Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-stomata-mulut-daun-tumbuhan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query struktur-dan-fungsi-stomata-mulut-daun-tumbuhan. Sort by date Show all posts

Tuesday, April 28, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Stomata Ekspresi Daun Pada Tumbuhan

Struktur dan Fungsi Stomata Mulut Daun pada Tumbuhan - Gambar - Stomata merupakan derivat jaringan epidermis pada daun. Stomata berupa lubang-lubang yang masing-masing dibatasi oleh sel penutup, ialah selsel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Perhatikan Gambar 1. Stomata berfungsi untuk pertukaran gas. Adapun bagian-bagian stomata sebagai berikut. (Baca : Struktur Jaringan Epidermis)

Stomata merupakan derivat jaringan epidermis Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Stomata Mulut Daun pada Tumbuhan
Gambar 1. Epidermis pada daun
1. Sel Penutup (Guard Cell)

Sel epilog disebut juga sel penjaga. Sel penutup terdiri dari sepasang sel yang kelihatannya simetris dan umumnya berbentuk ginjal. Sel-sel epilog merupakan sel-sel aktif (hidup). Pada sel-sel epilog terdapat kloroplas. 

2. Celah (Aperture = porus)

Di antara kedua sel epilog terdapat celah (porus) yang berupa lubang kecil. Sel penutup dapat mengatur menutup atau membukanya porus menurut perubahan osmosisnya.

3. Sel Tetangga (Subsidiary Cell)

Sel tetangga merupakan sel-sel yang berdampingan atau yang berada di sekitar sel-sel penutup. Sel-sel tetangga sanggup terdiri dari dua buah atau lebih yang secara khusus melangsungkan fungsinya secara berasosiasi dengan selsel penutup.

4. Ruang Udara Dalam (Substomata Chamber)

Ruang udara merupakan suatu ruang antarsel yang besar dan berfungsi ganda dalam fotosintesis, transpirasi, dan juga respirasi. Keadaan keempat bab tersebut berbeda pada dikala stomata terbuka dan tertutup. Perhatikan Gambar 2. berikut.

Stomata merupakan derivat jaringan epidermis Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Stomata Mulut Daun pada Tumbuhan
Gambar 2. Stomata terbuka dan tertutup
Berdasarkan letak sel penutupnya, stomata dapat dibedakan menjadi dua macam sebagai berikut.
  1. Stomata fanerofor, ialah stomata yang sel-sel penutupnya terletak pada permukaan daun (menonjol) sehingga memudahkan pengeluaran air, misalnya pada flora hidrofit.
  2. Stomata kriptofor, ialah stomata yang sel-sel penutupnya berada jauh di bawah permukaan daun
  3. (tersembunyi), fungsinya untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Contohnya pada tumbuhan xerofit.
Anda kini sudah mengetahui Struktur dan Fungsi Stomata Mulut Daun pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Wednesday, April 29, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Organ Pada Tumbuhan

Struktur dan Fungsi Organ Tumbuhan - Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara bersama-sama melaksanakan fungsi khusus. Demikian pula pada tumbuhan, proses diferensiasi yang terjadi dalam jaringan sanggup membentuk berbagai macam bab pokok tumbuhan. Bagian-bagian itu yaitu akar, batang, dan daun. Sementara bab lain yang ada pada tubuh tumbuhan itu yaitu hasil modifikasi dari salah satu atau dua bagian tumbuhan tersebut. Contoh bab hasil modifikasi yaitu kuncup, bunga, rimpang, dan duri. Tubuh flora terbagi dalam sistem akar dan sistem tunas. Sesuai namanya, sistem akar terdiri atas organ akar dan bagian-bagiannya. Sedangkan sistem batang mencakup organ batang dan daun. Untuk mengetahui struktur dan fungsi banyak sekali macam organ tumbuhan, simak dan pahami uraian berikut.

1. Akar (Radix)

1.1. Fungsi Akar

Adapun fungsi akar secara umum sebagai berikut.
  1. Sebagai tempat melekatnya flora pada media (tanah) alasannya akar mempunyai kemampuan menerobos lapisan-lapisan tanah.
  2. Menyerap garam mineral dan air melalui bulu-bulu akar.
  3. Pada beberapa tanaman, akar dipakai sebagai tempat penyimpanan masakan cadangan, misalnya wortel dan ketela pohon.
  4. Pada tumbuhan tertentu, menyerupai jenis flora bakau (Rhizopora sp.) akar berperan untuk pernapasan.
1.2. Jaringan Penyusun Akar

Akar berkembang dari meristem apikal di ujung akar yang dilindungi kaliptra (tudung akar). Meristem apikal selalu membelah diri menghasilkan sel-sel baru. Sel-sel baru terbentuk pada bab tudung akar atau bab dalam meristem apikal. Pembelahan meristem apikal membentuk daerah pemanjangan, disebut zona perpanjangan sel.

Di belakangnya terdapat zona diferensiasi sel dan zona pendewasaan sel. Pada zona diferensiasi sel, sel-sel akar berkembang menjadi beberapa sel permanen. Misalnya beberapa sel terdiferensiasi menjadi xilem, floem, parenkim, dan sklerenkim. Perhatikan Gambar 1.

Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 1. Struktur morfologi akar.
Secara umum jaringan penyusun akar tumbuhan sebagai berikut.
  1. Epidermis terdiri dari satu lapis sel yang tersusun rapat. Dinding selnya tipis sehingga gampang ditembus air. Memiliki rambut-rambut akar yang merupakan hasil acara sel dari belakang titik tumbuh. Rambut-rambut akar berfungsi memperluas bidang penyerapan.
  2. Korteks terdiri dari banyak sel dan tersusun berlapis-lapis, dinding selnya tipis dan mempunyai banyak ruang antarsel untuk pertukaran gas. Jaringanjaringan yang terdapat pada korteks antara lain: parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.
  3. Endodermis terletak di sebelah dalam korteks. Endodermis berupa satu lapis sel yang tersusun rapat tanpa ruang antarsel. Dinding selnya mengalami penebalan gabus. Deretan sel-sel endodermis dengan penebalan gabusnya dinamakan pita kaspari. Penebalan gabus ini tidak sanggup ditembus oleh air, sehingga air harus masuk ke silinder sentra melalui sel endodermis yang dindingnya tidak menebal, yang disebut sel penerus air. Endodermis merupakan pemisah antara korteks dengan stele.
  4. Stele (silinder pusat) terletak di sebelah dalam endodermis. Berkas pengangkutan terdapat di antara stele.
Jaringan penyusun akar secara umum sanggup Anda amati pada Gambar 2. berikut.
Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 2. Struktur jaringan penyusun akar Dikotil dan Monokotil yang diamati secara melintang
Anda telah mempelajari jaringan penyusun akar secara umum. Bagaimana struktur jaringan penyusun akar tumbuhan Dikotil dan tumbuhan Monokotil? Apa perbedaan di antara keduanya?

