

Sebagian besar spesies mempunyai sel sensor sentuhan bersilia yang tersebar di seluruh badan mereka, terutama pada tentakel dan di sekitar tepi tubuh. Sel-sel khusus di dalam lubang atau lekukan pada kepala ini kemungkinan merupakan sensor penciuman. [5,7]

6.1.5. Reproduksi

Kebanyakan Turbellaria berkembang biak dengan mengkloning dirinya, sedangkan pada jenis Acoel, berkembang biak dengan tunas. Planaria genus Dugesia merupakan perwakilan genus yang populer dari kelas Turbellaria. [5,7]

Semua Turbellaria merupakan organisme hermafrodit, mempunyai sel-sel reproduksi jantan dan betina, dan membuahi telurnya secara internal melalui kopulasi. [5,7] Beberapa spesies akuatik yang lebih besar melaksanakan perkawinan dengan p*nis fencing / sabung pen*s, duel di mana setiap individu mencoba untuk menghamili yang lain, individu yang kalah mengadopsi tugas wanita untuk menyebarkan telur. [7,9]

Meskipun pada filum Acoel, gonadnya tidak sanggup dibedakan, pada Turbellaria lainnya ada satu pasang atau lebih testis dan ovarium. Saluran sprma melalui vesikula seminalis, menuju ke otot pen*s. Pada banyak spesies, jauh lebih rumit dengan adanya penambahan kelenjar perhiasan atau struktur yang lain. Pen*s terletak di dalam rongga, dan sanggup berereksi melalui sebuah lubang di cuilan bawah posterior hewan. Pada sebagian besar spesies, sel sprma mempunyai dua ekor. [7,8]

Pada kebanyakan platyhelminthes, ovarium dibagi menjadi dua, salah satu menghasilkan ovum, dan satunya lagi memproduksi sel kuning telur khusus, yang dipakai untuk memelihara perkembangan embrio. Banyak spesies Turbellaria mempunyai sistem reproduksi mirip ini, akan tetapi pada beberapa spesies sepertinya mempunyai sistem reproduksi yang lebih primitif. Ada spesies yang indung telurnya tidak terbagi, dan sel telurnya sudah mengandung kuning telur di dalam sitoplasma mereka sendiri, mirip yang terjadi pada sebagian besar binatang lain. Pada sistem reproduksi lainnya, ovarium mempunyai saluran telur yang menuju ke bursa untuk mendepositkan (menyimpan) sprma. Bursa ialah cuilan dari sistem reproduksi betina dan berfungsi menyimpan sprma dimana perkembangannya sangat bermacam-macam dan kemungkinan mempunyai tempat sekunder atau aksesori. Bursa ini pada gilirannya terhubung ke v*gina yang membuka di depan pen*s. Pada beberapa kasus, ada juga struktur/organ lain yang dipakai untuk penyimpanan sprma selain bursa, atau bahkan rahim untuk penyimpanan telur yang telah matang. [7,8]

Pada sebagian besar spesies "miniatur organisme dewasa" muncul ketika telur menetas, tetapi spesies dengan ukuran yang besar menghasilkan beberapa plankton mirip larva. [5,7]

6.2. Kelas Trematoda

Trematoda merupakan cacing benalu pada vertebrata. Tubuhnya tertutup lapisan-lapisan kutikula. Kelompok ini disebut juga sebagai cacing penghisap, lantaran mempunyai alat penghisap atau sucker.

Trematoda merupakan kelas di dalam filum Platyhelminthes yang terdiri dari tiga kelompok cacing pipih parasit, sering disebut juga sebagai "flukes". Kelompok-kelompok dari cacing benalu tersebut ialah Cestoda, Monogenea dan Trematoda. [10]

6.2.1. Taksonomi dan Biodiversitas

Trematoda atau “flukes” diperkirakan mencapai 18.000 [10,11] hingga 24.000 [10,12] spesies, dan dibagi menjadi dua subkelas. Hampir semua trematoda ialah benalu pada moluska dan vertebrata. Aspidogastrea, yang terdiri dari sekitar 100 spesies, merupakan benalu obligat pada moluska yang juga sanggup menginfeksi kura-kura dan ikan, termasuk ikan bertulang rawan. Digenea, yang merupakan kelompok dengan keanekaragaman dominan pada trematoda, ialah benalu obligat dari moluska dan vertebrata, tetapi Digenea jarang menjadi benalu pada ikan bertulang rawan.

Sebelumnya, Monogenea  termasuk di dalam Trematoda, dengan dasar bahwa cacing ini juga merupakan benalu berbentuk ulat (vermiform), namun studi filogenetik modern telah menimbulkan kelompok menjadi kelas tersendiri di dalam filum Platyhelminthes, bersama dengan Cestoda

Trematoda berbentuk oval dan mempunyai bentuk mirip cacing, biasanya panjangnya tidak lebih dari beberapa sentimeter. Fitur eksternal yang paling khas pada Trematoda ialah adannya dua pengisap, satu erat dengan mulut, dan yang lainnya berada di cuilan bawah. [10,13]

Permukaan badan trematoda terdiri dari syncitial tegument berpengaruh yang membantu melindungi terhadap enzim pencernaan usus hewan. Permukaan syncitial tegument ini berfungsi untuk pertukaran gas (tidak ada organ pernapasan pada Trematoda) [10,13].

Mulutnya terletak di ujung depan, berupa otot yang disokong oleh faring. Faring terhubung melalui esofagus pendek yang disebut caeca. Caeca bercabang pada beberapa spesies. Seperti cacing pipih lainnya, Trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa limbah pencernaan dikeluarkan melalui mulut. [10,13]

Meskipun ekskresi limbah nitrogen sebagian besar terjadi melalui Tegument, Trematoda mempunyai sistem ekskretoris, terutama yang berkaitan dengan osmoregulasi. Sistem eksretoris ini terdiri dari dua atau lebih protonephridia, yang terletak pada setiap lubang di sisi cuilan badan dan menjadi duktus pengumpul (collecting duct). Kedua saluran pengumpul biasanya bertemu di kandung kemih tunggal, membuka ke luar melalui satu atau dua pori-pori  di erat ujung posterior hewan. [10,13]

Otak pada Trematoda terdiri dari sepasang ganglia  yang berada di wilayah kepala. Dari masing-masing ganglia tersebut terdapat dua atau tiga pasang tali saraf yang menjalar ke seluruh cuilan tubuh. Tali saraf yang menjalar di sepanjang permukaan ventral ialah selalu yang terbesar, sedangkan tali saraf punggung / dorsal hanya ada pada Aspidogastrea. Trematoda pada umumnya kekurangan organ penginderaan khusus, meskipun ada beberapa spesies ektoparasit yang mempunyai satu atau dua pasang ocelli sederhana. [10,13]

6.2.2. Sistem Reproduksi

Kebanyakan trematoda merupakan hermafrodit (memiliki organ reproduksi jantan dan betina di dalam satu tubuh). Biasanya mempunyai dua testis, dengan saluran sprma yang bergabung bersama di bawah badan cuilan tengah depan. Sistem ini bervariasi secara struktur di antara spesies, tetapi sistem ini biasanya sudah meliputi kantung penyimpanan sprma dan kelenjar aksesori, sebagai tambahan organ kopulasi, baik yang reversible (disebut sebagai cirrus), atau non-eversible (disebut sebagai pen*s). [10,13]

Biasanya Trematoda hanya mempunyai ovarium tunggal, yang terhubung melalui sepasang saluran menuju ke sejumlah kelenjar vitelline di kedua sisi tubuh, yang menghasilkan sel kuning telur (yolk cell). Telur lepas dari ovarium menuju ke dalam wadah yang disebut ootype atau kelenjar Mehlis (kelenjar di mana pembuahan terjadi). Kelenjar membuka menjadi uterus memanjang yang membuka ke luar, berdekatan dengan organ jantan. Ovarium sering juga dikaitkan dengan kantung penyimpanan sprma dan saluran kopulasi yang disebut kanal Laurer. [10,13]

6.2.3. Siklus Hidup 

Hampir semua trematoda menginfeksi moluska sebagai inang pertama pada siklus hidupnya, dan sebagian besar mempunyai siklus hidup kompleks yang melibatkan jenis inang lainnya. Kebanyakan trematoda merupakan monoeciuos dan bergantian bereproduksi secara seksual dan aseksual, kecuali pada Aspidogastrea yang tidak mempunyai reproduksi aseksual dan Schistosomatidae yang bersifat dioecious (organ reproduksi jantan dan betina terpisah). [10]

Di dalam definitive host (inang, dimana benalu mencapai kematangan dan, jikalau mungkin, bereproduksi secara seksual), di mana reproduksi seksual terjadi, telur biasanya keluar bersamaan dengan feses dari inang. Telur yang dilepaskan di air membentuk larva yang bisa berenang bebas dan bersifat infektif ke intermediate host (inang perantara), di mana reproduksi aseksual terjadi. [10]

Sebuah spesies yang mencontohkan siklus hidup yang luar biasa dari trematoda ialah cacing pada burung, Leucochloridium paradoxum. Berbagai jenis burung hutan bertindak sebagai inang definitive bagi spesies tersebut, sementara aneka macam jenis siput merupakan  inang tempat benalu tumbuh (intermediate host). Parasit cukup umur di dalam usus burung memproduksi telur dan pada akhirnya telur tersebut akan berakhir di tanah keluar bersamaan dengan feses burung. Beberapa telur ditelan oleh siput dan di dalam siput mereka menetas menjadi larva kecil transparan (mirasidium). Larva ini tumbuh dan mempunyai bentuk mirip kantung. Tahap ini dikenal sebagai sporocyst, sporocyst ini kemudian akan membentuk badan sentral  pada kelenjar pencernaan siput yang membentang menjadi kantung perindukan di kepala , otot kaki dan tangkai mata siput. Parasit bereplikasi sendiri pada cuilan badan pusat sporocyst, menghasilkan banyak embrio kecil (redia). Embrio ini akan pindah menuju ke kantung perindukan dan berkembang   cukup umur menjadi cercaria. [10]

