Showing posts sorted by date for query gangguan-fisiologis-pada-tulang. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query gangguan-fisiologis-pada-tulang. Sort by relevance Show all posts

Monday, December 9, 2019

Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi Pada Manusia


Sistem Reproduksi pada Manusia - Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi. Sistem reproduksi insan lebih kompleks dibandingkan pada tumbuhan. Seorang laki-laki dan perempuan telah siap menghasilkan keturunan apabila memenuhi ciri-ciri tertentu secara biologis. Anda dapat menyimak materi berikut untuk sanggup memahami ciri-ciri ini. Pada potongan berikut, kita akan mempelajari sistem reproduksi manusia, baik laki-laki ataupun wanita. Selain itu, kita juga membahas beberapa proses yang terkait dengan sistem reproduksi, menyerupai ovulasi, menstruasi, fertilisasi, gestasi, persalinan, dan ASI. Penting pula kita ketahui mengenai berbagai gangguan dan kelainan yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi.

Perkembangbiakan atau reproduksi merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan jenisnya. Manusia tergolong makhluk dioseus (berumah dua). Hal ini berarti, satu individu hanya mempunyai satu jenis alat reproduksi, yaitu laki-laki dan wanita. Laki-laki cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut spermatozoa, sedangkan perempuan cukup umur bisa menghasilkan sel gamet yang disebut ovum. Jika kedua sel gamet ini melebur atau terjadi fertilisasi, maka terbentuk zigot yang akan tumbuh menjadi janin dan dalam waktu 9 bulan akan menjadi bayi. Bagaimana proses pembentukan sperma dan ovum? Apa kaitannya dengan kehamilan dan menstruasi? Kamu akan mengetahui jawabannya sehabis mempelajari potongan ini.

Setelah mempelajari materi tersebut, kalian diperlukan mampu menjelaskan struktur, fungsi, dan proses yang terjadi pada sistem reproduksi manusia. Selain itu, kalian juga diperlukan bisa menjelaskan proses-proses pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, dan pemberian ASI. Tak kalah penting, kalian juga diperlukan mampu menjelaskan banyak sekali kelainan atau penyakit yang sanggup terjadi pada sistem reproduksi insan sekaligus cara mencegah serta cara mengatasinya.

A. Sistem Reproduksi pada Pria (Laki-laki)

1. Alat Kelamin Pria

Alat kelamin laki-laki berfungsi menghasilkan gamet jantan, yaitu spermatozoa (sperma). Alat kelamin laki-laki dibedakan menjadi alat kelamin dalam dan alat kelamin luar.

a. Alat kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Testis

Testis mempunyai bentuk bundar telur dan berjumlah sepasang, terdapat pada skrotum (zakar). Testis merupakan tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon kelamin (testosteron).

Pada testis terdapat pembuluh-pembuluh halus yang disebut tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma (spermatogonium yang diploid. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel-sel interstisiil yang menghasilkan hormon testosteron dan hormon kelamin jantan lainnya. Selain itu, terdapat pula sel-sel berukuran besar yang berfungsi menyediakan makanan bagi spermatozoa, sel ini disebut sel sertoli.

2) Saluran reproduksi

Saluran reproduksi terdiri atas duktus epididimis, yaitu tempat pematangan sperma lebih lanjut dan tempat penyimpanan sementara sperma. Selanjutnya, terdapat vas deferens yang merupakan suatu akses untuk mengangkut sperma ke vesikula seminalis (kantung sperma). Arah vas deferens ini ke atas, kemudian melingkar dan salah satu ujungnya berakhir pada kelenjar prostat dan di belakang kandung kemih, akses ini bersatu membentuk duktus ejakulatorius pendek yang berakhir di uretra. Uretra dari duktus ejakulatorius sama-sama berakhir di ujung p*nis.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 1. Anatomi organ reproduksi laki-laki. (Wikimedia Commons)
3) Kelenjar kelamin

Saluran kelamin dilengkapi dengan tiga kelenjar yang sanggup mengeluarkan getah atau semen. Kelenjar-kelenjar ini, antara lain vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretral (Cowper).

a) Vesikula seminalis

Vesikula seminalis berjumlah sepasang dan terletak di atas dan bawah kandung kemih. Vesikula seminalis menghasilkan 60% dari volume total semen. Cairan dari vesikula seminalis berwarna jernih, kental mengandung lendir, asam amino, dan fruktosa. Cairan ini berfungsi memberi makan sperma. Selain itu, vesikula seminalis juga mengekskresikan prostaglandin yang berfungsi menciptakan otot uterin berkontraksi untuk mendorong sperma mencapai uterus.

b) Kelenjar prostat

Kelenjar prostat berukuran lebih besar dibandingkan dua kelenjar lainnya. Cairan yang dihasilkan encer menyerupai susu dan bersifat alkalis sehingga sanggup menyeimbangkan keasaman residu urin di uretra dan keasaman v*gina. Cairan ini langsung bermuara ke uretra lewat beberapa akses kecil.

c) Kelenjar bulbouretral atau kelenjar Cowper.

Kelenjar ini kecil, berjumlah sepasang, dan terletak di sepanjang uretra. Cairan kelenjar ini kental dan disekresikan sebelum p*nis mengeluarkan sperma dan semen.

4) Uretra

Uretra ialah akses di dalam p*nis yang berfungsi sebagai akses urin dari kandung (vesica urinaria) keluar tubuh dan sebagai akses jalannya semen dari kantong semen.

b. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar pria, yaitu berupa p*nis dan skrotum. P*nis ialah organ yang berperan untuk kopulasi (persetubuan). Kopulasi ialah penyimpanan sperma dari alat kelamin jantan (pria) ke dalam alat kelamin betina (wanita). P*nis pada laki-laki sanggup mengalami ereksi. Ereksi ialah penegangan dan pengembangan p*nis lantaran terisinya akses p*nis oleh darah. Skrotum pada laki-laki di kenal dengan buah zakar. Di dalam buah zakar ini terdapat testis.

Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet (sel kelamin). Gametogenesis dibagi menjadi dua, yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Spermatogenesis ialah proses pembentukan gamet jantan (sperma), sedangkan oogenesis ialah proses pembentukan gamet betina (ovum). Bagaimana prosedur kedua gametogenesis tersebut? Adakah perbedaannya?

2. Spermatogenesis

Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferus. Spermatogonesis memakan waktu 65–75 hari di dalam tubuh pria. Di dalam tubulus seminiferus, terdapat banyak sel induk sperma (spermatogonium). Spermatogonium bersifat diploid (2n), mengandung 46 kromosom. Spermatogonium akan membelah secara mitosis menjadi spermatosit primer. Spermatosit ini akan membelah pula secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n). Haploid (n) artinya mengandung 23 kromosom atau setengah dari sel induk. Kemudian, setiap spermatosit sekunder akan membelah lagi secara meiosis menjadi dua spermatosit sehingga terbentuklah empat spermatid. Sel-sel spermatid tersebut akan mengalami pendewasaan menjadi sperma.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 2. Spermatogenesis.
B. Sistem Reproduksi pada Wanita (Perempuan)

1. Alat Kelamin Wanita

Alat reproduksi perempuan menyerupai juga pada laki-laki terdiri atas alat kelamin luar dan dalam organ reproduksi pada perempuan ialah ovarium. Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur (ovum).
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 3. Anatomi organ reproduksi wanita. (britannica.com)
a. Alat kelamin luar

Alat kelamin luar terdiri atas:
  1. Celah luar disebut vulva.
  2. Sepasang bibir besar atau lipatan kulit disebut juga (Labium mayora) membatasi kedua belah celah dan sepasang bibir kecil lipatan disebut (Labium minora). Di potongan depan labium minor terdapat tonjolan yang disebut klit*ris. Klit*ris merupakan suatu berkas jaringan yang peka. Klit*ris berasal dari bahasa Yunani, yang berarti sebuah bukit kecil.
  3. Di dalam vulva bermuara dua saluran, yaitu akses urin dan akses kelamin.
b. Alat Kelamin dalam

Alat kelamin dalam terdiri atas:

1) Ovarium (indung telur)

Ovarium terdapat dalam rongga tubuh di tempat pinggang, yaitu di sebelah kanan dan kiri. Dalam ovarium terdapat kelenjar endokrin dan jaringan tubuh yang menciptakan sel telur (ovum) yang disebut folikel. Sel folikel akan memproduksi sel telur pada ovarium wanita. Peristiwa pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium sehabis folikel masak disebut ovulasi. Ovulasi pada perempuan berlangsung sebulan sekali. Pada ketika folikel telur tumbuh, ovarium menghasilkan hormon estrogen, dan sehabis ovulasi menghasilkan hormon progesteron.

2) Saluran tuba fallopii

Saluran tuba fallopii atau oviduk berjumlah sepasang, di kanan dan di kiri. Saluran ini menghubungkan ovarium dengan rahim. Bagian pangkalnya berbentuk corong disebut tuba infundibulum. Tuba infundibulum ini dilengkapi dengan jumbai-jumbai yang dinamakan fimbriae. Fimbriae berfungsi menangkap sel telur yang telah masak dan lepas dari ovarium. Tuba fallopii berfungsi untuk menggerakkan ovum ke arah rahim dengan gerak peristaltik dan dengan dukungan silia.

3) Uterus (rahim)

Rahim insan mempunyai satu ruangan dan berbentuk buah pir, pada potongan bawahnya mengecil dan disebut leher rahim atau serviks uteri, potongan ujung yang besar disebut tubuh rahim atau corpus uteri. Lapisan terdalam yang membatasi rongga rahim terdiri atas jaringan epitel yang disebut endometrium atau selaput rahim. Lapisan ini menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Sebulan sekali, pada ketika menstruasi (haid) lapisan ini dilepaskan diikuti dengan pendarahan. Dinding pada rahim selalu mengalami perubahan ketebalan, insiden ini dipengaruhi hormon, di antaranya adalah:

a) Menjelang ovulasi dinding menebal, lantaran efek hormon estrogen.
b) Dinding rahim akan semakin menebal sehabis ovulasi, lantaran efek hormon progesteron.
c) Pada ketika menstruasi dinding rahim tipis kembali, lantaran dinding endometrium mengelupas. Setelah menstruasi, dinding dibuat kembali, insiden ini disebut siklus menstruasi.
d) Uterus atau rahim merupakan ruangan tempat janin menempel, tumbuh dan berkembang.

4) V*gina (liang peranakan)

V*gina ialah sebuah tabung berlapiskan otot yang membujur ke arah belakang dan atas. Dinding v*gina lebih tipis dari rahim dan banyak lipatan-Iipatan. Hal ini untuk mempermudah jalan kelahiran bayi. Selain itu, juga terdapat lendir yang dihasilkan oleh dinding v*gina dan suatu kelenjar, yaitu kelenjar barlholini.

2. Oogenesis

Oogenesis terjadi di dalam ovarium. Ovarium mengandung banyak sel induk telur (oogonium)yang bersifat diploid (2n). Oogonium tersebut akan membelah secara mitosis menjadi oosit primer. Oosit primer akan membelah secara meiosis menjadi satu oosit sekunder dan satu tubuh polar primer. Kemudian, oosit sekunder membelah secara meiosis menjadi satu ootid dan satu tubuh polar sekunder. Ootid akan mengalami pematangan menjadi sel telur (ovum), sedangkan tubuh polar sekunder akan luruh (degenerasi).

