Showing posts with label Tips Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Tips Mengajar. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Yuk Mencar Ilmu Pembelajaran Terintregasi Tik

Pembelajaran Terintregasi TIK

Keterampilan memanfaatkan perangkat TIK merupakan salah satu bab penting dalam daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Bahkan, kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK dituangkan dalam ketentuan perundangan mengenai Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2002 ihwal Sistem Pendidikan Nasional) yang lalu dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah ihwal Guru.

Kompetensi, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 ihwal Guru, dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki,dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan kiprah keprofesionalannya. Kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Pentingnya penguasaan keterampilan TIK tersirat dalam rumusan kemampuan yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran (dalam kompetensi pedagogik), kemampuan menyebarkan diri secara berdikari dan berkelanjutan (kompetensi kepribadian), dan kemampuan memakai teknologi komunikasi dan isu secara fungsional (kompetensi sosial).

Aktivitas profesional guru akan sangat terbantu oleh pemanfaatan perangkat lunak dan perangkat keras TIK. Oleh alasannya yaitu itu, keterampilan minimal yang diharapkan guru sanggup dijabarkan beberapa kemampuan, yakni:

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengolah naskah (wordprocessor), untuk membantu kegiatan tulis-menulis,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak spreadsheet, untuk membantu kegiatan pengolahan nilai siswa,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengembang slide presentasi, untuk membantu kegiatan melaksanakan presentasi bahan pembelajaran,

  • Kemampuan memakai email untuk berkomunikasi maupun bergabung ke dalam kelompok-kelompok diskusi (mailing list)

  • Kemampuan memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari isu secara efektif dan efisien

Wednesday, November 28, 2018

Yuk Berguru Matematika Itu Mudah

Matematika itu mudah. Ungkapan ini yakni sebuah harapan dari setiap pengajar matematika, namun sulit terwujud. Ada beberapa cara biar mempelajari matematika itu menjadi gampang dan menyenangkan.

1. Ajarkan matematika dengan cinta. Kebanyakan guru pribadi emosi dikala siswa tidak dapat menyerap apa yang diajarkan oleh guru. Awalnya tidak bisa, ditambah lagi faktor tekanan dari guru yang bersangkutan mengakibatkan siswa semakin kacau.

2. Terangkan matematika dengan jelas, singkat dan sempurna sasaran. Banyak guru matematika yang bahagia jikalau siswanya bingung. Ini duduk perkara besar. Biasanya sang guru ingin dianggap pintar. Ya terperinci saja guru arif dibanding muridnya, jadi tidak perlu lagi kita buat galau siswa - siswa kita.

3. Jangan beranjak pada potongan selanjutnya sebelum siswa kita memahami apa yang diajarkan. Kalau satu potongan sudah tidak paham, dan bahasan diteruskan pada potongan selanjutnya, alhasil siswa akan terus terbebani dengan bab-bab yang tidak beliau mengerti.

Point ke 1 dan 2 mungkin dapat diterapkan oleh seluruh guru, tapi point ke 3 nampaknya sulit dilakukan, alasannya yakni biasanya sekolah berpatokan pada kurikulum pemerintah. Maka sebenarnya menciptakan matematika itu jadi gampang yakni kerja bersama seluruh elemen pendidikan, bukan hanya guru juga siswa, tapi juga pemegang kebijakan.

Yuk Mencar Ilmu Pembelajaran Terintregasi Tik

Pembelajaran Terintregasi TIK

Keterampilan memanfaatkan perangkat TIK merupakan salah satu bab penting dalam daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Bahkan, kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK dituangkan dalam ketentuan perundangan mengenai Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2002 ihwal Sistem Pendidikan Nasional) yang lalu dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah ihwal Guru.

Kompetensi, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 ihwal Guru, dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki,dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan kiprah keprofesionalannya. Kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Pentingnya penguasaan keterampilan TIK tersirat dalam rumusan kemampuan yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran (dalam kompetensi pedagogik), kemampuan menyebarkan diri secara berdikari dan berkelanjutan (kompetensi kepribadian), dan kemampuan memakai teknologi komunikasi dan isu secara fungsional (kompetensi sosial).