6.2.4. Infeksi

Infeksi pada insan kerap terjadi di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Namun, Trematoda sanggup ditemukan pada semua tempat dimana limbah / kotoran insan dipakai sebagai pupuk. Schistosomasis (dikenal juga dengan bilharzia, bilharziosis atau demam siput) merupakan salah satu teladan penyakit parasitik yang disebabkan oleh salah satu spesies Trematoda, sebuah spesies cacing benalu dari genus Schistosoma. [10]

6.2.5. SubKelas dari Kelas Trematoda

6.2.5.1. Digenea

Digenea mempunyai sekitar 11.000 spesies lebih banyak dari semua adonan spesies platyhelminthes lainnya. Digenea dewasa, biasanya mempunyai dua holdfasts, sebuah cincin di sekitar ekspresi dan pengisap di cuilan tengah bawah yang berukuran lebih besar.[2,3] Meskipun nama "Digeneans" berarti "dua generasi", sebagian besar mempunyai siklus hidup yang sangat kompleks hingga mencapai tujuh tahap (tergantung pada kondisi lingkungan yang ditemui pada tahap awal), yang paling penting adalah, apakah telur disimpan di darat atau di air. Tahap peralihan mentransfer benalu dari satu inang ke inang yang lain. Definitive host, yang merupakan tempat perkembangan menuju organisme cukup umur berupa vertebrata darat, inang pertama pada tahap remaja biasanya siput yang sanggup hidup di darat atau di air, dan pada banyak kasus ikan atau arthropoda ialah inang kedua. [2,5]

Sebuah ilustrasi yang memperlihatkan siklus hidup dari intestinal fluke (cacing yang hidup di usus), Metagonimus. Cacing ini menetas di dalam usus siput, berpindah ke ikan, di mana ia menembus badan dan encyst (membentuk kantong perindukan) pada daging; kemudian bergerak ke usus kecil binatang darat yang memakan ikan mentah; dan kemudian menghasilkan telur yang dikeluarkan melalui feses dan kemudian dicerna kembali oleh siput. Schistosomes, yang merupakan penyebab penyakit tropis, bilharzia, termasuk di dalam kelompok ini [2,14].

Cacing cukup umur mempunyai panjang antara 0,2 mm (0,0079 in) dan 6 mm (0.24 in). Stu individu Digenea cukup umur individu hanya mempunyai satu alat reproduksi (jantan / betina), dan pada beberapa spesies, betina hidup pada celah tertutup yang berada di sepanjang badan organisme jantan, dan secara periodik keluar untuk bertelur. Pada semua spesies, organisme cukup umur mempunyai sistem reproduksi yang kompleks dan sanggup menghasilkan antara 10.000-100.000 kali lebih banyak telur sebagai cacing pipih yang hidup bebas. Selain itu, pada tahap peralihan mereka hidup di dalam siput dan bereproduksi secara aseksual. [2,5]

Spesies cukup umur dari spesies yang berbeda menempati cuilan / tempat yang berbeda pada inang definitive, contohnya usus, paru-paru, pembuluh darah besar, [2,3] dan hati [2,5]. Organisme cukup umur memakai faring berotot berukuran relatif besar untuk menelan sel, fragmen sel, lendir, cairan badan atau darah. Pada organisme cukup umur dan organisme yang hidup di siput, syncytium eksternalnya bisa menyerap nutrisi terlarut dari inangnya. Digenea cukup umur sanggup hidup tanpa oksigen untuk waktu yang lama. [2,5]

6.2.5.2. Aspidogastrea

Anggota dari kelompok kecil ini mempunyai sebuah pengisap tunggal atau gugusan pengisap yang berada cuilan bawah tubuh. [1,5] Mereka menginfeksi usus ikan bertulang belakang, ikan bertulang rawan, kura-kura, dan rongga badan bivalvia dan gastropoda (baik air maritim maupun air tawar). [2,3] Telur mereka menghasilkan larva bersilia yang bisa berenang, dan pada siklus hidupnya mempunyai satu atau dua inang. [2,5]

6.2.6. Contoh Spesies Kelas Trematoda

Contoh anggota kelas ini ialah cacing hati (Fasciola hepatica) dan Clonorchis sinensis. Untuk lebih memahami kedua spesies tersebut cermati uraian berikut.

1) Fasciola hepatica

Cacing ini hidup sebagai benalu di dalam hati insan dan hewan ternak mirip sapi, babi, dan kerbau. Tubuhnya mencapai panjang 2-5 cm, dilengkapi alat penghisap yang letaknya mengelilingi mulut dan di erat perut (Gambar 2). Cacing hati berkembangbiak secara seksual dengan pembuahan silang atau pembuahan sendiri (hermaprodit).
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Cacing hati (Fasciola hepatica) (Wikimedia Commons)
Fasciola hepatica mempunyai siklus hidup mulai dari dalam tubuh inangnya, ketika keluar dari badan inang, sampai kemudian masuk kembali sebagai benalu di badan inang yang baru. Perhatikan Gambar 3. Di dalam badan inangnya, cacing dewasa memproduksi sprma dan ovum kemudian melakukan pembuahan. Telur yang telah dibuahi kemudian keluar dari tubuh inang bersama feses (kotoran). Bila jatuh di tempat yang sesuai, telur ini akan menetas dan menjadi mirasidium (larva bersilia). Mirasidium kemudian berenang di perairan selama 8-20 jam. Bila menemukan siput air (Lymnaea javanica), mirasidium akan masuk ke badan siput tersebut, tetapi bila tidak bertemu siput air mirasidum akan mati. Di dalam badan siput, mirasidium kemudian tumbuh menjadi sporoskista. Sporokista kemudian berpartenogenesis menjadi redia dan kemudian menjadi serkaria.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Siklus hidup cacing Fasciola hepatica
Serkaria membentuk ekor dan keluar menembus badan siput, kemudian berenang beberapa usang sehingga melepaskan ekornya di rumput dan flora air untuk menjadi metaserkaria. Metaserkaria kemudian membungkus diri dengan kista (cyste) sehingga sanggup bertahan pada rumput atau flora lain, menunggu tergoda oleh hewan. Ketika kista ikut termakan bersama tumbuhan, kista akan menembus dinding usus lalu masuk ke hati, kemudian berkembang hingga cukup umur dan bertelur kembali mengulang siklus yang sama.

2) Clonorchis sinensis

Cacing ini hidup di dalam hati dan saluran empedu manusia, anjing, atau kucing. Siklus hidupnya mirip dengan cacing hati. Inang perantaranya ialah siput, ikan, atau udang. Siklus hidup Chlonorchis sinensis dijelaskan dengan Gambar 4.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Siklus hidup Chlonorchis sinensis
6.3. Kelas Cestoda

Cacing ini mempunyai bentuk badan pipih panjang menyerupai pita sehingga disebut juga sebagai cacing pita. Tubuhnya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu skoleks (kepala) dan strobilus. Setiap strobilus terdiri atas rangkaian segmen-segmen yang disebut proglotid. Proglotid dibuat melalui pembelahan tranversal di daerah leher, dan masing-masing berisi kelengkapan kelamin jantan dan betina, sehingga setiap proglotid sanggup dipandang sebagai satu individu. Cacing ini hidup sebagai benalu pada babi atau sapi.

Cestoda (Cestoidea) ialah nama yang diberikan untuk kelas cacing pipih benalu dari filum Platyhelminthes, dan biasa disebut cacing pita. Anggota dari Cestoda cukup umur hidup di dalam saluran pencernaan vertebrata, dan pada ketika juveni sering berada di dalam badan aneka macam hewan. Lebih dari seribu spesies Cestoda telah dideskripsikan, dan semua spesies vertebrata sanggup dijadikan inang oleh setidaknya satu spesies cacing pita. Beberapa spesies benalu pada manusia, lantaran mengkonsumsi daging yang tidak diamasak dengan baik mirip daging babi (Taenia solium), daging sapi (T. saginata), dan ikan (Diphyllobothrium spp.), atau bisa juga mengkonsumsi kuliner yang disiapkan dalam kondisi kebersihan yang jelek (Hymenolepis spp. ; Echinococcus spp. ).

T. saginata, cacing pita dari sapi, sanggup tumbuh hingga 20 m (65 kaki), spesies terbesar, cacing pita paus, Polygonoporus giganticus, sanggup tumbuh hingga 30 m (100 ft) [15, 16, 17].

Cacing pita benalu pada vertebrata mempunyai sejarah panjang: fosil dari telur Cestoda, salah satu telurnya mempunyai larva yang berkembang, telah ditemukan dalam fosil kotoran (coprolita) dari hiu pada periode pertengahan hingga final Permian, sekitar 270 juta tahun [15, 18].

Kingdom : Animalia

Filum : Platyhelminthes

Kelas : Cestoda

Subkelas :

Cestodaria
Eucestoda

Ordo dari Cestodaria :

Amphilinidea
Gyrocotylidea

Ordo dari Eucestoda

Aporidea
Caryophyllidea
Cyclophyllidea
Diphyllidea
Lecanicephalidea
Litobothridea
Nippotaeniidea
Proteocephalidea
Pseudophyllidea
Spathebothriidea
Tetraphyllidea
Trypanorhyncha

6.3.1. Anatomi

a. Scolex 

Scolex cacing ("kepala") menempel ke usus inang definitive (inang tetap). Pada beberapa spesies, scolex ini didominasi oleh bothria (tentakel) yang berfungsi sebagai penghisap. Spesies lain mempunyai kait dan pengisap yang membantu untuk menempel. Cestoda Cyclophyllid sanggup diidentifikasi oleh adanya empat pengisap pada scolex mereka [15, 19]. scolex ini berasal dari sel-sel yang berasal dari cuilan posterior.