Sel telur yang telah matang akan dilepaskan oleh ovarium. Pelepasan sel telur oleh ovarium disebut ovulasi.

Di dalam ovarium terdapat banyak folikel yang merupakan pelindung dan pemberi nutrisi bagi sel telur yang sedang dibentuk. Pada proses ovulasi, folikel akan mengeluarkan sel telur. Folikel yang telah mengeluarkan sel telurnya disebut corpus luteum. Corpus luteum menyekresikan hormon estrogen dan progesteron.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 4. Oogenesis terjadi di ovarium.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 5. Proses pelepasan sel telur oleh ovarium (ovulasi). (embryology.med.unsw.edu.au).
Pada ketika dilahirkan, ovarium pada bayi perempuan mengandung 600 ribu oosit primer. Akan tetapi, hanya 400 yang akan berkembang menjadi ovum.

3. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi mengacu kepada perubahan yang muncul di dalam uterus. Rata-rata siklus menstruasi pada perempuan sekitar 28 hari. Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yaitu fase menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekretori (Campbell, 1998: 951).

Fase menstruasi merupakan fase pada ketika terjadi peluruhan dinding uterus yang menebal (endometrium). Endometrium yang luruh tersebut merupakan proses menstruasi (keluarnya darah dari v*gina). Fase menstruasi hanya terjadi dalam beberapa hari saja (4–7hari). Menstruasi menyebabkan dinding uterus menjadi tipis menyerupai semula.

Setelah 1–2 minggu, dinding uterus kembali menebal. Proses ini terjadi pada fase proliferasi. Fase terakhir dari siklus menstruasi ialah fase sekretori. Fase sekretori berlangsung selama dua minggu. Pada fase ini, endometrium semakin menebal, kaya akan pembuluh darah. Apabila tidak terjadi implantasi embrio pada endometrium, maka endometrium akan luruh. Hal ini akan mengawali terjadinya kembali siklus menstruasi.

Pada ketika terjadi siklus menstruasi, berlangsung pula siklus ovarium. Siklus ini, terdiri atas tiga fase, yaitu fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Siklus ovarium diawali oleh fase folikular. Pada fase ini, folikelfolikel pada ovarium akan tumbuh dan berkembang. Dari beberapa folikel yang tumbuh, hanya satu saja yang akan matang, sementara folikel yang lainnya akan luruh. Fase ini berakhir pada ketika sel telur dikeluarkan (ovulasi). Peristiwa ini merupakan fase ovulasi. Folikel yang telah mengeluarkan sel telur akan tetap berada di ovarium dan menjelma corpus luteum. Proses tersebut terjadi pada fase luteal.

Siklus menstruasi dan siklus ovarium sangat dipengaruhi oleh hormon. Hormon tersebut besar lengan berkuasa terhadap perkembangan folikel, ovulasi, dan penebalan dinding rahim. Terdapat lima jenis hormon yang berperan dalam siklus menstruasi dan siklus ovarium (Campbell, 1998: 951). Kelima hormon tersebut ialah Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing Hormone (LH), estrogen, dan progesteron.

Pada fase folikular dari siklus ovarium, hipotalamus akan mengeluarkan GnRH yang akan merangsang sekresi hormon FSH dan LH. FSH akan merangsang perkembangan folikel yang akan menyekresikan estrogen. LH sendiri menyebabkan terjadinya ovulasi dan pembentukan corpus luteum. Corpus luteum akan menyekresikan hormon estrogen dan progesteron. Kadar estrogen akan meningkat pada hari ke-12 siklus. Hal ini akan menyebabkan insiden ovulasi pada hari ke-14 siklus. Produksi estrogen dan progesteron akan mencapai puncaknya pada hari ke-22 siklus.

Apabila tidak terjadi pembuahan, kadar estrogen dan progesteron yang tinggi akan menghambat produksi FSH dan LH. Turunnya kadar LH akan menyebabkan luruhnya corpus luteum sehingga kadar estrogen dan progesteron pun menurun. Hal ini mengawali siklus menstruasi yang baru. Berdasarkan Gambar 6. dapatkah Anda menjelaskan kekerabatan antara siklus menstruasi, siklus ovarium, dan keadaan hormon dalam tubuh?
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Grafik 7. Grafik siklus menstruasi.
4. Fertilisasi dan Kehamilan

Kehamilan akan terjadi lantaran adanya fertilisasi. Fertilisasi merupakan proses bertemunya sel telur (ovum) dengan sel sperma. Pada manusia, sel sperma akan masuk ke dalam v*gina untuk bertemu dengan sel telur melalui proses kopulasi.

Pada lelaki normal, sperma akan dikeluarkan sebanyak 300–400 juta dalam satu kali ej*kulasi. Sel-sel sperma yang masuk ke dalam v*gina akan berenang menuju oviduct (tuba Fallopi). Apabila sel sperma bertemu dengan sel telur pada tuba Fallopi, maka akan terjadi fertilisasi (Gambar 7). Fertilisasi akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid (2n), hasil peleburan antara inti sperma dan inti sel telur.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 7. Fertilisasi terjadi di tuba Fallopi.
Dalam perjalanan menuju uterus, zigot akan mengalami pembelahan. Zigot yang mengalami pembelahan tersebut dinamakan morula. Morula tersebut akan terus mengalami pembelahan menjadi blastula. Blastula mempunyai rongga yang disebut blastosol. Pada tutup blastula, zigot akan menempel pada endometrium. Proses melekatnya zigot pada endometrium disebut implantasi.

Setelah implantasi, dimulailah proses kehamilan, secara umum, kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, yaitu trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pada trimester pertama, blastuta akan terus berkembang membentuk tiga lapisan, yaitu lapisan luar (ektoderm), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan dalam (endoderm). Tahap ini disebut gastrulasi.

Setelah itu, zigot akan mengalami organogenesis, yaitu proses pembentukan banyak sekali organ tubuh dari masing-masing lapisan. Ektoderm akan membentuk sisem saraf, kulit, mata, dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limfa, dan organ reproduksi. Endoderm akan membentuk organ-organ pernapasan dan pencernaan. Blastula yang mengalami organogenesis membentuk embrio.

Embrio tersebut mendapat nutrisi dari endometrium melalui plasenta. Pada trimester pertama, embrio akan merangsang kelenjar-kelenjar dalam dinding uterus untuk memproduksi hormon-hormon reproduksi. Salah satu hormon yang diproduksi, ialah Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Hormon ini berfungsi merangsang corpus luteum untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut akan menyebabkan dinding uterus tetap tebal yang mempunyai kegunaan sebagai implantasi dan memelihara janin. Pada trimester pertama, kadar HCG dari dalam darah ibu sangat tinggi sehingga sebagian di antaranya diekskresikan bersama urine. Adanya HCG di dalam urine sanggup digunakan sebagai indikator dalam uji kehamilan.

Pada trimester kedua, embrio tumbuh secara cepat dan aktif mencapai ukuran sekitar 30 cm. Embrio atau janin akan aktif bergerak pada trimester kedua ini. Pada periode ini, hormon HCG akan stabil dan plasenta akan menyekresikan sendiri progesteron untuk menjaga kehamilan. Pada trimester ketiga, janin akan tumbuh mencapai berat sekitar 3–3,5 kg dan panjang sekitar 50 cm. Pada periode ini, perut ibu akan kelihatan sangat membesar.

5. Kelahiran

Kehamilan berlangsung sekitar 9 bulan 10 hari. Janin sehabis mencapai usia tersebut akan siap untuk dilahirkan. Proses kelahiran diawali dengan meningkatnya hormon estrogen. Meningkatnya hormon estrogen ini akan meningkatkan kemampuan otot-otot uterus untuk berkontraksi. Selama ahad terakhir kehamilan, hormon estrogen meningkat secara pesat. Otot-otot uterus pun dipengaruhi oleh hormon oksitosin.

Kontraksi otot-otot uterus akan menekan kepala bayi menuju serviks (leher rahim). Akibatnya, serviks akan merenggang sehingga bayi keluar dari uterus. Secara bersamaan, kontraksi tersebut akan mendorong bayi menuju v*gina dan jadinya keluar dari tubuh ibu.

Pada ketika kelahiran (Gambar 8), bayi masih terhubung dengan plasenta melalui tali pusar. Ketika masih berada di dalam uterus, janin tidak perlu bernapas. Akan tetapi, sehabis keluar, bayi akan mulai bernapas.
Manusia sebagai makhluk hidup juga melaksanakan reproduksi Pintar Pelajaran Sistem Reproduksi pada Manusia
Gambar 8. Proses kelahiran bayi. (global.britannica.com)
Air susu ibu atau ASI lebih banyak diproduksi sehabis bayi lahir lantaran hormon prolaktin lebih aktif. Kelenjar susu dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

Kolostrum, cairan kuning yang disintesis dan disimpan oleh kelenjar mamae mulai dari bulan keempat atau kelima kehamilan, akan menjadi makanan pertama bagi bayi. Kolostrum kaya akan kandungan antibodi ibu, menjaga bayi dari infeksi. Kandungan proteinnya yang tinggi juga membantu mencegah diare pada bayi. Beberapa hari sehabis kelahiran, bayi yang menyusui dikombinasikan dengan hormon prolaktin merangsang sintesis ASI bahwasanya dalam payudara ibu.

Keunggulan dan manfaat menyusui sanggup dilihat dari beberapa aspek, yaitu aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis, dan aspek penundaan kehamilan.