2. Batang

2.1. Fungsi Batang

Secara umum, batang mempunyai beberapa fungsi berikut.
  1. Sebagai tempat pengangkutan air dan unsur hara dari akar.
  2. Memperluas tajuk flora untuk efisiensi penangkapan cahaya matahari.
  3. Tempat tumbuhnya organ-organ generatif.
  4. Efisiensi penyerbukan dan membantu pemencaran benih.
  5. Pada flora tertentu, sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, contohnya berupa umbi atau rimpang.
2.2. Struktur Jaringan Penyusun Batang

Secara umum struktur jaringan penyusun batang tumbuhan terdiri atas tiga bagian, yaitu epidermis, korteks, dan stele. Adapun struktur jaringan penyusun batang (dari luar ke dalam) beserta ciri-cirinya dijelaskan dalam Tabel 1 berikut. 

Tabel 1 Struktur Jaringan Penyusun Batang Beserta Ciri-Cirinya

No.
Jaringan
Ciri-Ciri
1.
Epidermis
Tersusun oleh selapis sel, tersusun rapat, tanpa ruang antarsel, dinding luar terdapat kutikula yang berfungsi untuk melindungi batang dari kehilangan air yang terlalu besar. Pada flora kayu yang telah bau tanah terdapat kambium gabus yang menggantikan fungsi jaringan primer.
Aktivitas kambium gabus yaitu melaksanakan pertukaran gas melalui celah yang disebut lentisel. Derivat epidermis antara lain sel silika dan sel gabus, contohnya pada batang tumbuhan tebu.
2.
Korteks
Tersusun oleh beberapa lapis sel parenkim yang tidak teratur dan berdinding tipis, banyak ruang antarsel.
Terdapat kolenkim dan sklerenkim yang berfungsi sebagai penyokong dan penguat tubuh.
Sel-sel korteks sebelah dalam yang mengandung amilum disebut floeterma (sarung tepung ).
3.
Stele (silinder pusat)
Lapisan terluar disebut perisikel.
Di dalamnya terdapat sel parenkim dan
berkas pengangkut.

Secara umum, struktur akar dan batang flora sama, yaitu terdiri atas bagian-bagian epidermis, korteks, dan stele. Akan tetapi, secara anatomis struktur batang Monokotil berbeda dengan Dikotil.

3. Daun (Folium)

3.1. Fungsi Daun

Secara umum fungsi daun sebagai berikut.
  1. Membuat masakan melalui proses fotosintesis.
  2. Sebagai tempat pengeluaran air melalui transpirasi dan gutasi.
  3. Menyerap CO2 dari udara.
  4. Respirasi.
c. Struktur Jaringan Penyusun Daun

1) Epidermis

Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang diapit oleh dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di permukaan atas saja, contohnya pada tumbuhan yang daunnya terapung (pada daun teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula yang terdapat di kedua permukaan daun (atas dan bawah). Tanaman Ficus mempunyai epidermis yang tersusun atas dua lapis sel. Alat-alat pelengkap yang terdapat di antara epidemis daun, antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas. Bentuk epidermis dan stomata sanggup Anda amati pada Gambar 3 dan 4.
Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 3. Epidermis dengan stomata

Organ yaitu kumpulan beberapa jaringan yang secara Pintar Pelajaran Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan
Gambar 4. Penampang melintang stomata.
2) Mesofil (Jaringan dasar)

Mesofil terdiri dari sel-sel parenkim yang tersusun renggang dan banyak ruang antarsel. Pada kebanyakan daun Dikotil, mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim spons (jaringan bunga karang). Sel-sel palisade bentuknya memanjang, mengandung banyak kloroplas, dan tersusun rapat. Parenkim spons bentuknya tidak teratur, bercabang, mengandung lebih sedikit kloroplas, dan
tersusun renggang.

3) Berkas Pengangkut

Berkas pengangkut terdapat pada tulang daun yang berfungsi sebagai alat transpor dan sebagai penguat daun.

4) Jaringan Tambahan

Jaringan pelengkap mencakup sel-sel khusus yang umumnya terdapat pada mesofil daun, contohnya sel-sel kristal dan kelenjar.

Anda kini sudah mengetahui Struktur dan Fungsi Organ pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Friday, May 15, 2020

Pintar Pelajaran Macam Dan Jenis Jaringan Pada Tumbuhan

Macam-macam dan Jenis-jenis Jaringan pada Tumbuhan - Masing-masing bab tubuh tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang. Kemampuan ini ada alasannya yaitu tumbuhan mempunyai bab sel hidup yang membentuk jaringan. Tubuh tumbuhan tersusun atas aneka macam macam jaringan. Menurut kemampuan membelahnya, jaringan tumbuhan ada dua macam, yaitu jaringan meristem dan jaringan permanen. Baiklah, untuk mengetahuinya, mari kita pahami jenis jaringan pada uraian berikut.

1. Jaringan Meristem (Embrional)

Meristem merupakan istilah dari kata Yunani, meristes, yang berarti ”terbelah”. Jaringan meristem disebut juga jaringan muda karena terdiri dari sel-sel yang masih muda (embrional) dan belum mengalami diferensiasi atau spesialisasi. Jadi, jaringan meristem yaitu jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional, artinya sel-selnya senantiasa aktif membelah diri untuk menambah jumlah sel tubuh. Sel-sel jaringan meristem biasanya berdinding tipis, vakuola banyak dan ukurannya kecil, mengandung banyak protoplasma, plastida belum matang, dan inti besar. Bentuk sel penyusun jaringan meristem umumnya sama ke segala arah. Perhatikan Gambar 1 di bawah ini.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 1. Letak jaringan meristem
Berdasarkan letaknya pada batang, jaringan meristem dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.
  1. Meristem lateral (lateral meristem) atau meristem samping, terdapat di kambium dan kambium gabus (felogen).
  2. Meristem interkalar (intercalary meristem) atau meristem antara, terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya di pangkal ruas batang.
  3. Meristem apikal (apical meristem) atau meristem ujung, terdapat di ujung batang dan ujung akar.
Perhatikan Gambar 2. supaya Anda sanggup mengetahui struktur jaringan meristem yang terletak di ujung batang tumbuhan.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 2. Struktur jaringan meristem pada ujung batang tumbuhan

Sementara itu, jaringan meristem dibedakan menjadi meristem primer dan meristem sekunder menurut asal terbentuknya.

2. Jaringan Permanen / Dewasa

Berdasarkan kemampuan membelahnya, tumbuhan memiliki jaringan permanen. nama lain jaringan permanen yaitu jaringan dewasa. Sifat jaringan permanen yakni non meristematik. Artinya, sel jaringan permanen tidak bisa tumbuh dan berkembang lagi. Hanya membentuk struktur tubuh tumbuhan dengan fungsi tertentu saja. Menurut asalnya, jaringan permanen dihasilkan dari diferensiasi dan spesialisasi sel-sel pada jaringan meristem. Diferensiasi yaitu perubahan bentuk tubuh tumbuhan yang diadaptasi dengan fungsinya. Sementara, spesialisasi yaitu pengkhususan sel tumbuhan guna menyokong fungsi sel tertentu.