Scolex merupakan cuilan yang paling khas dari cacing pita dewasa, seringkali hal ini tidak disadari pada investigasi klinik lantaran cuilan ini berada di dalam badan pasien. Dengan demikian, mengidentifikasi telur dan proglottids dalam kotoran pasien merupakan hal yang penting untuk mengetahui abses cacing ini.

b. Sistem Saraf dan Tubuh

Pusat saraf utama Cestoda ialah sebuah ganglion otak di dalam scolex. Saraf motorik dan sensorik tergantung pada jumlah dan kompleksitas dari scolex tersebut. Saraf yang lebih kecil berasal dari Commissures (istilah) yang berfungsi memasok otot badan dan merupakan ujung saraf sensorik. Bagian cirrus (istilah) dan v*gina mempunyai saraf, dan mempunyai ujung sensorik di sekitar pori genital yang lebih banyak dibandingkan tempat lain. Fungsi sensorik meliputi tactoreception dan chemoreception . Beberapa saraf hanya bersifat sementara.

c. Proglottid 

Tubuh Cestoda terdiri dari segmen yang berurutan (proglottids). Jumlah dari proglottid disebut Strobila (tipis dan ibarat sepotong pita). Seperti pada beberapa cacing pipih lainnya, Cestoda memakai sel api (protonephridia), yang terletak di proglottid, untuk ekskresi. Proglottid matang dilepaskan dari ujung posterior cacing pita dan keluar bersamaan dengan feses inangnya.

Oleh lantaran setiap proglottid berisi organ reproduksi jantan dan betian, mereka bisa bereproduksi secara mandiri. Beberapa jago biologi telah menyatakan bahwa, tiap-tiap proglottods tidak harus dianggap sebagai organisme tunggal, dan bahwa cacing pita bekerjsama merupakan koloni dari proglottids.

Tata letak proglottid terdiri dari dua bentuk, craspedota (proglottid yang tumpang tindih oleh proglottid sebelumnya, dan acraspedote (proglottid yang tidak tumpang tindih). [15, 20]

Setelah menempel pada dinding usus inang, cacing pita menyerap nutrisi melalui dinding usudari kuliner yang dicerna oleh inangnya dan mulai menumbuhkan ekor yang panjang, dimana setiap segmen mengandung sistem pencernaan independen dan saluran reproduksi. Segmen yang berusia bau tanah didorong ke arah ujung ekor dimana segmen gres diproduksi oleh segmen tersebut. Pada ketika segmen telah mencapai ujung ekor, hanya saluran reproduksi yang tersisa. Kemudian keluar bersama feses dengan membawa telur cacing pita ke inang berikutnya, lantaran pada ketika itu, proglottid  pada dasarnya ialah sebuah kantung telur. [15, 21]

d. Reproduksi

Cacing pita sejati merupakan organisme hermafrodit, mereka mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina di dalam badan mereka. Sistem reproduksi meliputi satu atau banyak testis, cirrus, vas deferens and vesikula seminalis sebagai organ jantan. Sedangkan ovarium mempunyai saluran telur dan rahim yang saling bekerjasama berfungsi sebagai organ jantan. Ada bukaan / lubang eksternal yang secara umum dipakai untuk sistem reproduksi jantan dan betina, yang dikenal sebagai pori genital. Pori genital terletak pada bukaan permukaan atrium berbentuk cangkir [15, 22] [15, 23]. Meskipun secara seksual merka ialah hermafrodit, pembuahan sendiri merupakan fenomena langka. Fertilisasi silang antara dua individu merupakan hal yang sering dilakukan untuk bereproduksi, hal ini dilakukan biar sanggup terjadi hibridisasi. Selama kopulasi, cirrus dari satu individu terhubung dengan individu lain melalui pori genital, dan kemudian terjadi pertukaran sprmatozoa.

e. Siklus Hidup

Siklus hidup cacing pita sangat sederhana, dalam artian bahwa tidak ada fase aseksual mirip pada cacing pipih lainnya. Akan tetapi mempunyai kerumitan tersendiri dimana setidaknya diharapkan satu inang mediator dan satu inang tetap (definitive host). Pola siklus hidup ini telah menjadi kriteria penting untuk mengetahui evolusi pada Platyhelminthes. [15, 24] Banyak cacing pita mempunyai dua tahap siklus hidup dengan dua jenis inang. Cacing Taenia saginata cukup umur hidup di dalam usus primata mirip manusia, tetapi yang ebih mengkhawatirkan ialah Taenia solium, lantaran  dapat membentuk kista dalam otak manusia. Proglottid meninggalkan badan melalui anus dan jatuh ke tanah, di mana mereka sanggup masuk bersamaan rumput yang dimakan oleh binatang mirip sapi. Sapi dan binatang lain yang memakan proglottids  ini dikenal sebagai inang perantara. Juvenil bermigrasi dan menetap sebagai kista di antara jaringan badan inang mirip otot. Mereka menimbulkan kerusakan lebih parah pada inang mediator dibandingkan pada inang tetap. Parasit melengkapi siklus hidupnya ketika inang mediator memperlihatkan benalu ke inang tetap. Hal ini biasanya terjadi karena, inang tetap memakan inang mediator yang terinfeksi. Misalnya mirip insan yang lebih cenderung menyukai makan daging setengah mentah. [15, 25]

f. Contoh Spesies Kelas Cestoda

Contoh anggota kelas ini ialah Taenia solium dan Taenia saginata. Berikut uraian kedua jenis cacing tersebut.

1) Cacing pita babi (Taenia solium)

Cacing pita ini hidup pada saluran pencernaan babi dan bisa menular ke manusia. Panjang tubuhnya mencapai 3 m. Pada bagian kepala atau skoleks terdapat empat buah sucker dan kumpulan alat kait atau rostelum. Di sebelah belakang skoleks terdapat leher atau tempat perpanjangan (strobillus). Dari tempat inilah proglotid terbentuk melalui pembelahan transversal. Dalam kondisi yang optimal panjang badan cacing pita babi sanggup mencapai 2,5-3 m dengan jumlah proglotid mencapai 1.000 buah. Cacing ini memiliki siklus hidup mirip pada Gambar 5.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 5. Siklus hidup Taenia solium
2) Cacing pita sapi (Taenia saginata)

Taenia saginata tidak mempunyai rostelum (kait) pada skoleknya, dan secara umum tubuhnya mirip dengan T. solium. Cacing cukup umur hidup sebagai benalu dalam usus manusia, masuk ke dalam badan insan melalui sapi sebagai hospes intermediet. Cacing ini tidak begitu berbahaya dibandingkan T. solium. Namun demikian cacing ini tetap merugikan, karena menghambat absorpsi kuliner dalam tubuh manusia.
 Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang struktur Pintar Pelajaran Filum Platyhelminthes : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 6.Siklus hidup Taenia saginata
Siklus hidup cacing ini dimulai dari terlepasnya proglotid bau tanah bersama feses manusia (Gambar 6). Di dalam setiap proglotid terdapat ribuan telur yang telah dibuahi (zigot). Zigot tersebut kemudian berkembang menjadi larva onkosfer di dalam kulit telur. Jika telur tersebut tergoda sapi, larva onkosfer akan menembus usus masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limfa dan akhirnya sampai di otot lurik. Di dalam otot sapi, larva onkosfer berubah menjadi kista dan berkembang menjadi cacing gelembung atau sisteserkus yang membentuk skoleks pada dindingnya. Ketika daging sapi tersebut dimakan insan (kemungkinan sisteserkus masih hidup), di dalam usus insan skoleks tersebut akan keluar lantas menempel pada dinding usus, kemudian tumbuh cukup umur dan membentuk proglotidproglotid baru. Kemudian siklus hidupnya terulang kembali.

6.4. Kelas Monogenea

6.4.1. Ciri-ciri Kelas Monogenea

Monogenea merupakan cacing pipih benalu yang berukuran sangat kecil, cacing ini ditemukan terutama pada kulit atau insang ikan. Cacing ini jarang mempunyai ukuran lebih dari 2 cm. Beberapa spesies yang menginfeksi ikan maritim tertentu berukuran lebih besar dan cacing yang hidup di maritim pada umumnya lebih besar daripada yang ditemukan pada inang air tawar. Monogenean kurang dalam sistem pernapasan, tulang dan peredaran darah dan tidak mempunyai penghisap 0ral (kurang begitu berkembang). [26, 27] Monogenea menempel pada inang memakai kait, penjepit dan aneka macam struktur khusus lainnya. Mereka secara dramatis bisa memanjang dan memperpendek ketika bergerak. Ahli biologi perlu memastikan bahwa spesimen ini benar-benar dalam kondisi relaks sebelum pengukuran dilakukan. [26, 28]

Seperti semua ektoparasit, Monogenea mempunyai struktur untuk menempel yang berkembang dengan baik. Struktur anterior secara kolektif disebut prohaptor, sedangkan yang posterior secara kolektif disebut opisthaptor. Bagian posterior opishaptor denga bentuk mirip  kait, jangkar, penjepit, dll biasanya merupakan organ penempelan utama.