Tabel 1. Manfaat ASI

Aspek
Kandungan
Manfaat
Gizi


Kolostrum
Immunoglobulin A; protein, vitamin A; karbohidrat; lemak rendah dan air
Kekebalan tubuh yang cukup, membantu mengeluarkan mekonium (kotoran bayi pertama)
ASI
Gizi yang sesuai dan berkualitas tinggi; perbandingan whey dan casein 65 : 35; taurin; DHA (Decosahexanic Acid); AA (Arachidonic Acid)
Pertumbuhan dan kecerdasan bayi, lebih gampang dicerna dibandingkan susu sapi
Imunologik
Ig.A; Laktoferin; Lysosim; sel darah putih, yakni Bronchus Asociated Lympocyte (BALT)/antibodi akses pernapasan dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT)/antibodi jaringan payudara ibu; faktor bifidus
Kekebalan tubuh bayi, menjaga keasaman tanaman usus bayi, dan menghambat pertumbuhan basil merugikan
Aspek
Manfaat
Psikologik
Rasa percaya diri ibu menyusui, kasih sayang terhadap bayi, interaksi antara ibu dan bayi, rasa kondusif dan kehangatan ibu memberi kepuasan bagi bayi
Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan nilai gizi ASI mengoptimalkan perkembangan sistem saraf bayi dan meningkatkan kecerdasan. Penelitian memperlihatkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI mempunyai IQ 4,3 poin lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8,3 poin lebih tinggi pada usia 8,5 tahun dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI
Neurologis
Dengan menyusui, koordinasi saraf menelan, mengisap, dan bernapas bayi sanggup lebih tepat
Ekonomis
Dengan menawarkan ASI eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya makanan bayi hingga bayi berumur 6 bulan
Penundaan kehamilan
Memberikan ASI langsung sanggup menunda haid dan kehamilan. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi alamiah yang dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL)

C. Gangguan dan Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia

Seperti halnya sistem-sistem tubuh lainnya, sistem reproduksi pada insan sanggup mengalami gangguan dan penyakit. Gangguan dan penyakit tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, menyerupai tumor, nanah virus atau bakteri, serta kelainan fisiologis pada organ reproduksi. Berikut akan dijelaskan beberapa pola gangguan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia.
  1. Endometriosis, ialah gangguan akhir adanya jaringan endometrium dari luar rahim (uterus). Kelainan ini berupa tumbuhnya jaringan endometrium pada ovarium, usus besar ataupun kandung kemih. Endometriosis menyebabkan sakit pada ketika menstruasi.
  2. Imp*tensi, ialah ketidakmampuan p*nis untuk ereksi atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini sanggup disebabkan oleh banyak sekali faktor, menyerupai gangguan produksi hormon testosteron, penyakit diabetes mellitus, kecanduan alkohol, dan gangguan sistem saraf.
  3. Prostatitis, ialah peradangan pada kelenjar prostat. Peradangan kelenjar prostat ini sanggup diikuti oleh peradangan uretra. Penderita prostatitis mempunyai gejala-gejala menyerupai sakit ketika buang air kecil.
  4. Infertilitas, ialah ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan. Pada pria, infertilitas diartikan ketidakmampuan sperma untuk membuahi ovum. Infertilitas sanggup disebabkan oleh gangguan spermatogenesis dan oogenesis, tersumbatnya akses sperma, tersumbatnya tuba Fallopi, dan gangguan pada rahim.
  5. Kanker serviks, merupakan kanker pada potongan serviks wanita, banyak menyerang perempuan di atas umur 40 tahun. Kanker serviks disebabkan oleh nanah virus herpes dan human papilloma virus.
Anda kini sudah mengetahui Sistem Reproduksi pada Manusia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Firmansyah, R. A. M. Hendrawan dan M. U. Riandi. 2009. Praktis dan Aktif Belajar Biologi 2 : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 210.

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Rachmawati, F. N. Urifah, dan A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XI Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 193.

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Sunday, November 17, 2019

Pintar Pelajaran Fakta Menarik Ihwal Ular

Fakta Menarik Tentang Ular - Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan kita perihal sikap binatang ini.

1. Ular Dapat Bertahan Hidup Selama Berbulan-bulan Tanpa Makan

Bayangkan bila Anda bisa berhenti makan selama berbulan-bulan, mengkremasi lemak,tumbuh lebih tinggi, dan tetap dalam kondisi yang baik! Marshall McCue dari University of Arkansas tidak memberi masakan kepada 62 ular jenis ratsnakes; western diamondback rattlesnakes dan ball pythons selama sekitar enam bulan, jenis-jenis ular tersebut secara umum hidup di alam liar,  kata McCue dan rekannya.

Ular mengurangi tingkat metabolisme mereka untuk bertahan hidup, beberapa ular melakukannya sampai 72 persen. Hebatnya, mereka juga  lebih usang mengkremasi cadangan lemak mereka. ”Hewan ini mempunyai prosedur pengurangan energi pada tingkat yang lebih baru,” kata McCue.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Ular derik dan dua spesies ular lainnya mengungkapkan kemampuan mereka untuk secara drastis menurunkan tingkat metabolisme mereka, suatu sifat yang belum didokumentasikan dalam vertebrata. (Foto: James Van Dyke)
“Ular mempunyai kebutuhan energi yang rendah. Kami tidak tahu kebutuhan energi tersebut bisa lebih rendah, “kata McCue.

Meskipun kekurangan makanan, ular tetap terus tumbuh. ”Bagi saya, ini memperlihatkan bahwa harus ada laba selektif yang berpengaruh untuk tumbuh lagi,” kata McCue. Dia menambahkan evolusi telah menimbulkan ular menjadi sangat efisien dalam memakai sumber daya yang tersedia dari dalam tubuh mereka sendiri.

Selama tahap pertama dari kelaparan, semua ular mengkremasi cadangan lemak mereka. Sumber energi lain yang dipakai berbeda di antara spesies ular. Ular pemangsa tikus (Rat Snake)  yang tinggal di lingkungan dengan mangsa binatang pengerat yang berlimpah, memecah protein lebih cepat dari ular piton atau ular derik.

“Penggunaan protein lebih tinggi pada ular yang tidak terbiasa kelaparan,” kata McCue.

Memahami bagaimana ular sanggup berhasil dalam  lingkungan dengan masakan yang sedikit akan menambah citra keseluruhan mengenai evolusi ular.

2. Ular Terkecil Di Dunia Berukuran Kurang Dari 10 Cm

Ular terkecil di dunia ditemukan pada tahun 2008 di Barbados, ukurannya hanya kurang dari empat inci (10 cm)  dan bentuknya ramping mirip mie spaghetti. Ular ini diberi nama Leptotyphlops carlae. ”Ukuran ular dicegah oleh seleksi alam untuk menjadi berukuran terlalu kecil sebab di bawah ukuran tertentu kemungkinan tidak ada yang sanggup dimakan oleh anak ular,” kata penemunya, Blair Hedges, hebat biologi evolusi di Penn State.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Leptotyphlops carlae (Foto : Blair Hedges, Penn State)
Hedges menganalisa materi genetis dari ular tersebut bersama dengan karakteristik fisik mirip referensi warna yang unik dan sisiknya. Hal tersebut memperlihatkan bukti bahwa ular itu memang spesies gres dari jenis threadsnake.

Ular Barbados dan kerabatnya memakan larva semut dan rayap.

L. carlae hanya menghasilkan satu keturunan pada satu waktu berupa sebuah telur ramping tunggal (beberapa ular lain melahirkan keturunan mereka). Secara umum, bayi dari ular terkecil ini berukuran setengah panjang dari ular dewasa, sementara ular terbesar dari spesies ini ada yang mempunyai bayi hanya berukuran sepersepuluh dari panjang ular dewasa.

Sebagai perbandingan, bayi dari king kobra bisa mencapai panjang 18 kaki (5,5 meter).

“Jika ular kecil itu mempunyai dua anak, setiap telur hanya sanggup menempati setengah ruang yang dikhususkan untuk reproduksi dalam tubuh,” kata Hedges. ”Apabila hal tersebut terjadi dua bayi ular tersebut akan menjadi setengah dari ukuran normal. Ukuran tersebut terlalu kecil untuk bertahan hidup di lingkungannya.”

Dia menambahkan, ”Fakta bahwa ular kecil hanya memproduksi satu telur besar tergantung pada ukuran induknya. Hal itu memperlihatkan bahwa seleksi alam mencoba menjaga ukuran bayi ular di atas batas kritis untuk bertahan hidup.”

Hedges menjelaskan spesies gres ini dalam jurnal Zootaxa edisi 4 Agustus 2008, beliau juga menemukan jenis ular gres lain yang ditemukan di pulau yang bersahabat dengan St Lucia. Spesies ular ini mempunyai ukuran yang hampir sama kecil dengan L. carlae

Penemuan ini tidak mengejutkan Hedges, yang menjelaskan bagaimana organisme unik cenderung ditemukan di pulau-pulau di mana spesies sanggup berevolusi dari waktu ke waktu untuk mengisi celah kecil dan celah yang tersedia sebagai daerah untuk hidup, atau mungkin untuk mengkonsumsi materi masakan dan sumber daya lainnya yang tidak dimakan oleh organisme lain.

3. Ular Kobra Mentarget Mata Anda

Ular kobra bersama-sama tidak benar-benar meludah. Mekanisme yang bersama-sama adalah, kontraksi otot memeras kelenjar racun kobra, memaksa racun untuk keluar dari taring ular sampai jarak 6 kaki (hampir 2 meter) jauhnya. Jika mereka menyembur mata anda, racun saraf sanggup membutakan anda dan kobra memang selalu membidik mata, para ilmuwan menemukannya pada tahun 2005.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Kobra bersama-sama tidak benar-benar meludah. Mekanisme yang bersama-sama adalah, kontraksi otot memeras kelenjar racun kobra, memaksa racun untuk keluar dari taring ular sampai jarak 6 kaki (hampir 2 meter) jauhnya. (Foto : Frank Luerweg/University of Bonn)
Tapi tunggu, masih ada lagi, racun ini dikeluarkan tidak dalam bentuk semprotan tunggal, tetapi lebih ibarat spray (semprotan yang menyebar) dengan referensi geometris, hal tersebut menciptakan racun yang dikeluarkan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengenai mata. Para ilmuwan mempelajari hal ini pada Januari 2009.

4. Ular Piton Memakan Semua Bagian Mangsanya

Ular piton Burma mempunyai gangguan makan yang besar, ular tersebut jarang makan, tetapi begitu makan, mereka melahap seluruh mangsa mereka (tulang dan semua belahan mangsanya).

“Piton remaja biasanya makan setiap minggu, sedangkan piton remaja makan setiap bulan dan bahkan bisa berhenti makan selama beberapa bulan dalam kondisi tertentu,” kata rekan penulis penelitian ini, Jean-Herv Lignot dari Louis Pasteur University di Perancis.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Ular Piton Burma (Foto : Dr. Jean-Herve Lignot)
Ular piton remaja sanggup bertahan selama berbulan-bulan tanpa makan, tetapi saat mereka makan, tidak ada yang terbuang. Ular ini telah membuatkan suatu sistem untuk menyedot kalsium dari tulang mangsanya, hal tersebut menciptakan makanannya lebih bergizi. ”Oleh sebab itu secara fisiologis mereka dalam kondisi yang baik walaupun dalam kondisi puasa yang berkepanjangan, mereka kembali memakan masakan mereka dan lebih intens dalam menyerap nutrisi,” kata Jean-Herve Lignot.

Pada penelitian ini, Lignot dan Robert Pope dari Indiana University South Bend memantau perubahan bentuk dan suhu pada usus piton Burma sebelum dan setelah makan. Segera setelah makan, replikasi dan janjkematian sel dalam jaringan usus ular meningkat dan kemudian mulai terbentuk sel-sel yang baru. Para ilmuwan menggambarkan proses tersebut sebagai renovasi dari lambung dan usus ular untuk mempersiapkan puasa dan siklus makan berikutnya.

Analisis isi perut yang dilakukan beberapa jam setelah ular makan, memperlihatkan partikel kecil yang berasal dari tulang mangsanya.

Para ilmuwan menemukan jenis sel gres yang bertanggung jawab untuk menghancurkan potongan tulang biar sanggup dicerna. Sel-sel tersebut mengurai partikel tulang sebelum melepas unsur utama pada tulang ke dalam aliran darah.

Mereka menduga, bahwa proses ini memungkinkan ular untuk mengoptimalkan peresapan kalsium dari masakan mereka.