Seperti halnya jaringan meristem, jaringan permanen tersusun dari aneka macam jenis jaringan. Penyusun jaringan permanen meliputi jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan penyokong, jaringan pengangkut, dan jaringan gabus. Simak uraiannya sebagai berikut.


Asal kata “epidermis” yaitu epi artinya di atas dan derma artinya kulit yang berasal dari Yunani. Sesuai namanya, jaringan epidermis dalam badan tumbuhan berfungsi sebagai penutup dan pelindung jaringan lainnya, terutama pada jaringan muda yang masih memungkinkan mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Karena itu, jaringan epidermis terletak pada lapisan terluar akar, batang, dan daun. Ciri jaringan epidermis antara lain selnya hidup dan tersusun rapat, tidak mempunyai klorofil dan berbentuk balok. Amati Gambar 3.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 3. Struktur jaringan epidermis

Jaringan epidermis juga bisa melaksanakan diferensiasi epidermis. Karena itu, jaringan epidermis pada tumbuhan tertentu mempunyai stomata, sel kipas, sel gabus, sel kersik, trikomata, spina, dan velamen. Derivat-derivat ini sanggup ditemukan baik pada akar, batang, maupun daun. Stomata (tunggal disebut stoma) atau mulut daun merupakan pori kecil yang diapit oleh dua sel penjaga. Di dalam sel penjaga terdapat kloroplas.

Kloroplas merupakan bab epidermis yang berisi klorofil dengan tugas sebagai daerah terjadinya proses fotosintesis. Agar kalian mengetahui bentuk stomata dengan tepat, cermatilah Gambar 4. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 4. Stomata yang diapit sel penjaga pada lapisan epidermis
Fungsi stomata adalah sebagai daerah terjadinya respirasi (pertukaran gas) dan juga transpirasi (proses penguapan air). Salah satu bentuk diferensiasi epidermis yang lain adalah sel kipas. Sel kipas terdapat pada epidermis atas daun rumput-rumputan (Gramineae atau Cyperaceae). Sebagai contoh, sel kipas pada rumput teki dan daun bambu. Sel kipas bentuknya lebih besar dibanding sel epidermis, dinding sel tipis dan bisa mengempis. Daun rumput teki, bambu, dan sejenisnya sanggup menggulung untuk mengurangi penguapan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 5.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 5. a. Daun bambu b. Daun rumput teki
Sel epidermis daun atas juga mengalami diferensiasi. Lapisan kutikula (senyawa lemak), misalnya, merupakan zat kutin yang mengalami penebalan, Contohnya daun pohon nangka. Sementara lapisan lilin sanggup ditemukan pada epidermis bawah daun. Misalnya saja, lapisan lilin pada daun pisang. Bentuk diferensiasi epidermis lainnya yaitu trikoma (jamak disebut trikomata). Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa rambut-rambut. Trikoma biasanya terletak pada akar, daun, batang, bunga, buah, maupun biji. Pada sel epidermis, trikoma muncul dari epidermis atas. Jumlah selnya bisa tunggal atau banyak. Ada trikoma yang mempunyai kelenjar sekretori dan ada juga yang tidak. Adapun bentuk trikoma pada batang sanggup kalian cermati pada Gambar 6 berikut.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 6. Trikoma pada batang
Trikoma mempunyai bermacam-macam fungsi, antara lain mengurangi penguapan, mengurangi gangguan hewan, dan membantu penyerbukan bunga. Trikoma juga berfungsi menyerap air dan garam mineral dari tanah, misalnya trikoma pada akar. Selain itu, trikoma mampu meneruskan rangsang dari luar dan membantu penyebaran biji. Kemudian, bentuk diferensiasi epidermis yang lain yaitu duri pada batang atau cabang tumbuhan. Duri (spina) merupakan modifikasi sel epidermis yang terdapat pada tumbuhan tertentu. Duri tumbuhan terbagi dalam dua jenis, yakni duri orisinil dan duri palsu. Duri orisinil dibuat oleh jaringan di dalam stele batang. Misalnya, duri pada tumbuhan bunga kertas Bougainvillea). Sedangkan duri palsu dibuat oleh jaringan di bawah epidermis yaitu jaringan korteks batang. Contohnya, duri pada batang tumbuhan mawar. Perhatikan Gambar 7.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 7. Duri (spina) pada bunga mawar dan bunga kertas
Bila kalian melihat tumbuhan anggrek, maka kalian akan menemukan velamen. Velamen merupakan modifikasi sel epidermis yang terdapat pada akar udara tumbuhan anggrek. Epidermis dan akar anggrek disebut epidermis ganda atau multipel epidermis. Velamen berfungsi sebagai daerah menyimpan air. Velamen pada tanaman anggrek sanggup kalian cermati pada Gambar 8.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 8. Velamen tumbuhan anggrek.
Berikutnya yaitu sel kersik. Sel kersik merupakan hasil modifikasi sel epidermis pada batang Graminae. Sel kersik mengandung zat kersik atau silika (SiO2). Batang tebu yaitu tumbuhan yang banyak mengandung sel ini. Karenanya, permukaan batang tebu menjadi keras.


Jaringan parenkim merupakan bentuk lain dari jaringan dewasa. Jaringan parenkim menyusun badan tumbuhan sehabis jaringan epidermis. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar. Alasannya, jaringan dasar bisa ditemukan pada semua organ tumbuhan, mirip akar, batang, dan daun. Pada batang, jaringan dasar ditemukan pada korteks dan empulur batang. Sedangkan pada daun, jaringan dasar berdiferensiasi menjadi jaringan bunga karang. Kemudian juga pada selubung berkas pengangkut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 9.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 9. Jaringan parenkim
Adapun ciri-ciri jaringan parenkim antara lain ukuran sel besar dan hidup, dinding sel tipis, banyak terdapat vakuola, sel berbentuk segi enam, dan banyak mempunyai ruang antar sel. Selain itu, jaringan parenkim bisa membelah, baik secara embrional maupun meristematik.

Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim terbagi menjadi beberapa jaringan, yaitu parenkim air, parenkim pengangkut, parenkim penyimpan udara, parenkim asimilasi, parenkim penimbun, dan parenkim epilog luka.

Parenkim air yaitu parenkim yang berperan dalam penyimpan air. Sebagai contoh, parenkim air pada tumbuhan kaktus. Parenkim pengangkut merupakan salah satu jaringan yang menyusun xilem dan floem. Xilem berfungsi mengangkut air dan garam mineral, sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil asimilasi yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh.

Jenis parenkim lainnya yaitu parenkim penyimpan udara (aerenkim). Seperti namanya, fungsi parenkim ini sebagai penyimpan udara pada ruang antarsel. Contohnya, parenkim penyimpan udara pada tumbuhan air yang mempunyai ruang antarsel dengan jumlah banyak dan ukuran yang besar.