Seperti cacing pipih lainnya, Monogenea tidak mempunyai rongga badan sejati (coelom). Mereka mempunyai sistem pencernaan sederhana yang terdiri dari bukaan ekspresi dengan faring berotot dan usus tanpa bukaan final (anus). Umumnya, mereka juga bersifat hermafrodit dengan organ reproduksi fungsional dari kedua jenis kelamin yang ada pada satu individu. Kebanyakan spesies bertelur (ovipar) tetapi beberapa diantaranya beranak (vivipar). Monogenea merupakan Platyhelminthes, oleh lantaran itu Monogenea ialah salah satu invertebrata terendah yang mempunyai tiga lapisan kulit embrionik; endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Selain itu, mereka mempunyai kepala yang berisi organ-organ penginderaan dan jaringan saraf (otak).

6.4.2. Sistematika Dan Evolusi

Nenek moyang Monogenea kemungkinan ialah cacing pipih yang hidup bebas, yang mirip dengan Turbellaria modern. Menurut pandangan yang lebih diterima secara luas, "rhabdocoel Turbellaria memunculkan Monogenea, hal ini, pada gilirannya, memunculkan Digenea yang merupakan asal munculnya Cestoda. Pandangan lainnya ialah bahwa, nenek moyang rhabdocoel memunculkan dua jalur; satu memunculkan Monogenea yang memunculkan Digenea, dan jalur lain memunculkan Cestoda "[26, 27].

Monogenea mempunyai sekitar 50 famili dan ribuan spesies yang telah dideskripsikan.

Beberapa jago benalu (parasitologi) membagi Monogenea menjadi dua (atau tiga) subkelas menurut kompleksitas haptor mereka: Monopisthocotylea mempunyai satu cuilan utama pada haptor, sering berupa kait atau cakram yang besar; sedangkan Polyopisthocotylea mempunyai beberapa cuilan pada haptor, biasanya berupa penjepit. Kelompok ini juga dikenal sebagai Polyonchoinea dan Heteronchoinea. Polyopisthocotyleans hampir secara pribadi merupakan penghisap darah yang tinggal di insang, sedangkan Monopisthocotyleans sanggup hidup pada insang, kulit dan sirip.

Monopisthocotylea :
  1. Genus Gyrodactylus, tidak mempunyai titik mata dan bersifat vivipar (beranak).
  2. Genus Dactylogyrus, mempunyai empat titik mata dan bersifat ovipar. Genus ini merupakan genera metazoa yang paling banyak, dimana setidaknya mempunyai 970 species.
  3. Genus Neobenedenia, berukuran lebih besar dan hidup pada kulit spesies maritim tropis, menimbulkan abses  yang parah pada budidaya binatang laut.
Semua genus diatas sanggup menimbulkan epizootik (penyakit yang muncul sebagai kasus gres pada populasi binatang tertentu, selama periode tertentu) pada budidaya ikan air.

Polyopisthocotylea :
  1. Genus Diclidophora, kebanyakan ditemukan pada ikan maritim dan ikan air tawar primitif mirip ikan sturgeon dan paddlefish. 
  2. Genus Protopolystoma, ditemukan pada katak bercakar (spesies Xenopus species).
6.4.3. Ekologi Dan Siklus Hidup

Monogenea mempunyai siklus hidup yang paling sederhana di antara Platyhelminthes yang bersifat parasit. Mereka tidak mempunyai inang mediator dan bersifat ektoparasit pada ikan (kadang-kadang ada di kandung kemih dan rektum vertebrata berdarah dingin). Meskipun mereka hermafrodit, sistem reproduksi jantan berfungsi terlebih dahulu sebelum cuilan reproduksi betina. Telur yang menetas melepaskan larva yang sangat bersilia dikenal sebagai oncomiracidium. Oncomiracidium ini mempunyai banyak kait posterior dan umumnya merupakan tahap kehidupan yang bertanggung jawab untuk transmisi dari inang ke inang.

Tidak ada monogenean yang diketahui menginfeksi burung, tapi ada satu spesies (Oculotrema hippopotami) yang menginfeksi mamalia, yaitu menjadi benalu pada mata kuda nil.

Sejauh yang diketahui, tidak ada Monogenea yang menginfeksi burung, tetapi ada satu spesies yang menginfeksi mamalia, spesies ini merupakan benalu pada mata kuda nil.

Penyakit Cacing Lintah Pertama di Indonesia

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kalimantan Selatan pada pertengahan tahun 2000 dan bersifat endemik. Penyebabnya adalah Fasciolopsis buski, jenis cacing yang mampu menghasilkan jutaan telur yang sangat kecil dan telur-telur tersebut hanya ditemukan pada umbi teratai. Umbi tersebut sangat digemari oleh warga, terutama belum dewasa yang sering memakannya tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga mempercepat penyebaran penyakit ini. Cacing tersebut juga menyebar melalui tinja manusia dengan bekicot sebagai binatang mediator nya. Meskipun tidak mematikan, penyakit ini ditangani serius oleh pemerintah karena menimbul kan dampak yang sangat gawat, yaitu memperlambat partumbuhan dan menurun kan tingkat kecerdasan. (www.jawapos.co.id)

Anda kini sudah mengetahui Filum Platyhelminthes. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Referensi Lainnya :

[1] http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Platyhelminthes/

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Flatworm

[3] Walker, J.C., and Anderson, D.T. 2001. The Platyhelminthes. In Anderson, D.T.,. Invertebrate Zoology. Oxford University Press. pp. 58–80. ISBN 0-19-551368-1.

[4] Barnes, R.S.K. 1998. The Diversity of Living Organisms. Blackwell Publishing. pp. 194–195. ISBN 0-632-04917-0.

[5] Ruppert, E.E., Fox, R.S., and Barnes, R.D. 2004. Invertebrate Zoology (7 ed.). Brooks / Cole. pp. 226–269. ISBN 0-03-025982-7.

[6] Ruppert, E.E., Fox, R.S., and Barnes, R.D. 2004. Invertebrate Zoology (7 ed.). Brooks / Cole. pp. 196–224. ISBN 0-03-025982-7.

[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Turbellaria

[8] Barnes, Robert D. 1982. Invertebrate Zoology. Philadelphia, PA: Holt-Saunders International. pp. 201–230. ISBN 0-03-056747-5.

[9]  Leslie Newman. "Fighting to mate: flatworm p*nis fencing". Diakses 18-05-2013.

 [10] http://en.wikipedia.org/wiki/Trematoda

[11] Littlewood, D T J; R. A. Bray (7 December 2000). "The Digenea". Interrelationships of the Platyhelminthes. Systematics Association Special Volume 60 (1 ed.). CRC. pp. 168–185. ISBN 978-0-7484-0903-7.

[12] Poulin, Robert; Serge Morand (7 January 2005). Parasite Biodiversity. Smithsonian. p. 216. ISBN 978-1-58834-170-9.

[13] Barnes, Robert D. 1982. Invertebrate Zoology. Philadelphia, PA: Holt-Saunders International. pp. 230–235. ISBN 0-03-056747-5.

[14] The Carter Center. "Schistosomiasis Control Program". Diakses 15-05-2013.

[15] http://en.wikipedia.org/wiki/Cestoda

[16]  "The Persistent Parasites". Time Magazine (Time Inc). 1957-04-08.

[17] Hargis, William J. (1985). "Parasitology and pathology of marine organisms of the world ocean". NOAA Tech. Rep. (National Oceanic and Atmospheric Administration).

[18] "Marvistavet.com

[22] Cheng TC (1986). General Parasitology (2nd edn). Academic Press, Division of Hardcourt Brace & Company, USA, pp. 402-416. ISBN 0-12-170755-5.

[23] McDougald LR (2003). Cestodes and trematodes. In: Diseases of Poultry, 11th edn (YM Saif, HJ Barnes, AM Fadly, JR Glisson, LR McDougald & DE Swayne, eds). Iowa State Press, USA, pp. 396-404. ISBN 0-8138-0718-2.

[24] Llewellyn J (1987). "Phylogenetic inference from platyhelminth life-cycle stages". Int J Parasitol. 17 (1): 281–89. doi: 10.1016/0020-7519(87)90051-8

[25] "Tapeworm infection". Mayo Clinic. Diakses 20-12-2012.

[26] http://en.wikipedia.org/wiki/Monogenea

[27] flatworm :: Annotated classification - Britannica Online Encyclopedia

[28] Roberts, S. Larry & John Janovy, Jr. Foundations of Parasitology.

Pintar Pelajaran Filum Porifera : Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh

Filum Porifera : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh - Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus (lubang kecil) dan ferre (membawa). Makara Porifera berarti binatang yang mempunyai tubuh berpori, dikenal juga sebagai binatang sponge atau spons. Porifera ini hidup menetap (sessil) pada dasar perairan. Sebagian besar binatang ini hidup di maritim dan sebagian kecil yang hidup di air tawar. Bentuk tubuhnya beraneka ragam, mirip tumbuhan, warnanya juga sangat bervariasi dan sanggup berubah-ubah. (Baca juga : Hewan Invertebrata)

Porifera mempunyai beberapa karakteristik. Tubuhnya bersel banyak, simetri radial, atau asimetris. Sel-sel tersebut menyusun badan Porifera dalam dalam 2 lapis (dipoblastik), membentuk jaringan yang belum sempurna dan di antaranya terdapat gelatin yang disebut mesenkim. Tubuhnya mempunyai banyak pori, saluran-saluran, dan rongga sebagai tempat air mengalir. Sebagian atau seluruh permukaan dalam tubuhnya tersusun dari sel-sel yang berleher yang berflagelum, disebut koanosit.