5. Ular Mampu Terbang Sejauh 16 Meter

Jika ular pohon nirwana (Chrysopelea paradisi) ingin pergi dari satu pohon ke pohon lain tanpa naik turun, mereka terbang, lebih tepatnya mirip meluncur. Agar sanggup terbang, mereka turun dari cabang atau secara aktif melompat dari cabang untuk mendapat ketinggian sehingga sanggup meluncur lebih jauh.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Chrysopelea paradisi (Foto : livescience.com )
Mereka kemudian meratakan tubuh mereka dan menciptakan badannya berbentuk karakter  S (bergelombang) untuk menstabilkan penerbangan mereka. ”Mereka meratakan tulang rusuk mereka dan menciptakan diri mereka berbentuk mirip bola Frisbee,” terang Jake Socha dari University of Chicago.

6. Ular Derik Memakan Anaknya Sendiri

Kebanyakan induk ular derik (rattlesnake) akan memakan beberapa dari keturunan mereka yang tidak bisa bertahan hidup, para ilmuwan mempelajarinya pada Februari 2009.

Induk ular yang melaksanakan kanibalisme postpartum (pemulihan kondisi setelah melahirkan)  dalam penelitian ini mengkonsumsi sekitar 11 persen dari telur mereka dan keturunan mereka yang mati.
 Berikut ini yaitu fakta mengagumkan mengenai ular yang tentunya akan menambah wawasan ki Pintar Pelajaran Fakta Menarik Tentang Ular
Ular derik (rattlesnake) (Foto : Blair Bunting | Dreamstime.com).
Mengapa hal tersebut terjadi? “Seekor induk ular kanibal sanggup memulihkan energi yang hilang untuk reproduksi tanpa harus berburu makanan, dimana berburu merupakan acara berbahaya yang membutuhkan waktu dan mengeluarkan lebih banyak energi,” kata Estrella Mociño dan Kirk Setser, penulis utama dari penelitian studi dan seorang peneliti di University of Granada di Spanyol.

Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena Jeanna Bryner via Live Science. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Friday, October 18, 2019

Pintar Pelajaran Sel Otak Insan Berhasil Dikembangkan Di Laboratorium, Sel Eminensia Ganglionik Medial (Mge)

Sel Otak Manusia Berhasil Dikembangkan Di Laboratorium, Sel Eminensia Ganglionik Medial (MGE) - Sebuah jenis utama dari sel otak insan telah dikembangkan di laboratorium dan berhasil tumbuh dengan baik ketika ditransplantasikan ke dalam otak tikus. Temuan para peneliti dari UC San Francisco diperlukan sanggup meningkatkan impian bahwa sel-sel ini mungkin suatu hari nanti sanggup dipakai untuk mengobati orang yang menderita penyakit Parkinson, epilepsi, dan bahkan mungkin penyakit Alzheimer, serta komplikasi dari cedera tulang belakang menyerupai nyeri kronis dan spatisitas (kekakuan gila atau kontraksi tidak disengaja dari otot-otot tubuh).

"Kami berpikiran bahwa satu jenis sel ini mungkin mempunyai kegunaan untuk mengobati beberapa jenis gangguan perkembangan saraf dan neurodegeneratif dengan cara yang lebih baik," kata Arnold Kriegstein, MD, PhD, administrator Eli and Edythe Broad Center of Regeneration Medicine and Stem Cell Research di UCSF.

Para peneliti telah berhasil menghasilkan dan mentransplantasikan jenis progenitor sel saraf insan yang disebut sel eminensia ganglionik medial (MGE) pada percobaan yang dijelaskan di Jurnal Cell Stem Cell edisi 2 Mei 2013. “Pengembangan sel-sel MGE insan dalam otak tikus ini menjiplak apa yang terjadi pada perkembangan di otak manusia,” kata mereka.
Sel Otak Manusia Berhasil Dikembangkan Di Laboratorium Pintar Pelajaran Sel Otak Manusia Berhasil Dikembangkan Di Laboratorium, Sel Eminensia Ganglionik Medial (MGE)
Eminensia ganglionik medial. (Credit : Lavdas et al., 1999. The Journal of Neuroscience)
Kriegstein beranggapan bahwa sel MGE merupakan pengobatan yang potensial untuk menciptakan fungsi sirkuit saraf kontrol menjadi lebih baik. Sirkuit ini sanggup menjadi terlalu aktif bila mengalami gangguan neurologis tertentu. Tidak menyerupai sel-sel punca (induk) saraf lainnya yang sanggup membentuk banyak sekali jenis sel dan konsekuensinya berpotensi menjadi kurang terkendali, namun kebanyakan sel MGE sanggup dibatasi untuk hanya menghasilkan jenis sel yang disebut interneuron. Interneuron ini terintegrasi ke otak dan memperlihatkan penghambatan terkontrol untuk menyeimbangkan acara sirkuit saraf.

Untuk menghasilkan sel MGE di laboratorium, para peneliti telah berhasil mengarahkan diferensiasi sel punca pluripoten manusia, baik sel batang embrio insan atau sel punca pluripoten yang berasal dari kulit manusia. Kedua jenis sel punca ini  memiliki potensi yang hampir tak terbatas untuk menjadi semua jenis sel manusia. Ketika ditransplantasikan ke dalam jenis tikus yang sistem tubuhnya tidak menolak jaringan manusia, sel-sel MGE yang menyerupai sel insan tersebut berhasil tumbuh dan berkembang di dalam otak depan tikus dan terintegrasi ke dalam otak dengan membentuk relasi dengan sel saraf tikus, dan pada karenanya sehabis sel ini menjadi matang (dewasa) akan bermetamorfosis subtipe khusus interneuron.

“Temuan ini sanggup berfungsi sebagai model untuk mempelajari penyakit insan yang diakibatkan oleh kerusakan interneuron dewasa,”  kata Kriegstein. “Metode yang dipakai pada penelitian ini juga sanggup dipakai untuk menghasilkan sejumlah besar sel MGE insan dalam jumlah yang cukup untuk memulai uji klinis yang potensial masa depan,” tambahnya.

Kriegstein yaitu salah satu ketua sub penelitian dengan anggota timnya terdiri dari Arturo Alvarez-Buylla, PhD, profesor bedah saraf, UCSF, John Rubenstein, MD, PhD, profesor psikiatri UCSF, dan postdoctoral UCSF, yaitu Cory Nicholas, PhD, dan Jiadong Chen, PhD.

Nicholas memanfaatkan prosedur utama dari faktor pertumbuhan dan molekul lain untuk mengarahkan derivasi dan pematangan MGE yang menyerupai interneuron manusia. Dia mengatur waktu pengiriman faktor-faktor ini untuk membentuk jalur perkembangannya dan mengamati perkembangan yang terjadi sepanjang prosesnya. Chen memakai pengukuran elektrik untuk mempelajari sifat fisiologis dan perkembangan dari interneuron serta pembentukan sinapsis antara neuron secara cermat

Sebelumnya, para peneliti UCSF yang dipimpin oleh Allan Basbaum, PhD, ketua anatomi di UCSF, telah memakai transplantasi sel MGE tikus pada sumsum tulang belakang tikus untuk mengurangi nyeri neuropatik. Penelitian mengenai aplikasi sel tersebut di bab luar otak merupakan temuan yang sangat mengejutkan bagi banyak pihak. Saat ini, Kriegstein, Nicholas dan rekannya sedang mengeksplorasi penggunaan sel MGE insan di tikus percobaan yang menderita nyeri neuropatik dan spatisitas serta penyakit Parkinson dan epilepsi.

"Harapannya yaitu bahwa kita sanggup mengaplikasikan sel-sel ini ke banyak sekali kawasan di dalam sistem saraf yang telah terlalu aktif dan selanjutnya sel tersebut terintegrasi secara fungsional dan memperlihatkan penghambatan yang spesifik," kata Nicholas.

Para peneliti juga berencana untuk menyebarkan sel MGE dari sel induk pluripoten yang berasal dari sel kulit individu yang menderita autisme, epilepsi, skizofrenia dan penyakit Alzheimer, dengan tujuan untuk menilik bagaimana perkembangan dan fungsi interneuron yang kemungkinan mengalami abnormalitas. Hal ini sanggup memperlihatkan citra skala kecil pada setiap model kelainan yang ditarget.

Satu misteri dan tantangan untuk kedua studi klinis dan pra-klinis pada sel MGE insan yaitu bahwa sel tersebut berkembang secara lambat. Pada tikus yang perkembangannya lebih cepat dari manusia, sel-sel MGE tersebut masih butuh waktu tujuh hingga sembilan bulan untuk membentuk subtipe interneuron, padahal biasanya sel ini telah terbentuk ketika bayi mendekati kelahiran. Faktor yang mempengaruhinya kemungkinan bahwa ritme sirkadian insan dan tikus berbeda.

"Jika kita sanggup mempercepat ritme sirkadian di dalam sel manusia, maka itu akan sangat mempunyai kegunaan untuk banyak sekali aplikasi tersebut," kata Kriegstein.

Tim peneliti lainnya studi ini yaitu Yunshuo Caroline Tang, mahasiswa PhD, peneliti spesialis, Nadine Chalmers dan Christine Arnold, dan postdoctoral UCSF, Daniel Vogt, PhD, dan Ying-Jiun Chen, PhD, Stanford University neurosurgery resident, Derek Southwell, MD, PhD, profesor imunologi dan penelitian sel punca Monash University, Edouard Stanley, PhD, dan Andrew Elefanty, PhD, dan Yoshiki Sasai, PhD, dari RIKEN Center for Developmental Biology.

Penelitian ini dibiayai oleh California Institute of Regenerative Medicine, National Institutes of Health, dan Yayasan Osher. Arnold Kriegstein, Arturo Alvarez-Buylla, John Rubenstein, dan Cory Nicholas yaitu pendiri dan pemegang saham Neurona Therapeutics. Para peneliti di studi ini telah mengajukan paten dengan judul, " Produksi In Vitro Sel Prekursor Eminensia Ganglionik Medial,".

Referensi Jurnal :

Cory R. Nicholas, Jiadong Chen, Yunshuo Tang, Derek G. Southwell, Nadine Chalmers, Daniel Vogt, Christine M. Arnold, Ying-Jiun J. Chen, Edouard G. Stanley, Andrew G. Elefanty, Yoshiki Sasai, Arturo Alvarez-Buylla, John L.R. Rubenstein, Arnold R. Kriegstein. Functional Maturation of hPSC-Derived Forebrain Interneurons Requires an Extended Timeline and Mimics Human Neural Development. Cell Stem Cell, 2013; 12 (5): 573 DOI: 10.1016/j.stem.2013.04.005

Artikel ini merupakan terjemahan dari bahan yang disediakan oleh University of California, San Francisco (UCSF) via Science Daily

Wednesday, September 18, 2019

Pintar Pelajaran Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Pengaruh Samping, Overdosis

Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Efek Samping, Overdosis - Vitamin yaitu senyawa organik yang dibutuhkan oleh suatu organisme sebagai nutrisi utama pada jumlah yang terbatas [1]. Suatu senyawa kimia organik (atau beberapa senyawa kimia terkait) disebut vitamin jikalau senyawa tersebut tidak sanggup disintesis dalam jumlah yang cukup oleh suatu organisme dan harus diperoleh dari asupan makanan. Dengan demikian istilah vitamin yaitu kondisional, tergantung pada kondisi dan suatu organisme tertentu. Misalnya saja, asam askorbat (vitamin C) yaitu vitamin untuk manusia, tetapi bukan merupakan vitamin bagi kebanyakan hewan; sedangkan biotin (vitamin H) dan vitamin D diharapkan oleh insan hanya pada kondisi tertentu.
 Vitamin yaitu senyawa organik yang dibutuhkan oleh suatu organisme sebagai nutrisi utama Pintar Pelajaran Pengertian Vitamin, Sejarah, Fungsi, Manfaat, Nutrisi, Defisiensi, Kekurangan, Efek Samping, Overdosis
Gambar 1. Pil suplemen vitamin B kompleks. [63]
Melalui sebuah konvensi, vitamin dideskripsikan sebagai nutrisi baik itu esensial ataupun non-esensial menyerupai mineral untuk diet, asam lemak esensial, atau asam amino esensial (dibuthkan pada jumlah yang lebih banyak dibandingkan vitamin) maupun sejumlah besar nutrisi lainnya yang mempunyai kegunaan bagi kesehatan tetapi tidak begitu sering dibutuhkan oleh suatu organisme [2]. Saat ini ada 13 jenis vitamin yang dikenal secara luas sampai dikala ini.