Jenis berikutnya yaitu parenkim asimilasi. Fungsi parenkim asimilasi yaitu daerah pembuatan zat masakan pada proses fotosintesis. Parenkim ini banyak terdapat pada bab tumbuhan yang berwarna hijau. Selain jenis parenkim tersebut, ada pula parenkim penimbun. Peran parenkim ini yaitu menyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan tersebut berada pada vakuola. Contohnya umbi, rimpang, dan biji. Sementara itu, jaringan parenkim epilog luka disebut kambium gabus (felogen). Jaringan ini bisa beregenerasi menjadi jaring embrional (meristematik) yaitu fungsinya.

c. Jaringan Penyokong / Penguat / Mekanik

Jaringan cukup umur juga mempunyai jaringan penyokong. Seperti halnya beton pada bangunan, jaringan penyokong berfungsi menunjang dan memperkokoh bentuk tumbuhan. Karena itu, jaringan ini disebut juga jaringan mekanik. Selain itu, jaringan ini juga berfungsi melindungi embrio, melindungi berkas pengangkut, dan memperkuat jaringan parenkim.

Jaringan penyokong mempunyai tebal dan kuat. Sel jaringan ini dapat pula mengalami spesialisasi. Oleh alasannya yaitu itu, jaringan ini dinamakan pula jaringan penguat. Jaringan penyokong ini terdapat pada daun, batang, dan biji.

Jaringan penyokong ini terbagi atas dua jenis jaringan, yakni jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim. Jaringan kolenkim mempunyai sel hidup, dan tak berlignin. Selain itu, selnya mengalami penebalan. Perhatikan bentuk sel kolenkim pada Gambar 10. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 10. Jaringan kolenkim
Jaringan banyak terdapat pada organ tumbuhan yang sedang tumbuh. Bila berbaur dengan sel parenkim, sel jaringan penyokong tampak lebih tebal. Jaringan kolenkim berfungsi mengokohkan dan menjaga kelenturan badan tumbuhan. Sementara itu, jaringan sklerenkim hanya terdapat pada organ tumbuhan dewasa. Sel sklerenkim mati dan dindingnya tebal berlignin. Dibandingkan sel kolenkim, sel-sel sklerenkim ini jauh lebih kaku. Sel sklerenkim ada dua bentuk, yakni sel serat dan sklereid. Sel serat berbentuk panjang, ramping, tirus, dan bundel-bundel. Agar kalian mengetahui bentuk sel serat dan sklereid dengan tepat, perhatikan Gambar 11. Misalnya serat rami, dipakai untuk menciptakan tali dan serat rami halus untuk dipintal menjadi linen.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 11. (a) sel serat, (b) sklereid
Sedangkan sklereid (sel batu) mempunyai bentuk tidak beraturan. Ukuran sklereid lebih pendek daripada sel serat. Dengan adanya sklereid, kulit kacang dan lapisan biji menjadi keras. Sklereid dapat dijumpai pada daging buah jambu biji, buah pir, tempurung kelapa, kulit biji jarak, dan buah kenari.


Di samping ketiga jenis jaringan permanen di atas, jaringan pengangkut juga terdapat pada tumbuhan. Jaringan pengangkut disebut juga berkas vaskuler atau berkas pengangkutan (fasis). Jaringan ini berfungsi mengangkut air dan unsur hara hasil asimilasi dari satu bagian badan tumbuhan ke bab yang lain. Jaringan pengangkut terbagi menjadi dua macam. Yakni xilem dan floem. Xilem dinamakan pula pembuluh kayu. Fungsinya adalah mengangkut air dan garam mineral dari tanah ke dalam badan hingga daun.

Pada xilem terdapat dua jenis sel, yaitu trakeid dan unsur pembuluh. Sel trakeid berbentuk gelondong, panjang dan tipis dengan ujung runcing. Pada dinding selnya terdapat ceruk sebagai tempat jalan air dari sel ke sel lain. Perhatikan bentuk sel trakeid pada Gambar 12.

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 12. (a) Trakeid, (b) Unsur pembuluh
Oleh alasannya yaitu dinding sekundernya terdapat lignin, maka trakeid berfungsi sebagai penyokong dan pengangkut air. Sementara itu, unsur pembuluh pada xilem berbentuk lebih lebar, ukuran lebih pendek, dinding sel tipis, dan ujung tidak terlalu runcing. Simaklah Gambar 12. Unsur pembuluh berbentuk pipa kecil panjang dari ujung ke ujung dinamakan pembuluh xilem. Pada dinding ujung unsur pembuluh ini terdapat perforasi (lubang) yang memungkinkan air mengalir bebas.

Jaringan pengangkut selanjutnya yaitu floem. Floem dinamakan pula pembuluh tapis. Agar kalian mengetahui bentuk pembuluh tapis, simaklah Gambar 13. 

tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 13. Pembuluh tapis pada jaringan pengangkut.
Floem berfungsi menyalurkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bab tumbuhan. Jaringan ini tersusun atas anggota pembuluh tapis. Di antara anggota pembuluh tapis terdapat dinding berpori atau lempengan tapis. Dengan adanya dinding berpori, aliran zat yang berasal dari sel-sel pada pembuluh tapis bergerak dengan mudah. Di sepanjang sisi anggota pembuluh tapis terdapat sel pendamping yang memiliki nukleus. Pada daun, sel pendamping ini sanggup menciptakan gula yang selanjutnya disalurkan ke seluruh anggota pembuluh tapis.


Jaringan gabus merupakan jaringan yang tersusun oleh sel-sel parenkim gabus. Jaringan ini mempunyai sel gabus yang mati dan kosong. Bentuknya memanjang dan berdinding gabus. Untuk lebih jelasnya, cermati Gambar 14. 
tumbuhan saling bekerja sama untuk tumbuh dan berkembang Pintar Pelajaran Macam dan Jenis Jaringan pada Tumbuhan
Gambar 14. Jaringan gabus
Jaringan gabus mempunyai kegunaan melindungi jaringan-jaringan di bawahnya dari kehilangan air. Jaringan gabus pada tumbuhan dikotil dibuat oleh kambium gabus atau felogen yang ada di bawah epidermis. Jaringan gabus terbagi menjadi dua macam. Jaringan gabus yang dibuat kambium gabus ke arah luar dan sel-selnya mati disebut felem. Sedangkan jaringan gabus yang dibentuk kambium gabus ke arah dalam dan sel-sel yang hidup mirip parenkim disebut feloderm.

Anda kini sudah mengetahui Macam dan Jenis Jaringan Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 346.