Porifera melaksanakan pencernaan kuliner di dalam sel atau secara intrasel. Umumnya Porifera mempunyai rangka dalam. Hewan berkembangbiak secara kawin dan tak kawin. Secara kawin dilakukan dengan sel telur dan sel spermatozoid. Larvanya berbulu getar dan dapat berenang. Sedangkan secara tidak kawin dengan bertunas.
 Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus  Pintar Pelajaran Filum Porifera : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 1. Tipe saluran air pada Porifera
Berdasarkan tingkat kompleksitasnya, sistem saluran air pada Porifera dibedakan menjadi tiga, yaitu tipe askon, tipe sikon, dan tipe leukon (rhagon). Perhatikan Gambar 1. Tipe askon merupakan tipe saluran air paling sederhana. Saluran air dimulai dari ostia yang dihubungkan eksklusif oleh saluran ke spongocoel. Dari spongocoel air keluar melalui oskulum. Tipe sikon merupakan tipe saluran air yang terdiri atas dua saluran yaitu inkruen dan radial. Air masuk melalui ostia menuju ke saluran inkruen. Melalui porosit, air dari saluran in kruen menuju ke saluran radial, terus ke spongocoel dan akhirnya keluar melalui oskulum. Sedangkan tipe leucon (rhagon), merupakan tipe saluran air yang paling kompleks. Air dari ostium masuk melalui saluran menuju ke rongga-rongga yang dibatasi oleh koanosit. Dari rongga ini air melalui saluran-saluran lagi menuju ke spongocoel dan akhirnya keluar melalui oskulum.

Porifera banyak menghasilkan spikula yang dihasilkan oleh scleroblast (bagian dari gelatin mesenkim). Hasil sekresi yang berupa silika (zat kersik) atau karbonat (zat kapur) ini mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berbentuk monakson, tetrakson, poliakson, heksakson, atau benang-benang spongin. Spikula merupakan struktur badan yang berperan penting untuk membedakan jenis-jenis Porifera. Bentuk dan kandungan spikula ini dipakai sebagai dasar pembagian terstruktur mengenai Porifera. Berdasarkan sifat spikulanya, Filum Porifera dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Kelas Calcarea, Hexatinellida, dan Demospongia. Berikut penjelasannya:

1. Kelas Calcarea

Anggota kelas ini mempunyai rangka yang tersusun dari zat kapur (kalsium karbonat) dengan tipe monoakson, triakson, atau tetrakson. Koanositnya besar dan biasa hidup di lautan dangkal. Tipe saluran airnya bermacam-macam. Hidup soliter atau berkoloni.

Mereka mempunyai ciri khusus berupa spikula yang terbuat dari kalsium karbonat dalam bentuk kalsit atau aragonit. Beberapa spesies mempunyai tiga ujung spikula, sedangkan pada beberapa spesies lainnya mempunyai 2 atau empat spikula. [1]

Sponge Calcarea pertama kali muncul pada masa Cambrian dan mempunyai keanekaragaman paling tinggi pada periode Cretaceous. Analisis molekuler terbaru memperlihatkan bahwa, kelas Calcarea seharusnya dimasukkan sebagai filum, khususnya untuk kelas calcacea yang pertama kali menyimpang dari kingdom Animalia. Jenis sponge lainnya termasuk dalam filum Silicarea. [1]

1.1. Diversitas (Keanekaragaman) Calcarea

Ada sekitar 400 spesies sponge pada kelas Calcarea. [2]

1.2. Daerah Persebaran Calcarea

Sponge Calcarea sanggup ditemukan di seluruh tempat lautan, khususnya pada tempat maritim yang mempunyai suhu yang hangat. [2]

1.3. Habitat Calcarea

Habitat sponge Calcarea sebagian besar pada maritim yang bersuhu hangat, sponge Calcarea biasanya ditemukan di perairan dangkal yang terlindung dan mempunyai kedalaman kurang dari 1000 m. Pada tempat tropis calcarea berasosisasi dengan terumbu karang. [2]

1.4. Reproduksi Calcarea

Kebanyakan sponge bereproduksi secara aseksual dengan regenerasi jaringan. Sponge juga sanggup bereproduksi secara seksual dengan menjadi hermaprodit, sprma dan telur sanggup direproduksi secara berurutan atau pada waktu yang sama. Sel sprma dan telur dilepaskan di dalam air dan dibuahi antar spesies. Telur yang dibuahi akan berkembang menjadi larva yang berenang bebas. [2, 3]

1.5. Perkembangan Calcarea

Sponge ini mempunyai sel amoeboid yang berbeda di dalam mesohil (lapisan gelatin  yang tersusun atas sel-sel amoebosit yang sanggup bergerak mengambil kuliner dari sel koanosit dan mendistribusikannya ke seluruh bagiann badan porifera.). Di dalam mesohil, sponge mempunyai bentuk sel sepeti amoeba yang berbeda-beda. Acheochytes yaitu sel berukuran besar dengan ukuran inti sel yang besar. Sel-sel ini bersifat totipoten, yang artinya sel ini sanggup berkembang menjadi banyak sekali macam jenis sel. Sklerosit, bisa mengakumulasi kalsium di dalam mesohil untuk memproduksi spikula, tiga sklerosit akan melebur menjadi satu untuk membentuk spikula pada ruang antar sel. [3, 4]. Sklerosit adalah sel khusus yang mensekresi struktur termineralisasi pada dinding badan beberapa invertebrata. Pada sponge, sklerosit mensekresikan spikula kalkareus atau silikeus yang terdapat pada lapisan mesohil. [35]

Contoh jenis yang menjadi anggota kelas ini yaitu Leucosolenia sp., Scypha sp., Cerantia sp., dan Sycon gelatinosum. Perhatikan Gambar 2.
 Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus  Pintar Pelajaran Filum Porifera : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 2. Sycon gelatinosum (museum.wa.gov.au)
1.6. Subkelas dari Kelas Calcarea

1.6.1. Subkelas Calcinea

Memiliki larva yang disebut parenchymella (padat, kompak, dengan lapisan luar berupa sel berflagela; flagela koanosit (collar cells) muncul secara independen di inti, sebagian besar spesies mempunyai 3 spikula; sistem penecernaannya bertipe ascon, sycon, atau jenis leucon; sponge pharetronid dengan kerangka kaku yang terdiri dari spikula yang menyatu atau jaringan berkapur; genus yang termasuk dalam subklas ini yaitu Clathrina, Leucetta, Petrobiona (pharetronid). [5]

Berikut ini yaitu ordo dari Subkelas Calcinea, yaitu :

1.6.1.1. Ordo Clathrinida

Clathrinida merupakan ordo dari Calcinea. Anggota ordo ini mempunyai kerangka berkapur, dan merupakan organisme maritim laut. Sponge ini mempunyai struktur asconoid dan tidak mempunyai membran kulit dermal atau korteks. Spongocoel ini dilapisi dengan koanosit (collar cell). [6]

1.6.1.2. Ordo Leucettida

Leucettida merupakan ordo dari subklas Calcinea. Sponge pada ordo ini mempunyai susunan ruang berflagella atau struktur leukonoid yang memutar. Leukonoid yaitu saluran air dari ostium dihubungkan ke spongocoel melalui banyak percabangan. Ordo ini juga mempunyai membran kulit atau korteks. pongocoel ini tidak dilapisi dengan koanosit, sel-sel koanosit hanya ada pada ruang berflagella. Leucascidae dan Leucaltidae yaitu dua famili dari ordo ini. [7]

1.6.1.3. Ordo Murrayonida

Murrayonida yaitu jenis sponge maritim yang merupakan ordo dari Calcinea. Murrayonida berbeda dari Calcinea lainnya, dimana sponge ini dengan mempunyai kerangka yang lebih kuat, sponge Murrayonida juga mempunyai korteks yang melindungi cormus dan sistem aquiferous leukonoid [8]. Ordo ini terdiri dari tiga spesies yang sudah dikenal, masing-masing berada dalam famili sendiri: Murrayona phanolepis pada famili Murrayonidae, Lelapiella incrustans pada famili Lelapiellidae, dan Paramurrayona corticata pada famili Paramurrayonidae. Murrayona phanolepis ditemukan oleh CW Andrews di Pulau Christmas, kemudian dideskripsikan dan dinamai oleh Kirkpatrick (1910); [10] Kirkpatrick mengusulkan nama spesies itu untuk menghormati Sir John Murray, yang membiayai ekspedisi ke Pulau Natal. [10]

1.6.2. Subkelas Calcaronea

Calcaronea yaitu subclass di Calcarea. Subkelas ini yaitu Calcarea dengan triactines dan sistem basal tetractines sagital (yaitu sinar spicula menciptakan sudut yang tidak sama satu sama lain), sangat teratur. Pada masa ontogenesis atau morfogenesisnya, spikula pertama yang disekresikan yaitu diactina. Choanositanya mempunyai apinucleata. Calcaronea mempunyai larva amphiblastula. [11]

Berikut ini yaitu ordo dari Subkelas Calcaronea, yaitu :

1.6.2.1. Ordo Baerida

Baerida merupakan ordo dari kelas Calcaronea. Berida merupakan Calcaronea Leukonoid dengan kerangka yang tersusun dari microdiactines, di mana microdiactines berada pada belahan ter tentu dari kerangkanya, mirip pada belahan choanoskeleton atau kerangka atrium. Pada umumnya mempunyai spikula yang besar di dalam kerangka kortikal, di mana spikula tersebut menginvasi sebagian atau seluruh belahan choanoderm. Pada sponge dengan korteks yang diperkuat, pori-pori inhalansia sanggup dibatasi dengan saringan yang berbentuk mirip belahan pada alas ostia. Tetractines kecil berbentuk mirip belati (pugioles) pada umumnya merupakan satu-satunya kerangka yang berfungsi sebagai sistem aquiferous exhalant. Meskipun kerangkanya sanggup sangat diperkuat oleh adanya lapisan padat microdiactines di wilayah tertentu, kerangka berkapur aspicular tidak ada pada ordo ini. [12]