Aktivitas profesional guru akan sangat terbantu oleh pemanfaatan perangkat lunak dan perangkat keras TIK. Oleh alasannya yaitu itu, keterampilan minimal yang diharapkan guru sanggup dijabarkan beberapa kemampuan, yakni:

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengolah naskah (wordprocessor), untuk membantu kegiatan tulis-menulis,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak spreadsheet, untuk membantu kegiatan pengolahan nilai siswa,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengembang slide presentasi, untuk membantu kegiatan melaksanakan presentasi bahan pembelajaran,

  • Kemampuan memakai email untuk berkomunikasi maupun bergabung ke dalam kelompok-kelompok diskusi (mailing list)

  • Kemampuan memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari isu secara efektif dan efisien

Yuk Mencar Ilmu Macam-Macam Teori Belajar

Macam-Macam Teori Belajar

Selamat tiba di . Kali ini saya akan memostingkan perihal teori-teori di dalam pembelajaran, silahkan disimak.

Yang pertama yaitu Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, berguru merupakan insiden terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Bentuk paling dasar dari berguru yaitu “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung berdasarkan hukum-hukum tertentu. Oleh alasannya yaitu itu teori berguru yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori berguru koneksionisme atau teori asosiasi.

Thorndike menemukan hukum-hukum berguru sebagai berikut :
  1. Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laris tersebut akan mengakibatkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
  2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laris diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
  3. Hukum jawaban (law of effect), yaitu korelasi stimulus respon cenderung diperkuat bila karenanya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jikalau karenanya tidak memuaskan.
Yang kedua yaitu Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Gagne membagi proses berguru berlangsung dalam empat fase utama, yaitu
  1. Fase Receiving the stimulus situation (apprehending), merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan banyak sekali cara.
  2. Fase Stage of Acquition, pada fase ini seseorang akan sanggup memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya.
  3. Fase storage /retensi yaitu fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek sanggup dipindahkan ke memori jangka panjang.
  4. Fase Retrieval/Recall, yaitu fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.

Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu (5) fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru menunjukkan motivasi kepada siswa untuk belajar, (6) fase generalisasi adalah  fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, biar lebih meningkatkan daya ingat, siswa sanggup diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi gres tersebut. (7) Fase penampilan yaitu fase dimana siswa harus menunjukkan sesuatu penampilan yang nampak sehabis mempelajari sesuatu, menyerupai mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka sanggup menciptakan kalimat yang benar, dan (8)  fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).

Yang ketiga yaitu Teori Belajar Menurut Skinner

B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model kode eksklusif dan meyakini bahwa sikap dikontrol melalui proses operant conditioning. Operant Conditioning yaitu suatu proses sikap operant (penguatan positif atau negatif) yang sanggup mengakibatkan sikap tersebut sanggup berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Beberapa prinsip Skinner antara lain :
  1. Hasil berguru harus segera diberitahukan kepada siswa, jikalau salah dibetulkan, jikalau benar diberi penguat.
  2. Proses berguru harus mengikuti irama dari yang belajar.
  3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
  4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
  5. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
  6. Tingkah laris yang diinginkan pendidik, diberi hadiah.
  7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

4.     Teori Belajar Menurut Bruner

Bruner menyatakan berguru merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan insan untuk menemukan hal-hal gres di luar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Agar pembelajaran sanggup membuatkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan anak biar pengetahuan itu sanggup diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses berguru terjadi secara optimal) jikalau pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
1. Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara eksklusif terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak berguru sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan memakai benda-benda nyata atau memakai situasi yang nyata.
2. Model Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan aktivitas kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif.
3. Model Tahap Simbolis

Dalam tahap ini bahasa yaitu pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol aneh (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang digunakan berdasarkan janji orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol ekspresi (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang aneh yang lain.

5.     Teori berguru Menurut Piaget

Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk menciptakan dunia kita diterima oleh pikiran, kita melaksanakan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita beradaptasi dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.

Asimilasi terjadi saat individu menggabungkan informasi gres ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan fasilitas yaitu terjadi saat individu beradaptasi dengan informasi baru.

Piaget menyampaikan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia, yaitu :
  1. Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir sampai usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
  2. Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 sampai 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.
  3. Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 sampai 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak sanggup melaksanakan kebijaksanaan budi logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran sanggup diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
  4. Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 sampai 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara aneh dan lebih logis.

Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke tahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum simpulan dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu alasannya yaitu tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan

6.     Teori Belajar Menurut Ausubel

Menurut Ausubel, Novak,dan Hanesian ada dua jenis belajar:
a.      Belajar bermakna (meaningful learning)

Belajar bermakna yaitu suatu proses berguru dimana informasi gres dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena gres dengan konsep yang telah ada sebelumnya.
b.      Belajar menghafal (rote learning)

Bila konsep yang cocok dengan fenomena gres itu belum ada maka informasi gres tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi gres dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berafiliasi dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.
Demikianlah postingan perihal teori-teori berguru berdasarkan para pakar.
Jika anda tertarik untuk mendownload modul yang berisi ringkasan materi dan rumus, referensi penyelesaian soal dengan cara biasa dan cara cepat (smart solution), dan soal-soal latihan untuk menguji pencapaian kompetensi anda, silakan menuju ke sini
Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca. Semoga ada manfaatnya. Salam.