Thursday, February 6, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Jaringan Epidermis Pada Tumbuhan

Struktur Dan Fungsi Jaringan Epidermis Pada Tumbuhan - Pengertian jaringan epidermis adalah jaringan terluar tumbuhan yang berasal dari jaringan protoderma dan menutupi seluruh badan tumbuhan. Jaringan epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel yang masih hidup dan terletak pada permukaan luar organ tumbuhan. Bentuk selnya majemuk dan susunannya rapat sehingga tidak terdapat ruang-ruang antarsel (non intercellular spaces). Vakuolanya yang besar terdapat di bab tengah, berisi cairan sel yang berwarna (antosianin) atau sanggup pula tidak berwarna. Jaringan epidermis selain berfungsi sebagai jaringan pelindung juga berfungsi sebagai kawasan pertukaran zat. (Baca : Struktur Jaringan Pelindung, Fungsi Jaringan Dewasa)
tumbuhan yang berasal dari jaringan protoderma dan Pintar Pelajaran Struktur Dan Fungsi Jaringan Epidermis Pada Tumbuhan
Gambar 1. Jaringan pada potongan melintang batang muda flora dikotil
Epidermis terdapat pada batang, akar, dan daun. Epidermis pada permukaan daun dan batang biasanya dilapisi semacam zat lemak yang disebut kutikula, misalnya pada daun nangka. Sementara itu, pada daun pisang dan daun keladi, epidermisnya membentuk lapisan lilin yang kedap air. Sebagian sel-sel epidermis dapat berubah menjadi alat-alat pelengkap lain yang disebut derivat epidermis, contohnya stomata dan trikomata.



Anda kini sudah mengetahui Struktur Jaringan Epidermis Pada Tumbuhan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Friday, April 3, 2020

Pintar Pelajaran Struktur Jaringan Penyusun Daun Dikotil

Struktur Jaringan Penyusun Daun Dikotil - Bentuk daun Dikotil bermacam-macam, bertangkai daun, dan urat daunnya menyirip atau menjari. Struktur daun Dikotil sanggup Anda amati pada Gambar 1.
Struktur jaringan daun dan urat daun tumbuhan dikotil Pintar Pelajaran Struktur Jaringan Penyusun Daun Dikotil
Gambar 1. Struktur jaringan daun dan urat daun tumbuhan dikotil
Adapun macam jaringan daun Dikotil, letak, fungsi, dan ciri-ciri dijelaskan dalam Tabel 1. berikut.


Jaringan
Letak
Fungsi
Ciri-Ciri
a)
Menyusun lapisan permukaan atas dan bawah daun.
  • Melindungi lapisan sel di bab dalam dari kekeringan.
  • Menjaga bentuk daun biar tetap.

Terdiri dari satu lapis sel kecuali tumbuhan Ficus (tanaman karet).
b)
Kutikula
Melapisi permukaan atas dan bawah daun.
Zat kutin pada kutikula mencegah penguapan air melalui permukaan daun.
Penebalan dari zat kutin.
c)
Melapisi permukaan atas dan bawah daun.
  • Sebagai kanal dan keluarnya udara. 
  • Sel penjaga sebagai pengatur membuka dan menutupnya stomata.

Mulut daun pada epidermis dengan dua sel penutup.
d)
Rambut dan kelenjar
Permukaan atas dan bawah daun.
Alat pengeluaran.
Alat suplemen pada epidermis.
e)
Mesofil
Di antara lapisan epidermis atas dan bawah.
Tempat berlangsungnya fotosintesis.
  • Terdiri dari sel parenkim, banyak ruang antarsel.
  • Kebanyakan berdiferensiasi menjadi palisade (jaringan tiang) dan spons (jaringan bunga karang).
  • Sel-sel jaringan tiang berbentuk silinder, tersusun rapat, dan mengandung klorofil.
  • Sel-sel jaringan bunga karang bentuknya tidak teratur, bercabang-cabang dan berisi kloroplas, susunannya renggang.

f)
Urat daun
Pada helai daun.
Menyirip atau menjari.

Anda kini sudah mengetahui Struktur Jaringan Penyusun Daun Dikotil. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Purnomo, Sudjiono, T. Joko, dan S. Hadisusanto. 2009. Biologi Kelas XI untuk Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 386.

Tuesday, August 6, 2019

Pintar Pelajaran Efek Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Prosedur Kerja

Mekanisme Kerja Hormon Pertumbuhan - Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kerja sama antara faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam (faktor internal) meliputi sifat genetik tumbuhan tersebut yang diperoleh secara turun menurun, yang berupa gen dan hormon. Faktor luar (faktor eksternal) meliputi faktor lingkungan. Faktor genetis pada pecahan ini hanya akan dibahas secara sekilas.

I. Faktor Internal

Adapun faktor-faktor internal yang menghipnotis pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan ialah sebagai berikut.

1.1. Gen

Ukuran batang, bentuk daun, biji, dan bunga tumbuhan padi berbeda dengan tumbuhan kacang. Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi dengan kacang tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Tumbuhan padi yang banyak dijumpai ternyata mempunyai banyak jenis, antara lain: IR, rojolele, mentik, dan bramo. Antar jenis yang ada tersebut mempunyai faktor genetis yang berbeda-beda pula.

Faktor genetis ini banyak digunakan dalam hal pemilihan bibit unggul. Gen pada tumbuhan berperan pada pengaturan reaksi-reaksi kimia dalam sel (metabolisme sel). Berkait dengan gen ini, pemerhati tanaman budidaya menyebarkan penelitian-penelitian yang bertujuan memperoleh biji yang baik untuk bibit, contohnya berapa usang menyimpan biji, berapa usang penjemuran (pengeringan), dan suhu berapakah yang paling cocok untuk penyimpanan.

1.1.1. Hormon

Hormon merupakan zat spesifik berupa zat organik yang dihasilkan oleh suatu pecahan tumbuhan untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangannya. Hormon juga sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

Hormon-hormon tumbuhan yang telah dikenal pada dikala ini meliputi auksin, giberelin, sitokinin, asam absisat, kalin, etilen, dan asam traumalin.

a. Auksin

Auksin atau asam indol asetat ditemukan pada tahun 1926 oleh Frits Went. Dia menemukan auksin di ujung koleoptil kecambah Avena (sejenis gandum). Perhatikan Gambar. Auksin juga ditemukan di ujung akar dan ujung batang. 
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.1. PeragaanWent. Auksin mengakibatkanbengkoknya ujung koleoptil.


Keterangan :

a. Ujung koleoptil (Avena sp.) dipotong dan dipindahkan diatas potongan agar
b. Pemotongan ujung kecambah (koleoptil) yang lain.
c. Potongan semoga (yang menyerap auksin) ditempelkan pada sisi koleoptil.
d. Koleoptil membengkok akibat pemanjangan satu sisi yang menyerap auksin.

Auksin ditemukan Went saat masih menjadi mahasiswa. Gelar doktor pun disandangnya. Ia menetap di Jawa (saat itu masih jajahan Belanda) selama 5 tahun, kemudian di California Institute of Technology. Tahun 1964, ia melanjutkan penelitian gurun pasir di Desert Biology Laboratory University of Nevada. Sang professor ini meninggal pada 1 Mei 1990. (Sumber: Salisbury & Ross, Fisiologi tumbuhan 3, hlm. 58).

