Friday, August 2, 2019

Pintar Pelajaran Lautan, Hutan, Dan Ekosistem Di Dunia Menyerap Setengah Emisi Gas Rumah Kaca

Lautan, Hutan, Dan Ekosistem Di Dunia Menyerap Setengah Emisi Gas Rumah Kaca - Lautan, hutan dan ekosistem lainnya terus menyerap sekitar setengah karbon dioksida yang dipancarkan ke atmosfer oleh acara manusia, bahkan saat jumlah emisi tersebut telah meningkat, berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Colorado dan NOAA yang diterbitkan pada tanggal 1 Agustus dalam jurnal Nature.

Para ilmuwan telah menganalisis ukuran karbondioksida global (CO2) selama 50 tahun dan menemukan bahwa proses absorpsi emisi gas rumah beling oleh lautan dan ekosistem lainnya belum memenuhi kapasitasnya.

“Secara global, karbon dioksida yang terserap sejalan dengan emisi yang dihasilkan dari kegiatan manusia, karbon dioksida yang terserap dari atmosfer berjumlah sekitar 50 %. Namun, kita tidak mengharapkan ini akan berlanjut tanpa batas waktu,” kata ilmuwan NOAA Pieter Tans, seorang peneliti iklim di Earth System Research Laboratory NOAA,Boulder, Colorado yang juga merupakan rekan penulis dari penelitian ini. Ashley Ballantyne dari University of Colorado yakni penulis utama dari penelitian ini.
 Dan Ekosistem Di Dunia Menyerap Setengah Emisi Gas Rumah Kaca  Pintar Pelajaran Lautan, Hutan, Dan Ekosistem Di Dunia Menyerap Setengah Emisi Gas Rumah Kaca
Peningkatan emisi karbon oleh acara insan ditunjukkan oleh warna ungu. Sebagian karbon terlepas ke atmosfer (warna merah) dan sebagian lagi telah diserap oleh daratan dan lautan (warna biru). Ekosistem darat dan lautan telah menyerap sekitar setengah dari emisi karbon yang dihasilkan oleh acara manusia. Catatan : Grafik di atas menggambarkan akumulasi karbon yang sebanding dengan akumulasi karbondiokasida (Credit: NOAA illustration)
Karbondioksida yang dipancarkan ke atmosfer terutama berasal pembakaran materi bakar fosil, kebakaran hutan dan beberapa proses alami. Gas tersebut juga sanggup diserap dari atmosfer ke dalam jaringan tanaman atau diserap oleh air laut. Serangkaian studi terbaru menduga bahwa absorpsi alami karbon dioksida kemungkinan tidak lagi sanggup mengimbangi peningkatan tingkat emisi. Jika itu terjadi, maka akan menjadikan kenaikan lebih cepat dari asumsi karbon dioksida yang ada di atmosfer dan dampak proyeksi perubahan iklim.

Ballantyne, Tans dan rekan mereka melihat tidak ada kenaikan karbon dioksida lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun, asumsi mereka menunjukkan bahwa secara keseluruhan, lautan dan ekosistem alam terus menarik sekitar setengah dari emisi karbon dioksida yang ada di atmosfer. Karena emisi CO2 telah meningkat secara substansial semenjak tahun 1960, Ballantyne mengatakan, “Bumi mengambil dua kali lebih banyak CO2 pada hari ini menyerupai yang terjadi 50 tahun lalu.”

Sisanya terus menumpuk di atmosfer, di mana ada kemungkinan untuk mempercepat pemanasan global.

Analisis global gres ini menjelaskan bahwa para ilmuwan belum memahami dengan cukup baik mengenai proses absorpsi C02 dari atmosfer oleh ekosistem dunia dan kemungkinan relatif dari absorpsi yang terjadi, menyerupai : reboisasi hutan di benua yang berbeda, misalnya, atau perubahan absorpsi karbon dioksida oleh tempat maritim yang beragam.

“Karena kita tidak tahu mengapa atau dimana proses ini terjadi, kita tidak sanggup mengandalkan itu,” kata Tans. “Kita perlu mengidentifikasi apa yang terjadi di sini, sehingga kita sanggup meningkatkan proyeksi kita ihwal tingkat CO2 di masa depan dan bagaimana perkembangan perubahan iklim di masa depan.”

Tans, Ballantyne dan koleganya di University of Colorado berafiliasi dengan Institute for Research in Environmental Sciences, menganalisis catatan tingkat CO2 jangka panjang yang diukur dengan NOAA dan Scripps Institution of Oceanography di tempat terpencil di seluruh dunia, termasuk pada puncak sebuah gunung di Hawaii dan Kutub Selatan. Tingkat CO2 tersebut merefleksikan rata-rata global dari gas rumah beling yang dipengaruhi oleh siklus alam serta kegiatan manusia.

Para peneliti juga menganalisa catatan nasional dan internasional mengenai asumsi emisi CO2 yang dihasilkan oleh kegiatan insan dan membandingkannya dengan peningkatan kadar C02 di atmosfer.

“Penyerapan karbon dioksida oleh lautan dan ekosistem dunia diperlukan melambat secara bertahap,” kata Tans. Laut, misalnya, sudah menjadi lebih asam alasannya yakni menyerap sekitar seperempat dari karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer oleh kegiatan manusia. “Seiring dengan pengasaman lautan, kita tahu akan menjadi lebih sulit untuk menambahkan CO2 ke dalam lautan,” kata Tans. “Kami hanya belum melihat adanya penurunan emisi gas rumah beling secara global.”

Referensi Jurnal :

A. P. Ballantyne, C. B. Alden, J. B. Miller, P. P. Tans, J. W. C. White. Increase in observed net carbon dioxide uptake by land and oceans during the past 50 years.Nature, 2012; 488 (7409): 70 DOI: 10.1038/nature11299.

Artikel ini merupakan terjemahan dari goresan pena ulang berdasarkan materi yang disediakan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration via Science Daily (1 Agustus 2012).

No comments:

Post a Comment