Yuk Berguru Pendidikan Abjad Dalam Pembelajaran Matematika

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

Berikut ini yakni sedikit postingan ihwal pendidikan abjad di dalam pembelajaran matematika, khususnya di kurikulum 2013 ini yang memang harus dikembangkan, selain kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan.
Beberapa abjad yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika antara lain adalah:

1) Sikap teliti, cermat, dan hemat

Matematika disebut sebagai ilmu hitung sebab pada hakikatnya matematika berkaitan dengan problem hitung-menghitung. Pengerjaan operasi hitung untuk mencari hasil dilakukan dalam pembelajaran matematika mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi tinggi. Dalam pengerjaan operasi hitung, seseorang dituntut bersikap teliti, cermat, hemat, cepat, dan tepat.

Saat mengerjakan problem matematika, seseorang bekerjsama dituntut untuk megerjakan dengan teliti dan cermat. Jangan hingga ada pengerjaan yang salah. Langkah demi langkah pengerjaan diteliti dan dicermati. Setelah diperoleh hasilnya, hasil itu perlu dicek lagi apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Intinya, matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah.
Matematika juga melatih perilaku hemat, simpel dalam bertindak berbicara, selalu "to the point", dan tidak bertele-tele. Kalimatnya ringkas dan gampang dipahami.
Penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika juga memuat unsur pembelajaran perilaku hemat.

2) Sikap jujur, tegas, dan bertanggung jawab

Matematika juga mengajarkan perilaku jujur, tegas, dan benar. Tegas pada permasalahan diatas dimaksudkan menyerupai hasil perkalian bilangan bundar 6 x 5pasti 30. Kita tegas menyampaikan 6 x 5 = 30 yakni benar. Kalau bukan 30, kita tegas menyampaikan itu salah.
Matematika juga berkenaan dengan problem pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus menurut pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus menurut alasan yang berpengaruh dan benar. Dengan cara inilah bekerjsama matematika mengajarkan perilaku hidup benar dan bertanggung jawab. Dengan implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak, dan, perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar.

3) Sikap pantang mengalah dan percaya diri

Seperti yang telah dirumuskan dalam pembelajaran matematika, matematika bekerjsama juga mengajarkan untuk bersikap pantang mengalah dan percaya diri.
Saat mengerjakan atau menuntaskan problem matematika, kita dihentikan menyerah. Saat gagal atau tidak sanggup menjawab, kita dituntut untuk mencari cara lain untuk menjawab. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa. Kita coba terus, hingga balasannya kita akan sanggup menjawabnya. Kegagalan dengan suatu cara dihentikan mengurangi semangat untuk mencari cara yang lain. Saat keberhasilan tercapai, rasa puas dan besar hati akan tumbuh.
Demikianlah sedikit ulasan ihwal pendidikan abjad di dalam pembelajaran matematika.
Jika anda membutuhkan modul matematika Sekolah Menengan Atas yang berisi ringkasan bahan dan rumus, teladan penyelesaian soal dengan cara biasa dan cara cepat (smart solution), dan soal-soal latihan untuk menguji pencapaian kompetensi anda, silakan menuju ke sini.
Modul matematika Sekolah Menengan Atas tersebut saya susun dan saya pecah menjadi per belahan dengan tujuan semoga memudahkan anda dalam mendownload belahan yang sesuai dengan kebutuhan anda.
Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca. Semoga ada manfaatnya.
 Salam.

Yuk Berguru Taktik Pemecahan Problem Matematika

Pengertian Masalah 

Ada lima tujuan pembelajaran matematika di SMA-MA (Depdiknas, 2006) yang harus dicapai para siswa SMA-MA selama proses pembelajaran matematika, yaitu: 
  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan sempurna dalam pemecahan masalah; 
  2. Menggunakan budi sehat pada pola dan sifat, melaksanakan manipulasi matematika dalam menciptakan generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 
  3. Memecahkan persoalan yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menuntaskan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 
  4. Menkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 
  5. Memiliki perilaku menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, adalah mempunyai rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta perilaku giat dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 
Sebelum membahas persoalan dan pemecahan masalah, perhatikan rujukan berikut: 


Bilangan 15 sanggup dinyatakan sebagai jumlah dua atau lebih bilangan orisinil berurutan dalam tiga cara, yaitu:
15 = 1 + 2 + 3 + 4 + 5
15 = 4 + 5 + 6
15 = 7 + 8
Nyatakan bilangan 210 sebagai jumlah dua atau lebih bilangan orisinil berurutan. Tuliskan dengan sebanyak-banyaknya cara.