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.2. Pertumbuhan akar pada stek yang dipacu dengan auksin.
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.3. Auksin masih bekerja pada pecahan pucuk batang.
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.4. Bila pucuk dipangkas maka pucuk samping akan tumbuh.
Beberapa tugas auksin sanggup dijelaskan sebagai berikut :
  1. Menghambat pembentukan tunas samping. Pertumbuhan tunas ujung menghambat pertumbuhan tunas samping. Keadaan ini disebut dominansi pucuk atau dominansi apikal.
  2. Memacu pertumbuhan akar liar pada batang, contohnya pada tanaman apel ditemukan akar pada bawah cabang pada kawasan antar nodus.
  3. Memacu pertumbuhan akar pada tumbuhan yang dikembangbiakkan dengan stek.
  4. Memacu banyak sekali sel tumbuhan untuk menghasilkan etilen.
b. Giberelin

Giberelin pada tumbuhan terdapat pada biji (terutama kacang-kacangan), daun, dan akar. Giberelin berfungsi untuk :
  1. Memacu pemanjangan batang.
  2. Mematahkan dormansi biji atau mempercepat perkecambahan.
  3. Mempercepat munculnya bunga.
  4. Merangsang proses pembentukan biji.
  5. Menyebabkan perkembangan buah tanpa biji (parteno karpik).
  6. Menunda penuaan daun dan buah.
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.5. Eksperimen pada tumbuhan Phaseolus Vulgaris yang dipacu dengan giberelin.
c. Sitokinin

Sitokinin bisa ditemukan di jaringan pembuluh. Sitokinin berfungsi untuk:
  1. Memacu pembelahan sel pada tahapan sitokinesis.
  2. Memacu pembentukan kalus menjadi kuncup, batang, dan daun.
  3. Menunda penuaan daun dan buah.
  4. Memacu pertumbuhan kuncup samping atau menghambat pengaruh dominansi apikal.
  5. Memperbesar daun muda.
d. Asam Absisat

Asam absisat (ABA) sanggup ditemukan pada buah. Hormon ini berfungsi untuk:
  1. Mempertahankan masa dormansi, sehingga menghambat perkecambahan biji.
  2. Mempertahankan diri kalau tumbuhan berada pada lingkungan yang tidak sesuai antara lain dikala kekurangan air, tanahnya bergaram, dan suhu masbodoh atau suhu panas.
  3. Merangsang penutupan mulut daun (stomata) sehingga mengurangi penguapan.
  4. Berperan dalam pembentukan zona absisi (Gambar 1.6), sehingga menyebabkan aborsi daun, bunga, dan buah.
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.6. Zona absisi. Pada zona inilah daun, bunga, buah terlepas dari cabang atau batangnya. 
e. Kalin

Hormon kalin berperan dalam merangsang pertumbuhan organ pada tumbuhan (organogenesis). Berdasarkan organ tumbuhan yang dibentuk, hormon kalin dibedakan menjadi: antokalin (memengaruhi pembentukan bunga), filokalin (memengaruhi pembentukan daun), kaulokalin (memengaruhi pembentukan batang), dan rizokalin (memengaruhi pembentukan akar).

f. Etilen

Gas etilen dikeluarkan oleh pecahan tumbuhan yang busuk, terutama buah. Apakah kalian pernah melaksanakan proses pemeraman buah? Jika buah yang telah bau tanah dimasukkan di tempat yang hangat (bukan dipanggang) dalam posisi tertutup rapat, buah cepat masak.

Gas etilen juga berperan pada aborsi bunga, daun (peran gas etilen pada aborsi lebih kuat dibanding asam absisat (ABA)). Pada bunga dimulai dengan memudarnya warna, pengkerutan. Pada daun dimulai dengan hilangnya klorofil. Gas etilen yang diberikan bersama auksin sanggup merangsang proses pembungaan.

g. Asam traumalin

Asam traumalin berperan dalam proses pembentukan kembali selsel yang rusak, kalau jaringan tumbuhan terluka.

h. Batasin

Batasan ini ditemukan pada tumbuhan gadung. Jika batasin terkumpul pada pecahan kuncup atau tunas, pertumbuhannya akan terhambat.

i. Asam jasmonat

Asam jasmonat ditemukan di dalam minyak melati. Asam jasmonat berfungsi untuk memacu proses penuaan.

II.. Faktor Eksternal

Faktor internal dan faktor eksternal membentuk suatu interaksi dalam hal memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Faktor eksternal (faktor lingkungan) yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan mencakup faktor iklim, edafi k, dan biologis.

2.1. Faktor iklim

Yang termasuk faktor iklim yaitu cahaya, suhu, air, panjang hari, angin, dan gas (CO2, N2, SO2, O2, dan nitrogen oksida). Pada bab ini tidak semua faktor dibahas tetapi hanya membahas sebagian faktor saja. Untuk faktor iklim misalnya, akan dibahas faktor cahaya atau sinar, suhu udara, oksigen, kelembaban, dan air.

2.1.1. Faktor cahaya

Tumbuhan hijau membutuhkan cahaya untuk proses fotosintesis. Proses Fotosintesis menghasilkan zat-zat masakan bagi tumbuhan. Zat makanan inilah yang digunakan oleh tumbuhan sebagai sumber energi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan hidupnya. Cahaya sanggup memicu pembentukan klorofil, perkembangan akar, dan pembukaan daun. Akan tetapi, intensitas cahaya yang terlalu tinggi sanggup merusak klorofil.

Pertumbuhan batang kecambah di tempat gelap lebih cepat (lebih panjang) dibandingkan di tempat terang. Pertumbuhan yang cepat di tempat gelap ini disebut etiolasi.

Lama penyinaran matahari memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Banyak penelitian melaporkan bahwa usang penyinaran ini berpengaruh pada fase pembungaan tumbuhan. Lama penyinaran (panjang hari) diterjemahkan sebagai waktu dari matahari terbit hingga dengan matahari terbenam.