Vitamin diklasifikasikan menurut acara biologis dan kimianya, bukan menurut dari strukturnya. Dengan demikian, masing-masing "vitamin" mengacu pada sejumlah senyawa vitamer yang  menunjukkan acara biologis yang berafiliasi dengan vitamin tertentu. Suatu set materi kimia tersebut dikelompokkan dalam urutan huruf yang menjadi "deskripsi generik" nama sebuah vitamin, menyerupai "vitamin A", yang mencakup senyawa retina, retinol, dan empat jenis karotenoid yang telah diketahui. Menurut definisinya, vitamer sanggup dikonversi menjadi bentuk aktif dari vitamin di dalam tubuh, dan kadang kala terjadi konversi vitamer antara satu sama lain.

Vitamin mempunyai fungsi biologis yang bervariasi. Beberapa diantaranya, menyerupai vitamin D, mempunyai fungsi menyerupai hormon, sebagai regulator dari metabolisme mineral, atau regulator dari perkembangan dan diferensiasi sel dan jaringan (seperti pada beberapa bentuk dari vitamin A). Beberapa vitamin lainnya mempunyai fungsi sebagai antioksidan (contohnya vitamin E dan C) [3]. Vitamin dengan jumlah paling besar, menyerupai vitamin B kompleks, mempunyai fungsi sebagai prekursor untuk kofaktor enzim. Fungsi ini membantu kerja enzim sebagai katalis pada metabolisme. Pada fungsi ini, vitamin kemungkinan terikat dengan berpengaruh pada enzim sebagai pecahan dari grup prostetik suatu enzim. Misalnya, biotin yaitu pecahan dari enzim yang terlibat di dalam pembuatan asam lemak. Vitamin sanggup juga tidak begitu terikat pada suatu enzim (katalis) dan hanya bertindak sebagai koenzim. Koenzim yaitu molekul yang sanggup dilepaskan dan berfungsi untuk membawa kelompok/gugus kimia atau elektron antar molekul. Misalnya, asam folat, sanggup membawa gugus metil, formil dan metilen di dalam sel. Meskipun peranan dalam membantu reaksi enzim-substrat ini merupakan fungsi terbaik dari vitamin, namun demikian fungsi vitamin lainnya juga sama pentingnya.[4]

Pada pertengahan tahun 1930-an untuk pertama kalinya vitamin B kompleks dari ekstrak yeast dan suplemen vitamin C semi sintesis dijual secara komersial. Sebelum tahun tersebut, vitamin diperoleh hanya melalui asupan kuliner dan perubahan pola makan (misalnya pada dikala animo tumbuhan tertentu) yang biasanya sangat menghipnotis jenis dan jumlah vitamin yang dikonsumsi. Namun, vitamin telah diproduksi sebagai materi kimia komoditas dan tersedia secara luas berupa multivitamin, suplemen kuliner serta dalam bentuk lainnya, baik itu semisintesis maupun sintesis semenjak pertengahan era ke-20. 

1. Jenis-Jenis Vitamin

Tabel 1. Jenis-Jenis Vitamin

Nama Vitamin
Nama senyawa Vitamer
Larut di dalam
Aturan (pria, usia 19–70)[6]
Penyakit defisiensi
Level Konsumsi Maksimum
(UL/day)[6]
Penyakit Overdosis
Sumber Makanan
Vitamin A
Retinol, retinal, dan empat jenis karotenoid termasuk beta-karoten
lemak
900 µg
Rabun senja , Hyperkeratosis, dan Keratomalacia[7]
3,000 µg
Hypervitaminosis A
Jeruk, buah berwarna kuning yang masak, sayuran, wortel, labu, gambas, bayam, hati, susu kedelai, susu
Vitamin B1
Thiamine
Air
1.2 mg
Beri-beri, Wernicke-Korsakoff syndrome
N/D[8]
Membuat ngantuk, meyebabkan relaksasi otot berlebihan pada takaran yang tinggi.[9]
Daging, oatmeal, beras merah, sayuran, kentang, hati, telur
Vitamin B2
Riboflavin
Air
1.3 mg
Ariboflavinosis
N/D

Produk susu, pisang, popcorn, kacang hijau, asparagus
Vitamin B3
Niasin, niasinamide
Air
16.0 mg
Pellagra
35.0 mg
Kerusakan hati (dosis> 2g/day)[10] and penyakit lainnya
Daging, ikan, telur, sayuran, jamur,  kacang-kacangan
Vitamin B5
Asam pantotenat
Air
5.0 mg[11]
Paresthesia
N/D
Diare, kemungkinan mual dan panas dalam [12].
Daging, brokoli, alpukat
Vitamin B6
Pyridoxine, pyridoxamine, pyridoxal
Air
1.3–1.7 mg
Anemia[13] peripheral neuropathy.
100 mg
Penurunan ofproprioception, kerusakan saraf (dosis> 100 mg / hari)
Daging, sayur, kacang-kacanga, pisang
Vitamin B7
Biotin
Air
30.0 µg
Dermatitis, enteritis
N/D

kuning telur mentah, hati, kacang, sayuran tertentu
Vitamin B9
Asam folat, asam folinik
Air
400 µg
Megaloblastic anemia dan defisiensi selama kehamilan berafiliasi dengan cacat pada  bayi,seperti cacat pada pecahan neural tube
1,000 µg
Dapat menutupi tanda-tanda kekurangan vitamin B12, dan imbas lainnya.
Sayuran hijau, pasta, roti, sereal, hati
Vitamin B12
Cyanocobalamin, hydroxycobalamin, methylcobalamin
Air
2.4 µg
Megaloblastic anemia[14]
N/D
Jerawat menyerupai ruam
Daging dan produk hewani lainnya
Vitamin C
Asam askorbat
Air
90.0 mg
Kudis
2,000 mg
Vitamin C megadosage
Buah-buahan dan sayuran, hati
Vitamin D
Cholecalciferol
lemak
10 µg[15]
Rickets dan Osteomalacia
50 µg
Hypervitaminosis D
Ikan, telur, hati, jamur
Vitamin E
Tocopherols, tocotrienols
lemak
15.0 mg
Defisiensi sangat jarang terjadi; hemolytic anemia ringan pada bayi  yang gres lahir.[16]
1,000 mg
Peningkatan terjadinya gagal jantung, hal ini terlihat di dalam satu penelitian besar secara acak [17].
Buah-buahan dan sayuran dan kacang
Vitamin K
phylloquinone, menaquinones
lemak
120 µg
Bleeding diathesis
N/D
Meningkatkan koagulasi pada pasien yang menggunakan warfarin. [18]
Sayuran berdaun hijau menyerupai bayam, kuning telur, hati

2. Epitomologi Vitamin

Vitamin berasal dari kata “vitamine”, sebuah kata beragam yang diciptakan pada tahun 1912 oleh spesialis biokimia dari Polandia berjulukan Kazimierz Funk pada dikala bekerja si Lister Institute of Perventive Medicine. Nama tersebut terdiri dari kata vital dan amine, yang berarti amina kehidupan, lantaran pada tahun 1912 diduga bahwa faktor mikronutrisi organik pada kuliner yang mencegah penyakit beri-beri dan penyakit defisiensi serupa lainnya yaitu senyawa kimia amina. Saat ini telah diketahui bahwa hal tersebut salah, sehingga kata vitamine diubah dan diperpendek menjadi vitamin.

3. Sejarah Vitamin

Nilai dari mengkonsumsi jenis kuliner tertentu untuk menjaga kesehatan telah diketahui jauh sebelum vitamin diidentifikasi. Orang-orang Mesir kuno telah mengetahui bahwa bahwa memberi makan hati pada seseorang akan membantu menyembuhkan rabun senja (night blindness), dimana penyakit ini kini telah diketahui disebabkan oleh kekurangan vitamin A [20]. Kemajuan di bidang pelayaran bahari selama masa Renaissance menimbulkan periode waktu yang usang tanpa susukan ke buah-buahan dan sayuran segar, sehingga para awak kapal pada umumnya menderita penyakit defisiensi vitamin. [21]

Pada tahun 1747, spesialis bedah dari Skotlandia berjulukan James Lind menemukan bahwa jeruk sanggup membantu mencegah penyakit kudis, penyakit yang sangat mematikan di mana kolagen tidak terbentuk dengan benar, sehingga mengakibatkan terganggunya proses penyembuhan luka, pendarahan pada gusi, sakit parah, dan ajal [20]. Pada tahun 1753, Lind menerbitkan tulisan, yang merekomendasikan menggunakan lemon dan limau untuk menghindari penyakit kudis, goresan pena tersebut kemudian diadopsi dan dipakai terhadap para kru dari British Royal Navy Laut. Hal ini mengakibatkan para pelaut dari organisasi tersebut diberi julukan Limey. Penemuan Lind tersebut, bagaimanapun juga, tidak diterima secara luas oleh suatu kelompok pada ekspedisi Arctic Royal Navy di era ke-19, di mana diyakini secara luas bahwa penyakit kudis sanggup dicegah dengan mempraktikkan kebersihan yang baik, olahraga teratur, dan memelihara moral kru dikala berada di atas kapal, bukan oleh diet kuliner segar [20]. Akibatnya, ekspedisi Kutub Utara terus diganggu oleh penyakit kudis dan penyakit defisiensi lainnya. Pada awal era ke-20, dikala Robert Falcon Scott menciptakan dua ekspedisi ke Antartika, teori medis yang berlaku pada dikala itu yaitu penyakit kudis yang disebabkan oleh kuliner kaleng yang "tercemar" [20].