Apakah soal tersebut merupakan persoalan bagi Anda? 
Selanjutnya perhatikan lagi rujukan berikut: 


987654321 x 9 = ... 


Pada rujukan yang pertama ada tantangan yang terkandung di dalamnya dan belum diketahui mekanisme rutin pemecahannya. Sedangkan untuk rujukan soal yang kedua saya yakin bukan menjadi 'masalah' untuk para pembaca. 
Secara umum suatu pertanyaan dikategorikan persoalan atau pertanyaan biasa ditentukan oleh ada tidaknya tantangan dan mekanisme rutin pemecahan yang belum diketahui. 

Strategi Pemecahan Masalah

Permendiknas No. 22 (Depdiknas, 2006) wacana Standar Isi menyatakan bahwa tujuan pelajaran matematika Sekolah Menengan Atas biar para siswa dapat:
“Memecahkan persoalan yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.” 
Dari formulasi di atas, paling tidak ada empat langkah pada proses pemecahan persoalan yang harus dikuasai para siswa sehingga harus dilatihkan kepada mereka, yaitu:
  1. Memahami masalah, 
  2. Merancang model matematika, 
  3. Menyelesaikan model, dan 
  4. Menafsirkan solusi yang diperoleh.
Demikianlah artikel wacana Strategi Pemecahan Masalah Matematika.

Jika anda membutuhkan file Buku Siswa dan Buku guru Matematika Kelas XII Kurikulum 2013 silahkan anda unduh pada link di bawah ini:
di sini.
 
Jika anda membutuhkan Materi Matematika Wajib untuk Kelas XI MIPA/IPS Kurikulum 2013 atau kelas X anda bisa menuju ke sini: Materi Matematika Wajib untuk Kelas XI MIPA/IPS Kurikulum 2013. 
Dan mungkin sebagai refreshing dan intermezzo, anda bisa membuka-buka postingan wacana permainan matematika dan tebakan-tebakan nalar matematika di kolom paling bawah blog ini atau dengan berdasarkan link berikut ini.
 
Akhirnya, terima kasih sudah berkunjung dan berkenan membaca. Semoga bisa memberi manfaat. Salam

Wednesday, November 7, 2018

Yuk Berguru Pembelajaran Terintregasi Tik

Pembelajaran Terintregasi TIK

Keterampilan memanfaatkan perangkat TIK merupakan salah satu bab penting dalam daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Bahkan, kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK dituangkan dalam ketentuan perundangan mengenai Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2002 ihwal Sistem Pendidikan Nasional) yang lalu dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah ihwal Guru.

Kompetensi, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 ihwal Guru, dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki,dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan kiprah keprofesionalannya. Kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Pentingnya penguasaan keterampilan TIK tersirat dalam rumusan kemampuan yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran (dalam kompetensi pedagogik), kemampuan berbagi diri secara berdikari dan berkelanjutan (kompetensi kepribadian), dan kemampuan memakai teknologi komunikasi dan warta secara fungsional (kompetensi sosial).

Aktivitas profesional guru akan sangat terbantu oleh pemanfaatan perangkat lunak dan perangkat keras TIK. Oleh alasannya ialah itu, keterampilan minimal yang diharapkan guru sanggup dijabarkan beberapa kemampuan, yakni:

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengolah naskah (wordprocessor), untuk membantu kegiatan tulis-menulis,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak spreadsheet, untuk membantu kegiatan pengolahan nilai siswa,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengembang slide presentasi, untuk membantu kegiatan melaksanakan presentasi bahan pembelajaran,

  • Kemampuan memakai email untuk berkomunikasi maupun bergabung ke dalam kelompok-kelompok diskusi (mailing list)

  • Kemampuan memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari warta secara efektif dan efisien

Yuk Berguru Pendidikan Huruf Dalam Pembelajaran Matematika

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

Berikut ini yaitu sedikit postingan perihal pendidikan huruf di dalam pembelajaran matematika, khususnya di kurikulum 2013 ini yang memang harus dikembangkan, selain kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan.
Beberapa huruf yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika antara lain adalah:

1) Sikap teliti, cermat, dan hemat

Matematika disebut sebagai ilmu hitung sebab pada hakikatnya matematika berkaitan dengan persoalan hitung-menghitung. Pengerjaan operasi hitung untuk mencari hasil dilakukan dalam pembelajaran matematika mulai tingkat dasar hingga sekolah tinggi tinggi. Dalam pengerjaan operasi hitung, seseorang dituntut bersikap teliti, cermat, hemat, cepat, dan tepat.