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.7. (a) tumbuhan kacang di tempat terang, (b) tumbuhan kacang di tempat gelap.
Di kawasan katulistiwa, panjang hari kurang lebih 12,1 jam. Respon tumbuhan terhadap usang penyinaran (panjang hari) disebut fotoperiodisme. Berdasarkan lamanya siang, tumbuhan dibedakan menjadi :

a. Tumbuhan hari pendek

Tumbuhan hari pendek ialah tumbuhan yang berbunga pada saat lamanya siang kurang dari 12 jam (lamanya siang lebih pendek dibanding lamanya malam). Contoh: ubi jalar, krisan, aster, mangga (Gambar 1.814a), dan apokat.

b) Tumbuhan hari panjang

Tumbuhan ini berbunga pada dikala usang siang lebih dari 12 jam (lamanya siang lebih panjang dari lamanya malam). Contoh: kentang, slada (Gambar 1.8b), gandum, dan ba yam.

c) Tumbuhan hari netral

Tumbuhan ini berbunga hampir sepanjang musim, tidak tergantung lamanya siang hari. Contoh: kapas, mawar (Gambar 1.8c), tumbuhan sepatu, tomat, cabe, dan bunga matahari.

d) Tumbuhan hari sedang

Tumbuhan ini berbunga pada dikala lama siang sekitar 12 jam. Contoh: tebu (Gambar 1.8d) dan kacang. Tumbuhan mempunyai zat yang berfungsi mengontrol respon tumbuhan terhadap penyinaran yang disebut pigmen fitokrom. Pigmen ini sebetulnya ialah suatu protein yang bisa menyerap cahaya merah dan infra
merah dari sinar matahari.

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.8. (a) Tumbuhan hari pendek (mangga) (b) Tumbuhan hari panjang (slada) (c) Tumbuhan hari netral (mawar) (d) Tumbuhan hari sedang (tebu)
2.1.2. Oksigen

Oksigen dibutuhkan oleh semua tumbuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Oksigen dibutuhkan oleh tumbuhan baik pada bagian tumbuhan yang ada di permukaan tanah maupun pecahan yang ada di dalam tanah, contohnya akar. Aerasi tanah yang cukup, memberikan kesempatan sel-sel akar untuk melaksanakan respirasi sehingga peredaran unsur-unsur hara sanggup meningkat. Oleh alasannya ialah itu, para petani sering melakukan upaya-upaya penggemburan tanah. De ngan adanya oksigen dalam tanah, organisme-organisme aerob bisa hidup sehingga proses penyediaan unsur-unsur hara tumbuhan lebih meningkat.

2.1.3. Suhu udara

Beberapa proses yang terjadi di dalam tumbuhan sangat tergantung kerja enzim. Enzim bekerja dipengaruhi oleh suhu. Proses respirasi, transpirasi, dan fotosintesis dipengaruhi oleh suhu. Suhu yang terlalu tinggi menyebab kan tumbuhan tidak tumbuh, bahkan mati. Suhu yang tinggi mengakibatkan ketersediaan O2 untuk respirasi rendah, dan CO2 dalam sel tinggi, sehingga menghambat respirasi selanjutnya. Suhu yang tinggi juga menyebabkan transpirasi tumbuhan meningkat. Pengaruh suhu pada fotosintesis lebih banyak pada kerja enzim-enzim fotosintetik. Perhatikan Gambar 1.9.

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.9. Grafik pertumbuhan banyak sekali tumbuhan pada kisaran suhu.
 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.10. Pembungaan hanya terjadi alasannya ialah imbas penyimpanan suhu rendah yang diikuti hari panjang.
2.1.4. Kelembaban

Kelembaban tanah dan kelembaban udara memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Tanah yang kaya humus mampu menyimpan air lebih banyak, sehingga tumbuhan tumbuh lebih baik. Tanaman yang tumbuh dengan baik menghasilkan seresah lebih banyak dan meningkatkan materi organik tanah.

Udara bisa menyimpan air. Kadar air yang ada di udara disebut kelembaban udara. Kadar air di udara yang tinggi, berpeluang untuk menjadi awan dan hujan. Air hujan masuk ke dalam tanah dan akan disimpan dalam tanah, menjamin ketersediaan air bagi tumbuhan.

Kalian telah berguru ihwal pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan serta faktor-faktor luar yang memengaruhinya, bahkan telah melakukan percobaan ihwal imbas usang perendaman biji kacang tanah terhadap perkecambahannya. Di tamat acara tersebut kalian diminta untuk menciptakan rancangan percobaan dengan judul tertunjuk (telah disediakan oleh gurumu).

2.2. Faktor Edafik (Tanah)

Faktor edafik mencakup struktur, tekstur, materi organik, pH dan ketersediaan nutrisi. Pada pecahan ini hanya dibahas faktor nutrisi saja. Ilmu nutrisi tumbuhan telah diterapkan semenjak 160 tahun yang kemudian berdasar eksperimen klasik Liebig, Lauwes, dan Gilbert.

Ada banyak unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Seperti halnya makhluk hidup yang lain, tumbuhan memerlukan nutrisi atau masakan untuk hidupnya. Tumbuhan hijau mengambil nutrisi dari udara, air, dan dari dalam media tumbuhnya. Misalnya dari dalam tanah, nutrisi diambil dalam bentuk ion. Unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan dalam jumlah yang banyak disebut unsur makro (makronutrien) dan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut unsur mikro (mikronutrien).

Sumber-sumber nutrisi bagi tumbuhan berupa zat-zat organik dan zat-zat anorganik. Perbaikan kesuburan tanah secara alami dengan pemupukan, baik memakai pupuk alami maupun pupuk buatan banyak dilakukan oleh para petani. Disamping penambahan zat-zat organik dan zat-zat anorganik, nutrisi yang ada dalam tanah berasal dari hasil pelapukan mineral anorganik dan hasil biodegradasi materi organik.

Unsur-unsur yang telah tersedia dalam media tanam (misalnya tanah) tidak segera sanggup dipergunakan oleh tumbuhan apabila faktorfaktor lain tidak terpenuhi, contohnya adanya mikrobia dalam tanah. Unsur makro terdiri dari: C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N (nitrogen), S (sulfur), P (fosfor), K (kalium), Mg (magnesium), dan Ca (kalsium). Unsur mikro terdiri dari: Cl (klor), Fe (besi), B (boron), Mn (mangaan), Zn (seng), Co (koper), dan Mo (molibdeum).

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hasil kolaborasi Pintar Pelajaran Pengaruh Pertumbuhan Tanaman, Hormon Pertumbuhan, Mekanisme Kerja
Gambar 1.11. (a) tumbuhan dengan sistem perakaran buruk, tanah tidak dicampur dengan pupuk organik, (b) tanah dicampur dengan pupuk organik.
Tumbuhan yang kekurangan nutrien pada media tanamnya akan mengalami defisiensi. Apabila hal ini terjadi, maka pertumbuhan dan perkembangannya tidak sempurna. Berikut ialah tabel fungsi unsur dan penyakit tumbuhan akibat kekurangan unsur.

Tabel 1.1. Unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan, fungsi, dan penyakit akibat kekurangan unsur (defisiensi)
Nama Unsur
Bentuk Senyawa dan Ion
Fungsi
Penyakit Akibat dari
Kekurangan Unsur
Unsur Makro
C (karbon)
H (hidrogen)
O (oksigen)
CO2
H2O
O2
Menyusun hasil fotosintesis
Metabolisme terhambat, pertumbuhan terhambat.
N (nitrogen)

Ion NH4+ (ammonium,ion NO3- (nitrat), Urea (CO(NH2)2, NaNO3

Komponen penyusun protein, asam nukleat, klorofil, vitamin, dan beberapa hormon tumbuhan.
Daun muda warnanya pucat, daun bau tanah kekuningan dan biasanya gugur. Penyakit ini disebut klorosis.
S (sulfur)

Ion Sulfat (SO4–2) dan Sulfida

Komponen penyusun protein
dan vitamin, mempercepat
perkembangan akar, dan mengaktifkan
enzim.
Warna daun pucat atau kuning
kehijauan dan pertumbuhan
lambat.