Pada selesai era ke-18 dan awal era ke-19, penggunaan teknik deprivasi memungkinkan para ilmuwan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi sejumlah vitamin. Lemak dari minyak ikan dipakai untuk menyembuhkan rakhitis pada tikus dan nutrisi berupa lemak terlarut tersebut disebut “antirachitic A”. Oleh lantaran itu, bioaktivitas vitamin yang pertama kali diisolasi dan berhasil menyembuhkan rakhitis pada tikus pada awalnya disebut vitamin A; akan tetapi bioaktivitas dari senyawa ini kini disebut vitamin D [22] . Pada tahun 1881, spesialis bedah rusia berjulukan Nikolai Lunin mempelajari imbas dari kudis selama berada di University of Tartu (saat ini universitas ini berada di Estonia) [23]. Dia memberi makan anak tikus dengan adonan buatan terpisah dari semua unsur yang terkandung di dalam susu berupa; protein, lemak, karbohidrat dan garam. Anak tikus yang hanya diberi salah satu unsur individual tertentu dari susu meninggal, sementara anak tikus yang diberi susu dengan semua kandungan unsur berkembang secara normal. Lunin menciptakan kesimpulan bahwa kuliner alami menyerupai susu harus mengandung sejumlah substansi esensial kehidupan [23]. Namun, kesimpulan tersebut ditolak oleh peneliti lainnya ketika mereka tidak sanggup menghasilkan hasil yang sama. Salah satu perbedaan adalah, Lunin menggunakan gula susu berupa sukrosa, sedangkan peneliti lain menggunakan gula susu (laktosa) yang masih mengandung sejumlah kecil vitamin B. 

Di Asia timur, pada dikala nasi yang dipoles (buatan) menjadi kuliner pokok utama, muncul penyakit endemik berupa beri-beri akhir kekurangan vitamin B1. Pada tahun 1884, Takaki Kanehiro, seorang dokter medis yang terlatih di Inggris dan bekerja pada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, mengamati bahwa beri-beri menjadi endemik diantara para kru kapal yang berpangkat rendah, para kru tersebut kebanyakan hanya makan nasi. Sedangkan para kru berpangkat tinggi yang mempunyai pola makan Western tidak mengalami penyakit tersebut. Dengan dukungan dari angkatan bahari Jepang, ia bereksperimen menggunakan awak dari dua kapal perang, para kru dari salah satu kapal hanya diberi makan nasi putih, sementara yang lain diberi makan berupa  daging, ikan, gandum, beras, dan kacang-kacangan. Pada kelompok yang hanya memakan nasi putih dilaporkan bahwa, 161 awaknya menderita beri-beri dan 25 orang mengalami kematian, sedangkan pada kelompok kedua hanya terjadi 14 masalah beri-beri dan tidak ada kematian. Takaki dan Angkatan Laut Jepang meyakini bahwa, diet/pola makan yaitu penyebab beri-beri, namun ia salah meyakini bahwa jumlah protein yang cukup sanggup mencegah beri-beri [24]. Hal ini kemudian diteliti lebih lanjut oleh Christiaan Eijkman, yang pada tahun 1897 menemukan bahwa memberi makan ayam dengan beras alami dan bukan dengan beras yang sudah dipoles (buatan) sanggup membantu mencegah timbulnya penyakit beri-beri pada ayam. Pada tahun berikutnya, Frederick Hopkins mengumumkan bahwa, beberapa kuliner mengandung "faktor aksesori" (di samping protein, karbohidrat, lemak dan lain-lain) yang diharapkan untuk mendukung fungsi badan insan [20]. Hopkins dan Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Physiology or Medicine pada tahun 1929 untuk beberapa vitamin yang mereka temukan.[25] 

Pada tahun 1910, vitamin kompleks pertama berhasil diisolasi oleh ilmuwan Jepang berjulukan Umetaro Suzuki. Dia berhasil mengekstrak sebuah mikronutrien kompleks yang larut di air dari dedak padi dan menamakannya asam aberik (yang dikala ini diberi nama Orizanin). Dia menerbitkan penemuannya ini dalam jurnal ilmiah Jepang. [26] Ketika artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, terjemahan tersebut gagal untuk menyatakan bahwa itu yaitu nutrisi yang gres ditemukan, oleh lantaran itu penemuannya gagal untuk mendapatkan publisitas. Pada tahun 1912, spesialis biokimia dari Polandia berjulukan Casimir Funk berhasil mengisolasi biokimia mikronutrien kompleks yang sama dan mengusulkan senyawa kompleks tersebut diberi nama "vitamine" (kata ini berasal dari kata  "vital amine amina", nama ini disarankan oleh Max Nierenstein, teman dari Casimir Funk dan pembaca Biokimia di Universitas Bristol [27]) [28]. Nama “vitamine” tersebut segera menjadi identik dengan '"faktor aksesori" yang dicetuskan oleh Hopkins, yang pada dikala itu memperlihatkan bahwa tidak semua vitamin yaitu amina, akan tetapi kata vitamine sudah terlanjur tersebar luas. Pada tahun 1920, Jack Cecil Drummond mengusulkan bahwa akhiran "e" pada kata “vitamine” dihilangkan untuk menghilangkan artian "amina", penamaan ulang tersebut dilakukan sesudah para peneliti mulai curiga bahwa tidak semua "vitamines" (khususnya, vitamin A) mempunyai komponen amina [24].

Pada tahun 1930, Paul Karrer mengelusidasi struktur yang sempurna untuk beta-karoten, yang merupakan prekursor utama vitamin A dan berhasil mengidentifikasi beberapa jenis karotenoid lainnya. Karrer dan Norman Haworth mengkonfirmasi inovasi Albert Szent-Györgyi wacana asam askorbat dan menciptakan bantuan yang signifikan terhadap senyawa kimia flavin, hal ini mempelopori identifikasi laktoflavin. Penemuan mereka mengenai karotenoid, flavin, vitamin A dan B2, berhasil menciptakan mereka berdua mendapatkan Hadiah Nobel di bidang Kimia pada tahun 1937 [29].

Pada tahun 1931, Albert Szent-Györgyi dan sesama rekan penelitinya, Joseph Svirbely, menduga bahwa "asam heksuronik" gotong royong yaitu vitamin C, dan memperlihatkan sampel tersebut kepada Charles Glen King, yang kemudian menerangkan adanya acara anti-scorbutic pada kelinci percobaan. Pada tahun 1937, Szent-Györgyi dianugerahi Penghargaan Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran untuk penemuannya. Pada tahun 1943, Edward Adelbert Doisy dan Henrik Dam dianugerahi Penghargaan Nobel  di bidang Fisiologi atau Kedokteran untuk inovasi mereka berupa vitamin K dan struktur kimianya. Pada tahun 1967, George Wald dianugerahi Hadiah Nobel (bersama dengan Ragnar Granit dan Haldan Keffer Hartline) untuk inovasi bahwa vitamin A sanggup berpartisipasi secara pribadi dalam proses fisiologis. [25]

4. Vitamin Pada Manusia

Vitamin diklasifikasikan menjadi dua jenis; yaitu vitamin yang larut dalam air dan larut dalam lemak. Pada insan ada 13 jenis vitamin; vitamin A, D, E dan K (larut dalam lemak); 8 jenis vitamin B serta vitamin C (larut dalam air). Vitamin yang larut dalam air sanggup dengan gampang larut oleh air dan secara umum sanggup dikeluarkan dari badan dengan cepat, oleh lantaran itu urin merupakan salah satu faktor yang sanggup memprediksi jumlah konsumsi vitamin [31]. Sejumlah besar jenis vitamin yang larut dalam air merupakan hasil sintesis basil [32]. Vitamin yang larut dalam lemak diserap melalui saluran pencernaan dengan pinjaman lipid (lemak). Oleh lantaran vitamin jenis ini lebih sering terakumulasi di dalam tubuh, vitamin jenis ini cenderung menjadi penyebab hipervitaminosis, bila dibandingkan dengan vitamin yang larut dalam air. Regulasi vitamin yang larut dalam lemak sangatlah penting, khususnya terkait dengan cystic fibrosis.[33]

5. Vitamin sebagai Nutrisi

Vitamin sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang normal bagi organisme multiseluler. Dengan menggunakan kode genetik yang diwariskan dari orang tua, perkembangan janin mulai terjadi pada dikala pembuahan, melalui nutrisi yang diserapnya. Proses tersebut membutuhkan vitamin dan mineral tertentu yang harus tersedia pada waktu tertentu. Nutrisi ini memfasilitasi reaksi kimia yang menghasilkan; kulit, tulang, dan otot. Jika ada kekurangan serius pada satu nutrisi atau lebih, anak sanggup mengalami penyakit defisiensi. Bahkan defisiensi yang bersifat minor/kecil sanggup mengakibatkan kerusakan permanen [34].

Sebagian besar vitamin diperoleh melalui makanan, dan hanya sedikit yang diperoleh dengan cara lain. Sebagai contoh, mikroorganisme di dalam usus (umumnya dikenal sebagai "gut flora") sanggup memproduksi vitamin K dan biotin, sementara salah satu bentuk vitamin D disintesis di kulit dengan pinjaman dari panjang gelombang ultraviolet alami sinar matahari. Manusia sanggup menghasilkan beberapa vitamin dari prekursor yang mereka konsumsi. Misalnya, vitamin A yang dihasilkan dari beta karoten dan niasin yang berasal dari asam amino triptofan [6].

Setelah pertumbuhan dan perkembangan berakhir, vitamin tetap menjadi nutrisi yang penting untuk pemeliharaan kesehatan sel-sel, jaringan, dan organ yang membentuk sebuah organisme multiseluler. Vitamin juga sanggup memungkinkan suatu bentuk kehidupan multiseluler untuk lebih efisien dalam menggunakan energi kimia yang disediakan oleh kuliner yang dikonsumsi, dan untuk membantu memproses protein, karbohidrat, dan lemak yang diharapkan untuk respirasi [3].

6. Pengaruh Memasak Pada Kandungan Vitamin

Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase rata-rata kehilangan kandungan vitamin pada materi kuliner umum menyerupai sayur, daging atau ikan sesudah dimasak.

Tabel 2. Pengaruh Memasak Pada Kandungan Vitamin

Vitamin
C
B1
B2
B3
B5
B6
Folat
B12
A
E
Rata-rata % kehilangan
16
26
−3
18
17
3
20
 ?
11
11

Perlu dicatat bahwa beberapa jenis vitamin justru sanggup terbentuk dan sanggup dipakai oleh badan pada dikala dikukus atau dimasak.[35]

Tabel di bawah ini memperlihatkan imbas panas pada dikala merebus, mengkukus, memasak, dan faktor-faktor lainnya terhadap banyak sekali jenis vitamin. Pengaruh pemotongan sayuran sanggup dilihat dari paparan udara dan cahaya terhadap sayuran. Vitamin larut air menyerupai vitamin B dan C meresap ke dalam air ketika sayuran direbus.