1.6.2.2. Ordo Leucosolenida

Leucosolenida merupakan ordo dari sponge berkapur pada kelas Calcarea di dalam filum Porifera. Leucolenida yaitu Calcronea yang pada kerangkanya tidak mempunyai spikula. [13]

1.6.2.3. Ordo Lithonida

Lithonida yaitu ordo dari sponge berkapur pada kelas Calcarea di dalam filum Porifera. Lithonida merupakan Calcaronea dengan kerangka yang diperkuat, yang tersusun dari basal actines yang terdiri dari tetractines atau basal kaku yang terdiri dari kalsit. Spikula diapason umumnya ada pada ordo ini dan mempunyai sistem saluran leukonoid. [14]

1.6.2.4. Ordo Sycettida

Sycettida merupakan ordo dari Calcaronea pada kelas Calcarea. Sycettida terdiri dari kelompok sponge berkapur yang agak beragam, yang termasuk pada famili Sycettidae, Heteropiidae, Grantiidae, Amphoriscidae, dan Lelapiidae. Koanosit dengan inti apikal terbatas pada ruang flagella dan secara umum tidak pernah melapisi spongocoel. Famili dari Sycettidae mirip ordo Leucosoleniida dalam hal hampir tidak mempunyai membran dermal atau korteks yang dimiliki oleh lima famili lainnya. Kerangka yang paling besar (spikula triradiate) ditemukan pada famili Lelapiidae. [15]

2. Kelas Hexatinellida

Pada anggota Kelas Hexatinellida, spikula badan yang tersusun dari zat kersik dengan 6 cabang. Kelas ini sering disebut sponge gelas atau porifera beling (Hyalospongiae), lantaran bentuknya yang seperti tabung atau gelas piala. Tubuh berbentuk silinder atau corong, tidak memiliki permukaan epitel. Contoh anggota kelas ini yaitu Hyalonema sp., Pheronema sp., dan Euplectella suberea. Perhatikan Gambar 3.
 Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus  Pintar Pelajaran Filum Porifera : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 3. Euplectella aspergillum (Wikimedia Commons)
2.1. Deskripsi [16]

Hexactinellida atau sering disebut sponge beling tersebar di seluruh dunia, terutama pada kedalaman antara 200 dan 1000 m. Kelompok sponge ini jumlahnya sangat melimpah di Antartika.

Semua sponge beling berdiri tegak, dan mempunyai struktur khusus di pangkalnya untuk menempel besar lengan berkuasa pada dasar laut. Secara morfologi bentuknya radial simetris, biasanya silinder, tetapi ada juga yang berbentuk cangkir, guci, atau bercabang. Ketinggian rata-rata hexactinellida yaitu antara 10 dan 30 cm, tetapi beberapa sanggup tumbuh menjadi cukup besar. Hexactinellida mempunyai rongga sentral yang luas (atrium) dimana air melewati rongga tersebut, spikula yang berbentuk mirip anyaman topi yang rapat melapisi osculum pada beberapa spesies. Hexactinellida kebanyakan mempunyai warna yang pucat. Sponge beling paling mirip dengan sponge syconoid, tetapi sponge beling terlalu banyak berbeda secara internal dibandingkan dengan syconoid.

2.1. Biologi [16]

Sponge beling sanggup dengan gampang dibedakan dengan sponge lainnya dengan investigasi secara internal. Kerangka hexactinellida seluruhnya terbuat dari silika. Spikula yang mengandung silika ini umumnya terdiri dari tiga duri perpendicular (oleh lantaran itu mereka mempunyai enam titik, sehingga mereka disebut sebagai hexactine), yang pada umumnya menyatu, sehingga menciptakan hexactinellids mempunyai kekakuan struktural yang berbeda dari sponge lainnya. Bagian yang tegang di antara spikula jaringan syncytial yang besar dari sel-sel badan yang lembut. Air memasuki badan melalui ruang di dalam untaian syncytial. Di dalam syncytia terdapat unit fungsional mirip dengan koanosit yang ditemukan pada sponge lainnya, tetapi unit-unit ini sangatlah kekurangan inti sel, sehingga lebih sering disebut sebagai collar bodies daripada collar cells. Hexactinellida berflagella, pergerakan dari flagela merekalah yang menyebabkan aliran air melewati sponge ini. Di dalam syncytia ada sel fungsional sebanding dengan archaeocytes yang ada pada sponge lainnya, tetapi sel-sel ini sepertinya memiliiki mobilitas yang terbatas. Hexactinellida kekurangan miosit, sehingga tidak bisa berkontraksi. Sementara Hexactinellid tidak mempunyai struktur saraf, mereka mengirimkan sinyal-sinyal listrik di seluruh badan melalui jaringan lunak syncytial.

2.2. Reproduksi [16]

Hanya sedikit yang diketahui perihal reproduksi hexactinellid dan perkembangannya. Sprma ditransfer ke organisme lain melalui air, dan kemudian harus menciptakan jalan sendiri menuju ke sel telur. Setelah pembuahan, larva diinkubasi selama waktu yang relatif lama, sehingga mereka bahkan membentuk spikula dasar sebelum dilepaskan sebagai larva parenchymella. Hal ini berbeda dari larva sponge lainnya yang jarang mempunyai flagela atau alat gerak lainnya. Setelah larva menempel di dasar laut, larva bermetamorfosis, dan sponge remaja mulai tumbuh. Hexactinellids merupakan sponge yang gampang berkembangbiak.

2.3. Perkembangan dan Pola Makan [16]

Sponge beling murni filter feeder. Sponge hidup pada material detritus makroskopik, mengkonsumsi materi selular, bakteri, dan partikel abiotik yang sangat kecil. Partikel kecil diambil ke dalam melalui arus yang diciptakan oleh collar bodies, partikel tersebut diserap pada dikala melalui saluran di dalam sponge. Collar bodies dilapisi dengan microvili yang menjebak makanan, dan kemudian melewati vakuola melalui collar bodies menuju ke dalam syncytia. Archaeocytes di antara helai syncytial bertanggung jawab untuk distribusi dan penyimpanan makanan. Archaeocytes kemungkinan juga bertanggung jawab pada beberapa hal untuk menangkap makanan. Hexactinellida sepertinya kurang selektif terhadap kuliner yang mereka telan (setiap kuliner yang cukup kecil untuk menembus syncytium dicerna oleh mereka). Karena mereka meiliki sedikit membaran luar dan kurangya ostia, hexactinellida tidak sanggup mengkontrol seberapa banyak air yang melewati badan mereka. Diyakini bahwa stabilitas lingkungan perairan dalam memungkinkan hexactinellids untuk bertahan meskipun kekurangan dalam hal ini.

2.4. Pola Hidup [16]

Hexactinellida hidup secara sessile / menetap. Bahkan larvanya pun sepertinya tidak memperlihatkan gerakan, tidak mirip spons lainnya, hexactinellida tidak berkontraksi ketika dirangsang.

2.5. Nilai Ekonomis [16]

Seperti sponge lainnya, hexactinellida bisa menjadi sumber obat-obatan, meskipun potensi mereka sebagian besar belum dieksploitasi. Sebagian besar sponge beling belum terpegaruh oleh kegiatan manusia. Di Jepang, sponge ini diberikan sebagai hadiah pernikahan. Hexactinellida dari spesies tertentu terlibat dalam kekerabatan simbiosis dengan udang. Pada dikala kecil, dua udang dengan jenis kelamin berbeda memasuki atrium sponge, dan sesudah tumbuh dengan ukuran tertentu kedua udang tersebut tidak bisa pergi. Mereka makan dari materi yang dibawa oleh arus yang dihasilkan oleh sponge, dan kemudian kesannya udang tersebut bereproduksi. Sebuah kerangka sponge beling yang di dalamnya terdapat dua udang diberikan sebagai hadiah ijab kabul di Jepang.

Saat ini hanya sedikit perjuangan yang sedang dilakukan untuk melestarikan spesies hexactinellida. Ada nilai yang besar untuk tetap menjaga populasi sponge beling yang sehat, lantaran sanggup memegang belakang layar ratusan juta tahun evolusi, dan mungkin telah menghasilkan evolusi materi kimia potensial yang mempunyai kegunaan bagi kemanusiaan. Hexactinellida dianggap berkerabat erat dengan Demospongiae.

2.6. Ordo dari Kelas Hexatinellida

Berikut ini yaitu ordo dari Kelas Hexatinellida, yaitu :

2.6.1. Ordo Amphidiscosida

Amphidiscosida Schrammen (Hexactinellida: Amphidiscophora) terdiri dari tiga famili yang terdiri dari dua belas genera, hanya Hyalonema yang dibagi menjadi subgenera berjumlah 12. Ordo ini ditandai dengan adanya amphidiscs dan tidak adanya hexasters sebagai microscleres. Semua anggotanya lophophytous, dengan bentuk badan yang bervariasi dari bundar telur sederhana hingga kerucut, cangkir, silinder, dan varian simetris bilateral lainnya. Dermalia dan atrialia merupakan pentactins pinular dan, jarang mempunyai hexactins, sedangkan hypodermalia dan hypoatrialia yaitu oxypentactins. Jangkar Basal diketahui berupa monactins yang bergigi. Tiap famili dibedakan oleh bentuk choanosomal megascleres utama: diactins di Hyalonematidae, pentactins di Pheronematidae, dan tauactins di Monorhaphididae. [17]

2.6.2. Ordo Amphidiscosa

Amphidiscosa yaitu ordo dari hexactinellida, ditandai dengan adanya amphidisc spikula, yaitu, spikula yang mempunyai disk stellata di setiap simpulan bagiannya. Mereka berada di kelas Hexactinellida dan subclass Amphidiscophora. Organisme ini telah ada semenjak periode Ordovisium, dan masih berkembang hingga dikala ini.  [18]