P (fosfor)

Ion H2PO4–2 dan H2PO4

Penyusun karbohidrat, protein
dan klorofi l, mengaktifkan enzim
(aktivator enzim), mengatur
keseimbangan kelarutan air,
dan menghipnotis osmosis.
Daun bau tanah menggulung, ada bercak-bercak, tepi daun hangus, tumbuhan gampang roboh, dan pertumbuhan lambat.

K (kalium)

Ion K+

Penyusun karbohidrat, protein dan klorofil, mengaktifkan enzim (aktivator enzim), mengatur keseimbangan kelarutan air, dan menghipnotis osmosis.
Daun bau tanah menggulung, ada bercak-bercak, tepi daun hangus, tumbuhan gampang roboh, dan pertumbuhan lambat.

Mg (magnesium)

MgSO4, ion Mg2+

Menyusun klorofil dan mengaktifkan enzim.
Menderita klorosis dan daun gampang gugur.
Ca (kalsium)

CaCl2, CaNO3, ion Ca++

Menguatkan dinding sel, pencegah keracunan sel, dan berperan pada acara titik tumbuh.
Tunas ujung mati, tidak terbentuk daun dan pertumbuhan akar terhambat.

Unsur Mikro
Cl (klor)

ion Cl–

Mengatur pertumbuhan akar batang, mengatur fotolisio, metabolisme karbohidrat.
Klorosis, daun layu, akar pendek dan menebal.

Fe (besi)

ion Ferro (Fe2+) dan Ferri (Fe3+), FeCl3, serta Fe(SO4)

Berperan dalam pembentukan klorofil, menyusun enzim sitokrom dan peroksidase
Daun pucat, klorosis dan mati.

B (boron)

ion B2–, H3BO3 (asam borak)

Pembentukan bintil akar, proses fotosintesis, pemecahan protein, perkecambahan, pembungaan.
Pertumbuhan tunas terganggu, daun tebal dan keriting.

Mn (mang an)

ion Mn, MnSO4

Menyusun klorofil dan vitamin C serta menggiatkan koenzim.
Warna daun memutih dan gugur.

Zn (seng)

ion Zn2+, ZnSO4

Aktivator enzim, prekusor auksin, kloroplas, amilum dan berperan dalam sintesa protein.
Daun mengecil dan ruas-ruas menjadi lebih pendek.

Co (koper)

ion Co2+ dan Co3+, CoCl2

Fiksasi N dari udara dan komponen vitamin B kompleks.
Klorosis, pertumbuhan terhambat.

Mo (molibdenum)

ion Mo+ dan MoO42–, Na2MO4

Berperan pada fiksasi N dari udara, metabolisme besi, dan kofaktor enzim.
Daun pucat.


Unsur-unsur tersebut sanggup segera digunakan oleh tumbuhan apabila didukung oleh faktor pH tanah yang sesuai. Pada umumnya pH yang baik untuk banyak tumbuhan ialah 6,0 - 7,0. Tanaman kentang, ubi jalar cocok pada pH 4,5 - 5,5 sedangkan seledri, kubis pada pH 6,5 - 7,5.

Dari manakah unsur-unsur tersebut diperoleh? Di depan telah disebut bahwa unsur-unsur tersebut ada yang diambil dari tanah, ada pula yang diambil dari udara dan air menyerupai C, H dan O.

Apakah kalian pernah melihat para petani membiarkan batang padinya berada di sawah setelah selesai dipanen? Batang-batang padi tersebut dapat berfungsi sebagai pupuk organik. Semua bagian tubuh tumbuhan sanggup digunakan sebagai pupuk organik. Bahkan beberapa tumbuhan dari jenis tumbuhan polong-polongan, selain sebagai sumber pupuk organik, akar tumbuhan tersebut memiliki bintil-bintil akar yang kaya mikroorganisme

Rhizobium yang sanggup mengikat N dari udara. Pupuk organik yang lain, berasal dari kotoran hewan atau bangkai binatang (hewan yang telah mati). Kotoran binatang mencakup kotoran sapi, kotoran domba, kambing, kuda, dan kerbau. Pupuk organik digunakan sebagai pupuk dasar. Rekombinasi penggunaan pupuk sangkar untuk tanaman dan kandungan unsur N, P, dan K pada pupuk organik dapat dilihat pada Tabel 1.2 dan 1.3.

Tabel 1.2. Kandungan N, P, K pada berbagai pupuk organik

Pupuk Organik

N(%)

P(%)

K(%)

Kerbau
0,7
2,5
0,4
Sapi
1,6
2
0,5
Kuda
1,7
–
4,0
Ayam
2,1
3,9
0,4
Azolla
4
10
3
Jerami
0,8
1,5
–
Limbah tapioka
0,9
0,2
–
Limbah tahu
4,2
–
–
Blotong
0,2
–
1,5
Daun lamtoro
4,3
4,0
4,0

Tabel 1.3. Penggunaan pupuk sangkar pada padi, jagung, kedelai, dan tebu

Jenis Tanaman
Pupuk Kandang (Ton/Ha)
Padi (per tumbuhan 1)
20 – 30
Padi (per tumbuhan 1)
15 – 30
Jagung
20 – 25
Kedelai
20 – 30
Tebu
40 – 60

Tanah yang cukup mengandung pupuk organik, bisa mengikat air lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan tumbuhan. 

Beberapa mikrofauna dan mikrofl ora yang ada dalam tanah berperan dalam penyedia unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhannya. Mikroorganisme tersebut adalah bakteri nitrifi kasi, basil Rhizobium, Azotobakter, Nitrosomonas, dan Nitrosococcus. Tumbuhan paku air Azolla pinata dan ganggang hijau biru sanggup mengikat N dari udara. Cendawan merupa kan organisme pembusuk materi organik. Beberapa binatang kecil penyedia unsur adalah dari kelompok insekta (semut, rayap), dan cacing tanah. Mikrofauna dan mikroflora tersebut sanggup hidup di dalam tanah apabila syarat-syarat hidupnya terpenuhi menyerupai aerasi dalam tanah, kelembaban tanah, temperatur tanah, ketersediaan materi organik, dan pH tanah.

2.3. Faktor Biologis

Meliputi gulma, serangga, organisme penyebab penyakit, nematoda, maupun mikroorganisme tanah (misalnya: basil Rhizobium dan Mikorhiza).

Anda kini sudah mengetahui Pengaruh Pertumbuhan Tanaman. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.