Tabel 3. Efek panas terhadap vitamin

Vitamin
Larut dalam air
Paparan terhadap Udara
Paparan terhadap Cahaya
Paparan terhadap Panas
Vitamin A
tidak
sebagian
sebagian
Relatif stabil
Vitamin C
Sangat tidak stabil
iya
iya
iya
Vitamin D
tidak
tidak
tidak
tidak
Vitamin E
tidak
iya
iya
iya
Vitamin K
tidak
tidak
iya
tidak
Thiamine (B1)
Sangat tinggi
tidak
 ?
> 100°C
Riboflavin (B2)
sedikit
tidak
Dalam bentuk larutan
tidak
Niacin (B3)
iya
tidak
tidak
tidak
Pantothenic Acid (B5)
Lumayan stabil
 ?
 ?
iya
Vitamin B6
iya
 ?
iya
 ?
Biotin (B7)
sedikit
 ?
 ?
tidak
Folic Acid (B9)
iya
 ?
Pada dikala kering
Pada suhu tinggi
Vitamin B12
iya
 ?
iya
tidak


7. Defisiensi / Kekurangan Vitamin

Manusia harus mengkonsumsi vitamin secara terpola tetapi dengan waktu yang berbeda, untuk menghindari defisiensi / kekurangan vitamin. Tubuh insan menyimpan banyak sekali jenis vitamin yang sangat bervariasi, yaitu; vitamin A, D, dan B12, yang disimpan dalam jumlah banyak di dalam badan manusia, terutama pada hati, [16] sedangkan pola makan insan pintar balig cukup akal sanggup mengakibatkan mereka mengalami kekurangan vitamin A dan D selama berbulan-bulan dan dalam beberapa masalah vitamin B12 selama bertahun-tahun, sebelum terjadinya kondisi defisiensi. Namun, vitamin B3 (niasin dan niasinamid) tidak disimpan di dalam badan insan pada jumlah yang banyak, sehingga penyimpanan vitamin di dalam badan hanya berlangsung selama beberapa ahad [7] [16]. Sedangkan untuk vitamin C, tanda-tanda pertama berupa penyakit kudis pada suatu studi percobaan mengenai kurangnya vitamin C pada insan sangat bervariasi, sanggup terjadi selama sebulan sampai lebih dari enam bulan, tergantung pada sejarah pola makan sebelumnya yang memilih cadangan kandungan vitamin C di dalam badan [37].

Kekurangan/defisiensi vitamin sanggup diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu; primer dan  sekunder. Kekurangan utama/ primer terjadi ketika organisme tidak mendapatkan cukup vitamin di dalam kuliner yang dikonsumsi. Sedangkan kekurangan sekunder terjadi lantaran gangguan fundamental yang mencegah dan membatasi absorpsi atau penggunaan vitamin lantaran "faktor gaya hidup", menyerupai merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, atau penggunaan obat-obatan yang mengganggu absorpsi atau penggunaan vitamin [16]. Orang yang sering mengkonsumsi kuliner yang bervariasi mustahil menderita kekurangan/defisiensi primer vitamin yang parah. Sebaliknya, diet ketat mempunyai potensi untuk mengakibatkan defisit vitamin berkepanjangan, sehingga hal ini sanggup sering menimbulkan penyakit parah dan berpotensi mematikan.

Beberapa jenis penyakit yang sudah dikenal akhir dari defisiensi vitamin adalah; tiamin (beri-beri), niasin (pellagra), vitamin C (kudis), dan vitamin D (rakhitis). Pada banyak negara maju, masalah kekurangan vitamin menyerupai itu jarang terjadi, lantaran disebabkan oleh (1) pasokan yang cukup dari kuliner dan (2) penambahan vitamin dan mineral pada kuliner yang dikonsumsi secara umum, sering disebut fortifikasi [6] [16]. Beberapa bukti juga menyimpulkan kekerabatan antara kekurangan vitamin dengan sejumlah gangguan yang berbeda [38] [39].

8. Efek Samping dan Overdosis Vitamin

Pada takaran yang besar, beberapa jenis vitamin telah diketahui mempunyai imbas samping yang cenderung lebih parah seiring dengan takaran yang lebih besar. Kemungkinan mengkonsumsi terlalu banyak vitamin dari kuliner yang dikonsumsi tidak pernah terjadi, tapi overdosis (keracunan vitamin) dari suplemen vitamin sering terjadi. Pada takaran cukup tinggi, beberapa vitamin mengakibatkan imbas samping menyerupai mual, diare dan muntah [7] [40]. Pada dikala muncul imbas samping, pemulihan sering dilakukan dengan mengurangi takaran vitamin. Dosis vitamin berbeda-beda pada tiap individu lantaran bervariasinya toleransi tiap individu, toleransi tersebut sepertinya terkait dengan usia dan keadaan kesehatan [41].

Pada tahun 2008, paparan overdosis dari semua jenis formulasi vitamin dan multivitamin-mineral telah dilaporkan oleh 68.911 individu kepada American Association of Poison Control Center (hampir 80% dari paparan tersebut terjadi pada anak di bawah usia 6 tahun), hal ini mengarah ke 8 penyakit utama yang mengancam jiwa, tetapi tidak ada ajal [42].

Dibandingkan dengan vitamin, mineral esensial jauh lebih gampang dan lebih berbahaya untuk terjadi overdosis (dalam jumlah proporsional, dan terutama melalui suplemen). 

9. Suplemen

Suplemen diet, sering mengandung vitamin, yang dipakai untuk memastikan bahwa cukup nutrisi yang diperoleh badan setiap harinya, jikalau jumlah yang optimal dari nutrisi tidak sanggup diperoleh melalui kuliner yang bervariasi. Beberapa penelitian ilmiah telah terbukti mendukung manfaat dari beberapa suplemen vitamin untuk kondisi kesehatan tertentu, tetapi masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kesehatan lainnya [43]. Pada beberapa kasus, suplemen vitamin mungkin mempunyai imbas yang tidak diinginkan contohnya seperti; dikonsumsi sebelum operasi, dikonsumsi dengan suplemen diet atau obat-obatan lainnya, atau jikalau orang yang mengkonsumsinya mempunyai kondisi kesehatan tertentu [43]. Suplemen diet juga mengandung kadar/dosis vitamin yang berkali lipat lebih tinggi, dan dalam bentuk yang berbeda bila dibandingkan  dengan yang diperoleh melalui kuliner [44].

Sudah ada beberapa penelitian yang mempelajari pentingnya suplemen diet. Sebuah meta-analisis yang dipubilkasikan pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa, suplemen vitamin A dan E tidak memperlihatkan manfaat kesehatan yang kasatmata bagi individu yang sehat, tetapi justru meningkatkan mortalitas, meskipun dua penelitian besar yang tercakup dalam analisis ini melibatkan perokok. Selain itu diketahui bahwa, suplemen beta-karoten juga sanggup mempunyai imbas yang berbahaya bagi kesehatan [45][46][47]. Penelitian lainnya yang diterbitkan pada bulan Mei 2009 menemukan bahwa, antioksidan seperti; vitamin C dan E mempunyai kemungkinan mengurangi manfaat dari berolahraga [48]. Beberapa penelitian lainnya memperlihatkan toksisitas vitamin E yang terbatas pada salah satu bentuk spesifiknya yang dikonsumsi secara berlebihan [49]. Sebuah percobaan double-blind yang diterbitkan pada tahun 2011 menemukan bahwa vitamin E meningkatkan risiko kanker prostat pada laki-laki sehat [50]. Konflik kepentingan pada penelitian ini mengungkapkan bahwa penelitian mempunyai kekerabatan dengan ambisi perusahaan farmasi menyerupai Merck, Pfizer, Sanofi-Aventis, AstraZeneca, Abbott, GlaxoSmithKline, Janssen, Amgen, Firmagon, dan Novartis [51]. Penelitian lain yang tidak terlibat dalam konflik kepentingan tersebut justru menemukan hal sebaliknya, dimana suplemen vitamin E justru mengurangi risiko kanker prostat [52] dan meningkatkan kelangsungan hidup rata-rata para penderita kanker prostat [53].

10. Peraturan Pemerintah Mengenai Vitamin dan Suplemen

Sebagian besar negara menempatkan suplemen kuliner dalam kategori khusus di bawah pecahan pangan, bukan obat. Hal ini menuntut produsen bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produk-produk suplemen kuliner tersebut kondusif sebelum dipasarkan. Peraturan mengenai suplemen bervariasi pada tiap-tiap  negara. Di Amerika Serikat, suplemen kuliner diatur oleh Dietary Supplement Health and Education Act  tahun 1994 [54]. Selain itu, Food and Drug Administration menggunakan Adverse Event Reporting System untuk memantau imbas samping yang terjadi akhir konsumsi suplemen [55]. Di Uni Eropa, Food Supplements Directive mensyaratkan bahwa hanya suplemen-suplemen yang telah terbukti kondusif sanggup dijual tanpa resep dokter. [56]

11. Klasifikasi Ulang Nama-Nama Vitamin

Alasan kenapa tidak ada nama vitamin dari F-J yaitu lantaran nama vitamin tersebut selalu diklarifikasi ulang seiring waktu, dimana terjadi kesalahan identifikasi atau diberi penamaan kembali lantaran mempunyai kekerabatan dengan B sehingga dimasukkan di dalam vitamin B kompleks.

Daftar Nama Vitamin yang Dilasifikasi Ulang
Nama sebelumnya
Nama kimia
Alasan penggantian nama [57]
Vitamin B4
Adenin
DNA metabolit (produk hasil dari metabolisme DNA); disintesis di dalam tubuh
Vitamin B8
Asam adenilik
DNA metabolit; disintesis di dalam tubuh
Vitamin F
Asam lemak esensial
Dibutuhkan dalam jumlah yang besar (tidak sesuai definisinya sebagai sebuah vitamin).
Vitamin G
Riboflavin
Diklasifikasi kembali sebagai  Vitamin B2
Vitamin H
Biotin
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B7
Vitamin J
Catechol, Flavin
Catechol bersifat non-esensial; flavin Diklasifikasi kembali sebagai vitamin B2
Vitamin L1[58]
Asam antralinik
Non-esensial
Vitamin L2[58]
RNA metabolite (produk hasil dari metabolisme RNA); disintesis di dalam badan  
Vitamin M
Asam folat
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B9
Vitamin O
Karnitin
Disintesis di dalam tubuh
Vitamin P
Flavonoid
Tidak lagi diklasifikasikan sebagai vitamin
Vitamin PP
Niasin
Diklasifikasi kembali sebagai Vitamin B3
Vitamin S
Asam Salisilat
Senyawa ini diusulkan dimasukkan ke dalam salicylate sebagai mikronutrisi esensial [59]
Vitamin U
S-Methylmethionine
Protein metabolit (produk hasil dari metabolisme protein); disintesis di dalam tubuh

Seorang ilmuwan German mengisolasi dan mendeskripsikan vitamin K, memberi nama vitamin K lantaran vitamin ini berafiliasi dengan proses koagulasi darah yang terjadi pada dikala insan mengalami luka. Pada masa itu huruf F-J sudah terpakai sehingga penamaan dengan menggunakan huruf K dinilai cukup beralasan.[57][60]. Tabel diatas memperlihatkan jenis-jenis senyawa kimia yang telah diklarifikasi sebagai vitamin, begitu juga dengan nama-nama vitamin yang kemudian diklasifikasikan ke dalam vitamin B-kompleks.

12. Anti Vitamin

Antivitamin yaitu senyawa kimia yang menghambat absorpsi atau kinerja suatu vitamin. Misalnya saja, avidin yaitu protein pada putih telur yang menghambat absorpsi biotin [61] Pyrithiamine hampir sama dengan thiamine dan vitamin B1, senyawa ini menghambat enzim-enzim yang menggunakan thiamine dalam proses kerjanya [62].