Saat mengerjakan persoalan matematika, seseorang bahu-membahu dituntut untuk megerjakan dengan teliti dan cermat. Jangan hingga ada pengerjaan yang salah. Langkah demi langkah pengerjaan diteliti dan dicermati. Setelah diperoleh hasilnya, hasil itu perlu dicek lagi apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Intinya, matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah.
Matematika juga melatih perilaku hemat, simpel dalam bertindak berbicara, selalu "to the point", dan tidak bertele-tele. Kalimatnya ringkas dan gampang dipahami.
Penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika juga memuat unsur pembelajaran perilaku hemat.

2) Sikap jujur, tegas, dan bertanggung jawab

Matematika juga mengajarkan perilaku jujur, tegas, dan benar. Tegas pada permasalahan diatas dimaksudkan menyerupai hasil perkalian bilangan lingkaran 6 x 5pasti 30. Kita tegas menyampaikan 6 x 5 = 30 yaitu benar. Kalau bukan 30, kita tegas menyampaikan itu salah.
Matematika juga berkenaan dengan persoalan pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus menurut pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus menurut alasan yang berpengaruh dan benar. Dengan cara inilah bahu-membahu matematika mengajarkan perilaku hidup benar dan bertanggung jawab. Dengan implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak, dan, perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar.

3) Sikap pantang mengalah dan percaya diri

Seperti yang telah dirumuskan dalam pembelajaran matematika, matematika bahu-membahu juga mengajarkan untuk bersikap pantang mengalah dan percaya diri.
Saat mengerjakan atau menuntaskan persoalan matematika, kita dihentikan menyerah. Saat gagal atau tidak sanggup menjawab, kita dituntut untuk mencari cara lain untuk menjawab. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa. Kita coba terus, hingga balasannya kita akan sanggup menjawabnya. Kegagalan dengan suatu cara dihentikan mengurangi semangat untuk mencari cara yang lain. Saat keberhasilan tercapai, rasa puas dan besar hati akan tumbuh.
Demikianlah sedikit ulasan perihal pendidikan huruf di dalam pembelajaran matematika.
Jika anda membutuhkan modul matematika Sekolah Menengan Atas yang berisi ringkasan bahan dan rumus, pola penyelesaian soal dengan cara biasa dan cara cepat (smart solution), dan soal-soal latihan untuk menguji pencapaian kompetensi anda, silakan menuju ke sini.
Modul matematika Sekolah Menengan Atas tersebut saya susun dan saya pecah menjadi per belahan dengan tujuan semoga memudahkan anda dalam mendownload belahan yang sesuai dengan kebutuhan anda.
Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca. Semoga ada manfaatnya.
 Salam.

Yuk Berguru Matematika Itu Mudah

Matematika itu mudah. Ungkapan ini yakni sebuah harapan dari setiap pengajar matematika, namun sulit terwujud. Ada beberapa cara biar mempelajari matematika itu menjadi gampang dan menyenangkan.

1. Ajarkan matematika dengan cinta. Kebanyakan guru pribadi emosi dikala siswa tidak dapat menyerap apa yang diajarkan oleh guru. Awalnya tidak bisa, ditambah lagi faktor tekanan dari guru yang bersangkutan mengakibatkan siswa semakin kacau.

2. Terangkan matematika dengan jelas, singkat dan sempurna sasaran. Banyak guru matematika yang bahagia jikalau siswanya bingung. Ini duduk perkara besar. Biasanya sang guru ingin dianggap pintar. Ya terperinci saja guru arif dibanding muridnya, jadi tidak perlu lagi kita buat galau siswa - siswa kita.

3. Jangan beranjak pada potongan selanjutnya sebelum siswa kita memahami apa yang diajarkan. Kalau satu potongan sudah tidak paham, dan bahasan diteruskan pada potongan selanjutnya, alhasil siswa akan terus terbebani dengan bab-bab yang tidak beliau mengerti.