2.6.3. Ordo Aulocalycoida

Aulocalycoida Tabachnick & Reiswig (Hexactinellida, Hexasterophora) terdiri dari dua famili dan tujuh genera. Ordo ini ditandai dengan kerangka dictyonal longgar yang dibangun di sekitar untaian / helai longitudinal utama yang tersusun dari duri dictyonal yang memanjang. Jala berbentuk tidak teratur. Antar famili dibedakan oleh detail dari konstruksi untai. Untaian Aulocalycidae mengandung filamen aksial berurutan tunggal yang terbatas panjangnya. Untaian uncinateridae mengandung filamen aksial yang tumpang tindih yang disebabkan oleh serangkaian hexactins, duri dictyonal dari tiap individu memanjang tapi tidak terbatas pada panjangnya. Kerangkanya halus dan fleksibel lantaran adanya jarak pada pertumbuhan distal, tidak mirip sponge dari hexactinosidans dan lychniscosidans yang kaku dan rapuh. [19]

2.6.4. Ordo Hexactinosida

Hexactinosa merupakan ordo dari subkelas Hexasterophora padakelas Hexactinellida. Parenkim megascleres pada ordo ini bersatu untuk membentuk kerangka kaku dan seluruhnya terdiri dari hexactins sederhana yang tersusun secara linier paralel. Kerangka tersebut bersatu di dalam  amplop sekunder silika. Beberapa teladan dari ordo ini yaitu Hexactinella, Aphrocallistes, Eurete, dan Farrea. [20]

2.6.5. Ordo Lychniscosida

Ordo Lychniscosida Schrammen (Hexactinellida, Hexasterophora), merupakan ordo yang  mencakup kelompok fosil yang bermacam-macam dan lebih banyak didominasi dari komunitas bentik Cretaceous. Namun, dikala ini hanya mempunyai dua famili dan tiga genera sebagai anggota terbaru. Kelompok ini ditandai dengan pembentukan kerangka dictyonal kaku oleh fusi hexactins lychniscid terutama oleh fusi duri dictyonalia berdekatan yang tersusun bersampingan (pola euretoid). Panjang duri yang membentuk belahan sisi jala dictyonal sangat terbatas hanya untuk lebar satu jala, biasanya berukuran 150-400μm. Famili pada ordo ini dibedakan oleh ketebalan unit struktural (dinding, pilar, piring) dan organisasi dictyonalia, baik dalam susunan yang terdeteksi maupun tidak terdeteksi. Unit struktural (dinding tubulus, pilar) tidak saling terhubung, namun ada kemungkinan untuk menafsirkan dinding tubulus dari Diapleuridae sebagai schizorhyses. [21]

2.6.6. Ordo Lyssacinosida

Lyssacinosida yaitu ordo dari sponge beling subkelas Hexasterophora. Sponge ini sanggup dikenali dengan adanya parenkim spikula yang biasanya tidak berhubungan, dimana hal ini tidak mirip  pada sponge lainnya pada subkelas yang sama, di mana spikula saling berafiliasi kolam secara besar lengan berkuasa maupun lemah untuk membentuk kerangka. [22]

3. Kelas Demospongia

Kelas ini mempunyai badan yang terdiri atas serabut atau benangbenang spongin tanpa skeleton. Kadang-kadang dengan spikula dari bahan zat kersik. Tipe aliran airnya yaitu leukon. Demospongia merupakan kelas dari Porifera yang mempunyai jumlah anggota terbesar. Sebagian besar anggota Desmospongia berwarna cerah, lantaran mengandung banyak pigmen granula dibagian sel amoebositnya. Contoh kelas ini antara lain Suberit sp., Cliona sp., Microciona sp., Spongilla lacustrisChondrilla sp., dan Callyspongia sp. Perhatikan Gambar 4.
 Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus  Pintar Pelajaran Filum Porifera : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Contoh
Gambar 4. Microciona sp. (dpr.ncparks.gov)
3.1. Habitat [23]

Kelas Demospongiae mempunyai sekitar 4.750 spesies yang berada di dalam 10 ordo. Distribusi geografis mereka berada di lingkungan maritim dari tempat intertidal ke zona abyssal, dan beberapa spesies menghuni air tawar.

3.2. Biologi [23]

Anggota dari Demospongiae berbentuk asimetris. Demospongians tumbuh pada banyak sekali ukuran dari beberapa milimeter hingga lebih dari 2 meter. Mereka sanggup berbentuk krusta tipis, benjolan, pertumbuhan mirip jari, atau bentuk guci. Butiran pigmen pada sel amoebocytes sering menciptakan anggota kelas ini berwarna cerah, mirip warna: kuning terang, oranye, merah, ungu, atau hijau.

Pada demospongia, di dalam mesohil kemungkinan terdapat dua jenis spikula; megascleres dan microscleres dengan 1-4 duri, serat kolagen (spongin). Anggota Demospongiae gampang dibedakan dari Hexactinellida lantaran tidak mempunyai enam duri spikula. Mereka mempunyai struktur leukonoid, dengan choanoderm yang terlipat. Lapisan pinacoderm ada pada seluruh belahan tubu, dan menebal pada belahan mesohil. Semakin tebal mesohil, semakin bermacam-macam bentuk Demospongiae.

3.3. Reproduksi [23]

Demospongiae sanggup bereproduksi secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi seksual, spermatosit berkembang dari transformasi koanosit, dan oosit timbul dari archeocytes. Pembelahan sel telur zigot terjadi di mesohil dan membentuk larva parenchymula dengan massa sel internal berukuran besar yang dikelilingi oleh sel flagella eksternal yang lebih kecil. Larva yang dihasilkan berenang memasuki saluran rongga pusat dan dikeluarkan dengan arus exhalant.

Metode reproduksi aseksual meliputi pertunasan dan pembentukan gemmules. Pada pertunasan, agregat sel berdiferensiasi menjadi sponge kecil yang dikeluarkan melalui oscula. Gemmules ditemukan pada famili Spongellidae yang hidup di air tawar. Mereka diproduksi dalam mesohyl berupa gumpalan dari archeocytes yang dikelilingi oleh lapisan keras yang dikeluarkan oleh amoebocytes lainnya. Gemmules dilepaskan ketika badan induk rusak, dan gemmules ini bisa bertahan dalam kondisi yang keras. Dalam situasi yang menguntungkan, sebuah lubang yang disebut micropyle muncul dan melepaskan amoebocytes, yang berdiferensiasi menjadi banyak sekali macam jenis sel.

3.4. Perkembangan dan Pola Makan [23]

Demospongiae bersifat sessile (menetap) dan merupakan organisme bentik. Namun, larvanya mempunyai flagela dan bisa berenang bebas. Semua sponge dari kelas ini yaitu filter feeder, hidup dari basil dan organisme kecil lainnya. Air mengantarkan partikel-partikel kuliner masuk melalui pori-pori luar. Koanosit menangkap sebagian besar kuliner yang masuk, namun pinocytes dan amoebocytes juga sanggup mencerna makanan. Partikel kuliner juga sanggup dicerna eksklusif oleh sel-sel mesohil. Sponge dari kelas ini sangat jarang dimakan oleh binatang lain lantaran rasanya yang tidak enak. Namun, beberapa organisme sanggup hidup pada sponge, dan tinggal bersama mereka sebagai simbion. Beberapa sponge pada kelas ini merupakan “pelabuhan” bagi basil fotosintetik, sementara beberapa jenis lainnya berfungsi sebagai proteksi bagi organisme lain.

3.5. Nilai Ekonomis [23]

Kelompok yang paling penting  dan irit dari demospongians untuk insan yaitu sponge yang dipakai untuk mandi. Sponge jenis ini dipanen oleh penyelam dan juga sanggup ditanam secara komersial. Sponge ini di bleaching kemudian dipasarkan, sponge jenis ini mempunyai spongin sehingga bisa memperlihatkan kelembutan dan daya serap.

Meskipun tidak demospongian kurang dilestarikan dengan, masih ada catatan fosil untuk sponge pada kelas ini. Beberapa Demospongiae ada pada periode Paleozoic awal. Pada awal Cretaceous, semua ordo dari Demospongiae sudah ada.

Tingkatan organisasi merupakan petunjuk yang sanggup dipercaya untuk  mengetahui kekerabatan filogenetik pada kelas Demospongiae. Namun, di antara kelas dari filum Porifera, sulit untuk membedakan kekerabatan evolusioner. Organisasi tidak selalu berafiliasi dengan filogeni, misalnya, struktur leukonoid telah berevolusi secara independen beberapa kali.