Referensi :
  1. Lieberman, S and Bruning, N (1990). The Real Vitamin & Mineral Book. NY: Avery Group, 3, ISBN 0-89529-769-8
  2. Maton, Anthea; Jean Hopkins, Charles William McLaughlin, Susan Johnson, Maryanna Quon Warner, David LaHart, Jill D. Wright (1993). Human Biology and Health. Englewood Cliffs, New Jersey, USA: Prentice Hall. ISBN 0-13-981176-1. OCLC 32308337.
  3. Bender, David A. (2003). Nutritional biochemistry of the vitamins. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-80388-5.
  4. Bolander FF (2006). "Vitamins: not just for enzymes". Curr Opin Investig Drugs 7 (10): 912–5. PMID 17086936.
  5. Kutsky, R.J. (1973). Handbook of Vitamins and Hormones. New York: Van Nostrand Reinhold, ISBN 0-442-24549-1
  6. Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001.
  7. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin A. Dietary-supplements.info.nih.gov (2013-06-05). Retrieved on 2013-08-03.
  8. N/D= "Amount not determinable due to lack of data of adverse effects. Source of intake should be from food only to prevent high levels of intake" (Lihat Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  9. "Thiamin, vitamin B1: MedlinePlus Supplements". U.S. Department of Health and Human Services, National Institutes of Health.
  10. Hardman, J.G. et al., ed. (2001). Goodman and Gilman's Pharmacological Basis of Therapeutics (10th ed.). p. 992. ISBN 0071354697.
  11. Plain type indicates Adequate Intakes (A/I). "The AI is believed to cover the needs of all individuals, but a lack of data prevent being able to specify with confidence the percentage of individuals covered by this intake" (see Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  12. "Pantothenic acid, dexpanthenol: MedlinePlus Supplements". MedlinePlus. Retrieved 5 October 2009.
  13. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin B6. Dietary-supplements.info.nih.gov (2011-09-15). Retrieved on 2013-08-03.
  14. Vitamin and Mineral Supplement Fact Sheets Vitamin B12. Dietary-supplements.info.nih.gov (2011-06-24). Retrieved on 2013-08-03.
  15. Value represents suggested intake without adequate sunlight exposure (Lihat Dietary Reference Intakes: Vitamins. The National Academies, 2001).
  16. The Merck Manual: Nutritional Disorders: Vitamin Introduction
  17. Gaby, Alan R. (2005). "Does vitamin E cause congestive heart failure?". Townsend Letter for Doctors and Patients.
  18. Rohde LE, de Assis MC, Rabelo ER (2007). "Dietary vitamin K intake and anticoagulation in elderly patients". Curr Opin Clin Nutr Metab Care 10 (1): 1–5. doi: 10.1097/MCO.0b013e328011c46c. PMID 17143047.
  19. Iłowiecki, Maciej (1981). Dzieje nauki polskiej. Warszawa: Wydawnictwo Interpress. p. 177. ISBN 83-223-1876-6.
  20. Jack Challem (1997). "The Past, Present and Future of Vitamins"
  21. Jacob, RA. (1996). "Three eras of vitamin C discovery". Subcell Biochem. Subcellular Biochemistry 25: 1–16. doi:10.1007/978-1-4613-0325-1_1. ISBN 978-1-4613-7998-0. PMID 8821966.
  22. Bellis, Mary. Vitamins – Production Methods The History of the Vitamins. Retrieved 1 February 2005.
  23. 1929 Nobel lecture. Nobelprize.org. Retrieved on 2013-08-03.
  24. Rosenfeld, L. (1997). "Vitamine—vitamin. The early years of discovery". Clin Chem 43 (4): 680–5. PMID 9105273.
  25. Carpenter, Kenneth (22 June 2004). "The Nobel Prize and the Discovery of Vitamins". Nobelprize.org. Retrieved 5 October 2009.
  26. Suzuki, U., Shimamura, T. (1911). "Paul Karrer-Biographical. Retrieved 08-01-2013.
  27. Fukuwatari T, Shibata K (2008). "Urinary water-soluble vitamins and their metabolite contents as nutritional markers for evaluating vitamin intakes in young Japanese women". J. Nutr. Sci. Vitaminol. 54 (3): 223–9. doi: 10.3177/jnsv.54.223. PMID 18635909.
  28. Bellows, L. and Moore, R. "Water-Soluble Vitamins". Colorado State University. Retrieved 2008-12-07.
  29. Said HM, Mohammed ZM (2006). "Intestinal absorption of water-soluble vitamins: an update". Curr. Opin. Gastroenterol. 22 (2): 140–6. doi: 10.1097/01.mog.0000203870.22706.52. PMID 16462170.
  30. Maqbool A, Stallings VA (2008). "Update on fat-soluble vitamins in cystic fibrosis". Curr Opin Pulm Med 14 (6): 574–81. doi: 10.1097/MCP.0b013e3283136787. PMID 18812835.
  31. Gavrilov, Leonid A. (10 February 2003) Comparison of Vitamin Levels in Raw Foods vs. Cooked Foods. Beyondveg.com. Retrieved on 2013-08-03.
  32. Effects of Cooking on Vitamins (Table). Beyondveg.com. Retrieved on 2013-08-03.
  33. Pemberton, J. (2006). "Medical experiments carried out in Sheffield on conscientious objectors to military service during the 1939–45 war". International Journal of Epidemiology 35 (3): 556–8. doi: 10.1093/ije/dyl020. PMID 16510534.
  34. Lakhan, SE; Vieira, KF (2008). "Nutritional therapies for mental disorders". Nutrition journal 7: 2. doi: 10.1186/1475-2891-7-2. PMC 2248201. PMID 18208598.
  35. Boy, E.; Mannar, V.; Pandav, C.; de Benoist, B.; Viteri, F.; Fontaine, O.; Hotz, C. (2009). "Achievements, challenges, and promising new approaches in vitamin and mineral deficiency control". Nutr Rev 67 (Suppl 1): S24–30. doi: 10.1111/j.1753-4887.2009.00155.x. PMID 19453674.
  36. Institute of Medicine. Food and Nutrition Board. Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Zinc. National Academy Press, Washington, DC, 2001.
  37. Healthier Kids. Section: What to take and how to take it.
  38. Bronstein, AC; et al. (2009). "2008 Annual Report of the American Association of Poison Control Centers' National Poison Data System (NPDS): 26th Annual Report" (PDF). Clinical Toxicology 47 (10): 911–1084. doi: 10.3109/15563650903438566. PMID 20028214.
  39. Use and Safety of Dietary Supplements. NIH office of Dietary Supplements.
  40. Higdon, Jane (2011). Vitamin E recommendations at Linus Pauling Institute's Micronutrient Information Center.
  41. Bjelakovic, Goran; Nikolova, D; Gluud, LL; Simonetti, RG; Gluud, C (2007). "Mortality in Randomized Trials of Antioxidant Supplements for Primary and Secondary Prevention: Systematic Review and Meta-analysis". JAMA 297 (8): 842–57. doi: 10.1001/jama.297.8.842. PMID 17327526.
  42. "Antioxidant Supplements and Mortality". JAMA 298 (4): 400. 2007. doi: 10.1001/jama.298.4.401-a.
  43. "Antioxidant Supplements and Mortality—Reply". JAMA 298 (4): 400. 2007. doi: 10.1001/jama.298.4.402.
  44. Wade, Nicholas (12 May 2009). "Vitamins Found to Curb Exercise Benefits". The New York Times. Retrieved 9 April 2010.
  45. Sen, Chandan K.; Khanna, Savita; Roy, Sashwati (2006). "Tocotrienols: Vitamin E beyond tocopherols". Life Sciences 78 (18): 2088–98. doi: 10.1016/j.lfs.2005.12.001. PMC 1790869. PMID 16458936.
  46. Klein, Eric A.; Thompson Jr, IM; Tangen, CM; Crowley, JJ; Lucia, MS; Goodman, PJ; Minasian, LM; Ford, LG et al. (2011). "Vitamin E and the Risk of Prostate Cancer: The Selenium and Vitamin E Cancer Prevention Trial (SELECT)". JAMA 306 (14): 1549–56. doi: 10.1001/jama.2011.1437. PMID 21990298
  47. Klein, E. A.; Thompson Jr, I. M.; Tangen, C. M.; Crowley, J. J.; Lucia, M. S.; Goodman, P. J.; Minasian, L. M.; Ford, L. G.; Parnes, H. L.; Gaziano, J. M.; Karp, D. D.; Lieber, M. M.; Walther, P. J.; Klotz, L.; Parsons, J. K.; Chin, J. L.; Darke, A. K.; Lippman, S. M.; Goodman, G. E.; Meyskens Jr, F. L.; Baker, L. H. (2011). "Vitamin E and the Risk of Prostate Cancer – the Selenium and Vitamin E Cancer Prevention Trial". JAMA: the Journal of the American Medical Association 306 (14): 1549–1556. doi: 10.1001/jama.2011.1437. PMID 21990298. edit Section "Conflict of Interest Disclosures".
  48. Heinonen, O. P.; Albanes, D.; Virtamo, J.; Taylor, P. R.; Huttunen, J. K.; Hartman, A. M.; Haapakoski, J.; Malila, N.; Rautalahti, M.; Ripatti, N.; Mäenpää, M.; Teerenhovi, S.; Koss, H.; Virolainen, L.; Edwards, M. (1998). "Prostate cancer and supplementation with alpha-tocopherol and beta-carotene: Incidence and mortality in a controlled trial". Journal of the National Cancer Institute 90 (6): 440–446. doi: 10.1093/jnci/90.6.440. PMID 9521168.
  49. Watters, J. L.; Gail, M. H.; Weinstein, S. J.; Virtamo, J.; Albanes, D. (2009). "Associations between  -Tocopherol,  -Carotene, and Retinol and Prostate Cancer Survival". Cancer Research 69 (9): 3833–3841. doi: 10.1158/0008-5472.CAN-08-4640. PMC 2787239. PMID 19383902.
  50. Legislation. Fda.gov (2009-09-15). Retrieved on 2010-11-12.
  51. Adverse Event Reporting System (AERS). Fda.gov (2009-08-20). Retrieved on 2010-11-12.
  52. not EUR-Lex – 32002L0046 – EN. Eur-lex.europa.eu. Retrieved on 2010-11-12.
  53. Bennett, David. Every Vitamin Page. All Vitamins and Pseudo-Vitamins.
  54. Davidson, Michael W. (2004). Anthranilic Acid (Vitamin L). Florida State University. Retrieved 20-02-07.
  55. Abbasi, Kamran (2003). "Rapid Responses to: Aspirin protects women at risk of pre-eclampsia without causing bleeding". British Medical Journal 327 (7424): 7424. doi: 10.1136/bmj.327.7424.0-h.
  56. Vitamins and minerals – names and facts. pubquizhelp.34sp.com
  57. Roth KS (1981). "Biotin in clinical medicine—a review". Am. J. Clin. Nutr. 34 (9): 1967–74. PMID 6116428.
  58. Rindi G, Perri V (1961). "Uptake of pyrithiamine by tissue of rats". Biochem. J. 80 (1): 214–6. PMC 1243973. PMID 13741739.
  59. http://en.wikipedia.org/wiki/File:B_vitamin_supplement_tablets.jpg
Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh wikipedia berjudul vitamin.

Anda kini sudah mengetahui vitamin. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.