Point ke 1 dan 2 mungkin dapat diterapkan oleh seluruh guru, tapi point ke 3 nampaknya sulit dilakukan, alasannya yakni biasanya sekolah berpatokan pada kurikulum pemerintah. Maka sebenarnya menciptakan matematika itu jadi gampang yakni kerja bersama seluruh elemen pendidikan, bukan hanya guru juga siswa, tapi juga pemegang kebijakan.

Yuk Mencar Ilmu Pembelajaran Terintregasi Tik

Pembelajaran Terintregasi TIK

Keterampilan memanfaatkan perangkat TIK merupakan salah satu bab penting dalam daftar kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Bahkan, kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK dituangkan dalam ketentuan perundangan mengenai Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 Tahun 2002 ihwal Sistem Pendidikan Nasional) yang lalu dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah ihwal Guru.

Kompetensi, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 ihwal Guru, dimaknai sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki,dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan kiprah keprofesionalannya. Kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Pentingnya penguasaan keterampilan TIK tersirat dalam rumusan kemampuan yang harus dimiliki guru, yakni kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran (dalam kompetensi pedagogik), kemampuan menyebarkan diri secara berdikari dan berkelanjutan (kompetensi kepribadian), dan kemampuan memakai teknologi komunikasi dan isu secara fungsional (kompetensi sosial).

Aktivitas profesional guru akan sangat terbantu oleh pemanfaatan perangkat lunak dan perangkat keras TIK. Oleh alasannya yaitu itu, keterampilan minimal yang diharapkan guru sanggup dijabarkan beberapa kemampuan, yakni:

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengolah naskah (wordprocessor), untuk membantu kegiatan tulis-menulis,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak spreadsheet, untuk membantu kegiatan pengolahan nilai siswa,

  • Kemampuan memakai perangkat lunak pengembang slide presentasi, untuk membantu kegiatan melaksanakan presentasi bahan pembelajaran,

  • Kemampuan memakai email untuk berkomunikasi maupun bergabung ke dalam kelompok-kelompok diskusi (mailing list)

  • Kemampuan memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari isu secara efektif dan efisien

Yuk Mencar Ilmu Macam-Macam Teori Belajar

Macam-Macam Teori Belajar

Selamat tiba di . Kali ini saya akan memostingkan perihal teori-teori di dalam pembelajaran, silahkan disimak.

Yang pertama yaitu Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, berguru merupakan insiden terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Bentuk paling dasar dari berguru yaitu “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung berdasarkan hukum-hukum tertentu. Oleh alasannya yaitu itu teori berguru yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori berguru koneksionisme atau teori asosiasi.

Thorndike menemukan hukum-hukum berguru sebagai berikut :
  1. Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laris tersebut akan mengakibatkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
  2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laris diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
  3. Hukum jawaban (law of effect), yaitu korelasi stimulus respon cenderung diperkuat bila karenanya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jikalau karenanya tidak memuaskan.
Yang kedua yaitu Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Gagne membagi proses berguru berlangsung dalam empat fase utama, yaitu
  1. Fase Receiving the stimulus situation (apprehending), merupakan fase seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan banyak sekali cara.
  2. Fase Stage of Acquition, pada fase ini seseorang akan sanggup memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya.
  3. Fase storage /retensi yaitu fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi dalam memori jangka pendek sanggup dipindahkan ke memori jangka panjang.
  4. Fase Retrieval/Recall, yaitu fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.

Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu (5) fase motivasi sebelum pelajaran dimulai guru menunjukkan motivasi kepada siswa untuk belajar, (6) fase generalisasi adalah  fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, biar lebih meningkatkan daya ingat, siswa sanggup diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi gres tersebut. (7) Fase penampilan yaitu fase dimana siswa harus menunjukkan sesuatu penampilan yang nampak sehabis mempelajari sesuatu, menyerupai mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka sanggup menciptakan kalimat yang benar, dan (8)  fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).

Yang ketiga yaitu Teori Belajar Menurut Skinner

B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model kode eksklusif dan meyakini bahwa sikap dikontrol melalui proses operant conditioning. Operant Conditioning yaitu suatu proses sikap operant (penguatan positif atau negatif) yang sanggup mengakibatkan sikap tersebut sanggup berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Beberapa prinsip Skinner antara lain :
  1. Hasil berguru harus segera diberitahukan kepada siswa, jikalau salah dibetulkan, jikalau benar diberi penguat.
  2. Proses berguru harus mengikuti irama dari yang belajar.
  3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
  4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
  5. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
  6. Tingkah laris yang diinginkan pendidik, diberi hadiah.
  7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

4.     Teori Belajar Menurut Bruner

Bruner menyatakan berguru merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan insan untuk menemukan hal-hal gres di luar informasi yang diberikan kepada dirinya.