3.6. Ordo dari Kelas Demospongia

Berikut ini yaitu ordo dari Kelas Demospongia, yaitu

3.6.1. Ordo Lithistida

Lithistida yaitu ordo dari kelas Demospongia yang mempunyai kerangka retikular yang tersusun atas spikula bersilika yang bentuknya teratur dan menonjol. [24]

Sponge pada ordo Lithistida dikenal menghasilkan bermacam-macam senyawa mulai dari poliketida, peptida siklik dan linier, alkaloid, pigmen, lipid, dan sterol. Sebagian besar senyawa ini mempunyai struktur yang kompleks serta mempunyai acara biologis yang sangat besar lengan berkuasa dan menarik. Sudah ada satu dekade semenjak review menyeluruh yang merangkum perihal produk alami yang dihasilkan ordo sponge yang menakjubkan ini. [25]

3.6.2. Ordo Agelasida

Agelasida yaitu ordo dari Demospongiae dengan acanthostyles tegak berduri (Agelas spicule), kadang kala disebut juga acanthoxeas. Serat spongin (serat Agelas) berintikan dan tersusun oleh acanthostyles lebih lebih banyak didominasi hadir dalam satu famili (Agelasidae). Famili lain (Ceratoporellidae dan Astroscleridae: Astrosclera willeyana) yang disebut sclerosponges mempunyai lapisan tipis jaringan hidup diatas kerangka berkapur basal. Di tempat Mediterania ada satu spesies Agelasida yang masih ada, yaitu Agelas oroides. [26, 27]

3.6.3. Ordo Astroporidha

Definisi: Sponge dengan astrose microscleres (euaster, sterraster, metaster) kadang kala disertai dengan microrhabds (microxeas dan microstrongyles). Megascleres berbentuk tetractines (tetraxones), biasanya berbentuk triaenes, biasanya hampir selalu berkombinasi dengan oxeotes (hugeoxeas, strongyloxeas atau strongyles). Kerangka skeletal radial teratur, setidaknya di tempat perifer. Kedua megascleres tetractinal atau astrose microscleres terkadang bisa hilang, dan menghasilkan genera havingoxeas dan aster, atau oxeas hanya untuk spikula. Kerangkanya radiate dan umumnya bertekstur kasar. [28]

Astrophorida (Porifera, Demospongiaep) terdistribusi luas secara geografis dan batimetrik didistribusikan secara luas. Astroporidha dikala ini meliputi lima famili : Ancorinidae, Calthropellidae, Geodiidae, Pachastrellidae dan Thrombidae. Sampai dikala ini, studi filogenetik molekuler termasuk spesies Astrophorida sangat langka dan jumlah sampelnya terbatas. Hubungan filogenetik pada ordo sebagian besar tidak diketahui dan hipotesis menurut morfologi sebagian besar belum teruji. Astrophorida mempunyai spikula yang sangat bermacam-macam seingga menciptakan mereka menjadi subjek pilihan untuk menyidik evolusi spikula. [29]

Keterangan: Gamet dari Astrporidha hanya dikenal pada beberapa marga, dan tahap larva masih belum diketahui.

Nomenklatur: nama Astrophorida sering dipakai sebagai sinonim dari Choristida. Pada takson ini, selain Astrophorida juga terdapat Spirophorida, yang mempunyai megascleres mirip Astrophorida tetapi mempunyai sigmaspires yang berfungsi sebagai microscleres. [30]

3.6.4. Ordo Chondrosida

Definisi: Sponge tanpa megascleres, tetapi dengan belahan perifer yang sangat berkolagen, encrusting, berukuran massive hingga kecil. Tidak ada megasklera, tapi satu genus (Chondrilla) mempertahankan euaster microscleres (spheraster), yang lain (Chondrosia) tidak mempunyai spikula. Contoh: Chondrilla nucula dan Chondrosia reniformis Ates.

Keterangan: Hanya satu famili yang diakui, yaitu famili Chondrillidae, dengan 3 genera yang valid (total 5 genera). Biasanya, kelompok ini dimasukkan ke dalam ordo Hadromerida, tapi hanya ada bukti yang sangat sedikit mengenai kekerabatan kekerabatan di antara keduanya. [31]

3.6.5. Ordo Dendroceratida

Dalam taksonomi, Dendroceratida yaitu spongedari kelas Demospongiae. Mereka biasanya ditemukan di tempat pesisir dangkal dan pasang surut, dan ada pada sebagian besar pantai di seluruh dunia. Sponge ini pada umumnya dicirikan oleh lapisan konsentris serat spongin, dan ruang berfalgella besar yang terbuka eksklusif ke saluran exhalant. [32]

Dendroceratida (Demospongiae) terdiri dari dua famili dan delapan genera. Sponge ini biasanya lembut dan rapuh, kerangkanya berserat, tetapi seratnya berkurang tanggapan sehubungan dengan volume jaringan lunak, dan mengandung sedikit kolagen pada matriks endosomal. Seratnya bersifat dendritik atau anastomosing, di mana dalam kasus terakhir tidak ada perbedaan yang terang antara serat primer dan serat lainnya. Serat selalu berisi empulur, tebal dan berlapis. Beberapa genera mempunyai elemen seluler (degenerate spongocyte) yang ada pada kulit dan  empulur (dengan jumlah yang lenih rendah). Spikula berserat bebas ada pada satu genus.  [33]

3.6.6. Ordo Dendroceratida 

Definisi : Dendroceratida mempunyai kerangka berupa serat, serat tersebut biasanya berkurang sehubungan dengan volume jaringan lunak dan hampir tidak ada pada beberapa genera. Kerangka terbentuk dari piringan basal yang menyebar secara terus menerus, dan berbentuk kerangka dendritik maupun anastomosing atau retikular. Serat banyak dilapisi, biasanya cukup kuat, dan sering memasukkan unsur-unsur seluler. Spikula berserat bebas (spikuloid) sanggup muncul sebagai pelengkap pada kerangka utama. Choanocyte chambers berukuran besar, berbentuk mirip kantung atau tubular-memanjang. Jumlah mesohyl rendah lantaran berkaitan dengan volume ruang dan kanal, dan hanya terdapat sedikit kolagen. Hal ini, menciptakan sponge pada ordo ini lembut dan rapuh. Empulur di fibresis sangat berbeda dari unsur-unsur pada kulit, dan  strukturnya hampir sama dengan Verongida. Sangatlah umum untuk menemukan serat dengan pigmentasi gelap yang kontras dengan pigmentasi dari mesohil, hal ini seragam pada sponge di ordo ini. (Dictyodendrilla sp.) (Aplysilla rosea) (Aplysilla cross section)

Keterangan : Memiliki larva yang besar, berupa larva parenchymella dengan stuktur dan histologi kompleks. Memiliki kumpulan cilia yang panjang baik banyak maupun sedikit. Anggota dari ordo ini sangat beranekaragam, dengan pola pada tiap-tiap famili yang berbeda. Dua famili yang dikenali dari ordo ini yaitu Famili Darwinellidae (Aplysilidae), Famili Dictyodendrilidae (kerangka retikular sekunder). [34]

Anda kini sudah mengetahui Filum Porifera. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.

Referensi Lainnya :

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Calcareous_sponge

[2] Wörheide, G. 2002. "Calcarea Introduction" (On-line). Gert Wörheide's homepage about geobiology. Accessed January 13, 2005 at http://wwwuser.gwdg.de/ gwoerhe/calcarea_introduction.html.

[3] Brusca, R., G. Brusca. 2003. Invertebrates. Sunderland, Massachusetts: Sinauer Associates, Inc.

[4] Barnes, R. 1987. Invertebrate Zoology. Orlando, Florida: Dryden Press.

[5] http://www.britannica.com/EBchecked/topic/560783/sponge/32650/Annotated-classification#ref407686

[6] http://en.wikipedia.org/wiki/Clathrinida

[7] http://en.wikipedia.org/wiki/Leucettida

[8] Manuel, M. (2006), "Phylogeny and evolution of calcareous sponges", Canadian Journal of Zoology 84 (2): 225–241, doi: 10.1139/Z06-005

[9] Kirkpatrick, R. (1910), "On a remarkable pharentronid sponge from Christmas Island", Proceedings of the Royal Society of London. Series B, Containing Papers of a Biological Character (The Royal Society) 83 (562): 124–133, doi: 10.1098/rspb.1910.0070, JSTOR 80366

[10] http://en.wikipedia.org/wiki/Murrayonida

[11] http://en.wikipedia.org/wiki/Calcaronea

[12] http://en.wikipedia.org/wiki/Baerida

[13] http://en.wikipedia.org/wiki/Leucosolenida

[14] http://en.wikipedia.org/wiki/Lithonida

[15] http://www.answers.com/topic/sycettida

[16] http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Hexactinellida/

[17] Reiswig, H. M. 2002. Order Amphidiscosida Schrammen, 1924. Springer US. p. 1231. DOI : 10.1007/978-1-4615-0747-5_126

[18] http://en.wikipedia.org/wiki/Amphidiscosa

[19] Reiswig, H. M. 2002. Order Aulocalycoida Tabachnick & Reiswig, 2000. Springer US. p. 1361. DOI : 10.1007/978-1-4615-0747-5_139

[20] http://www.accessscience.com/abstract.aspx?id=317100

[21] Reiswig, H. M. 2002. Order Lychniscosida Schrammen, 1903. Springer US. p. 1377. DOI : 10.1007/978-1-4615-0747-5_142

[22] http://en.wikipedia.org/wiki/Lyssacinosa

[23] http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Demospongiae/

[24] http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Lithistida

[25] Mar Drugs. 2011 Dec;9(12):2643-82. doi: 10.3390/md9122643. Epub 2011 Dec 15. Natural products from the Lithistida: a review of the literature since 2000.

[26] http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Lithistida

[27] Schmidt, O., 1862. Die Spongien des Adriatischen Meeres. Engelmann, Leipzig: 1-88, 7 pls.

[28] http://species-identification.org/species.php?species_group=sponges&id=21&menuentry=groepen

[29] Cárdenas P, Xavier JR, Reveillaud J, Schander C, Rapp HT (2011) Molecular Phylogeny of the Astrophorida (Porifera, Demospongiaep) Reveals an Unexpected High Level of Spicule Homoplasy. PLoS ONE 6(4): e18318. doi: 10.1371/journal.pone.0018318

[30] http://species-identification.org/species.php?species_group=sponges&id=21&menuentry=groepen

[31] http://species-identification.org/species.php?species_group=sponges&id=27&menuentry=groepen

[32] http://en.wikipedia.org/wiki/Dendroceratida

[33] Bergquist, P. R. and S. C. de Cook. 2002. Order Dendroceratida Minchin, 1900. Springer US. p. 1067. DOI: 10.1007/978-1-4615-0747-5_103

[34] http://species-identification.org/species.php?species_group=sponges&id=33&menuentry=groepen

[35] http://en.wikipedia.org/wiki/Sclerocyte