Agar pembelajaran sanggup membuatkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan anak biar pengetahuan itu sanggup diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses berguru terjadi secara optimal) jikalau pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
1. Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara eksklusif terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak berguru sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan memakai benda-benda nyata atau memakai situasi yang nyata.
2. Model Tahap Ikonik

Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan aktivitas kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif.
3. Model Tahap Simbolis

Dalam tahap ini bahasa yaitu pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol aneh (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang digunakan berdasarkan janji orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol ekspresi (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang aneh yang lain.

5.     Teori berguru Menurut Piaget

Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk menciptakan dunia kita diterima oleh pikiran, kita melaksanakan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita beradaptasi dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.

Asimilasi terjadi saat individu menggabungkan informasi gres ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan fasilitas yaitu terjadi saat individu beradaptasi dengan informasi baru.

Piaget menyampaikan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam memahami dunia, yaitu :
  1. Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir sampai usia 2 tahun, merupakan tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan mendengar) melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
  2. Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 sampai 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif.
  3. Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 sampai 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak sanggup melaksanakan kebijaksanaan budi logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran sanggup diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
  4. Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 sampai 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara aneh dan lebih logis.

Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke tahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum simpulan dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu alasannya yaitu tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan

6.     Teori Belajar Menurut Ausubel

Menurut Ausubel, Novak,dan Hanesian ada dua jenis belajar:
a.      Belajar bermakna (meaningful learning)

Belajar bermakna yaitu suatu proses berguru dimana informasi gres dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena gres dengan konsep yang telah ada sebelumnya.
b.      Belajar menghafal (rote learning)

Bila konsep yang cocok dengan fenomena gres itu belum ada maka informasi gres tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi gres dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berafiliasi dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.
Demikianlah postingan perihal teori-teori berguru berdasarkan para pakar.
Jika anda tertarik untuk mendownload modul yang berisi ringkasan materi dan rumus, referensi penyelesaian soal dengan cara biasa dan cara cepat (smart solution), dan soal-soal latihan untuk menguji pencapaian kompetensi anda, silakan menuju ke sini
Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca. Semoga ada manfaatnya. Salam.

Yuk Berguru Pendidikan Abjad Dalam Pembelajaran Matematika

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

Berikut ini yakni sedikit postingan ihwal pendidikan abjad di dalam pembelajaran matematika, khususnya di kurikulum 2013 ini yang memang harus dikembangkan, selain kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan.
Beberapa abjad yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika antara lain adalah:

1) Sikap teliti, cermat, dan hemat

Matematika disebut sebagai ilmu hitung sebab pada hakikatnya matematika berkaitan dengan problem hitung-menghitung. Pengerjaan operasi hitung untuk mencari hasil dilakukan dalam pembelajaran matematika mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi tinggi. Dalam pengerjaan operasi hitung, seseorang dituntut bersikap teliti, cermat, hemat, cepat, dan tepat.

Saat mengerjakan problem matematika, seseorang bekerjsama dituntut untuk megerjakan dengan teliti dan cermat. Jangan hingga ada pengerjaan yang salah. Langkah demi langkah pengerjaan diteliti dan dicermati. Setelah diperoleh hasilnya, hasil itu perlu dicek lagi apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Intinya, matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah.
Matematika juga melatih perilaku hemat, simpel dalam bertindak berbicara, selalu "to the point", dan tidak bertele-tele. Kalimatnya ringkas dan gampang dipahami.
Penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika juga memuat unsur pembelajaran perilaku hemat.

2) Sikap jujur, tegas, dan bertanggung jawab

Matematika juga mengajarkan perilaku jujur, tegas, dan benar. Tegas pada permasalahan diatas dimaksudkan menyerupai hasil perkalian bilangan bundar 6 x 5pasti 30. Kita tegas menyampaikan 6 x 5 = 30 yakni benar. Kalau bukan 30, kita tegas menyampaikan itu salah.
Matematika juga berkenaan dengan problem pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus menurut pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus menurut alasan yang berpengaruh dan benar. Dengan cara inilah bekerjsama matematika mengajarkan perilaku hidup benar dan bertanggung jawab. Dengan implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak, dan, perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar.

3) Sikap pantang mengalah dan percaya diri

Seperti yang telah dirumuskan dalam pembelajaran matematika, matematika bekerjsama juga mengajarkan untuk bersikap pantang mengalah dan percaya diri.
Saat mengerjakan atau menuntaskan problem matematika, kita dihentikan menyerah. Saat gagal atau tidak sanggup menjawab, kita dituntut untuk mencari cara lain untuk menjawab. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa. Kita coba terus, hingga balasannya kita akan sanggup menjawabnya. Kegagalan dengan suatu cara dihentikan mengurangi semangat untuk mencari cara yang lain. Saat keberhasilan tercapai, rasa puas dan besar hati akan tumbuh.
Demikianlah sedikit ulasan ihwal pendidikan abjad di dalam pembelajaran matematika.
Jika anda membutuhkan modul matematika Sekolah Menengan Atas yang berisi ringkasan bahan dan rumus, teladan penyelesaian soal dengan cara biasa dan cara cepat (smart solution), dan soal-soal latihan untuk menguji pencapaian kompetensi anda, silakan menuju ke sini.
Modul matematika Sekolah Menengan Atas tersebut saya susun dan saya pecah menjadi per belahan dengan tujuan semoga memudahkan anda dalam mendownload belahan yang sesuai dengan kebutuhan anda.
Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca. Semoga ada manfaatnya.
 Salam.

Yuk Berguru Taktik Pemecahan Problem Matematika

Pengertian Masalah 

Ada lima tujuan pembelajaran matematika di SMA-MA (Depdiknas, 2006) yang harus dicapai para siswa SMA-MA selama proses pembelajaran matematika, yaitu: 
  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan sempurna dalam pemecahan masalah; 
  2. Menggunakan budi sehat pada pola dan sifat, melaksanakan manipulasi matematika dalam menciptakan generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 
  3. Memecahkan persoalan yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menuntaskan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 
  4. Menkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 
  5. Memiliki perilaku menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, adalah mempunyai rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta perilaku giat dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 
Sebelum membahas persoalan dan pemecahan masalah, perhatikan rujukan berikut: 


Bilangan 15 sanggup dinyatakan sebagai jumlah dua atau lebih bilangan orisinil berurutan dalam tiga cara, yaitu:
15 = 1 + 2 + 3 + 4 + 5
15 = 4 + 5 + 6
15 = 7 + 8
Nyatakan bilangan 210 sebagai jumlah dua atau lebih bilangan orisinil berurutan. Tuliskan dengan sebanyak-banyaknya cara.


Apakah soal tersebut merupakan persoalan bagi Anda? 
Selanjutnya perhatikan lagi rujukan berikut: 


987654321 x 9 = ... 


Pada rujukan yang pertama ada tantangan yang terkandung di dalamnya dan belum diketahui mekanisme rutin pemecahannya. Sedangkan untuk rujukan soal yang kedua saya yakin bukan menjadi 'masalah' untuk para pembaca. 
Secara umum suatu pertanyaan dikategorikan persoalan atau pertanyaan biasa ditentukan oleh ada tidaknya tantangan dan mekanisme rutin pemecahan yang belum diketahui. 

Strategi Pemecahan Masalah

Permendiknas No. 22 (Depdiknas, 2006) wacana Standar Isi menyatakan bahwa tujuan pelajaran matematika Sekolah Menengan Atas biar para siswa dapat:
“Memecahkan persoalan yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.” 
Dari formulasi di atas, paling tidak ada empat langkah pada proses pemecahan persoalan yang harus dikuasai para siswa sehingga harus dilatihkan kepada mereka, yaitu:
  1. Memahami masalah, 
  2. Merancang model matematika, 
  3. Menyelesaikan model, dan 
  4. Menafsirkan solusi yang diperoleh.
Demikianlah artikel wacana Strategi Pemecahan Masalah Matematika.

Jika anda membutuhkan file Buku Siswa dan Buku guru Matematika Kelas XII Kurikulum 2013 silahkan anda unduh pada link di bawah ini:
di sini.
 
Jika anda membutuhkan Materi Matematika Wajib untuk Kelas XI MIPA/IPS Kurikulum 2013 atau kelas X anda bisa menuju ke sini: Materi Matematika Wajib untuk Kelas XI MIPA/IPS Kurikulum 2013. 
Dan mungkin sebagai refreshing dan intermezzo, anda bisa membuka-buka postingan wacana permainan matematika dan tebakan-tebakan nalar matematika di kolom paling bawah blog ini atau dengan berdasarkan link berikut ini.
 
Akhirnya, terima kasih sudah berkunjung dan berkenan membaca. Semoga bisa memberi manfaat. Salam